Ni Wayan Siti
Fakultas Peternakan, Universitas Udayana

Published : 9 Documents
Articles

Found 9 Documents
Search

BERAT POTONG DAN BAGIAN OFFAL EXTERNAL ITIK BALI JANTAN YANG DIBERI PAKAN KOMERSIAL DISUBSTITUSI POLLAR DAN ADITIF ”DUCK MIX” Wiradhana, Agus Putu; Siti, Ni Wayan; Ariana, I Nyoman Tirta
Peternakan Tropika Volume 1 No. 1 Tahun 2013
Publisher : Animal Science Programm Study, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/EJPT.2013.v01.i01.p02

Abstract

This study to determine the effect of substitution and addition pollard duck mix in the commercial ration, the weight cut and the external offal of ducks Bali age of ten weeks. Ducks fed 100% commercial as treatment A (control), ducks fed commercial pollard 85% + 15% + 0.3% duck mix as treatment B, ducks fed a commercial 70% + 30% + pollard "Duck Mix "0.3% as treatment C, and the ducks are fed a commercial 55% + 45% + pollard" Duck Mix '0.3% as treatment D. The results weight cut duck who gives 100% commercial ration as control 1558.60 tail, whereas treatment B, C, D has a 2.09% cut weight, 5.09%, 5.08% was not significant (P> 0, 05) lower than the control. Heavy duck head on the perpetrator A 5.30%, while B 5.28% C 2.45% D 2.45%, 1.70% D unreal, lower than the control. Heavy neck duck on treatment A 8,, 09% while B 4.57%, C 10.26%, 0.37% D unreal, higher than the control. Heavy duck leg on treatment A 2.49%, 6.83%, while B, C 10.04% D 12.45% is not real, lower than the control. Treatment duck feather weight at a 6.71%, while 6.71% B, while B 0.60%, 7.30% and D is not significantly higher and 1.04% C handles not significant lower than the control. Based on the results of the study concluded that administration pollard 15%, 30% and 45% as a substitute as feed additives commercial with "Duck Mix" produce weight cut and the external offal Bali male ducks were not different from control.   Key words :  Weight Cut, Ducks, Offal External, Pollard, Ration
BLOOD AND MEAT CHOLESTEROL LEVELS OF MALE BALI DUCK WHICH GIVEN COMMERCIAL RATION SUPPLEMENTED WITH PAPAYA LEAF ( Carica papaya L ) MEAL Siti, Ni wayan; Sudana, I.B.; Budaarsa, Komang; Gaga Partama, I.B.
E-Journal Of Animal Science Udayana University Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : E-Journal Of Animal Science Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

An experiment was carried out to study the  levels of blood and meat cholesterol of male bali duck fed commercial diets supplemented papaya leaf (Carica papaya L) meal, in the Bali Provincial Laboratory. The design was completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 5 replications. The fourth treatment were100 % commercial ration without papaya leaf meal (A) ; 98% commercial ration supplemented 2% papaya leaf meal ( B ) ;  96% commercial ration  supplemented 4 % papaya leaf meal (C) and 94 % commercial ration supplemented 6 % papaya leaf meal (D). The variables measured were total cholesterol, triglycerides, LDL and HDL blood and meat of male bali duck. The results showed that papaya leaf meal supplemented in the commercial ration from 2-6 % can significantly reduced total cholesterol, triglycerides and LDL, and increased HDL blood and meat of male bali duck. From the results of this study it be concluded that papaya leaf meal supplemented in commercial ration 2-6 % can reduced total cholesterol, triglycerides and LDL, and increased HDL blood and meat of male bali duck.
PENGEMBANGAN PARIWISATA BERBASIS PERTANIAN DI KECAMATAN PENEBEL KABUPATEN TABANAN, BALI Witariadi, Ni Made; Soniari, Nengah; Siti, Ni Wayan; Suranjaya, Gede; Purnawan, Luh Ramaswati; Suparta, Made
Ngayah : Majalah Aplikasi IPTEKS Vol 6, No 2 (2015): Ngayah
Publisher : Ngayah : Majalah Aplikasi IPTEKS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (40.588 KB)

