Articles

Found 27 Documents
Search

Effect of Node Position and Number of Stem Cutting on The Growth and Yield of ‘katuk’ (Sauropus androgynus (L.) Merr.) Solikin, Solikin
El–Hayah Vol 6, No 4 (2018): EL-HAYAH (VOL 6, NO 4,March 2018)
Publisher : Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/elha.v6i4.6336

Abstract

Katuk (Sauropus  androgynus (L.) Merr.) has potential as a vagetable and medicinal plant.  This study aimed  to determine effect of node  position and number of stem cuttings  on the  growth  of  katuk. The experiment   used  Completely Randomized Design with two treatments arranged in split  plots. The node  position of stem cuttings as the main plot consists of top stem cutting (T, top – 8 nodes under shoot tip),  middle stem cutting (M, 8 – 11 nodes under shoot tip) and bottom stem cutting (B, 16-20 nodes under shoot tip). The node number of stem cuttings as a subplot consists of 2 nodes  (J1), 3 nodes (J2), 4 nodes (J3), and 5 nodes (J4). Each treatment  combination was replicated  three times.The results revealed that the top stem cutting  resulted in the  highest  root, total plant dry weight and leaf area, as well stem cutting with 4 nodes produced  the highest total plant dry weight and leaf area.
PERTUMBUHAN VEGETATIF DAN GENERATIF Stachytarpeta jamaicensis(L.) Vahl Solikin, Solikin
Prosiding Seminar Biologi Vol 10, No 1 (2013): Seminar Nasional X Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (11.277 KB)

Abstract

Stachytarpeta jamaicensis  belongs to  family   Verbenaceae believed to cure malaria, scabies, headaches,stimulant, tonic, expectorant and fever. The research aims to determine  vegetative and generative growth of Stachytarpeta jamaicensis was conducted in Purwodadi Botanic Garden  in October 2012  -  June 2013 by observing 9 plants  grouped in 3 replications. Seedlings with 6-12 leaves were  planted in polybags  with diameter 13 cm,  height 16 cm   filled  with soil media ‘katel’ (soil stream  sediment).  The plants placed outside the glass house with  light penetration  about 20%. Growth observations conducted every week to high, leaf  number, shoot/branch number,  spike number, spike  length, early flowering and fruit maturity of the plants.  The results showed that  the plant height,  the leaf number, the shoot  and branch and  the spik s number  of the plants was  increasing linearly  up to the age of 90 days after planting (DAP). Early and late flowering varied  each   20-40 DAP  and 69-83 DAP.  The length of spikes  growth following the sigmoid curve and the   fruits mature  at   the age of 38 days after  fertilization.  Keywords: Growth, Stachytarpeta Jamaicensis, Vegetative, Generative
INFILTRASI DAN LIMPASAN PERMUKAAN PADA POLA TANAM AGROFORESTRI DAN MONOKULTUR : STUDI DI DESA JERU KABUPATEN MALANG Darmayanti, Agung Sri; Solikin, Solikin
Prosiding Seminar Biologi Vol 10, No 3 (2013): Seminar Nasional X Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.419 KB)

