Articles

Found 16 Documents
Search

KARAKTERISTIK RADIOFARMAKA 99mTc-GLUTATION Z., Nurlaila; Sriyani, Maula Eka
Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia Vol 13, No 1 (2012): Februari 2012
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

KARAKTERISTIK RADIOFARMAKA 99mTc-GLUTATION. Senyawa bertanda teknesium-99m-glutation (99mTc-GSH) merupakan radiofarmaka yang digunakan dalam bidang kedokteran nuklir untuk diagnosis kanker dengan metode pencitraan. Karakteristik fisiko-kimia dan biologis suatu radiofarmaka memegang peranan penting dalam penyebaran serta penimbunannya di dalam tubuh. Oleh karena itu, untuk menjamin keberhasilan penggunaan radiofarmaka perlu dilakukan pengujian sifat fisiko-kimia dan biologisnya. Pengujian kemurnian radiokimia dilakukan dengan kromatografi lapis tipis (TLC-SG) menggunakan aseton kering dan NaCL 0,9% sebagai fase gerak. Muatan 99mTc-GSH ditentukan dengan metode elektroforesis dan lipofilisitasnya (P) diketahui dengan menentukan koefisien partisinya dalam pelarut organik-air. Ikatan protein plasma ditentukan secara in-vitro dengan metode pengendapan menggunakan larutan asam trikloro asetat (TCA) 5%. Di samping itu, dilakukan juga pengujian pengaruh besarnya radioaktivitas 99mTc terhadap stabilitas 99mTc-GSH serta stabilitas di dalam plasma secara in-vitro. Dari hasil percobaan diperoleh bahwa radiofarmaka 99mTc-GSH mempunyai kemurnian radiokimia 99,08 ± 0,26%; tidak bermuatan listrik (netral); lipofilisitas = 0,03 ± 0,002; ikatan protein plasma sebesar 30,31 ± 0,04%. Penggunaan larutan Na99mTcO4 sampai mencapai konsentrasi radioaktivitas 21 mCi/2 mL menghasilkan radiofarmaka 99mTc-GSH yang tetap stabil hingga 5 jam dengan kemurnian radiokimia ≥ 95%. Uji stabilitas 99mTc-GSH dalam plasma secara in-vitro menunjukkan bahwa kemurnian radiokimia menurun dengan cepat pada penyimpanan satu jam pertama, yaitu sebesar 63,41± 4,86% dan kemurnian radiokimia antara 55 - 57 % bertahan hingga 5 jam penyimpanan. Kata kunci : karakteristik, radiofarmaka, 99mTc, glutation, kanker. ABSTRACT CHARACTERISTIC OF 99mTc-GLUTATHIONE RADIOPHARMACEUTICAL. Technetium-99m glutathione labelled compound is a radiopharmaceutical which is used in nuclear medicine for cancer diagnoses by imaging method. The distribution and accumulation of radiopharmaceutical in the body depend on its physicochemical and biological characteristic. Therefore, the determination of its characteristic was carried out in order to assure the succesful utilization of this radiopharmaceutical. The radiochemical purity was determined with thin layer chromatography (TLC-SG) using dried aceton  and 0.9% of NaCl solution as a mobile phases. The charge of 99mTc-GSH was tested by electrophoresis method and its lipophilicity (P) was obtained by determination of octanol-water partition. The plasma binding protein of this radiopharmaceutical was in-vitro investigated with precipitation method using 5% of trichloro acetic acid solution. Beside that, studies on the effect of 99mTc radioactivity to the stability of 99mTc-GSH and its stability in plasma has been in-vitro carried out. From the experiment it was obtained that 99mTc-GSH has 99.08 ± 0.26% of radiochemical purity; neutral (no charge); the lipophilicity (P) = 0.03 ± 0.002; the plasma binding protein of 30.31 ± 0.04%. Utilization of 99mTc radioactivity concentration up to 21 mCi/2 mL resulted 99mTc-GSH radiopharmaceutical which was remained stable up to 5 hours with ≥ 95% of radiochemical purity. In-vitro stability test of 99mTc-GSH in plasma indicated that in the first hour of storage, the radiochemical purity drastically decreased and until 5 hours of storage, its radiochemical purity did not change significantly, that was about 50%. Keywords: characteristic, radiopharmaceutical, 99mTc, glutathione, cancer.
OPTIMALISASI PENANDAAN 99mTc-DTPA-KETOKONAZOL SEBAGAI RADIOFARMAKA UNTUK DETEKSI INFEKSI FUNGI Sriyani, Maula Eka; S, Slamet Ibrahim S2 Ibrahim; WS, Aang Hanafiah
Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia Vol 14, No 1 (2013): Februari 2013
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (115.943 KB)

