Articles

Found 24 Documents
Search

Hubungan antara Pencarian Informasi di majalah Internal KSG dengan Pemenuhan Kebutuhan Informasi Karyawan Nurmanitasya, Febrianti; Romli, Rosnandar; Subekti, Priyo
Student e-Journal Vol 1, No 1 (2012): Wisuda Agustus 2012
Publisher : Student e-Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

The title of this research is correlation of seeking information through KSG magazine with fulfillment employees’ information needs. This research under guidance of Rosnandar Romli, Drs., M.Si., as the firsrt mentor and Priyo Subekti, S.Sos., M.Si,. as the second menthor.The purpose of this research is to understand the correlation between seeking information through KSG Magazine with fulfillment employees’ information needs. This research uses correlation method. Technical analysis which is used in this research is inferential and descriptive analysis techniques. The sample in this research is 94 employees of PT. Krakatau Steel (Persero) Tbk. Data accumulation is done by put about some questionnaires, interview, observation and study of reference. Theory that is used in this research  is  Information  Seeking  Theory.The  result  of  the  research  shows  that  all  the  ten  sub hypotheses  which  is  raised  are  entirely  accepted.  All  the  examinations  shows  that  there  is  a correlation between seeking information through KSG magazine with   fulfillment employees’ information  needs.The  conclution  from  this  research  is  there  is  enough  significant  correlation between seeking information through KSG magazine with   fulfillment employees’ information needs.Based on this research, the researcher gives suggest in order that more acurate information and more attractively photo can be added.   Keyword : internal magazine, KSG, information needs
Hubungan antara Terpaan Tayangan Reportase Investigasi TRANS TV dengan Persepsi Penonton pada Tindak Kejahatan dan Penipuan Grahita, Windy; Erdinaya, Lukiati Komala; Subekti, Priyo
Student e-Journal Vol 1, No 1 (2012): Edisi Perdana eJurnal Mahasiswa Universitas Padjadjaran
Publisher : Student e-Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

The purpose of this study was to determine the correlation between exposure of Reportase Investigasi TRANS TV with the housewife’s perception on crimes and fraud. This study is based on the cultivation theory. The method used  is the quantitative approach with correlation analysis to find a correlation between two or more variables.The study population were all the housewives in Bandung aged 21-40 years of or older or exactly 251 people using Cluster Sampling technique 72 samples are obtained.The results of these studies show that there is a significant correlation between two variables, which are the exposure of Reportase Investigasi TRANS TV with the housewife’s perception on crimes and fraud. Analysis of studies have shown that exposure which consists the duration, frequency, message structure, message styles, and messages can affect the attractiveness of knowledge and understanding of the housewives in crime and fraud. Keywords:  the housewife’s perception on crimes and fraud  
Komunikasi Instruksional Guru dengan Anak Down Syndrome di Sekolah Inklusi Namira, Okkie Rizkie; Zubair, Feliza; Subekti, Priyo
Student e-Journal Vol 1, No 1 (2012): Wisuda Agustus 2012
Publisher : Student e-Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Okkie Rizkie Namira, 210110070257. Department of Public Relations, Faculty of Communication. Title of research “Teacher instructional communication with Down syndrome children in inclusive schools”. Is aimed to know the background of the establishment of the inclusion class program in Bunda Mutiara Elementary School, to determine the role of the teacher, the methods used, the use of media, as well as barriers of instructional communication in Bunda Mutiara Elementary School. This study uses qualitative research methods with a case study approach. Data were collected through observation, in depth interviews, and literature study. The validity of research data uses triangulation. The study was conducted in January and March 2012 in Bunda Mutiara Elementary School. Results showed that children with special needs are entitled to attend public school, called the inclusion school. The teachers roles as a communicator in instructional communication in Bunda Mutiara Elementary School include being an observer, doing elaborations, becoming a model, performing evaluations, and planning. The methods used in instructional communications in Bunda Mutiara Elementary School are lectures, discussions, simulations, demonstrations, and games, but for children with Down syndrome the best methods to use are simulations, demonstrations, and games. The media introduced to children with Down syndrome are pictures and tools, much to hone the ability of children and train the aspects of child development. The barrier in instructional communication in Bunda Mutiara Elementary school is that the children with Down syndrome being in the same classroom with other normal children often lose focus, causing what needs to be delivered by teachers cannot be channeled properly. Therefore, there are pre-academic classes provided to help Down syndrome children focus better. Kata Kunci : Komunikasi ,intruksional
PERAN HUMAS DALAM PENGEMBANGAN KAWASAN PANTAI PANGANDARAN SEBAGAI EKOWISATA MELALUI KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT PANGANDARAN Komariah, Kokom; Subekti, Priyo
Jurnal Kajian Komunikasi Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (700.476 KB) | DOI: 10.24198/jkk.v4i2.7741

