Articles

Found 10 Documents
Search

THE SPATIAL INTERACTION OF BANDUNG CITIZENS Somantri, Lili
Indonesian Journal of Geography Vol 45, No 2 (2013): Indonesian Journal of Geogrphy
Publisher : Faculty of Geography, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (610.999 KB)

Abstract

Bandung is one of the cities in Indonesia which has rapid population growth. Bandung also has high citizenmobility that comes from both other areas around the city and inside the city itself. This mobility is causeddaily activities of the citizen, eitherby studying or working. The objectives of this research are to analyze: 1) thecitizen mobility in Bandung, 2) the spatial distribution of land uses in Bandung, and 3) the spatial interaction ofBandung citizens, on the basis of land use and citizen mobility in Bandung. This research uses descriptiveanalytical method. The data is collected by using interview based technique. The collected data consist ofmobility location, type of occupation, modes of transportation, destination location, and land use type. The dataare analyzed using percentage and origin-destination matrix. The result of this research indicates that thepurpose of the citizen mobility in Bandung is mostly conducted to work by using his/her own vehicle. Most ofthe mobility is occurred around each developmental area. Furthermore, it is also revealed that there is amassive movement to Cibeunying region,n which is used for educational purposes, offices, and trading areas.
PEMANFAATAN TEKNIK PENGINDERAAN JAUH UNTUK MENGIDENTIFIKASI KERENTANAN DAN RISIKO BANJIR Somantri, Lili
Jurnal Gea Vol 8, No 2 (2008)
Publisher : Rizki Offset

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (37.185 KB)

Abstract

Banjir adalah bencana alam yang sering terjadi setiap musim hujan. Bencana ini tidak hanya menyebabkan kerugian harta benda, tetapi juga korban manusia. Untuk itu dalam upaya mitigasi banjir, diperlukan pemetaan tentang daerah yang rentan dan memiliki risiko terhadap banjir. Salah satu teknik yang digunakan untuk mengidentifikasi daerah yang rentan terhadap banjir adalah penginderaan jauh. Teknik ini memiliki kelebihan yaitu kajiannya meliputi daerah yang luas dan memiliki biaya yang relatif murah jika dibandingkan dengan survei lapangan. Kata Kunci: Penginderaan Jauh, Kerentanan Banjir, Risiko Banjir.
PEMANFAATAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK ZONASI TINGKAT KERAWANAN BENCANA LETUSAN GUNUNG API TANGKUBANPARAHU Setiyawidi, Setiyawidi; Setiawan, Iwan; Somantri, Lili
Jurnal Gea Vol 11, No 2 (2011)
Publisher : Rizki Offset

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3734.851 KB)

