Articles

Found 30 Documents
Search

Isolasi dan Seleksi Bakteri Penghasil Enzim Ekstraseluler (proteolitik, amilolitik, lipolitik dan selulolitik) yang Berasal dari Sedimen Kawasan Mangrove (Isolation and Selection of Extracellular Enzyme Producing Bacteria Originating from Mangrove Sedimen

ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 17, No 3 (2012): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (442.341 KB)

Abstract

Bioremediasi tambak udang memegang peranan penting dalam upaya membersihkan tambak dari bahan pencemar internal yang dihasilkan selama proses budidaya itu sendiri. Proses budidaya udang merupakan kegiatan yang potensial menghasilkan limbah organik terutama berasal dari sisa pakan dan hasil ekskreta (feses). Bakteri heterotrofik memiliki kemampuan untuk menghasilkan enzim ekstraseluler yang diperlukan untuk bioremediasi limbah organik. Penelitian ini ditujukan untuk mengisolasi bakteri heterotrofik yang berasal dari ekosistem mangrove utuk dikembangkan sebagai agensia bioremediasi limbah organik pada tambak udang. Sedimen mangrove diperoleh dari kawasan mangrove Segara Anakan- Cilacap dan kawasan Mangrove Kaliuntu-Kabupaten Rembang. Isolasi dilakukan dengan metode agar tuang menggunakan media Zobell agar. Pengujian aktivitas proteolitik, amilolitik, lipolitik dan selulolitik dilakukan dengan metode diffusion agar menggunakan paper disk berturut-turut pada media Zobell agar yang diperkaya dengan 1% skim milk, 1% amilum, dan 1% tween 80 dan 1 % CMC. Diameter zone hidrolitik digunakan sebagai dasar untuk melakukan seleksi. Hasil penelitian diperoleh 35 isolat (16 isolat dari Kaliuntu – Rembang dan 19 isolat dari Segoro Anakan – Cilacap). Jumlah isolat yang mempunyai kemampuan menghasilkan enzim ekstraseluler berturut-turut 33 isolat dengan aktivitas proteolitik 25 isolat dengan aktivitas amilolitik, 29 isolat dengan aktivitas lipolitik, dan 12 isolat dengan aktivitas selulolitik. Hasil seleksi berdasarkan diameter zone hidrolitik diperoleh 10 isolat yang potensial untuk dikembangkan sebagai agensia bioremediasi.Kata kunci: proteolitik, amilolitik, lipolitik, selulolitik, mangrove, bioremediasi, tambak udangBioremediation of shrimp pond plays an important role in the effort to clean up the internal pollutants of pond produced during the cultivation process. Shrimp farming produces mainly organic waste from food remains and the excreta. Heterotrophic bacteria have the ability to produce extracellular enzymes required for the bioremediation of organic waste. This study aimed to isolate heterotrophic bacteria from mangrove ecosystem to be developed as agents of bioremediation of organic wastes in shrimp ponds. This was done by isolating and selecting bacteria producing extracellular enzymes of proteolytic, amylolitic, lipolytic and cellulolytic from mangrove sediments collected from the mangrove area of Segara Anakan at District of Cilacap and Kaliuntu, district of Rembang. Isolations were done by pour-plate method using a Zobell agar medium. Assays for proteolytic, amilolytic, lipolytic and cellulolytic activity were performed using paper disk on Zobell agar medium enriched respectively with 1% skim milk, 1% soluble starch, 1% tween 80 and 1% CMC. Hydrolytic zone diameter was used as the basis for selection of enzymatic activities. The results obtained was 35 isolates (16 isolates from Kaliuntu–Rembang dan 19 isolate froms Segara Anakan – Cilacap), consisting of 33 proteolytic enzyme, 25 amilolytic enzyme, 29 lipolytic enzyme and 12 isolates cellulolytic producing enzyme. Based on hydrolytic zone diameter were selected 9 isolates which potential to be developed as bioremediation agent.Key words: Bioremediation, proteolytic, amilolytic, lipolytic, selulolytic

Pengaruh Kadar Air Terhadap Laju Respirasi Tanah Tambak pada Penggunaan Katul Padi Sebagai Priming Agent

ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 12, No 2 (2007): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (157.875 KB)

