Articles

Found 38 Documents
Search
Journal : Indonesia Medicus Veterinus

Pemberian Tylosin dan Gentamisin Menurunkan Angka Lempeng Total Bakteri Daging Broiler Betina WULANDARI, LULUK; ARDANA, IDA BAGUS KOMANG; SUADA, I KETUT
Indonesia Medicus Veterinus Vol 1 (2) 2012
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian kombinasi tylosin dan gentamsin terhadap Angka Lempeng Total Bakteri dan pH dalam daging broiler betina. Sampel menggunakan broiler betina sebanyak 24 ekor yang dibagi menjadi 4 kelompok, masing-masing kelompok telah dihomogenkan dan diberikan perlakuan yang berbeda. Perlakuan kontrol (P0) diberikan placebo berupa aquabidest 0,1 ml/kg bb, perlakuan pertama (P1) diberikan kombinasi tylosin 10 mg dan gentamisin 10 mg, perlakuan kedua (P2) diberikan kombinasi tylosin 20 mg dan gentamisin 20 mg, perlakuan ketiga (P3) diberikan kombinasi tylosin 30 mg dan gentamisin 30 mg. Sampel daging yang diambil pada bagian dada untuk dilakukan Uji Angka Lempeng Total Bakteri dan pengukuran pH. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kombinasi antibiotik tylosin dan gentamisin berpengaruh nyata (P < 0,05), terhadap Angka Lempeng Total Bakteri pada daging broiler betina dan tidak berpengaruh nyata (P > 0,05) pada pH daging broiler betina.
Kualitas Telur Ayam Konsumsi yang Dibersihkan dan Tanpa Dibersihkan Selama Penyimpanan Suhu Kamar FIBRIANTI, SISKA MAHARGIAN; SUADA, I KETUT; RUDYANTO, MAS DJOKO
Indonesia Medicus Veterinus Vol 1 (3) 2012
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lama penyimpanan menentukan kualitas telur. Semakin lama disimpan, kualitas dan kesegaran telur semakin merosot. Pedagang sebelum menjual telur biasanya mereka membersihkan kulitnya supaya terlihat lebih menarik dan bersih padahal pencucian telur malah mempercepat penurunan kualitas telur karena pada saat telur dibersihkan pori-pori kulit telur terbuka dan terdapat selaput kutikula yang melapisi kulit telur ikut hilang. Akibatnya karena tidak adanya selaput kutikula maka mikroorganisme masuk dengan mudahnya ke dalam telur. Media yang biasa dipakai oleh pedagang untuk membersihkan telur ayam konsumsi adalah dengan air. Padahal dalam kandungan air yang tidak bersih banyak terdapat mikroorganisme yang dapat menyebabkan cemaran pada telur. Penelitian ini dilakukan dengan memeriksa telur sebanyak 72 butir masing-masing 36 butir telur dibersihkan dengan air kran dan 36 butir telur dibiarkan dalam keadaan tanpa dibersihkan. Penelitian dilakukan sebanyak enam kali ulangan selama hari ke-0 sampai ke-25. Hasil penelitian menunjukkan bahwa telur ayam konsumsi yang dibersihkan dan tanpa dibersihkan berpengaruh sangat nyata (p<0,01) terhadap nilai IPT, IKT dan HU. Selain itu lama penyimpanan pada suhu kamar dari telur ayam konsumsi yang dibersihkan dan tanpa dibersihkan berpengaruh sangat nyata (p<0.01) terhadap nilai IPT, IKT dan HU. Terdapat interaksi yang sangat nyata (p<0.01) antara perlakuan telur yang dibersihkan dan tanpa dibersihkan dengan lama penyimpanan terhadap nilai IPT, IKT dan HU. Pada telur ayam konsumsi yang dibersihkan mempunyai nilai IPT, IKT dan HU lebih rendah daripada telur ayam konsumsi tanpa dibersihkan selama penyimpanan suhu kamar.
