Sitawati Sitawati
Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Published : 28 Documents
Articles

Found 28 Documents
Search

RESPON TANAMAN CABAI HIAS (Capsicum spp.) TERHADAP FREKUENSI PEMANGKASAN DAN JENIS WADAH MEDIA TANAM PADA BUDIDAYA DI ATAP BANGUNAN (ROOF TOP) Tjitra, Karinna VandaLiana; Nurlaelih, Euis Ellih; Sitawati, Sitawati
Jurnal Produksi Tanaman Vol 6, No 8 (2018)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21176/protan.v6i8.843

Abstract

Budidaya di roof top membutuhkan tanaman yang tahan angin dan suhu serta mendapatkan material yang ringan pada kontruksi bangunan serta diperlukan pertumbuhan tanaman yang rendah dan pot yang ringan. Dalam penelitian ini digunakan tanaman cabai hias yang ada di polybag dengan pemangkasan lebih dari 1 kali dan pada beberapa macam pot. Tujuan penelitian ini ialah Mempelajari dan mendapatkan respon terbaik pada tanaman cabai hias terhadap frekuensi pemangkasan dan jenis wadah media tanam pada budidaya penanaman di atap bangunan (roof top). Penelitian dilaksanakan mulai  Juni hingga Oktober 2016 di Kecamatan Genting, Kelurahan Lowokwaru, Kabupaten Malang. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan 9 perlakuan diulang 3 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan kombinasi pemangkasan dan jenis wadah terdapat pengaruh yang nyata pada pengamatan tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, jumlah cabang, jumlah buah, bobot buah dan bobot kering kecuali waktu pertama munculnya bunga dan buah. Respon terbaik tanaman cabai hias ialah pada perlakuan pemangkasan 2 kali pada wadah polybag, memiliki luas daun 39%, jumlah cabang 50% dan jumlah buah sebesar 29% dibandingkan dengan perlakuan tanpa pemangkasan pada wadah pot liat.  Bobot basah pada polybag dengan menggunakan media tanam kompos dan tanah memiliki bobot lebih ringan (74,68%) dibandingkan dengan pot liat.
KAJIAN ETNOBOTANI MASYARAKAT DESA BERDASARKAN KEBUTUHAN HIDUP Syafitri, Friska Rahma; Sitawati, Sitawati; Setyobudi, Lilik
Jurnal Produksi Tanaman Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Produksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (193.631 KB)

Abstract

Etnobotani merupakan kaitan antara manusia dan tumbuhan. Etnobotani menggambarkan dan menjelaskan kaitan antara budaya dan kegunaan tumbuhan, bagaimana tumbuhan digunakan, dirawat dan dinilai memberikan manfaat untuk manusia. Suatu penelitian telah dilakukan untuk mengidentifikasi jenis tanaman yang ada pada Desa Jenggolo Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, mengidentifikasi pemanfaatan tanaman bagi warga Desa Jenggolo, menganalisis hubungan antara pemanfaatan tumbuhan dengan kebutuhan hidup masyarakat.. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Jenggolo, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang pada bulan Mei 2013 sampai dengan Juli 2013. Penelitian ini bersifat eksplorasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan survey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 68 % pekarangan di Desa Jenggolo memiliki pola pekarangan modern, Terdapat 155 jenis tanaman, yang didominasi fungsi kesehatan/ functional food sebesar 40.65%, estetika 38.71%, peneduh 12.90%, pangan 5.16% dan spiritual 2.58%. Petani lebih dominan untuk menanam tanaman kesehatan/functional food sebanyak 37.72%, sedangkan pengusaha kecil dan menengah, seniman, tukang batu dan kayu dan wiraswasta dominan tanaman hias yaitu 50.61%, 48.89%, 45.36% , 42%. Peningkatan luas halaman tidak di ikuti dengan peningkatan jumlah jenis tanaman (R2 = 0.31, y = 0.06x + 9.42). Tingkat ketergantungan masyarakat dengan tanaman yang dapat dikonsumsi dari pekarangan rumah. Ketergantungan petani terhadaptanaman di pekarangan 35%, sedangkan wiraswasta 2%. Kata kunci: Etnobotani, Profesi, Pekarangan, Fungsi Tanaman
EVALUASI KEINDAHAN DAN KENYAMANAN RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) ALUN-ALUN KOTA BATU Zahra, Amellia Firdaus; Sitawati, Sitawati; Suryanto, Agus
Jurnal Produksi Tanaman Vol 2, No 7 (2014)
Publisher : Jurusan Produksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.254 KB)