Abstract

Potensi bencana letusan gunungapi di Indonesia sangat besar. Hal ini karena posisi Indonesia berada di jalur gunungapi aktif dunia yang berada di sepanjang Cincin Api Pasifik (Pasific Ring Of Fire). Indonesia memiliki 129 gunung api aktif dan 271 titik erupsi akibat dari adanya tumbukan antar tiga lempeng utama bumi, yaitu lempeng Pasifik, lempeng Eurasia, dan lempeng Indo-Australia. Beberapa gunungapi sudah mulai menampakkan aktivitasnya, beberapa diantaranya mempunyai aktivitas tahunan yang lebih aktif dibandingkan gunungapi lainnya, seperti Gunung Merapi di Yogyakarta, terdapat gunungapi yang semula tipe B mendadak memperlihatkan gejala berupa letusan tipe A, seperti Gunung Sinabung di Kabupaten Karo. Terkait hal tersebut, perlu dilakukan mitigasi bencana agar meminimalisasi dampak dan jumlah korban bencana. Upaya yang dilakukan, salah satunya adalah pembuatan peta kawasan rawan bencana. Karena itu, penulis mengadakan penelitian terkait “Pemanfaatan Sistem Informasi Geografis untuk Zonasi Tingkat Kerawanan Bencana Letusan Gunungapi Tangkubanparahu”. Hal ini karena, pembangunan di wilayah kawasan Gunungapi Tangkubanparahu mengalami kemajuan yang pesat, terutama di daerah Kawasan Bandung Utara (KBU). Penelitian ini bertujuan untuk membuat zonasi tingkat kerawanan bencana letusan Gunungapi Tangkubanparahu, tingkat kerawanan bencana yang diteliti terkait tingkat kerawanan bencana aliran lahar dan tingkat kerawanan bencana aliran piroklastik (awan panas). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei deskriptif. Teknik pengumpulan datanya dilakukan interpretasi peta, survei lapangan, dan studi dokumentasi dari dinas-dinas terkait terutama dengan penelitian yang sedang dilakukan. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis Sistem Informasi Geografis (SIG) berupa analisis tumpang susun (overlay), (buffering), dan analisis tiga dimensi. Hasil penelitian dengan analisis SIG terkait kelas kerawanan bencana letusan Gunungapi Tangkubanparahu, menghasilkan tiga kelas kerawanan bencana. Kelas kerawanan bencana tinggi aliran lahar mencapai 6.01% dari luas total daerah penelitian, kelas kerawanan bencana sedang aliran lahar mencapai 70.17% dari luas total daerah penelitian, sedangkan kelas kerawanan bencana rendah aliran lahar rendah mencapai 23.82% dari luas total daerah penelitian. Kelas kerawanan bencana tinggi aliran piroklastik (awan panas) mencapai 3.91% dari luas total daerah penelitian, kelas kerawanan bencana sedang aliran piroklastik (awan panas) mencapai 90.36% dari luas total daerah penelitian, sedangkan kelas kerawanan bencana rendah aliran piroklastik (awan panas) mencapai 5.72% dari luas total daerah penelitian. Saran yang dihasilkan dalam penelitian ini digunakan untuk arahan pemanfaatan ruang terutama di kawasan rawan bencana tinggi, juga tidak melakukan alih fungsi lahan yang tidak sesuai dengan peruntukannya. Kata kunci : pemanfaatan SIG, zonasi tingkat kerawanan bencana, Gunungapi Tangkubanparahu.
KEMAJUAN TEKNOLOGI PENGINDERAAN JAUH SERTA APLIKASINYA DIBIDANG BENCANA ALAM Somantri, Lili
Jurnal Gea Vol 10, No 1 (2010)
Publisher : Rizki Offset

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (729.354 KB)

Abstract

Indonesia merupakan negara yang besar dengan luas wilayah hampir 2 juta km2 yang terdiri atas 17.480 pulau yang membentang dari barat ke timur. Luas wilayah ini memiliki potensi sumber daya alam yang besar, baik di daratan maupun di laut sebagai modal dalam pembangunan. Akan tetapi Indonesia juga merupakan negara yang rawan bencana baik bencana geologi seperti letusan gunungapi, gempa bumi, dan tsunami, maupun bencana meteorologi seperti banjir, tanah longsor, kekeringan. Oleh karena itu, dalam pembangunan wilayah di Indonesia harus memperhatikan kondisi lingkungannya yang rawan bencana. Bencana alam merupakan peristiwa yang membuat kerugian, baik nyawa maupun harta benda. Kajian bencana alam memerlukan tingkat kerincian data dalam pemetaannya. Data dari penginderaan jauh dapat menyajikan informasi yang rinci sesuai dengan kemampuan resolusi dari citra penginderaan jauh. Kelebihan dari data penginderaan jauh, yaitu dapat mencakup wilayah yang luas karena diambil dari udara, diperoleh dengan cepat dan akurat meskipun daerahnya sulit dijangkau secara survei terestrial sehingga dalam perolehan datanya dapat menghemat biaya, waktu, dan tenaga. Dalam makalah ini akan diuraikan mengenai kemajuan teknologi penginderaan jauh dan aplikasinya untuk kajian bencana alam. Kata kunci : teknologi penginderaan jauh, bencana alam, mitigasi bencana alam
PEMANFAATAN CITRA QUICKBIRD DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK ZONASI KERENTANAN KEBAKARAN PERMUKIMAN KASUS DI KOTA BANDUNG BAGIAN BARAT Somantri, Lili
Jurnal Gea Vol 11, No 1 (2011)
Publisher : Rizki Offset

