Articles

Found 33 Documents
Search

IDENTIFIKASI KUALITAS PRODUK GENTENG KERAMIK PRODUKSI INDUSTRI KECIL DI WILAYAH ACEH, JAWA DAN NUSA TENGGARA BARAT BERBASIS STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) Rasma, Arini; Setiati, Apriani; Subari, Subari
JURNAL STANDARDISASI Vol 13, No 2 (2011): Vol. 13(2) 2011
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Identifikasi kualitas produk genteng keramik dari beberapa perusahaan kecil di wilayah Jawa (Jatiwangi, Yogyakarta, Tulung Agung, Kebumen, Trenggalek, Serang), Aceh dan Nusa Tenggara Barat telah dilakukan dengan melakukan pengujian mutu produk sesuai dengan persyaratan Standar Nasional Indonesia (SNI), SNI 03-2095-1998 Genteng Keramik dan SNI 15-2134-1996 Genteng Keramik Berglasir serta kajian/analisis terhadap berbagai karakteristik teknis bahan baku genteng keramik untuk memperbaiki mutu genteng keramik. Penelitian dilakukan terhadap 16 produk genteng keramik tidak berglasir dan 7 produk genteng keramik berglasir. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa, genteng dengan kualitas paling baik yaitu genteng keramik tidak berglasir dengan kode Genteng A (kesesuaian dengan syarat mutu SNI 84,6 %) yang termasuk genteng ukuran kecil dengan jumlah genteng/m2Kata kunci: identifikasi produk, pengujian, syarat mutu, SNI terdapat 23 buah. Permukaan genteng cukup halus, tidak terdapat retak-retak dan bintik-bintik hitam, warna permukaan genteng merata, bentuk kurang seragam, pemasangan genteng di atas atap rapi dan baik. Panjang berguna 236 mm, lebar berguna 182 mm, jarak penutup memanjang dan melintang adalah 62 mm dan 34 mm, kaitan panjang; lebar dan tinggi adalah 36; 16 dan 8 mm, penyerapan air 11,81 % (mutu I) dan beban lentur 85 kgf (mutu III).
Symbolism in Boho Oi Ndeu, A Marriage Ritual of Dou Donggo Subari, Subari
KOMUNITAS: INTERNATIONAL JOURNAL OF INDONESIAN SOCIETY AND CULTURE Vol 10, No 2 (2018): Komunitas, September 2018
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research was about the meanings of symbols in ‘Boho Oi Ndeu’, a marriage ritual of Dou Donggo. It was conducted in Dou Donggo Communities as a sample. This study was conducted by using the ethnography survey. The writer has been living in Dou Donggo Community since he was born. The method used was interview by  collecting the data from primary and secondary sources. The results of the research shows that there were a lot of symbols meaning in ‘Dou Donggo Marriage’ ritual ceremony which many people did not know before. So the Dou Donggo Marriage ritul ceremony should be protected as a cultural heritage of dou donggo which enrich the national cultural treasures of our country, Indonesia.
PENGGUNAAN BATU PASIR FELSPATIK DAN BATU LEMPUNG UNTUK KERAMIK HIAS SUBARI, SUBARI
Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Vol 10, No 3 (2014): Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Edisi September 2014
Publisher : Puslitbang tekMIRA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (598.953 KB)

