Nurhalim Shahib
Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung
Articles
7
Documents
Peran Siklooksigenase dalam Pertumbuhan Kanker Leher Rahim

Majalah Kedokteran Bandung Vol 42, No 4 (2010)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ekspresi dan penghambat selektif siklooksigenase-2 (COX-2), seperti selekoksib yang telah dipakai luas sebagai antiinflamasi, diketahui berperan pada kanker dengan menghambat proliferasi dan pertumbuhan tumor serta meningkatkan apoptosis. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penghambat COX-2 selektif dan peran COX-2 pada pertumbuhan tumor. Metode penelitian adalah uji eksperimental dengan pretest-posttest control group design yang dilakukan di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, November 2007–Oktober 2008. Dua puluh pasien diberi penghambat selektif COX-2 serta kemoradiasi dan 21 pasien mendapat kemoradiasi saja. Dilakukan pemeriksaan COX-2, Ki-67, kaspase-3 secara imunohistokimia, serta ukuran serviks dengan USG transabdominal, praradiasi dan pascaradiasi. Data dianalisis dengan tes Wilcoxon dan korelasi Pearson. Penghambat COX-2 selektif mengakibatkan penurunan sangat bermakna tingkat ekspresi COX-2, yaitu 10% pada kelompok kontrol dan 42% pada kelompok perlakuan (p=0,001), serta ekspresi Ki-67 sebagai penanda proliferasi sebanyak 48% dan -3% pada kelompok kontrol (p=0,007). Tingkat ekspresi kaspase-3 sebagai penanda apoptosis meningkat dengan pemberian penghambat COX-2 selektif sebesar -59% dan 16% pada kelompok kontrol (p<0,001). Penghambat COX-2 selektif juga menyebabkan bertambahnya pengecilan tumor, yaitu: 88% dibandingkan dengan 83% pada kelompok kontrol (p<0,001). Simpulan, COX-2 berperan dalam kanker leher rahim dan penghambat COX-2 selektif menurunkan proliferasi dan meningkatkan apoptosis, sehingga terjadi pengecilan tumor. [MKB. 2010;42(4):169–74].Kata kunci: Apoptosis, COX-2, kanker leher rahim, penghambat COX2 selektif, pertumbuhan tumorRole of Cyclooxygenase on Cervical Cancer GrowthCyclooxygenase-2 (COX-2) expression and selective COX-2 inhibitor such as celecoxib, which widely used as antiinflamatory drug, is known to have role in cancer by reducing proliferation and growth of tumor cells, and increasing apoptosis. The research aims were to investigate the effect of selective COX-2 inhibitor and role of COX-2 on tumor growth. This was an experimental study with pretest-posttest control group design. This study was done at Hasan Sadikin Hospital Bandung, November 2007–October 2008. Twenty patients received selective COX-2 inhibitor and chemoradiation, whereas 21 patients were treated by chemoradiation only, as control group. COX-2, Ki-67, and caspase-3 expression was analyzed by immunohistochemistry. Cervical size was measured by transabdominal ultrasonograpy. All variables obtained before and after external chemoradiation. Data were analyzed using Wilcoxon and Pearsons correlation test. Selective COX-2 inhibitor significantly reduced COX-2 expression, 10% in control group and 42% in treated group (p=0.001) as well as Ki-67 expression as proliferation marker, -3% in the control group and 48% in the treated group (p=0.007). Caspase-3 expression as marker of apoptosis was increased after selective COX-2 inhibitor treatment, 59% whereas only 16% in the control group (p<0.001). In addition, selective COX-2 inhibitor enhanced tumor reduction, 88%versus 83% in control group (p<0.001). In conclusion, COX-2 plays role in uterine cervical cancer and selective COX-2 inhibitor reduced proliferation and increased apoptosis which leads to reduction in tumor size. [MKB. 2010;42(4):169–74].Key words: Apoptosis, cervical cancer, COX-2, proliferation, selective inhibitor COX2, tumor growth DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v42n4.31

Peran Kedelai (Glycine Max L) dalam Pencegahan Apoptosis pada Cedera Jaringan Hati

Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pada liver injury akibat berbagai sebab, terjadi apoptosis sel yang sangat banyak yang dapat memengaruhi fungsi metabolik hati.  Isoflavon kedelai telah diketahui dapat mencegah apoptosis sel pada folikel ovarium dan osteoblas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kedelai pada pencegahan apoptosis sel pada jaringan hati mencit yang diinduksi CCl4.  Penelitian dilakukan menggunakan 30 ekor mencit jantan galur DDY berumur 8─10 minggu yang dibagi dalam 6 kelompok perlakuan.  Kelompok 1 merupakan kontrol positif yang hanya diberi makanan pelet standar selama 3 minggu kemudian diberi 0,2 mL larutan CCl4 per oral selama 4 hari. Kelompok 2 merupakan kontrol negatif yang hanya diberi makanan pelet standar dan tidak diberi CCl4, sedangkan kelompok 3─6 merupakan kelompok uji yang selain diberi makanan pelet standar juga diberi kedelai dengan kadar berturut-turut 145,6 mg/hari, 218,4 mg/hari, 291,2 mg/hari dan 364 mg/hari selama 3 minggu kemudian diberi 0,2 mL larutan CCl4 peroral selama 4 hari.  Seluruh kelompok kemudian dikorbankan dan diambil organ hatinya untuk dilakukan pemeriksaan histokimia terminal deoxynucleotidyl transferase-mediated dUTP Nick end labeling (TUNEL).  Parameter yang diukur adalah jumlah apoptosis sel pada sayatan jaringan hati mencit menggunakan mikroskop cahaya.  Data disajikan dan dianalisis secara statistik menggunakan uji analysis of varians (ANOVA) untuk menganalisis perbedaan antar kelompok. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa dari hasil pemeriksaan imunohistokimia TUNEL tampak jumlah sel yang mengalami apoptosis pada kelompok yang diberi kedelai lebih sedikit dibandingkan dengan kelompok yang tidak diberi kedelai. Analisis uji ANOVA antara kelompok tersebut menunjukan perbedaaan yang signifikan dengan nilai p<0,05. Simpulan, bahwa pemberian kedelai dapat mencegah apoptosis sel pada jaringan hati mencit yang diinduksi CCl4.  Kata kunci : Apoptosis,  CCl4, isoflavon, kedelai, liver injury, TUNEL Soy (Glycine max L.) Prevent Apoptotic Cells in Liver Tissue Injury Abstract In the state of liver injury by any cause there are numerous apoptotic cells influencing metabolic function of the liver.  Soy isoflavone (Glycine max L.) known to have effect that inhibit apoptotic cells in follicle and osteoblast.  The aim of this study is to evaluate whether soy has anti apoptotic effect of  CCl4 induced liver  injury in mice. This study use 30 male DDY mice 8─10 weeks old, divided into 6 groups.   Group I acted as positive control, received standard pellet for 3 weeks and induced by 0,2 mLCCl4 per oral.  Group II, the negative control, received only standard pellet.  Group III─VI received standard pellet and treated by soybean extract 145.6 mg, 218.4 mg, 291.2 mg and 364 mg per day respectively administrated orally for 3 weeks and then induced by 0.2 ml CCl4 per oral.  After 4 days of CCl4 induced, the effect of soybean extract was evaluated using histo-chemistry evaluation Terminal deoxynucleotidyl transferase-mediated dUTP nick end labeling (TUNEL).  The identification and quantification of the apoptotic cells in mice liver tissue were done using light microscopy and showed that the TUNEL immune-histochemical examination. The results showed that the number of cells undergoing apoptosis in the group treated by soybean extract were less than the group that was not treated. The results enhanced by analysis of varians (ANOVA)  between the groups showed a significant difference with p<0.05. In conclusion, soy administrated orally could  prevent apoptotic cells in liver tissue.   Key words:  Apoptotic, CCl4, isoflavone, liver injury, soybean, TUNEL 

Perbedaan antara Faktor Intrinsik dan Ekstrinsik pada Pasien Infeksi Nosokomial di Bagian Bedah dan Medikal RSUP. Dr. Hasan Sadikin Bandung