Kualitas Telur dan Pengetahuan Masyarakat Tentang Penanganan Telur di Tingkat Rumah Tangga Indrawan, I Gede; Sukada, I Made; Suada, I Ketut
Indonesia Medicus Veterinus Vol 1 (5) 2012
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telur merupakan bahan pangan sempurna, karena mengandung zat gizi yang dibutuhkan untuk makhluk hidup seperti protein, lemak, vitamin dan mineral dalam jumlah cukup. Di masyarakat telur dapat disiapkan dalam berbagai bentuk olahan, harganya relatif murah, sangat mudah diperoleh dan selalu tersedia setiap saat. Ketersediaan telur yang selalu ada dan mudah diperoleh ini, harus diimbangi dengan pengetahuan masyarakat tentang penanganan telur, yang bertujuan untuk memperlambat penurunan kualitas atau kerusakan telur. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kualitas telur ayam konsumsi, di Banjar Gambang Desa Mengwi, Badung. Mengetahuai tingkat pengetahuan dan kepedulian masyarakat dalam penangangan telur konsumsi, di Banjar Gambang, Desa Mengwi, Badung, serta hubungannya terhadap kualitas telur. Penelitian ini dilakukan dengan metode pengujian terhadap Indeks Kuning Telur (IKT), Indeks Putih Telur (IPT), dan Haugh Unit serta memberikan kuisioner kepada setiap kepala keluarga, sebagai perwakilan diambil 30% dari jumlah kepala keluarga di Banjar Gambang secara acak, kemudian di analisis secara deskriptif, kemudian dicari persentase kualitas telur yang baik dan pengetahuan pengetahuan penanganan telur dengan uji Chi Square, selanjutnya ditampilkan dalam tabel 2x2. Dari Penelitian ini diperoleh hasil sebagai berikut : rata-rata Ideks Putih Telur 0,0250, rata-rata Indeks Kuning Telur 0,338, dan rata-rata nilai Haugh Unit 49,81. Serta hasil dari kuisioner diperoleh masyarakat yang berpengetahuan positif 49 Kepala Keluarga, berpengetahuan negatif 4 kepala keluarga. Kesimpulan dari penelitian ini adalah kualitas telur di Banjar Gambang, Desa Mengwi, Badung digolongkan kualitas B, sehingga telur masih layak untuk dikonsumsi, pengetahuan penanganan telur tidak berhubungan dengan kualitas telur. Saran yang dapat diberikan dalam penelitian ini adalah perlu dilakukan penelitian-penelitian terkait dengan hubungan pengetahuan terhadap kualitas telur pada jangkauan wilayah yang lebih luas dan jumlah sampel yang lebih banyak, sehingga dapat diperoleh data yang lebih representative.
PENGASINAN MEMPENGARUHI KUALITAS TELUR ITIK MOJOSARI KUSUMAWATI, ELIYA; RUDYANTO, MAS DJOKO; SUADA, I KETUT
Indonesia Medicus Veterinus Vol 1 (5) 2012
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengasinan dan lama penyimpanan terhadap kualitas telur itik ditinjau dari Indeks Putih Telur (IPT), Indeks Kuning Telur (IKT), Haugh Unit (HU) dan warna kuning telur dan untuk mengetahui interaksi antara pengasinan dan lama penyimpanan terhadap kualitas telur itik ditinjau dari Indeks Putih Telur (IPT), Indeks Kuning Telur (IKT), Haugh Unit (HU) dan warna kuning telur. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial 2 x 4 x 5, dengan 2 faktor perlakuan yaitu faktor pertama meliputi telur itik segar dan telur itik asin. Sedangkan faktor kedua yaitu jangka waktu pengamatan yang dimulai dari hari ke-1, ke-8, ke-15 sampai hari ke-22 (4 kali pengamatan). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah telur itik segar dan telur itik asin. Variabel terikatnya adalah IPT, IKT, HU dan warna kuning telur. Variabel kendali/kontrol adalah asal telur dan suhu penyimpanan. Setiap kombinasi perlakuan diulang sebanyak 5 kali. Data yang terkumpul dianalisis dengan sidik ragam dan apabila didapatkan hasil yang berbeda nyata maka dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan. Untuk warna kuning telur diuji dengan uji Kruskal-Wallis dan jika terdapat perbedaan yang signifikan dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rataan nilai IPT telur itik segar pada hari ke-1 (0.083). Kemudian menurun berturut-turut dari hari ke-8 (0.060), hari ke-15 (0.029), dan hari ke-22 (0.021). Sedangkan rataan nilai IPT telur itik asin pada hari ke-1 (0.094). Kemudian meningkat berturut-turut dari hari ke-8 (0.120), hari ke-15 (0.159), dan hari ke-22 (0.201). Rataan nilai IKT telur itik segar pada hari ke-1 (0.374). Kemudian menurun berturut-turut dari hari ke-8 (0.253), hari ke-15 (0.083), dan hari ke-22 (0.045). Sedangkan rataan nilai IKT telur itik asin pada hari ke-1 (0.455). Kemudian meningkat berturut-turut dari hari ke-8 (0.837), hari ke-15 (0.954), dan hari ke-22 (1.019). Rataan nilai HU telur itik segar pada hari ke-1 (65.162). Kemudian menurun berturut-turut dari hari ke-8 (54.998), hari ke-15 (21.008), dan hari ke-22 (6.060). Sedangkan rataan nilai HU telur itik asin pada hari ke-1 (69.540). Kemudian meningkat berturut-turut dari hari ke-8 (73.975), hari ke-15 (80.602), dan hari ke-22 (86.398). Untuk warna kuning telur itik segar, warnanya semakin menurun yaitu pada hari ke-1 dengan skor 3 dan pada hari ke-22 dengan skor 1. Sedangkan pada telur itik asin, warnanya semakin meningkat yaitu pada hari ke-1 dengan skor 5 dan pada hari ke-22 dengan skor 12.
PENGETAHUAN PEDAGANG TRADISIONAL DALAM PENANGANAN TELUR AYAM Satya Sumitra, Pande Made; Sukada, I Made; Suada, I Ketut
Indonesia Medicus Veterinus Vol 1 (5) 2012
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengetahuan penanganan telur di beberapa warung tradisional tidaklah sama, hal ini dikarenakan pengetahuan, tingkat pendidikan, serta kepedulian pedagang di setiap warung berbeda-beda. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kualitas telur, tingkat pengetahuan pedagang terhadap penanganan telur di lingkungan Dukuh Sari Sesetan serta mengetahui sejauh mana hubungan pengetahuan terhadap kualitas telur. Penelitian ini dilakukan dengan metode pengujian terhadap Indeks Kuning Telur (IKT), Indeks Putih Telur (IPT), dan Haugh Unit (HU), sedangkan untuk pengetahuan mengenai penanganan telur digunakan cara menyebarkan kuisioner ke pedagang di 28 warung tradisional. Hasil data lalu di analisa secara deskiptif. Sebagai sampel dari penelitian ini, pada 28 warung tradisional diambil masing-masing 2 butir telur.Hasil penelitian ini menunjukkan rata-rata Indeks Kuning Telur (IKT) 0,339, rata-rata Indeks Putih Telur (IPT) 0,0377 dan rata-rata nilai Haugh Unit (HU) 55,978. Serta hasil dari kuisioner diperoleh pedagang dengan pengetahuan positif 23 pedagang, dan yang negatif 5 pedagang. Kemudian hasil tabel 2x2 yang terlihat bahwa, pengetahuan dan kualitas telur memperlihatkan adanya hubungan, tetapi hubungannya tidak terlihat terlalu signifikan dan ini menunjukkan bahwa pengetahuan bukan satu-satunya yang mendukung nilai kualitas telur. Pengetahuan pedagang di lingkungan Dukuh Sari Sesetan dapat dikatakan baik dan cukup mengerti apa yang menjadi point-point penting dalam hal menangani telur walaupun tidak sepenuhnya dilakukan. Dilihat dari hasil pemeriksaan secara subjektif dan objektif yang baik, maka ini membuktikan telur ayam konsumsi yang dijual pada 28 warung tradisional yang berada di lingkungan Dukuh Sari Sesetan layak dikonsumsi oleh masyarakat. Hendaknya masyarakat mulai meyakini media atau keterpaparan informasi tentang cara penanganan telur ayam konsumsi yang baik, yang nantinya dapat dipelajari dan diyakini sehingga akan mengubah prilaku masyarakat dalam penanganan telur menjadi yang lebih baik, agar mendapatkan hasil yang lebih baik pula.
