Articles

Found 14 Documents
Search

Pembelajaran Berbasis Web untuk Meningkatkan Kemampuan Interkoneksi Multiplelevel Representasi Mahasiswa Calon Guru pada Topik Kesetimbangan Larutan Asam-Basa

C H E M I C A Vol 12, No 1 (2011)
Publisher : Jurusan Kimia FMIPA UNM

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (223.517 KB)

Abstract

ABSTRAK Kemampuan representasi merupakan aspek penting agar dapat berhasil memecahkan masalah kimia. Pemahaman pebelajar ditunjukkan oleh kemampuannya  mentransfer dan menghubungkan multiple representasi kimia, yaitu makroskopik,  submiskroskopik dan simbolik dengan berbagai mode representasi atau disebut juga interkoneksi multiple level representasi kimia (IMLR). Mahasiswa calon guru harus memahami hubungan ketiga level representasi kimia secara internal dan  dapat menyajikannya kembali ketiga representasi tersebut dalam pembelajaran, agar kelak menjadi guru yang handal. Untuk itu  dikembangkan suatu model perkuliahan menggunakan sistem manajemen belajar berbasis Moodle 2.0. Adapun desain pembelajaran dikembangkan dengan memanfaatkan fitur-fitur ; lesson page, forum diskusi, penugasan (assignment).  Implementasi model menggunakan metode quasi eksperimen dengan one group pretes-postes design terhadap 37 mahasiswa calon guru di salah satu LPTK di Bandung menunjukkan terjadinya peningkatan kemampuan IMLR mahasiswa  pada topik kesetimbangan larutan asam-basa. Mahasiswa memberikan tanggapan positif terhadap pembelajaran. Hasil penelitian menyarankan perlunya dikembangkan lebih luas desain belajar  IMLR  berbasis web untuk meningkatkan mutu program pendidikan calon guru ataupun program peningkatan kompetensi professional guru kimia di lapangan. Kata kunci : Pembelajaran berbasis web, interkoneksi multiple level representasi, Kesetimbangan larutan asam-basa ABSTRACT Representational competence is an important aspect of successful problem solving in chemistry. Students understanding indicated by the ability to transfer and connection between macroscopic phenomena, submicroscopic and symbolic representation or also called the interconnection of multiple levels representation (IMLR) competence.  Preservice chemistry teachers should be achieved IMLR competence so that later will be applied it after they become   teachers.  Development of web-based learning management system that support the IMLR competence to improve the quality of preservice chemistry teachers carried out by  Web-based learning with Moodle 2.0 utilize features; lesson page, discussion forums, and assignment.  The  implementation of web-based learning using quasi experiment method with one group pretest-postest design. Involvement of  37 preservice chemistry teachers at teacher education program in Bandung. Results showed that IMLR competence preservice chemistry teachers increased significantly in topic of acid-base equilibrium. Most of students gave positive feedback and expected to continue web-based learning on other topics of chemistry. It is suggested to applied web-based learning design to enhance IMLR competence preservice chemistry teachers widely as well as to enhance professional competence of inservice chemistry teachers. Key words: Web-based learning, interconnection of multiple levels of representation, acids-bases solution equilibrium

KEMAMPUAN BERPIKIR LOGIS DAN MODEL MENTAL KIMIA SEKOLAH MAHASISWA CALON GURU

Jurnal Cakrawala Pendidikan CAKRAWALA PENDIDIKAN FEBRUARI 2014, TH. XXXIII, NO. 1
Publisher : LPPMP Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (76.502 KB)

Abstract

Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkapkan apakah ada perbedaan yang signifikan dalam kemampuan berpikir logis mahasiswa calon guru dan model mental kimia sekolah berdasarkan pada tingkat nilai mereka. Penelitian ini juga dimaksudkan untuk mengetahui apakah kemampuan berpikir logis berkorelasi dengan model mental kimia sekolah. Penelitian ini dilakukan dengan metode cross-section yang meliputi 124 mahasiswa calon guru kimia yang sedang mengikuti kuliah di program studi Pendidikan Kimia di sebuah LPTK di Bandung. Data dikumpulkan dengan tes kemampuan berpikir logis dan tes diagnostik model mental kimia sekolah. Tes kemampuan berpikir logis meliputi lima skala: penalaran proporsional, variabel kontrol, penalaran kombinasi, penalaran probabilistik, dan penalaran korelasional. Tes diagnostik model mental kimia sekolah mencakup lima masalah: stoichiometry, thermochemistry, chemical equilibrium, tingkat reaksi, dan asam-basa. Temuan penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan tingkat nilai mahasiswa, terdapat perbedaan yang signifikan pada rerarta model mental kimia sekolah, tetapi tidak pada rerata kemampuan berpikir logis. Temuan penelitian juga menunjukkan bahwa tingkat kemampuan berpikir logis para guru kimia berkorelasi dengan model mental kimia sekolah. Kata Kunci: kemampuan berpikir logis, model mental kimia sekolah, metode cross-section, mahasiswa calon guru kimia