Majalah Kedokteran Bandung Vol 50, No 4 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Infeksi nosokomial merupakan satu masalah komplikasi di rumah sakit dan menjadi permasalahan penting bagi kesehatan publik di dunia. Kecenderungan pasien menderita infeksi nosokomial (HAIs) ditentukan oleh faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik. Metode penelitian yang digunakan adalah potong lintang. Terdapat 287 pasien yang mengalami infeksi nosokomial yang disebabkan oleh Klebsiella pneumoniae di Bagian Bedah dan Medikal Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung (RSUP) selama periode Januari sampai Juni tahun 2015 yang telah memenuhi kriteria inklusi dan tidak termasuk eksklusi. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan antara faktor intrinsik dan ekstrinsik pada pasien infeksi nosokomial yang disebabkan oleh klebsiella pneumoniae di bagian Bedah dan Medikal RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung dengan nilai p<0,05. Terdapat perbedaan kejadian resistensi terhadap karbapenem pada kasus infeksi nosokomial selain kadar Hb adalah tindakan medis untuk tindakan medis sedang mempunyai risiko 2,06 kali (IK 95%; 1,0–4,28 ), pada tindakan medis berat 3,03 kali (IK 95%; 1,21–7,61) bila dibanding dengan tindakan medis ringan. Terdapat perbedaan dengan ketidaksembuhan pada kasus infeksi nosokomial adalah kasus rawat medikal, leukosit >16.600, tindakan medis berat, dan keadaan kulit terbuka dengan OR masing masing 2,89; 2,09; 5,05; dan 1,88. Saran, untuk memberikan pelayanan yang prima dengan memperhatikan faktor intrinsik pasien baik usia, jenis kelamin, keadaan luka kulit dan status gizi, juga memperhatikan faktor ektrinsik berupa lamanya masa rawat, tempat pengambilan sampel, dan tindakan medik yang dilakukan. Kata kunci: Faktor intrinsik dan ekstrinsik, infeksi Klebsiella pneumoniae, kasus bedah dan medikal, nosokomialinfeksiDifference between Intrinsic and Extrinsic Factors of  Nosocomial Infection Patients in The Surgery and Medical Ward of Dr. Hasan Sadikin General Hospital BandungNosocomial infection or Hospital-Acquired Infection (HAI) occurs as a complication during hospitalization in hospitals and becomes an important global public health problem. The tendency of patients suffering from nosocomial infectionis determined by intrinsic and extrinsic factors. This was a cross-sectional study on 287 patients with nosocomial infection caused by Klebsiella pneumoniae at the Surgical and Medical wards of Dr. Hasan Sadikin General Hospital during the period January to June 2015 who met the inclusion and exclusion criteria. Results showed the difference in intrinsic and extrinsic factors in patients with nosocomial infections caused by Klebsiella (p<0.05). There was a difference in the resistance towards Carbanepem in nosocomial infections. Factors influencing this were Hb level and medical actions. Patients with intermediate medical procedures had 2.06 times higher risk (CI 95%; 1.0–4.28 ) while in those with complicated medical procedures, the risk was 3.03 times higher (CI 95%; 1.21–7.61) when compared to those receiving simple medical procedures. A difference was also seen in the failure to recover in nosocomial infection between the medical inpatient cases (leucocyte of >16,600), complicated medical procedure, and open-skin condition with ORs of 2.89; 2.09; 5.05; and 1.88, respectively. It is suggested to provide excelent services by paying atttention to the intrinsic factors of patients, i.e. age, gender, skin wound status, and nutrition status and the extrinsic factors, i.e. length of stay, sampling sites, and medical procedures performed.Key words: Intrinsic and extrinsic factors , Klebsiella pneumoniae infection, nosocomial infection, surgical andmedical cases

Perbedaan Kompetensi Asuhan Persalinan Normal Mahasiswa Praktik Klinik Kebidanan di Rumah Sakit dan Bidan Praktik Mandiri Pada Program Studi D III Kebidanan

Jurnal Pendidikan dan Pelayanan Kebidanan Indonesia (Indonesian Journal of Education and Midwifery Care Vol 1, No 1 (2014): Desember
Publisher : Program Studi Magister Kebidanan FK UNPAD

