Articles

Bias Item Tes Keterampilan Proses Sains Pola Divergen dan Modifikasinya sebagai Tes Kreativitas

Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Vol 14, No 2 (2010)
Publisher : Graduate School, Yogyakarta State University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan mengetahui bias item tes keterampilan proses sains pola divergen dan modifikasinya sebagai tes kreativitas biologi SMA untuk assessment for learning. Penelitian menggunakan intrumen keterampilan proses sains pola divergen untuk biologi SMA (Bambang Subali, 2009). Dua dari enam instrumen pengukur keterampilan proses sains tersebut dimodifikasi menjadi instrumen pengukur kreativitas keterampilan proses sains dan diujikan pada 1095 peserta didik. Penskoran dalam skala politomus dan dianalisis menurut Partial Credit Model 1-PL dengan program QUEST. Analisis bias didasarkan faktor gender, lokasi, dan jenjang kelas. Hasil pengukuran menunjukkan, dengan kriteria mean INFIT MNSQ  1,0 ± 0,0 tes fit dengan model. Berdasarkan kriteria batas INFIT MNSQ 0,77 - 1,30 seluruh item fit dengan model. Hasil penyelidikan bias ternyata sebagian item bias, baik dari segi gender, lokasi, atau jenjang kelas. Kata kunci:      alat ukur keterampilan proses sains pola divergen, alat ukur kreativitas keterampilan proses sains, bias item, PCM-1PL

ESESATAN DALAM PENGEMBANGAN TES UNTUK PENGUKURAN PENCAPAlAN HASIL BELAJAR PADA KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI

Jurnal Cakrawala Pendidikan No 2 (2006): Cakrawala Pendidikan, Juni 2006, Th. XXV, No.2
Publisher : LPPMP Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The validity and reliability of measuring instruments determine their quality. the implementation of ehe competency-based curriculum at schools has caused basic problems to solve concerning requirements to be fulfilled related to the validity and reliabilitu of such instruments. This article to discuss the fulfillment of the requirements concerning the validitu and reliability of tests usend to measure learning achievement in educational research, or, for the interest of education of the competency-based curriculum.

THE COMPETENCE BASED CURICULUM OF BIOLOGICAL EDUCATIONS UNDERGRADUATE PROGRAMS

Bioedukasi Vol 2, No 2 (2005): BIOEDUKASI
Publisher : Bioedukasi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4078.215 KB)

Abstract

...".....

PENGEMBANGAN KEMAMPUAN BERPIKIR GENERIK MAHASISWA CALON GURU MELALUI PEMBELAJARAN FISIKA MODERN

Lembaran Ilmu Kependidikan Vol 39, No 2 (2010)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research develops the ability in generic thinking to the future physics teachersthrough modern physics learning such as: understanding in sense of scale andsymbolic languages, doing inference, comprehending causality, and doingmathematics modeling. The subject of the research was teacher students who tookmodern physics in third semester. They were encouraged to be actively involved in thelearning process individually in the classroom and was assigned indepedent tasksoutside the class by relying on the resources on the Internet. The result of the researchshowed a significant improvement on five generic capabilities for high GPA groupand four generic capabilities for low GPA group. The only one skill that did notimprove is capability in doing mathematics modeling for low GPA group. It issuggested that there is an expansion of the implementation of physics learning whichis oriented towards the development of generic thinking, including its subskills.Kata kunci: berpikir generik, fisika modern, mahasiswa calon guru