ANALISIS PEMAHAMAN KONSEP SISWA SMA KELAS X PADA MATERI PERSAMAAN KIMIA DAN STOIKIOMETRI MELALUI PENGGUNAAN DIAGRAM SUBMIKROSKOPIK SERTA HUBUNGANNYA DENGAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH

Jurnal Riset dan Praktik Pendidikan Kimia Vol 1, No 1 (2013): Jurnal Riset dan Praktik Pendidikan Kimia
Publisher : Masyarakat Pendidikan Kimia Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa pada materi persamaan kimia dan stoikiometri serta hubungannya dengan kemampuan pemecahan masalah. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Subjek penelitian adalah siswa SMA Negeri di Kota Bandung pada kelas X sebanyak 30 siswa. Instrumen penelitian berupa tes diagnostik pemahaman konsep dan kemampuan pemecahan masalah. Hasil tes diagnostik pemahaman konsep siswa pada materi persamaan kimia menunjukan bahwa hampir separuhnya siswa termasuk pada tingkat paham konsep dan pada materi stoikiometri sebagian kecil siswa termasuk pada tingkat paham konsep. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan (r = 0,759; p < 0,005) antara pemahaman konsep dan kemampuan pemecahan masalah serta menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan (r = 0,189; p > 0,005) antara pemahaman konsep dan kemampuan penyelesian soal algoritmik tradisional pada materi stoikiometri. Kata Kunci: pemahaman konsep, diagram submikroskopik, kemampaun pemecahan masalah, persamaaan kimia dan stoikiometri.

ANALISIS HASIL BELAJAR LEVEL MAKROSKOPIK, SUBMIKROSKOPIK, DAN SIMBOLIK BERDASARKAN GAYA KOGNITIF SISWA SMA PADA MATERI POKOK SIFAT KOLIGATIF LARUTAN

Jurnal Pengajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Vol 18, No 1 (2013): Jurnal Pengajaran MIPA
Publisher : Faculty of Mathematics and Science Education, Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (228.771 KB)

Abstract

Penelitian yang berjudul “Analisis Hasil Belajar Level Makroskopik, Submikroskopik, dan Simbolik Berdasarkan Gaya Kognitif Siswa SMA pada Materi Pokok Sifat Koligatif Larutan” bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar siswa gaya kognitif Field Dependent (FD) dan Field Independent (FI) level makroskopik, submikroskopik, dan simbolik pada materi pokok sifat koligatif larutan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan subyek penelitian siswa FD sebanyak 49 orang dan siswa FI sebanyak 21 orang yang berasal dari tiga SMA Negeri kelas XII IPA di Kota Bandung. Instrumen penelitian berupa tes tertulis dan Group Embedded Figures Test (GEFT) serta instrumen penelitian pendukungnya berupa pedoman wawancara dan angket. Berdasarkan hasil pengolahan data diperoleh hasil sebagai berikut: (1) hasil belajar antara siswa FD dan siswa FI pada level makroskopik berbeda secara signifikan (p < 0,05) pada materi pokok sifat koligatif larutan, rata-rata hasil belajar siswa FI (sd = 29,53) lebih besar daripada siswa FD (sd = 29,00), (2) hasil belajar antara siswa FD dan siswa FI pada level submikroskopik berbeda secara signifikan (p < 0,05) pada materi pokok sifat koligatif larutan, rata-rata hasil belajar siswa FI (sd = 14,61) lebih besar daripada siswa FD (sd = 12,15), dan (3) hasil belajar antara siswa FD dan siswa FI level simbolik tidak berbeda secara signifikan (p > 0,05) pada materi pokok sifat koligatif larutan.Kata Kunci: gaya kognitif, makroskopik, sifat koligatif larutan, simbolik, submikroskopik

