Mira Sofyaningsih
Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Published : 5 Documents
Articles

Found 5 Documents
Search

RETENSI VANILIN DAN PERUBAHAN WARNA EKSTRAK PEKAT VANILI SELAMA PENYIMPANAN [Vanillin Retention and Color Changes of Concentrated Vanilla Extract During Storage] Sofyaningsih, Mira; Sugiyono, Dr; Setyaningsih, Dwi
Jurnal Teknologi Dan Industri Pangan Vol 22, No 2 (2011): Jurnal Teknologi dan Industri Pangan
Publisher : Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, IPB Indonesia bekerjasama dengan PATPI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (485.535 KB)

Abstract

RETENSI VANILIN DAN PERUBAHAN WARNA EKSTRAK PEKAT VANILI SELAMA PENYIMPANAN [Vanillin Retention and Color Changes of Concentrated Vanilla Extract During Storage] Mira Sofyaningsih1)*, Sugiyono2), dan Dwi Setyaningsih3) 1) Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka 2) Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor 3) Departemen Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor   Diterima 25 November 2009 / Disetujui 10 Oktober 2011 ABSTRACT   The purpose of this research was to observe vanillin retention and color changes during storage of concentrated  vanilla extract at the low temperature (10°C), room temperature (30°C), and high temperature (55°C) for 49 days. The methodology of this research consisted of vanilla curing process, vanilla extraction, evaporation of vanilla extract, formulation of concentrated vanilla extract, and measuring the vanillin retention and color change.The best products of concentrated vanilla extract  were made with formula containing 10 ml vanilla extract, 10 ml high fructose syrup (HFS) 55% and 3 ml of carboxyl methyl cellulose (CMC) solution 1% and that made with formula containing 10 ml vanilla extract, 15 ml glucose syrup 75°Brix and 3 ml of CMC solution 1%. The vanillin retention of both formulas had a trend to descrease. The pattern of vanillin retention and color change during storage of both formulas followed linear equations.Thetemperature and period of storage significantly affected the color of concentrated vanilla extract. Both formulas did not show any differences in vanillin retention and color during storage at refrigerator and room temperature.   Key words: vanillin, retention, concentrated vanilla extract
RETENSI VANILIN DAN PERUBAHAN WARNA EKSTRAK PEKAT VANILI SELAMA PENYIMPANAN [Vanillin Retention and Color Changes of Concentrated Vanilla Extract During Storage] Sofyaningsih, Mira; Sugiyono, Dr; Setyaningsih, Dwi
Jurnal Teknologi dan Industri Pangan Vol 22, No 2 (2011): Jurnal Teknologi dan Industri Pangan
Publisher : Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, IPB Indonesia bekerjasama dengan PATPI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (485.535 KB)

Abstract

?The purpose of this research was to observe vanillin retention and color changes during storage of concentrated vanilla extract at the low temperature (10?C), room temperature (30?C), and high temperature (55?C) for 49 days. The methodology of this research consisted of vanilla curing process, vanilla extraction, evaporation of vanilla extract, formulation of concentrated vanilla extract, and measuring the vanillin retention and color change.The best products of concentrated vanilla extract were made with formula containing 10 ml vanilla extract, 10 ml high fructose syrup (HFS) 55% and 3 ml of carboxyl methyl cellulose (CMC) solution 1% and that made with formula containing 10 ml vanilla extract, 15 ml glucose syrup 75?Brix and 3 ml of CMC solution 1%. The vanillin retention of both formulas had a trend to descrease. The pattern of vanillin retention and color change during storage of both formulas followed linear equations.Thetemperature and period of storage significantly affected the color of concentrated vanilla extract. Both formulas did not show any differences in vanillin retention and color during storage at refrigerator and room temperature.
PEMANFAATAN SARI KELAPA SAWIT (ELAEIS GUINENSIS JACQ) PADA PEMBUATAN COOKIES SEBAGAI MAKANAN TINGGI PRO VITAMIN A (β-KAROTEN) Innaddinnulillah, Innaddinnulillah; Sofyaningsih, Mira
ARGIPA (Arsip Gizi dan Pangan) Vol 2 No 2 (2017)
Publisher : UHAMKA PRESS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.744 KB)

Abstract

Penelitian pembuatan produk makanan yang tinggi β-karoten seperti biskuit danmi yang telah dilakukan adalah menggunakan minyak sawit kasar dan minyak sawitmerah. Pemanfaatan β-karoten dalam bentuk sari kelapa sawit dan dijadikan modifikasiresep pada pembuatan cookies belum dilakukan. Tujuan penelitian ini adalahmenghasilkan cookies tinggi pro-vitamin A (β-karoten) dengan memanfaatkan sari kelapasawit. Perbandingan margarin dan sari kelapa sawit pada pembuatan cookies yaitu, 1:0(F0), 1:1 (F1), 1:3 (F2), dan 0:1 (F3). Penentuan cookies sari kelapa sawit terbaikmenggunakan uji hedonik dengan panelis semi terlatih. Analisis data menggunakan ujiANOVA, bila p-value < 0,05 dilanjutkan dengan uji Duncan. Penerimaan balita terhadapproduk cookies sari kelapa sawit terbaik dibandingkan dengan cookies kontrol dianalisisdengan uji Friedman Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan air dalampembuatan sari kelapa sawit terbaik yaitu 100 ml/500 gram buah kelapa sawit. Hasil ujiragam penambahan sari kelapa sawit dapat memberikan penilaian mutu hedoniktertinggi terhadap warna dan tekstur cookies, namun tidak untuk rasa dan aroma cookies.Hasil uji ragam untuk uji hedonik memberikan penilaian yang tertinggi pada kesukaanterhadap warna, aroma, rasa, dan tekstur cookies. Formula terbaik adalah cookies formulaF1 (1:1) yang memiliki nilai rata-rata uji hedonik tertinggi yaitu 3,8. Cookies sari kelapasawit terbaik dengan takaran saji 30 gram memiliki kandungan energi 152 kkal, lemak 8,16gram, protein 1,84 gram, karbohidrat 18 gram, dan β-Karoten 4020 μg per takaran saji.Cookies yang dihasilkan dapat diklaim sebagai cookies tinggi β-Karoten.
PEMANFAATAN AMPAS SARI KACANG HIJAU SEBAGAI SUMBER SERAT PADA PEMBUATAN BROWNIES BERBAHAN DASAR TEPUNG MOCAF Kusumaningrum, Indah; Sofyaningsih, Mira; Rahayu, Leni Sri
ARGIPA (Arsip Gizi dan Pangan) Vol 1 No 1 (2016)
Publisher : UHAMKA PRESS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1480.391 KB)

