ENDANG SUTARININGSIH SOETARTO
Laboratorium Mikrobiologi, Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada, Sekip Utara, Yogyakarta

Published : 7 Documents
Articles

Found 7 Documents
Search

Products of Orange II Biodegradation by Enterococcus faecalis ID6017 and Chryseobacterium indologenes ID6016 MEITINIARTI, VINCENTIA IRENE; SOETARTO, ENDANG SUTARININGSIH; TIMOTIUS, KRIS HERAWAN; SUGIHARTO, EKO
Microbiology Indonesia Vol 1, No 2 (2007): August 2007
Publisher : Indonesian Society for microbiology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Chryseobacterium indologenes and Enterococcus faecalis were isolated from activated sludge of textile wastewater treatment plant. These bacteria had the ability to decolorize several azo-dyes. Degradation of azo dyes was initiated by decolorization (reduction of azo bond) which occurred in anaerobic condition. In this study, we focussed on biodegradation of Orange II by pure culture of C. indologenes ID6016 and E. faecalis ID6017, and to determine the metabolite products of Orange II degradation. The degradation of Orange II by both bacteria was carried out in batch experiments using liquid medium containing 80 mg/l Orange II, under sequential static agitated incubation. During the bacterial growth under static incubation (6 h), 66.1 mg/l Orange II were decolorized by 35.54 mg/l biomass of E. faecalis ID6017, but no decolorization found with C. indologenes ID6016. Based on HPLC results, the decolorized Orange II products were identified as sulfanilic acid and amino-naphthol. These metabolites were probably used or degraded by C. indologenes ID6016 under agitated incubation.
AKTIVITAS INULINASE OLEH Pichia manshurica DAN FUSAN F4 PADA FERMENTASI BATCH DENGAN UMBI DAHLIA (Dahlia sp) SEBAGAI SUBSTRAT Wijanarka, Wijanarka; Soetarto, Endang Sutariningsih; Dewi, Kumala; Indrianto, Ari
REAKTOR Volume 14, No. 3, APRIL 2013
Publisher : Dept. of Chemical Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (222.456 KB) | DOI: 10.14710/reaktor.14.3.187-192

