Subagjo Subagjo
Center for Handicraft and Batik

Published : 12 Documents
Articles

Found 12 Documents
Search

Deaktivasi Katalis Konverter-Hidrogen Di Pabrik Urea Kaltim-3 Subekti, Agus; Syamsul Arief, Achmad; Praharso, Praharso; Subagjo, Subagjo
Bulletin of Chemical Reaction Engineering & Catalysis 2007: BCREC: Volume 2 Issues 2-3 Year 2007
Publisher : Department of Chemical Engineering - Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (38.372 KB) | DOI: 10.9767/bcrec.2.2-3.10.52-55

Abstract

Di pabrik urea, konverter-hidrogen adalah satu reaktor yang berfungsi untuk mengkonversi hidrogen yang terikut dalam karbondioksida dengan cara mengoksidasi dengan udara, sehingga karbondioksida umpan reaktor urea itu hanya mengandung tidak lebih dari 100 ppm hidrogen. Konversi dilangsungkan pada tekanan 145 kg/cm2 dan suhu umpan reaktor 130°C, menggunakan katalis platinum berpenyangga alumina (0,3%Pt/Al2O3). Dalam dua tahun terakhir, terjadi kenaikan kandungan hidrogen dalam karbondioksida umpan konverter-hidrogen Kaltim-3 yang menyebabkan peningkatan temperatur keluaran konverter dari biasanya sekitar 152oC menjadi sekitar 190°C. Hasil analisis kadar Pt, luas permukaan katalis dan dispersi Pt terhadap katalis-baru dan katalis-terpakai menunjukkan bahwa katalis konverter-hidrogen Kaltim-3 telah terdeaktivasi. Oleh karena itu, pada kesempatan perbaikan-tahunan Juli 2006 yang lalu, katalis tersebut telah diganti dengan yang baru. Selain itu telah dilakukan pula perbaikan kondisi operasi di pabrik amoniak Kaltim-3, sehingga kadar H2 dalam aliran CO2 umpan pabrik urea Kaltim-3 menjadi normal kembali (0,4%). Dengan tindakan-tindakan tersebut, sejak Agustus 2006 yang lalu konverter hidrogen Kaltim-3 dapat beroperasi secara normal kembali. © 2007 BCREC UNDIP. All rights reserved.[Presented at Symposium and Congress of MKICS 2007, 18-19 April 2007, Semarang, Indonesia][How to Cite: A. Subekti, A.S. Arief, P. Praharso, S. Subagjo. (2007). Deaktivasi Katalis Konverter-Hidrogen Di Pabrik Urea Kaltim-3. Bulletin of Chemical Reaction Engineering and Catalysis, 2 (2-3): 52-55.  doi:10.9767/bcrec.2.2-3.10.52-55][How to Link/DOI: http://dx.doi.org/10.9767/bcrec.2.2-3.10.52-55 || or local: http://ejournal.undip.ac.id/index.php/bcrec/article/view/10] 
DISTRIBUSI ALIRAN DALAM REAKTOR BERKANAL MIKRO Budhi, Y. W.; Restiawaty, E.; Subagjo, Subagjo
REAKTOR Volume 11, Nomor 1, Juni 2007
Publisher : Dept. of Chemical Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (54.113 KB) | DOI: 10.14710/reaktor.11.1.1-7

Abstract

Reaktor mikro telah menempatkan diri pada posisi yang diminati dalam pengembangan teknologi reaktor modern yang memiliki karakteristik pokok dalam hal percepatan laju perpindahan massa dan panas yang berlipat ganda. Dengan dimensi yang berskala mikron, distribusi aliran dari pipa induk menuju masing-masing kanal merupakan salah satu persoalan penting untuk menjamin keseragaman aliran di setiap kanal. Makalah ini mengkaji distribusi aliran dalam lima model reaktor dan mempelajari karakteristik pemanasan awal dari keadaan dingin (cold start). Fokus ditujukan dalam shift converter yang mengkonversikan CO menjadi CO2 agar tidak meracuni katalis dalam sel bahan bakar. Selanjutnya pada model reaktor dengan distribusi terbaik, karakteristik cold start up ditelaah lebih mendalam melalui teknik reaksi kimia tak tunak. Hasil studi menunjukkan bahwa start up pada shift converter dapat dilakukan dalam waktu yang sangat singkat yang menunjukkan bahwa secara praktis unit reaktor mikro ini dapat diterapkan.
PENGARUH PERBEDAAN SIFAT PENYANGGA ALUMINA TERHADAP SIFAT KATALIS HYDROTREATING BERBASIS NIKEL-MOLIBDENUM Ulfah, Maria; Subagjo, Subagjo
REAKTOR Volume 14, Nomor 2, Oktober 2012
Publisher : Dept. of Chemical Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (146.906 KB) | DOI: 10.14710/reaktor.14.2.151-157