Abstract

The  research  aims to determine  rate of water  infiltration and   soil run off  on agroforestry,  parennial  and annual  monoculture  cropping systems was conducted at  Jeru village Malang Refency. The water  infiltration rate was measured  by infiltrometer  and the soil  run off  was measured  simple ranfall simulator to make run off  on the soil.  The run off water and  soil  flowing  was   sheltered  into  a  glass   and   then weighing the dry mass of the soil.  Parameters observed  were plant species, trees architectures model, the amount of litter in the land. The results   showed  that  the  highest  water  infiltration rate  and  the lowest  soil run off  was  on multiculture agroforestry each 63,5 cm.h-1 and 0,3 g.lt-1  whereas  the  lowest  water infiltration  and  the highest  soil run off  was on  perennial  trees monoculture  cropping  system  each 30  h-1 and  2,9 g.lt-1 . The multiculture agroforestry  was  dominated by ‘waru  gunung’ (Hibiscus macrophyllus), ‘mindi’ (Melia azedarach), ‘mahoni’ (Sweitenia macrophylla), bamboes and cassava (Manihot esculenta)  that have different  tree architecture  models.  The diversity of  the tree species also  caused   varying litters  produced.  Key Word : infiltration, run off, architecture, litter
Persepsi Kepala Sekolah, Guru Bidang Studi, dan Siswa Terhadap Pelaksanaan Layanan Bimbingan dan Konseling Solikin, Solikin
KES Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : KES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang,   sekolah memiliki tanggung jawab yang besar untuk membantu siswa agar berhasil dalam belajar, untuk itu sekolah hendaknya memberikan  bantuan  kepada  siswa  untuk  mengatasi  masalah  -  masalah  yang timbul  dalam  diri  siswa.  Dalam  kondisi  seperti  ini,  layanan  bimbingan  dan konseling  di sekolah  sangat  penting untuk dilaksanakan  guna membantu  siswa dalam mengatasi masalah yang dihadapinya. Meskipun keberadaan layanan bimbingan dan konseling di sekolah sudah lebih diakui sebagai profesi, namun belum semua komponen sekolah memahami betul pentingnya bimbingan dan konseling di sekolah. Permasalahan, dalam rangka pelaksanaan bimbingan dan konseling  di sekolah,  terkait  beberapa  kendala  yang  perlu  mendapat  perhatian untuk  segera  ditangani  dan  diatasi.  Diantaranya  adalah  menyangkut  persepsi siswa,  guru,  dan  kepala  sekolah  terhadap  layanan  bimbingan  dan  konseling. Dalam hal ini, guru pembimbing hendaknya berusaha menelaah persepsi warga sekolah terhadap  diri mereka,  karena mereka juga memiliki sikap dan persepsi yang berbeda pula. Tujuan penelitian, dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling dan persepsi kepala sekolah, guru bidang studi, dan siswa terhadap layanan bimbingan dan konseling. Metode Penelitian, dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode pendekatan deskriptif kualitatif. Penelitian ini mengambil tempat di SMP PGRI 07  Gemuh  Kendal  di  Jalan  Sigembok  Gemuh  Kecamatan  Gemuh  Kabupaten Kendal. Data yang dikumpulkan melalui penelitian ini adalah data yang sesuai dengan fokus penelitian yaitu data tentang persepsi kepala sekolah, guru bidang studi, dan siswa dalam pelaksanaan kegiatan layanan bimbingan bimbingan dan konseling.  Analisis  data,  dalam  penelitian  ini metode  pengumpulan  data  yang digunakan  adalah  dengan  metode  pengamatan  berpartisipasi,  wawancara mendalam dan menganalisis dokumen. Keabsahan data dilakukan sejak awal pengambilan data, yaitu sejak melakukan reduksi data, display data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling pada SMP PGRI 07 Gemuh Kendal secara keseluruhan telah  berjalan  dengan  baik.  Adapun  persepsi  terhadap  kegiatan  pelaksanaan layanan bimgingan dan konseling adalah sebagai berikut: a) Kepala Sekolah memnyai   persepsi   yang   baik,   hal   ini   dikarenakan   kepala   sekolah   sangat memahami betul apa yang ada pada layanan bimbingan dan konseling dan apa yang telah dilakukan oleh konselor atau guru BK sudah sesuai dengan program dan standar yang ada; b) Guru bidang studi, secara umum mempunyai persepsi yang  baik,  hanya  pada  penggunaan  media  IT  untuk  layanan  bimbingan  dan konseling masih lemah; c) Siswa, terdapat dua pendapat, pendapat yang pertama mengatakan  bahwa  layanan  bimbingan  dan  konseling  sudah  sesuai  dengan harapan, yaitu melayani siswa baik mempunyai masalah atau tidak mempunyai masalah  untuk  memaksimalkan  perkembangan  dirinya,  pendapat  yang  kedua, bahwa  layanan  bimbingan  dan  konseling  hanya  mengurusi  siswa  yang mempunyai  masalah  terkait  dengan  pelanggaran  tata  tertib  dan  kedisiplinan sekolah. Kesimpulan,  berdasarkan  hasil  penelitian  ini  diharapkan  akan  menjadi bahan informasi dan masukan bagi mahasiswa, para tenaga pengajar, para peneliti dan semua  pihak  yang membutuhkan  di lingkungan  Fakultas  Ilmu  Pendidikan IKIP Veteran Semarang. Saran, Hubungan timbal balik pada pelaksanaan layanan Bimbingan dan Konseling akan terbentuk suatu penafsiran terhadap konselor pada warga sekolah. Untuk itu diperlukan usaha dari guru BK untuk lebih meningkatkan komunikasi dan peran di kalangan guru bidang studi lain, dan diperlukan metode dan cara-cara yang tepat dalam menyampaikan materi dan layanan kepada siswa. Dalam hal penguasaan penggunaan media IT, guru BK perlu meningkatkan pengetahuannya agar dalam pengelolaan bimbingan dan konseling menjadi lebih akurat. Kata Kunci : layanan bimbingan dan konseling, kepala sekolah, guru bidang studi
Platycerium bifurcatum (Cav.) C.Chr. DI KEBUN RAYA PURWODADI Solikin, Solikin
Prosiding Seminar Biologi Vol 11, No 1 (2014): Seminar Nasional XI Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (11.277 KB)