KONTAMINASI BAKTERI Escherichia coli PADA DAGING SE’I SAPI YANG DIPASARKAN DI KOTA KUPANG ABADI BONTONG, REZKI; SUADA, I KETUT; MAHATMI, HAPSARI
Indonesia Medicus Veterinus Vol 1 (5) 2012
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian untuk mengetahui kontaminasi bakteri Escherichia coli pada daging se’i sapi yang dipasarkan di kota Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), diambil dari lima tempat pembuatan daging se’i sapi secara tradisional yang tersebar di kelurahan Naikoten, Bello, Cikumana, dan telah dilakukan pada bulan April di Laboratorium Mikrobiologi Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana. Daging se’i sapi merupakan daging asap khas Kupang yang diasapi menggunakan kayu kosambi (Schleichera oleasa, Merr). Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu metode Most Probable Number (MPN). Pertama-tama dilakukan uji penduga Coliform dengan menggunakan kombinasi tabung seri sembilan dengan media Briliant Green Lactosa Bile (BGLB). Hasil uji penduga Coliform yang positif, selanjutnya dilakukan uji penegasan Escherichia coli pada media Eosin Methylene Blue Agar (EMBA). Hasil uji penegasan Escherichia coli yang positif kemudian dicocokkan dengan uji penduga Coliform yang positif, selanjutnya dicocokan dengan tabel MPN seri 9. Untuk mendapatkan nilai MPN Escherichia coli yaitu; nilai MPN x 1 /pengenceran tabung yang ditengah. Hasil penelitian kontaminasi bakteri Escherichia coli pada lima produsen daging se’i sapi yang dipasarkan di Kota Kupang yaitu: Aldia 1100 MPN/gram, Naikoten (1) 28 MPN/gram, Naikoten (2) 28 MPN/gram, Naikoten (3) 6,2 MPN/gram, dan Tradisional Timor > 2400 MPN/gram. Jumlah kontaminasi bakteri Escherichia coli pada kelima produsen telah melampaui batas maksimun kontaminasi bakteri Escherichia coli yang diperbolehkan SNI pada daging asap yaitu < 3 MPN/gram.
Kualitas Daging Se’i Sapi di Kota Kupang Ditinjau dari Jumlah Bakteri Coliform dan Kadar Air HUTASOIT, KARTINI; SUADA, I KETUT; SUARJANA, I GUSTI KETUT
Indonesia Medicus Veterinus Vol 2 (3) 2013
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui berapa jumlah bakteri Coliform dan kadar air yang ada pada daging se’i sapi yang dibuat di Kota Madya Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang diambil dari lima tempat pembuatan daging se’i sapi secara tradisional yang terbesar di daerah Aldia, Naikoten dan Tradisional Timur. Daging se’i merupakan daging asap khas Kota Kupang dimana pengasapan menggunakan kayu kosambi. Asap yang dihasilkan dari pengasapan menggunakan kayu kosambi ini mengandung fenol, formaldehid sebagai preservatif dan asam organik sebagai antioksidan yang akan menghasilkan warna dan citarasa yang khas pada daging se’i sapi. Untuk menentukan jumlah bakteri Coliform pada daging se’i sapi digunakan metode Most Probable Number (MPN). Pengujian ini dilakukan suspensi 1:10 yaitu sampel ditimbang 10 gram dan selanjutnya digerus dan ditambahkan 90 ml NaCl