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Praktik klinik kebidanan merupakan kegiatan penting dalam proses pembelajaran Diploma III Kebidanan. Melalui praktik klinik mahasiswa dapat mengembangkan dan memadukan pengetahuan, sikap dan keterampilan yang akan diperlukan dalam kehidupan professionalnya. Jumlah pendidikan bidan yang makin bertambah memberikan permasalahan dalam pencapaian kompetensi, rumah sakit tidak mampu lagi menampung mahasiswa untuk melaksanakan praktik klinik, sehingga sebagian institusi pendidikan memilih bidan praktik mandiri sebagai lahan praktik alternatif.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kompetensi asuhan persalinan normal mahasiswa yang praktik klinik kebidanan di Rumah Sakit dan Bidan Praktik Mandiri di Program Studi Diploma III Kebidanan. Metode penelitian adalah cross sectional terhadap 108 mahasiswa Stikes Bhakti Kencana yang terbagi dalam 2 kelompok, yaitu masing-masing 54 mahasiswa praktik klinik di Rumah Sakit dan Bidan Praktik Mandiri. Kedua kelompok di uji kompetensinya yang meliputi pengetahuan, sikap dan keterampilan tentang asuhan persalinan normal.Analisis data menggunakan uji chi-kuadrat untuk melihat perbedaan dan regresi logistik. Hasil menunjukkan bahwa hanya pengetahuan dan sikap yang memiliki perbedaan pada kedua kelompok penelitian (p<0,05), sedangkan keterampilan tidak berbeda bermakna. PKK di rumah sakit hanya menghasilkan 44,4% dan bidan praktik mandiri 20,4% yang kompeten.(RP=1.433;95%IK=1.090-1.885), pendidikan dan pelatihan pembimbing klinik faktor yang paling berpengaruh terhadap kompetensi mahasiswa selama praktik klinik kebidanan di RS dan BPM. Simpulan pada penelitian ini adalah kompetensi mahasiswa yang PKK di rumah sakit lebih baik di bandingkan dengan di bidan praktik mandiri.Di lihat dari variabel kompetensi pengetahuan dan sikap memiliki perbedaan yang bermakna.

Perbedaan Kepuasan Preseptor pada Penerapan Model Pengaturan Praktik Klinik Kebidanan

Jurnal Pendidikan dan Pelayanan Kebidanan Indonesia (Indonesian Journal of Education and Midwifery Care Vol 3, No 1 (2016): Maret
Publisher : Program Studi Magister Kebidanan FK UNPAD

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (162.391 KB)

Abstract

Hasil uji kompetensi bidan tahun 2013 menyatakan bahwa jumlah lulusan bidan yang lulus sebanyak 53,5% dengan batas kelulusan 40,14. Hasil survei WHO bersama Kemkes (2012) menyatakan bahwa kompetensi lulusan bidan hanya 15% yang sesuai kebutuhan kerja. Praktik klinik memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu yang dimilikinya terhadap pasien nyata dengan bimbingan preseptor. Keberadaan mahasiswa dilahan praktik dapat menambah beban kerja preseptor apabila tidak dikelola dengan baik. Akibatnya preseptor merasa tidak puas saat membimbing mahasiswa dan hal tersebut dapat memengaruhi motivasinya dalam membimbing mahasiswa yang pada akhirnya berdampak pada kinerjanya sebagai pembimbing. Model pengaturan praktik klinik adalah salah satu upaya yang dilakukan untuk mengelola pekerjaan preseptor sebagai pembimbing mahasiswa dilahan praktik.Penelitian ini menggunakan desain quasi experiment dengan nonequivalent control  group design. Subjek dalam penelitian ini adalah preseptor yang berada diruang bersalin RSUD  Majalaya sebanyak 10 orang sebagai kelompok perlakuan dan 11 orang di RSUD Soreang sebagai kelompok kontrol. Data dianalisis menggunakan uji chi-square.Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 45,5% preseptor pada kelompok kontrol merasa puas, sedangkan pada kelompok perlakuan sebanyak 57,1% (p=0,245).Simpulan penelitian ini adalah tidak terdapat perbedaan kepuasan preseptor antara kelompok perlakuan dan kontrol pada penerapan model pengaturan praktik klinik kebidanan sehingga perlu dilakukan pengembangan model pengaturan praktik klinik yang mampu memfasilitasi tercapainya kepuasan preseptor.