Abstract

Kualitas tanah tambak merupakan salah satu kunci keberhasilan bubidaya udang, sehingga manajemen pengelolaan tanah tambak mempunyai peran penting dalam menentukan kualitas tanah tambak. Tanah tambak merupakan tempat akumulasi limbah internal tambak yang berasal dari sisa pakan, kotoran udang dan bangkai organisme tambak. Dampak dari bahan organik tersebut dapat dikurangi melalui prinsip ekologi dengan menggunakan tehnik bioremediasi. Penguraian bahan organik dipengaruhi oleh kadar air, sehingga pengaturan kadar air diharapkan mampu meningkatkan laju respirasi tanah tambak. Tujuan dari penelitian iniadalah untuk mengetahui pengaruh kadar air terhadap laju respirasi tanah tambak pada pemberian katul sebagai priming agent. Penelitian menggunakan metode eksperimental dengan rancangan acak lengkap. Perlakuan yang digunakan adalah kadar air 15%, 30% dan 45%, masing-masing dengan pengulangan sembilan kali. Parameter kualitas tanah yang diamati meliputi: total bahan organik, kadar air, N-organik, C-organik dan pH. Berdasarkan hasil pengama tan selama 12 hari menunjukkan bahwa kadar air dapat meningkatkan laju respirasi tanah tambak udang. Laju respirasi tertinggi dicapai oleh perlakuan dengan kadar air 45% sebesar 222,312 mgC/kg tanah per hari, dan disusul berturut-turut oleh perlakuan dengan kadar air 30%, dan perlakuan dengan kadar air 25%, yaitu masing-masing sebesar 215,528 mgC/kg tanah per hari; dan 96,312 mgC/kg tanah per hari.Kata kunci: kadar air, bahan organik, tanah dasar tambak dan laju respirasi.The quality of pond soil are one of the most factor in growth of the shrimp. Pond soil is place of accumulated of pond soil terminal waste are coming from the remained of feed, shrimp exrement and the carrior of the pond soil organism. Waste effect could be decreasing by the ecological principle by using bioremidioation technique. The decomposition of organic matter of bacteria activities extremely influence by moisture. The controlling of moisture could be increasing the respiration rate of pond soil. The purpose of this research is to know the influence of moisture to the respiration rate of pond soil on the use of rice bran as priming agent. The research use experimental method with complete random approach. There are three treatment of moisrureare 15%, 30 % and 45%, nine repeated for each treatment. The taken of soil parameters are the total organic matter, moisture, C-organic, N-organic and pH. According to the observation result during 12 days indicated that the influence of the moisure treatmnet could be increasing the respiration rate of pond soil. In this research the respioration rate from the higgest to the lower are 45% ( 222,312 mgC/kg soil/24 hours); 30% (215,528 mgC/kg soil/24 hours) and 25 % (96,312 mgC/kg soil/24 hours).Key words: Moisture, organic matter, pond bottom soil and respiration rate.

Uji Pemanfaatan Rumput Laut Halimeda sp. Sebagai Sumber Makanan Fungsional untuk Memodulasi Sistem Pertahanan Non Spesifik pada Udang Putih (Litopenaeus vannamei)

ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 14, No 3 (2009): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (462.192 KB)