Abstract

EFFECT OF ALUMINA SUPPORT PROPERTIES ON THE NICKEL-MOLIBDENUM BASE HYDROTREATING CATALYST. Effect of surface characteristics of three species of synthesized γ-alumina (alumina-1, alumina-2 and alumina-3) on characteristics NiMo catalysts has been studied. Those aluminas are derived from boehmite Catapal B by varying rasio mol nitric acid to boehmite. A sol-gel method is used to synthesize γ-Al2O3 support. The Nitrogen adsorption, X-ray diffraction (XRD), Temperature Programmed Reduction (TPR) of H2, Temperature Programmed Desorption (TPD) of NH3, and mechanical strength are used to characterize the supports and catalysts. The results showed that the surface area alumina affects the formation of crystalline MoO3 in the NiMo catalyst, while γ-Al2O3-3 support which has the highest surface area (about 195 m2/g) compared to the other two types of alumina (>195 m2/g) does not have a crystalline MoO3. The formation of crystalline MoO3 is not influenced by the acidity alumina. Based on the results of XRD, it is  indicated that the supported alumina-3 NiMo catalyst (having the highest acid strength) shows that there is no presence of crystalline MoO3. Pore size distribution of support did not change significantly after the deposition of Ni and Mo oxides. Mechanical strength of support also affects the strength NiMo catalyst. Support alumina-3 which has the highest mechanical strength gives the mechanical strength of the highest NiMo catalyst. Pengaruh sifat penyangga γ-alumina hasil pengembangan (alumina-1, alumina-2 dan alumina-3) pada karakter katalis hydrotreating nikel-molibdenum (NiMo) telah dipelajari. Ketiga jenis γ-alumina diturunkan dari boehmite “Catapal B” dengan menvariasikan nisbah mol asam nitrat terhadap boehmite. Pembuatan γ-alumina menggunakan metoda sol-gel. Adsorpsi Nitrogen, X-ray difraksi (XRD), Temperature Programmed Reduction (TPR) H2, Temperature Programmed Desorption (TPD) NH3, dan kekuatan mekanik digunakan untuk mengkarakterisasi penyangga dan katalis. Hasil penelitian menunjukan bahwa luas permukaan alumina mempengaruhi pembentukan kristalin MoO3 dalam katalis NiMo. Pada penyangga alumina-3 yang memiliki luas permukaan yang paling tinggi (sekitar 195 m2/g) di banding dua jenis alumina lainnya (>195 m2/g) tidak memiliki kristalin MoO3. Pembentukan kristalin MoO3 tidak dipengaruhi oleh sifat keasaman alumina. Berdasarkan hasil XRD ditunjukan bahwa pada katalis NiMo berpenyangga alumina-3 (memiliki kekuatan asam yang paling tinggi) tidak terdapat adanya kristalin MoO3. Distribusi ukuran pori peyangga tidak berubah signifikan setelah deposisi oksida Ni dan Mo. Kekuatan mekanik penyangga mempengaruhi pula kekuatan katalis NiMo. Penyangga γ Al2O3-3 yang memiliki kekuatan mekanik yang paling tinggi memberikan kekuatan mekanik katalis NiMo yang tertinggi.
Deaktivasi Katalis Konverter-Hidrogen Di Pabrik Urea Kaltim-3 Subekti, Agus; Arief, Achmad Syamsul; Paharso, Praharso; Subagjo, Subagjo
Bulletin of Chemical Reaction Engineering & Catalysis 2007: BCREC: Volume 2 Issues 2-3 Year 2007
Publisher : Department of Chemical Engineering - Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.022 KB) | DOI: 10.9767/bcrec.2.2-3.7130.52-55

