Subagjo Subagjo
Center for Handicraft and Batik

Published : 7 Documents
Articles

Found 7 Documents
Search

DISTRIBUSI ALIRAN DALAM REAKTOR BERKANAL MIKRO

REAKTOR Volume 11, Nomor 1, Juni 2007
Publisher : Dept. of Chemical Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1954.749 KB)

Abstract

Reaktor mikro telah menempatkan diri pada posisi yang diminati dalam pengembangan teknologi reaktor modern yang memiliki karakteristik pokok dalam hal percepatan laju perpindahan massa dan panas yang berlipat ganda. Dengan dimensi yang berskala mikron, distribusi aliran dari pipa induk menuju masing-masing kanal merupakan salah satu persoalan penting untuk menjamin keseragaman aliran di setiap kanal. Makalah ini mengkaji distribusi aliran dalam lima model reaktor dan mempelajari karakteristik pemanasan awal dari keadaan dingin (cold start). Fokus ditujukan dalam shift converter yang mengkonversikan CO menjadi CO2 agar tidak meracuni katalis dalam sel bahan bakar. Selanjutnya pada model reaktor dengan distribusi terbaik, karakteristik cold start up ditelaah lebih mendalam melalui teknik reaksi kimia tak tunak. Hasil studi menunjukkan bahwa start up pada shift converter dapat dilakukan dalam waktu yang sangat singkat yang menunjukkan bahwa secara praktis unit reaktor mikro ini dapat diterapkan.

PENGARUH PERBEDAAN SIFAT PENYANGGA ALUMINA TERHADAP SIFAT KATALIS HYDROTREATING BERBASIS NIKEL-MOLIBDENUM

REAKTOR Volume 14, Nomor 2, Oktober 2012
Publisher : Dept. of Chemical Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (146.906 KB)

Abstract

EFFECT OF ALUMINA SUPPORT PROPERTIES ON THE NICKEL-MOLIBDENUM BASE HYDROTREATING CATALYST. Effect of surface characteristics of three species of synthesized γ-alumina (alumina-1, alumina-2 and alumina-3) on characteristics NiMo catalysts has been studied. Those aluminas are derived from boehmite Catapal B by varying rasio mol nitric acid to boehmite. A sol-gel method is used to synthesize γ-Al2O3 support. The Nitrogen adsorption, X-ray diffraction (XRD), Temperature Programmed Reduction (TPR) of H2, Temperature Programmed Desorption (TPD) of NH3, and mechanical strength are used to characterize the supports and catalysts. The results showed that the surface area alumina affects the formation of crystalline MoO3 in the NiMo catalyst, while γ-Al2O3-3 support which has the highest surface area (about 195 m2/g) compared to the other two types of alumina (>195 m2/g) does not have a crystalline MoO3. The formation of crystalline MoO3 is not influenced by the acidity alumina. Based on the results of XRD, it is  indicated that the supported alumina-3 NiMo catalyst (having the highest acid strength) shows that there is no presence of crystalline MoO3. Pore size distribution of support did not change significantly after the deposition of Ni and Mo oxides. Mechanical strength of support also affects the strength NiMo catalyst. Support alumina-3 which has the highest mechanical strength gives the mechanical strength of the highest NiMo catalyst. Pengaruh sifat penyangga γ-alumina hasil pengembangan (alumina-1, alumina-2 dan alumina-3) pada karakter katalis hydrotreating nikel-molibdenum (NiMo) telah dipelajari. Ketiga jenis γ-alumina diturunkan dari boehmite “Catapal B” dengan menvariasikan nisbah mol asam nitrat terhadap boehmite. Pembuatan γ-alumina menggunakan metoda sol-gel. Adsorpsi Nitrogen, X-ray difraksi (XRD), Temperature Programmed Reduction (TPR) H2, Temperature Programmed Desorption (TPD) NH3, dan kekuatan mekanik digunakan untuk mengkarakterisasi penyangga dan katalis. Hasil penelitian menunjukan bahwa luas permukaan alumina mempengaruhi pembentukan kristalin MoO3 dalam katalis NiMo. Pada penyangga alumina-3 yang memiliki luas permukaan yang paling tinggi (sekitar 195 m2/g) di banding dua jenis alumina lainnya (>195 m2/g) tidak memiliki kristalin MoO3. Pembentukan kristalin MoO3 tidak dipengaruhi oleh sifat keasaman alumina. Berdasarkan hasil XRD ditunjukan bahwa pada katalis NiMo berpenyangga alumina-3 (memiliki kekuatan asam yang paling tinggi) tidak terdapat adanya kristalin MoO3. Distribusi ukuran pori peyangga tidak berubah signifikan setelah deposisi oksida Ni dan Mo. Kekuatan mekanik penyangga mempengaruhi pula kekuatan katalis NiMo. Penyangga γ Al2O3-3 yang memiliki kekuatan mekanik yang paling tinggi memberikan kekuatan mekanik katalis NiMo yang tertinggi.