fisiologis kemudian dilakukan pengenceran 10-1, 10-2, 10-3 yang dimasukkan ke dalam 9 ml Nacl fisiologis. Setiap tabung reaksi dimasukkan 10 ml BGLB dan setiap tabung diisi tabung Durham. Selanjutnya, diinkubasi selama 24 jam dengan suhu 37°C dan diamati. Jika terdapat gas atau keruh, dan media berubah menjadi warna kuning, maka diduga terdapat Coliform pada sampel. Masing - masing tabung yang menunjukkan hasil positif dapat dicocokkan dengan tabel MPN seri 9 tabung. Sedangkan untuk penghitungan kadar air dilakukan dengan menggunakan oven vakum, cawan beserta isinya dan tutup cawan dipanaskan pada suhu 1050C selama beberapa jam hingga beratnya konstan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah Coliform dan Kadar Air berturut-turut sebagai berikut (1) Aldia nilai 1100 MPN/gram dan kadar air 63,49% (2) Naikoten 1 nilai 210 MPN/gram dan kadar air 63,60% (3) Naikoten 2 nilai 210 MPN/gram dan kadar air 64,34% (4) Naikoten 3 nilai 240 MPN/gram dan kadar air 56,86% (5) Tradisional Timor-Cikumana nilai >2400 MPN/gram dan kadar air 55,55%. Dengan adanya kontaminasi bakteri Coliform pada produk se’i sapi, maka diperlukan pengolahan daging se’i sapi yang lebih baik berupa peningkatan sanitasi dan higiene tempat produksi dan pekerjanya.
Mutu Telur Asin Desa Kelayu Selong Lombok Timur yang Dibungkus dalam Abu Gosok Dan Tanah Liat SURAINIWATI, SURAINIWATI; RUDYANTO, MAS DJOKO; SUADA, I KETUT
Indonesia Medicus Veterinus Vol 2 (3) 2013
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengasinan dan lama penyimpanan serta perubahan yang terjadi selama proses pengasinan berlangsung sampel diambil dari desa kelayu kecamatan selong lombok timur. Dalam penelitian ini digunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial 2 x 4 x 5, dengan 2 faktor perlakuan yaitu faktor pertama meliputi telur itik segar dan telur itik yang dalam proses pengasinan. Faktor yang kedua yaitu jangka waktu pengamatan yang dimulai dari hari ke-3, ke-10, ke-17, sampai hari ke-24 (dengan 4 kali pengamatan). Variabel bebas dalam penelitian ini telur itik segar dan telur itik dalam proses pengasinan. Data yang terkumpul dianalisis dengan sidik ragam dan bila hasil yang diperoleh berbeda nyata maka dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rataan nilai Indeks Putih Telur (IPT), Indek Kuning Telur (IKT) dan Haugh Unit (HU), telur itik segar pada hari ke-3, ke-10, ke-17, sampai hari ke-24, mengalami penurunan, sedangkan pada telur asin mengalami peningkatan. Selama pengasinan kualitas telur itik asin lebih baik dibandingkan dengan telur itik segar yang berasal dari desa Kelayu Kecamatan Selong Lombok Timur, ditinjau dari IPT, IKT dan HU. Selama penyimpanan terjadi perbedaan jelas terlihat terhadap kualitas telur itik yang berasal dari desa Kelayu Kecamatan Selong Lombok Timur ditinjau dari IPT, IKT dan HU. Terjadi interaksi selama pengasinan dan penyimpanan terhadap kualitas telur itik, ditinjau dari IPT, IKT, dan HU.
