Tongku Nizwan Siregar
Bagian Klinik Hewan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana, Bali

Published : 38 Documents
Articles

Found 38 Documents
Search

KINERJA REPRODUKSI KAMBING LOKAL YANG DIINDUKSI SUPEROVULASI DENGAN ANTISERUM INHIBIN h, Hamdan; Nurcahaya, Dian; Siregar, Tongku Nizwan; Panjaitan, budianto; rizal, Husnur
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 6, No 1 (2012): J. Ked. Hewan
Publisher : Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (146.984 KB) | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v6i1.345

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian antiserum inhibin terhadap kinerja reproduksi kambing lokal. Dalam penelitian ini digunakan 12 ekor kambing betina lokal yang dibagi dalam 2 kelompok, kelompok kontrol dan perlakuan (KI dan KII), masing-masing terdiri atas 5 dan 7 ekor kambing. Seluruh kambing diinjeksi dengan 0,5 ml PGF2α (LutalyzeTM) secara intramuskulus, 2 kali injeksi dengan interval 10 hari. Pada kelompok perlakuan (KII), kambing diinjeksi dengan 500 μg antiserum inhibin pada hari ke-9 siklus dan diikuti penyuntikan 0,5 ml PGF2α 48 jam kemudian. Inseminasi dilakukan 10 jam setelah awal berahi dan diulang 12 jam kemudian. Parameter yang diamati adalah persentase berahi, kebuntingan, kelahiran, kelahiran kembar, jumlah anak total, dan jumlah anak per kelahiran. Hasil penelitian menunjukkan semua kambing (100%) pada kedua kelompok memperlihatkan berahi. Persentase kebuntingan pada KI dan KII masing-masing adalah 60,0 dan 57,1%. Angka kelahiran KI dan KII masing-masing adalah 100% dan persentase kelahiran kembar masing-masing adalah 0,0 dan 50,0%. Total jumlah anak pada KI dan KII masing-masing adalah 3 dan 6, dan rata-rata jumlah anak per kelahiran masing-masing adalah 1,0 dan 1,5 ekor. Perlakuan dengan antiserum inhibin dapat meningkatkan kinerja reproduksi kambing lokal.
MEASUREMENT OF SERUM TESTOSTERONE IN KACANG GOAT BYUSING ENZYME-LINKED IMMUNOSORBENT ASSAY (ELISA) TECHNIQUE: THE IMPORTANCE OF KIT VALIDATION (Pengukuran Testosteron Serum Kambing Kacang dengan Teknik Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA): Pentingnya Validasi Kit) G, Gholib; Wahyuni, Sri; Kadar, Okta Hilda; Adam, Mulyadi; Lubis, Triva Murtina; A, Azhar; Akmal, Muslim; Siregar, Tongku Nizwan; Armansyah, Teuku; Nugraha, Taufiq Purna
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 10, No 1 (2016): J. Ked. Hewan
Publisher : Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (223.054 KB) | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v10i1.3367

Abstract

This study was conducted to validate a commercial testosterone enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) kits (DRG EIA-1559) inanalytic and biological manner for measuring serum testosterone concentrations in kacang goats. This study used 18 healthy kacang goats, six bucks (>2 years), six kids (<6 months), and six does (>2 years). Blood samples were collected from jugular vein and prepared as serum. Two validation tests were performed, an analytical validation comprises a parallelism, accuracy, precision and sensitivity and a biological validation by comparing testosterone concentration from bucks, kids, and does. Testosterone concentrations were measured using ELISA technique. Data of analytical validation were analyzed descriptively and test of equality of slope was performed to see the parallelism between samples and standard curves. Analysis of variance (ANOVA) was used for biological validation data. Results of parallelism showed that sample curve was parallel to the standard curve. Accuracy, precision (% CV of intra-and inter-assay) and sensitivity of the assay were 99.65±4.27%, <10%, <15% and 0.083 ng/ml, respectively. Results of biological validation showed that the assay used were accurately measured testosterone which testosterone concentrations in bucks were significantly higher compared to kids and does (P<0.05). In conclusion, a commercial testosterone ELISA kits (DRG EIA-1559) is a reliable assay for measuring serum testosterone concentration in kacang goats. Key words: analytical and biological validations, ELISA, testosterone, kacang goat
Tampilan Reproduksi Kambing Lokal Hasil Induksi Superovulasi dengan Ekstrak Pituitary Sapi (THE REPRODUCTIVE PERFORMANCE OF LOCAL DOES FOLLOWING INDUCED SUPEROVULATION WITH CATTLE PITUITARY EXTRACTS) Siregar, Tongku Nizwan; Siregar, Indah Kesuma; Armansyah, Teuku; ., Syafruddin; Sayuti, Arman; ., Hamdani
Jurnal Veteriner Vol 14, No 1 (2013)
Publisher : Jurnal Veteriner