Abstract

Makanan fungsional bertujuan untuk mencegah terjadinya penyakit melalui target fungsional tertentu didalam proses fisiologi dan metabolisme tubuh, diantaranya adalah melalui proses immunomodulasi. Pada penelitian ini dilakukan percobaan aplikasi ekstrak dan serbuk simplisia rumput laut Halimeda sebagai makanan fungsional untuk memodulasi sistem pertahanan non spesifik pada udang vannamei. Penelitian dilakukan dengan metode eksperimental laboratoris menggunakan rancangan acak lengkap. Halimeda ditambahkan dalam pakan sebanyak 1%. Pakan diberikan sebanyak 5% berat badan per hari yang diberikan dalam tiga kali (pagi, sore dan malam). Parameter sistem pertahanan non spesifik udang diamati melalui penghitungan jumlah total hemosit dan aktivitas fagositosis hemosit. Selama penelitian juga dilakukan pengukuran kualitas air (salinitas, pH dan suhu) secara harian. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian ekstrak Halimeda memberikan pengaruh dengan meningkatkan jumlah total hemosit 22,43% (hari ke-8) dan 96,24% (hari ke-12). Tetapi pemberian serbuk simplisia memberikan pengaruh lebih baik dengan meningkatkan jumlah total hemosit sebesar 76,18% (hari ke-8) dan 170,11 % (hari ke12). Hasil pengamatan aktivitas fagositosis menunjukan bahwa pemberian ekstrak dan serbuk simplisia Halimeda memberikan pengaruh meningkatkan aktivitas fagositosis pada pengamatan hari ke-12 yaitu berturut turut sebesar 35,75% dan 48,38% sehingga dapat disimpulkan bahwa Halimena mampu memodulasi sistem pertahanan non spesifik pada L. vannamei. Kata kunci : Halimeda, makanan fungsional, sistem pertahanan non spesifik, L. vannamei Functional foods should benefically affect one or more target functions in the body, among others is through immunomodulation process. This research was conducted to determine the effect of hot-water extract and powder simplicia of Halimeda sp. as functional foods to modulate non-specific defense system in vannamei shrimp. Research was carried out by laboratory experimental methods using a complete randomized design. Halimeda was incoorporated in the feed at concentrations of 1%. The feed was given as much as 5% of body weight per day given in three times (morning, afternoon and evening). Parameters of non-specific defense system of shrimp were observed by counting the total number of hemosit and hemosit phagocytosis activity. During the study also measured water quality (salinity, pH and temperature) daily. The results showed that administration of Halimeda extract increased total hemocyte count of 22.43% (at day 8) and 96.24% (at day 12). While administration of powder simplicia increased total hemocyt count  of 76.18% (at day 8) and 170,11% (at day 12). Phagocytosis activity parameter indicate that administration of extracts and powders simplicia Halimeda increased phagocytosis activity on the observation of 12 days consecutive for 35.75% and 48.38% and could be concluded that Halimeda sp. was able to enhance non-specific defence of  L. vannamei Key words : Halimeda, functional food,  non-spesific defence system, L. vannamei

Komposisi Asam Lemak pada Karang Acropora humilis dan A. hyacinthus dari Kepulauan Karimunjawa

ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 16, No 1 (2011): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1649.98 KB)

Abstract

Binatang karang diketahui memiliki kandungan lemak dalam jaringan tubuhnya. Lemak dijumpai dalam bentuk lemak struktural atau tersimpan sebagai cadangan. Lemak tersebar dan berasosiasi dengan sel di polip maupun zooxanthellae. Kandungan dan komposisi jenis lemak dapat dimanfaatkan sebagai indikator kesehatan koloni karang. Metabolisme lemak dilaporkan berhubungan dengan proses reproduksi binatang karang. Komposisi dan kandungan lemak dapat digunakan untuk memprediksi waktu spawning pada karang Famili Acroporidae. Meski pengetahuan tentang kandungan lemak pada binatang karang memberi banyak manfaat, namun hingga kini di Indonesia penelitian tentang kandungan lemak pada binatang karang belum pernah dilakukan. Penelitian ini dilakukan untuk memberi gambaran komposisi asam lemak yang terdapat pada karang Acropora yang dikoleksi dari Kepulauan Karimunjawa. Komposisi asam lemak dianalisis dengan Kromatografi Gas. Hasil analisis komposisi asam lemak menunjukkan tidak terdapat perbedaan komposisi asam lemak antara Acropora humilis dan A. hyacinthus, yang dikoleksi dari Pulau Sambangan maupun Cemara Kecil. Kandungan lemak pada kedua species didominasi oleh asam palmitat (53-74%), asam stearat (10,2- 19,92%), dan asam oleat (4,8-8,75%). Perbedaan urutan dan jumlah asam lemak berikutnya, mengacu kepada perbedaan species. Karakteristik kandungan  dan  komposisi  asam  lemak  binatang  karang  dapat  digunakan untuk  khemotaksonomi.  Data komposisi lemak yang diperoleh juga dapat digunakan sebagai acuan kandungan asam lemak pada kondisi normal, mengingat bleaching sering terjadi pada kedua lokasi sampling. Kata kunci: Scleractinian, asam lemak, kesehatan karang, Acropora Corals contain large amounts of lipid in their tissues. Lipids may be used for cell structure or energy storage. Lipids were distributed among coral cells or zooxanthellae. Fatty acids analysis has been proved useful as biomarker in stress studies. Lipids also play key role in metabolism of gametogenesis and synchrony of coral spawning. Though fatty acids signature was reported useful for various studies, however, none of studies was done on fatty acids composition of Indonesian corals. The purpose of this study was to survey the lipid composition of Acropora humilis and A. hyacinthus collected from Sambangan and Cemara Kecil Island. Analysis was made of fatty acid composition using Gas Chromatography.  Results show fatty acid composition of two corals species was similar regardless of sampling location. Composition of fatty acids was dominated by palmitic acid ranging from (53-74%), followed by stearic acid (10,2-19,92%) and oleic acid (4,8-8,75%) in both species. However, the order of dominancy of the next fatty acid is depend on coral species. Indeed, fatty acid signature was reported to be useful for chemotaxonomy of corals species. The data also useful as data base of lipid composition at normal condition, since bleaching was reported to occur repeatedly from the sampling locations. Key words: Scleractinian, fatty acids, coral physiology, Acropora