PENGEMBANGAN KREATIVITAS KETERAMPILAN PROSES SAINS DALAM ASPEK KEHIDUPAN ORGANISME PADA MATA PELAJARAN IPA SD

Cakrawala Pendidikan No 3 (2013): CAKRAWALA PENDIDIKAN NOVEMBER 2013, TH. XXXII, NO. 3
Publisher : Cakrawala Pendidikan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan mengetahui seberapa jauh pengembangan kreativitas keterampilan proses sains dalam aspek kehidupan organisme melalui IPA di SD di DIY. Pengumpulan data melalui survei dengan teknik sampel gugus setelah ditetapkan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Pendidikan yang mewakili wilayah perkotaan dan pinggiran. Hasil survei terhadap 400 guru kelas IV dan V serta 1200 grup peserta didik dari 10 UPT di lima kabupaten/kota di DIY menunjukkan hampir semua guru menyatakan pentingnya pembelajaran untuk mengembangkan kreativitas keterampilan proses sains dalam aspek kehidupan kepada peserta didik. Mereka hampir tidak pernah atau jarang membelajarkannya tanpa disertai pemberian contoh. Umumnya mereka sering melakukannya dengan disertai pemberian contoh. Tidak ada guru yang melaporkan pernah mengikuti diklat pengembangan kreativitas. Kata Kunci: kreativitas, keterampilan proses sains, pembelajaran, aktivitas kehidupan DEVELOPING CREATIVITY OF THE SCIENCE PROCESS SKILL IN THE ORGANISM LIFE ASPECT IN THE ELEMENTARY SCHOOL SCIENCE Abstract: This research is aimed to know how far the development of creativity of science process skills in the life aspect through the science subject in elementary schools in DIY. The data were collected through a survey by employing a group sampling technique after the areas had been determined by the Unit Pelaksana Teknis (UPT) of the education office which represented the city and suburb areas. The results of the survey which involved 400 elementary school teachers of grades IV and V as well as 1200 students from 10 UPT of 5 different regencies/municipalities in DIY show that almost all teachers stated the importance of developing creativity of the science process skill in the life aspect for the students. They hardly ever or seldom taught without giving examples. They often taught by giving examples. There was no teacher who stated that they had ever joined a training to develop the students’ creativity. Keywords: creativity, science process skill, learning activity, the life aspect

Developing Two-Tier Essay for Diagnostic Test Instrument to Identify Student Learning Difficulty

Scientiae Educatia: Jurnal Pendidikan Sains Vol 7, No 2 (2018): December (2018)
Publisher : Tadris IPA Biologi Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan IAIN SYEKH NURJATI CIREBON

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (456.878 KB)

Abstract

The purpose of this study was to develop a two-tier essay diagnostic test instrument (DTTE) to identify students' learning difficulties. The research adopted by Borg and Gall stages with data collection techniques used are interviews and tests. In the development, there were five valid items DTTE with material feasibility (100%), construction (95,5%), and language (100%). The development results showed the instrument reliability criteria using Cronbach's Alpha (0.76) for the limited trial and field test (0.81). Based on these results DTTE instruments meet the criteria of good, valid and reliable. Analysis of students' learning difficulties based on learning purpose, they are understanding the kinetic and potential energy, able to explain the influence of angle on work, able to explain the work sense in the graph, and  understanding the effort by various styles, to understand relationship work with kinetic energy, with potential energy, and understand conservation of mechanical energy is 92.6%, 90.5%, 89.4%, 89.4%, and 91.5%.

PENGGUNAAN MEDIA KOMIK DALAM PEMBELAJARAN IPA UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR KOGNITIF DAN AFEKTIF

Jurnal Cakrawala Pendidikan CAKRAWALA PENDIDIKAN OKTOBER 2014, TH. XXXIII, NO. 3
Publisher : LPPMP Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (960.857 KB)

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peningkatan motivasi, hasil belajar kognitif, hasil belajar afektif peserta didik dalam pembelajaran IPA dengan menggunakan media komik. Penelitian dilakukan lewat quasi experiment dengan desain one group pretest-posttest. Subjek penelitian adalah 57 peserta didik kelas VII SMPN 1 Banjarnegara. Media komik digunakan dalam pembelajaran IPA selama 6 kali tatap muka. Data motivasi dan hasil belajar afektif diperoleh lewat angket dan observasi, sedangkan hasil belajar kognitif lewat pretes dan postes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media komik di dalam pembelajaran IPA mampu meningkatkan motivasi belajar peserta didik dengan nilai gain skor sebesar 0,55 (sedang); hasil belajar ranah kognitif dengan gain skor sebesar 0,42 (sedang); dan meningkatkan hasil belajar ranah afektif dengan gain skor sebesar 0,34 (sedang). Hasil uji beda antara sebelum dan setelah perlakuan menunjukkan adanya perbedaan baik yang menyangkut motivasi belajar, hasil belajar ranah kognitif, maupun hasil belajar ranah afektif. Kata Kunci: media komik, pembelajaran IPA, motivasi, hasil belajar kognititf, hasil belajar afektifTHE USE OF COMIC MEDIA IN SCIENCE INSTRUCTION TO IMPROVE MOTIVATION AND COGNITIVE AND AFFECTIVE ACHIEVEMENT Abstract: This study was aimed to describe the improvement of students’ motivation, cognitive and affective learning achievement in science instruction using comic media. The study was carried out using the quasi experiment with the one group pretest-posttest design. The subjects consisted of 57 seventh grade students of SMPN 1 Banjarnegara.Comic media were used in science instruction for six times. The data on motivation and affective learning achievement were obtained through questionnaires and observation, while the cognitive learning achievement was obtained through the pretest and posttest. The findings of the study showed that the use of the comic media in the science instruction could improve the students’ motivation with a gain score of 0.55; improve the cognitive learning achievement with a gain score of 0.42; and improve the affective learning achievement with a gain score of 0.34. There was a significant difference in the students’ motivation, cognitive learning achievement, and affective learning achievement before and after the treatment. Keywords: comic media, Science instruction, motivation, cognitive achievement, affective achievement