Abstract

Kemiripan gejala yang timbul akibatpenyakit infeksi, baik oleh bakteri, fungi atau virus pada stadium awal, mengakibatkanpengobatan seringkali tidak tepat. Diagnosis yang tepat sasaran dapat menjadikan pengobatanlebih efektif dan memiliki tingkat kesembuhan yang maksimal. Pada penelitian ini dilakukanpengembangan diagnosis infeksi fungi berbasis drug-targeting relationship antara radiofarmaka99mTc-DTPA-ketokonazol sebagai radioperunut dan fungi yang terdapat di dalam tubuh sebagaitargetnya. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan sediaan radiofarmasi 99mTc-DTPAketokonazolmenggunakan teknik penandaan tidak langsung dengan ko-ligan atau bifunctionalagent sebagai penghubung antara radionuklida 99mTc dengan ketokonazol. Bifunctional agentyang digunakan dalam penelitian ini yaitu dietilen triamin pentaasetat (DTPA). Dari penelitian inidiperoleh kondisi optimal penandaan 99mTc-DTPA-ketokonazol, yaitu komposisi jumlahketokonazol 2 mg; DTPA 1,125 mg; SnCl2.2H2O 37,5 μg; pH 4,5 dan waktu inkubasi selama 5menit, sehingga diperoleh kemurnian radiokimia sebesar 97,77±0,33 %. Uji uptake in-vivo99mTc-DTPA-ketokonazol dilakukan terhadap Candida albicans yang diinfeksikan ke dalam pahakiri mencit. Hasil percobaan menunjukkan bahwa rasio organ terinfeksi dan tidak terinfeksi(T/NT) setelah 2 jam injeksi sebesar 3,16±0,04 (n=5). Dari hasil yang diperoleh, dapatdisimpulkan bahwa 99mTc-DTPA-ketokonazol berhasil dibuat dan memenuhi syarat sebagairadiofarmaka.
FORMULASI RADIOFARMAKA 99mTc-GLUTATION UNTUK DIAGNOSIS KANKER Z, Nurlaila; Sriyani, Maula Eka
Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia Vol 11, No 2 (2010): Agustus 2010
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (112.681 KB)

Abstract

Glutation (GSH) merupakan tripeptida alam yang memegang peranan penting dalam reaksidetoksifikasi, pelindung sel terhadap kerusakan akibat xenobiotic spektrum lebar. GSH dapatmembentuk kompleks khelat dengan ion-ion logam seperti teknesium-99m (99mTc), yang dalambidang kedokteran nuklir dapat digunakan untuk diagnosis kanker leher dan kepala. Gunamemenuhi kebutuhan senyawa bertanda 99mTc-glutation (99mTc-GSH) di dalam negeri, telahdilakukan penandaan GSH dengan radionuklida 99mTc dengan memvariasikan beberapaparameter. Penentuan efisiensi penandaan 99mTc-GSH dilakukan dengan melihat kemurnianradiokimianya yang ditentukan dengan kromatografi lapis tipis menggunakan TLC-SG dengan 2macam fase gerak, yaitu aseton kering dan larutan NaCl 0,9%. Kondisi penandaan optimaldicapai pada penggunaan 20 mg GSH; 0,3 mg SnCl2.2H2O; pH reaksi 7-7,5; dan pengocokanbeberapa saat pada temperatur kamar, memberikan efisiensi penandaan ± 98%. Total volumereaksi hingga 5 ml tidak memberikan pengaruh pada tingkat kemurnian hasil penandaan. Ujistabilitas menunjukkan bahwa 99mTc-GSH tetap stabil sampai 6 jam pada temperatur kamardengan kemurnian radiokimia 99,34 %.
KARAKTERISASI FISIKOKIMIA CTMP BERTANDA TEKNESIUM-99m SEBAGAI RADIOFARMAKA PENYIDIK KANKER TULANG Daruwati, Isti; Misyetti, Misyetti; Sriyani, Maula Eka
Widyariset Vol 12, No 1 (2009): Widyariset
Publisher : LIPI-Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (494.672 KB)

