Ag Soemantri
Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro/Rumah Sakit Umum Pusat Dr . Kariadi Semarang

Published : 3 Documents
Articles

Found 3 Documents
Search

Hubungan antara Stres Oksidatif dengan Kadar Hemoglobin pada Penderita Thalassemia/Hbe Tamam, Moedrik; Hadisaputro, Suharyo; Sutaryo, Sutaryo; Setianingsih, Iswari; Djokomoeljanto, Djokomoeljanto; Soemantri, Ag
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 27, No 1 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2012.027.01.7

Abstract

Pemberian  transfusi  darah  kronik  pada  penderita  thalassemia  dapat   menyebabkan  kelebihan  kadar  besi.  Kelebihan  kadar besi  bebas  dalam  tubuh  akan  memacu  timbulnya  oksidan  berupa  reactive  oxygen  species   (ROS)  yang  diukur  dalam  bentuk malondialdehide  (MDA).  Peningkatan  produksi  ROS  dapat  menyebabkan  kerusakan  membran  sel  yang  mengandung senyawa lipid    termasuk eritrosit. T ujuan penelitian ini  adalah untuk menilai hubungan antara kadar MDA serum dengan kadar Hb penderita thalassemia. Metode penelitian ini  adalah penelitian observasional kohort prospective dilaksanakan di  UTD  PMI  Kota  Semarang.  Selama  bulan  Januari  2006  sampai  dengan  Desember  2009  dijumpai  32  penderita  thalassemia/HbE.  Variabel  penelitian kadar Hb dan MDA   serum.  Pengukuran dilakukan sebelum  transfusi  ke-1, setelah transfusi  ke-1 dan sebelum transfusi  ke-2. Analisis statistik menggunakan uji Mann-Whitney,  uji Wilcoxon  dan uji korelasi Spearman. Rerata  umur  subjek  penelitian  adalah  9,5±  3,13  tahun,  laki-laki  adalah  25  orang  (46,9%)  dan  perempuan  17  orang  (53,1%). Status  gizi  43,8  %  termasuk  gizi  kurang.  Kadar  MDA   kelompok   Hb  sebelum  transfusi  ke-2  8  g/dL  2,89±0,451  dan  kelompok Hb  >8  g/dL  2,19±0,792  (p=0,01).  Ada  korelasi  negatif  antara  Hb  sebelum  transfusi  ke-2  dengan  MDA  (r=min  0,52;  p=0,002). Dapat  disimpulkan  ada  korelasi  negatif  antara  kadar  MDA  serum  dengan  kadar  Hb  pada  penderita  thalassemia  /HbE. Kata  Kunci:  Hemoglobin,  MDA,  stres  oksidatif ,  thalassemia  /HbE
Kadar Oksidan yang Tinggi Sebagai Faktor Risiko Terjadinya Hemolisis pada Neonatus Sepsis R, Kamilah Budhi; Aminullah, Asril; Hadisaputro, Soeharyo; Soemantri, Ag; Suhartono, Suhartono
Sari Pediatri Vol 14, No 3 (2012)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp14.3.2012.198-204

Abstract

Latar belakang. Sepsis merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas neonatus. Penyebab hemolisis pada neonatos meliputi: fisiologis, proses imun, stres oksidatif, aktivasi komplemen, kelainan eritrosit, enzim hemolisin. Penyebab hemolisis pada neonatus sepsis belum banyak diteliti. Tujuan. Membuktikan bahwa kadar oksidan (MDA) yang tinggi sebagai faktor risiko terjadinya hemolisis pada neonatus sepsis.Metode. Penelitian di RS Dr. Kariadi, Semarang tahun 2009, desain observasional prospektif dengannested case – controlpada 94 neonatus sepsis terdiri 47 kelompok kasus (hemolisis positif ) dan 47 kontrol (hemolisis negatif ). Diagnosis sepsis ditegakkan dengan kriteria SIRS (systemic inflammatory response syndrome)1 atau lebih, gejala klinik, pemeriksaan laboratorium atau penunjang lain. Hemolisis ditegakkan dengan metode indeks retikulosit >3, hari ke-1 dan ke-3. Pemeriksaan faktor risiko kadar MDA, GPx dengan metode spektrofotometri, vitamin C dengan metode colorimetric assay, vitamin E dengan metode ELISA, hemolisin dengan kultur darah media agar darah. Uji hipótesis menggunakan Chi-square, OR (95% Cl), Mantel-Haenszeldan regresi logistik.Hasil. Kejadian hemolisis pada neonatus sepsis 49%. Kadar MDA kelompok kasus (5,3±2,06) lebih tinggi bermakna dibanding kelompok kontrol (3,3±1,27) p=0,0001. Analisis bivariat, kadar MDA tinggi (>2,90 ng/dL) merupakan faktor risiko hemolisis pada neonatus sepsis (OR 11,6; 95% CI 2,5-54,1) Analisis multivariat, kadar MDA tinggi (> 2,90 ng/dL) dengan memperhitungkan interaksi GPx (OR 5,16; 95%CI 1,22-21,86), vitamin E (OR 5,77; 95%CI 1,49-22,26) dan vitamin C (OR 11,26:2,38-53:30) merupakan faktor risiko kejadian hemolisis pada neonatus sepsis. Hemolisin belum dapat dibuktikan Kesimpulan. Kadar oksidan (MDA) yang tinggi (>2,90 ng/dL), merupakan faktor risiko terjadinya hemolisis pada neonatus sepsis.
Pengaruh Suplementasi Ekstrak Ikan Gabus (Channa Striata ) Terhadap Kadar Albumin, Kolesterol, Waktu Remisi Dan Kejadian Relaps Pada Anak Sindrom Nefrotik Muryawan, Muhammad Heru; Soemantri, Ag; Subagio, Hertanto Wahyu; Sekarwana, Nanan
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol 6 No 1 (2019): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.786 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v6i1.371