STANDARDISASI PENILAIAN BERBASIS SEKOLAH

Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Vol 17, No 1 (2013)
Publisher : Graduate School, Yogyakarta State University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengembangkan panduan acuan standardisasi penilaian hasil belajar berbasis sekolah, kasus pada mata pelajaran Biologi dan Bahasa Indonesia di SMA. Hasil yang dicapai yakni tersusunnya panduan standardisasi penilaian yang terdiri dari (a) learning continuum Biologi dan Bahasa Indonesia SMA yang telah ditelaah pakar terkait, (b) Panduan Penyusunan Butir Tes Pola Konvergen dan Divergen, dan (3) Panduan Analisis Data Pengukuran Pendidikan menggunakan Program Quest dengan menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar. Ketiga-nya sudah divalidasi melalui kegiatan diseminasi kepada para guru Biologi dan Bahasa Indonesia di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Kalimantan Barat, dan Nusa Tenggara Barat pada tahun kedua. Kemudian divalidasi lagi melalui kegiatan diseminasi kepada para widyaiswara di LPMP DI Yogyakarta, Jawa tengah, Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Barat pada tahun ketiga. Oleh karena itu, ketiga perangkat tersebut sudah dapat dijadikan pegangan bagi para praktisi di lapangan.Kata kunci: standardisasi penilaian, learning continuum hasil belajar, CTT dan IRT______________________________________________________________ THE STANDARDIZATION OF SCHOOL BASED ASSESSMENTAbstract This study aims to develop the guidance of the standardization on the achievement assessment based on school, cases on Biology and Indonesian Language subjects in senior high schools. The study resulted standardization guidance consisting of (a) learning continuum of achievement on Biology and Indonesia Language at Senior High Schools; (b) the guidance of writing the instrument to measure convergent and divergent pattern of learning achievement on Biology and Indonesia Language at Senior High Schools; and (c) the guidance to analyse data of educational measurement by using Quest Program. Those have been validated through dessimination to Bilolgi and Indonesian teachers in DIY, Kalbar, and NTB Provinces in the second year, and again by the instructors of LPMP in DIY, Jateng, Ba-Bel, Kalbar, Kalsel, Sulsel, and NTB Provinces at the third year. Thereby all of that guidance can be used by the practitioners in the fields.Keywords: standardization of sssessment, learning continuum result of learning, CTT and IRT