Abstract

Kecamatan Penebel adalah sentra produksi pertanian ( Sayur-sayuran) yang ada di Kabupaten Tabanan. Masalah utama yang dihadapi  adalah produk pertanian yang cepat rusak dan harga yang tidak stabil. Kondisi  seperti ini membutuhkan tehnologi memanen dan proses pemasaran untuk  meningkatakan produksi yang tahan lama dan memiliki nilai tambah. Masalah lainnya adalah tingginya pemakaian  pupuk dan pestisida pada hasil tanaman sayur yang berpengaruh terhadap kualitas produksi dan pencemaran lingkungan. Sementara limbah ternak dilokasi belum dimanfaatkan secara optimal, tetapi melalui pemanfaatan  teknologi fermentasi,  limbah dapat diproses  menjadi pupuk yang berkualitas. Metode yang digunakan pada program ini yaitu : (1)diskusi,(2) pelatihan dan  (3) pendampingan. Sedangkan  pendekatan yang digunakan adalah : (1) Model Technology Transfer (TT), (2) Model Entrepreneurship Capacity Building (ECB), (3) Model Information Technology (IT). Hasil kegiatan menunjukkan bahwa (1) kegiatan telah berjalan baik dicirikan oleh telah dicapainya beberapa target luaran seperti pengembangan padi lokal sistem organik, pengembangan lembaga subak sebagai lembaga pengelola paket wisata berbasis pertanian, alih teknologi pengolahan limbah pertanian menjadi pestisida dan pupuk organik yang terintegrasi dengan pertanian padi, dan pengembangan industri rumahan pengolahan hasil pertanian setempat; (2) masyarakat memberikan respon yang positif terhadap deseminasi teknologi yang disampaikan seperti terlihat pada tingginya partisipasi,  tingkat adopsi teknologi, serta penerapan teknologi tersebut secara mandiri oleh masyarakat; (3) terjalinnya sinergisme antara perguruan tinggi dengan perguruan tinggi mitra, pemerintah daerah dan masyarakat sehingga program pemberdayaan masyarakat dapat berjalan lebih efektif.
PRODUKSI AYAM SARANA RITUAL BAGI UMAT HINDU BALI MELALUI APLIKASI TEKNIK BREEDING Ardika, I Nyoman; Siti, Ni Wayan; Roni, N G K; Miwada, I N Sumerta
Ngayah : Majalah Aplikasi IPTEKS Vol 6, No 1 (2015): Ngayah
Publisher : Ngayah : Majalah Aplikasi IPTEKS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (40.588 KB)

Abstract

Ritual adalah salah satu aktifitas yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat Hindu Bali yang dikenal dengan istilah upakara. Salah satu kelengkapan yang digunakan ritual itu berasal dari ayam. Kegunaan ayam dalam ritual berhubungan dengan fenotipe ayam bersangkutan yang diekspresikan pada warna bulunya. Penerapan teknologi breeding dapat dilakukan untuk memanipulasi warna bulu pada ayam. Tujuan dari IbIKK satwa upakara ini adalah ( a). Sebagai sarana untuk komersialisasi kepakaran kampus dalam rangka memperoleh income generating bagi institusi (b) bagi mahasiswa untuk mengembangkan keterampilan berwirausaha berbasis hasil pengembangan Ipteks (c) membantu masyarakat untuk mendapatkan ayam keperluan ritual secara lebih mudah dengan harga yang lebih murah. Kegiatan unit IbIKK mencakup tiga aspek yaitu produksi, manajemen, dan pemasaran. Metode yang digunakan dalam kegiatan produksi yaitu dengan program breeding melalui kawin sodok. Penetasan dilakukan dengan menggunakan mesin tetas elektrik. Pengelolaan dilakukan oleh empat divisi yaitu divisi pengembangan ipteks, produksi, dan pemasaran. Pemasaran dilakukan secara langsung kepada konsumen.Hasil kegiatan menunjukkan bahwa indikator usaha seperti produksi, manajemen, pemasaran, fasilitas dan financial menunjukkan performa yang cukup baik. Jumlah produksi yang dihasilkan sendiri oleh unit IbIKK yaitu : telur sebanyak 800 butir seharga Rp 720.000, ayam berjumlah 1.188 ekor seharga Rp. 29.700.000. Produksi kelompok ternak mitra yaitu 1.600 ekor ayam seharga Rp. 40.000.000. Cash flow unit IbIKK tahun 2014 menunjukkan bahwa total aliran kas masuk sebesar Rp. 143.020.000 dan aliran kas keluar sebesar Rp. 128.403.000 dengan demikian pendapatan bersih sebesar Rp. 14.617.000.
PEMBERDAYAAN POTENSI MASYARAKAT DALAM PENGEMBANGAN PARIWISATA BUDAYA DI DESA TENGANAN, KECAMATAN MANGGIS KABUPATEN KARANGASEM, BALI Puja, I Nyoman; Astariyani, Ni Luh Gede; Suparta, I Made; Siti, Ni Wayan
Ngayah : Majalah Aplikasi IPTEKS Vol 7 No 1 (2016): Ngayah
Publisher : Ngayah : Majalah Aplikasi IPTEKS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (40.588 KB)

