Soedjatmiko Soedjatmiko
SDN Beji Kabupaten Semarang

Published : 39 Documents
Articles

Found 39 Documents
Search

Perancangan Basis Data dan Layanan Akses Berbasis Service Oriented Architecture (SOA) Untuk Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman

Jurnal Buana Informatika Jurnal Buana Informatika Volume 1 Nomor 1 Januari 2010
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract. Database Design and Service Oriented Architecture (SOA)-based Access Service for Health Center Transactional Data on Health Office of Sleman District. Health Office of Sleman District is the regional institution that is responsible for organizing health services in the area of Sleman District. In performing these duties and responsibilities, Health Office of Sleman District requires health data and information that is accurate, precise and quick to assist policy decision making process and the health sector by leveraging communication and information technology. This research aims to design a database and SOA-based access service for transactional data center on Health Office of Sleman District. Expected, the results of this research can help Health Office of Sleman District in monitoring public health and to establish interoperability with systems from agencies or other institution.Keywords: Health Office of Sleman District, database, SOA, web service.Abstrak. Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman adalah lembaga regional yang bertanggung jawab untuk mengatur pelayanan kesehatan di wilayah Kabupaten Sleman. Dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya, Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman memerlukan data kesehatan dan informasi yang akurat, tepat dan cepat untuk membantu proses pengambilan keputusan kebijakan dan sektor kesehatan dengan memanfaatkan teknologi komunikasi dan informasi. Penelitian ini bertujuan untuk merancang sebuah basis data dan layanan akses berbasis SOA untuk pusat data transaksional pada Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman. Diharapkan, hasil penelitian ini dapat membantu Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman dalam memantau kesehatan masyarakat dan untuk membangun interoperabilitas dengan sistem dari instansi atau lembaga lain.Kata kunci: Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, basis data, SOA, layanan web.

MEMBENTUK KARAKTER SISWA SEKOLAH DASAR MENGGUNAKAN PENDIDIKAN JASMANI DAN OLAHRAGA

Journal of Physical Education Health and Sport Vol 2, No 2 (2015): Journal of Physical Education Health and Sport
Publisher : Universitas Negeri Semarang (Unnes)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Krisis moral dalam masyarakat antara lain ditandai oleh:  hilangnya kejujuran, hilangnya rasa tanggung jawab,  tidak mampu berpikir jauh ke depan,  rendahnya disiplin, krisis kerjasama, krisis keadilan, dan krisis kepedulian. Pembentukan karakter yang paling tepat dilaksanakan di sekolah karena tiga alasan:  Pertama sebagian peserta didik mengenal pendidikan jasmani di sekolah. Kedua usia sekolah merupakan periode yang efektif untuk menanamkan nilai nilai. Ketiga pendidikan jasmani di sekolah masih menekankan prestasi. Anak usia sekolah dasar adalah anak usia 6 sampai 12 tahun. Pada masa ini adalah masa yang paling tepat untuk mengajarkan keterampilan dan mendidik karakter anak. Pendidikan jasmani dan olahraga merupakan bagian dan pendidikan secara umum. Tujuan pendidikan adalah mencapai tujuan pendidikan melalui pembelajaran pendidikan jasmani dan olahraga. Pendidikan jasmani dan olahraga mengajarkan nilai nilai sebagai berikut : Respek, Persahabatan, Sportif, Kreatif, Kerja sama, Fair play, Kerja keras, Tanggung jawab, dan Pantang menyerah. Implementasi pendidikan jasmani sebagai alat pembentuk karakter adalah: 1) Keteladanan 2). Menciptakan lingkungan berkarakter 3). Pembiasaan 4). Menanamkan kedisiplinan 5) menyusun pedoman etika dan 6). Mendorong siswa menampilkan perilaku baik. Guru Pendidikan jasmani  harus memberikan penekanan tentang apa yang harus dan apa yang tidak boleh dilakukan siswa agar pembelajaran penjas dan olahraga dapat dijadikan sebagai sarana membentuk karakter._________________________________________________________________Moral crisis in society, among others, characterized by: a loss of honesty, loss of sense of responsibility, not able to think ahead, lack of discipline, cooperation crisis, the crisis of justice, and crisis care The establishment of the most appropriate character held at the school for three reasons: Firstly the majority of students recognize physical education in schools. Both school age is a period that is effective to instill values. The third physical education in schools still emphasizes achievement. Primary school age children are children aged 6 to 12 years. At this time the so-called child age child. At this time is the most appropriate time to teach skills and educate the childs character. Physical education and sport merrupakan sections and education in general. The purpose of education is to achieve educational goals through learning physical education and sport. Physical education and sport teaches the following values: Respect, Friendship, Sportif, Creative, ooperation, fair play, hard work, responsibility, and Never give up, Implementation of physical education as a means of forming the character are: 1) Modeling 2). Creating an environment characterized by 3). Habituation 4). Instill discipline 5) develop ethical guidelines and 6). Encourage students to show good behavior. Physical education teachers should give emphasis on what should and what should not be done students to study physical education and sport can be used as a means of forming character.

