Articles

Found 26 Documents
Search

Pengaruh Spiritual Emotional Freedom Technique ( SEFT) terhadap Tingkat Gejala Depresi, Kecemasan, dan Stres pada Pasien Sindrom Koroner Akut (SKA) Non Percutaneous Coronary Intervention (PCI)

Jurnal Keperawatan Padjadjaran Vol 1, No 1 (2013): Jurnal Keperawatan Padjadjaran
Publisher : Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (90.69 KB)

Abstract

Derison Marsinova Bakara1, Kusman Ibrahim2, Aat Sriati21Poltekkes Kemenkes Bengkulu, 2 Departemen Keperawatan Klinik, Fakultas Keperawatan, Universitas Padjadjaran AbstrakSindrom koroner akut (SKA) merupakan penyakit jantung penyebab kematian. Gejala depresi kecemasan, dan stres meningkat pada pasien SKA. Gejala ini dapat mempengaruhi proses pengobatan dan penyembuhan serta menimbulkan komplikasi. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan pengaruh SEFT terhadap penurunan gejala depresi, kecemasan, dan stres pada pasien SKA yang dirawat di ruang rawat intensif jantung. Rancangan penelitian menggunakan quasi experimental, tehnik pengambilan sampel dengan consecutive sampling, sebanyak 42 orang. Penetapan jumlah responden untuk kontrol dan kelompok intervensi menggunakan number ramdom trial, sehingga ditetapkan kelompok intervensi berjumlah 19 responden dan untuk kelompok kontrol berjumlah 23 responden. Kelompok intervensi dan kelompok kontrol diukur tingkat depresi, kecemasan, dan stres mengunakan kuesioner The Depression Anxiety Stress Scales 21(DASS 21) kemudian pada kelompok intervensi diberikan intervensi SEFT satu kali selama 15 menit dan diukur kembali tingkat depresi, kecemasan, dan stres pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Data dianalisis dengan Wilcoxon dan Mann Whitney. Hasil menunjukkan perbedaan yang bermakna antara tingkat depresi, kecemasan, dan stres sebelum dan sesudah intervensi SEFT antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol (p<0,05). Intervensi SEFT membantu menurunkan depresi, kecemasan, dan stres pada pasien SKA.Keterbatasan penelitian ini adalah kesulitan dalam pengendalian karakteristik responden sebagai variabel pengganggu. Manfaat penelitian ini bahwa intervensi SEFT dapat digunakan untuk menurunkan depresi, kecemasan, dan stres pada pasien SKA, dan dapat dipertimbangkan sebagai salah satu intervensi.Kata kunci: Depresi, intervensi SEFT, kecemasan, stres   Effect of Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) on the Level of Depresseion, Anxiety, and Stress symptoms  in Patients with Acute Coronary Syndrome (ACS) Non Percutaneous Coronary Intervention (PCI) Abstract Acute coronary syndrome(ACS) is acause ofheart disease deaths. Symptoms of depressio nanxiety,and stressis increased inpatients withACS. These symptoms may affect treatment and healing processand cause complications. This study aims to determine the effect ofinterventi on Spiritual Emotional FreedomTechnique (SEFT) to decrease depression, anxiety, andstressin patients with ACS who were treated in the cardiac intensive care unit. The research design was quasi-experimental, and using consequtive sampling as sampling technique,42 respondents were divided into intervention and control groups.. Determination the number of respondents for the control and intervention groups using a number ramdom trial, 19 respondents intervention group and 23 respondents the control group. Intervention group and  control group measure levels of depression, anxiety, and stress using questionnaires The Depression Anxiety Stress Scales 21 (DASS 21) later in the intervention group was given SEFT intervention once for 15 minutes and measured return rates of depression, anxiety, and stress in the intervention group and the control group. Data were analyzed with the Wilcoxon and Mann Whitney. Results show significant differences between levels of depression, anxiety, and stress before and after the intervention SEFT between the intervention group and the control group (p <0,05). SEFT interventions help reduce depression, anxiety, and stress in patients with ACS. Limitations of this study is the difficulty in controlling the characteristics of the respondents as a confounding variable.This research benefits that SEFT interventions can be used to reduce depression, anxiety, and stress in patients with ACS, and can be consider as one intervention.Key words: Anxiety, depression, stress, SEFT Intervention

GAMBARAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT KEBERHASILAN PENGAMBILAN DARAH PADA PENDONOR DARAH PEMULA DI PMI KOTA BANDUNG

Jurnal Keperawatan Padjadjaran Vol 13, No 2 (2011): Majalah Keperawatan Unpad
Publisher : Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (108.156 KB)

Abstract

Rini Aprianti*Aat Sriati**Rizki Muliani*** ABSTRAK Palang Merah Indonesia adalah suatu organisasi kepalangmerahan yang mana salah satu tugasnya adalah melaksanakan kegiatan donor darah. Kebutuhan akan darah tiap harinya di kota Bandung sekitar 300-400 labu darah. Sedangkan yang mendonorkan darahnya rata-rata perbulan sekitar 8000 pendonor darah belum dikurangi kegagalan pengambilan darah yamg masih diatas 1,5% perbulannya. Kegagalan yang terjadi kebanyakan pada pendonor darah pemula.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran faktor yang mempengaruhi tingkat keberhasilan pengambilan darah pada pendonor darah pemula di PMI Kota Bandung Tahun 2011. Pendonor darah pemula adalah orang-orang yang memberikan darah, plasma atau komponen lainnya yang pertama kali baik atas keinginan sendiri maupun atas permintaan anggota keluarga atau teman pasien yang membutuhkan tranfusi. Adapun syarat donor darah secara garis besar yaitu Keadaan umum dalam keadaan sehat, umur donor 17–60 tahun, Berat badan minimal 45 Kg, tanda-tanda vital dalam batas normal, haemoglobin minimal 12,5 g/dl, jarak penyumbangan darah minimal 70 hari, tidak sedang minum obat dan tidak punya penyakit yang berat. Jenis penelitian menggunakan desain penelitian deskriptif dengan sampel kasus berjumlah 100 pendonor pemula dengan tehnik pengambilan sampel accidental sampling. Tehnik pengumpulan data menggunakan kuisioner skala likert, kuisioner terbuka dan wawancara terstruktur. Analisa yang digunakan univariat dengan hasil persentase. Hasil penelitian ditemukan dua faktor yang baru diketahui yang dapat mempengaruhi tingkat keberhasilan pada pendonor darah pemula yaitu tidur jam 00.00 WIB dan aktivitas berlebih sebelum donor darah selain kecemasan dan syarat-syarat donor darah yang kurang sesuai. Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka disarankan kepada pimpinan untuk mempertimbangkan faktor aktivitas dan kualitas tidur sebagai salah satu syarat donor darah pada pendonor darah pemula dan untuk terus melakukan evaluasi terhadap kegiatan donor darah. Bagi staff untuk terus melakukan pendekatan terhadap pendonor, melakukan penyuluhan dan evaluasi. Bagi pendonor darah untuk lebih mempersiapkan diri dan kejujuran. Dan bagi penelitian selanjutnya sebagai data dasar. Kata Kunci : Keberhasilan, Pengambilan Darah, Pendonor Darah Pemula ABSTRACTThe Indonesian Red Cross is a humanitarian organization that conducts blood donor as one of its duties. The need for blood in Bandung is about 300-400 blood bags daily. While on a monthly  basis, the number of blood donors is approximately 8000 people on average, this is apart the fact of failure in blood taking that still reaches above 1.5% per month. Failures occur mostly in novice blood donors. The purpose of this study is to know the factor description that influences the success rate of blood taking on novice blood donor at PMI Bandung in 2011. Novice blood donors are people giving their blood, plasma or other components for the first time by their own account or at the request of family members or friends of patients who need transfusions. The requirements of blood donor in general are good health, donor age is 17-60 years, at least 45 Kg body weight, vital signs within normal limits, minimum hemoglobin 12.5 g / dl, minimal blood donation gap is within 70 days , not taking any medication and have no serious illness. This type of research use descriptive research design with a sample of 100 cases of novice donors with accidental sampling technique of sampling. Data collection techniques using Likert scale questionnaire, open questionnaires and structured interviews. Used univariate analysis with the percentage result. The study found 2 new factors that are known to affect the success rate in novice blood donors i.e. go to bed at 00:00 pm and excess activity prior to blood donation in apart from anxiety and the requirements of the lacking of suitable blood donors. Based on these results it is recommended to the chief to consider the factors of activity and sleep quality as a condition of blood donation on blood donors for novice s and continue to evaluate the activity of blood donors. For staff to continue to approach donors, do counseling and evaluation. For blood donors, it is better to prepare yourself and your honestyand for further study as a baseline. Keywords: Success, Blood Taking, Novice Blood Donors