Abstract

Pangandaran merupakan pantai yang diproyeksikan untuk dijadikan tempat wisata nasional oleh pemerintah kabupaten Pangandaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran humas dalam pengembangan pantai Pangandaran sebagai ekowisata melalui kearifan lokal masyarakat Pangandaran. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan data kualitatif dan sample purposif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa humas pemerintah berperan sebagai mediator dan fasilitator antara pemerintah dengan masyarakat dengan mengggunakan: komunikasi antarpersonal (menggunakan trik trik komunikasi secara psikologis); pendekatan Humas dengan komunikasi terbuka antara pemerintahan dengan masyarakat, dengan menggunakan opinion leader (tokoh masyarakat, tokoh agama dan tokoh keamanan); pendekatan media yaitu promosi melalui media massa terutama media cetak; melakukan hubungan baik dengan media (media relations) dengan wartawan dari berbagai media melalui sebuah kerja sama resmi melalui MoU. Humas Kabupaten Pangandaran memanfaatkan berbagai saluran komunikasi untuk mensosialisasikan program pemerintahnya terkait dengan pembentukan Pangandaran sebagai ekowisata dan sentral wisata pantai di Jawa Barat DOI: 10.24198/jkk.vol4n2.5
KAMPANYE KOMUNIKASI KESEHATAN MELALUI MODEL MULTI STEP FLOW COMMUNICATION DALAM MENEKAN ANGKA PERNIKAHAN USIA DINI PADA MASYARAKAT URBAN DI KABUPATEN BANDUNG Subekti, Priyo; Hafiar, Hanny; Damayanti, Trie; Agung P, FX Ari
Sosiohumaniora Vol 16, No 3 (2014): SOSIOHUMANIORA, NOPEMBER 2014
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB) | DOI: 10.24198/sosiohumaniora.v16i3.5766

Abstract

Kasus pernikahan usia dini banyak terjadi di berbagai penjuru dunia dengan berbagai latar belakang.Telah menjadi perhatian komunitas internasional mengingat risiko yang timbul akibat pernikahan yang dipaksakan,hubungan seksual pada usia dini, kehamilan pada usia muda, kehamilan bermasalah, persalinan yang mengalamikesulitan, bayi yang terlahir tidak normal dll. Kemiskinan bukanlah satu-satunya factor penting yang berperandalam pernikahan usia dini.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengandata kualitatif.Tujuan dari penelitian ini adalah: 1) Bagaimana Karakteristik demografi pelaku pernikahan usiadini pada masyarakat urban. 2) Apa faktor-faktor penyebab masyarakat urban melakukan pernikahan dini. 3)Bagaimana gambaran personal determinans pelaku pernikahan usia dini. 4) Bagaimana gambaran tanggapanpelaku pernikahan usia dini terhadap ILM pernikahan dini. 5) Bagaimana gambaran peranan keluarga terhadappelaku pernikahan dini.Hasil dari penelitian ini: 1) a) Pendidikan SMP dan SMA b) Menikah di Usia 15-20tahun c)Ekonomi menengah ke bawah, 2. Faktor-faktor penyebab masyarakat urban melakukan pernikahan dini:Dorongan dari orang tua, Alasan agama, tidak ingin melanggar syariat agama, Keyakinan yang tinggi bahwadengan menikah di usia dini mampu menyejahterakan keluarga (pendidikan anak), Tingkat pengetahuan yangrendah yang menyebabkan ketidaktahuan akan resiko menikah di usia dini, Lingkungan social yang mendoronguntuk segera menikah; 3. Pelaku pernikahan usia muda cenderung belum dewasa secara psikologis disebabkanusia masih berada dalam ranah remaja awal, Pengambilan keputusan penting dalam hidup lebih dipengaruhi olehafeksi; 4, Untuk mengetahui bagaimana gambaran tanggapan pelakupernikahan usia dini terhadap ILM pernikahandini, Kuantitas terpaan rendah.
MEMAKNAI KEMISKINAN BERDASARKAN PANDANGAN ORANG MISKIN PEDESAAN Silvana, Tine; Yusup, Pawit M; Subekti, Priyo
Edulib Vol 4, No 1 (2014)
Publisher : Edulib

