Danu Soesilowati
Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif RSUP Dr. Kariadi

Published : 11 Documents
Articles

Found 7 Documents
Search
Journal : Jurnal Anestesiologi Indonesia

Perbandingan Pemberian Heparin Subkutan dan Intravena terhadap Studi Koagulasi dan D-Dimer Pasien dengan Risiko Trombosis Vena Kusdaryono, Sigit; Soesilowati, Danu; Sasongko, Himawan
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 4, No 3 (2012): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Backgrounds: Thrombosis is the leading cause of death in the United States. About 2 millions of people died every year because of arterial and venous thrombosis. About 80-90% is for known cause. Thrombosis also cause significant morbidity, one of them is Deep Vein Thrombosis (DVT) that may be followed by pulmonary embolism. Without thromboprophylaxis, the incidence of acquired DVT in hospitals is 10-40% on all medical and surgical patient, objectively and 40-60% on major orthopaedics operation.Objectives: To compare the effectivity of subcutaneous and intravenous heparin prophylaxis dose on D-Dimer, PPT, and aPTT levels in patients with the risk of deep vein thrombosis.Methods: This is a pre and post test group design study, conducted on 20 patients who have the risk of developing deep vein thrombosis. Blood sample was taken 1 hour after heparin injection, and put into a EDTA containing bottle. Sample sent to laboratorium for examination. Subject divided into two groups by random sampling. Group A received heparin intravenously and group B received heparin subcutaneously. Statistical analysis will be conducted to test the difference between groups using SPSS version 15.Result : The test resulted in no significant difference in aPTT and PPT between intravenous group and subcutaneous group (p > 0,05). Test results in D-Dimer between groups also showed no significant difference(p > 0.05)Conclusion : No significant differences produced in PPT, aPTT and D-Dimer levels between intravenously and subcutaneously administered heparin for prevention of deep vein thrombosis.Keywords : heparin intravenous , heparin subcutaneous , aPTT levels and D-Dimer levels ABSTRAKLatar Belakang :Trombosis di Amerika Serikat adalah penyebab kematian terbanyak. Sekitar 2 juta orang meninggal setiap tahun karena trombosis arteri dan vena. Dengan 80-90% thrombosis diketahui penyebabnya. Trombosis juga menyebabkan morbiditas yang signifikan, salah satunya adalah trombosis vena dalam (Deep Vein Thrombosis, DVT) yang dapat berlanjut menjadi emboli paru. Tanpa tromboprofilaksis, kejadian DVT nosokomial adalah 10-40% dari keseluruhan pasien medis dan bedah dan 40-60% pada pasien pasca bedah ortopedi mayor.Tujuan: Untuk membandingkan efektivitas dosis profilaksis heparin subkutan dan intravena terhadap nilai D-Dimer, PPT dan aPTT pada pasien dengan risiko trombosis vena dalam.Metode: Penelitian ini menggunakan desain kelompok pre dan post test dan dilakukan pada 20 pasien dengan risiko trombosis vena dalam. Sampel darah diambil setelah 1 jam injeksi heparin, kemudian disimpan dalam botol yang mengandung EDTA. Sampel dikirim ke laboratorium untuk pemeriksaan. Subyek dibagi menjadi dua kelompok secara random sampling. Grup A menerima heparin intravena dan kelompok B menerima heparin subkutan. Analisis statistik dilakukan untuk menguji perbedaan antar kelompok dengan SPSS versi 15.Hasil: Hasil pemeriksaan aPTT dan PPT antara kelompok intravena dan subkutan tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan (p> 0,05). Hasil pengujian pada D-Dimer intravena dan subkutan juga tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan (p> 0,05).Kesimpulan: Tidak ada perbedaan yang signifikan antara pemberian heparin intravena dan subkutan dalam nilai aPTT, PPT dan D-Dimer sebagai pencegahan risiko thrombosis vena dalam.
