Sriatun Sriatun
Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Published : 36 Documents
Articles

Found 36 Documents
Search

Pengaruh Penambahan Surfaktan Hexadecyltrimethyl-Ammonium (HDTMA) pada Zeolit Alam Terdealuminasi terhadap Kemampuan Mengadsorpsi Fenol Sriatun, Sriatun; Buntarto, Dimas; Darmawan, Adi
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 11, No 1 (2008): Volume 11 Issue 1 Year 2008
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB) | DOI: 10.14710/jksa.11.1.11-14

Abstract

Telah dilakukan modifikasi dengan menambahkan surfaktan hexadecyltrimethylammonium (HDTMA) terhadap zeolit alam terdealuminasi. Dealuminasi zeolit alam dilakukan dengan cara direndam dengan menggunakan HCl 6 M, dan dilanjutkan dengan NH4NO3 2 M masing-masing selama 4 jam yang kemudian dikalsinasi pada suhu 300 oC. Zeolit alam hasil dealuminasi selanjutnya ditambah dengan surfaktan HDTMA pada konsentrasi 0,125; 0,25; 0,5 dan 1,0 M dan dishaker selama 8 jam dengan kecepatan 150 rpm pada temperatur kamar. Karakterisasi terhadap zeolit terdealuminasi dan modifikasi HDTMA dilakukan dengan spektroskopi FTIR. Uji kemampuan adsorpsi zeolit termodifikasi HDTMA dilakukan terhadap fenol. Untuk mengetahui jumlah fenol yang teradsorp, maka konsentrasi fenol sebelum dan sesudah adsorpsi ditentukan dengan spektroskopi UV-Vis.Spektra FTIR menunjukkan bahwa zeolit alam setelah diberi perlakukan dengan HCl 6 M dan NH4NO3 2 M mengalami dealuminasi. Adanya dealuminasi ditunjukkan oleh pergeseran pita dari 1045,3 cm-1 ke 1076,2 cm-1. Sedangkan adanya HDTMA pada zeolit terdealuminasi ditunjukkan oleh serapan pada daerah 2923,9 cm-1 dan 2854,5 cm-1. Dari hasil analisis spektroskopi UV-Vis, diketahui konsentrasi fenol yang teradsorp maksimum pada ZAD3 (konsentrasi HDTMA 0,5 M) yaitu sebesar 239,724 mg/L.Kata kunci: surfaktan HDTMA, zeolit terdealuminasi, adsorpsi fenol
Elektrodekolorisasi Indigo Karmin Menggunakan Alumina dan Karbon Bekas Sriatun, Sriatun; Kuwatno, Kuwatno; Suhartana, Suhartana
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 10, No 3 (2007): Volume 10 Issue 3 Year 2007
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB) | DOI: 10.14710/jksa.10.3.61-66

Abstract

Dekolorisasi zat warna indigo karmin telah dilakukan dengan metode elektrolisis. Dalam metode ini telah diteliti pengaruh pH dan temperatur terhadap kemampuan dekolorisasi indigo karmin. Adanya elektrokoagulasi/elektroflokulasi disebabkan oleh kemampuan flok Al(OH)3 mengadsorb indigo karmin dan membentuk kompleks Al-indigo karmin. Flok Al(OH)3 dihasilkan oleh elektrolisis larutan dengan menggunakan alumunium bekas sebagai anoda dan karbon sisa baterai sebagai katoda. Elektrolisis dilakukan selama 150 menit dengan tegangan luar 12 Volt. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan dekorisasi terhadap indigo karmin oleh flok Al(OH)3 dipengaruhi oleh pH dan temperatur larutan. Kemampuan dekolorisasi minimum pada pH=6 dan akan meningkat pada kondisi basa dan asam. Persentase dekolorisasi maksimum pada temperatur ruang adalah 51,95% pada pH=14. Persentase dekolorisasi optimum adalah 98,33% pada temperatur 70oC pada pH=10.Kata kunci : elektrodekolorisasi, indigo karmin, alumunium
Pemanfaatan Surfaktan Kationik Hasil Sublasi sebagai Molekul Pengarah pada Pembuatan Material Berpori dari Sekam Padi Juni, Endah Wulan; Arnelli, Arnelli; Sriatun, Sriatun
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 15, No 1 (2012): Volume 15 Issue 1 Year 2012
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB) | DOI: 10.14710/jksa.15.1.24-28

