Muhammad Ilham Shaleh
Dosen di FAH UIN Alauddin Makassar

Published : 7 Documents
Articles

Found 7 Documents
Search

Hawa` Dalam Perspektif Al-Quran (Studi Pendekatan Tafsir Maudhu`iy) Shaleh, Muhammad Ilham
Jurnal Adabiyah Vol 13, No 2 (2013): Jurnal Adabiyah
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (387.871 KB)

Abstract

This writing explrores the term hawa and its meaning in al-Quran. This term is found as many as 36 times in various meanings and functions.It sometimes means a desire refering to kindness, sometimes to badness, empity and so forth.  Generally ulama interprites hawa as the inclination to love worldly life. Human being who is always busy with wordly life and ignores even forgets God has regarded hawa as his God. Such this human being will be funished by God not only in hereafter, also in his life in the world.
Filsafat Jiwa Dalam Al-Qur`An Shaleh, Muhammad Ilham
Jurnal Adabiyah Vol 14, No 1 (2014): Jurnal Adabiyah
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (192.605 KB)

Abstract

Jiwa dalam al-Quran disebutkan dengan term al-Aql, al-Nafs, al-Qalbu, al-Fuad, al-Lubab dan al-Ruh. Jiwa mempunyai daya-daya. Daya inilah yang memberi kemampuan kepada jasad dan memunculkan kekuatan yang maha dahsat, sehingga mampu menembus ruang dan waktu dalam melakukan aktifitasnya. Dan yang pasti, bahwa jiwalah yang mampu menembus dan mengenal Allah bukanlah jasad. Jasad hanya sebagai alat, jasad bagai wayang dan jiwa bagai dalangnya. Jiwalah yang nantinya akan mendapat pembalasan di akhirat apakah mendapatkan kebahagiaan ataukah kesengsaaan. Walaupun realitasnya yang melakoni semaunya adalah jasad.
البوصيرى شاعر المدائح النبوية (دراسة مقارنة أدبية) Shaleh, Muhammad Ilham
Diwan : Jurnal Bahasa dan Sastra Arab Vol 3, No 1 (2017): Diwan
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Arab Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan sosok al-Busairi sebagai sosok sastrawan Islam yang kasidah-kasidahnya terkenal karena pujian kepada pribadi nabi Muhammad saw. Burdah adalah nama untaian syair qasidah yang digubah oleh seorang sastrawan besar pada abad pertengahan yang bernama Imam Bushaery. Untaian syair ini selalu dilagukan para munsyidun atau pelantun syair dan nyanyian dengan suara merdu di seluruh dunia khususnya di hari-hari maulid. Syair al-Busairi dikenal sangat indah dan tinggi nilai seninya.
Hawa` Dalam Perspektif Al-Quran (Studi Pendekatan Tafsir Maudhu`iy) Shaleh, Muhammad Ilham
Jurnal Adabiyah: Humanities and Islamic Studies Vol 13, No 2 (2013): Jurnal Adabiyah
Publisher : Faculty of Adab and Humanities - Alauddin State Islamic University of Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (387.871 KB)

Abstract

This writing explrores the term hawa and its meaning in al-Quran. This term is found as many as 36 times in various meanings and functions.It sometimes means a desire refering to kindness, sometimes to badness, empity and so forth.  Generally ulama interprites hawa as the inclination to love worldly life. Human being who is always busy with wordly life and ignores even forgets God has regarded hawa as his God. Such this human being will be funished by God not only in hereafter, also in his life in the world.
Filsafat Jiwa Dalam Al-Qur`An Shaleh, Muhammad Ilham
Jurnal Adabiyah: Humanities and Islamic Studies Vol 14, No 1 (2014): Jurnal Adabiyah
Publisher : Faculty of Adab and Humanities - Alauddin State Islamic University of Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (192.605 KB)

Abstract

Jiwa dalam al-Quran disebutkan dengan term al-Aql, al-Nafs, al-Qalbu, al-Fuad, al-Lubab dan al-Ruh. Jiwa mempunyai daya-daya. Daya inilah yang memberi kemampuan kepada jasad dan memunculkan kekuatan yang maha dahsat, sehingga mampu menembus ruang dan waktu dalam melakukan aktifitasnya. Dan yang pasti, bahwa jiwalah yang mampu menembus dan mengenal Allah bukanlah jasad. Jasad hanya sebagai alat, jasad bagai wayang dan jiwa bagai dalangnya. Jiwalah yang nantinya akan mendapat pembalasan di akhirat apakah mendapatkan kebahagiaan ataukah kesengsaaan. Walaupun realitasnya yang melakoni semaunya adalah jasad.
الخصائص الفنية فى أشعار حسان بن ثابت Shaleh, Muhammad Ilham
Jurnal Adabiyah: Humanities and Islamic Studies Vol 16, No 1 (2016): Jurnal Adabiyah
Publisher : Faculty of Adab and Humanities - Alauddin State Islamic University of Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (200.719 KB) | DOI: 10.24252/JAd.v17i116i1a8

Abstract

Hassan bin Tsabit salah satu penyair andalan Nabi Muhammad Saw dalam melawan penyair orang kafir Makkah, Ia termasuk penyair Mukhadram yaitu penyair yang hidup dua zaman, zaman jahili dan zaman Islam, dengan syairnya, ia mendapatkan bagian rampasan perang padahal ia tidak ikut dalam perang. Nabi dalam banyak hal memanggil Hassan jika nabi kedatangan tamu yang menentang untuk bersyair. Syair Hassan dikenal sangat indah dan tinggi nilai seninya, karena pengaruh syairnya ada beberapa kabilah Arab masuk Islam.
إبن الفارض شاعر الغزل فى الحب الإلهي Shaleh, Muhammad Ilham
Jurnal Adabiyah: Humanities and Islamic Studies Vol 11, No 2 (2011): Jurnal Adabiyah
Publisher : Faculty of Adab and Humanities - Alauddin State Islamic University of Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.394 KB)

Abstract

Umar Ibnu Farid (w. 632 H.) dikenal dengan nama Ibnu Farid bukan hanya dikenal sebagai seorang sufi besar tetapi ia dikenal juga sebagai seorang penyair, khususnya syair-syair yang berisikan  cinta kepada Allah, karya syair-syairnya banyak disyarah (dikomentari) ulama-ulama sesudahnya seperti syekh Abdul Gani al-Nablus, syekh Yusuf al-Nabhan dan sebagainya. Ibnu Khalkan mengatakan : karya syair Ibnu Farid teristimewa karena keindahan bahasa dan susunannya, khususnya dalam mengungkapkan kedekatan  seorang hamba dengan Tuhan-Nya. Karya syairnya dikumpulkan oleh para muridnya dalam bentuk diwan Ibnu Farid yaitu berupa kumpulan karya syair Ibnu Farid.