Abstract

Radiopharmaceutical for bone cancer seeking was developed in variable phosphonate compound labeled with technetium-99m, formally pyrophosphate and diphosphonate compound. Either pyrophosphate or diphosphonate still unsatisfied to use as radiopharmaceuticals for bone seeking agent because the high accumulation in lever, muscle and blood. CTMP have higher affinity than others. The Physicochemical characterization of 99"Tc-CTMP has been conducted. The characteristic of labeled compound have to fulfill the criteria as the good radiopharmaceutical. The characteristic such as radiochemical purity, electric charge, lipophilicity, plasma protein binding, and hydroxy apatite binding. The results showed that the radiochemical purity greater than 95% (96,83 % ± 1,35), have a negative electric charge, lipophilicity -2,61, plasma protein binding 31,90 % ± 3,3, hydroxyl apatite binding 76,6% at 3 hours. The value ofhidroxy apatite binding was high, it showed CTMP have indicated a great potential as radiopharmaceutical for bone cancer seeking. 
EVALUASI ASPEK FARMASETIK DAN AKTIVITAS ANTIBAKTERI SECARA IN-VITRO KIT DIAGNOSTIK 99mTc-KANAMYCIN Widyasari, Eva Maria; Sriyani, Maula Eka; Halimah, Iim; Wongso, Hendris; Wibawa, Teguh Hafiz Ambar; Iswahyudi, Iswahyudi; Sidik, Ahmad
GANENDRA Majalah IPTEK Nuklir Volume 18 Nomor 1 Januari 2015
Publisher : PSTA BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (423.402 KB) | DOI: 10.17146/gnd.2015.18.1.2786

Abstract

Angka kematian akibat infeksi dari tahun ke tahun terus meningkat. Berbagai usaha terus dilakukan guna menekan angka kematian yang ada, salah satu contohnya dengan pengembangan metode diagnostik berbasis nuklir. 99mTc-Kanamycin merupakan kit diagnostik potensial untuk dikembangkan menjadi senyawa bertanda yang dapat digunakan dalam mendiagnosis penyakit infeksi. Kanamycin adalah sebuah antibiotik berspektrum kerja luas yang telah lama digunakan dalam menekan pertumbuhan bakteri baik itu bakteri Gram positif maupun Gram negatif. Selain harus memenuhi standar sifat fisika dan kimia, 99mTc-Kanamycin juga harus melalui tahapan uji preklinis sebelum diuji cobakan pada manusia (uji klinis). Berbagai aspek farmasetik yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi uji sterilitas, uji pirogenitas dan uji toksisitas, serta uji aktivitas antibakteri. Dari penelitian ini didapatkan hasil bahwa sediaan 99mTc-kanamycin steril, bebas pirogen, tidak toksik dan daya hambat terhadap bakteri relatif sama dengan kanamycin tidak bertanda radioaktif. Uji uptake sediaan terhadap bakteri optimum pada waktu 24 jam inkubasi pada suhu 37oC. Hasil uji uptake maupun uji daya hambat terhadap bakteri menunjukkan bahwa 99mTc-kanamycin lebih aktif terhadap bakteri S. aureus dibandingkan terhadap E.coli.
BIOLOGICAL SAFETY EVALUATION OF 99mTc-DTPA-KETOCONAZOLE FOR DIAGNOSIS OF FUNGAL INFECTION Sriyani, Maula Eka; Wongso, Hendris; Widyasari, Eva Maria; Sugiharti, Rizky Juwita; Halimah, Iim; Iswahyudi, Iswahyudi; Sidik, Ahmad; Isabela, Epy; Nuraeni, Witri
Indonesian Journal of Physics and Nuclear Applications Vol 1 No 3 (2016)
Publisher : Fakultas Sains dan Matematika Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (786.579 KB) | DOI: 10.24246/ijpna.v1i3.138-144