Abstract

Penelitian pemanfaatan surfaktan kationik dari hasil sublasi sebagai molekul pengarah pada pembuatan material berpori dari sekam padi Telah dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh konsentrasi surfaktan dari hasil sublasi terhadap karakter material hasil sintesis. Proses sublasi dilakukan untuk memisahkan surfaktan kationik dari larutan dan menghasilkan surfaktan kationik dari golongan ammonium kuarterner dengan CMC (Konsentrasi Misel Kritis) 2,1 g/L. Surfaktan kationik divariasi konsentrasi yaitu di bawah CMC (M1) = 1 g/L, pada CMC (M2) = 2,1 g/L dan di atas CMC (M3) = 10,5 g/L. Hasil XRD menunjukkan bahwa hasil sintesis merupakan padatan kristal. Hasil BET menunjukkan luas permukaan, volume pori total dan radius pori dari masing-masing hasil sintesis berturut-turut adalah 7,18 m2/g; 4,21 x 10-3 cm3/g; 11,721 Å untuk M1; 9,81 m2/g; 5,66 x 10-3 cm3/g; 11,54 Å untuk M2 dan 9,06 m2/g; 5,07 x 10-3 cm3/g; 11,196 Å untuk M3. Konsentrasi surfaktan kationik pada CMC (M2) menghasilkan material berpori dengan luas permukaan dan volume pori paling tinggi relatif terhadap M1 dan M3. Komposisi mineral material hasil sintesis berupa campuran dari natrium silikat hidrat, aluminum hidrogen silikat, dan natrium hidrogen silikat hidrat. Material hasil sintesis adalah mesopori dengan diameter pori rata-rata 22 Å.
Modifikasi Zeolit Alam Menggunakan TiO2 sebagai Fotokatalis Zat Pewarna Indigo Carmine Ansori, Sofian; Sriatun, Sriatun; Pardoyo, Pardoyo
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 19, No 2 (2016): Volume 19 Issue 2 Year 2016
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB) | DOI: 10.14710/jksa.19.2.68-71

Abstract

Modifikasi zeolit alam menggunakan TiO2 sebagai fotokatalis zat pewarna indigo carmine telah dilakukan. Tujuan penelitian ini untuk memodifikasi permukaan zeolit alam dengan TiO2 dan menggunakannya sebagai fotokatalis, menentukan pH optimum untuk degradasi senyawa pewarna indigo carmine, dan mengetahui pengaruh waktu degradasi indigo carmine. Zeolit alam diaktifasi dan kemudian dibuat menjadi zeolit-H. Zeolit-H kemudian direaksikan dengan TiCl4 dilanjutkan dengan kalsinasi pada suhu 450°C sehingga terbentuk zeolit-TiO2. Zeolit-TiO2 ini selanjutnya digunakan untuk mendegradasi indigo carmine dengan variasi waktu dan pH larutan. Hasil XRD menunjukkan bahwa terbentuk TiO2 pada zeolit yang ditunjukkan dengan nilai 2θ 17,42°; 24,99°; dan 29,96°. Hasil FTIR menunjukkan adanya bilangan gelombang pada 316,3 cm-1 yang mengindikasikan adanya TiO2 pada permukaan zeolit. Hasil degradasi indigo carmine menunjukkan bahwa semakin lama waktu degradasi semakin banyak indigo carmine yang terdegradasi oleh zeolit-TiO2 dan semakin asam pH indigo carmine semakin besar degradasinya.
Dealuminasi Zeolit Alam Cipatujah Melalui Penambahan Asam dan Oksidator Sriatun, Sriatun; Darmawan, Adi
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 8, No 2 (2005): Volume 8 Issue 2 Year 2005
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB) | DOI: 10.14710/jksa.8.2.55-60