Abstract

Penelitian pembuatan keramik hias menggunakan batu pasir felspatik dan batu lempung telah dilakukan. Batu pasir felspatik berasal dari Kecamatan Pining Kabupaten Purwakarta dan batu lempung dari Kecamatan Muntok Kabupaten Bangka Barat. Sebelum dibuat keramik hias, terlebih dahulu dilakukan karakterisasi bahan baku, merancang komposisi (5 komposisi), menyiapkan bahan baku mulai dari pengecilan ukuran butir lalu mengayak ukuran < 1 mm dan membuat benda uji serta melakukan pengujian karakteristik benda ujinya. Jumlah batu pasir felspatik yang digunakan 40 – 60% dan batu lempung 60 – 40 %. Benda uji dibuat berdimensi 0,5 x 7,5 x 7,5 cm, proses pembentukannya dilakukan dengan alat tekan hidrolik pada tekanan 100 kg/cm2. Pencampuran komposisi bahan baku dilakukan secara semi kering dan masing-masing komposisi dibuat sebanyak 9 benda uji. Kemudian benda uji dikeringkan dalam oven pada suhu 100°C, lalu dibakar pada suhu 1050, 1100 dan 1150 °C menggunakan tungku gas. Dari hasil percobaan ke-5 komposisi bodi keramik (kode I s/d V) diperoleh sifat penyerapan air yang baik yakni pada komposisi kode II, IV dan III’ sebagai bodi keramik jenis stoneware yang dibakar pada suhu 1150 °C. Komposisi bodi keramik kode III’ yang menggunakan ukuran butir < 80 mesh merupakan pembanding bagi yang berkode I, II, III, IV dan V, yang ukuran butirnya < 1 mm. Prototipe produk keramik hias dibuat dari komposisi bodi keramik yang terbaik yaitu kode II, IV dan III’ dengan suhu pembakaran 1150 °C.
Pengaruh Lama Penyimpanan Telur Itik Alabio (Anasplathyrinchos Borneo)Terhadap Persentase Daya Tetas Subari, Subari; Paggasa, Yajis; Sutikno, Sutikno
Jurnal Pertanian Terpadu Jurnal Pertanian Terpadu Jilid II nomor 1 Juni 2014
Publisher : Sekolah Tinggi Pertanian Kutai Timur

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (340.43 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Pengaruh Lama Penyimpanan Telur Itik Alabio&nbsp; (Anas Plathyrinchos Borneo) Terhadap Persentase Daya Tetas. Penelitian dilakukan selama 5 minggu sejak bulan Agustus s/d September 2013. Lokasi penelitian ini bertempat di Jl. H. M. Manthe No. 10 Rt. 27/ 005, Desa Teluk Lingga, Sangatta Utara Kabupaten Kutai Timur. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah 120 butir telur itik Alabio dengan menggunakan 1 buah mesin tetas. Parameter yang diamati meliputi daya tetas dan mortalitas. Metode yang digunakan adalah percobaan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Hasil penelitian menunjukkan rata-rata daya tetas umur 1, 3, 5 dan 7 hari menghasilkan daya tetas (89.7%), (75.3%), (74.3%) dan (70.7%). Mortaliatas umur 1, 3. 5 dan 7 hari adalah&nbsp; (10,37%), ( 24,81% ), (25,74%,) dan (29,44%). Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa pengaruh lama penyimpanan telur dari 1 – 7 hari tidak berpengaruh nyata (P&lt;0.05) terhadap daya tetas dan mortalitas telur Alabio.
REKRUITMEN TOKOH DALAM MENUJU INDONESIA BERSATU Subari, Subari
Jurnal Filsafat "WISDOM" Vol 17, No 2 (2007)
Publisher : Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This work contains an ideal description of prominent figure that is assumed as a proper person to be recruited in the effort of Indonesia unification. Briefly, the topic we will discuss in this paper is dealing with a wish of a few people to return to the past in gaining the prominent figure and the importance of having a leader that respectful with the democratic spirit as a continuing capital in mobilization of whole people’s capability in the direction of Indonesian unification. As a result of the discussion, we will argue that according to the plural condition of Indonesia, the recruitment of a prominent figure should be departed from the smallest rural area that has ability in programming the collaboration with some other areas. The collaboration should be based on the sameness of both vision and mission of his or her political party. But as we have known, most of Indonesian community member knows more about the prominent figure than the vision and mission of political party. Therefore, to win in the local-general election, a political party depends on the influence of prominent figure. Ironically, most of the prominent figure that contribute much in winning the election, he or she is not supported by party’s policy.
PENGGUNAAN TRAS SUKABUMI UNTUK BAHAN BANGUNAN BETON JENIS PAVING DAN CONBLOCK SUBARI, SUBARI; HIDAYATI, SRI
Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Vol 6, No 2 (2010): Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Edisi April 2010
Publisher : Puslitbang tekMIRA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (181.264 KB)