Ventilasi Mekanik Noninvasif Hartawan, Dicky; Soesilowati, Danu; Budiono, Uripno
Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 2, No 3 (2010): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mechanical ventilation can be invasive and noninvasive manner. Noninvasive ventilation as an alternative to avoid the risks posed to the use of invasive ventilation, reducing the costand length of treatment in intensive care. Noninvasive ventilation is divided into two negative pressure ventilation and positivepressure ventilation. Noninvasive positivepressure ventilation requires the interface such as a facemask, nasal shield, mouthpieces, nasal pillow and helmet. Ventilators are used to control a ventilator volume, pressure, BiPAP and CPAPKeywords : -ABSTRAKVentilasi mekanis dapat diberikan dengan cara invasif maupun noninvasif. Ventilasi noninvasif menjadi alternatif karena dapat menghindari risiko yang ditimbulkan pada penggunaan ventilasi invasif, mengurangi biaya dan lama perawatan di ruang intensif. Ventilasi noninvasif terbagi 2 yaitu ventilasi tekanan negatif dan ventilasi tekanan positif. Ventilasi noninvasif tekanan positif memerlukan alat penghubung seperti sungkup muka, sungkup nasal, keping mulut, nasal pillow dan helmet. Ventilator yang digunakan dapat berupa ventilator kontrol volume, tekanan, BIPAP dan CPAP.Kata kunci : -
Penggunaan Sedasi dan Pelumpuh Otot di Unit Rawat Intensif Istanto, Tatag; Pujo, Jati Listiyanto; Soesilowati, Danu
Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 2, No 2 (2010): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sedation should be administered to patients with critical illness who were treated in the ICU, it is used to reduce patient anxiety reducing patient anxiety of invasive measures, monitoring and treatment, reducing the oxygen demand by reducing the activity of the patient and amnesia effect of treatment in ICU. Muscle paralytic rarely used in the ICU for sedation usually be enough to calm the patient and provide patient comfort with mechanical ventilation. The use of excessive sedation or slightly increased patient morbidity. The use of paralytic muscle in a long time has many disadvantages to be considered, even more so when there is impaired hepatic and renal function in patients.Keywords : -ABSTRAKSedasi sebaiknya diberikan pada pasien dengan penyakit kritis yang dirawat di ICU, hal ini digunakan untuk mengurangi kecemasan pasien mengurangi kecemasan pasien terhadap tindakan invasif, monitoring dan pengobatan, mengurangi kebutuhan oksigen dengan mengurangi aktivitas pasien dan menimbulkan efek amnesia terhadap perawatan di ICU. Pelumpuh otot jarang digunakan di ICU karena biasanya sedasi saja sudah mencukupi untuk menenangkan pasien dan memberikan kenyamanan pasien dengan ventilasi mekanik. Penggunaan sedasi yang terlalu berlebihan atau telalu sedikit meningkatkan angka morbiditas pasien. Penggunaan pelumpuh otot dalam waktu lama memiliki banyak kerugian yang harus dipertimbangkan, terlebih lagi bila terdapat gangguan fungsi hepar dan ginjal pada pasien.Kata kunci : -
Pengaruh Ketorolak dan Parekoksib Terhadap Gambaran Histopatologi Gaster Tikus Wistar Siswanti, Retno Tri; Soesilowati, Danu; Budiono, Uripno; Listiana, Devia Eka
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 6, No 3 (2014): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) digunakan sebagai analgetik paska operasi. Berbagai jenis OAINS dapat menghambat sintesis prostaglandin (PG) yang merupakan mediator inflamasi dan mengakibatkan berkurangnya tanda inflamasi.Akan tetapi PG khususnya PGI sebenarnya merupakan zat yang bersifat protektor untuk mukosa saluran cerna atas. Hambatan sintesis PG akan mengurangi ketahanan mukosa, dengan efek berupa lesi akut mukosa gaster bentuk ringan sampai berat. Gastropati OAINS adalah lesi mukosa gaster yang berhubungan dengan terapi OAINS.Tujuan : Membandingkan gambaran histopatologi gaster antara tikus wistar yang diberikan ketorolak intramuskular dan parekoksib intramuskular.Metode : Dilakukan penelitian eksperimental laboratorik menggunakan randomized post test control group design pada 21 ekor tikus wistar jantan yang terbagi dalam 3 kelompok yaitu kelompok kontrol (K) tikus wistar yang diberikan luka insisi sepanjang 2 cm dan tidak diberikan injeksi ketorolak maupun parekoksib, Kelompok perlakuan 1 (P1) tikus wistar yang diberikan luka insisi sepanjang 2 cm dan diberikan injeksi ketorolak intramuskuler setara dosis manusia 30 mg tiap 8 jam, kelompok perlakuan 2 (P2) tikus wistar yang diberikan luka insisi sepanjang 2 cm dan diberikan injeksi parekoksib setara dosis manusia 40 mg tiap 12 jam. Pada hari ke 5 dilakukan terminasi dan pada hari ke 6 dilakukan pembuatan blok parafin.Hasil : Ketorolak 0,54 mg/8 jam selama 5 hari mempengaruhi integritas mukosa lambung tikus wistar lebih buruk dibandingkan dengan parekoksib 0,72 mg /12 jam selama 5 hari (p<0,001)Kesimpulan : Parecoxib kurang menimbulkan kerusakan mukosa lambung dibandingkan ketorolak.