Abstract

Desa Tenganan dan Tenganan Dauh Tukad merupakan desa di Kecamatan Manggis Kabupaten Karangasem.Penduduk desa ini memiliki beberapa tradisi unik yang diwarisi secara turun-temurun diantaranya perang pandan, perang biu (pisang), dan prosesi perkawinan. Kerajinan merupakan salah satu mata pencaharian untuk menopang kehidupan masyarakat Tenganan Keunikan adat tradisi hidup masyarakat desa Tenganan telah menjadi atraksi wisata yang sangat menarik bagi wisatawan, sehingga menjadi paket wisata budaya unggulan di Bali. Namun demikian, partisipasi masyarakat dalam industri wisata tersebut terbatas pada menjadi objek saja sehingga tidak mendapatkan manfaat yang signifikan. Kondisi ini menuntut adanya upaya menentukan strategi khusus dan langkah-langkah dalam membangun perekonomian masyarakat. Strategi yang ditempuh adalah melalui pemberdayaan segenap potensi masyarakat secara sinergis, holistik dan berkelanjutan sehingga program yang dilakukan dapat berjalan secara efektif dan produktif. Metode yang digunakan dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat ini, diantaranya : (1) Penyuluhan, (2) Pelatihan, dan (3) Pendampingan. Pendekatan yang digunakan, yaitu: (1) model partisipatory rural appraisal (PRA), (2) model entrepreneurship capacity building (ECB), (3) model teknologi transfer (TT) dan (4) model informasi teknologi (IT). Secara umum dari keseluruhan kegiatan yang dilakukan yaitu:  (1) Sosialisasi dengan Pemda dan Masyarakat; (2) Pengembangan Desa Wisata Budaya; (3) Pengembangan Kerajinan Ate; (4) Revisi dan penulisan awig-awig desa adat.  Pengembangan desa budaya telah berhasil membentuk dan menguatkan ketrampilan kelompok pengelola pariwisata desa budaya Tenganan serta tercipta paket wisata trekking.  Kelompok pengrajin ate telah berhasil membuat variasi desain kerajinan yang inovatif serta hasil produk dengan finishing sesuai standard. Revisi dan penulisan awig-awig sudah menghasilkan draft awig-awig untuk selanjutnya disempurnakan dan ditulis dalam aksara Bali. Hasil evaluasi pelaksanaan kegiatan menunjukkan bahwa program IbW mendapatkan respon yang sangat positif dari pihak terkait dalam pemberdayaan masyarakat.
UPAYA MENINGKATKAN PENDAPATAN PETANI MELALUI PENGEMBANGAN PADI LOKAL SISTEM ORGANIK DI KECAMATAN PENEBEL, KABUPATEN TABANAN Suniti, Ni Wayan; Witariadi, Ni Made; Siti, Ni Wayan
Ngayah : Majalah Aplikasi IPTEKS Vol 7 No 1 (2016): Ngayah
Publisher : Ngayah : Majalah Aplikasi IPTEKS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (40.588 KB)