Abstract

Background : Nephrotic syndrome (NS) is common in children with massive proteinuria causing severe hypoalbuminemia and hypercholesterolemia. Various attempts are required to increase albunin serum, accelerate remission time, and prevent relapse in order to reduce kidney damage. The Channa striata extract is known for its benefits in increasing albumin levels. Objective : To prove channa striata extract supplementation effect in increasing albumin serum, reducing cholesterol serum, remission and relapse time in children with NS. Methods :This is a double blind randomized controlled trial pre and post test design, 60 children with NS aged 1-15 years were included. A total of 500 mg / day channa striata extract capsule supplementation were administrated 2x1 to the treatment group for 21 days, meanwhile control group received placebo. Children with other chronic disease and with steroid resistance NS were excluded. The outcomes were serum albumin, cholesterol levels, remission and relapse time. Analysis data of albumin and cholesterol was performed by using unpaired t test and Mann-Whitney test. Remission and relapse times were analyzed by chi-square test. Results: There are 60 children met the inclusion criteria (32 children received Channa extract and 28 children were given placebo). Increased albumin level after supplementation was 3,6+0.8 g/dL(p<0.05) higher compared to placebo group 3,2+0.8 g/dL( p<0.05). Decreased levels of total cholesterol between the two groups were not significant (p>0.05). The treatment group remission time was 8.4+2.9 days, 11.0+3.7 day faster compared to placebo group (p <0.05). Relapse in the treatment group (21.4%) were similar to the placebo group (21.9%) (p> 0.05). Conclusions: Channa striata extract supplementation 3x500 mg/day for 21 days is effective to increase albumin levels and accelerate remission time significantly. Decreased cholesterol serum and relapse were not significant. Keywords: nephrotic syndrome, channa striata extract, albumin, cholesterol, remission time, relapse   Latar Belakang: Sindrom nefrotik (SN) banyak dijumpai pada anak dengan proteinuria masif yang menyebabkan hipoalbuminemia berat dan hiperkolesterolemia. Diperlukan upaya meningkatkan kadar albumin, mempercepat waktu remisi dan mencegah relaps guna mengurangi kerusakan ginjal. Ekstrak ikan gabus (EIG)/Channa striata) diketahui dapat meningkatkan kadar albumin. Tujuan: Membuktikan pengaruh suplementasi EIG terhadap peningkatan kadar albumin, penurunan kolesterol,waktu remisi dan kejadian relaps pada anak SN. Metode: Penelitian randomized controlled trial pre and post test design, tersamar ganda, dilakukan mulai Maret-November 2017 terhadap 70 anak SN usia 1-15 tahun, terbagi menjadi 35 anak kelompok suplementasi EIG 2x500 mg/hari selama 21 hari; 35 anak kelompok kontrol. Anak dengan penyakit kronis lain, anak dengan resisten steroid di eksklusi. Luaran yang diteliti adalah kadar albumin, kolesterol, waktu remisi dan kejadian relaps. Analisis data kadar albumin dan kolesterol dengan uji t tidak berpasangan dan uji Mann-Whitney, waktu remisi dan kejadian relaps dengan uji Chi-Square. Hasil: Enam puluh subyek masuk kriteria penelitian (32 di kelompok EIG dan 28 di kelompok plasebo). Peningkatan kadar albumin setelah pemberian EIG 3,6+0,8 g/dL lebih tinggi dibanding kontrol 3,2+0,8 g/dL (p<0,05). Penurunan kadar kolesterol total diantara dua kelompok didapatkan nilai p>0,05. Waktu remisi kelompok EIG 8,4+2,9 hari, lebih cepat dibanding kontrol 11,0+3,7 hari (p<0,05). Kejadian relaps kelompok EIG (21,4%) sama dengan kontrol (21,9%) (p>0,05). Kesimpulan: Suplementasi EIG 2x500 mg/hari selama 21 hari, efektif meningkatkan kadar albumin dan mempercepat waktu remisi secara bermakna. Penurunan kadar kolesterol dan kejadian relaps tidak bermakna. Kata kunci: sindrom nefrotik, ekstrak ikan gabus, albumin, kolesterol, waktu remisi, relaps