Abstract

Di pabrik urea, konverter-hidrogen adalah satu reaktor yang berfungsi untuk mengkonversi hidrogen yang terikut dalam karbondioksida dengan cara mengoksidasi dengan udara, sehingga karbondioksida umpan reaktor urea itu hanya mengandung tidak lebih dari 100 ppm hidrogen. Konversi dilangsungkan pada tekanan 145 kg/cm2 dan suhu umpan reaktor 130°C, menggunakan katalis platinum berpenyangga alumina (0,3%Pt/Al2O3). Dalam dua tahun terakhir, terjadi kenaikan kandungan hidrogen dalam karbondioksida umpan konverter-hidrogen Kaltim-3 yang menyebabkan peningkatan temperatur keluaran konverter dari biasanya sekitar 152oC menjadi sekitar 190°C. Hasil analisis kadar Pt, luas permukaan katalis dan dispersi Pt terhadap katalis-baru dan katalis-terpakai menunjukkan bahwa katalis konverter-hidrogen Kaltim-3 telah terdeaktivasi. Oleh karena itu, pada kesempatan perbaikan-tahunan Juli 2006 yang lalu, katalis tersebut telah diganti dengan yang baru. Selain itu telah dilakukan pula perbaikan kondisi operasi di pabrik amoniak Kaltim-3, sehingga kadar H2 dalam aliran CO2 umpan pabrik urea Kaltim-3 menjadi normal kembali (0,4%). Dengan tindakan-tindakan tersebut, sejak Agustus 2006 yang lalu konverter hidrogen Kaltim-3 dapat beroperasi secara normal kembali. © 2007 BCREC UNDIP. All rights reserved.[Presented at Symposium and Congress of MKICS 2007, 18-19 April 2007, Semarang, Indonesia][How to Cite: A. Subekti, A.S. Arief, P. Praharso, S. Subagjo. (2007). Deaktivasi Katalis Konverter-Hidrogen Di Pabrik Urea Kaltim-3. Bulletin of Chemical Reaction Engineering and Catalysis, 2 (2-3): 52-55.  doi:10.9767/bcrec.2.2-3.7130.52-55][How to Link/DOI: http://dx.doi.org/10.9767/bcrec.2.2-3.7130.52-55 || or local: http://ejournal.undip.ac.id/index.php/bcrec/article/view/7130] 
ISOTHERMAL PYROLYSIS OF KRAFT PULP MILL SLUDGE Syamsudin, Syamsudin; Susanto, Herri; Subagjo, Subagjo
REAKTOR Volume 14, No. 4, OKTOBER 2013
Publisher : Dept. of Chemical Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (254.088 KB) | DOI: 10.14710/reaktor.14.4.298-304

Abstract

Kraft pulp mill sludge cake composed of rejected wood fibers and activated sludge microorganisms. With a heating value about 14 MJ/kg (dried basis), this type of biomass had a potential as an alternative energy source. Unfortunately, it had an ash content of 27.6% and a moisture content of 80%. For reducing moisture content with minimum energy consumption, a combination of mechanical dewatering and thermal drying was studied previously. Meanwhile, experiments on isothermal pyrolysis had been carried out for further improvement on ultimate and proximate analysis of solid fuel. Final mass of char obtained from pyrolysis at 500oC was not significantly different from that of 700oC, so pyrolysis was considered to be optimum at 500oC. A char obtained from pyrolysis at temperature of 500oC had a pore surface area of 77.049 m2/g (highest among other temperatures). Kinetic of isothermal pyrolysis was well represented with a first order modified volumetric model with a frequency factor of 0.782 1/s and an activation of 34.050 kJ/mol.
KINETIKA HIDRODESULFURISASI DIBENZOTHIOPHENE (HDS DBT) MENGGUNAKAN KATALIS NiMo/γ-Al2O3 Subagjo, Subagjo; Ulfah, Maria
REAKTOR Volume 14, No. 4, OKTOBER 2013
Publisher : Dept. of Chemical Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (750.063 KB) | DOI: 10.14710/reaktor.14.4.314-323