PROFIL MOTIVASI BELAJAR MAHASISWA CALON GURU KIMIA DAN KORELASINYA TERHADAP MODEL MENTAL

Jurnal Pengajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Vol 19, No 2 (2014): Jurnal Pengajaran MIPA
Publisher : Faculty of Mathematics and Science Education, Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (418.7 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui profil motivasi belajar Mahasiswa Calon Guru Kimia (MCGK) tingkat I sampai dengan tingkat IV. Selain itu, juga dikaji korelasi antara motivasi dengan model mental kimia sekolah. Penelitian dilakukan menggunakan metode kuantitatif non eksperimen, dengan desain survei lintas-bagian (cross-sectional survey) dan melibatkan 124 mahasiswa calon guru kimia di jurusan Pendidikan Kimia pada salah satu Universitas di Bandung. Data dikumpulkan melalui Kuesioner Motivasi Belajar Kimia (KMBK) dan Tes Diagnostik Model Mental Kimia Sekolah (TDMKS). Hasil analisis deskriptif menunjukkan motivasi belajar MCGK pada kategori rendah untuk tingkat I (M=3,04; SD=0,24) dan kategori sedang untuk tingkat II (M=3,56; SD=0,20), tingkat III (M=3,78; SD=0,26), dan tingkat IV (M=3,89; SD=0,25). Hasil uji Kruskal Wallis menunjukkan adanya perbedaan secara signifikan pada sebagian besar jenis motivasi belajar MCGK berdasarkan tingkat kelas, kecuali jenis target prestasi. Motivasi belajar MCGK berkorelasi pada tingkat sedang dengan model mental kimia sekolah (r=0,399; p<0,01).Kata kunci : motivasi belajar, model mental, kimia sekolah, tes diagnostik

PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK UNTUK MENINGKATKAN SIKAP ILMIAH SISWA SEKOLAH DASAR PADA MATERI PERISTIWA ALAM

Jurnal Penelitian Pendidikan Vol 16, No 2 (2016): PENINGKATAN KUALITAS PENDIDIKAN
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.994 KB)

Abstract

Model Pembelajaran Berbasis Proyek (PjBL) merupakan model pembelajaran yang mengembangkan pemahaman konsep melalui investigasi masalah yang bermakna dan dapat menghasilkan suatu produk nyata. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peningkatan sikap Ilmiah siswa SD pada materi peristiwa alam melalui implementasi model PjBL. Penelitian inimenggunakan metode eksperimen semu dengan desain Nonequivalent (Pre-Test and Post-Test) Kontrol-Group Design yang melibatkan seluruh siswa kelas V SDN 2 Cisomang Kecamatan Cikalongwetan Kab. Bandung Barat. Sampel penelitian terdiri dari kelas eksperimen berjumlah 28 siswa dan kelas kontrol berjumlah 27 siswa. Instrumen berupa skala sikap, pedoman observasi dan angket. Analisis penelitian menggunakan, N-Gain, dan uji inferensial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Hasil penelitian menunjukkan pembelajaran berbasis proyek dapat meningkatkan sikap ilmiah lebih tinggi secara signifikan dibandingkan dengan kelas ekspositori dengan perbandingan di kelas eksperimen N-Gain 0,472 kategori sedang dan kelas N-Gain 0,283 kategori rendah.

Penggunaan Model Problem Based Learning untukMeningkatkan Kemampuan Memecahkan Masalah dan Sikap Peduli Lingkungan Peserta Didik

EduHumaniora | Jurnal Pendidikan Dasar Kampus Cibiru Vol 7, No 2: Juli 2015
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1002.982 KB)