Abstract

Alun-alun Batu merupakan salah satu Ruang Terbuka Hijau umum di pusat kota Batu. Penelitian bertujuan mengetahui tingkat keindahan dan kenyamanan di Alun-alun Batu. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2012 yang bertempat di Alun-alun Kota Batu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ada 2 yaitu Scenic Beauty Estimation (SBE) untuk evaluasi keindahan dan Model RayMan untuk evaluasi kenyamanan. Sebagai perbandingan Model RayMan, digunakan juga metode Thermal Humidity Index (THI) untuk evaluasi kenyamanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Alun-alun Batu merupakan ruang terbuka hijau dengan perbandingan perkerasan dan vegetasi adalah 60:30. Model RayMan menunjukkan bahwa alun-alun ini mengalami kondisi yang tidak nyaman pada siang hari (pukul 06.00 sampai 15.00), memasuki kondisi nyaman pada jam 15.30 dan kembali pada kondisi tidak nyaman pada jam 18.00. Alun-alun Batu memiliki estetika tinggi (nilai SBE tinggi yaitu 102,6), tetapi memiliki waktu tidak nyaman selama 9 jam, lebih lama daripada waktu nyaman yang hanya 3 jam. Kata kunci: Alun-alun Batu, Scenic Beauty Estimation, Model RayMan, keindahan, kenyamanan
VEGETASI SEBAGAI PEREDUKSI CO2 UDARA AMBIEN TEPI JALAN Putra, Bayu Permata; Nawawi, Mochammad; Sitawati, Sitawati
Jurnal Produksi Tanaman Vol 2, No 8 (2014)
Publisher : Jurusan Produksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.659 KB)

Abstract

Vegetasi merupakan kumpulan tumbuh-tumbuhan, biasanya terdiri dari beberapa jenis yang tumbuh bersama-sama pada suatu tempat. Dalam mekanisme kehidupan bersama tersebut terdapat interaksi yang erat(Iwan, 2009). Penelitian dilakukan untuk untuk mengetahui peran vegetasi dalam menurunkan CO2 Udara Ambien di jalan Soekarno – Hatta Malang. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli 2013 sampai September 2013. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode observasi dengan pengumpulan data primer pada lokasi studi koridor Jalan Soekarno – Hatta pada 5 titik. Hasil pengamatan diperoleh 18 jenis pohon peneduh, kondisi CO2 udara ambien tertinggi terjadi pada pukul 16.00 (410,11 ppm), suhu udara tertinggi pada pukul 12.00 (30,58oC), kelembaban tertinggi pada pukul 07.00 (78,46 %) dan kecepatan angin tertinggi pada pukul 16.00 (2,95 m/s). Nilai CO2 tertinggi terdapat pada lokasi pengamatan depan POLTEK dengan nilai 413,56 ppm. Dari data yang diperoleh serta hasil dari pengolahan data terlihat vegetasi tidak terlalu berperan dalam menurunkan CO2 di jalan Soekarno – Hatta dikarenakan tanaman sendiri juga menghasilkan CO2 di malam hari sehingga masih terdapat konsentrasi CO2 di sekitar tajuk tanaman, yang lebih terlihat jelas adalah angin dalam mereduksi konsentrasi CO2 di jalan Soekarno – Hatta yang membantu tereduksinya konsentrasi CO2 di jalan Soekarno – Hatta (lokasi pengamatan dengan kerapatan tajuk 5 % kecepatan angin 3,25 m/s nilai CO2 388,37). Kata kunci : CO2, Vegetasi, Angin, Iklim Mikro.
PENGARUH BIOURINE SAPI DAN BERBAGAI DOSIS N TERHADAP TANAMAN KAILAN (Brassica oleraceae L.) Puspita, Putri Bella; Sitawati, Sitawati; Santoso, Mudji
Jurnal Produksi Tanaman Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Jurusan Produksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (328.955 KB)