Abstract

Sampai saat ini zeolit tetap menjadi primadona sebagai bahan penapis molekuler atau adsorben. Umumnya zeolit alam perlu diberi perlakuan tertentu bila akan digunakan sebagai adsorben, karena rasio Si/Al rendah dan mengandung unsur-unsur pengotor yang harus diminimalkan pengaruhnya. Oleh karena itu perlu dilakukan dealuminasi. Salah satu metode dealuminasi adalah pengasaman dan untuk memaksimalkannya ditambah dengan oksidator KMnO4.Prosedur kerja penelitian ini meliputi dealuminasi zeolit alam Cipatujah menggunakan H2SO4 dan HCl serta ditambah dengan oksidator KMnO4. Selanjutnya dilakukan karakterisasi terhadap zeolit sebelum dan sesudah perlakuan dealuminasi menggunakan spektrofotometer inframerah (IR), difraktometer sinar-x (XRD) dan spektroskopi serapan atom (AAS).Dari hasil interpretasi terhadap data spektra inframerah maupun difraktogram XRD menunjukkan bahwa zeolit alam yang digunakan termasuk jenis mordenit. Dari data penentuan kadar unsur menggunakan AAS diperoleh hasil bahwa pada dealuminasi menggunakan H2SO4 dan KMnO4 mampu menaikkan rasio Si/Al dari 2,852 menjadi 11-12. sedangkan dengan menggunakan HCl rasio Si/Al naik menjadi 9,945.
Penggunaan Zeolit Alam Terdealuminasi Sebagai Adsorben Senyawa Aromatik Sriatun, Sriatun; Darmawan, Adi
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 10, No 1 (2007): Volume 10 Issue 1 Year 2007
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB) | DOI: 10.14710/jksa.10.1.12-17

Abstract

Sifat pembakaran bahan bakar sangat dipengaruhi oleh komponen senyawa yang terkandung didalamnya. Diketahui bahwa adanya senyawa hidrokarbon aromatik dapat memberikan asap yang berlebihan pada pembakaran. Tentu saja hal ini tidak menguntungkan karena menimbulkan polusi udara. Untuk mengurangi senyawa hidrokarbon aromatik dalam bahan bakar dapat menggunakan zeolit alam yang sudah didealuminasi karena zeolit mempunyai kelebihan dalam hal struktur, bentuk, ukuran rongga dan pori yang spesifik.Prosedur kerja dalam penelitian ini meliputi dealuminasi zeolit alam melalui pengasaman dengan HCl dan H2SO4 dan penambahan oksidator KMnO4.. Zeolit hasil dealuminasi digunakan untuk mengadsorpsi komponen hidrokarbon aromatik pada minyak bumi fraksi 200 – 300oC. Karakterisasi produk dilakukan dengan analisis titik anilinnya, kromatografi gas (GC) dan pemeriksaan warna.Hasil uji adsorpsi menunjukkan bahwa zeolit terdealuminasi mampu mengadsorp senyawa hidrokarbon aromatik tetapi tidak signifikan. Hal ini ditunjukkan oleh kenaikan titik anilin produk, perubahan kromatogram pada puncak-puncak tertentu dan warna produk lebih terang.
Pengaruh Penambahan Surfaktan pada Sintesis Zeolit Y Menggunakan Tetraethyl Orthosilicate (TEOS) sebagai Sumber Silika Nurlaela, Alfi; Sriatun, Sriatun; Pardoyo, Pardoyo
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 14, No 2 (2011): Volume 14 Issue 2 Year 2011
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB) | DOI: 10.14710/jksa.14.2.32-36