Abstract

Era globalisasi menuntut sumber daya manusia yang memiliki kemampuan memecahkan masalah. Kemampuan ini dikembangkan melalui pendidikan IPA. Hasil observasi menemukan peserta didik kurang memperoleh kemampuan memecahkan masalah dan pembentukan sikap peduli lingkungan. Salah satu model pembelajaran yang berawal dari masalah adalah Problem Based Learning. Dalam Problem Based Learning peserta didik menyelesaikan masalah nyata tentang lingkungan dan berhubungan dengan kepentingan masyarakat. Peserta didik yang menjadi pemecah masalah diharapkan memiliki sikap peduli lingkungan. Penelitian ini bermaksud mengkaji pengaruh penggunaan Problem Based Learning dalam meningkatkan kemampuan memecahkan masalah dan sikap peduli lingkungan. Subjek yang diteliti merupakan peserta didik kelas IV Sekolah Dasar. Metode penelitian kuasi eksperimen dengan rancangan kelompok kontrol (pra tes dan pos tes). Kelompok eksperimen mendapatkan PBL sedangkan kelompok kontrol mendapatkan bukan PBL. Kemampuan memecahkan masalah diukur dengan soal uraian. Sikap peduli lingkungan dihimpun dengan angket sikap eksplisit dan sikap implisit. Teknik analisis data menggunakan SPSS for window versi 21. Kemampuan memecahkan masalah menggunakan Independen Test, sedangkan sikap peduli lingkungan menggunakan Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan kemampuan memecahkan masalah peserta didik yang memperoleh PBL (𝒙̅ = 0,440) lebih tinggi dari peserta didik yang memperoleh pembelajaran bukan PBL (𝒙̅ = 0,281), t (56) = 2,213 > 𝑡𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙= 1,671. Sikap peduli lingkungan peserta didik yang memperoleh PBL lebih tinggi dari peserta didik yang memperoleh pembelajaran bukan PBL. Dengan demikian Model Problem Based Learning berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kemampuan memecahkan masalah dan sikap peduli lingkungan peserta didik Sekolah Dasar.

ANALISIS PENGUASAAN KONSEP DAN KETERAMPILAN BERPIKIR KREATIF SISWA SD MELALUI PROJECT BASED LEARNING

EduHumaniora | Jurnal Pendidikan Dasar Kampus Cibiru Vol 8, No 1: Januari 2016
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (883.362 KB)

Abstract

Abstract: Learning science is not just memorize the concepts, but learn how to process and mastery of the scientific attitude. Actually, learning is still centered on the teacher, so that students can develop the knowledge and skills of thinking. Knowledge and thinking skills students can experience a change in the proper way, one way that can be done by applying the model of project-based learning. This study aims to determine whether there is a difference mastery of concepts and creative thinking skills between classes that implement learning model project based learning and classroom rather than project-based learning on water recycling materials. The research design used in this study was Quasi Experimental Design devoted no pattern Nonequivalent Control Group Design This design consists of two groups: the experimental group and the control group. Furthermore, each class were given a pretest and posttest study with mastery test questions using the concept of multiple choice questions of 15 questions and test creative thinking skills with five essay questions on each test. Classroom learning experiment treated with a model project based learning and classroom learning with no control got projet models based learning. The results showed in general there are significant differences in mastery of concepts (p = 0.00) between the experimental class learning by applying the model of project-based learning in the learning process (the average N-gain = 0.477) in the medium category, with students learning by applying rather than project-based learning (the average N-gain = 0.290) in the low category. There is no difference in the ability to think creatively (p = 0.22) between the experimental class and control class, with an average N-gain the experimental class 0,075 while the control class is 0.060 which both are in the low category.Keywords: project based learning, mastery of concepts, creative Abstrak: Belajar IPA bukan hanya menghafal konsep-konsep, akan tetapi belajar bagaimana proses dan penguasaan sikap ilmiah. Kenyatanyaan pembelajaran masih berpusat pada guru, sehingga siswa tidak dapat mengembangkan pengetahuan dan keterampilan berpikirnya. Pengetahuan dan keterampilan berpikir siswa dapat mengalami perubahan dengan cara yang tepat, salah satu cara yang dapat dilakukan dengan menerapkan model project based learning. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan penguasaan konsep dan keterampilan berpikir kreatif antar kelas yang menerapkan model pembelajaran project based learning dan kelas yang bukan project based learning pada materi daur air. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Quasi Experimental Design yang dikhususkan ada pola Nonequivalent Control Group Design Rancangan ini terdiri dari dua kelompok yakni kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Selanjutnya masing-masing kelas penelitian diberi pretest dan posttest dengan soal tes penguasan konsep menggunakan soal pilihan ganda sebanyak 15 soal dan tes keterampilan berpikir kreatif dengan 5 soal essay pada setiap tes. Kelas eksperimen diberi perlakuan pembelajaran dengan model project based learning dan kelas kontrol mendapat pembelajaran dengan bukan model projet based learning. Hasil penelitian menunjukan secara umum terdapat perbedaan penguasaan konsep yang signifikan (p= 0,00) antara kelas eksperimen yang belajar dengan menerapkan model project based learning pada proses pembelajarannya (rata-rata N-gain = 0,477) pada kategori sedang,  dengan siswa yang belajar dengan menerapkan bukan project based learning (rata-rata N-gain = 0,290) pada kategori rendah. Tidak ada perbedaan kemampuan berpikir kreatif (p=0,22) antara kelas eksperimen dan kelas kontrol, dengan rata-rata N-gain pada kelas eksperimen 0,075 sedangkan pada kelas kontrol sebesar 0,060 yang mana keduanya berada pada kategori rendah.Kata kunci: project based learning, penguasan konsep, kreatif