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

The aim of this study was  to determine the effect of pituitary extracts on the reproductive threeperformance of local does. This study used 15 local female does that were divided into three treatmentgroups.  Each group consisted of five does.  All does were injected with 7.5 mg Prostaglandin F2? /PGF2?(Prostavet C, Virbac S.A) intramuscularlly, twice in 10 days interval. In group 1 (K1), the does wereinseminated 36 hours after last PGF2? administration.  In group II (KII), does were injected with 500 IUpregnant mare serum gonadotropine/PMSG (Folligon ™, Intervet, Boxmeer, Holland) on day 9 cycles andfollowed with injection of 7.5 mg PGF2? two days after. In group III (KIII), goats injected with pituitaryextract on days 9, 10, and 11 cycles with decreasing dose :  2, 1, and; 0.5 ml intramuscular injection locatedat some point, followed with injection of 7.5 mg PGF2? 2 days after. The does on the KII and KIII wereinseminated 36 hours after PGF2? administration. Parameters measured were oestrous percentage,pregnancy, kidding rate, twinning, total of litter size, and averages litter size.  Results showed that alldoes (100%) from all groups showed estrous and kidding rate. Percentage of pregnant does group I, II, andIII were  60, 40, and 80%, respectively. Percentage of twinning group I, II, and III were 0, 50, and 25%.  Thetotal of litter size group I and II were 3 does, and group III were 5 does. The averages litter size group I, II,and III were 1; 1.5; and 1.25 respectively. In conclusion, treatment with pituitary extracts can increasereproductive performance of local does.
EFFECT OF AN INTRAVAGINAL PROGESTERONE IMPLANT ON SEX RATIO IN BEEF CATTLE = PENGARUH SUATU IMPLAN PROGESTERON INTRAVAGINA TERHADAP RASIO JENIS KELAMIN PADA SAPI POTONG Riady, Ginta; Siregar, Tongku Nizwan
Jurnal Sain Veteriner Vol 19, No 2 (2001): en
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Suatu penelitian mengenai efek suatu implan progesteron intravagina dalam CIDR-B (Eazibreedmi, InterAg. Hamilton, New Zealand) terhadap rasio jenis kelamin pada sapi potong telah dilakukan. Tujuan penelitan ini adalah menentukan efek perlakuan sinkronisasi birahi dengan progesteron dalam implan C1DR-B terhadap kelahiran anak sapi betina. Dua puluh enam sapi betina yang berumur antara 3 dan 7 tahun dibagi menjadi 2 kelompok yaitu 1) kelompok perlakuan dan 2) kelompok kontrol. Sinkronisasi birahi dilakukan pada kelompok perlakuan dengan cara memasukkan alat CIDR ke dalam vagina sapi selama 7 hafi. Dua puluh empat jam setelah pengeluaran alat CIDR, sapi-sapi perlakuan disuntik intramuskuler dengan estrogen benzoat (Cidiroff, InterAg, Hamilton, New Zealand) dan akhirnya diinseminasi buatan 24 jam kemudian. Sedangkan kelompok kontrol tidak dikenai prosedur sinkronisasi birahi dan diinseminasi hanya pada saat birahi alami. Semua sampel sapi diamati selama penelitian dan perbandingan jenis kelamin anak sapi dicatat pada saat kelahiran. Data mengenai rasio jenis kelamin dari kedua kelompok perlakuan dianalisis menggunakan uji khi-kuadrat dengan paket perangkat lunak statistik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kelompok perlakuan menghasilkan lebih banyak anak sapi betina dibandingkan dengan kelompok kontrol. Perbedaan antar perlakuan mengenai rasio jenis kelamin tidak berbeda nyata, yang kemungkinan disebabkan oleh terbatasnya jumlah sampel. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa progesteron dalam alat CIDR-B cenderung meningkatkan kelahiran anak sapi betina.
Evaluasi Daya Tahan Hidup Spermatozoa Kambing Peranakan Etawah dalam Beberapa Pengencer Sederhana Siregar, Tongku Nizwan; ., Hamdan
Jurnal Sain Veteriner Vol 22, No 2 (2004)
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