Pembentukan Konselor Teman Sebaya dalam upaya preventif perilaku kekerasan pada remaja di SMP negeri 1 Pangandaran

Dharmakarya Vol 6, No 2 (2017): Juni
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.548 KB)

Abstract

Remaja adalah kelompok beresiko mengalami masalah kesehatan, sesuai tahap perkembangannya, remaja berada pada masa transisi, pencarian identitas diri. Perilaku kekerasan merupakan salah satu masalah remaja yang menjadi fenomena akhir-akhir ini, seperti halnya tawuran, pendurungan (bullying) yang apabila tidak tertangani dengan akan membahayakan masa depan remaja sebagai generasi penerus bangsa. Tujuan dari pengabdian pada masyarakat ini adalah membentuk konselor teman sebaya yang diharapkan nantinya mempunyai peran bagi teman sebayanya dalam membantu memberikan alternatif pemecahan masalah remaja khususnya dilingkugan sekolah dan sekitarnya pada umumnya. Metode yang dipergunakan dalam kegiatan ini adalah pelatihan bagaimana mempersiapkan siswa untuk menjadi konselor sebaya bagi teman-teman sebayanya. Luaran yang dihasilkan dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah peningkatan pengetahuan dan pemahaman siswa dalam permasalahan remaja serta terbentuknya konselor teman sebaya. Kegiatan ini dihadiri oleh 11 siswa perwakilan dari setiap kelasnya. Hasil kegiatan terjadi peningkatan pengetahuan dan kemampuan siswa dalam memahami materi dan terbentuknya 11 konselor sebaya. Melalui program pembentukan konselor sebaya ini diharapkan dapat menjadi salah satu solusi bagi permasalahan remaja yang terjadi di lingkugan sekolah ataupun sekitarnya.  

Tingkat Kemandirian Pasien Mengontrol Halusinasi setelah Terapi Aktivitas Kelompok

Jurnal Keperawatan Padjadjaran Vol 1, No 1 (2013): Jurnal Keperawatan Padjadjaran
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (593.78 KB)

Abstract

Halusinasi merupakan gejala positif yang paling sering dialami oleh pasien dengan gangguan jiwa. Terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi merupakan bagian dari terapi modalitas yang diberikan pada pasien skizofrenia yang mengalami halusinasi dengan tujuan tercapainya kemandirian pasien. Penelitian ini bersifat deskriptif yaitu melihat gambaran tingkat kemandirian pasien dalam mengontrol halusinasi setelah mengikuti kegiatan terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi. Sebanyak 42 orang menjadi responsden dengan menggunakan teknik consecutive sampling. Proses pengumpulan data menggunakan metode observasi, yang dalam pelaksanaannya peneliti dibantu oleh numerator. Analisis data dengan persentase dan dideskripsikan dalam tabel distribusi frekuensi. Hasil penelitian didapatkan bahwa tingkat kemandirian pasien dalam mengontrol halusinasi setelah mengikuti kegiatan terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi adalah supportive28,6%, partially 61,9%, dan wholly9,5%. Hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian besar tingkat kemandirian pasien adalah partiallysehingga perlu dikembangkan strategi-strategi dalam upaya peningkatan kinerja perawat dalam pelaksanaan tindakan keperawatan sehingga dapat menumbuhkan kemandirian pasien.Kata kunci: Halusinasi, tingkat kemandirian, terapi aktivitas kelompok, stimulasi persepsi AbstractHallucinations are positive symptoms most commontly experienced bypatients with psychiatric disorders. Perceptual stimulation therapy group activities are part of the therapeutic modalities that are given to patients with schizophrenia who experienced hallucinations in order to achieve independence of patient. This is a descriptive study which saw the picture of the level of independence of the patients in the control hallucinations after following stimulation group activity. The sampling technique used was consecutive sampling, in which 42 people were interviewed. The process of data collection using the method of observation, which in practice researchers assisted by the numerator. Analysis of the data with the percentage and frequency distribution are described in the table. The result showed that the level of independence of patient hallucinations in controlling halluciantions after following stimulation group activity therapy activity perception is supportive 28.6%, partially 61,9%, and wholly 9,5%. Based on the findings that majority of patients a level of independence that is partially, developed strategies necessary in an effort to increase the performance of nurses in the implementation of nursing actions that can foster patient independence.Key words:Level of independence, hallucination, therapeutic group activity stimulation perception