PROFIL KEMAMPUAN BERINKUIRI SISWA SMA PADA TOPIK PENGARUH PERUBAHAN SUHU TERHADAP SISTEM KESETIMBANGAN KIMIA

Jurnal Tadris Kimiya Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Department of Chemical Education, UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (200.037 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memetakan kemampuan berinkuiri siswa SMA pada topik pengaruh perubahan suhu terhadap sistem kesetimbangan kimia. Metode yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif, dengan subjek siswa kelas XI sebanyak 212 orang yang berasal dari 4 SMA di kota Bandung dan 1 SMA di kabupaten Bandung Barat. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan instrumen penelitian utama berupa tes dan instrumen pendukung berupa pedoman wawancara dan studi dokumentasi. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa kemampuan berinkuiri siswa SMA secara keseluruhan pada topik pengaruh perubahan suhu terhadap sistem kesetimbangan kimia diantaranya aspek mengajukan pertanyaan 69,34%, aspek merumuskan hipotesis 58,02%, aspek merancang percobaan 32,08%, aspek mengumpulkan data 75,94%, aspek interpretasi data 75,47% dan aspek menyimpulkan 68,40%. 

PENGARUH MODEL DISCOVERY LEARNING DENGAN SISIPAN MEMBACA KRITIS TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA

EDUSAINS Vol 8, No 1 (2016): Edusains
Publisher : Faculty of Education and Teacher Training, UIN (State Islamic University) Syarif Hidayatul

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract The aims of this study was to find whether there was an influence of the Discovery Learning model with critical reading insertion (DL-MK) towards critical thinking skills of students of grade VII in one of junior high school in Cimahi. A Quasi Experiment method with The Static-group Pretest-Posttest Design was used in this study. Students were grouped in an experimental group (Discovery Learning model with critical reading/DL-MK) and a control group (Discovery Learning model with non-critical reading/ DL-MB). The data from a test were analyzed using t-test or Mann-Whitney U test with α= 0.05. The findings showed that there was a significant difference of critical thinking skills enhancement on aspects of strategy and tactics between experimental group and the control group (sig. N-gain= 0.014). The results of statistical tests in elementary clarification (sig. N-gain= 0.520) and conclussion (sig. N-gain= 0.144) aspect showed no significant differences between the experimental group and the control group. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menemukan adakah pengaruh dari pembelajaran model Discovery Learning dengan sisipan Membaca Kritis (DL-MK) terhadap kemampuan berpikir kritis siswa kelas VII di salah satu SMP di Kota Cimahi. Metode penelitian yang digunakan adalah Metode Quasi Experimental dengan desain The Static-Group Pretest-Posttest.siswa dikelompokkan ke dalam kelas (model Discovery Learning dengan sisipan Membaca Kritis/ DL-MK) dan kelas kontrol (model Discovery Learning dengan sisipan Membaca Biasa/ DL-MB). Data hasil tes dianalisis menggunakan uji-t atau uji U-Mann Whitney dengan α= 0,05. Hasil temuan menunjukkan bahwa, terdapat perbedaan signifikan peningkatan kemampuan berpikir kritis pada aspek strategi dan taktik di antara kedua kelompok penelitian (sig. N-gain= 0,014). Hasil pengujian statistik pada aspek penjelasan dasar (sig. N-gain= 0,520) dan menyimpulkan (sig. N-gain= 0,144) menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan antara kelompok eksperimen dan kontrol. Permalink/DOI: http://dx.doi.org/10.15408/es.v8i1.1752