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (603.469 KB)

Abstract

AbstractRural poverty can be understood as a social condition of a person, or a group of people who were associated with aspects of economic and non-economic aspects. Scientific aspects such as social, cultural, health, education, psychology, the environment, law, anthropology, and art, was often associated with poverty. Nevertheless, the notion of poor and rural poverty is, in general, is still viewed by researchers perspective, rather than emic, ie see something from the perspective of the participant. This study took part of the effort to comprehensively understand the meaning of poor and poverty in the eyes of the poor, especially in rural areas, roomates point is on how to map view of rural poor people in hopes of interpreting experience of livelihood as poor in underlying survival living. By using a qualitative study approach, especially the tradition of phenomenology of Schutz, obtained a description of the results, that the meaning of poor and poverty, in phenomenology, containing context, such as: context ownership; contexts effort and trial and error; contexts powerlessness; contexts outside assistance; independence in the context of compulsion; contexts unattainable expectations; context of the struggle; context of limited access to information; contexts low curiosity; contexts simplicity needs; problems humiliation context; and context sensitivity in social communication.Keywords: Meaning poor, Poverty, Rural AbstrakKemiskinan di pedesaan dapat dipahami sebagai suatu kondisi sosial seseorang, atau sekelompok orang yang terkait dengan aspek-aspek ekonomi dan non-ekonomi. Aspek ilmiah seperti sosial, budaya, kesehatan, pendidikan, psikologi, lingkungan, hukum, antropologi, dan seni, yang sering dikaitkan dengan kemiskinan. Namun demikian, gagasan tentang kemiskinan dan pedesaan, secara umum, masih dilihat dari perspektif peneliti, bukan emik, yaitu melihat sesuatu dari perspektif partisipan. Penelitian ini mengambil bagian dari upaya untuk secara komprehensif memahami makna miskin dan kemiskinan di mata masyarakat miskin, terutama di daerah pedesaan, which titik adalah bagaimana memetakan pandangan masyarakat miskin pedesaan dengan harapan pengalaman yang menafsirkan mata pencaharian sebagai masyarakat miskin untuk bertahan hidup. Dengan menggunakan pendekatan studi kualitatif, khususnya tradisi fenomenologi Schutz, diperoleh gambaran hasil, bahwa makna miskin dan kemiskinan, dalam fenomenologi, mengandung konteks, seperti: kepemilikan konteks; Upaya konteks dan trial and error; Ketidakberdayaan konteks; konteks di luar bantuan; kemerdekaan dalam konteks paksaan; konteks harapan tercapai; konteks perjuangan; konteks terbatasnya akses terhadap informasi; konteks rasa ingin tahu yang rendah; kesederhanaan konteks kebutuhan; konteks masalah penghinaan; dan sensitivitas konteks komunikasi sosial.Kata Kunci : Makna kemiskinan, Kemiskinan, Desa
MEMETAKAN LINGKUP INFORMASI PENGHIDUPAN ORANG MISKIN PEDESAAN Subekti, Priyo; Yusup, Pawit M.; Rachmawati, Tine Silvana
Jurnal Kajian Informasi dan Perpustakaan Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.619 KB) | DOI: 10.24198/jkip.v1i1.9607