Abstract

Abstract-Platycerium bifurcatum is a fern which has potential as ornamental and medicinal plant. Study aimed to determine presence ofthis plant conducted in Purwodadi Botanic Garden using cruising method in 176 plots of plants collection in the gardens area. The results showed that Platycerium bifurcatum found growing spread on 28 plots and stick to the14 species, 14 genera and 12 family of host plants. Mostly it grow wildon some the host plants. The most dominant of the host is Albiziasaman (Jacq.) Merr. with relative frequency value was 59.155%. Keywords : Platycerium bifurcatum, ornamental plant, host, fern
METODE DAKWAH SUNAN KALIJAGA DALAM PROSES ISLAMISASI DI JAWA Solikin, Solikin; M, Syaiful; Wakidi, Wakidi
PESAGI (Jurnal Pendidikan dan Penelitian Sejarah) Vol 1, No 2 (2013): PESAGI (Jurnal Pendidikan dan Penelitian Sejarah)
Publisher : FKIP UNIVERSITAS LAMPUNG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (413.502 KB)

Abstract

The era of Wali Songo is the end of domination Hindu-Budhist Era in cultural heritage to be replaced with Islamic culture. But the Role of Wali Songo heavily in establishing the Islamic kingdom in java, as well as their influence on the culture of society largely and religious proselytizing directly, making the figures more widely known than any other characters Islamic missionaries. Among the members of the Wali Songo whose name is very popular by people in the java is Sunan Kalijaga or Raden Syahid. He was one of the most influential figures in the process of Islamization in Java. Tolerant to local culture and utilization of the world of art and culture became his charactristic in religious proselytizing of method. Puppets, gamelan, mysticism or any other traditional song and culture are part of the culture of Javanese society which succesfully utilized as means of religious proselytizing by sunan kalijaga. Based on the studying above, the research question in this research is how the method is applied Sunan Kalijaga mission through a cultural approach in the process of Islamization of Java.Keywords : metode dakwah, Islamisasi di Jawa
KOMPOSISI JENIS-JENIS TUMBUHAN PADA DUA KOMUNITAS TEMPAT TUMBUH Stachytarpheta jamaicensis (L.) Vahl. DI DESA GAJAHREJO KABUPATEN PASURUAN DAN DESA JERU KABUPATEN MALANG Solikin, Solikin
Bioeksperimen: Jurnal Penelitian Biologi Vol 1, No 2: September 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (84.205 KB)

Abstract

Stachytarpheta jamaicensis  termasuk tumbuhan berkhasiat obat  dan berpotensi sebagai tanaman hias. Penelitian yang bertujuan untuk menentukan   komposisi jenis-jenis tumbuhan,  keragaman dan  kemelimpahan jenisnya  serta   indeks kesamaan  pada dua  komunitas tempat tumbuh   Stachytarpheta jamaicensis telah dilakukan  pada bulan Agustus 2012 di  Desa  Gajahrejo Kabupaten Pasuruan dan Desa Jeru Kabupaten Malang dengan metode survey dan pembuatan  petak. Petak contoh dibuat berukuran 1x1 m yang  penempatannya  disesuaikan dengan keberadaan Stachytarpheta jamaicensis.   Hasil penelitian menunjukkan bahwa   terdapat  sekitar 43 jenis  tumbuhan yang ditemukan tumbuh bersama jenis tumbuhan ini, 12 jenis  diantaranya  ditemukan tumbuh pada dua  komunitas. Komunitas tumbuhan di Gajahrejo lebih beragam denganjumlah  39 jenistumbuhan, nilai Indeks Keragaman  Shannon-Weaver3,231, dan Indeks Kemelimpahan  Margalef6,735.   Sedangkan di  Jeru ditemukan 23 jenis dengan nilai Indeks Keragaman Shannon-Weaver 2,751 dan Indeks Kemelimpahan  Margalef5,051.  Jenis tumbuhan yang  paling dominan  di sekitar  Stachytarpheta jamaicensis   di Gajahrejo adalah  Panicum brevifolium. Sedangkan di Jeru adalah  Salvia riparia. Indeks kesamaan jenis kedua komunitas sebesar  0,452.
Autekologi Elephantopus scaber L. di Kebun Raya Purwodadi Solikin, Solikin
Bioeksperimen: Jurnal Penelitian Biologi Vol 1, No 1: Maret 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Elephantopus  scaber adalah   jenis tumbuhan  berkhasiat obat yang  banyak tumbuh liar di Kebun  Raya Purwodadi.  Penelitian yang bertujuan untuk mempelajari   ekologi  Elephantopus scaber  di Kebun   Raya Purwodadi dilakukan dengan mengamati   iklim dan tanah serta  komposisi jenis tumbuhan di sekitarnya.  Untuk  menentukan komposisi  jenis  pada komunitas tempat  Elephantopus  scaber maka dilakukan pengamatan pada lokasi  : (a)  penetrasi cahaya 100% (terbuka), (b) penetrasi cahaya 26-50% (agak terbuka) dan (c) penetrasi cahaya 5-25%(agak teduh).  Analisis vegetasi pada masing-masing lokasi dilakukan dengan  membuat   plot  pada lokasi terpilih  secara sistematis dengan menggunakan  metode garis sepanjang 1 m sebanyak 50 segmen garis; jarak antar segmen  0,5 m. Hasil penelitian   menunjukkan bahwa  Elephantopus scaber  tumbuh tersebar di tempat agak teduh  hingga terbuka pada intensitas cahaya  100 – 10.000  footcandle.   Elephantopus   scaber paling banyak ditemukan pada lokasi agak terbuka dengan nilai Indeks Nilai Penting 105,96. Vegetasi pada tempat agak teduh dan agak terbuka habitat  Elephantopus scaber    relatif homogen yang didominasi oleh  jenis  rumput Axonopus compressus.
Pengaruh Pemberian Oksigen Melalui Masker Sederhana dan Posisi Kepala 30º Terhadap Perubahan Tingkat Kesadaran Pada Pasien Cedera Kepala Sedang Di RSUD Ulin Banjarmasin 2015 Suwandewi, Alit; Yarlitasari, Dyah; Solikin, Solikin
JURNAL KEPERAWATAN SUAKA INSAN (JKSI) Vol 1 No 2 (2016): Jurnal Keperawatan Suaka Insan (JKSI)
Publisher : STIKES Suaka Insan Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (582.356 KB)

