Victor Silaen
Program Studi Ilmu Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik – UPH Tangerang, Banten E-mail: victorsilaen@gmail.com

Published : 5 Documents
Articles

Found 5 Documents
Search

Pembangunan Berbasis Identitas Budaya Nasional Silaen, Victor
PAX HUMANA Vol 2, No 1 Jan (2015)
Publisher : Yayasan Bina Darma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1739.564 KB)

Abstract

Develops the nation is mean develop it human being. Develops human being  is mean improves its culture. Because that basic, so the progress of a nation  basically is re;lection of super power of it culture. So, how far the progress of  economic, political, and all of progress that received a nation is depend on  cultural value that preservation by its nation. For it, in the future, Indonesia  must be create a cultural developing as most vital agenda and urgent  agenda. It is mean all of policy of the government must be oriented to make  good education and enlighten society over the education sector or other  sector. Education is not just formal kind (school/higher education) but also  non formal education (out of school or higher education). Because, through  the education logic and potential of human being can be improved. And, if  both of it improving can cause human being be creative and innovative. This  is the big and important capital in development. In other side, Indonesian  nationalism also must be stabilizing, and must be based on democracy that  facilited the same participation space to every person in society and honour  the human right and law. Keywords: Culture, the values of culture, religion, national culture,  evelopment.
PERJUANGAN HAK-HAK SIPIL DALAM KONTEKS POLITIK LOKAL Silaen, Victor
Sociae Polites Vol 5 No 23 (2005): Juli-Desember
Publisher : Sociae Polites

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Gerakan rakyat dalam rangka menentang kehadiran perusahaan raksasa Indorayon di Desa Sosorladang, Porsea, telah dimulai sejak lahir 1980-an. Dalam tulisan ini, kurun waktu tersebut dibagi menjadi dua babak. Pertama, ketika lingkup gerakan masih sebatas lokal. Kedua, ketika lingkup gerakan sudah meluas dan berjaring dengan kelompok-kelompok lainnya, baik secara nasional maupun lintasnegara. Tapi, hingga kini, Indorayon masih berdiri tegak. Dalam perpsektif ilmu politik, gerakan rakyat yang dikategorikan sebagai Gerakan Sosial Baru itu bukan berarti tidak efektif sama sekali. Karena, bagaimanapun, pihak Indorayon sendiri sudah mengalami beberapa “kekalahan” dalam menghadapi perlawanan rakyat. Memang, tujuan utama gerakan penyebabnya, yang utama karena Indorayon sebagai perusahaan swasta memiliki patronase politik dengan kekuatan yang sangat besar dan selalu siap membela serta mendukungnya. Patron yang dimaksud adalah negara, sementara Indorayon adalah adalah kliennya. Ada relasi erat dan kuat yang mencerminkan adanya simbiose mutualistik antara penguasa dan pengusaha dalam kasus ini.
Kristen dan Kenaifan Politik: Kritik atas Sikap Politik PGPI dalam Pilpres 2014 Silaen, Victor
Societas Dei: Jurnal Agama dan Masyarakat Vol 2, No 1 (2015): Societas Dei: Jurnal Agama dan Masyarakat
Publisher : Reformed Center for Religion and Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (764.356 KB) | DOI: 10.33550/sd.v2i1.59

Abstract

ABSTRACT: Politics is an aspect and a system that is very important in the lives of citizens. All citizens including Christians cannot shy away from politics, because of politics produce various public policies. Thus Christians are supposed to take part in political life, not only in the electoral arena, but also in other areas. In the event the election, churches should not be nae. Churches must wisely give political enlightenment to their congregations, instead of the other way, lead the congregation to elect candidates of certain leaders. Thus the "political letter" issued by PGPI during the 2014 Presidential Election should be criticized as nae, since the content dictated the churches under PGPI. In addition, issues brought up in the letter were entirely unfounded. It is no surprise that PGPI Chairman, Rev. Dr. Jacob Nahuway, MA, received much criticism and scorn. KEYWORDS: politics, political participation, power, nation, country, religion.
Perang Bush, Perang Keadilan? Silaen, Victor
Sociae Polites Vol 5 No 19 (2003): Januari-Juni
Publisher : Sociae Polites