Skrining Kandidat Bakteri Probiotik dari Saluran Pencernaan Ikan Kerapu Berdasarkan Aktivitas Antibakteri dan Produksi Enzim Proteolitik Ekstraseluler

ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 16, No 1 (2011): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1590.993 KB)

Abstract

Strategi penyehatan ikan secara terpadu merupakan salah satu upaya yang paling efektif dalam pengendalian penyakit serta perlindungan lingkungan pada budidaya akuatik.  Pengembangan probiotik menduduki peran fungsional yang penting bersamaan dengan pengembangan vaksin dan immunostimulan. Penelitian ini bertujuan untuk menseleksi bakteri probiotik yang akan dikembangkan sebagai materi dasar untuk mengkonstruksi konsorsium probiotik dengan target fungsional di saluran pencernaan ikan kerapu. Salah satu kriteria seleksi ditetapkan berdasarkan desain konstruksi konsorsium gut probiotik yaitu kemampuan menghasilkan senyawa antibakteri terhadap bakteri pathogen dan kemampuan menghasilkan enzim pencernaan diantaranya adalah enzim proteolitik ekstraseluler. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksplorasi dan eksperiment laboratoris. Ikan kerapu macan secara aseptic diambil saluran pencernaannya, kemudian dihancurkan menggunakan mortar. Penanaman bakteri dilakukan dengan metode pour-plate pada medium nutrient agar. Deteksi aktivitas antibakteria dilakukan dengan metode difusi agar menggunakan paper disk sedangkan deteksi produksi enzim proteolitik ekstraseluler dilakukan dengan metode tusukan pada media yang diperkaya dengan skim milk. Hasil seleksi berdasarkan kriteria seleksi yang telah ditetapkan diperoleh 8 isolat bakteri potensial untuk dapat dikembangkan sebagai konsorsium probiotik. Ke 8 isolat ini mempunyai kemampuan untuk  menghasilkan senyawa antibakteri yang aktif terhadap 4 jenis vibrio (V. parahaemolyticus, V. vulnivicus, V. harveyii, dan V.anguilarum) serta menghasilkan enzim proteolitik ekstraseluler yang diperlukan untuk mencerna senyawa yang bersifat protein yang merupakan komponen utama pakan ikanKata kunci: Probiotik, pengendalian penyakit, antibakteri, enzim proteolitik, saluran  pencernaan, ikan kerapu The strategy to healhty fish in an integrated manner is one of the efforts that is the most effective to environmentally friendly disease control. The development of probiotics occupied the functional role that is important along with the development of the vaccine and immunostimulant. This research aimed to select the candidates of probiotic bacteria that will be developed as basic material to construct the probiotic consortium with the functional target in the digestion tract  of the grouper fish. The one of selection criteria was appointed based on the construction of the gut probiotic consortium is the capacity to produce the antibacterial compound against the pathogen, and the capacity to produce proteolitic enzymes. The research was carried out with the exploration and experimenal laboratory methods The intestine was removed from the fish of the tiger grouper, afterwards was destroyed by mortar. The planting of the bacteria was carried out with the pour-plate method in nutrient agar medium. Antibacterial activity was detection by agar diffusion method using paper disk, while the detection capability to produce extracellular proteolitic enzymes was carried out by using enrichment media with skim milk. The Results of selection obtained eight bacterial isolates that can be developed potentially as the consortium of gut probiotic. The eight bacterial isolates were able to produce antibacterial compounds (that was active against  V. parahaemolyticus, V. vulnivicus, V. harveyii, and V.anguilarum) and extracellular proteolitic enzymes Key words: Probiotic, diseases control, antibacteria, proteolitic enzyme, gastrointestinal tract, grouper