Gambaran Fungsi Kognitif HIV Anak yang Telah Memperoleh Terapi Antiretrovirus

Sari Pediatri Vol 18, No 2 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang. Pasien HIV anak berisiko tinggi mengalami gangguan neurokognitif akibat keterlibatan sistem saraf pusat (SSP). Pemberian antiretrovirus (ARV menurunkan viral load di SSP sehingga mencegah penurunan fungsi kognitif.Tujuan. Memberikan gambaran fungsi kognitif pasien HIV anak dalam terapi ARV.Metode. Studi potong lintang dilakukan terhadap pasien HIV anak berusia 5-15 tahun. Penilaian kognitif dilakukan dengan instrumen Wechsler intelligence scale for children IV (WISC IV) dilanjutkan dengan pemeriksaan elektroensefalografi untuk membuktikan kerusakan akibat keterlibatan SSP pada infeksi HIV.Hasil. Sembilan puluh pasien HIV anak (median usia 9 tahun) telah memperoleh ARV selama  1-124 bulan dengan median 69 bulan. Hasil rerata verbal, performance, dan full-scale IQ (FSIQ) berturut-turut adalah 88,66 (SB 15,69), 85,30 (SB 15,35), dan 85,73 (SB 15,61). Dua puluh tiga (25,6%) subjek memiliki verbal IQ abnormal, 34 (37,8%) performance scale abnormal, dan 32 (35,6%) FSIQ abnormal. Hasil EEG abnormal didapatkan pada 22 subjek (22,4%) dan tidak memiliki hubungan dengan stadium klinis, usia dan lama pemberian ARV, serta viral load. Stadium HIV menunjukkan hubungan bermakna dengan komponen verbal scale IQ dan FSIQ (p=0,042 dan p=0,044). Hasil IQ tidak memiliki hubungan dengan usia pemberian ARV, lama pemberian ARV, dan viral load.Kesimpulan. Pasien HIV anak yang telah mendapat terapi ARV selama 1-124 bulan memiliki rerata IQ abnormal pada verbal, performance, dan FSIQ meskipun jika dinyatakan dalam bentuk kategori, lebih dari 50% subjek memiliki IQ normal pada ketiga skala WISC. 

Penilaian Perkembangan Bayi Risiko Tinggi dan Rendah pada Usia 3 dan 6 Bulan dengan Instrumen Bayley Scales of Infant and Toddler DevelopmentEdisi III

Sari Pediatri Vol 14, No 1 (2012)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang. Enam bulan pertama kehidupan merupakan kesempatan emas untuk melakukan deteksi dini gangguan tumbuh kembang. Bayi risiko tinggi (risti) merupakan kelompok yang rentan terhadap keterlambatan perkembangan. Contoh instrumen penilaian perkembangan yang terbaru adalah Bayley scales of infant and toddler developmentEdisi III (Bayley III).Tujuan.Mengetahui gambaran keterlambatan perkembangan bayi risiko tinggi dan rendah pada usia 3 dan 6 bulan.Metode. Penelitian kohort prospektif dilakukan terhadap bayi risti yang mendapat perawatan di Unit Neonatologi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dan bayi risiko rendah di empat Posyandu serta Poliklinik Tumbuh Kembang RSCM selama periode Mei – Desember 2010. Penilaian perkembangan dilakukan dengan instrumen Bayley III pada usia koreksi 3 dan 6 bulan. Hasil. Proporsi laki-laki lebih banyak pada kedua kelompok. Proporsi gagal tumbuh pada kelompok risti lebih banyak dan meningkat pada usia 6 bulan (20,6% vs 3,6%). Median nilai komposit pada area area kognitif dan motorik lebih rendah untuk bayi risti (p<0,05). Risiko relatif gangguan perkembangan untuk area kognitif, komunikasi, motorik dan adaptif pada usia 6 bulan adalah 3,1 (IK95% 1,29-7,91), 3,5 (IK95% 1,4-11,7), 4,1 (IK95% 1,5-11,5), dan 4 (IK95% 1,23-135). Jumlah morbiditas berpengaruh terhadap kejadian keterlambatan di seluruh area pada usia 6 bulan (p<0,05). Kesimpulan. Perkembangan bayi risti di area kognitif dan motorik pada usia 3 dan 6 bulan terlambat. Risiko keterlambatan perkembangan lebih jelas terlihat pada usia yang lebih tua. Banyaknya morbiditas perinatal mempengaruhi derajat keterlambatan.