Abstract

Evaluasi kinetika reaksi hidrodesulfurisasi (HDS) dibenzothiophene dan simulasi nafta hydrotreater yang berada di PT. PERTAMINA Refinery Unit II Dumai menggunakan katalis NiMo/Al2O3 hasil pengembangan telah dilakukan. Kinetika reaksi HDS DBT dilakukan dalan sistem reaktor batch dengan variasi temperatur 280-320oC dan tekanan 30 bar. Data kinetika diolah dengan persamaan hukum pangkat (law power) dan persamaan kinetik mekanistik (Langmuir Hinshelwood, LH). Berdasarkan model hukum pangkat, kinetika HDS DBT menggunakan NiMo/Al2O3 hasil pengembangan merupakan  orde satu  terhadap DBT dengan konstanta Arhenius  sebesar 165633 detik-1 dan energi aktivasi 69017 J/mol (16,56 kkal/mol). Model LH yang cocok untuk reaksi HDS DBT menggunakan NiMo/Al2O3 hasil pengembangan adalah model LH yang mengilustrasikan adanya kompetisi antara reaktan DBT dan H2 pada tipe pusat aktif yang sama, dengan DBT teradsorb secara kuat sedangkan H2 teradsorpsi secara lemah. Energi aktifasi dan konstanta Arhenius berdasarkan model LH ini ini berturut-turut adalah 81409 J/mol (19,34 kkal/mol) dan 1658133 s-1. Dengan menggunakan persamaan laju reaksi hukum pangkat, model memberikan hasil konversi sulfur yang sama dengan hasil keluaran reaktor nafta hydrotreater RU II-Dumai, yaitu mencapai 98%.
PRODUCTION OF Y AND USY ZEOLITE FOR THE ACTIVE COMPONENT OF CRACKING CATALYST Subagjo, Subagjo
Jurnal Zeolit Indonesia Vol 7, No 1 (2008)
Publisher : Jurnal Zeolit Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.145 KB)

Abstract

Standard Y zeolite has been prepared from sodium aluminate as an alumina source and Cab-O-Sil or sodium silicate as a silicate source. This study in particular aimed to obtain a reliable procedure to produce Y zeolite with Si/Al ratio ≥5. The resulted zeolite was then converted into Ultra Stable Y Zeolite (USY) through hydrothermal dealumination at high temperature. The study managed to procure a formulae and procedure to produce a zeolite Y which has SiO2/Al2O3 > 5 and a very stable USY. The procedure succeeded in obtaining synthesized USY that is ready to use as an active phase of cracking catalyst by combining it with other components which are matrix (modified clay and active matrix) and additives (ZSM- 5).
Kinetic Study on the SO2 Adsorption using Adsorbent CuO/γ-Al2O3 Bahrin, David; Subagjo, Subagjo; Susanto, Herri
Bulletin of Chemical Reaction Engineering & Catalysis Article In Press 2016
Publisher : Department of Chemical Engineering - Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (38.372 KB) | DOI: 10.9767/bcrec.0.x.9478.xxx-xxx

Abstract

Kinetic of SO2 adsorption using adsorbent CuO/g-Al2O3 has been studied with respect to the effect of SO2 concentration and the amount of active phase on the kinetic of chemical adsorption between SO2 and CuO. Adsorbent CuO/γ-Al2O3 was prepared using the dry impregnation method with Cu(NO3)2.3H2O solution on a commercial support, γ-Al2O3. Four types of the adsorbent CuO/g-Al2O3 were prepared, with CuO contents represented as Cu of: 5, 8, 15 and 22%. Experiments on the adsorption were carried out at a temperature of 300°C. The model gas containing SO2 with a concentration of 3000 or 18500 ppmv were passed at a constant flow rate in the range of 1.2 - 2.2 mL/sec through the bed of adsorbent for 1 hour. SO2 adsorbed on CuO were analyzed based on the decrease in concentration of SO2 between the inlet and the outlet of the adsorption column. The conversion of CuO to CuSO4 was calculated based on the stoichiometry of reaction between SO2 and CuO to form CuSO4. The increase in Cu content in the adsorbent decreased the conversion of CuO. In the adsorption using the model gas with SO2 concentrations of 18500 and 3000 ppmv, the increase in Cu content in the adsorbent decreased the the reaction rate constant. Among various models under-consideration, the 3-D Difussion-Jander kinetic model was found to be the best to represent the experimental data.
Kinetic Study on the SO2 Adsorption using CuO/γ-Al2O3 Adsorbent Bahrin, David; Subagjo, Subagjo; Susanto, Herri
Bulletin of Chemical Reaction Engineering & Catalysis 2016: BCREC Volume 11 Issue 1 Year 2016 (SCOPUS Indexed, April 2016)
Publisher : Department of Chemical Engineering - Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (526.323 KB) | DOI: 10.9767/bcrec.11.1.425.93-100

