Erna Setyowati
Unknown Affiliation

Published : 12 Documents
Articles

Found 12 Documents
Search

PENDIDIKAN BUDI PEKERTI MENJADI MATA PELAJARAN DI SEKOLAH

Lembaran Ilmu Kependidikan Vol 38, No 2 (2009)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The globalisation era influences the shift in moral values and studentsbehavior. This is reinforced with the the fast growing informational technology whichdevelops in a matter of seconds.As a result, negative foreign culture is easily absorbedwithout a sufficient filter. Today what happens at one part of the world can be directlymonitored from other parts of the world. In the globalization, students think critically.The border of moral values is very slight. The example from biraucrats is regardedpoor. There are many vulgar moral values exposed to young generations. Theexposure has a negative risk for the students. This condition becomes a quite fatalweak point for educators to implant good conduct at schools and homes. The goodconducts education at schools is stepping backward. Emphirically teachers hardlyever teach good conducts at schools. Students behaved impolitely to teachers anddespised their peers. This is because good conducts as a subject which standsindependently from other subjects does not exist. The subject was integrated into twosubjects: civics and religion education. However, this is regarded as a failure. Thesubject still fails even when it was integrated with mathematics, science, socialscience, arts, Indonesian, and physical education. Good conducts should be includedin the curriculum as an independent subject. The assessment should emphasize theability to apply good conducts in every day life.Kata kunci : pendidikan budi pekerti, sekolah, dan etika

Efektivitas Penggunaan Pola Kombinasi Dalam Pembuatan Busana Pesta Siswa Tata Busana SMK Syafi’i Akrom Pekalongan

Teknobuga Vol 2, No 1 (2015)
Publisher : Jurusan Teknologi Jasa dan Produksi, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembuatan  busana  pesta  merupakan  salah  satu  mata  pelajaran program produktif. Pada proses pembuatannya menggunakan pola konstruksi, namun hasilnya kurang memuaskan, belum sesuai dengan disain dan waktu pengerjaan yang realtif lama, jadi dimungkinkan lebih efektif menggunakan pola kombinasi, yaitu pembuatan pola yang dibuat menggunakan sistem konstruksi diatas kertas kemudian model yang rumit dibuat dengan sistem draping yang langsung dikerjakan pada dress form.  Tujuan  penelitian  ini  1)Mengetahui  efektivitas  penggunaan  pola  kombinasi dalam  pembuatan  busana  pesta  siswa  SMK  Syafi’i  Akrom  Pekalongan  dan,2)Mengetahui seberapa besar efektivitas penggunaan pola kombinasi dalam pembuatan busana pesta siswa SMK Syafi’i Akrom pekalongan. Populasi dalam penelitian ini  adalah siswa kelas XI SMK Syafi’i Akrom Pekalongan sejumlah 39 siswa.   Teknik   pengambilan   sampel   yaitu   dengan   total   sampling.   Metode pengumpulan data menggunakan metode observasi, tes dan dokumentasi. Metode analisis  data  menggunakan  deskriptif  persentase.  Hasil  penelitian  menunjukkan bahwa   penggunaan   pola   kombinasi   lebih   efektif   jika   dibandingkan   dengan penggunaan pola konstruksi. Hal ini berdasarkan hasil dari praktek siswa pada pembuatan busana pesta yang menggunakan pola kombinasi mencapai   87,40% dalam kategori sangat tinggi, sedangkan pada kelas kontrol yang menggunakan pola konstruksi diperoleh 79,39% dalam kategori tinggi. Simpulan pada penelitian menunjukkan  Penggunaan pola kombinasi  lebih  efektif dibandingkan penggunaan pola konstruksi pada pembuatan busana pesta siswa SMK Syafi’i Akrom Pekalongan. Besarnya efektivitas penggunaan pola kombinasi dalam kategori sangat tinggi pada pembuatan busana pesta siswa SMK Syafi’i Akrom Pekalongan, sedangkan pola konstruksi sebagai kontrol termasuk kategori tinggi. Saran, untuk guru praktek diharapkan  menerapkan  pola  kombinasi  pada  pembelajaran  pembuatan  busana pesta, karena dengan menggunakan pola kombinasi hasil busana lebih baik dan waktu lebih efektif. Kekurangan dari pola kombinasi adalah pada saat pembuatan pola draping karena langsung menggunakan bahan utama, jika terjadi kesalahan berdampak langsung pada biaya, maka perlu kecermatan pada siswa dan guru dalam membuat pola kombinasi. Pada penggunaan pola kombinasi dengan model backless sebaiknya pada bagian lipit tengah muka di beri kupnat, sehingga jatuhnya lipit lebih baik.