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/sociae polites.v5i19.1011

Abstract

Wacana tentang invasi pasukan militer Amerika Serikat (AS), yang dibantu pasukan militer Inggris, ke Irak sudah berlalu. Kini, berita-berita soal perang besar yang dikobarkan oleh Presiden AS George Walker Bush itu sudah lain substansinya. Persoalan sekarang adalah bagaimana memulihkan situasi-kondisi di Irak pasca-perang. Bagaimana masa depan Negeri 1001 Malam itu di bawah pemerintahan sementara AS, yang dipimpin Jay Garner, itulah pertanyaan besarnya. Dalam arti, apakah Irak akan berkembang menjadi sebuah negara demokratis baru di wilayah Timur Tengah? Jawabannya tentu tak bisa dipastikan sekarang. Memang, sejarah mencatat tentang negara-negara yang demokratis. Misalnya saja di Filipina, yang setelah dikoloni AS kelak berkembang menjadi negara demokratis dan menjadi sekutu negara adidaya itu. Demikian halnya dengan Jepang, yang setelah digempur AS justru berkembang menjadi negara demokratis baru dan makmur pula. Tapi, Irak berbeda dengan kedua negara itu. Sebab, sebagai bangsa, ia terdiri atas berbagai suku (juga sekte keagamaannya) yang membuatnya menjadi sangat heterogen. Sedangkan Filipina dan Jepang relatif homogen. Didasarkan itulah, upaya merekonstruksi Irak pascaperang agaknya memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi. Tulisan ini tak bermaksud menyoroti hal-hal yang masih predictable di Irak itu. Sebaliknya, tulisan ini bertujuan kembali mewacanakan perang, sebagai sebuah persoalan yang banyak menimbulkan debat pro dan kontra. Apakah dewasa ini berperang merupakan sesuatu yang diperbolehkan dan masih dapat dibenarkan? Itulah pertanyaan utamanya. Tak mudah, memang, untuk menjawabnya. Apalagi dikaitkan dengan perang AS-sekutu versus Irak itu, yang secara faktual telah menimbulkan dua kubu: ada yang kontra, tapi tak sedikit pula yang pro Bush. Kedua kelompok itu tentu memiliki alasannya masing-masing. Itu sebabnya kita perlu menimbangnya secara komprehensif. Bagian berikut tulisan ini mencoba menganalisa perang dari berbagai perspektif. Perang yang dimaksud dalam konteks ini adalah perang yang bersifat fisik, yang tentu saja mengandung kekerasan sebagai hakikatnya.
Memerangi Terorisme Agama Pascatewasnya Noordin M. Top Silaen, Victor
Sociae Polites Vol 10 No 28 (2009): Juli-Desember
Publisher : Sociae Polites

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/sociae polites.v10i28.1075

Abstract

Tewasnya Noordin M. Top tak serta-merta membuat ancaman dan bahaya terorisme mati bersamanya. Menjadi buronan hampir sewindu, pria asal Malaysia itu menyisakan sejumlah warisan: jaringan yang kuat, cair, menyebar, mampu menyerang, dan diduga sudah terkoneksi dengan jaringan internasional. Sosoknya bahkan telah menjadi pahlawan di mata para teroris muda yang telah berhasil direkrutnya selama ini. Itu sebabnya, gerakan terorisme agama masih harus terus diwaspadai. Untuk itulah kritisisme beragama harus dikembangkan dengan melibatkan elemen-elemen masyarakat sipil. Selain itu mungkin sudah saatnya menyambut positif gagasan pelibatan TNI dalam memerangi terorisme, dengan sebelumnya membuat pengaturan khusus agar aparat kepolisian tidak merasa diintervensi atau dilecehkan.