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENYUSUN DAN MENGANALISIS SOAL TES BAGI GURU SMP SE D.I. YOGYAKARTA

INOTEK Vol 1, No 1 (1999): INOTEK Vol 1 Thn 1 1999
Publisher : LPM UNY

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Menurut  survei  yang dilakukan  Pusbangsijian   Lemlit  Universitas   Negeri  Yogyakarta  tahun  1995 kemampuan   guru SMP dalam menyusun  dan menganalisis   soal tes sang at rendah,   Oleh karena  itu Pusbangsijian   merasa  terpanggil  untuk melakukan pelatihan  dan pembinaan   penyusunan   dan analisis  soal tes bagi guru  SMP se D.1. Yogyakarta.Sesuai  dengan  permasalahannya,    tujuan  pelatihan  ini adalah  untuk meningkatkan   kemampuan   guru  SMP dan menyusun dan  menganalisis   soal  tes,  baik  soal  tes bentuk  uraian  maupun  bentuk  objektif     Metode  yang  digunakan   untuk  mencapai tujuan  ini adalah  pelatihan   dan pembinaan.    Selain  metode  ceramah  dan diskusi,  metode  latihan  dan  pemberian   tugas juga digunakan  dalam pelatihan  ini.  Pada waktu-waktu  tertentu. Tim pelatih mengunjungi  seko1ah tempat peserta  pelatihan mengajar. Dengan  kunjungan  ini Tim pelatih  dapat memantau  kegiaan  peserta  dan memberikan  bantuan  atau bimbingan  bila peserta  dan memberikan   bantuan  atau  bimbingan   bila  peserta  mengalami   kesulitan  dalam  mempraktikkan    menyusun   dan menganalisis soal tes.  Oleh   karen a pelatihan   ini juga  pembinaan   maka  waktu  pelatihan  berlangsung   selama  tiga  bulan.Hasil  yang  diperoleh   dari  kegiatan  ini adalah  kemampuan   guru  dalam  menyusun  dan menganalisis   soal tes meningkat. Hal  ini  terbukti   dari  soal  tes  meningkat.     Hal  ini  terbukti   dari  soal  tes  yang  mereka  buat.  Soal  yang  dibuat  guru  sudah mempunyai  validitas  isi yang cukup baik, artinya  sampel  soal sudah cukup mewakili  materi yang telah diajarkan.   Selanjutnya, hasil analisis  soal tes secara  teoritik  (analisis  konstruk)  dari  10 soal yang diambil  secara  acak hanya ada  18 dari 250 butir soal at au sekitar  7% butir  soal yang pokok  soalnya  masih memerlukan   perbaikan.   Apabila  dilihat  dari alternatif  jawaban,  jumlah butir yang memiliki jawaban   kurang  memenuhi  syarat ada  18 atau sekitar  7%.  Setelah dicermati,  ternyata  tidak ada butir yang memiliki  kesalahan  ganda  maka  dapat  dikatakan  bahwa jumlah  butir  yang masih memerlukan   pembenahan   ada 36 butir  atau sekitar  14% dari keseluruhan   butir.   lni berarti  bahwa jumlah  butir yang  memenuhi  syarat  ada 86% .  Jumlah  butir  yang baik akan menurun  manakala  dilihat  dari analisis  secara  empirik.   Dari 250 butir seal, hanya ada  109 at au sekitar  43,6% yang baik. Kesalahan   yang  sangat  mencolok   adalah  tingkat  kesulitan   soal, yakni  soal terlalu  sulit bagi  siswa.   Selanjutnya   dilihat  dari kemampuan   menganalisis    soal  tes,  kemampuan   peserta  juga  meningkat.     Hal  ini  dapat  diketahui   dari  hasil  analisis  yang mereka  buat.  Sewaktu  mengerjakan   tugas menganalisis  soal tes, peserta  dibagi menjadi  tujuh kelompok.   Dari tujuh kelompok, hanya  satu kelompok  yang belum  selesai.   Setelah  disampel  tiga untuk  ditampilkan,   ternyata  semuanya  benar.   Dari hasil  ini dapat  disimpulkan   bahwa  cara  pelatihan   dan  pembina an seperti  ini ternyata  dapat  meningkatkan    kemampuan   guru  dalam menyusun   dan  menganalisis   soal tes.   Oleh  karenanya   disarankan   agar  pelatihan   dan pembinaan   seperti  ini diteruskan   dan disebarluaskan    agar lebih  banyak  guru yang  mampu  menyusun  dan menganalisis   soallebih   baik,

PENGEMBANGAN BANK SOAL DI SLTP DAN SMU PROPINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

INOTEK Vol 1, No 2 (2000): Januari 2000
Publisher : LPM UNY

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan utama program  penerapan  IPTEKS  ini adalah untuk melatih  para guru agar memiliki  kemampuan   menyusun  butir­butir soal yang memenuhi  persyaratan   untuk  dimasukkan  ke dalam bank  soal,Khalayak  sasaran  adalah  para guru SLTP dan SMU di Propinsi  Daerah  Istimewa  Yogyakarta  yang  diizinkan  oleh Kanwil Depdikbud   setempat  untuk  mengikuti   kegiatan  ini. Metode  yang  digunakan   meliputi  kegiatan   ceramah,   pelatihan   praktek terbimbing/tutorial,   dan kerja mandiri.Soal yang disusun  dalam  pelatihan  pengembangan   bank soal ini adalah  untuk  seluruh  mata pelajaran  yang  diebtanaskan yang diajarkan di kelas III cawu-L  Hasil pelatihan menunjukkan  bahwa para guru benar-benar  dapat ditingkatkan   kemampuannya dalam menyusun  kisi-kisi,  menyusun  dan menyunting  butir soal, merakit  soal, menganalisis   butir soal menggunakan   program ASCAL dan dimasukkan  ke dalam bank soal, menganalisis  butir soal menggunakan  program  lTEMAN  dan menginterpretasikan hasilnya  untuk mengetahui  kekuatan  distraktor  rnasing-masing  butir soa1. Setelah soal dari setiap mata pelajaran  diujikan  pada500 testi, hasilnya  menunjukkan   bahwa  presentasi  butir  soal yang  tidak  memenuhi  persyaratan   untuk  dimasukkan   ke dalam bank  soal berkisar   12% sampai  45%.  Hasil  pemantauan   di sekolah  menunjukkan   bahwa  pengalaman   yang  diperoleh   para petatar   benar-benar    ditularkan   kepada   guru  lain  di  sekolahnya   masing-masing    di  antaranya   ada  yang  melalui   kegiatan Musyawarah   Guru Mata Pelajaran  (MGMP).Kata kunci: Bank Soal-  Menulis  Butir