IbM KELOMPOK USAHA RUMAH TANGGA BORDIR DENGAN TEKNIK DESAIN BORDIR BERBASIS KOMPUTER

Rekayasa Vol 14, No 1 (2016): Juli 2016
Publisher : Unnes Journal. Research and Community Service Institute, Semarang State University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In some sub-district in Semarang ubiquitous home household industry in the field of embroidery fabrics and the like, although quite large in number and spread out, but the existing potential has not been developed to the maximum. From field observations of potential home household scale industries in the field of embroidery in the area of Semarang has not been touched by technological advances design by utilizing IT (computer) and software applications to enrich the embroidery design. Based on surveys and direct interviews in several home industries in the field of embroidery are scattered in the region Semarang, that the problems faced can be grouped into three aspects, namely the facilities improvement of HR (human resources) that is knowledgeable about technology upgrading areas of the embroidery design, facilities and equipment, and management production in the field of embroidery where all three aspects are interrelated. This activity aims to answer the problems that exist, namely the training and tutorials embroidery design techniques with computer technology and its application. Improve the manufacturing facilities in the form of embroidery designs embroidery design software applications and the software application tool. Target outcomes that could result from this activity are: 1) Meyelenggarakan training and tutorials on the techniques of embroidery designs with computer technology, 2) Generate a variety of design styles of embroidery rocky computers, 3) pattern model of business management field of the embroidery professionally managed which can improve product in quality and quantity, 4) Improving synergies between universities and the business community in Semarang, 5) Resulting scientific articles in national journals in the context of publication of the results of activitie.

EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN PEMBUATAN KAMISOL MENGGUNAKAN MODUL TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA SMK

Fashion and Fashion Education Journal Vol 4 No 1 (2015)
Publisher : Fashion and Fashion Education Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian untuk mengetahui apakah pembelajaran pembuatan kamisol menggunakan modul efektif terhadap hasil belajar siswa SMK dan seberapa besarkah efektifitas pembelajaran pembuatan kamisol menggunakan modul terhadap hasil belajar siswa SMK.Populasi yaitu dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI SMK Yasiha dengan jumlah 26 siswa. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah metode tes, observasi dan dokumentasi. Analisis data menggunakan uji T dan uji Gain.Hasil perhitungan analisis uji T yang dieroleh  = 16,974, untuk nilai   α = 5% dan dk = 25 diperoleh  = 1,71. Karena > . Perhitungan uji rata-rata gain ternormalisasi yang diperoleh 0,64 atau 64%. Simpulan dari penelitian ini adalah bahwa pembelajaran pembuatan kamisol menggunakan modul efektif terhadap hasil belajar siswa SMK dengan rata rata hasil belajar. Besarnya efektivitas pembelajaran pembuatan kamisol menggunakan  modul terhadap hasil belajar siswa SMK mengalami peningkatan dengan kriteria sedang. Saran 1) Guru SMK Yasiha dapat menerapkan dan memeberikan modul pada mata pelajaran yang lain untuk meningkatkan hasil belajar siswa. 2) Guru dapat membuat, menggunakan dan meningkatkan media pembelajaran.The research objective was to determine whether the learning module manufacture camisole using effective against SMK student learning outcomes and how much learning effectiveness camisole manufacture using modules for student learning outcomes SMK.Populasi which in this study is a class XI student of SMK Yasiha the number of 26 students. Methods of data collection in this study is the method of testing, observation and documentation. Data analysis using T test and test calculations Gain. T test analysis dieroleh t_hitung = 16.974, for the value of α = 5% and df = 25, obtained t_tabel = 1.71. Because t_hitung> t_tabel. Calculations the average normalized gain obtained 0.64 or 64%, due to the gain value obtained is less than 0.7, the improvement of learning outcomes are included in the criteria. The conclusions of this study is that learning camisole manufacture using effective module for student learning outcomes with the average vocational learning outcomes. Suggestion 1) Yasiha Vocational Teachers can apply and give the modules in other subjects to improve student learning outcomes. 2) Teachers can create, use and improve instructional media.