Upaya Peningkatan Gizi Balita Melalui Pelatihan Kader Kesehatan di Desa Cilumba dan Gunungsari Kabupaten Tasikmalaya

Media Karya Kesehatan Vol 1, No 1 (2018): Media Karya Kesehatan
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (558.264 KB)

Abstract

Kesehatan masyarakat khususnya balita menjadi prioritas utama dalam pembangunan kesehatan masyarakat. Balita merupakan kelompok usia yang paling rentan dengan gangguan kesehatan terutama masalah gangguan gizi. Balita mengalami gangguan gizi maka akibat yang akan ditimbulkan  antara lain: gizi buruk, gizi kurang, kwashiorkor, marasmus. Angka kekurangan gizi yang dialami anak di bawah lima tahun (balita) di Kabupaten Tasikmalaya hingga saat ini cukup tinggi. Upaya untuk mengatasi masalah gizi,  perlu dukungan berbagai pihak baik dari pusat pelayanan kesehatan maupun dari peran serta masyarakat dalam bentuk peran kader yang tergabung dalam posyandu. Pengelolaan Posyandu di masyarakat perlu mendapatkan perhatian dari berbagai pihak untuk bisa meningkatkan keberlangsungan pelayanan Posyandu.  Untuk meningkatkan keberlangsungan program tersebut dilakukan berberapa langkah salahsatunya adalah program revitalisasi posyandu dalam upaya peningkatan gizi balita.Kegiatan KKNM-PPMD integratif ini dilaksanakan di Desa Cilumba dan Desa Gunung Sari Kec. Cikatomas Kab. Tasikmalaya yang dilaksanakan sejak bulan Juli sampai dengan bulan September 2012. Khalayak sasaran pada program KKNM-PPMD integratif ini adalah seluruh kader dan ibu-ibu yang memiliki balita yang ada di Desa Cilumba dan Desa Gunung Sari dan tergabung di dalam posyandu di masing masing desa. Kegiatan ini meliputi; Melakukan pendataan tentang kondisi kesehatan yang ada di wilayah Desa Cilumba dan Desa Gunung Sari, Melakukan pelatihan revitalisasi posyandu dan penyuluhan tentang masalah kesehatan di wilayah Desa Cilumba dan Desa Gunung Sari.Kegiatan pemberdayaan kader dan revitalisasi posyandu memerlukan dukungan yang efektif baik dari pemerintahan desa maupun dari puskesmas baik material maupun dukungan moral bagi para kader kesehatan dan posyandu yang berada di daerahnya masing-masingKata kunci: gizi balita, revitalisasi posyandu

The effectiveness of psycho education towards depression, anxiety and stress level of patients with pulmonary tuberculosis

Jurnal NERS Vol 11, No 1 (2016): Jurnal Ners
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pulmonery Tuberculosis is a chronic pulmonary disease that affects physicallly and psychosocially for the patients . Until now, the government’s programs in overcoming this disesase still focus on treatment and prevention of infection. The programs has not yet to lead to a psychosocial problem of the patients whereas the psychosocial impact has a big influence on treatment compliance and prognosis of patients with Pulmonery Tuberculosis. This study was quassy experiment to test the effect of psychoeducation on the level of stress, anxiety and depression of Patients with pulmonary tuberculosis. 74 patients with Pulmonery Tuberculosis involved in this study divided into two group (37 involved in intervention and 37 involved as control group). The result of the study showed that psychoeducation was effective in reducing stress, anxiety and depression of the patients with Pulmonery Tuberculosis. Psycho education should be provided for patients with pulmonary tuberculosis at the Community health Center.  Keywords:   intervention, psychoeducation, pulmonary tuberculosis,     