Kualitas Daging Se’i Babi Di Kota Madya Kupang Ditinjau Dari Total Coliform Dan pH SIMAMORA, ANITA KAROLINA; SUADA, I KETUT; SUARJANA, I GUSTI KETUT
Indonesia Medicus Veterinus Vol 2 (3) 2013
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telah dilakukan penelitian untuk mengetahui total kontaminasi bakteri Coliform dan pH pada daging se’i babi yang dibuat di Kota Madya Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang diambil dari enam tempat pembuatan daging se’i babi secara tradisional yang terbesar di kelurahan Oebufu, Oebobo dan Baun. Se’i merupakan daging asap khas Kota Kupang. Pengasapan daging se’i babi menggunakan kayu kosambi dimana kayu kosambi mengandung fenol, formaldehid sebagai preservatif dan asam organik sebagai antioksidan yang akan menghasilkan warna dan citarasa yang khas pada daging se’i babi. Untuk menentukan kualitas bakteri Coliform pada daging se’i babi digunakan metode Most Probable Number (MPN). Terlebih dahulu dibuat suspensi 1:10 yaitu sampel ditimbang 10 gram dan selanjutnya digerus dan ditambahkan 90 ml NaCl fisiologis kemudian dilakukan pengenceran 10-1, 10-2, 10-3 yang dimasukkan ke dalam 9 ml Nacl fisiologis. Langkah selanjutnya dilakukan uji pembiakan coliform dengan menggunakan seri sembilan tabung. Setiap tabung reaksi dimasukkan 10 ml BGLB cair dan setiap tabung dimasukkan tabung Durham dengan posisi terbalik. Selanjutnya masukkan 1 ml sampel ke dalam 9 tabung dari pengenceran 10-1, 10-2, 10-3, diinkubasi selama 24 jam dengan suhu 37°C dan diamati tertangkap atau tidaknya gas dalam tabung Durham. Jika terdapat gas atau keruh, maka diduga terdapat Coliform pada tabung. Masing - masing tabung yang menunjukkan hasil positif dapat dicocokkan dengan tabel MPN seri 9 tabung. Sedangkan untuk pengukuran pH daging se’i babi menggunakan kertas pH. Sebelumnya kertas pH dipersiapkan, kemudian daging se’i babi seberat 5 gram digerus atau dihancurkan menggunakan alat penggerus, dilarutkan dengan 5 ml aquades dan diaduk sampai homogen. pengukuran pH daging se’i babi dengan cara mencelupkan kertas pH ke dalam larutan sampel. Pembacaan nilai pH pada kertas pH dilakukan sebanyak dua kali pengulangan dan hasilnya dirata-ratakan. Hasil penelitian untuk setiap lokasi diperoleh sebagai berikut (1) Bambu Kuning-Oebobo nilai >2400 MPN mikroba /gram dan nilai pH 6 (2) Green Garden- Oebufu nilai 1100 MPN mikroba/gram dan nilai pH 6 (3) Baun nilai >2400 MPN mikroba/gram dan pH 6 (4) Petra-Oebufu nilai 7,2 MPN mikroba/gram dan nilai pH 6 (5) Pondok Sawah-Oebufu nilai 15 MPN mikroba/gram dan nilai pH 6 (6 )Aroma-Oebobo nilai >2400 MPN mikroba/gram dan nilai pH 6. Dengan melihat adanya kontaminasi bakteri Coliform pada produk se’i babi yang dibuat, maka diperlukan pengolahan daging se’i babi yang lebih baik berupa peningkatan sanitasi dan higiene tempat produksi dan pekerjanya. Dari hasil penelitian yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa keenam sampel daging se’i babi yang dipasarkan di enam tempat pembuatan daging se’i babi di Kota Madya Kupang tercemar bakteri Coliform dan memiliki pH 6.