Abstract

Infectious diseases have become one of the leading cause of mortality around the world, including in the Southeast Asia. One of the microbial that cause infection is fungi. Occasionally, deep-seated fungal infection is difficult to detect using conventional diagnosis methods and therefore leads to inaccurate detection. Our previous research was conducted in order to obtain the labeled compound of 99mTc-DTPA-Ketoconazole with a high radiochemical purity (98.40 ± 0.86%). Moreover, the in-vitro assays showed that 99mTc-DTPA-Ketoconazole can potentially bind to Candida albicans. On the other hand, in clinical routine use, diagnostic kit should be safe for the patients. Consequently, this research was conducted to determine the biological safety parameters of 99mTc-DTPA-Ketoconazole on the animal study, including single dose and acute toxicity test, sterility, and apirogenicity test. The results showed that both the single dose at 34.6 μCi and dose until 149 times of the single dose did not stimulate the toxic response to the animals. In addition, the sterility data revealed that there was no microbial growth after 7 days of incubation at 37°C as well as fungal growth after 14 days of incubation at 25°C. Furthermore, the apirogenicity test using rabbits revealed that there was no increase in temperature more than 0.6°C for each animal and not more than 1.5°C of total increase of temperature for all the animals. It is concluded that the 99mTc-DTPA-Ketoconazole is satisfy the requirements of biological safety of a radiopharmaceutical and therefore was acceptable for fungal detection in nuclear medicine.
Biological Safety Evaluation of 99mTc-DTPA-Ketoconazole for Diagnosis of Fungal Infection Sriyani, Maula Eka; Wongso, Hendris; Widyasari, Eva Maria; Sugiharti, Rizky Juwita; Halimah, Iim; Iswahyudi, Iswahyudi; Sidik, Ahmad; Isabela, Epy; Nuraeni, Witri
Indonesian Journal of Physics and Nuclear Applications Vol 2 No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Sains dan Matematika Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (363.153 KB) | DOI: 10.24246/ijpna.v2i1.1-8

Abstract

Infectious diseases have become one of the leading cause of mortality around the world, including in the Southeast Asia. One of the microbial that cause infection is fungi. Occasionally, deep-seated fungal infection is difficult to detect using conventional diagnosis methods and therefore leads to inaccurate detection. Our previous research was conducted in order to obtain the labeled compound of 99mTc-DTPA-Ketoconazole with a high radiochemical purity (98.40 ± 0.86%). Moreover, the in-vitro assays showed that 99mTc-DTPA-Ketoconazole can potentially bind to Candida albicans. On the other hand, in clinical routine use, diagnostic kit should be safe for the patients. Consequently, this research was conducted to determine the biological safety parameters of 99mTc-DTPA-Ketoconazole on the animal study, including single dose and acute toxicity test, sterility, and apirogenicity test. The results showed that both the single dose at 34.6 μCi and dose until 149 times of the single dose did not stimulate the toxic response to the animals. In addition, the sterility data revealed that there was no microbial growth after 7 days of incubation at 37°C as well as fungal growth after 14 days of incubation at 25°C. Furthermore, the apirogenicity test using rabbits revealed that there was no increase in temperature more than 0.6°C for each animal and not more than 1.5°C of total increase of temperature for all the animals. It is concluded that the 99mTc-DTPA-Ketoconazole is satisfy the requirements of biological safety of a radiopharmaceutical and therefore was acceptable for fungal detection in nuclear medicine.
Biological Evaluation of 99mTc-Kanamycin for Infection Imaging Widyasari, Eva Maria; Halimah, Iim; Sugiharti, Rizky Juwita; Sriyani, Maula Eka; Daruwati, Isti; Iswahyudi, Iswahyudi; Isabela, Epy; Nuraeni, Witri
Indonesian Journal of Physics and Nuclear Applications Vol 2 No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Sains dan Matematika Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (381.372 KB) | DOI: 10.24246/ijpna.v2i1.34-41

Abstract

Kanamycin antibiotic was radiolabeled successfully with radioisotope technetium-99m for the potential use as radiopharmaceuticals for infection imaging. 99mTc-kanamycin complexes was prepared 93 % radiochemical purities by direct labelling using 5 mg kanamycin and 30 µg SnCl2. The reaction occurred at alkaline condition (pH=9) and under room temperature for 30 min to achieve high radiochemical purity. Radiochemical purity and stability of 99mTc-kanamycin was determined by ascending paper chromatography using Whatman 3 paper as the stationary phase, and acetone as the mobile phase to separate the radiochemical impurities in the form of 99mTc-pertechnetate. While impurities in the form of 99mTc-reduced were separated using the stationary phase ITLC-SG and 0.5 N NaOH as mobile phase. This study aimed to determine biological characteristic of 99mTc-kanamycin radiopharmaceutical. In vitro cell studies showed that the change of kanamycin structure after labeling with technetium-99m did not give a specific influence to the potency of kanamycin as an antibiotic. In addition on uptake study, a significantly higher uptake of 99mTc-kanamycin with S. aureus than E. coli. Biodistribution of 99mTc-kanamycin complexes was studied on normal and infection mice at 15, 30, 60 and 120 min post-injections. The biodistribution of 99mTc-kanamycin in infection mice showed that the complex accumulated in the infection sites. These results show that 99mTc-Kanamycin radiopharmaceutical have a potential application for infection diagnosis.
KARAKTERISTIK FISIKOKIMIA SENYAWA BERTANDA 99mTc-KUERSETIN Widyasari, Eva Maria; Sriyani, Maula Eka; Daruwati, Isti; Halimah, Iim; Nuraeni, Witri
Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia Vol 20, No 1 (2019): Februari 2019
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (274.485 KB) | DOI: 10.17146/jstni.2019.1.1.4108