Abstract

This study aims to map out the scope of information the livelihoods of the rural poor, which include: the type of major need, the search pattern related information specific type of job, the variety of information livelihoods are looking for, the relationship between the rural poor, sources of information, channel information, and the nature of sources and channels of information in question. By using qualitative methods, especially the tradition of phenomenology of Schutz, the result that: (1) the type of the primary needs of the rural poor consist of food, clothing, shelter, health, and education are very simple; (2) a variety of livelihood information sought by the rural poor who work odd nature, derived from the interpersonal sources that are informal, with a limited scope, ie, neighbors, relatives, customers, and the kind of fellow workers; (3) the source and drain are derived from official media and technology based, hardly ever used; and (4) The formal elements that come from the government side, barely touched the interests of the rural poor.Penelitian ini bertujuan untuk memetakan lingkup informasi penghidupan orang miskin pedesaan, yang meliputi: jenis kebutuhan utama, pola pencarian informasi terkait jenis pekerjaan spesifik, ragam informasi penghidupan yang dicari, hubungan antar orang miskin pedesaan, sumber-sumber informasi, saluran informasi, dan sifat dari sumber dan saluran informasi dimaksud. Dengan menggunakan metode kualitatif khususnya tradisi fenomenologi dari Schutz, diperoleh hasil bahwa: (1) jenis kebutuhan utama orang miskin pedesaan terdiri atas kebutuhan pangan, sandang, papan, kesehatan, dan pendidikan yang sangat sederhana; (2) beragam informasi penghidupan yang dicari oleh orang miskin pedesaan yang sifat pekerjaannya serabutan, berasal dari sumber orang secara interpersonal yang bersifat informal, dengan lingkup yang terbatas, yakni tetangga, kerabat, pelanggan, dan sesama pekerja sejenis; (3) sumber dan saluran yang berasal dari media resmi dan yang berbasis teknologi, hampir tidak pernah digunakan; dan (4) unsur-unsur formal yang datangnya dari sisi pemerintah, hampir tidak menyentuh kepentingan orang-orang miskin pedesaan.
MEMETAKAN LINGKUP INFORMASI PENGHIDUPAN ORANG MISKIN PEDESAAN Subekti, Priyo; Yusup, Pawit M.; Rachmawati, Tine Silvana
Jurnal Kajian Informasi dan Perpustakaan Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkip.v1i1.9607