Uji Bioaktivitas Ekstrak Batang Tumbuhan Benalu Mangrove (Cassytha filiformis) : II. Uji Anti Bakteri

ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 10, No 1 (2005): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (155.97 KB)

Abstract

Benalu adalah tumbuhan epifit parasit yang hidup menempel dan menghisap makanan dari tumbuhaninangnya. Sehingga benalu yang hidup pada tumbuhan mangrove mempunyai kemampuan khusus untuk beradaptasi terhadap senyawa-senyawa yang dibentuk oleh tumbuhan mangrove. Kondisi ini memungkinkan untuk ditemukannya jenis-jenis senyawa baru yang mempunyai potensi sebagai senyawa yang mempunyai nilai di bidang farmakologi dan agrokimia, diantaranya adalah anti bakteri Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pengujian secara kualitatif dan kuantitaif bioaktivitas antibakteri dari fraksi-fraksi ekstrak batang C. filiformis. Penelitian dilakukan dengan metode experimental. ekstraksi dan pemisahan menggunakan pelarutkloroform-metanol (20:1). Fraksi-fraksi yang diperleh diuji bioaktivitas antibaktri menggunakan metodepaper disk. Ada 5 variasi konsentrasi fraksi yang diuji yaitu 50 ug/disk, 10 ug/disk, 5 ug/disk, 1 ug/diskdan 0,5 ug/disk. Berdasarkan hasil uji bioaktivitas antibakteri dari ekstrak batang benalu mangrove (C.filiformis) dapat disimpulkan bahwa ekstrak C. filiformis mempunyai potensi sebagai sumber metabolit antibakteri. Dalam penelitian ini semua fraksi tidak menunjukan aktivitas antibakteri terhadap bakteri V. parahaemoliticus dan S. aereus. Aktivitas antibakteri ditunjukan oleh semua fraksi terhadap bakteri uji V. harveyi dan V. anguilarum. Sedangkan aktivitas anti bakteri terhadap E. coli hanya ditunjukan oleh fraksi 4 dan fraksi 5.Kata kunci: Antibakteri, ekstrak C filiformis, benalu mangroveMistletoe as arboreal parasitic plant, hold and absorb their nutrient from host. During nutrient absorption,all of metabolites (include secondary metabolites) which host producing will be absorbed too. For thatmistletoe must have capability to developing strategies to adapt. The one of adaptation strategies is creating bioactive compounds, and predicted that between bioactive compounds have antibacterialactivity. The aim of this research were to antibacterial test of C filiformis stem extract. C filiformis wasextracted in chloroform-methanol (20:1). The fractions were examined to antibacterial activity using paper disc method. There are 5 variation concentration, which tested, 50 ug/disc, 10 ug/disc, 5 ug/disc, 1 ug/disc and 0,5 ug/disc. The result showed that all of fractions of stem extract of C. filiformis were able to inhibit the growth of both V. harveyi dan V. anguilarum, but not toward V. parahaemoliticus and S. aereu,  while fraction 4 and fraction 5 were able to hold the growth of E. coli.Key words : Antibacteria, stem extracts of C filiformis, mangrove mistletoe

Uji Bioaktivitas Ekstrak Batang Tumbuhan Benalu Mangrove (C. filiformis) : I. Uji Antifungal

ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 9, No 4 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (158.142 KB)