Abstract

ACTIVITY OF INULINASE OF Pichia Manshuria AND FUSAN F4 ON BATCH FERMENTATION UDING DAHLIA TUBER (Dahlia sp) AS A SUBSTRATE. A dahlia tuber is one of the common inulin rich crops. Inulin is formed by units of fructans, which are polymers of D-fructose. Inulinases (EC 3.2.1.7) catalyze the hydrolysis of inulin, producing fructooligosaccharides (FOS), inulooligosaccharides (IOS), pulullan, acetone, butanol and sorbitol, therefore dahlia tubers are used as growth media. The inulin hydrolyzing activity has been reported from various microbial strains Pichia manshurica and Fusan F4 which is the result of fusion protoplast. The objective of this study was to determine the activity of inulinase Pichia manshurica and Fusan F4 on the substrate dahlia tubers. Fusan F4 to increase inulinase activity compared with Pichia manshurica and to investigate the kinetics of specific growth rate (μ) and time double (g) from of Pichia manshurica and Fusan F4. The results showed that the exponential phase occurs at 0-12 hour without a lag phase. P. manshurica has a specific growth rate (μ) of 0.18/hour with time double (g) 3.90 hours and the inulinase enzyme activity of 0.56 IU, while for Fusan F4 consecutive has a value μ of 0.20/hour, g of 3.49 hours and the activity of 0.69 IU. The conclusion of this research is to improve Fusan F4 inulinase activity and the ability has to be better than the Pichia manshurica.Umbi dahlia merupakan salah satu umbi yang mengandung inulin. Inulin merupakan polimer fruktan yang dapat dipecah oleh enzim inulinase (E.C. 3.2.1.7) menjadi fruktosa. Fruktosa merupakan bahan baku dasar untuk pembuatan FOS, IOS, pulullan, aseton dan sorbitol, oleh karena itu umbi dahlia digunakan sebagai media pertumbuhan. Enzim inulinase ini secara indigenous dimiliki oleh Pichia manshurica dan Fusan F4 yang merupakan hasil fusi protoplas.Tujuan  penelitian ini adalah  untuk mengetahui aktivitas inulinase Pichia manshurica dan Fusan F4 pada substrat umbi dahlia, Fusan F4 mampu meningkatkan aktivitas inulinase dibandingkan dengan Pichia manshurica serta untuk mengetahui kinetika kecepatan pertumbuhan specifik (µ) dan waktu generasi (g) Pichia manshurica dan Fusan F4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fase  eksponensial terjadi pada jam ke-0 sampai jam ke-12 tanpa diikuti fase lag, Pichia manshurica mempunyai kecepatan pertumbuhan specific (µ)  sebesar 0,18/jam dengan waktu generasi (g) 3,90 jam dan aktivitas enzim inulinase yang dihasilkan sebesar 0,56 IU, sedangkan untuk fusan F4 secara berturut-turut mempunyai nilai µ sebesar 0,20/jam, g sebesar 3,49 jam dan aktivitas sebesar 0,69 IU. Kesimpulan dari penelitian ini adalah Fusan F4 mampu meningkatkan aktivitas inulinase dan mempunyai kemampuan lebih baik dibanding dengan Pichia manshurica.
Produk Lipase Kapang Lipolitik pada Limbah Ampas Kelapa Suyanto, Eko; Soetarto, Endang Sutariningsih; Cahyanto, Muhammad Nur
Bioeksperimen: Jurnal Penelitian Biologi Vol 1, No 1: Maret 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lipase memiliki manfaat penting di bidang industri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan kapang lipolitik yang mampu tumbuh dan menghasilkan aktivitas lipase tinggi pada limbah ampas kelapa menggunakan metode solid state fermentation. Isolat kapang uji dipurifikasi kemudian dilakukan skrining dan seleksi kapang lipolitik dan dilanjutkan dengan produksi lipase menggunakan substrat ampas kelapa yang sebelumnya diukur kandungan biokimia. Hasil menunjukkan bahwa 8 isolat kapang lipolitik mampu tumbuh baik pada substrat ampas kelapa yang ditunjukkan dengan adanya sporulasi dan perubahan pH medium selama reaksi. Diantara kapang lipolitik tersebut, isolat kapang KLC-333 diketahui menghasilkan aktivitas hidrolisis lipase terbesar yaitu 13,33 U/ml dan volume produksi 46 ml. Biosintesis dan peningkatan produksi lipase dipengaruhi oleh kandungan nutrien di dalam substrat ampas kelapa.
Kemampuan Fusan F1 Dalam Memproduksi Inulinase -, Wijanarka; Soetarto, Endang Sutariningsih; Dewi, Kumala; Indrianto, Ari
Bioma Vol. 16, No.2, Tahun 2014
Publisher : Bioma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (75.57 KB) | DOI: 10.14710/bioma, 16, 2, 114-118

Abstract

Fusan F1 was the result of the fusion of the Pichia manshurica and Rhodosporidium paludigenum. The second type of yeast has the ability to produce inulinase.  Inulinase (EC. 3.2.1.7) is an enzyme that is classified as a hydrolase enzyme, this enzyme has the ability to break down complex inulin into simpler components that fructose. Fructose was a monosaccharide with huge potential for the manufacture of butanol, iOS, pullan, FOS and ethanol. The purpose of research to determine the ability fusan F1 in producing inulinase and to determine the specific growth rate (μ), as well as the generation time (g) fusan F1.The results showed that fusan F1 at the 18 th hour was able to produce inulinase of 0.61 mol / min. These results are higher than the parental namely P. manshurica (0.56 mol / min) and Rh. paludigenum (0.33 mol / min). While The specific growth rate (μ) and generation time (g) fusan F1 respecly 0.25 h and 2.7/ h. Keywords: Fusan F1; inulinase; the specific growth; generation time
Kinetika Pertumbuhan Dan Produksi Inulinase Fusan F7 -, Wijanarka; Soetarto, Endang Sutariningsih; Dewi, Kumala; Indrianto, Ari
Bioma Vol. 15, No.2, Tahun 2013
Publisher : Bioma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (74.963 KB) | DOI: 10.14710/bioma, 15, 2, 53-57

