Articles

Found 10 Documents
Search

Kualitas Tulang Tikus Betina Normal yang Diberi Ekstrak Sipatah-patah pada Masa Pertumbuhan

Jurnal Veteriner Vol 12, No 2 (2011)
Publisher : Jurnal Veteriner

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The experiment was designed to study the effects of sipatah-patah extract (ESP) on bone growth ingrowing female rats in order to prevent osteoporosis during postmenopausal period. Twenty growing femaleSprague Dawley rats in similar body weight were used with the average of age was 20 days old. Theexperimental rats were randomly divided into 5 (five) groups: control group (NOV-0, administered carboxylmethyl cellulose 1%) and groups administered ESP at the age of 30 days (NOV-1), 60 days (NOV-2), 90days (NOV-3), and 120 days (NOV-4) with dosage of 750 mg/kg body weight daily. Blood samples werecollected every 30 days to analyze serum calcium and phosphate concentrations. At the end of the treatment(180 day old), all of the animals were sacrificed to measure and analyze bone growth histologically. Ostibia-fibula slice was stained by using Hematoxylin Eosin (HE) method to observe osteoblast and osteoclastdensities, while Masson trichrome was used to observe trabeculae structure. The results showedadministration of ESP in rat during growing period improved bone growth. NOV-1 with longer duration(150 days) showed better growth rate with longer femur, optimum serum calcium, and phosphateconcentrations, and higher number of osteoblast with lower osteoclast densities compared to control rats(NOV-0). It was concluded that giving ESP at earlier age with longer duration during growth period couldimprove bone growth. This condition was expected could also improve the bone conditions during growingperiod.

KELAINAN BANGUN ANATOMIS KUKU KUDA KOLEKSI LABORATORIUM ANATOMI FKH IPB

Jurnal Veteriner Vol 10, No 1 (2009)
Publisher : Jurnal Veteriner

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The objective of this study is to observe the anatomical structure of horse hooves collected from the Laboratory of Anatomy FKH IPB. Twenty five hoof specimens, consisting of ten fore hooves and fifteen hind hooves were used as research materials. The external morphology such as color, angle, structure and condition of the hoof wall were described. The observation on external morphology showed that the hooves have two basic colors, black and white. Generally, all of the hoof specimens showed abnormalities in such aspect as angle, structure and condition of the wall. The structures of fore hoof and hind hoof from this study are classified into 8 categories, they are: flat foot, flared foot, knol hoef, fever rings, sand crack, club foot, contracted foot and bull nosed foot.

Beberapa Aspek Makro dan Mikroanatomi otak tikus (Rattus sp.) yang mengalami hipotiroid

Hemera Zoa Vol 77, No 1 (1995): Jurnal Hemera Zoa
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (541.713 KB)

Abstract

Perlakuan hipotiroidosme maternal dan fetal pada tikus sampai berurnur 10 minggu, memberikan dampak pada perkembangan somatis dan otak. Secara kuantitatif, hasil penelitian ini menunjukkan penurunan bobot tubuh dan otak, volume otak. Berdasarkan berat relatif otak terhadap bobot tubuh, pertumbuhan otak tetap menjadi prioritas dalam keadaan hipotiroidisme. Beberapa parameter mikroskopik, menunjukkan penurunan tebal korteks, kepadatan serabut syaraf subkortikal, dia metersel syaraf korteks dan hipokampus juga jumlah sel syaraf dan penunjang pada korteks serebri.

Neurogliosis in Foetal Cerebrum of Rat (Rattus norvegicus) Originated From Hypothyroid Mother

Media Veteriner Vol 4, No 2 (1997): Media Veteriner
Publisher : Media Veteriner

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1378.941 KB)

Abstract

Pengamatan atas korteks serebri dan kepadatan populasi jaringan otak telah dilakukan terhadap serebrum fetus tikus (Rattus norveg;cus) dari induk hipotiroid, hasil induksi dengan tiourea 0,6 % dalam air minum. Sampai dengan umur kebuntingan 14 hari tidak diperoleh perubahan. Penipisan korteks serebri dan peningkatan kepadatan populasi jaringan otak secara nyata terjadi pada umur fetus hari ke 18, 21 dan neonatal (P

Berbagai tipe Bangun Anatomi Hati Kancil (Tragulus sp.)

Hemera Zoa Vol 77, No 2 (1995): Jurnal Hemera Zoa
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (707.137 KB)

Abstract

Telah diteliti anatomi hati 9 ekor kancil Indonesia yang terdiri dari 2 ekor Tragulus javanicus dan 7 ekor Tr napu. Dari penelitian ini ditemukan 4 tipe hati. Tipe pertama, satupreparat, hati yang tidak mempunyai processus caudatus dan processus papillaris. Tipe kedua, 3 preparat, yaitu mempunyai processus caudatus yang tumbuh subur dan processus papillaris berujung runcing. Tipe ketiga, 3 preparat, mempunyai processus caudatus dan processus papillaris yang menghadap ke abomasum dan melengkung ke arah lobus kiri. Tipe keempat, tidak mempunyai processus caudatus tetapi mempunyai processus papillaris yang mengapit duodenum pada processus quadratus. Keempat tipe hati ini tidak sesuai dengan spesies kancil yang diteiti, bahkan 2 ekor Tr. javanicus yang diteliti mempunyai tipe hati berbeda. Karena itu perlu diteiiti lebih lanjut tentang subspesies atau spesies kancil di Indonesia, tidak hanya berdasar kepada ukuran tungkai, berat badan, warna bulu dan garis punggung saja, tetapi juga dilengkapi dengan pengamatan anatomi organ, analisis protein dan teknik lain yang mendukung. 