Sensori Integrasi: Dasar dan Efektivitas Terapi

Sari Pediatri Vol 13, No 2 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Terapi sensori integrasi, sebagai bentuk terapi okupasi, mulai populer diberikan untuk tata laksana anak dengan berbagai gangguan perkembangan, belajar, maupun perilaku. Namun dasar teori, bentuk gangguan pemrosesan sensori, dan efektivitas terapi umumnya belum diketahui secara luas di kalangan dokter spesialis anak. Bukti sahih tentang manfaat terapi sensori integrasi untuk tata laksana anak dengan gangguan spesifik memungkinkan aplikasi dan pemberian edukasi pada keluarga pasien secara lebih optimal.

Gambaran Bullying dan Hubungannya dengan Masalah Emosi dan Perilaku pada Anak Sekolah Dasar

Sari Pediatri Vol 15, No 3 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang. Prevalensi bullying pada anak SD di Indonesia belum diketahui.Tujuan. Mengetahui gambaran dan prevalensi bullying, pemahaman pelajar mengenai istilah bullying, hubungan antara status bullying dengan masalah emosi, dan perilaku serta prestasi akademis.Metode. Penelitian potong lintang dengan subyek pelajar SD kelas V usia 9-11 tahun di SDN Cikini 02 Pagi dan SDS Tunas Bangsa pada bulan Oktober 2011. Bullying dinilai menggunakan Olweus Bully/Victim Questionnaire yang dimodifikasi, sedangkan masalah emosi dan perilaku dideteksi menggunakan self-report Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ). Prestasi akademis dinilai berdasarkan nilai rapor tengah semester.Hasil. Penelitian dilakukan pada 76 subyek dan didapatkan prevalensi bullying 89,5%. Tidak terdapat perbedaan jenis kelamin pada subyek yang terlibat dalam bullying. Sebagian besar subyek yang terlibat bullying berusia >9 tahun. Subyek dengan status sosio-ekonomi rendah cenderung menjadi korban, sedangkan subyek dengan status sosio-ekonomi menengah dan tinggi cenderung menjadi korban sekaligus pelaku. Tipe bullying tersering adalah fisik. Pelaku bullying terbanyak adalah teman sebaya. Bullying paling sering terjadi di ruang kelas pada waktu istirahat sekolah. Dampak bullying jangka pendek tersering yang dialami korban adalah perasaan sedih. Sebagian besar korban melaporkan bullying yang dialaminya kepada orang lain. Hanya 22% subyek yang mengetahui istilah bullying dengan tepat. Tidak didapatkan hubungan antara status bullying dengan masalah emosi dan perilaku maupun prestasi akademis.Kesimpulan. Prevalensi bullying pada murid kelas V SDN Cikini 02 Pagi dan SDS Tunas Bangsa 89,5%. Pemahaman tentang istilah bullying pada anak SD di Jakarta Pusat rendah. Tidak didapatkan hubungan antara status bullying dengan masalah emosi dan perilaku maupun prestasi akademis.

Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi Antigen Vi Polisakarida Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi Antigen Vi Polisakarida Kapsular