PENGELOLAAN UNIT PRODUKSI SANGGAR BUSANA DALAM UPAYA MENUMBUHKAN JIWA WIRAUSAHA

Fashion and Fashion Education Journal Vol 1 No 1 (2012)
Publisher : Fashion and Fashion Education Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractUnit Produksi merupakan suatu sarana pembelajaran berwirausaha bagi siswa dan guru serta memberi dukungan operasional sekolah. Siswa menyelesaikan pekerjaan dengan cepat, rapi, dan berkualitas menjadi bekal untuk membuka usaha sendiri. Dengan modal yang mereka dapat selama di sekolah diharapkan siswa mempunyai gambaran tentang suatu usaha dibidang busana. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengelolaan unit produksi sanggar busana dan bagaimana upaya menumbuhkan jiwa wirausaha siswa di SMK N 3 Purwokerto. Pengumpulan data menggunakan metode angket, dokumentasi, observasi; sedangkan data dianalisis menggunakan regresi linier. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan unit sanggar busana termasuk dalam kategori baik, hal ini dapat dilihat pada aspek perencanaan, organisasi dan pelaksanaan dan pengawasan secara keseluruhan termasuk dalam kategori baik. Pengelolaan yang baik tersebut dapat digunakan oleh para siswa untuk belajar berwirausaha dibidang busana dan mengetahui gambaran pengelolaan usaha, terutama di bidang busana.Kesimpulannya bahwa pengelolaan unit produksi sanggar busana di SMK N 3 Purwokerto, termasuk dalam kategori baik. Demikian halnya, upaya menumbuhkan jiwa wirausaha juga termasuk dalam kategori baik. Hal ini terlihat dari minat siswa yang melakukan praktek kerja di unit produksi.Production Unit is a means of learning entrepreneurship for students and teachers as well as provide operational support for schools. Students completing the job quickly, neatly, and qualified to open their own business. With the capital that they can during the school expected students to have a picture of a business in fashion. This study aims to determine how the management of studio production unit of clothing and how the management of the production unit fashion studio in an effort to foster the entrepreneurial spirit of students at SMK N 3 Navan. Data collected by the questionnaire method , documentation, observation. Data were analyzed using linear regression. The results showed that the management of the studio units are included in the good category in aspects of planning, organization and implementation. Overall supervision is included in either category. Good management can be used by students to study entrepreneurship in fashion and know the description of business management, particularly in the management of production. Result shown fashion studio in SMK N 3 Navan, included in either category. Similarly, efforts to foster the entrepreneurial spirit is also included in either category. It is seen from the interest of the students who perform work practices in the production unit.