aman Imunohistokimia Perkembangan Bentuk Neuron Atekolaminergik Pada Area Postrema Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis)= Morphological Development of Catecholaminergic Neurons in the Area Postrema of Long-tailed ..

Jurnal Sain Veteriner Vol 24, No 1 (2006)
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2980.906 KB)

Abstract

Area postrema merupakan sepasang penonjolan ke dorsal pada bagian kaudal medula oblongata yang berbatasan dengan ventrikel IV. Area ini berperan sebagai chemoreceptor trigger zone (CTZ) pada proses muntah yang juga melibatkan neuron katekolaminergik (neuron KA). Pada kemoterapi penderita kanker, fungsi AP sebagai CTZ diupayakan untuk ditekan agar tidal( ada refleks muntah pada pasien. Dalam rangka lebih memahami neuron KA tersebut, dalam penelitian ini dilakukan pengamatan perkembangan bentuk neuron KA di area postrema (AP) monyet ekor panjang (MEP) mulai fetus (F) umur 40 sampai anak (P) umur 105 hari secara imunohistokimia menggunakan antibodi terhadap enzim tirosin hidroksilase (TH). Hasil penelitian memperlihatkan neuron KA di medula oblongata belwn terlihat pada F40, dan bare dijumpai pada F55 di daerah bakal AP, bentuk bulat dengan inti besar dengan sitoplasma sedikit yang merupakan ciri perkembangan awal bentuk neuron. Prosesus sitoplasma yang pendek pada mulai ditemukan pada F85, dan neuron KA di AP berubah menjadi bipolar pada F100 yang merupakan tanda perkembangan menengah bentuk neuron. Dengan bertambahnya umur, prosesus sitoplasma neuron KA bipolar bertambah panjang yang merupakan ciri tingkat perkembangan bentuk akhir dan ditemukan dominan di AP pada P105. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa neuron KA di AP pada MEP berada dalam stadium perkembangan bentuk awal dan menengah selama masa prenatal, dan stadium perkembangan lanjut menuju ke perkembangan akhir terjadi pada masa postnatal.

Kajian Imunohistokimia Perkembangan Bentuk Neuron Atekolaminergik Pada Area Postrema Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis)= Morphological Development of Catecholaminergic Neurons in the Area Postrema of Long-tailed..

Jurnal Sain Veteriner Vol 24, No 1 (2006)
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2980.906 KB)

Abstract

rea postrema merupakan sepasang penonjolan ke dorsal pada bagian kaudal medula oblongata yang berbatasan dengan ventrikel IV. Area ini berperan sebagai chemoreceptor trigger zone (CTZ) pada proses muntah yang juga melibatkan neuron katekolaminergik (neuron KA). Pada kemoterapi penderita kanker, fungsi AP sebagai CTZ diupayakan untuk ditekan agar tidal( ada refleks muntah pada pasien. Dalam rangka lebih memahami neuron KA tersebut, dalam penelitian ini dilakukan pengamatan perkembangan bentuk neuron KA di area postrema (AP) monyet ekor panjang (MEP) mulai fetus (F) umur 40 sampai anak (P) umur 105 hari secara imunohistokimia menggunakan antibodi terhadap enzim tirosin hidroksilase (TH). Hasil penelitian memperlihatkan neuron KA di medula oblongata belwn terlihat pada F40, dan bare dijumpai pada F55 di daerah bakal AP, bentuk bulat dengan inti besar dengan sitoplasma sedikit yang merupakan ciri perkembangan awal bentuk neuron. Prosesus sitoplasma yang pendek pada mulai ditemukan pada F85, dan neuron KA di AP berubah menjadi bipolar pada F100 yang merupakan tanda perkembangan menengah bentuk neuron. Dengan bertambahnya umur, prosesus sitoplasma neuron KA bipolar bertambah panjang yang merupakan ciri tingkat perkembangan bentuk akhir dan ditemukan dominan di AP pada P105. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa neuron KA di AP pada MEP berada dalam stadium perkembangan bentuk awal dan menengah selama masa prenatal, dan stadium perkembangan lanjut menuju ke perkembangan akhir terjadi pada masa postnatal.

aman Imunohistokimia Perkembangan Bentuk Neuron Atekolaminergik Pada Area Postrema Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis)= Morphological Development of Catecholaminergic Neurons in the Area Postrema of Long-tailed ..