Abstract

Benalu adalah tumbuhan epifit parasit yang hidup menempel dan menghisap makanan dari tumbuhan inangnya. Selama proses penyerapan makanan ini akan ikut pula semua senyawa yang dibentuk oleh mangrove sebagai alat pertahanan diri, maka tumbuhan benalu yang hidup pada tumbuhan mangrove juga mempunyai kemampuan khusus untuk beradaptasi terhadap senyawa-senyawa yang dibentuk oleh tumbuhan mangrove. Sehingga dimungkinkan untuk ditemukannya jenis-jenis senyawa baru yang mempunyai potensi anti fungi. Senyawa-senyawa aktif ini kemudian dapat dikembangkan lebih lanjut dalam rangka pengendalian penyakit baik bagi manusia maupun dalam bidang budidaya perikanan, peternakan maupun pertanian. Penelitian dilakukan dengan metode experimental. Ekstrak kasar diperoleh dengan metode masrasi menggunakan methanol sebagai pelarutnya. Sedangkan fraksinasi dilakukan dengan metode kromatografi kolom menggunakan methanol-chloroform (20:1) sebagai eluennya. Aktivitas antifungal diuji dengan metode paper disk. Ada 5 variasi konsentrasi fraksi yang diuji yaitu 50 ug/disk, 10 ug/disk, 5 ug/disk, 1 ug/disk dan 0,5 ug/disk. Hasil studi parasit-host menunjukan bahwa dilokasi penelitian (kawasan mangrove Teluk Awur-Jepara) C. filiformis terdapat sebagai parasit pada tumbuhan mangrove Lumnitzera sp dan Excoecoria aggaloca. Sedangkan hasil uji aktivitas antijamur menunjukan bahwa semua fraksi menunjukanaktivitas antijamur terhadap jamur Trichoderma hanya pada pengamatan 24 jam pertama. Aktivitas anti jamur terhadap Fusarium ditunjukan oleh semua fraksi, dan aktivitas terhadap Aspergillus ditunjukan olehfraksi fraksi 1 dan fraksi 5.Kata kunci : bioaktivitas, antifungal, extract batang, C filiformis, benalu mangroveMistletoe as arboreal parasitic plant, hold and absorb their nutrient from host. During nutrient absorption, all of metabolites (include secondary metabolites) which host producing will be absorbed too. For thatmistletoe must have capability to developing strategies to adapt. The one of adaptation strategies is creating bioactive compounds, and predicted that between bioactive compounds have antifungal activity.Extraction and fractination of stem of C. filiformis, and testing of its antifungal activity were done. Stem of C. filiformis was extracted in methanol. Crude extract was fractionated chromatograhically using methanolchloroform (20:1) as eluent. Antifungal was tested using agar disc-diffusion methods. There are 5 variation concentration, which tested, 50 ug/disc, 10 ug/disc, 5 ug/disc, 1 ug/disc and 0,5 ug/disc. Theresult showed that C. filiformis found as parasite on Lumnitzera sp and Excoecoria aggaloca. Antifungal test toward C. filiformis fractions showed that Fusarium and Trichoderma were inhibited by all of fractionswhile Aspergillus was inhibited only by fraction 1 and fraction 5.Key words : bioactivity, antifungal, stem extract, C. filiformis, misletoe

Analisis Regresi Poisson untuk Menduga Hubungan Kelimpahan Makrobenthos dengan Parameter Kualitas Perairan

ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 9, No 4 (2004): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.218 KB)

Abstract

Fungsi peluang poisson merupakan standar model untuk variabel cacah. Sebagai contoh banyaknya makrobenthos dan faktor-faktor oseanografi yang mempengaruhinya dapat didekati dengan model regresipoisson. Model regresi poisson dapat diduga menggunakan fungsi GLM (generalized linear models) dari program S-PLUS. Faktor-faktor oseanografi yang berpengaruh terhadap jumlah makrobenthos adalah salinitas, kecerahan, kecepatan arus, DO dan suhu.Kata kunci : peluang poisson, variabel cacah, makrobenthosThe poisson probability provides the standard models for count variable. As an example, the number of makrobenthos and oceanograpy factors could be approach a poisson regression model. The poissonregression can be fitted using the function GLM, which fits Generailized Linear Models in S-PLUS program. Oceanography factors as having an effect on the number of makrobenthos are salinity, kecerahan, kecepatanarus,DO dan suhu.Key words : poisson probability, count variable, makrobenthos