EFEKTIFITAS PELAKSANAAN PRAKERIN DI SEKOLAH DAN DI BUTIK

Fashion and Fashion Education Journal Vol 1 No 1 (2012)
Publisher : Fashion and Fashion Education Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractProgram prakerin disusun dengan menyesuaikan peraturan antara sekolah dan industri. Pelaksanaan prakerin di SMK N 1 Tengaran dilaksanakan di 2 tempat yaitu industri (butik) dan sekolah. Asumsi sementara prakerin di sekolah lebih efektif karena guru mengawasi secara langsung. Penilaian parakerin di sekolah dilakukan oleh guru dan mengacu pada kurikulum, sedangkan di butik dilakukan oleh pemilik butik dan mengacu pada kepuasan konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas pelaksanaan prakerin di sekolah dan di butik, serta untuk mengetahui seberapa besar efektifitas pelaksanaan prakerin di sekolah dan di butik pada siswa kelas XI SMK N 1 Tengaran. Data dikumpulkan menggunakan metode observasi, wawancara, angket, dan dokumentasi. Populasi penelitian adalah siswa kelas XI SMK N 1 Tengaran dengan jumlah 115, dengan sampel penelitian berjumlah 66. Hasil uji analisis perbandingan persentase rata-rata data prakerin di butik sebesar 81,25%, sedangkan prakerin di sekolah sebesar 74,14% kategori. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan prakerin di butik lebih efektif dibandingkan prakerin di sekolah. Besarnya efektifitas pelaksanaan prakerin di butik termasuk dalam kategori sangat baik, sedangkan prakerin di sekolah termasuk dalam kategori baik.Prakerin Program arranged by adjusting between schools and industry regulations. Implementation Prakerin at SMK N 1 held in two places, namely industry (boutique) and the school. Assumptions states that at school Prakerin more effective because teachers supervise directly. Prakerin Assesment conducted by teachers in schools and referred to the curriculum, while at the boutique by boutique owners and referring to consumer satisfaction. This study aims to determine the effectiveness of Prakerin in school and in the boutique, as well as to find out how effectively implementation of Prakerin in schools and at boutiques for class XI student at SMK N 1 . Data were collected by observation, interviews, questionnaires, and documentation. The study population was 115 student class XI SMK N 1 with 66 sample. Comparative analysis average of percentage of data on the boutiques is 81.25%, while in school is 74.14% . Based on the research results can be concluded that the implementation Prakerin in the boutique more effective than at school. Implementation Prakerin in the boutique included in the excellent category, while in school Prakerin included in either category.

EFEKTIVITAS METODE PEMBELAJARAN PROYEK MATA PELAJARAN DASAR TEKNOLOGI MENJAHIT SISWA SMK TATA BUSANA

Fashion and Fashion Education Journal Vol 4 No 1 (2015)
Publisher : Fashion and Fashion Education Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas dan seberapa besar efektivitas metode pembelajaran proyek  pada mata pelajaran dasar teknologi menjahit siswa kelas X tata busana di SMK Negeri 1 Ampelgading. Metode pengumpulan data menggunakan metode tes, observasi dan dokumentasi, sedangkan analisis data menggunakan uji t. Hasil uji rata-rata posttest 2 kelas sampel diperoleh thitung = 11,72 sedangkan ttabel = 1,99, karena thitung > ttabel (11,72>1,99), dapat diartikan bahwa Ha yang berbunyi metode pembelajaran proyek pada mata pelajaran dasar teknologi menjahit efektif meningkatkan hasil belajar siswa kelas X tata busana SMK Negeri 1 Ampelgading diterima. Hasil perhitungan gain diperoleh sebesar 0.53 atau 53% dan termasuk dalam kriteria sedang.This study aims to determine the effectiveness and how much the effectiveness of teaching methods project on basic subjects sewing technology class X dressmaking at SMK Negeri 1 Ampelgading. System of data collection method using the test method , observation and documentation, while the analysis of the data using the t test. The test results mean posttest 2 grade samples obtained tcount = 11,72 while ttable = 1.99, because tcount > ttable (11,72> 1.99), can be interpreted that the learning method that reads Ha project on the basis of technology subjects sew effectively improve the results of class X student of fashion SMK Negeri 1 Ampelgading accepted. The results obtained for the calculation of gain of 0.53 or 53% and is included in the criteria are.