Sari Pediatri Vol 3, No 3 (2001)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Demam tifoid masih merupakan masalah kesehatan masyarakat. Upaya pencegahan meliputi perbaikan sanitasi lingkungan, higiene perorangan, persiapan makanan yang baik dan pemberian vaksin. Baik vaksin tifoid peroral maupun parenteral dapat mencegah gejala klinis demam tifoid. Kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) vaksin antigen Vi polisakarida kapsuler pada anak Indonesia belum banyak dilaporkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui KIPI vaksin antigen Vi polisakarida kapsuler pada anak Indonesia. Metode. Penelitian deskriptif potong-lintang dilakukan pada anak Indonesia sehat umur 2-5 tahun yang mengunjungi Klinik Tumbuh Kembang Utan Kayu pada Juli 2000 atau Klinik Dokter Keluarga Kiara pada Agustus 2000. Digunakan vaksin antigen Vi polisakarida kapsuler (typhim-Vi) dalam kemasan 10 ml. Penyuntikan 0,5 ml vaksin dilakukan oleh dokter Peserta Pendidikan Spesialis Anak pada paha bagian anterolateral dengan menggunakan semprit steril sekali pakai. KIPI dimonitor dengan menggunakan formulir KIPI Departemen Kesehatan. Hasil. Dari 198 anak yang divaksinasi, KIPI yang berhasil dipantau 174 (87,9%) anak. Gejala klinis KIPI yang ditemukan adalah nyeri pada tempat suntikan (44,8%), demam > 38,5∞ C (14,4%), indurasi (9,2%), dan muntah (0,6%). Kesimpulan. KIPI vaksin antigen Vi polisakarida kapsuler penelitian ini cukup komparabel dengan penelitian lain dalam hal demam. Bengkak dan indurasi lebih tinggi dibanding penelitian lain. Hal yang mungkin berperan adalah vial multidosis yang rentan terhadap timbulnya kontaminasi.

Masalah Kesehatan dan Tumbuh Kembang Pekerja Anak Jalanan di Jakarta

Sari Pediatri Vol 5, No 4 (2004)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pekerja anak jalanan sama sekali bukan merupakan pemandangan asing di IbukotaJakarta. Mereka merupakan komunitas anak yang cukup besar dengan berbagaimasalah kompleks yang belum dapat diatasi hingga kini. Masa kanak-kanak yangseharusnya diisi dengan belajar dan bermain agar proses tumbuh kembangberlangsung optimal, justru dihadapkan pada berbagai risiko yang dapatmembahayakan kesehatan dan tumbuh kembang mereka.Bekerja tidak selalu berdampak negatif, namun cukup banyak bahaya yang harus merekahadapi. Berkurangnya partisipasi mereka dalam pendidikan karena harus bekerja, risikomengalami kecelakaan lalu lintas, adanya polusi udara, jam kerja yang panjang, paparanterhadap perilaku sosial yang tidak baik, hingga paparan terhadap perlakuan salah, baiksecara fisik, seksual, maupun emosional; merupakan potensi nampak negatifSurvai atau penelitian yang ada sejauh ini telah memberikan gambaran umum mengenaistatus kesehatan mereka berdasarkan keluhan kesehatan yang dialami dalam 30 hariterakhir dan status gizi. Namun belum ada data mengenai korelasi antara status kesehatanmereka dengan faktor risiko yang mereka hadapi sebagai pekerja anak jalanan. Gangguanperkembangan kognitif merupakan aspek yang banyak dibahas, penelitian di Afrikamendapatkan rendahnya kemampuan membaca dan matematika pada pekerja anak.

Rekomendasi Satgas Imunisasi

Sari Pediatri Vol 8, No 1 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Menghadapi masalah kesehatan anak dunia, Indonesia tidak dapat berdiam diri namunharus turut berpartisipasi aktif. Pakar WHO menegaskan bahwa dalam upaya pencegahanpenyakit infeksi, dua hal yang harus menjadi perhatian utama ialah penyediaan air bersihdan imunisasi. Munculnya resistensi antibiotik pada beberapa mikroorganisme, keadaanimunokompromais, peningkatan kesehatan anak dengan risiko tinggi, telah memicupara ahli memalingkan arah untuk mencapai upaya pencegahan yang paripurna. Dalamsatu dasa warsa terakhir, imunisasi telah mengalami perkembangan yang sangat pesatseiring dengan kemajuan teknik rekayasa genetika dan biomolekuler. Masuknya vaksinbaru sebagai hasil teknologi modern yaitu vaksin influenza trivalen (TIV) dan vaksinpneumokokus (PCV7) memerlukan panduan penggunaannya yang dituangkan dalamRekomendasi Satgas Imunisasi IDAI.

