Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Jurnal Riset Akuakultur

ANALISIS KUALITAS RUMPUT LAUT Gracilaria gigas YANG DIBUDIDAYA PADA HABITAT LAUT DAN TAMBAK, NUSA TENGGARA BARAT

Jurnal Riset Akuakultur Vol 9, No 1 (2014): (April 2014)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (105.843 KB)

Abstract

Gracilaria gigas merupakan tumbuhan tingkat rendah yang berasal dari laut danumumnya dibudidaya di tambak. Pengembangan budidaya rumput laut di tambak bertujuan memperluas kawasan produksi dengan produktivitas yang tinggi, kualitas rumput laut dan agar yang berbeda dengan di laut. Budidaya Gracilaria gigas di tambak dilakukan di Sekotong, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat dengan menggunakan metode broadcast dengan luas area budidaya 1.500 m2. Sedangkan budidaya di laut dilakukan di Teluk Gerupuk, Lombok Tengah dengan metode long line dengan luas area budidaya 1.250 m2. Parameter yang diukur meliputi performa dan kualitas rumput laut, serta kualitas air. Parameter kualitas air yang diukur adalah: suhu, salinitas, pH, NO3-N, NO2-N, NH3-N, PO4-P, dan kecerahan yang diambil pada hari ke-0, 10, 20, dan 30. Rata-rata produktivitas Gracilaria gigas di laut lebih tinggi 12,72% daripada di tambak. Sebaliknya rendemen agar dan kekuatan gel Gracilaria gigas hasil budidaya di tambak hampir tiga kali lipat lebih tinggi daripada di laut dan berkorelasi positifdengan kandungan N perairan dan indeks percabangan. Kualitas rumput laut berhubungan erat dengan suhu, DO, PO4-P, dan NH3-N terlarut dalam air. Tingginya rendemen agar dan kekuatan gel di tambak disebabkan oleh banyaknya kandungan nutrien dan unsur hara, sedangkan tingginya produktivitas hasil budidaya Gracilaria gigas di laut disebabkan oleh adanya respons struktural dan tekanan turgor pada rumput laut.

KERAGAAN GENOTIPE DAN FENOTIPE IKAN UCENG Nemacheilus fasciatus (Valenciennes, 1846) ASAL BOGOR, TEMANGGUNG, DAN BLITAR

Jurnal Riset Akuakultur Vol 13, No 1 (2018): (Maret 2018)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (117.579 KB)

Abstract

Ikan uceng (Nemacheilus fasciatus) merupakan ikan asli Indonesia yang hidup di sungai dan potensial sebagai komoditas budidaya lokal yang bernilai ekonomi. Pengenalan sumber genetik ikan uceng berdasarkan lokasi geografis perlu dilakukan untuk pengembangan budidaya jangka panjang. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi genotipe dan fenotipe ikan uceng asal Bogor (Jawa Barat), Temanggung (Jawa Tengah), dan Blitar (Jawa Timur). Tiga primer (OPA-12, OPC-04, dan OPC-06) digunakan untuk analisis genotipe dengan metode PCR-RAPD, sedangkan performa fenotipik dievaluasi berdasarkan analisis truss morfometrik dan kinerja pertumbuhannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan uceng asal Temanggung memiliki heterozigositas dan tingkat polimorfisme tertinggi yaitu 0,153 dan 34,69%. Fenotipe truss morfometrik interpopulasi ikan uceng asal Temanggung dan Bogor memiliki tingkat inklusivitas sebesar 10%, sedangkan populasi Blitar menunjukkan tingkat keseragaman intrapopulasi yang tertinggi (96,7%). Sintasan tertinggi terdapat pada populasi ikan uceng asal Temanggung (96,66 ± 3,33%) yang diikuti dengan peningkatan nilai faktor kondisi, namun laju pertumbuhan spesifik tertinggi yaitu populasi asal Blitar (1,082 ± 0,164%). Berdasarkan keragaan genotipe dan fenotipe populasi ikan uceng asal Temanggung menunjukkan potensial sebagai sumber genetik budidaya dengan tingkat keragaman genetik, sintasan, dan inklusivitas tertinggi.Barred loach (Nemacheilus fasciatus) is an Indonesian native fish and has a potential as an economically valuable aquaculture species. The genetics resource identification of barred loach based on geographical location is needed in order to determine its aquaculture potential. The purpose of this research was to evaluate the genotype and phenotype performance of barred loach originated from Bogor (West Java), Temanggung (Central Java), and Blitar (East Java). Three primer (OPA-12, OPC04, and OPC-06) were used in the genotype analysis using PCR-RAPD method, while phenotype performance was evaluated based on truss morphometric analysis and growth performance. The result indicated that barred loach from Temanggung had highest heterozigosity (0.153) and polymorphism (34.69%) compared to the others. The highest intrapopulation sharing component gained by barred loach from Blitar (96.7%), while the interpopulation sharing component by barred loach from Temanggung and Bogor (10%). Barred loach from Temanggung had the highest survival rate (96.66 ± 3.33%) with increasing of condition factor. The highest specific growth rate resulted by barred loach from Blitar (1.08 ± 0.16%). Barred loach from Temanggung potential for genetic resources as highest polymorphism, inclusivity, and survival rate.