ISOTHERMAL PYROLYSIS OF KRAFT PULP MILL SLUDGE

REAKTOR Volume 14, No. 4, OKTOBER 2013
Publisher : Dept. of Chemical Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (254.088 KB)

Abstract

Kraft pulp mill sludge cake composed of rejected wood fibers and activated sludge microorganisms. With a heating value about 14 MJ/kg (dried basis), this type of biomass had a potential as an alternative energy source. Unfortunately, it had an ash content of 27.6% and a moisture content of 80%. For reducing moisture content with minimum energy consumption, a combination of mechanical dewatering and thermal drying was studied previously. Meanwhile, experiments on isothermal pyrolysis had been carried out for further improvement on ultimate and proximate analysis of solid fuel. Final mass of char obtained from pyrolysis at 500oC was not significantly different from that of 700oC, so pyrolysis was considered to be optimum at 500oC. A char obtained from pyrolysis at temperature of 500oC had a pore surface area of 77.049 m2/g (highest among other temperatures). Kinetic of isothermal pyrolysis was well represented with a first order modified volumetric model with a frequency factor of 0.782 1/s and an activation of 34.050 kJ/mol.

KINETIKA HIDRODESULFURISASI DIBENZOTHIOPHENE (HDS DBT) MENGGUNAKAN KATALIS NiMo/γ-Al2O3

REAKTOR Volume 14, No. 4, OKTOBER 2013
Publisher : Dept. of Chemical Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (750.063 KB)

Abstract

Evaluasi kinetika reaksi hidrodesulfurisasi (HDS) dibenzothiophene dan simulasi nafta hydrotreater yang berada di PT. PERTAMINA Refinery Unit II Dumai menggunakan katalis NiMo/Al2O3 hasil pengembangan telah dilakukan. Kinetika reaksi HDS DBT dilakukan dalan sistem reaktor batch dengan variasi temperatur 280-320oC dan tekanan 30 bar. Data kinetika diolah dengan persamaan hukum pangkat (law power) dan persamaan kinetik mekanistik (Langmuir Hinshelwood, LH). Berdasarkan model hukum pangkat, kinetika HDS DBT menggunakan NiMo/Al2O3 hasil pengembangan merupakan  orde satu  terhadap DBT dengan konstanta Arhenius  sebesar 165633 detik-1 dan energi aktivasi 69017 J/mol (16,56 kkal/mol). Model LH yang cocok untuk reaksi HDS DBT menggunakan NiMo/Al2O3 hasil pengembangan adalah model LH yang mengilustrasikan adanya kompetisi antara reaktan DBT dan H2 pada tipe pusat aktif yang sama, dengan DBT teradsorb secara kuat sedangkan H2 teradsorpsi secara lemah. Energi aktifasi dan konstanta Arhenius berdasarkan model LH ini ini berturut-turut adalah 81409 J/mol (19,34 kkal/mol) dan 1658133 s-1. Dengan menggunakan persamaan laju reaksi hukum pangkat, model memberikan hasil konversi sulfur yang sama dengan hasil keluaran reaktor nafta hydrotreater RU II-Dumai, yaitu mencapai 98%.