.
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK HIPOFISA SAPI TERHADAP PENINGKATAN PRODUKTIVITAS AYAM PETELUR PADA FASE AKHIR PRODUKSI A, Amiruddin; Siregar, Tongku Nizwan; A, Azhari; J, Jalaluddi; Z, Zulkifli; Rahman, Andre Afriadi; H, Hamdan
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 8, No 1 (2014): J. Ked. Hewan
Publisher : Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.364 KB) | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v8i1.1267

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh penyuntikan dan dosis optimal ekstrak hipofisa sapi terhadap peningkatan produktivitas ayam petelur fase akhir produksi. Sebanyak 60 ekor ayam petelur berumur 22-44 bulan yang telah mengalami penurunan produksi sekitar 50-60% yang terdapat pada peternakan ayam petelur Jantho Farm, Aceh Besar digunakan dalam penelitian ini. Seluruh ayam dibagi 6 kelompok perlakuan, masing-masing kelompok terdiri atas 10 ekor ayam petelur. Kelompok I, II, III, IV, V, dan VI masing-masing disuntik dengan 0,1 ml NaCl fisiologis, 15 IU PMSG; 0,1 ml ekstrak hipofisa sapi; 0,2 ml ekstrak hipofisa sapi; 0,3 ml ekstrak hipofisa sapi; dan 0,4 ml ekstrak hipofisa sapi. Injeksi dilakukan secara intramuskular pada otot dada setiap dua minggu sekali selama enam minggu.Total rata-rata produksi telur pada kelompok I; II; III; IV; V; dan VI masing-masing adalah 5,81+1,10; 4,28+1,04; 4,60+2,04; 5,43+1,45; 6,29+1,34; dan 5,74+1,17 butir. Total rata-rata berat telur pada kelompok I; II; III; IV; V; dan VI masing-masing adalah 65,27+1,61; 63,66+1,86; 65,38+3,51; 64,01+3,91; 66,20+1,67; dan 65,21+1,91 g sedangkan total rata-rata ketebalan cangkang telur pada kelompok I; II; III; IV; V; dan VI masing-masing adalah 0,43+0,02; 0,42+0,03; 0,43+0,02; 0,42+0,02; 0,43+0,02; dan 0,42+0,02 mm. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ekstrak hipofisa sapi dapat meningkatkan produktivitas ayam petelur pada fase akhir produksi dan dosis optimal ekstrak hipofisa adalah 0,3 ml.
Evaluasi Daya Tahan Hidup Spermatozoa Kambing Peranakan Etawah dalam Beberapa Pengencer Sederhana Siregar, Tongku Nizwan; ., Hamdan
Jurnal Sain Veteriner Vol 22, No 2 (2004): DESEMBER
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB) | DOI: 10.22146/jsv.481