The effectiveness of psycho education towards depression, anxiety and stress level of patients with pulmonary tuberculosis

Jurnal NERS Vol 11, No 1 (2016): Jurnal Ners
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pulmonery Tuberculosis is a chronic pulmonary disease that affects physicallly and psychosocially for the patients . Until now, the government’s programs in overcoming this disesase still focus on treatment and prevention of infection. The programs has not yet to lead to a psychosocial problem of the patients whereas the psychosocial impact has a big influence on treatment compliance and prognosis of patients with Pulmonery Tuberculosis. This study was quassy experiment to test the effect of psychoeducation on the level of stress, anxiety and depression of Patients with pulmonary tuberculosis. 74 patients with Pulmonery Tuberculosis involved in this study divided into two group (37 involved in intervention and 37 involved as control group). The result of the study showed that psychoeducation was effective in reducing stress, anxiety and depression of the patients with Pulmonery Tuberculosis. Psycho education should be provided for patients with pulmonary tuberculosis at the Community health Center.  Keywords:   intervention, psychoeducation, pulmonary tuberculosis,     

PERSEPSI PERAWAT TERHADAP PELAKSANAAN KOMUNIKASI EFEKTIF DI IRJ AL–ISLAM BANDUNG

KEPERAWATAN Vol 5, No 2 (2017): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : LPPM BSI Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.199 KB)

Abstract

ABSTRAKKomunikasi efektif merupakan sebuah proses yang sangat penting dalam menunjang keberhasilan asuhan keperawatan. Kunci dari terciptanya hubungan yang baik antara perawat dan klien adalah kemampuan perawat dalam berkomunikasi. Perawat yang memiliki kemampuan dan keterampilan yang baik dalam berkomunikasi akan mudah menumbuhkan kepercayaan klien, sehingga klien bisa lebih terbuka untuk berbicara mengenai masalah yang berhubungan dengan penyakitnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran secara mendalam tentang pelaksanaan komunikasi efektif antara perawat dan klien di Instalasi Rawat Jalan Al Islam Bandung. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif eksploratif. Informan dalam penelitian ini adalah perawat di Instalasi Rawat. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling dengan jumlah informan 9 orang perawat. Pengumpulan data dilakukan pada tanggal 10 desember 2016. Penelitian ini menggunakan metode FGD (Focus Group Discussion) dengan teknik analisa data menggunakan analisis sistematik (systematic analysis). Hasil penelitian ini didapatkan 3 tema utama mengenai persepsi perawat terhadap pelaksanaan komunikasi efektif. Tema pertama adalah pelaksanaan komunikasi efektif di instalasi rawat jalan berjalan baik, masih adanya hambatan yang dirasakan perawat ketika melakukan komunikasi efektif, dan pola komunikasi perawat-klien mempengaruhi tingkat kepuasan klien terhadap pelayanan. Saran dari penelitian ini adalah diharapkan agar perawat lebih meningkatkan keterampilan komunikasi efektifdalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan. Selain hal itu disarankan juga bagi RS Al Islam untuk membuat Standard Operational procedure (SOP)  mengenai komunikasi dengan klien yang  dapat menunjang kelancaran pemberian asuhan keperawatan. Kata Kunci : Instalasi Rawat Jalan, RS Al Islam, Komunikasi efektif, Perawat-Klien. ABSTRACTEffective communication is a crucial process in supporting the success of nursing care. The key into the good relations between the nurse and client is the ability of nurses to communicate. Nurses who have the ability and good skills in communication will easily build the trust of clients, so that the clients can be more open to talking about the problems associated with they disease.The purpose of this research is to get in depth overview of the implementation of effective communication between nurses and client in outpatient installation Al Islam Hospital Bandung. The research method used is descriptive explorative, while sampling technique used  is purpossive sampling with the number of informants nine nurses. Data collection was conducted on December 10th 2016. FGD (Focus Group Discussion) method used in this research with data analysis techniques using a systematic analysis.The result of this research shows the three main themes of the nurses perception of the implementation of effective communication. First theme is the implementation of effective communication has been running well, the nurses still perceived barriers when implementating effective communication, and nurse-client communication patterns influence the level of client satisfaction with services. Suggestion of this study is expected to nurse more effectively improve their communication skills in order to improve the quality of service. Otherwise it is also advisable for Al Islam Hospital  to make Standar Operational Procedure regarding communication with clients to support the provision of nursing care. Keywords : Effective communication, Al Islam Hospital Bandung, Nurses-client, Outpatient installation.