PRODUCTION OF Y AND USY ZEOLITE FOR THE ACTIVE COMPONENT OF CRACKING CATALYST

Jurnal Zeolit Indonesia Vol 7, No 1 (2008)
Publisher : Jurnal Zeolit Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.145 KB)

Abstract

Standard Y zeolite has been prepared from sodium aluminate as an alumina source and Cab-O-Sil or sodium silicate as a silicate source. This study in particular aimed to obtain a reliable procedure to produce Y zeolite with Si/Al ratio ≥5. The resulted zeolite was then converted into Ultra Stable Y Zeolite (USY) through hydrothermal dealumination at high temperature. The study managed to procure a formulae and procedure to produce a zeolite Y which has SiO2/Al2O3 > 5 and a very stable USY. The procedure succeeded in obtaining synthesized USY that is ready to use as an active phase of cracking catalyst by combining it with other components which are matrix (modified clay and active matrix) and additives (ZSM- 5).

Pengolahan Kulit Kerang untuk Bahan Baku Kerajinan

Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol 26 (2009): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2362.399 KB)

Abstract

Kulit kerang (cangkang) untuk dapat dimanfaatkan sebagai kerajinan perlu diolah terlebih dahulu. Pengolahan ini dimaksudkan untuk menghilangkan kotoran, bau dan menghilangkan lapisan kulit luar agar supaya lapisan kulit mutiara (kulit dalam) bisa nampak. Pengolahan kulit kerang dapat dilakukan dengan cara kimia dan mekanik. Pengolahan kulit kerang cara kimia dilakukan dengan merendam didalam larutan asam klorida atau cuka. Sedangkan cara mekanik dilakukan dengan menggunakan gerinda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengolahan dengan cara kimia mudah dilaksanakan, waktu lebih singkat (247 menit/4 kg/orang), tidak memerlukan ketrampilan namun menimbulkan limbah cair. Pengolahan dengan cara mekanik memerlukan ketrampilan, waktu lebih lama (425 menit/4 kg/orang), tidak menimbulkan limbah cair tetapi menimbulkan limbah padat.

Synthesis of NaY Zeolite Using Mixed Calcined Kaolins

Journal of Engineering and Technological Sciences Vol 47, No 6 (2015)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (257.138 KB)

Abstract

Kaolin is one of several types of clay minerals. The most common crystalline phase constituting kaolin minerals is kaolinite, with the chemical composition Al2Si2O5(OH)4. Kaolin is mostly used for manufacturing traditional ceramics and also to synthesize zeolites or molecular sieves. The Si-O and Al-O structures in kaolin are inactive and inert, so activation by calcination is required. This work studies the conversion of kaolin originating from Bangka island in Indonesia into calcined kaolin phase as precursor in NaY zeolite synthesis. In the calcination process, the kaolinite undergoes phase transformations from metakaolin to mullite. The Bangka kaolin is 74.3% crystalline, predominantly composed of kaolinite, and 25.7% amorphous, with an SiO2/Al2O3 mass ratio of 1.64. Thermal characterization using simultaneous DSC/TGA identified an endothermic peak at 527°C and an exothermic peak at 1013°C. Thus, three calcination temperatures (700, 1013, and 1050 °C) were selected to produce calcined kaolins with different phase distributions. The best product, with 87.8% NaY zeolite in the 54.7% crystalline product and an SiO2/Al2O3 molar ratio of 5.35, was obtained through hydrothermal synthesis using mixed calcined kaolins with a composition of K700C : K1013C : K1050C = 10 : 85 : 5 in %-mass, with seed addition, at a temperature of 93 °Cand a reaction time of 15 hours.