Abstract

Adsorbent CuO/g-Al2O3 for adsorption of SO2 were prepared by impregnating Cu(NO3)2.3H2O solution. Five types of adsorbent were obtained 5Cu (intended Cu concentration of 5%, actual of 4.92%), 8Cu (7.68%), 15Cu(14.13%), 22Cu (20.80%) and 27Cu (25.80%). For activity test, model gas containing SO2 with a concentration of about 0.755 mol/m3 were passed through the bed of 1 gram adsorbent at a flow rate in the range of 1.4-1.8 mL/s. Adsorption of SO2 were carried out at a constant temperature of 300, 350, 400 or 450 °C. Increasing sulfur loadings (gram of sulfur per gram of adsorbent) were observed with increasing adsorption temperatures, but not with increasing Cu content in the adsorbent. Among those types, adsorbent of 8Cu was considered as the best with respect to the sulfur loading (3 g of sulfur per 100 g of adsorbent). Adsorbent 5Cu had actually a better sulfur loading, but it was suspected being contributed also by adsorption of SO2 on Al2O3. The shrinking core model was used in the kinetic study of adsorption using 8Cu and with additional assumption of a spherical particle. Compared to film diffusion and pore diffusion controlling step models, the reaction rate limitation was the best to fit the experimental data. The reaction rate constant for this model at temperatures of 300, 350, 400 and 450 °C were 0.022, 0.038, 0.042, and 0.059 kg.m.mol-1.min-1, respectively. The activation energy was 21.25 kJ.mol-1 and the frequency factor was 2.02 min-1. Copyright © 2016 BCREC GROUP. All rights reservedReceived: 10th November 2015; Revised: 29th February 2016; Accepted: 29th February 2016How to Cite: Bahrin, D., Subagjo, S., Susanto, H. (2016). Kinetic Study on the SO2 Adsorption using CuO/γ-Al2O3 Adsorbent. Bulletin of Chemical Reaction Engineering & Catalysis, 11 (1): 93-100. (doi:10.9767/bcrec.11.1.425.93-99)Permalink/DOI: http://dx.doi.org/10.9767/bcrec.11.1.425.93-99Article Metrics: (click on the button below to see citations in Scopus) 
Pengolahan Kulit Kerang untuk Bahan Baku Kerajinan Pristiwati, Endang; Subagjo, Subagjo
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol 26 (2009): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2362.399 KB) | DOI: 10.22322/dkb.v26i1.1033

Abstract

Kulit kerang (cangkang) untuk dapat dimanfaatkan sebagai kerajinan perlu diolah terlebih dahulu. Pengolahan ini dimaksudkan untuk menghilangkan kotoran, bau dan menghilangkan lapisan kulit luar agar supaya lapisan kulit mutiara (kulit dalam) bisa nampak. Pengolahan kulit kerang dapat dilakukan dengan cara kimia dan mekanik. Pengolahan kulit kerang cara kimia dilakukan dengan merendam didalam larutan asam klorida atau cuka. Sedangkan cara mekanik dilakukan dengan menggunakan gerinda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengolahan dengan cara kimia mudah dilaksanakan, waktu lebih singkat (247 menit/4 kg/orang), tidak memerlukan ketrampilan namun menimbulkan limbah cair. Pengolahan dengan cara mekanik memerlukan ketrampilan, waktu lebih lama (425 menit/4 kg/orang), tidak menimbulkan limbah cair tetapi menimbulkan limbah padat.