KARAKTERISTIK GENETIK POPULASI TIRAM MUTIARA (Pinctada margaritifera) TERKAIT DENGAN DISTRIBUSI GEOGRAFISNYA DI PERAIRAN INDONESIA

Jurnal Riset Akuakultur Vol 4, No 1 (2009): (April 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (93.112 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk memetakan keragaman genetik lima populasi tiram mutiara di Indonesia (Sumbawa, Bali Utara, Selat Sunda, Belitung, Sulawesi Selatan) dengan teknik mtDNA RFLP daerah amplifikasi Cytochrome Oxydase I (COI) dan hubungan kekerabatannya. Lima puluh tiram mutiara (Pinctada margaritifera) yang dianalisis menghasilkan DNA teramplifikasi sebesar 750 pb pada daerah COI mtDNA dengan teknik RFLP. Delapan belas komposit haplotipe terdeteksi dengan menggunakan tiga enzim restriksi: FokI, HaeIII, dan NlaIV. Diversitas haplotip rata-rata sebesar 0,255±0,093. Lima populasi tiram mutiara menghasilkan tiga kelompok dengan jarak genetik terendah adalah populasi Sumbawa dan Bali Utara (0,017) dan terjauh adalah populasi Sulawesi Selatan (0,142). Populasi Sulawesi Selatan merupakan populasi unik berdasarkan distribusi haplotipe BBCAA (60%) dengan nilai keragaman genetik terendah (0,105) dibandingkan dengan populasi lainnya (0,177-0,328).The objectives of this study were to map the genetic diversity of five populations of pearl oyster in Indonesian waters using restriction fragment length polymorphism analysis of DNA COI gene and their genetic relationships. A total of 50 individual of pearl oysters (Pinctada margaritifera) were analyzed for genetic variations within a 750-base pair region of the mitochondrial DNA COI gene using restriction fragment length polymorphism analysis. 18 composite haplotypes were detected following three digestions of endonuclease: FokI, HaeIII, and NlaIV. Five populations of pearl oysters formed three groups where the lowest values of Nei’s genetic distance were among Sumbawa and North Bali populations (0.017) and highest were among the South Sulawesi populations (0.142). The South Sulawesi populations possess uniqueness based on the haplotipe distribution of BBCAA (60%) with the lowest values of genetic diversities (0.105) compared to other populations (0.177--0.328).

KARAKTERISTIK FENOTIPE DAN GENOTIPE LIMA STRAIN IKAN MAS DI JAWA BARAT DAN BANTEN

Jurnal Riset Akuakultur Vol 13, No 2 (2018): (Juni, 2018)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1623.304 KB)

Abstract

Langkah awal program pemuliaan adalah koleksi dan pengenalan karakter materi pemuliaan tersebut. Hasil karakterisasi digunakan sebagai dasar pertimbangan metode pelaksanaan program pemuliaan yang akan dilakukan. Koleksi material genetik untuk program pemuliaan ikan mas menghasilkan lima strain yang dominan dibudidaya di wilayah Jawa Barat dan Banten, yakni strain Rajadanu, Sutisna, Majalaya, Wildan, dan Sinyonya. Pengenalan karakter material genetik ikan mas hasil koleksi dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu fenotipe menggunakan metode truss morfometrik dan genotipe menggunakan metode mikrosatelit DNA. Hasil analisis menunjukkan bahwa variasi keragaan fenotipe kelima strain ikan mas relatif sesuai dengan variasi keragaan genotipenya. Selain mengelompokkan antar strain, hasil analisis genotipe juga menunjukkan bahwa tingkat keragaman genetik kelima strain ikan mas yang diindikasikan dengan nilai heterozigositas (Ho) relatif rendah, yaitu berkisar antara 0,08-0,20 dengan jarak genetik antar strain berada dalam kisaran 0,420-0,582.The first step in a fish breeding program is the collection and characterization of the breeding subject. The results of characterization are used as a baseline to select suitable potential methods used in the breeding program. The samples of genetic materials of five strains of common carp (Rajadanu, Sutisna, Majalaya, Wildan, and Sinyonya) were obtained from West Java and Banten Province. The characterization of collected genetic materials of the common carp species followed the phenotype and genotype approaches. Phenotypic characterization used truss morphometric method while genotype characterization applied DNA microsatellite method. The results showed that the phenotypic variation of the common carp had a close fit with its genotypic variation. In addition, the genotype analysis also showed that the genetic diversity level of the strains was relatively low indicated by the narrow ranges of heterozygosity values (Ho) (0.08-0.20) and genetic distance among strains (0.420-0.582).