Validitas Skor Apache II, MSofa, dan SAPS 3 Terhadap Mortalitas Pasien Non Bedah di Perawatan Intensif Dewasa RSUP dr Kariadi Semarang Brahmi, Nur Hajriya; Soesilowati, Danu; Pujo, Jati Listiyanto
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 8, No 3 (2016): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Terdapat berbagai model sistem severity of illness, digunakan untuk memprediksi mortalitas, keefektifitasan dan lama rawat di perawatan intensif, memprediksi jumlah perawat yang secara efektif dapat menangani pasien, banyaknya pasien yang dirawat dirumah sakit, penghitungan beban biaya kesehatan, dan salah satu komponen evaluasi performance ICU. Diperlukan penilaian validitas antara sistem severity of illness sehingga dapat diterapkan secara maksimal di perawatan intensif.Tujuan : Membandingkan validitas sistem skoring APACHE II, MSOFA, dan SAPS3 terhadap mortalitas pasien ICU non bedah di RSUP dr. Kariadi Semarang.Metode : Penelitian ini adalah uji diagnostik dengan desain kohort retrospektif. Sampel sebanyak 135 sampel dipilih berdasarkan simple random sampling, yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Missing value yakni bilirubin dinilai dan dipertimbangkan dalam interpretasi data. Validitas diperoleh dengan melakukan kalibrasi dan diskriminasi dari hasil penelitian kemudian dibandingkan antara hasil yang didapat.Normalitas data menggunakan uji kolmogorov smirnoff, sementara homogenitas menggunakan uji Levenne. Sampel dikalibrasi denganuji Hosmer Lameshow goodness of fit C, dan area under the receiver operating curve. Penilaian diskriminasi dilakukan dengan uji diagnostik dengan membuat tabel 2x2 dengan komponen pasien outcome, dengan model parsimoni dari tiap-tiap model skoring.Hasil : Kurva ROC memberikan nilai auROC untuk skoring APACHE II, MSOFA, dan SAPS 3 dengan hasil 0,7981, 0,7620, 0,785. Dari hasil tersebut, ketiga penilaian.Kesimpulan : Sistem skoring APACHE II, MSOFA dan SAPS 3 cukup baik untuk digunakan sebagai prediktor mortalitas, dengan APACHE II lebih valid dibandingkan  MSOFA dan SAPS 3.
Pengaruh Simvastatin Terhadap Kadar Proliferasi Limfosit Mencit Balb/C yang Diinduce Sepsis dengan LPS Kharmayani, Made Ryan; Lutfi, Haris; Soesilowati, Danu
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 5, No 3 (2013): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Statin, inhibitor 3-hidroxy-3-methylglutaryl coenzyme A (HMG-CoA) reductase merupakan agen yang paling efektif dalam menurunkan lipid dan mempunyai efek pleiotrofik yaitu anti inflamatori dan immunomodulatori. Statin juga memodifikasi interaksi interseluler dan kemotaksis seluler pada sistem imun serta berpotensi mempengaruhi limfosit T dengan cara menghambat iinteraksi antara adhesi molekul seluler leukocyte function-associated antigen-1 (LFA-1) dan intercellular adhesion molecule-1 (ICAM-1), juga menurunkan interferon gamma (IFN -ɣ) yang berperan dalam ekspresi class II major histocompatibilty complex (MHC II) pada antigen precenting cells (APC) dan merupakan proses penting dalam aktivasi sel T. Penurunan ekspresi MHC II berakibat pada inhibisi aktivasi CD 4 limfosit, sehingga mengakibatkan penurunan diferensiasi T helper-1 (Th1) dan pelepasan sitokin proinflamasi juga menurun.Tujuan : Membuktikan efek simvastatin dosis bertingkat peroral pada mencit yang diberi LPS intraperitoneal terhadap penurunan kadar proliferasi limfosit.Metode : Penelitian eksperimental laboratorik dengan desain randomized post test only controlled group pada 20 ekor mencit Balb/c yang disuntik lipopolisakarida 10 mg/KgBB intraperitoneal dan simvastatin dosis 0,03 mg, 0,06 mg dan 0,12 mg peroral. Mencit dibagi menjadi 4 kelompok secara random, yaitu K1 sebagai control,  K2 yang mendapat simvastatin 0,03 mg, K3 yang mendapat simvastatin 0,06 mg dan K4 yang mendapat simvastatin 0,12 mg. Pemeriksaan limfosit diambil dari kultur limpa setelah 72 jam pemberian simvastatin. Uji statistik yang digunakan adalah parametrik ANOVA dan dilanjutkan PosterioriHasil : Kadar rerata limfosit kelompok K1 (1,546 ± 0,106), K2 (0,541 ± 0,046), K3 (0,471 ± 0,013) dan K4 (0,553 ± 0,02). Terdapat penurunan kadar limfosit secara signifikan pada kelompok K2, K3 dan K4 dibanding K1 dengan p <0,05. Tidak terdapat perbedaan bermakna antara kadar limfosit kelompok K2 dengan kelompok K3 dan K4 ( p>0,05) tetapi didapatkan perbedaan bermakna antara kelompok K3 dibandingkan kelompok K4 ( p<0,05).Simpulan : Simvastatin secara signifikan menurunkan kadar proliferasi limfosit pada mencit yang diberi LPS intraperitoneal. Dosis 0,06 mg memiliki efek menekan kadar proliferasi limfosit paling besar.
Fisiologi Lateral Dekubitus dan Monitoring Durante Operasi Bedah Thoraks Bayu, Derajad; Satoto, Hari Hendriarto; Soesilowati, Danu
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 3, No 2 (2011): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dewasa ini pembedahan di daerah thoraks semakin maju, sejalan dengan perkembangan ilmu anestesiologi. Beberapa tindakan tersebut dilakukan terhadap pasien dalam posisi lateral dekubitus. Posisi lateral dekubitus menimbulkan berbagai perubahan fisiologis terhadap pasien. Sebagaimana halnya operasi yang lain, operasi pada bedah thoraks memerlukan monitoring dan penanganan terhadap berbagai hal yang terjadi.