Abstract

This study aims to map out the scope of information the livelihoods of the rural poor, which include: the type of major need, the search pattern related information specific type of job, the variety of information livelihoods are looking for, the relationship between the rural poor, sources of information, channel information, and the nature of sources and channels of information in question. By using qualitative methods, especially the tradition of phenomenology of Schutz, the result that: (1) the type of the primary needs of the rural poor consist of food, clothing, shelter, health, and education are very simple; (2) a variety of livelihood information sought by the rural poor who work odd nature, derived from the interpersonal sources that are informal, with a limited scope, ie, neighbors, relatives, customers, and the kind of fellow workers; (3) the source and drain are derived from official media and technology based, hardly ever used; and (4) The formal elements that come from the government side, barely touched the interests of the rural poor.Penelitian ini bertujuan untuk memetakan lingkup informasi penghidupan orang miskin pedesaan, yang meliputi: jenis kebutuhan utama, pola pencarian informasi terkait jenis pekerjaan spesifik, ragam informasi penghidupan yang dicari, hubungan antar orang miskin pedesaan, sumber-sumber informasi, saluran informasi, dan sifat dari sumber dan saluran informasi dimaksud. Dengan menggunakan metode kualitatif khususnya tradisi fenomenologi dari Schutz, diperoleh hasil bahwa: (1) jenis kebutuhan utama orang miskin pedesaan terdiri atas kebutuhan pangan, sandang, papan, kesehatan, dan pendidikan yang sangat sederhana; (2) beragam informasi penghidupan yang dicari oleh orang miskin pedesaan yang sifat pekerjaannya serabutan, berasal dari sumber orang secara interpersonal yang bersifat informal, dengan lingkup yang terbatas, yakni tetangga, kerabat, pelanggan, dan sesama pekerja sejenis; (3) sumber dan saluran yang berasal dari media resmi dan yang berbasis teknologi, hampir tidak pernah digunakan; dan (4) unsur-unsur formal yang datangnya dari sisi pemerintah, hampir tidak menyentuh kepentingan orang-orang miskin pedesaan.
JEJARING KOMUNIKASI DALAM PENYEBARAN INFORMASI OBAT HERBAL DI KALANGAN PENGGUNA Komala, Lukiati; Hafiar, Hanny; Subekti, Priyo
J-IKA Vol 3, No 1 (2016): Jurnal J-IKA
Publisher : J-IKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKSementara ini banyak orang beranggapan bahwa penggunaan tanaman obat atau obat tradisional relatif lebih aman dibandingkan obat sintesis. Walaupun demikian bukan berarti tanaman obat atau obat tardisional tidak memiliki efek samping yang merugikan, bila penggunaannya kurang tepat. Agar penggunaannya optimal, perlu diketahui informasi yang memadai tentang kelebihan dan kelemahan serta kemungkinan penyalahgunaan obat tradisional dan tanaman obat. Dengan informasi yang cukup diharapkan masyarakat lebih cermat untuk memilih dan menggunakan suatu produk obat tradisional atau tumbuhan obat dalam upaya kesehatan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana jejaring komunikasi dalam penyebaran informasi mengenai obat herbal pada masyarakat pengguna obat obatan herbal. Metode Penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan data kualitatif yang dikumpulkan melalui penyebaran angket terbuka, observasi dan wawancara. Hasil dari penelitian ini antara lain: penyebaran informasi obat obatan herbal dalam jejaring komunikasi dalam komunitas pengguna obat obatan herbal, meliputi sumber yaitu keluarga, saudara, kerabat yang dikenal, teman, dan penjual jamu. Adapun pihak komunikasnnya meliputi: keluarga, saudara, teman, tetangga dan pembeli. Sedangkan usulan yang dapat disarankan adalah pemerintah sebagai pihak pengatur regulasi dan pelaksana kebijakan sebaiknya menambah media-media komuniasi guna penyebaran informasi yang tepat mengenai jamu, melalui pembuatan media-media yang disesuaikan dengan keterjangkauan masyarakat yang mengkonsumsi jamu di Indonesia, agar masyarakat dengan mudah dapat memperoleh pencerahan informasi, sehingga pemanfaatan jamu yang bersifat “katanya” dapat secara bertahap dikurangi untuk menghindari kesalahan informasi. Kata kunci: jejaring, komunikasi, obat herbal, tanaman obat.ABSTARCTMany people believe that herbal medicines or traditional medicines are relatively safer than synthetic medicine. But then, if it is not consumed properly, it is not safe to say that herbal or traditional medicines have no harmful side effects. To make sure an optimal consumption, adequate information on the benefit and disadvantage of herbal or traditional medicine is required to prevent the misuse of it. With adequate information, it is hoped that people would be more mindful in consuming the traditional or herbal medicine. The purpose of this research is to understand herbal medicine consumer communication network in information dissemination. Method of research applied is descriptive with qualitative data through open survey questionnaire, observation, and interviews. The findings of this research shows that information dissemination of herbal medicines sources includes: family, relatives, friends, and “jamu” sellers. While the communicator includes: family, relatives, friends, neighbours, and buyer. The suggestion coming from this research are: government as a regulatory and policymaking institution should increase the number of communication media for information dissemination on “jamu”. The communication media should be able to reach consumer of “jamu”, so that the public would receive information easily on the consumption, which gradually will reduce the misuse of “jamu” for the consumer. Keywords: network, communication, herbal medicine, medicinal plant
Proses Perencanaan Aktivitas Akun Media Sosial Instagram Perusahaanoleh Divisi Humas Taman Mini Indonesia Indah Akbar, Thoriq Nul; Hafiar, Hanny; Subekti, Priyo
Jurnal Riset Komunikasi Vol 8, No 1 (2017): JRK Vol 8 No 1 Juni 2017
Publisher : Prodi Ilmu Komunikasi FISIP Untirta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses perencanaan aktivitas akun media sosial Instagram yang dilakukan oleh Humas Taman Mini Indonesia Indah. Proses perencanaan aktivitas akun media sosial Instagram Taman Mini terdiri dari proses perencanaan penyampaian pesan (share), optimalisasi (optimize), pengelolaan (manage), dan management (keterlibatan) pada akun Instagram Taman Mini. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan sifat penelitan data kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu wawancara, observasi, dan studi kepustakaan. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah keajegan penelitian dan triangulasi sumber. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa proses penyampaian pesan pada akun Instagram Taman Mini belum optimal karena target audiens belum spesifik. Optimalisasi belum optimal karena belum ada social media strategist yang bertanggungjawab penuh mengelola media sosial. Tidak adanya goals dan regulasi juga membuat aktivitas pengelolaan akun media sosial berjalan normatif. Proses perencanaan engagement dilakukan dengan membuat games interaktif, dan selebihnya masih dilakukan secara normatif. Peneliti memberikan saran kepada Taman Mini untuk mengklasifikasikan target audiens mereka terlebih dahulu agar penyampaian pesan lebih efektif. Taman Mini memerlukan peran social media strategist yang dapat bertanggungjawab penuh untuk mengelola media sosial agar aktivitas yang dilakukan dapat optimal. Taman Mini harus membuat goals dan regulasi yang menjadi acuan dalam menjalankan aktivitasnya agar lebih terarah dan mempermudah aktivitas evaluasi. Aktivitas engagement pada akun Instagram Taman Mini juga perlu dikembangkan demi menjaga interaksi dengan audiens mereka