Abstract

Pengembangan pertanian oragnik merupakan upaya yang dilakukan untuk meningkatkan pendapatan petani serta meningkatkan keamanan pangan dan kklestarian lingkungan. Pengembangan Padi Lokal Tersertifikasi Organik bertujuan : (1) Penguatan kelembagaan tradisional petani (Subak) dalam pengembangan padi local organik; (2) aplikasi teknologi pertanian padi organik oleh petani;  (3) kemitraan pemasaran padi lokal organik; (4) pengembangan IRT pengolahan padi lokal organik; Metode yang diterapkan dalam pemberdayaan masyarakat pada kegiatan KKN PPM adalah sebagai berikut: (1) Kordinasi dan komunikasi secara partisipasif dengan kelompok petani  untuk merumuskan program mulai dari perencanaan, operasional dan evaluasi; (2) Penyuluhan untuk membangun persepsi dan pemahaman masyarakat mengenai inovasi atau program yang diterapkan; (3) Pelatihan dan simulasi mengenai terapan ipeks yang dialihkan bagi masyarakat; (4) Pendampingan yaitu pertemuan secara berkala dan berkelanjutan antara pendamping dengan masyarakat sasaran hingga ipteks yang dialihkan dapat dilaksanakan secara mandiri oleh masyarakat; Kegiatan yang dilakukan meliputi persiapan, operasional dan evaluasi. Kegiatan operasional meliputi: (1) Penyuluhan dan koordinasi pada anggota dan pengurus subak  jatiluwih; (2) Penguatan kelembagaan subak dalam penerapan pertanian padi local organik menuju sertifikasi organik; (3) Pelatihan alih teknologi fermentasi dalam pembuatan pupuk dan pestisida organik; (4) Pelatihan dan pembuatan demplot penerapan prosedur operasional pertanian padi lokal organik; (5) Temu usaha dan pembuatan MOU  kemitraan pemasaran produk beras padi local organik; Hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat menunjukkan bahwa kegiatan desiminasi ipteks dapat berlangsung dengan baik yang ditunjukkan dengan adanya partisipasi aktif dan daya adopsi ipteks yang tinggi, tumbuhnya kesepakatan pada anggota subak untuk menjadikan kelembagaan subak sebagai pelaksana usaha produksi padi lokal organic, dan terjalinya kemitraan  pemasaran padi lokal organik dengan pengusaha beras sehat Bali dan Perpadi (Persatuan Penggilangan Padi, Provinsi Bali) dengan harga produk sebesar Rp. 17.000 per kg.
The Supplementation of Virgin Coconut Oil (VCO) in The Ration To Increase Carcass Weight and Decrease Duck Meat Cholesterol Siti, Ni Wayan; Mudita, I Made
Jurnal Ilmu dan Teknologi Hasil Ternak (JITEK) Vol 4, No 2 (2009)
Publisher : Jurnal Ilmu dan Teknologi Hasil Ternak (JITEK)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (76.954 KB) | http://www.jitek.ub.ac.id/index.php/jitek/article/view/145

Abstract

An experiment was carried out at Kediri, Tabanan Regency and Animal Nutrition Laboratory to study the effect of the supplementation VCO in the ration to increase carcass weight and decrease duck meat cholesterol. The experiment used a completely randomized design (CRD) with five treatments and four replicates. Each of the replicate used five male Balinese ducks with the same weight. The five treatments were diets without VCO as a control (A), ration with 1% VCO (B), ration with 2% VCO (C), ration with 3% VCO (D) and ration with 4% VCO (E) respectively. Ration and water offered ad libitum. The variables measured were carcass weight, physical carcass composition and meat cholesterol. The result of this experiment showed that the carcass weight, the carcass percentage, the percentage of carcass meat in the B, C, D and E treatments were not significantly (P>0.05) higher than the control, so the percentage of fat carcass subcutan (including skin) and carcass bone percentage were not significantly (P>0.05) lower than the control. Triglyceride in treatment 3% VCO in diets (D) was significantly (P<0.05) higher than treatments B, C and E, but the HDL content in B, C, D and E the treatments were not significantly (P>0.05) higher than the control. The total cholesterol content and LDL in those four treatments were not significantly (P>0.05) lower than the control. From the result of this experiment can be concluded that the supplementation of 1-4% VCO in the ration has not increased to the carcass weight and decreased the duck meat cholesterol.   Keywords : VCO, duck, carcass weight, and  meat cholesterol
Suplementasi Urea Molasis Blok untuk Meningkatkan Penampilan Kambing Peranakan Etawah yang Diberi Pakan Hijauan Gamal Siti, Ni Wayan; Sucipta, I. G. M. A.; Mudita, I. M.; Partama, I. B. G.; Cakra, I.G.L.O.
Jurnal Agripet Vol 12, No 2 (2012): Volume 12, No. 2, Oktober 2012
Publisher : Agricultural Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (83.392 KB) | DOI: 10.17969/agripet.v12i2.203