Kualitas Telur Ayam Ras yang Mendapat Pelapisan Bubur Kulit Manggis dan Disimpan pada Suhu Ruang MANIK, AGUSTINA BORU; SUADA, I KETUT; RUDYANTO, MAS DJOKO
Indonesia Medicus Veterinus Vol 2 (4) 2013
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pelapisan bubur kulit manggis dan lama penyimpanan pada suhu ruang terhadap kualitas telur ayam ras ditinjau dari Indeks Putih Telur (IPT), Indeks Kuning Telur (IKT), dan Haugh Unit (HU), dan untuk mengetahui interaksi yan terjadi antara pelapisan dan lama penyimpanan terhadap kualitas telur ayam ras ditinjau dari IPT, IKT, dan HU.Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa bubur kulit manggis ( Garcinia mangostana L) berpengaruh terhadap kualitas telur ayam ras yang dilapisi, dimana terjadi peningkatan nilai IPT, IKT, dan HU dibandingkan dengan telur ayam ras yang tanpa pelapisan. Penyimpanan telur ayam ras pada suhu ruang berpengaruh terhadap nilai IPT, IKT, dan HU dimana semakin lama penyimpanan maka nilai IPT, IKT, dan HU semakin menurun selanjutnya akan terjadi kerusakan. Terdapat interaksi antara telur yang dilapisi dan tanpa dilapisi bubur kulit manggis dengan lama penyimpanan pada suhu ruang terhadap kualitas telur ayam ras ditinjau dari IPT, IKT, dan HU.
Co-Authors Adiartayasa, I Wayan AGUSTINA BORU MANIK Ahmat Fansidar Aletha Yuliana Mandala, Aletha Yuliana ANAK AGUNG NGURAH GEDE SUWASTIKA, ANAK AGUNG NGURAH GEDE Anastasia Cornelia Anggara Fajri Prasafitra ANITA KAROLINA SIMAMORA Arhiono, Haru Nira Putra Chandra Immanuel Saragih Christine Regina Fenita Wenno, Christine Regina Fenita Cita, I Putu Giri Wahyu Eka Dayana, Anak Agung Putri Isadela DELVIANA PANJAITAN Dwi Yoga Sutrisna Dyah Ayu Widiasih ELIYA KUSUMAWATI Elly Hariati Br Purba, Elly Hariati Br Emerensia Patryconsitha Aman EUSEBIO GOMES GEDE WIJANA Gracemon Loe Mau, Gracemon Hapsari Mahatmi HESTI YOHANA GINTING I Gede Indrawan I GEDE KETUT SUSRAMA I Gede Putu Wirawan I GEDE SUSRAMA I Gusti Ketut Suarjana I MADE AGUS WIARTANA I MADE SUDARMA I Made Sukada I NYOMAN RAI I Putu Sampurna I Wayan Batan I WAYAN EKA ADI WIRAWAN, I WAYAN EKA ADI I Wayan Suardana I WAYAN WIRAATMAJA I.B.N. Swacita, I.B.N. Ida Bagus Komang Ardana Ida Bagus Ngurah Ngurah Swacita, Ida Bagus Ngurah Ida Bagus Ngurah Swacita IRMA SELVYANA Br. SITEPU Julitha Dewitri Merthayasa, Julitha Dewitri Kadek Karang Agustina KARTINI HUTASOIT KETUT AYU YULIADHI Ketut Budiasa LELE, ONESIMUS KE Lely Anggriani Nababan LULUK WULANDARI MADE PHARMAWATI Made Sritamin Mardyawati, Ida Ayu Putu Aselya Maria Yasinta Manuama Mas Djoko Djoko MAS DJOKO RUDYANTO Maulina Nababan, Maulina Ni Made Puspawati NI MADE YUNITA HENDRIYANI NI PUTU LINDA SUNARIASIH NI WAYAN SUNITI NOER SYAIFUL HAKIM Nurul Masyita, Nurul Pande Made Satya Sumitra Paramita, Ni Made Diana Pradnya Praborini, M. PRADNYANA, I KADEK NGESTIKA Prima, Evy Purnama Layli, Purnama PUTU AYU MEITA YUDIA DEWI, PUTU AYU MEITA YUDIA Reny Navtalia Sinlae REZKI ABADI BONTONG Richard Stenly Tindjabate SANGGUL HUTASOIT Sembiring, Sonia Dewi Citra SHEILA SIMANJUNTAK SISKA MAHARGIAN FIBRIANTI SUGITA, PUTU SURAINIWATI SURAINIWATI Uli Rehlitna Sembiring, Uli Rehlitna Wilson Lois, Wilson Wisnu Pradana Yunita Sri Hastuti, Yunita Sri