Abstract

.
PROSES REGRESI CORPUS LUTEUM SAPI ACEH YANG DISINKRONISASI ESTRUS MENGGUNAKAN PROSTAGLANDIN F2 ALFA (PGF 2α) Melia, Juli; Lefiana, Delli; Siregar, Tongku Nizwan; -, Jalaluddin
Jurnal Medika Veterinaria Vol 7, No 1 (2013): J. Med. Vet.
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (475.918 KB) | DOI: 10.21157/j.med.vet..v7i1.2923

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui lama waktu proses regresi corpus luteum (CL) menggunakan teknik ultrasonografi (USG) pada sapi aceh yang disinkronisasi estrus dengan prostaglandin F2 alfa (PGF2α) secara intramuskular. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 10 ekor sapi aceh yang telah didiagnosis sehat secara reproduksi, umur 5-8 tahun, bobot badan 250-350 kg, dan mempunyai minimal 2 siklus regular dengan skor kondisi tubuh 3-4 pada skala skor 5. Pada hari ke-1 dilakukan diagnosis keberadaan CL, kemudian pada hari ke-2 dilakukan penyuntikan 25 mg PGF 2α secara intramuskular, dan pada hari ke-3 sampai hari ke-5 dilakukan pengamatan regresi CL. Data hasil penelitian dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk rataan dan simpangan baku. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa rataan diameter CL setelah penyuntikan PGF2α masing-masing adalah 6,25±2,71; 4,50±1,77; 3,25±0,89 mm. Gambaran proses regresi CL yang diamati menggunakan USG mengalami penurunan dari hari ke-1 sampai hari ke-3 setelah penyuntikan dan akan diikuti dengan ovulasi. Dapat disimpulkan bahwa PGF2α  melisiskan CL selama tiga hari sampai terjadinya peristiwa ovulasi.
PEMBERIAN EKSTRAK EPIDIDIMIS BERPOTENSI MENINGKATKAN KUALITAS SPERMATOZOA KAMBING JANTAN LOKAL Akmal, Muslim; Siregar, Tongku Nizwan; Wahyuni, Sri; Hambal, Muhammad; S, Sugito; A, Amiruddin; S, Syafruddin; R, Roslizawaty; Z, Zainuddin; Adam, Mulyadi; G, Gholib; Iskandar, Cut Dahlia; R, Rinidar; Asmilia, Nuzul; H, Hamny; J, Joharsyah; S, Suriadi
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 9, No 2 (2015): J. Ked. Hewan
Publisher : Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.3 KB) | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v9i2.2839

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian ekstrak epididimis (EE) terhadap peningkatan kualitas spermatozoa kambing jantan  lokal. Dalam penelitian ini digunakan 12 ekor kambing jantan lokal, berumur 1,5 tahun dengan bobot badan 10-15 kg dan dibagi atas empat kelompok (K0, KP1, KP2, dan KP3). Kelompok K0, hanya diinjeksi dengan NaCl fisiologis sedangkan kelompok KP1, KP2, dan KP3 diinjeksi EE masing-masing 1, 2, dan 3 ml/ekor selama 13 hari berturut-turut. Pada hari ke-14, dilakukan pengambilan semen kambing dengan elektroejakulator dan selanjutnya dilakukan pemeriksaan kualitas spermatozoa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian EE dengan dosis 1 dan 3 ml/ekor EE selama 13 hari berturut-turut menyebabkan peningkatan kualitas spermatozoa dibanding kelompok kontrol. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa EE berpotensi meningkatkan kualitas spermatozoa pada kambing jantan lokal.
The Effect of the Follicle Size and Follicle Number Per Ovary on Oocyte Quality of Local Goat Sayuti, Arman; Siregar, Tongku Nizwan; Akmal, Muslim; H, Hamdan; H, Hamdani
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 1, No 1 (2007): J. Ked. Hewan
Publisher : Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (120.639 KB) | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v1i1.3120