Abstract

Tanaman kailan (Brassica oleraceae L.) merupakan sayuran yang memiliki kandungan gizi seperti protein, mineral, dan vitamin serta rasa daun dan batang yang manis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh biourine sapi dan dosis N dengan komposisinya yang terbaik pada tanaman kailan. Penelitian di-laksanakan di Dusun Ngujung, Batu. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial. Faktor 1 yaitu B1 = 10.000 ppm; B2 = 20.000 ppm; B3 = 30.000 ppm. Faktor 2 yaitu P1= 100% N anorganik (urea 220 kg ha-1); P2 = 50% N anorganik : 50% N organik (urea 110 kg ha-1 + pupuk kandang sapi 5 ton ha-1); P3 = 100% N organik (pupuk kandang sapi 10 ton ha-1). Sehingga didapatkan 9 perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi konsentrasi biourine dan dosis nitrogen pada semua parameter pertumbuhan dan hasil. Pemberian biourine 20.000 ppm dan pupuk anorganik 110 kg urea ha-1 dan pupuk organik 5 ton ha-1 memberikan hasil bobot segar total tanaman sebesar 21,28 ton  ha-1 dan meningkatkan 46,65% dari biourine 20.000 ppm dan pupuk organik 10 ton ha-1 sebesar 14,51 ton ha1.Kata kunci : Kailan, Biourine, Pupuk Kandang Sapi, Pupuk Anorganik (Urea).
Test of Various PGR and Concentrations to Shoot Cuttings on Chrysant Plant (Dendranthema grandiflora T.) Santoso, Mudji; Sitawati, Sitawati; Aprilia, Lia
PLANTROPICA: Journal of Agricultural Science Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Department of Agronomy, Faculty of Agriculture, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Chrysanthemum (Dendranthema grandiflora T.) seedling production in Indonesia is still limited, even still far from the requirement. Chrysanthemum is using shoot cuttings as propagation, it needs hormone to accelerate root growth and improve root quality that will ultimately improve the quality plants and fulfill the demand of this flowers. In this study, young coconut water and cow urine are alternative substitutions of synthetic plant growth regulator. The research was conducted in screenhouse which is using plastic UV as roof, at Sidomulyo, Malang with the altitude 700 meter above sea level. The study was conducted April until June 2009. The research was using Randomized Block Design with three repetitions. Treatment tested in this study were consist of: Without PGR (P0); Rootone F 1.2 g l-1 (P1); Rootone F 2.4 g l-1 (P2); Rootone F 3.6 g l-1 (P3); young coconut water 375 ml l-1 (P4); young coconut water 250 ml l-1 (P5); young coconut water 125 ml l-1 (P6); cow urine 150 ml l-1 (P7); cow urine 100 ml l-1 (P8); cow urine 50 ml l1 (P9). The result showed that every treatment had percentage 100% of shoot cutting which was having root formation, except treatment of Rootone F 1.2 g l-1 (P1) and without plant growth regulator (P0) which only got 86.67%. The number of root in treatment young coconut water 125 ml l-1 (P6) 23.17 was not significant different compared with young coconut water 375 ml l-1 (P4). The root length had a high value 2.76 cm by using Rootone F 3.6 g l-1 (P3). Treatment young coconut water 250 ml l-1 (P5) had the high value than the other treatments on variable length of stem, leaf area, number of leaves, flower initiation, and number of flowers.
EFIKASI ZAT PENGATUR TUMBUH ETEFON UNTUK MEMPERCEPAT PEMASAKAN BUAH MELON (Cucumis melo L.) R. Ginting, Raimundus; Sitawati, Sitawati; Heddy, Y. B. Suwasono
Jurnal Produksi Tanaman Vol 3, No 3 (2015)
Publisher : Jurusan Produksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (248.876 KB)

