Rudy Soehendi
Indonesian Ornamental Crops Research Institute (IOCRI), Jl. Raya Ciherang, Segunung Pacet Cianjur 43253, West Java, Indonesia Phone (62-263) 512607

Published : 2 Documents
Articles

Found 2 Documents
Search

Potensi Pengembangan Jagung di Sumatera Selatan Soehendi, Rudy; Syahri, Syahri
Jurnal Lahan Suboptimal Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Jurnal Lahan Suboptimal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (359.683 KB)

Abstract

The demand of corn continues to increase along with the increasing of populations and industries. Compliance efforts could be done by increasing productivity through extensification and intensification farming. Statistical data showed that corn harvested area and production in South Sumatra over the period 2000-2012 was very volatile but had a tendency to increase since 2006. The area of ​​land suitable for development of corn in South Sumatra, which amounted to 898,877 ha. This area consists of the intensification of land (205,709 ha), extensification of land (159,444 ha) and the diversification of land (533,724 ha). Land use for corn so far has been done in some districts/cities having dry land like Ogan Komering Ulu (OKU), OKU Timur, Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir well as in several districts that have ups and downs like agro Banyuasin and Musi Banyuasin. South Sumatra AIAT demonstration plots showed that significant productivity of corn. In 2010, IPM demplot of Mulyasari village, sub district of Tanjung Lago, District of Banyuasin showed that productivity of Bima 4 (8.8 t/ha), Bima 5 (8.3 t/ha), and Bisi 2 (8.4 t/ha), whereas in 2011 Banyuurip demplot showed that productivity of Bima 3 (11.27 t/ha) and Sukmaraga (8.13 t/ha).
MEMBANGUN INDUSTRI BUNGA KRISAN YANG BERDAYA SAING MELALUI PEMULIAAN MUTASI Sanjaya, Lia; Marwoto, Budi; Soehendi, Rudy
Pengembangan Inovasi Pertanian Vol 8, No 1 (2015): Maret 2015
Publisher : +622518321746

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (129.272 KB)

Abstract

Industri bunga krisan berkembang pesat sejak dua dekade terakhir yang ditandai dengan peningkatan luas area tanam, produksi, produktivitas, nilai ekspor, dan jumlah petani. Dalam rangka menghadapi persaingan global, khususnya memasuki era Masyarakat Ekonomi ASEAN, perlu upaya peningkatan daya saing agar industri krisan di dalam negeri tetap berkembang. Kegiatan pemuliaan merupakan langkah strategis untuk me-ningkatkan daya saing dengan menciptakan varietas unggul krisan yang adaptif terhadap perubahan iklim, tahan terhadap hama/penyakit, dan sesuai dengan preferensi konsumen. Pemu-liaan mutasi yang dikombinasikan dengan teknologi kultur jaringan dapat diandalkan untuk menghasilkan varietas unggul krisan, mengingat teknik ini dapat memperbaiki satu atau lebih karakter tanpa mengubah karakter dasar varietas asal. Pera-kitan varietas melalui induksi mutasi terdiri atas dua kegiatan utama, yaitu induksi keragaman melalui aplikasi mutagen dan seleksi secara sistematis terhadap populasi hasil induksi mutasi untuk mendapatkan individu dengan karakter yang diinginkan. Pengembangan varietas krisan mutan perlu dilaksanakan secara berkelanjutan yang diikuti pengembangan industri benihnya. Benih pemulia (BS) berupa planlet diaklimatisasi pada media sekam bakar dengan kondisi lingkungan yang optimal (cahaya rendah dan lembap). Hasil aklimatisasi digunakan sebagai tanaman induk yang akan menghasilkan setek pucuk sebagai benih dasar (FS). Benih dasar (FS) diturunkan menjadi benih pokok (SS) dan benih sebar (ES) untuk dimanfaatkan petani guna mendukung pengembangan agribisnis krisan.