Abstract

Penelitian pembuatan bahan bangunan beton jenis paving dan conblock atau bata beton berlubang dengan menggunakan bahan baku tras dari daerah Sukabumi telah dilakukan, karena belum ada industri bahan bangunan (paving maupun conblock) yang menggunakan tras Sukabumi. Dalam penelitian ini selain bahan tras, juga digunakan kapur tohor dan “ares” (bahan hasil gilingan produk reject seperti genteng beton, batako, ubin teraso dan paving block), dibuat dengan 5 (lima) variasi komposisi A1 – A5. Dalam komposisi tersebut, digunakan tras 49-57%,kapur tohor 27-33% dan “ares” 18%. Terhadap benda uji dilakukan perawatan (curing) selama berturut-turut 3,7,14 dan 21 hari dan selanjutnya diamati sifat penyerapan air, berat jenis dan kuat tekannya. Berdasarkan data hasil pengamatan penyerapan air, berat jenis dan kuat tekan, maka komposisi A5 memberikan hasil yang paling baik untuk produk conblock . Namun untuk produk paving block belum memenuhi syarat, karena kuat tekannya  masih  dibawah  100  kg/cm2.
TUF SEBAGAI BAHAN PELEBUR PADA PEMBUATAN KERAMIK BODI STONEWARE Subari, Subari; Widodo, Widodo
JURNAL RISET GEOLOGI DAN PERTAMBANGAN Vol 25, No 1 (2015)
Publisher : Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (792.747 KB)

Abstract

ABSTRAK  Telah dilakukan percobaan penggunaan  tuf dari Sukabumi dan Majalengka, Provinsi Jawa Barat dalam pembuatan keramik bodi stoneware. Tuf dari dua daerah tersebut memiliki jumlah yang cukup melimpah, nilai jual yang  rendah, dan belum dimanfaatkan secara optimal. Keramik bodi stoneware adalah istilah bodi keramik yang terbuat dari campuran lempung, kuarsa dan felspar. Dalam penelitian pembuatan bodi stoneware ini bahan tuf ditambah lempung dari Gunung Guruh dan kuarsa dari Cibadak Sukabumi. Ketiga bahan dicampur menjadi 6 macam komposisi bodi stoneware dengan variasi perbandingan tuf 10-30%, lempung 30-50%, kuarsa 40-60%, selanjutnya dibakar pada suhu 1.200oC, 1.250oC, dan 1.300oC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi bodi stoneware yang terbaik adalah komposisi TS1 tuf dari Sukabumi dan TM4 tuf  dari Majalengka yang mempunyai nilai kuat lentur sebesar 27,38 MPa dan 37,57 MPa pada suhu pembakaran 1.250oC.  Kedua komposisi bodi stoneware  terbaik tersebut dibuat prototip produk keramik berupa vas bunga dan asbak yang dibakar  pada suhu 1.250oC hasilnya sifat fisik baik, karena tidak terjadi perubahan bentuk dan tidak retak/belah.  Abstract  An experiment had been conducted for utilizing tuff obtained from Majalengka and Sukabumi, West Java Province to make ceramic with stoneware body. Tuf resources at those regions are relatively abundant, have a lower  commercial value, and have not been  used optimally. The ceramic of stoneware body is prepared by a mixture of clay, quartz  and feldspar. The stoneware body is prepared  by adding the tuff material with clay from Gunung Guruh district and quartz from Cibadak Sukabumi. The raw materials  are mixed into  6 kinds of stoneware body with some ratio of  10-30% tuf,  30-50%  clay and  40-60%  quartz, and it is heated at temperature of  1,200oC, 1,250oC, and 1,300oC. The results of this study showed  that the best composition of stoneware body are TS1 of Sukabumi tuff and TM4 of Majalengka tuff,  which has bending strength of 27.38  MPa and 37.57 MPa  respectively  at  heating temperature  of 1,250oC.  Several prototype have been prepared at 1,250oC  and refined by the optimum tuff of rate strengs ratio of TS1 and TM4. The result showed a good physical appearances wihout deformation and crack.
PENYIAPAN SERBUK KOMPOSIT KORUNDUM - TITANIUM KARBIDA (AL2O3- TiC) SEBAGAI BAHAN ABRASIF Edwin, Frank; Subari, Subari
Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Vol 13, No 3 (2017): Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Edisi September 2017
Publisher : Puslitbang tekMIRA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1324.357 KB)