Abstract

Komoditas hortikultura yang mulai dikembangkan adalah tanaman melon varietas Action 434. Zat pengatur tumbuh yang sering digunakan untuk menyeragamkan kemasakan buah adalah dari golongan etilen. Etefon yang berbahan aktif etilen, dapat digunakan untuk menyerempakkan kemasakan buah sehingga pemanenan dapat dilakukan sekaligus terutama untuk sistem pemanenan mekanis. Penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi Etefon yang tepat untuk mempercepat pemasakan buah melon, menyerempakkan panen buah melon dan meningkatkan kemanisan buah melon (Brix). Penelitian ini telah dilaksanakan di desa Kademangan, Kecamatan Pagelaran, Kotamadya Malang pada bulan November 2011 hingga Februari 2012. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) diulang 4 kali dengan 7 perlakuan konsentrasi Etefon yaitu P1 = 25 ml.l-1, P2 = 50 ml.l-1, P3 = 60 ml.l-1, P4 = 75 ml.l-1, P5 = 100 ml.l-1, P6 = 120 ml.l-1, P7 = kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian konsentrasi Etefon 50 ml.l-1, 75 ml.l-1 dan 100 ml.l-1 mempercepat pemasakan buah 100% pada 4 hari setelah aplikasi (62 hst). Pada kelunakan buah dan kemanisan buah pemberian Etefon 75 ml.l-1 tidak berbeda nyata dengan buah melon yang tidak di semprot Etefon (kontrol), tetapi meningkatkan kemanisan buah melon sebesar 10,550Brix. Etefon dengan konsentrasi 75 ml.l-1 paling baik dalam mempercepat pemasakan buah dan menyerempakkan panen melon pada umur 62 hst atau 4 hsa etefon dengan tingkat kemanisan buah melon 10,55 oBrix. Buah melon yang tidak diaplikasikan etefon dipanen pada umur 71 hst dengan tingkat kemanisan buah 10,02 oBrix. Kata kunci: Etefon, Melon, Action 434, Zat Pengatur Tumbuh
EVALUASI PEMILIHAN JENIS DAN PENATAAN TANAMAN MEDIAN JALAN KOTA MALANG Prasanti Agus, Nurfathya Dwi; Nurlalelih, Euis Elih; Sitawati, Sitawati
Jurnal Produksi Tanaman Vol 3, No 4 (2015)
Publisher : Jurusan Produksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (401.461 KB)

Abstract

Pemilihan jenis dan penataan tanaman pada median jalan yang memiliki lebar <4 m harus memenuhi persyaratan sifat fisik, ekologi, dan 5 prinsip perancangan untuk mengoptimalkan fungsi tanaman pada median jalan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pemilihan dan penataan tanaman pada median jalan untuk mengetahui apakah pemilihan jenis dan penataan tanaman pada median jalan sudah sesuai dengan kriteria ekologi dan sifat fisik tanaman serta memberikan rekomendasi untuk perbaikan pemilihan jenis dan penataan tanaman. Penelitian ini dilakukan pada median Jalan Ahmad Yani, Jalan S.Parman, Jalan LetJen Sutoyo, Jalan J.A.Suprapto, dan Jalan Basuki Rahmat, Malang pada bulan April-Juni 2014. Metode yang digunakan adalah metode survey dengan mengumpulkan data di lapang yang selanjutnya dilakukan evaluasi berdasarkan ketentuan tanaman lanskap median jalan dan prinsip perancangan yang kemudian digunakan untuk memberikan rekomendasi. Berdasarkan data yang dihasilkan di lapang bahwa pemilihan jenis tanaman berdasarkan sifat fisik tanaman telah 100% memenuhi kriteria, sebanyak 12,5% tanaman kurang sesuai ditanam pada median jalan tanpa naungan, pemeliharaan tanaman median jalan tidak sesuai dengan aspek pemeliharaan tanaman median jalan, dan secara keseluruhan pada median jalan yang diamati sudah menerapkan 4 prinsip perancangan yaitu tema, irama, skala, dan keseimbangan. Dapat disimpulkan bahwa walaupun banyak dari kriteria pemilihan jenis dan penataan tanaman yang sudah terpenuhi, beberapa perbaikan perlu dilakukan pada aspek pemilihan jenis tanaman berdasarkan ekologi dan sifat fisik tanaman agar dalam aspek pemeliharaan tanaman pada median jalan dapat diminimalisir mengingat lebar median jalan yang sempit dapat menyulitkan terhadap pemeliharaan tanaman. Kata Kunci : Median Jalan, Pemilihan Jenis,  Ekologi Tanaman, Penataan Tanaman, Prinsip Perancangan,  Evaluasi.
Optimization of Plant Growth and Yield Through Innovation of the Verticultural Materials and Media Sitawati, Sitawati; Suryanto, Agus; Nurlaelih, Euis Elih
Research Journal of Life Science Vol 3, No 1 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (555.115 KB) | DOI: 10.21776/ub.rjls.2016.003.01.8