Effects Of pH, Temperature And Salinity In Growth And Organic Acid Production Of Lactic Acid Bacteria Isolated From Penaeid Shrimp Intestine

ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 20, No 4 (2015): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bakteri asam laktat telah lama dikembangkan sebagai probiotik. Penentuan kondisi lingkungan yang optimum untuk pertumbuhan sel serta asam organik memberikan gambaran aktivitas optimum untuk kinerja probiotik baik dalam sistem fisiologi inang maupun dalam sistem bioproses untuk produksi sel dan metabolit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh faktor lingkungan (pH, suhu dan salinitas) terhadap pertumbuhan dan produksi total asam organik tiga isolat bakteri asam laktat yang telah diseleksi dari intestinum udang penaeid. Eksperimen menggunakan  medium deMan, Rogosa and Sharpe (MRS) cair. Perlakuan pH awal meliputi  nilai pH 4, 5 dan 6. Perlakuan suhu meliputi suhu 25, 30 dan 35OC serta perlakuan salinitas  meliputi salinitas 0,75 %, 1,5 % dan 3 %.  Setiap interval 6 jam dilakukan pengambilan sampel kultur bakteri dan penghitungan pertumbuhan berdasarkan perubahan optical density (pada panjang gelombang 600 nm) sedangkan produksi asam laktat dianalisis dengan metode titrimetrik menggunakan NaOH 1 N sebagai larutan titrasinya. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa suhu, pH awal dan salinitas berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi asam organik. Nilai kondisi lingkungan terbaik untuk pertumbuhan dapat berbeda dengan nilai terbaik untuk produksi asam organic. Hal ini ditunjukan oleh nilai laju pertumbuhan dan produksi asam laktat tertinggi dari tiga isolat uji terjadi pada suhu, pH awal dan salinitas yang berbeda.  Isolat L12 tumbuh optimum pada suhu 30oC, pH awal 6 dan salinitas 0,75%. Isolat L14 tumbuh optimum pada suhu 30oC, pH awal 6 dan salinitas 1.5%. Isolat L 21 tumbuh optimum pada suhu 30 oC, pH awal 6 dan salinitas 1.5%. Kata kunci: bakteri asam laktat, suhu, pH, salinitas, asamorganik, pertumbuhan, Lactic acid bacteria are widely distributed in intestinal tracts of various animals where they live as normal flora.Strains of lactic acid bacteria are the most common microbes employed as probiotics, The optimum condition for growth are important to mass production and to determined parameters most suitable for growth. The effects of  temperature, pH and salinity on the growth and production of lactic acid from the three shrimp intestinal lactic acid bacteria isolates were conducted using bacth culture in a flask. These variables for growth were determined based on the growth curves and lactic acid production. Data from the flask batch experiment demonstrated that the best initial pH and temperature  for growth of isolat L12 ,L14 and L21 were found to be pH 6 and 30 OC.  Salinity (NaCl concentration) 0,75% were the best for growth of isolat L12. Salnity  1,5 % were best for growth of isolat L14 and L21. Key words : growth, temperature, pH, salinity, lactic aid bacteria

Uji Penggunaan Bacillus sp. sebagai Kandidat Probiotik Untuk Pemeliharaan Rajungan (Portunus sp.)

Journal of Marine Research Vol 2, No 1 (2013): Journal of Marine Research
Publisher : Journal of Marine Research

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Blue crab is one of the economically marine commodities and have high potential export. During this blue crab requirement derived from nature catches because in blue crab aquaculture not yet good branch out. To low survival rate of blue crab caused by bacterium vibrio disease, in addition to the content of nitrogen and phosphate can also affect the blue crab medium. This research as a purpose to test the effect of probiotic bacillus aplication to water quality and the total number of bacteria in the blue crab medium. the research was conducted with 2 stages, that is isolation and selection bacillus bacteria stages as probiotic and testing phase the effect of probiotic bacillus on water quality and the total number of bacteria. The result showed that probiotic bacillus with density 106 cfu/ml to reduce the content of ammonia (NH3), nitrite (NO2) and the total number of bacteria. While probiotics with density 105 cfu/ml to reduce the total number of bacteria in the blue crab medium, but have not been able to reduce the content of ammonia (NH3) and nitrite (NO2).