Abstract

This research was aimed to find out the relationship between the diameter of follicle and thedifferent of follicle number on oocyte quality of local goat. The oocyte originated from the ovary was takenfrom the Slaughterhouse in Banda Aceh. The ovary was aspirated in the Histology Laboratory ofVeterinary Medicine Faculty of Syiah Kuala University, Banda Aceh. This experiment consisted of twostages, the follicles were selected and divided into 3 groups according to their diameter size. The smalldiameter size <2 mm, medium size 2-5 mm, and big size >5 mm. The second, the ovaries were dividedinto three groups based on number of follicle, i.e; 1(≤5; 2(6-10); and 3 (≥11). The diameters of oocytetaken from the three groups of follicle size were measured by using eyepiece micrometer, while the oocytemorphology was categorized into 4 groups. The result of regression data indicated that the biggest folliclediameter yielded the oocyte that had bigger diameter, too. The model of regression is y = 0.955 + 0.157x, y is the diameter of oocyte and x is the diameter of follicle. The close relationship (r) between the diameter offollicle and the diameter of oocyte was 0.967. There are significant differences (P<0.05) between the size offollicle and the morphology of oocyte. The oocytes originated from larger follicle tend to have bettermorphological appearance than the oocyte originated from smaller follicle.Keywords: oocyte, follicle
Co-Authors Abdul Harris Afifuddin Afifuddin, Afifuddin Afriani Nur, Novi Afriani Nur Al-Azhar - Amiruddin -, Amiruddin Amiruddin A Andre Afriadi Rahman Aris Munandar Arman Sayuti Athaillah, Farida Aulanni’am a Azhar A, Azhar Azhari A Azhari Azhari Basuki B. Purnomo budianto panjaitan Cut Dahlia Iskandar Cut Nila Thasmi, Cut Nila Darmayanti, Susi Dasrul Dasrul Delli Lefiana, Delli Dian Nurcahaya Dwinna Aliza Efendi, Mefrianti Erdiansyah Rahmi Fauziah Fauziah Gholib G, Gholib Gholib Gholib, Gholib Ginta Riady Hafizuddin Hafizuddin, Hafizuddin Hafnati Rahmatan Hamdan . Hamdan h Hamdan Hamdan Hamdani . Hamdani H, Hamdani Hamny H, Hamny Hamny Hamny Hardyana Siregar, Siti Rizki Herri alfian Herrialfian H Herrialfian, Herrialfian Husnur rizal I. Ketut Mudite Adnyane, I. Ketut Mudite Idawati Nasution Indah Kesuma Siregar Ira Khubairoh Marpaung, Ira Khubairoh Jalaluddi J Jalaluddin - Joharsyah J, Joharsyah Juli Melia Khairil Khairil M. Aris Widodo Mahdi Abrar Muhammad Hambal Muhammad Jalaluddin, Muhammad Muhammad Rifki Mulyadi Adam, Mulyadi Muslim Akmal Nanda Yuliansyah, Nanda Nellita Meutia, Nellita Nuzul Asmilia Okta Hilda Kadar, Okta Hilda Rahayu, Yezi Gita Rahmandi r Ramadhana, Cut Erika Ramli, Mauridatun Rasmaidar Rasmaidar Razali Daud Razali Razali Reni Ayunanda, Reni Riani Desky, Riani Rinidar R, Rinidar Riski Ananda, Riski Roslizawaty r Sri Wahyuni Srihadi Agungpriyono Sugito s Sugito Sugito Suriadi S, Suriadi Sutiman B. Sumitro Syafruddin - Syafruddin . Syafruddin s Syafruddin Syafruddin T Armansyah, T T. Armansyah Taufiq Purna Nugraha, Taufiq Purna Teuku Armansyah Triva Murtina Lubis Wenny Novita Sari Wida Puspita Arum, Wida Puspita YUSRA YUSRA Zainuddin Z Zuhrawati Zuhrawati, Zuhrawati Zulkifli Z Zuraidawati -, Zuraidawati