Abstract

Vertikultur is one of effort to agricultural of narrow as urban farming. Efforts to obtain plant container and plant medium on vegetables pakcoy to compare the productivity model of vertical planting and horizontally with the application of fertilizer on strawberry plants optimally. The first study aimed to determine the combination of growing medium and materials vertikultur which efficient and effective for pakchoy growth in vertikultur, then continued a second study that application of a combination of materials vertikultur and fertilizer N, P and K on the strawberry plants at planting vertical and horizontal models. Combination treatment is the first study consisted of the first factor is the material vertikultur form of carpet, gunny sacks and plastic, while the second factor is the growing media consisting of soil, humus, rice husk and cocopeat using a randomized design factorial with three replications conducted in Gresik, East Java. In the research into two, the first factor is a model of planting both horizontally and vertically, while the factor two is a dose of NPK (0%, 25%, 50%, 75% and 100%) on strawberry plants by using Design Grid Divided by 3 replications implemented in Batu, East Java. The results showed that the material vertikultur carpets and plastic with humus media have fresh weight pachoy same plant with soil media. Average penamaman with vertical and horizontal models have the same weight of strawberries where urea 3.75 g / tan, SP36 5g / tan and KCl 5 g / tan increase the yield per plant. 
TANGGAP PERTUMBUHAN DAN WARNA DAUN PUCUK MERAH (Syzygium oleana) PADA DOSIS PUPUK MgSO4 DAN TINGKAT NAUNGAN Larasati, Emira Dyah; Nurlaelih, Euis Ellih; Sitawati, Sitawati
Jurnal Produksi Tanaman Vol 6, No 9 (2018)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21176/protan.v6i9.884

Abstract

Penelitian tentang pengaruh dosis pupuk MgSO4 dan tingkat naungan terhadap pertumbuhan dan warna daun tanaman pucuk merah (Syzygium oleana) dilaksanakan di lahan percobaan Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP), Malang. Percobaan menggunakan Rancangan Petak Tersarang dengan 2 faktor dengan 3 kali ulangan. Petak utama adalah naungan terdiri dari 4 taraf, yaitu: tanpa naungan (cahaya 100%), naungan 25% (cahaya 75%), naungan 50% (cahaya 50%), dan naungan 75% (cahaya 25%). Sedangkan anak petak adalah dosis MgSO4 terdiri dari 3 taraf yaitu: tanpa pupuk MgSO4 (P0), dosis pupuk MgSO4 2 g/polybag (P1) dan dosis pupuk MgSO4 4 g/polybag (P2). Hasil penelitian menunjukan adanya interaksi nyata antara perlakuan naungan dan dosis MgSO4 pada pertambahan luas daun. Perlakuan pemberian dosis MgSO4 hanya berpengaruh pada pertambahan jumlah daun. Sedangkan, perlakuan naungan berpengaruh nyata terhadap hasil panjang tanaman, jumlah tunas, bobot segar dan kering total tanaman, dan warna daun. Tanaman pada perlakuan tanpa naungan dan 25% naungan didominasi warna  merah kecoklatan (Moderate Reddish Brown) dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Jumlah tunas yang dihasilkan lebih banyak dan memiliki warna daun cerah. Hal tersebut menunjukan bahwa tanaman pucuk merah masih dapat tumbuh dengan optimal pada intensitas cahaya 75%.