Pembentukan Konselor Teman Sebaya dalam upaya preventif perilaku kekerasan pada remaja di SMP negeri 1 Pangandaran

Dharmakarya Vol 6, No 2 (2017): Juni
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.548 KB)

Abstract

Remaja adalah kelompok beresiko mengalami masalah kesehatan, sesuai tahap perkembangannya, remaja berada pada masa transisi, pencarian identitas diri. Perilaku kekerasan merupakan salah satu masalah remaja yang menjadi fenomena akhir-akhir ini, seperti halnya tawuran, pendurungan (bullying) yang apabila tidak tertangani dengan akan membahayakan masa depan remaja sebagai generasi penerus bangsa. Tujuan dari pengabdian pada masyarakat ini adalah membentuk konselor teman sebaya yang diharapkan nantinya mempunyai peran bagi teman sebayanya dalam membantu memberikan alternatif pemecahan masalah remaja khususnya dilingkugan sekolah dan sekitarnya pada umumnya. Metode yang dipergunakan dalam kegiatan ini adalah pelatihan bagaimana mempersiapkan siswa untuk menjadi konselor sebaya bagi teman-teman sebayanya. Luaran yang dihasilkan dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah peningkatan pengetahuan dan pemahaman siswa dalam permasalahan remaja serta terbentuknya konselor teman sebaya. Kegiatan ini dihadiri oleh 11 siswa perwakilan dari setiap kelasnya. Hasil kegiatan terjadi peningkatan pengetahuan dan kemampuan siswa dalam memahami materi dan terbentuknya 11 konselor sebaya. Melalui program pembentukan konselor sebaya ini diharapkan dapat menjadi salah satu solusi bagi permasalahan remaja yang terjadi di lingkugan sekolah ataupun sekitarnya.  

Pengaruh Sentuhan Spiritual Quantum terhadap Nyeri Saat Perubahan Posisi pada Pasien Paska Operasi di Ruang Perawatan Intensif

Jurnal Keperawatan Padjadjaran Vol 4, No 3 (2016): Jurnal Keperawatan Padjadjaran
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (703.695 KB)

Abstract

Pasien paska operasi besar berisiko mengalami komplikasi yang mengancam kehidupan. Mobilisasi dinimerupakan salah satu prosedur untuk mencegah komplikasi tersebut, namun mobilisasi menyebabkan peningkatannyeri. Sentuhan Spiritual Quantum (SSQ) merupakan intervensi komplementer berbasis biofield energy yangtelah banyak digunakan pada praktik keperawatan untuk mengurangi nyeri post operasi. Tujuan penelitianini adalah untuk mengetahui pengaruh SSQ terhadap nyeri saat miring kiri kanan pada pasien paska operasi.Desain penelitian adalah pre-eksperimental one group pretest-post test design. Jumlah sampel dalam penelitianadalah 18 orang yang didapat melalui purposive sampling. Intensitas nyeri diukur dengan menggunakan NumericRating Scale (0-10). Analisis data menggunakan wilcoxon test untuk mengetahui perbedaan intensitas nyeri padapengukuran pre dan post test. Hasil penelitian menunjukkan nilai median intensitas nyeri saat istirahat adalah 5,posisi miring tanpa SSQ adalah 8, posisi miring setelah SSQ1 adalah 5,5 dan miring setelah SSQ 2 adalah 5. Terjadipenurunan yang bermakna saat miring setelah SSQ1(p=0,001) dan SSQ2. SSQ dapat menjadi alternatif bagiperawat di area keperawatan kritis dalam manajemen nyeri non farmakologis untuk meningkatkan kemampuanmobilisasi. Diperlukan penelitian lanjutan menggunakan sampel yang lebih besar dan kasus yang lebih bervariasi.