Abstract

Produksi bahan abrasif belum ada di Indonesia dan bahan tersebut masih diimpor. Karena itu penelitian pembuatan komposit korundum - titanium karbida (Al2O3-TiC) sebagai bahan baku abrasif berupa serbuk telah dilakukan menggunakan campuran alumina dan titania melalui reaksi aluminotermik. Komposit dibuat dengan mereaksikan Al(OH)3, Al2O3 dan serbuk logam Al sebagai sumber Al, dan TiO2, Ti(OH)4 sebagai sumber Ti, serta sukrosa sebagai sumber karbon dengan variasi temperatur pembakaran reduksi pada suhu 1000 °C, 1300 °C dan 1450 °C. Secara visual komposisi (K-3) memberikan hasil terbaik dengan homogenitas warna abu-abu tua (indikasi adanya karbon bebas) pada suhu kalsinasi 800 °C. Hasil analisis X-RD terhadap kompositK-3 yang teridentifikasi ada 4 mineral utama yaitu korundum, rutil, anatase dan aluminium titanium oksida. Sedangkan fasa titanium karbida (TiC) pada komposit tersebut muncul dengan intensitas sangat kecil pada sudut 2q sekitar 36,4o dan 42o. Hasil analisis SEM Mapping menunjukkan intensitas dari elemen aluminium, titanium dan karbon yang cukup tinggi pada suhu pembakaran optimum 1450 oC. Komposisi kimia yang diperoleh dari analisis SEM X-Ray secara kuantitatif terhadap komposit K-3 adalah: Al2O3 18,74 %; TiO269,36 %;C 5,56 % dan sisanya sebesar 6,34 % adalah TiC yang diduga bersifat amorf. Komposit (Al2O3-TiC) yang dihasilkan masihbelum memenuhi harapan disebabkan kondisi suhu pembakaran reduksinya sulit dipertahankan sehingga kemungkinan Al2O3-TiC yang terbentuk semakin kecil dan cenderung membentuk Al2O3- TiO2.
MARBLE WASTE AND FLY ASH UTILIZATIONS FOR FINE CERAMIC RAW MATERIALS SUBARI, SUBARI; SURIPTO, SURIPTO
Indonesian Mining Journal Vol 13, No 2 (2010): INDONESIAN MINING JOURNAL Vol. 13 No. 2 June 2010
Publisher : Puslitbang tekMIRA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The possibility of using marble waste and fly ash taken from a textile industry as raw materials for producing fine ceramics was studied. Besides those two materials, clay was also used as the formed agent for ceramic body. There were four compositions noted as T1, T2, T3 and T4 that consist of marble waste 10 %, fly ash 10– 25 % and clay 65 – 80 %. They were formed by the method of slip casting.The tests pieces of these fine ceramic bodies were then fired at temperature of 600 °C. The glaze were applied to the bodies and further fired at temperature of 1150 °C in a gas kiln. Characterization results of those four composition tests show that the composition of T2 (70 % of clay, 10 % of marble waste and 20 % of fly ash) gives the best result.
CHARACTERIZATION OF KARANGNUNGGAL KAOLIN AS RAW MATERIALS FOR CERAMIC Widodo, Widodo; Subari, Subari; Erlangga, Bagus D.
Indonesian Mining Journal Vol 19, No 2 (2016): INDONESIAN MINING JOURNAL VOL. 19 NO. 2 June 2016
Publisher : Puslitbang tekMIRA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (369.958 KB)

Abstract

Kaolin from Karangnunggal had been characterized. This kaolin has a brownish white in color and is associated with tuff. To identify characteristics, the samples was analyzed by XRD, optical microscope, AAS, and SEM. The results showed that the kaolin consisted of kaolinite, halloysite, cristobalite, dickite, muscovite, illit and hematit while petrographic analysis describes halloysite, kaolinite, dickite, and quartz. SEM analysis showed the crystal forms such as kaolinite, halloysite and dickite; while chemical analysis confirmed that kaolin composition comprised SiO2 = 65.78 %, Al2O3 = 19.55 %, Fe2O3 = 0.90 % and LOI = 8.29 %. Based on characterization results Karangnunggal kaolin originated from tuff alteration. Referring to such properties, this kaolin can be used as raw material for white ceramic products such as sanitary, ceramic tiles and insulation.