Abstract

The supplementation of urea molasses block for increasing performance of ettawah crossbred goats fed diet containing gliricidia spium green forage ABSTRACT. The aimed of this experiment to study the supplementation of urea molasses block for performance increased of ettawah crossbred goats fed diet containing Gliricidia spium green forage has been conducted at Tabanan regency and Animal Nutrition Laboratory. The Latin Square Design which four treatments and four replicates was used in this experiment. The four treatments were the levels of urea molasses block : 0, 50, 100 and 150g respectively. The animal access to ad libitum Gliricidia spium green forage and drink water. The animal fed twice a day urea molasses block at the morning and at the afternoon. The variables which were observed including feed consumption, nutrient digestibility, body weight gain and feed conversion ratio. The result of this experiment showed dry matter feed consumption, drink water, nutrient digestibility of the four treatments is not significantly different (P >0.05). The body weight gain at treatment C was significantly higher (P <0.05), but feed conversion ratio (FCR) was significantly lower (P <0.05) than treatments A, B and D. From the results in this experiment it can be concluded that the used of urea molasses block 100g on the effect to increased the performance of ettawah crossbred goats with basal diet Gliricidia spium green forage.
Penggantian Sebagian Ransum Komersial dengan Polar dan Aditif Duck mix terhadap Komposisi Fisik Karkas Itik Siti, Ni Wayan; Cakra, I.G.L.O.; Wiyana, K. A.; Umiarti, A.T.
Jurnal Agripet Vol 9, No 2 (2009): Volume 9, No. 2, Oktober 2009
Publisher : Agricultural Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (92.575 KB) | DOI: 10.17969/agripet.v9i2.626

Abstract

The substitution a part of commercial feed with pollard and duck mix additive on duck carcass physic compositionABSTRACT. The aim of this experiment was to study pollard optimum levels with additive complex mineral vitamin on the carcass physic composition Balinese male duck age 10 weeks, was carried out at Jl. Binginambe, Kediri village, Tabanan Regency. The design which used in this experiment a completely randomized design Those four treatments were ration contain 100% commercial feed (A); ration with 85% commercial feed + 15% pollard + 0,3% duck mix (B); ration with 70% commercial feed + 30% pollard + 0,3% duck mix (C); ration with 55% commercial feed + 45% pollard + 0,3% duck mix (D), respectively. The variables which measured were carcass weight, carcass percent, and carcass physic composition. The result of this experiment showed that the substitution commercial feed with pollard from 15-45% and duck mix were not significant (P >0.05) decrease carcass percent, carcass bone percent than treatment A. Meat percent on treatment B 1.81% non significant (P>0.05) increase than treatment A, but C and D treatments 2.63% and 4.87% significantly increase than treatment A. Subcutan fat on C and D treatments 6.72% and 6.67% significant lower (P <0.05) than treatment A, and D treatment 4.91% significant lower than treatment B. From the result of this experiment can be concluded that substitution pollard from 15%-45% with additive 0.3% duck mix were decrease carcass percent and bone carcass percent, but substitution pollard 30% and 45% can increase meat carcass percent and decrease fat Balinese male duck age 10 weeks.