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2223.928 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah 1) mengkaji ketelitian citra Quickbird dalam memperoleh parameter-parameter potensi kebakaran daerah perkotaan untuk menentukan tingkat kerentanan kebakaran permukiman, 2) mengestimasi potensi kebakaran berdasarkan parameter yang diperoleh dari citra Quickbird, 3) memetakan zonasi tingkat kerentanan kebakaran permukiman dengan bantuan Sistem Informasi Geografi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu interpretasi visual citra penginderaan jauh. Data penginderaan jauh yang digunakan, yaitu citra Quickbird. Uji interpretasi citra Quickbird dilakukan dengan menggunakan metode Short, sedangkan pengolahan dan analisis data menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG) dengan cara pengharkatan (scoring), pembobotan, dan overlay sehingga menghasilkan zonasi kerentanan kebakaran permukiman. Data primer yang digunakan adalah Citra Quickbird Kota Bandung Bagian Barat, hasil survei lapangan, dan data sekunder dari instansi terkait. Variabel untuk zonasi kerentanan kebakaran permukiman dalam penelitian ini terdapat dua variabel utama yaitu, variabel potensi kebakaran dan variabel ketersediaan fasilitas pemadam kebakaran. Variabel potensi kebakaran terdiri atas kepadatan bangunan rumah mukim, pola bangunan rumah mukim, jenis atap bangunan rumah mukim, lokasi sumber air, lokasi permukiman dari jalan utama, lebar jalan masuk, kualitas jalan, kualitas bahan bangunan, dan pelanggan listrik. Adapun variabel ketersediaan fasilitas pemadam kebakaran, yaitu fasilitas air hydrant, fasilitas alat pemadam kebakaran ringan (APAR), alat pemadam kebakaran berat (APAB), dan tandon air. Hasil uji ketelitian interpretasi untuk kepadatan bangunan rumah mukim, yaitu sebesar 92,3%. Pola bangunan rumah, yaitu sebesar 96,15%, jenis atap bangunan rumah mukim, yaitu 100%, lebar jalan masuk permukiman, yaitu 100%, dan kualitas jalan, yaitu 92,3%. Hasil pemetaan kerentanan kebakaran di daerah penelitian dibagi atas tiga kelas, yaitu rentan, agak rentan, dan tidak rentan. Di daerah penelitian 46,7% atau seluas 1343,2 Ha termasuk kategori rentan, 30,4% atau seluas 871,7 Ha termasuk kategori tidak rentan, dan 22,9% atau seluas 660,1 Ha termasuk kategori agak rentan. Kata Kunci : Citra Quickbird, Sistem Informasi Geografis, Kerentanan Kebakaran permukiman.
ECO-FRIENDLY BEHAVIORAL OF HIGH SCHOOL STUDENTS IN BANDUNG Septian, Yoga Ganteng; Ruhimat, Mamat; Somantri, Lili
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 17, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.516 KB)

Abstract

Bandung city has some environment problems, such as: rubbish, river, air pollution, groundwater depletion and river pollution. The government tries to make serious efforts to overcome those problems through regulations endorsement and modern technology application, but the main effort that must be done is by improving the behavior of every citizen to be more environment-friendly. Senior high school students are expected to involve in improving the environmental problems because they are the integral part of society. This research is aimed to find out the impact of various factors that influence environment-friendly behavior, such as: 1) the influence of students’ knowledge about environment-friendly behavior; 2) the influence of environmental cares attitude towards environment-friendly behavior; 3) the influence of students’ environmental knowledge towards environment-friendly behavior. The subject of this research is all senior high school students in Bandung with 200 students as the sample. And use purposive sampling as the sampling technique, and then the data is analyzed by using regression test. The result of this research shows that students’ environmental knowledge and environmental cares attitude have no effect to environment-friendly behavior. On the other hand, the environmental cares attitude is influenced by students’ knowledge about environment.
Study of Transportation Movement Generation in Bandung City by using QuickBird Imagery Remote Sensing and Geographic Information System Somantri, Lili
Forum Geografi Vol 27, No 1 (2013): July 2013
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (443.431 KB)

Abstract

The objective of this study is to examine the transport movement generation in Bandung City by using QuickBird imagery remote sensing and Geographic Information Systems. The method used in this research is spatial approach by quantitative descriptive analysis. It resulted that the greatest movement generation come from the regular housing types of 3440 people per hour. The District with the greatest generation was Sub Ujungberung, i.e. 55,501 people per hour, whereas the highway with the greatest amount of generation is Soekarno-Hatta Street of 51,014 people per hour.
IMPROVING GEOGRAPHY PRE-SERVICE TEACHERS’ UNDERSTANDING OF SATELLITE IMAGERY ANALYSIS USING ER MAPPER SOFTWARE WITH A MODULE Sugandi, Dede; Somantri, Lili
International Journal of Education Vol 11, No 1 (2018): August 2018
Publisher : UPI Press