Abstract

Zeolit alam mempunyai ukuran pori yang beragam antara 3 Å hingga 8 Å, sehingga tidak efektif untuk mengadsorpsi senyawa yang berukuran besar. Zeolit sintetik (zeolit Y) dikembangkan untuk mengatasi kelemahan dari zeolit alam. Zeolit Y dapat disintesis dengan Tetraethyl orthosilicate (TEOS) sebagai sumber silika dan surfaktan sebagai pencetak pori. Surfaktan dapat mengarahkan struktur zeolit menjadi pori yang lebih besar. Penelitian ini bertujuan memperoleh zeolit Y sintetik dan mengkaji pengaruh surfaktan Cetyltrimethylammonium Bromide (CTAB) dan Trimethylammonium Chloride (TMACl) terhadap kristanilitas dan ukuran pori zeolit Y. Sintesis zeolit Y dilakukan dengan mencampurkan natrium aluminat, surfaktan dan TEOS. Perbandingan mol natrium aluminat:TEOS adalah 1:1 sedangkan konsentrasi surfaktan 1 M. Struktur dan kristalinitas zeolit Y dianalisis menggunakan FTIR (Fourier Transform Infra Red) dan XRD (X-Ray Diffraction). Sedangkan morfologi pori zeolit Y dianalisis menggunakan adsorpsi gas N2 dengan persamaan BET. Hasil karakterisasi XRD dan FTIR menunjukkan sampel MC (tanpa penambahan surfaktan) merupakan zeolit Y, sedangkan sampel MA (penambahan surfaktan CTAB) dan MB (penambahan surfaktan TMACl) merupakan campuran zeolit HS dan NAS. Sampel MC memiliki kristalinitas tertinggi sedangkan sampel MB paling rendah. Radius pori rata-rata sampel MA, MB dan MC berturut-turut adalah 13,770 Å; 14,029 Å dan 12,962 Å. Sehingga disimpulkan bawah penambahan surfaktan tidak berpengaruh signifikan terhadap ukuran pori.
Pemanfaatan Limbah Penyulingan Bunga Kenanga sebagai Kompos dan Pengaruh Penambahan Zeolit terhadap Ketersediaan Nitrogen Tanah Sriatun, Sriatun; Hartutik, Sri; Taslimah, Taslimah
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 12, No 1 (2009): Volume 12 Issue 1 Year 2009
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB) | DOI: 10.14710/jksa.12.1.17-22

Abstract

Penelitian tentang pemanfaatan limbah distilasi bunga kenanga sebagai kompos dan pengaruh penambahan zeolit terhadap ketersediaan nitrogen di dalam tanah telah dilakukan. Pembuatan kompos dilakukan dengan metode penumpukan. Dilakukan tiga variasi perlakuan terhadap penyulingan limbah kenanga, yaitu (1) ditambahkan oleh EM4, (2) ditambahkan oleh EM4 dan serbuk gergaji (3) tanpa penambahan (sebagai kontrol). Variabel fisik seperti suhu, bau dan warna divariasi pada saat proses pengomposan. Analisis kimia berupa rasio C/N dilakukan terhadap kompos yang telah matang. Setelah itu, kompos ditambahkan zeolit dengan variasi jumlah yaitu 2%, 4% dan 6% dari berat kompos, kemudian diberikan pada tanaman jagung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompos yang dibuat dari distilasi limbah bunga kenanga dan ditambah dengan EM4 yang mencapai suhu optimum pada suhu 39°C, siap dipanen setelah 21 hari dan memiliki rasio C/N sekitar 11,61. Sementara itu, kompos dengan penambahan EM4 dan serbuk gergaji dapat mencapai suhu optimum 45°C dan siap panen setelah 20 hari dan memiliki rasio C/N sekitar 43,81. Sedangkan kompos tanpa penambahan, suhu optimum tercapai pada suhu 37°C dan siap panen setelah 43 hari dengan rasio C/N sekitar 16,18. Penggunaan kompos yang ditambahkan zeolit pada tanaman jagung dapat meningkatkan laju nitrogen di tanah. Penambahan zeolit 2% meningkatkan nitrogen sebesar 0,96%, zeolit 4% equal to 1.90% and zeolite 6% equal to 3.31%.
Sintesis Zeolit A dan Kemungkinan Penggunaannya Sebagai Penukar Kation Sriatun, Sriatun
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 7, No 3 (2004): Volume 7 Issue 3 Year 2004
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB) | DOI: 10.14710/jksa.7.3.61-67