Abstract

Berkembangnya ilmu pengetahuan dan informasi di bidang kesehatan membuat masyarakat meyakini bahwa mengkonsumsi makanan yang kaya antioksidan penting untuk mencegah berbagai penyakit degeneratif seperti penyakit jantung dan kanker. Kuersetin merupakan senyawa flavonoid yang banyak ditemukan pada buah dan sayur yang memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat. Banyak penelitian yang telah membuktikan efektivitas kuersetin sebagai senyawa antikanker secara in-vitro, namun data pengujiannya secara in-vivo masih terbatas. 99mTc-kuersetin diharapkan dapat dijadikan radiotracer untuk mengetahui efektivitas senyawa kuersetin sebagai senyawa antikanker pada pengujian in-vivo menggunakan hewan percobaan. Namun sebelum dilakukan pengujian in-vivo untuk menjamin aplikasinya perlu dilakukan pengujian karakteristik fisiko-kimia sediaan 99mTc-kuersetin. Oleh karena itu tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik fisiko-kimia dari senyawa 99mTc-kuersetin. Hasil penelitian karakteristik fisiko-kimia 99mTc-kuersetin menunjukkan bahwa kemurnian radiokimia sediaan 99mTc-kuersetin adalah 98,94 ± 0,30%. Sediaan 99mTc-Kuersetin ini bermuatan netral, memiliki nilai lipofilisitas dengan log (P) = 0,62 ± 0,05 dan dapat berikatan kuat dengan plasma darah dengan persentase sebesar 95,06 ± 1,34%. Berdasarkan nilai lipofilisitas sebesar 0,62 ± 0,05 diharapkan senyawa ini akan mudah terdistribusi kedalam jaringan organ sehingga diharapkan akan efektif sebagai senyawa bertanda penyidik kanker.
EVALUASI SPESIFISITAS RADIOFARMAKA 99mTc-KETOKONAZOL PADA INFEKSI YANG DISEBABKAN OLEH Candida albicans, Staphylococcus aureus dan Escherichia coli Sugiharti, Rizky Juwita; Halimah, Iim; Mahendra, Isa; Sriyani, Maula Eka
Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia Vol 17, No 2 (2016): Agustus 2016
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (306.702 KB) | DOI: 10.17146/jstni.2016.17.2.2596

Abstract

EVALUASI SPESIFISITAS RADIOFARMAKA 99mTc-KETOKONAZOL PADA INFEKSI YANG DISEBABKAN OLEH Candida albicans, Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Penyakit infeksi masih menjadi masalah kesehatan utama dan penyebab kematian di seluruh dunia, terutama di negara berkembang. Diagnosis infeksi dengan metode pencitraan di kedokteran nuklir memerlukan sensitivitas dan spesifitas yang baik. 99mTc-ketokonazol adalah radiofarmaka antibiotik yang disintesis dengan menandai ketokonazol dengan radionuklida teknesium-99m. Radiofarmaka ini diharapkan dapat digunakan  untuk mendeteksi infeksi di kedokteran nuklir, sehingga 99mTc-ketokonazol harus selektif dapat terakumulasi di daerah infeksi. Oleh karena itu, pada penelitian ini dilakukan evaluasi spesifitas 99mTc-ketokonazol untuk mendeteksi infeksi yang disebabkan oleh beberapa mikroorganisme. Hasil uji biodistribusi 99mTc-ketokonazol menunjukkan akumulasi 99mTc-ketokonazol di paha yang diinfeksi pada 1 jam setelah injeksi dengan rasio target/non target (T/NT) sebesar 3,40 untuk Candida albicans; 1,93 untuk Staphylococcus aureus dan 2,81 untuk Escherichia coli. Studi ini menunjukkan bahwa 99mTc-ketokonazol adalah radiofarmaka yang menjanjikan untuk deteksi infeksi dengan cepat dan memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang baik.