Pengembangan Program PelatihanPreseptor Untuk Meningkatkan Efikasi Diri dan Kinerja Preseptor

Jurnal Pendidikan dan Pelayanan Kebidanan Indonesia (Indonesian Journal of Education and Midwifery Care Vol 3, No 1 (2016): Maret
Publisher : Program Studi Magister Kebidanan FK UNPAD

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.759 KB)

Abstract

Sistem pembelajaran praktik klinik kebidanan yang berjalan di Indonesia selama ini dinilai belum optimal. Salah satu permasalahannya adalah masih rendahnya kualitas pembelajaran praktik klinik karena terbatasnya jumlah preseptor yang dipersiapkan melalui pelatihan. Selanjutnya, belum adanya panduan standar yang digunakan oleh preseptor dalam membimbing praktik klinik mahasiswa mengakibatkan kualitas bimbingan tidak sesuai harapan. Preseptor yang tidak dilatih mengakibatkan rendahnya efikasi diri dalam menjalankan perannya sehingga kinerja preseptor dalam membimbing praktik klinik mahasiswa tidak muncul secara optimal. Oleh karena itu, pengembangan program pelatihan preseptor sesuai dengan kebutuhan program sangat diperlukan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pengembangan program pelatihan preseptor terhadap efikasi diri dan kinerja preseptor. Metode penelitian ini menggunakan eksperimen kuasi pre-post-testdesignwith control groups. Sampel penelitian ini adalah seluruh preseptor dan mahasiswa yang berpraktik klinik di ruang bersalin RSUD Majalaya sebagai kelompok perlakuan dan preseptor dan mahasiswa yang berpraktik klinik di ruang bersalin RSUD Soreang sebagai kelompok kontrol mulai dari Bulan September sampai dengan Desember 2015. Pengumpulan data menggunakan instrumen daftar tilik observasi dan kuesioner.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat peningkatan efikasi diri yang bermakna pada kelompok perlakuan yaitu 10,1% dibandingkan kelompok kontrol (0,8%) (p<0,001).Skor kinerja kelompok perlakuan (68,8) lebih tinggi secara bermakna dibandingkan kelompok kontrol (37,1) (p <0,001).Program pelatihan preseptor yang dikembangkan merupakan upaya yang efektif untuk meningkatkan efikasi diri dan kinerja preseptor dalam pembelajaran praktik klinik mahasiswa kebidanan.

Pengaruh Penerapan Prosedur Kerja Terhadap Peningkatan Kinerja Bidan Desa dalam Pelayanan Kebidanan di Kabupaten Sukabumi (Suatu Studi Intervensi Prosedur Kerja Bidan Desa)

Jurnal Pendidikan dan Pelayanan Kebidanan Indonesia (Indonesian Journal of Education and Midwifery Care Vol 1, No 1 (2014): Desember
Publisher : Program Studi Magister Kebidanan FK UNPAD

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (99.674 KB)

Abstract

Angka Kematian Ibu merupakan tolok ukur untuk menilai kualitas pelayanan obstetri di suatu negara. Bila Angka Kematian Ibu tinggi berarti masih rendahnya kualitas pelayanan kesehatan.Salah satu strategi dan kebijakkan yang tepat untuk mengatasinya yaitu dengan peningkatan Program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dan peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) kebidanan..1,2Tujuan penelitian untuk menganalisis pengaruh penerapan prosedur kerja terhadap peningkatan kinerja bidan desa dalam pelayanan kebidanan di Kabupaten Sukabumi. Jenis penelitian menggunakan metode quasi experiment dengan jumlah sampel penelitian 50 orang bidan desa sebagai kelompok perlakuan dan 50 orang bidan desa sebagai kelompok kontrol yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis data menggunakan analisis univariat, bivariat, dan multivariat  (uji regresi logistic).Terdapat perbedaan penilaian kinerja bidan desa (berdasarkan kualitas  dan kuantitas kerja ) sebelum dan setelpenerapan prosedur kerja pada bidan desa kelompok perlakuan dan kelompok kontrol, yaitu kinerja  bidan desa setelah perlakuan lebih baik daripada sebelumnya nilai (p<0.05). Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa faktor yang berpengaruh terhadap peningkatan kinerja bidan desa dalam pelayanan kebidanan  adalahK1 (pemeriksaan ibu hamil) dengan nilai p=0.004, OR=5.148, kedisiplinan dengan p=0.014, OR=4.569, KNL(Kunjungan Neonatal Lengkap) p=0.045, OR=4.171, dan kerjasama dengan nilai p=0.030, OR=3.520. Terdapat pengaruh penerapan prosedur kerja terhadap peningkatan kinerja bidan desa dalam pelayanan kebidanan dengan nilai p<0.05.Perlunya diterapkan prosedur kerja pada bidan desa dalam menjalankan tugas dan fungsi pokoknya, sehingga kinerja dan pencapaian target cakupan pelayanan kebidanan dapat tercapai.