Abstract

Telah dilakukan sintesis zeolit A dengan menggunakan alumunium hidroksida sebagai sumber alumina dan silikon dioksida sebagai sumber silika. Sintesis dilakukan dengan cara mereaksikan natrium silikat dan na-trium aluminat melalui proses hidrotermal dalam sistem dengan pH 11-12. Karakterisasi produk sintesis dil-akukan dengan menggunakan spektrometer infra merah (IR) dan difraktometer sinar-x (XRD). Dari hasil analisis data IR diperoleh informasi bahwa rasio Si/Al dalam zeolit hasil sintesis adalah tinggi. Uji kualitas kristal (kristalinitas) menunjukkan adanya pergeseran sudut difraksi pada puncak-puncak khas zeolit A, ini mengindikasikan bahwa penataan polihedral sangkar sodalit belum seluruhnya sempurna. Kondisi pH optimum untuk pertukaran kation Ca2 terhadap zeolit hasil sintesis adalah 6.
Modifikasi Zeolit Alam dengan Ligan EDTA untuk Adsorpsi Ion Logam Pb2+ dan Cd2+ Sriatun, Sriatun; Manasikana, Oktaffi Arina; Darmawan, Adi
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 11, No 2 (2008): Volume 11 Issue 2 Year 2008
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB) | DOI: 10.14710/jksa.11.2.43-47

Abstract

Zeolit merupakan aluminosilikat dengan struktur kerangka tiga dimensi, memiliki rongga serta saluran yang saling berhubungan menyebabkan bagian permukaannya menjadi sangat luas. Luas permukaan dan pori zeolit sering dimanfaatkan untuk mengadsorp adsorbat. Dalam efektifitasnya sebagai adsorben, situs asam dan permukaan zeolit alam dapat dimodifikasi dengan ligan EDTA (etilendiamintetraasetat/ ethylenediaminetetraacetic acid). Dengan ligan EDTA diharapkan zeolit menjadi lebih selektif dalam mengadsopsi ion logam Pb2+. Pada penelitian ini zeolit alam (ZA) dimodifikasi dengan ligan EDTA pada variasi konsentrasi yaitu 0,20 M, 0,15 M, 0,10 M dan 0,05 M. Selanjutnya digunakan untuk mengadsorpsi ion logam Pb2+ dan Cd2+ dengan variasi: (i) ukuran partikel ZA 212 pm, 125 pm, dan 90 pm, (ii) rasio adsorbat/adsorben pada 20 mL/g, 30 mL/g, 40 mL/g dan 50 mL/g. Pada penelitian ini juga dilakukan perbandingan kemampuan adsorpsi ZA-EDTA terhadap ion Pb2+ dan Cd2+ dengan kemampuan adsorpsi ZA terhadap kompleks Pb-EDTA dan Cd-EDTA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa spektra FTIR ZA sebelum maupun sesudah modifikasi dengan ligan EDTA tidak menampakkan perbedaan yang signifikan. Namun demikian kemampuan ZA setelah modifikasi dengan ligan EDTA (ZA-EDTA) dalam mengadsorpsi logam lebih tinggi. Hasil uji adsorpsi terhadap ion Pb2+ dan Cd2+ menunjukkan bahwa adsorpsi tertinggi oleh ZA-EDTA dengan ukuran partikel ZA 212 pm, sedangkan rasio adsorbat/adsorben terbaik untuk ion Pb2+ adalah 30 mL/g dan untuk ion Cd2+ adalah 20 mL/g. Dari perbandingan yang telah dilakukan juga diketahui bahwa adsorpsi yang dilakukan oleh ZA-EDTA terhadap ion Pb2+ dan Cd2+ lebih baik daripada adsorpsi ZA terhadap kompleks Pb-EDTA dan Cd-EDTA.