Abstract

Cedera kepala adalah cedera mekanik baik secara langsung atau tidak langsung yang mengenai kepala mengakibatkan luka di kulit kepala, fraktur tulang tengkorak, robekan selaput otak, dan kerusakan jaringan otak, serta gangguan neurologis. Metode dasar dalam melakukan proteksi otak pada pasien cedera kepala adalah dengan membebaskan jalan nafas dan oksigenasi yang adekuat. Pemberian oksigen melalui masker sederhana dan posisi kepala 30° merupakan tindakan yang tepat pada klasifikasi cedera kepala sedang untuk melancarkan perfusi oksigen ke serebral sehingga membantu peningkatan status kesadaran. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui GCS sebelum dan sesudah pemberian oksigen melalui masker sederhana dan posisi kepala 30° serta menganalisis pengaruh pemberian oksigen melalui masker sederhana dan posisi kepala 30° terhadap perubahan tingkat kesadaran pada pasien cedera kepala sedang. Penelitian ini merupakan penelitian Quasi-Experimental dengan 30 responden. Uji yang digunakan adalah Wilcoxon Test. Hasil penelitian menunjukan ada pengaruh pemberian oksigen masker sederhana dan posisi kepala 30° terhadap perubahan tingkat kesadaran pada pasien cedera kepala sedang. GCS nilai rata-rata sebelum adalah 17,92 dan GCS nilai rata-rata sesudah 14,09 dengan nilai p 0,009. Penelitian ini bersifat aplikatif sehingga perlu direflikasi dan dikembangkan untuk meningkatkan kualitas pelayanan asuhan keperawatan gawat darurat dan monitoring.
Effect of Seed Maturity and Storage Duration on Germination of Sambiloto (Andrographis paniculata) Solikin, Solikin; Nurfadilah, Siti
Biosaintifika: Journal of Biology & Biology Education Vol 9, No 2 (2017): August 2017
Publisher : Department of Biology, Faculty of Mathematics and Sciences, Semarang State University . Ro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/biosaintifika.v9i2.8782

Abstract

Seed maturity and its storage are one of problems on propagation and developing of medicinal plants such as sambiloto (Andrographis paniculata (Burm.f.) ex Nees). The research aimed to determine effects of seed maturity and storage duration on seed germination of sambiloto was conducted in a green house of Purwodadi Botanical Garden from November 2014 to November 2015. The experiment was done by completely randomised design with two treatments namely seed maturity and storage duration. The seed was classified into immature seed (0.061 g/100 seeds), semimature seed (0.113 g/100 seeds) and mature seed (0.166 g/100 seeds). The seeds storage duration was classified into seed was not stored, seed was stored for six months and seed was stored for twelve months. Each treatment combination was replicated five times. The results showed that there were significant interactions between the treatments on percentage and rate of seed germination. The highest percentage of seed germination was the treatment of mature seed and stored twelve months (98.50%). On the contrast, the lowest seed germination percentage was the treatment of immature seed and stored twelve months (4.25 %). The fastest seed germination rate was the treatment of mature seed and stored six months (3.88 days), whereas the slowest seed germination rate was the treatment of immature seed and without stored (28.58 days). This study is expected to be applied to improve genetic and cultivation of medicinal plant as well as increasing plant growth and yield.