Pentingnya Stimulasi Dini untuk Merangsang Perkembangan Bayi dan Balita Terutama pada Bayi Risiko Tinggi

Sari Pediatri Vol 8, No 3 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bayi risiko tinggi ialah bayi yang secara klinis belum menunjukkan hambatanperkembangan tetapi berpotensi untuk mengalami gangguan perkembangan akibatfaktor risiko biomedik, lingkungan psikososial atau sosial ekonomi. Faktor risikotersebut secara langsung atau tidak langsung dapat mengganggu perkembangan otak,sehingga mengganggu perkembangan gerak, komunikasi, kognitif, emosi-sosial danperilaku. Plastisitas otak adalah kemampuan susunan saraf untuk menyesuaikan diriberupa perubahan anatomi, kemampuan neurokimiawi atau perubahan metabolik.Stimulasi dini adalah rangsangan auditori, visual, taktil dan kinestetik yang diberikansejak perkembangan otak dini, dengan harapan dapat merangsang kuantitas dan kualitassinaps sel-sel otak, untuk mengoptimalkan fungsi otak. Stimulasi dini harusmemperhatikan tahapan maturasi otak, waktu, jenis stimulasi, cara melakukanstimulasi, intensitas, perbedaan individual, keterpaduan dan dukungan program lainyang berkelanjutan. Peran dokter dan perawat di ruang bayi baru lahir, serta orangtuasangat penting, oleh karena itu mereka perlu dibekali pengetahuan dan ketrampilanmengenai stimulasi dini

Co-Authors Abdul Latief Agus Firmansyah Alida R Harahap, Alida R Aman B. Pulungan Anastasia Maureen, Anastasia Armeilia, Rilie Arwin AP Akib, Arwin AP Aryono Hendarto, Aryono Badriul Hegar Bambang Madiyono Basrowi, Ray Wagiu Basrowi, Ray Wagiu Batubara, Jose R Bernie Endyami, Bernie Bernie Endyarni Medise, Bernie Endyarni Bernie Endyarni, Bernie Cissy B. Kartasasmita Corrie Wawolumaya Dadi Suyoko, Dadi Damayanti Rusli Sjarif Darmawan B. Setyanto, Darmawan B. Darmawan, Anthony C. David H Muljono, David H Dwi Putro Widodo, Dwi Putro Effie Koesnandar, Effie Elina Waiman, Elina Ferry Cahyo Setyohardani, Ferry Cahyo Fransisca Handy, Fransisca Frieda Handayani Kawanto, Frieda Handayani Hanifah Oswari Harahap, Dwi Fachri Hardiono D Pusponegoro, Hardiono D Hardiono D. Pusponegoro, Hardiono D. Hartono Gunardi Herlina Herlina Hindra Irawan Satari, Hindra Irawan Ihat Sugianti, Ihat Imral Chair, Imral Inna Yoana Sari Tarigan S Irawan Mangunatmadja, Irawan Jeane Roos Ticoalu, Jeane Roos Johnson, Ikhsan Johnson, Ikhsan Jose RL. Batubara, Jose RL. Julfina Bisanto,, Julfina Kemas Firman Kriswantoro Kriswantoro, Kriswantoro Lily Rahmawati, Lily Liza F Zaimi, Liza F lvony Yuyu Susanto, lvony Yuyu Mardjanis Said, Mardjanis Margono Margono Martira Maddeppungeng, Martira Medise, Bernie E. Muhammad Erika Rachman, Muhammad Erika Mulya Rahma Karyanti, Mulya Rahma Muzal Kadim Nadya, Ruth Natharina Yolanda, Natharina Nia Kurniati Oksa Slamet Riswanto, Oksa Slamet Piprim B Yanuarso, Piprim B Pustika Amalia Reza, Abdullah Rezeki, Ratu Meulya Rinawati Rohsiswatmo Rini Purwanti Rini Sekartini Rosalina D. Roeslani, Rosalina D. Rubianto Hadi Rudy Hartanto Rulina Suradi, Rulina Singgih, Adrian Himawan Siti Budiati Widyastuti, Siti Budiati Sri Rezeki Hadinegoro, Sri Rezeki Sri Rezeki S Hadinegoro, Sri Rezeki S Sukman Tulus Putra, Sukman Tulus Tania Paramita, Tania Tedjasaputra, Mayke Sugianto Teny Tjitra Sari, Teny Tjitra Titi S. Sularyo Titis Prawitasari, Titis Tjhin Wiguna Toto Wisnu Hendrarto, Toto Wisnu Tri Sunarti Wahyutami, Tri Sunarti Turyadi Turyadi, Turyadi Tuty Rahayu, Tuty Waldi Nurhamzah, Waldi Wan Nedra, Wan Yulianti Wibowo, Yulianti Yuridyah P. Mulyadi, Yuridyah P.