Abstract

Pertumbuhan dapat diartikan sebagai suatu pertambahan bagian-bagian sel. Adanya     pertumbuhan sel biasanya dapat diketahui dengan adanya pertambahan ukuran dan     pembelahan sel. Populasi sel khususnya mikroba  secara kuantitatif atau kualitatif dapat digunakan untuk memantau atau mengkaji fenomena pertumbuhan. Enzim inulinase (E.C. 3.2.1.7) adalah enzim yang mampu merombak substrat inulin menjadi monomer fruktosa. Fruktosa merupakan bahan baku (doctoring agent) untuk proses  pembuatan FOS, IOS, pulullan, aseton dan sorbitol. Tujuan  penelitian ini adalah untuk mengetahui kinetika kecepatan pertumbuhan specifik (µ), waktu generasi (g) dan aktivitas inulinase yang dihasilkan oleh fusan F7.  Fusan F7 merupakan hasil fusi antara Pichia manshurica dan Rhodosporidium paludigenum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Fusan F7 mempunyai kecepatan pertumbuhan specific (µ)  sebesar 0.3299 jam dengan waktu generasi (g) 2.1012 jam dan aktivitas enzim inulinase yang dihasilkan sebesar  0.5337 IU. Hasil tersebut  terletak diantara kedua parentalnya yaitu P. manshurica (µ= 0.27935 jam; g = 2.4815 jam dan aktivitas = 0.557 IU) dan Rh. paludigenum (µ= 0.3787 jam; g = 1.8304 jam dan aktivitas = 0.3263 IU).   Kata kunci : Pertumbuhan;  fusan F7; inulinase ; umbi dahlia
KEBERADAAN FUNGI MIKORIZA ARBUSKULA DI KAWASAN TAILING TAMBANG EMAS TIMIKA SEBAGAI UPAYA REHABILITASI LAHAN RAMAH LINGKUNGAN Suharno, Suharno; Sancayaningsih, Retno Peni; Soetarto, Endang Sutariningsih; Kasiamdari, Rina Sri
Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 21, No 3 (2014)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fungi mikoriza arbuskula (FMA) berperan penting dalam menunjang rehabilitasi lahan terdegradasi, termasuk lahan tailing. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keberadaan FMA lokal di lahan tailing tambang emas Timika – Papua, Indonesia. Metode yang digunakan adalah survei dengan mengisolasi FMA dari rhizosfer beberapa jenis tumbuhan dominan di kawasan daerah pengendapan pasir sisa tambang. Pengecatan akar untuk melihat infeksi oleh FMA dilakukan dengan trypane blue, sedangkan perhitungan persen infeksinya dilakukan dengan metode slide. Keberadaan spora FMA dilakukan dengan metode wet sieving. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat FMA di lahan tailing di kawasan pengendapan Modified Ajkwa Deposition Area (ModADA). Persentase infeksi tertinggi (>50%) diketahui pada jenis tumbuhan Ficus adenosperma (86,7%), Brachiaria sp (73,3%), Amomum sp (66,7%), Bidens pilosa (63,3%), dan Musaenda frondosa (56,7%), sedangkan beberapa jenis lain mempunyai persen infeksi yang lebih rendah. Jumlah spora pada rhizosfer tumbuhan Brachiaria sp., F. adenosperma, dan Amomum sp., merupakan yang tertinggi dibanding dengan tumbuhan lain yakni 17, 13, dan 11 spora per 10 g tanah. 
Potential of Soil Bacteria as Mercury Bioremediation Agent in Traditional Gold Mining Winardi, Winardi; Haryono, Eko; Sudrajat, Sudrajat; Soetarto, Endang Sutariningsih
Biosaintifika: Journal of Biology & Biology Education Vol 11, No 1 (2019): April 2019
Publisher : Department of Biology, Faculty of Mathematics and Sciences, Semarang State University . Ro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.284 KB) | DOI: 10.15294/biosaintifika.v11i1.16688

Abstract

Mandor Village has developed as a tradisional gold mining area since years ago. It involved activities that have led to extreme land condition and the release of mining residues, i.e., mercury, to the soils. The study examined the potential of soil bacteria as mercury bioremediation agent based on their population and activity in former mines with different ages. The bacterial population was measured by isolating soil bacteria on solid media using the pour plate method, and the colonies were enumerated during the incubation. The Nutrient Agar (NA) medium was used to obtain the total population, whereas the Salt Base Solution (SBS) was to determine the presence of mercury-tolerant bacteria. The addition of HgCl2 affected the number of the colonies. The colony only grew until the concentration of HgCl2 reached 5 mg/l, and the total colony was larger in older mines. The observation of bacterial activity showed that biotransformation performance was lower when the concentration of mercury was the same as its natural presence in soils (0.1-0.5 mg/l) compared with higher mercury level (1 mg/l). The research showed that lower mercury concentrations in nature reduced the natural ability of bacteria to transform pollutants. This study provides information that can assist the development of a technological approach to control mercury pollution in former traditional gold mines in an environmentally friendly manner using indigenous soil bacteria.