Jurnal Sain Veteriner Vol 24, No 1 (2006): JUNI
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Area postrema merupakan sepasang penonjolan ke dorsal pada bagian kaudal medula oblongata yang berbatasan dengan ventrikel IV. Area ini berperan sebagai chemoreceptor trigger zone (CTZ) pada proses muntah yang juga melibatkan neuron katekolaminergik (neuron KA). Pada kemoterapi penderita kanker, fungsi AP sebagai CTZ diupayakan untuk ditekan agar tidal( ada refleks muntah pada pasien. Dalam rangka lebih memahami neuron KA tersebut, dalam penelitian ini dilakukan pengamatan perkembangan bentuk neuron KA di area postrema (AP) monyet ekor panjang (MEP) mulai fetus (F) umur 40 sampai anak (P) umur 105 hari secara imunohistokimia menggunakan antibodi terhadap enzim tirosin hidroksilase (TH). Hasil penelitian memperlihatkan neuron KA di medula oblongata belwn terlihat pada F40, dan bare dijumpai pada F55 di daerah bakal AP, bentuk bulat dengan inti besar dengan sitoplasma sedikit yang merupakan ciri perkembangan awal bentuk neuron. Prosesus sitoplasma yang pendek pada mulai ditemukan pada F85, dan neuron KA di AP berubah menjadi bipolar pada F100 yang merupakan tanda perkembangan menengah bentuk neuron. Dengan bertambahnya umur, prosesus sitoplasma neuron KA bipolar bertambah panjang yang merupakan ciri tingkat perkembangan bentuk akhir dan ditemukan dominan di AP pada P105. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa neuron KA di AP pada MEP berada dalam stadium perkembangan bentuk awal dan menengah selama masa prenatal, dan stadium perkembangan lanjut menuju ke perkembangan akhir terjadi pada masa postnatal.

Kajian Imunohistokimia Perkembangan Bentuk Neuron Atekolaminergik Pada Area Postrema Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis)= Morphological Development of Catecholaminergic Neurons in the Area Postrema of Long-tailed..

Jurnal Sain Veteriner Vol 24, No 1 (2006): JUNI
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

rea postrema merupakan sepasang penonjolan ke dorsal pada bagian kaudal medula oblongata yang berbatasan dengan ventrikel IV. Area ini berperan sebagai chemoreceptor trigger zone (CTZ) pada proses muntah yang juga melibatkan neuron katekolaminergik (neuron KA). Pada kemoterapi penderita kanker, fungsi AP sebagai CTZ diupayakan untuk ditekan agar tidal( ada refleks muntah pada pasien. Dalam rangka lebih memahami neuron KA tersebut, dalam penelitian ini dilakukan pengamatan perkembangan bentuk neuron KA di area postrema (AP) monyet ekor panjang (MEP) mulai fetus (F) umur 40 sampai anak (P) umur 105 hari secara imunohistokimia menggunakan antibodi terhadap enzim tirosin hidroksilase (TH). Hasil penelitian memperlihatkan neuron KA di medula oblongata belwn terlihat pada F40, dan bare dijumpai pada F55 di daerah bakal AP, bentuk bulat dengan inti besar dengan sitoplasma sedikit yang merupakan ciri perkembangan awal bentuk neuron. Prosesus sitoplasma yang pendek pada mulai ditemukan pada F85, dan neuron KA di AP berubah menjadi bipolar pada F100 yang merupakan tanda perkembangan menengah bentuk neuron. Dengan bertambahnya umur, prosesus sitoplasma neuron KA bipolar bertambah panjang yang merupakan ciri tingkat perkembangan bentuk akhir dan ditemukan dominan di AP pada P105. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa neuron KA di AP pada MEP berada dalam stadium perkembangan bentuk awal dan menengah selama masa prenatal, dan stadium perkembangan lanjut menuju ke perkembangan akhir terjadi pada masa postnatal.

ANATOMIALAT PENCERNAAN IKAN BUNTAL PISANG (Tetraodon lunaris) [Anatomy of The Digestive Apparatus of The Puffer Fish Tetraodon lunaris]

Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 6, No 1 (2006): Juni 2006
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (MII )

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (412.106 KB)

Abstract

This research was aimed to study not only on gross morphologically but also on the histological structure of the Tetraodon lunaris digestive apparatus. The fish samples were obtained from a fisherman at the fish auction in Pelabuhan Ratu, from August 2005 until March 2006. The ratio between intestine and length/body length represented that this fish is carnivorous. The esophagus is short and the gastric forms a simple pouch with two of small diverticula. The intestine consists of a single loop. The esophagus and gastric mucous layer is covered with epithelial stratified cells. The intestine mucous layer has covered with a layer of columnar epithelial cells. The esophagus and gastric muscular layer consist of striated muscle. The sphincter pylorica and the intestine muscular layer consist of smooth muscle. The anus mucous layer consits of epithelial cuboid and it has the muscular layer of striated muscles. The liver has oval-shaped greenish vesica fellea with ductus choledochus emptied at the anterior part of intestine. The hepatocyt cells have a polygonal shape with lipid droplets in its. The exocrine glands of the pancreas tissue showed a set of acinar cells in the liver parencyhm, around portal vein, hepatic artery and biliary ductules.