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The development of student potential is influenced by how the teacher prepares the steps of the learning process. This means that teacher’s preparation and planning for the learning process determines the achievement of learning objectives. There is an indication that students have low mastery in the skills of imagery analysis on the topic of remote sensing. This research aims to find ways to assist students in the learning process of remote sensing and find about the appropriateness of the form of learning process to the learning materials as well as the allocated time and the steps in the learning process. More specifically, it aims to assist students in gaining understanding and ability of image data analysis using Er Mapper software. The population consisted of 195 students, while the sample taught to improve their understanding of the steps taken in imagery analysis only included 90 students. The students were divided into two groups, the control class and the experimental class, with 45 students respectively. In assessing students' understanding, this research was aided by four testers who assessed and determined the time taken for students to complete each stage of imagery analysis, with the criteria of: 1) 0-1 (very fast), 2)> 1-2 (fast), 3)> 2-3 (slow), and 4)> 3-4 (very slow). The scores of the imagery analysis of the control class and experimental class students were 3.30 (very good) and 3.38 (very good), respectively, with a difference of 0.08. The difference in the understanding and ability was more strongly indicated by the speed or time taken to complete the analysis stages for each meeting. The control class’ average speed was 3.51 (very slow), while the experimental class was 1.44 (fast). To accelerate the learning process of image analysis, the lab work should be assisted with guidebooks or modules in each meeting. With the module, students can learn independently.
EVALUASI RUTE TRANSPORTASI ANGKUTAN KOTA DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Fadhillah, Ghina; Jupri, Jupri; Somantri, Lili
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 18, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2141.616 KB)

Abstract

Kota Bogor memiliki 23 rute dan 3.406 angkutan kota. Namun, masih adanya rute yang mengalami overlap sehingga mengakibatkan kemacetan lalu lintas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi rute angkutan kota, menganalisis faktor yang mempengaruhi pemilihan rute dan memberikan rekomendasi rute angkutan kota di Kota Bogor. Metode penelitian yakni deskriptif. Sampel penelitian 86 supir dan 29 penumpang. Teknik analisis yang digunakan analisis indeks konektivitas, presentase dan analisis jaringan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rute angkutan kota di Kota Bogor memiliki jaringan sirkuit, faktor yang paling berpengaruh pemilihan rute bagi supir yaitu biaya dan pendapatan. Bagi penumpang, pemilihan rute dipengaruhi oleh tarif, keamanan, kenyamanan, ketepatan waktu. Penelitian ini merekomendasikan empat rute paling efektif untuk angkutan kota 01, angkutan kota 03, angkutan kota 08, dan angkutan kota 15.
PENGARUH FAKTOR GEOGRAFI TERHADAP KEPUTUSAN BERKUNJUNG KE KOTA BANDUNG Krimayanti, K.; Maryani, Enok; Somantri, Lili
Tourism Scientific Journal Vol 4, No 1 (2018): Vol 4, No 1
Publisher : STIEPAR YAPARI Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (958.735 KB)

Abstract

Kota Bandung sebagai destinasi wisata sudah dikenal sejak dulu. Sekarang ini jumlah wisatawan [un terus meningkat. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor geografis apayang mempengaruhi keputusan berkunjung ke Kota Bandung. penelitiandilakukan dengan pendekatan kuantitatif melalui metode survey. Populasi adalah wisatawan yang datang ke Kota Bandung.Sampel yang diambil melalui accidental sampling ber 150 orang yang tersebar di 10 objek wisata.Data diambil melalui kuesioner dan diolah melalui regresi.Hasil penelitian menunjukkan wisatawan yang datang didominasi oleh wisatawan produktif, pendidikan SMA, pekerjaan beragam (swasta, negeri, belum bekerja/pelajar), penghasilan menengah ke atas, dan tujuan berkunjung untuk rekreasi menikmati berbagai keramaian kota, kuliner dan belanja.  Wisatawan umumnya memiliki loyalitas yang tinggi sebagai pengunjung (> 4 kali).Faktor geografi berpengaruh terhadap keputusan berkunjung, berdasarkan urutan kontribusi maka diferensiasi area, nilai kegunaan, aksesibilitas dan lokasi secara berturut-turut memberikan kontribusi tertinggi sampai terkecil.Faktor lokasi yang berupa kemacetan lalu lintas, keberadaan tempat parkir, keamanan di area parkir menjadi faktor yang mempengaruhi tingkat kepuasan wisatawan di objek wisata.Penataan ruang di kawasan objek wisata dan transportasi perlu dilakukan agar tidak banyak waktu wisatawan terbuang akibat kemacetan lalu lintas dan pencarian tempat parkir.