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan ampas sari kacang hijau sebagai sumber serat pada produk brownies berbahan dasar tepung mocaf. Pada penelitianpendahuluan dilakukan pengujian kadar air, protein, dan serat pada ampas sarikacang hijau, dengan hasil berturut-turut 80,1%, 5,25% dan 1,06%. Pada penelitianutama dilakukan formulasi brownies dengan faktor A berupa perbandingan tepungmocaf dengan terigu, terdiri atas 3 taraf: 3:1, 1:1, dan 1:0. Faktor II adalah jumlahampas sari kacang hijau (per 100 gram tepung) sebanyak 2 taraf: 50% dan 100%. Rancangan percobaan yang digunakan pada penelitian ini adalah RAL (rancanganacak lengkap) faktorial sehingga diperoleh 6 formula cookies. Formulasi browniesyang paling disukai adalah formula A (perbandingan mocaf dan tepung terigu 3:1,dan ampas sari kacang hijau 50%) baik secara aroma, tekstur, dan rasa. Skor ratarataaromabrowniesberkisarantara3,7–5,9(beradapadapenilaianaromanetralsampaisuka).Skorrata-ratamututeksturbrowniesberkisarantara3,4 –5,3(beradapadapenilaianaromanetralsampaiagaksuka).Rataannilaikesukaanterhadaprasaprodukberkisarantara3,7-5,4(beradapadapenilaiannetralsampaiagaksuka).Kandungangiziyangterdapatpadabrowniesyangdihasilkansangattinggi. Dalam100grambahanterkandungkalorisekitar504kkal,karbohidrat47,69gram,protein10,39gram,lemak27,55 gram,danserat3,66 gramsehinggadapatdiklaimsebagaipangansumberserat. Katakunci:brownies,ampassarikacanghijau,seratABSTRACT This study aims to utilize the dregs of mung bean extract as a source of fiber in the production brownies with mocaf flour-based products. In the preliminary research wasconducted testing of moisture, protein, and fiber in the dregs of mung bean extract, with theresults respectively 80,1%, 5,25% and 1,06%. In the main study was done browniesformulation with factor I: mocaf comparison with wheat flour, consisting of 3 levels: 3:1, 1:1and 1:0. Factor II is the number of dregs of mung bean extract added (per 100 grams of flour),there are two levels: 50% and 100%. The experimental design used in this study is theCompletely Randomized Design with two factors of treatments, totally obtained 6 cookies. The most preferred formulation was formula A (comparison mocaf and flour 3:1, and the dregs of mung bean extract 50%) both in aroma, texture, and taste. The average of aromascore ranged from 3,7 to 5,9 (neutral untill like). The average score of brownies textureranged from 3,4 to 5,3 (neutral to slightly prefer). The mean value of preference for the tasteof products ranging from 3,7 to 5,4 (neutral to slightly prefer). The nutrients contained inthe brownies are produced very high. In 100 grams of material contained approximately 504kcal calories, carbohydrates 47,69 grams, 10,39 grams protein, 27,55 grams of fat and 3,66grams of fiber slightly, so it can be claimed as a source of dietary fiber.Keywords: Brownies, The dregs of mung bean extract, Dietary fiber
MIKROENKAPSULASI EKSTRAK KULIT BUAH NAGA MERAH DENGAN TEKNIK SPRAY DRYING Sofyaningsih, Mira; Iswahyudi, Iswahyudi
ARGIPA (Arsip Gizi dan Pangan) Vol 3 No 1 (2018)
Publisher : UHAMKA PRESS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan pewarna sintetis dan pewarna yang dilarang, karena memiliki efek negatif bagi kesehatan, masih marak dijumpai dalam produksi makanan dan minuman. Kulit buah naga merah yang selama ini merupakan limbah, dapat dimanfaatkan untuk produksi pewarna alami karena proporsi kulit tersebut cukup besar dan mengandung pigmen antosianin. Tujuan penelitian ini adalah mempelajari cara mikroenkapsulasi ekstrak kulit buah naga merah menggunakan maltodekstrin DE10-12  dengan teknik spray drying.  Proses spray drying dilakukan pada suhu inlet 150-160ºC dan suhu outlet 70-80ºC serta konsentrasi maltodekstrin DE10-12 sebesar 10, 15, dan 20%.  Dari hasil penelitian diketahui bahwa konsentrasi 20% memiliki rendemen tertinggi (40,59%), kadar air terendah (4,67%), dan tingkat kecerahan tertinggi (76,77). Kata kunci:    Kadar Air, Kecerahan Warna, Kulit Buah Naga Merah, Mikroenkapsulasi, Rendemen