KUALITAS RIAS PENGANTIN JOGJA PAES AGENG PADAN PARAS DI KABUPATEN SEMARANG

Beauty and Beauty Health Education Vol 1 No 1 (2012)
Publisher : Beauty and Beauty Health Education

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas rias pengantin putri Jogja paes ageng padan paras di Kabupaten Semarang. Penelitian dilakukan di Kabupaten Semarang yang meliputi, Ungaran, Bergas, Salatiga, dan Ambarawa dengan subyek para perias pengantin Jogja paes ageng di Kabupaten Semarang. Pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi, dokumentasi, dan wawancara kepada ketua Harpi Melati, dan wakil para perias pengantin di Kabupaten Semarang. Teknik pemeriksaan keabsahan data dengan Trianggulasi. Analisis data kualitatif ini dilakukan melalui langkah: reduksi, klasifikasi, interprestasi, dan penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa secara umum rias pengantin Jogja paes ageng di Kabupaten Semarang memiliki kualitas yang baik, dan hal ini berhubungan dengan pendidikan, keterampilan, peralatan, kosmetika, teknik dan busana. Sementara itu, ditinjau dari faktor fisik pengantin kualitas riasan berhubungan dengan bentuk wajah, bagian wajah, warna dan jenis kulit, serta kondisi psikis. Para perias sebaiknya memperhatikan busana pakem Jogja paes ageng yaitu busana dodotan2, banyak mengikuti kegiatan seminar maupun studi banding, dan diperlukan promosi hasil riasan.His research aim to know the quality of bride makeup of Jogja ageng paes putri correspond face in Sub-Province of Semarang. Research conducted in Sub-Province of Semarang covering, Ungaran, Bergas, Salatiga, and Ambarawa with subyek bride makeup person of Jogja ageng paes in Sub-Province of Semarang. Data collecting conducted with observation method, documentation, and interview to chief of Harpi Jasmine, and proxy bride makeup person in Sub-Province of Semarang. The technic of authenticity data with Triangulating. Analysis Data qualitative this pass step: discount, classification, interprestasi, and presentation of data, and also withdrawal of conclusion. Pursuant to result of research can be concluded that in general rias pengantin of Jogja ageng paes in Sub-Province of Semarang have the quality of good, and this matter relate to education, skill, equipments, kosmetika, cloth and technique. Meanwhile, evaluated from physical factor of bride the quality of relate ornament to face form, part of face, husk type and colour, and also psychical condition. Makeup person better pay attention cloth of pakem Jogja ageng paes that is cloth of dodotan2, following many activity of study and also seminar compare, and needed by promotion result of ornament.

PENGARUH KOSMETIKA ANTI AGING WAJAH TERHADAP HASIL PERAWATAN KULIT WAJAH

Beauty and Beauty Health Education Vol 1 No 1 (2012)
Publisher : Beauty and Beauty Health Education

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada pengaruh penggunaan kosmetika anti aging wajah terhadap hasil perubahan perawatan kulit wajah. Populasi penelitian sejumlah 80 orang, dan dengan teknik purposive sample diambil 10 responden sebagai sampel yaitu Ibu-ibu guru SMK. Pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi, dokumentasi, dan wawancara. Analisis data dilakukan dengan uji wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan adanya hasil perubahan dari perawatan kulit wajah pada ibu guru. Pada aspek kondisi kulit wajah diperoleh rata-rata skor sebelum penggunaan anti aging sebesar 1,4 dan sesudah menggunakan kosmetika sebesar 1,8 atau mengalami kenaikan sebesar 28,57. Untuk aspek tekstur kulit wajah diperoleh rata-rata sebelum dan sesudah penggunaan anti aging sebesar 2,6 dan 3,7 atau mengalami peningkatan sebesar 42,31, Selanjutnya pada kerutan kulit wajah diperoleh rata-rata sebelum dan sesudah pemakaian kosmetika anti aging sebesar 2,7 dan 3,3 atau mengalami kenaikan sebesar 22,22, dan terakhir untuk aspek kelainan sebelum dan sesudah penggunaan anti aging sebesar 2,1 dan 2,9, atau mengalami peningkatan sebesar 38,10. Dari hasil perhitungan Uji wilcoxon diketahui dengan penggunaan kosmetika anti aging wajah berpengaruh terhadap perubahan tekstur, kerutan dan kelainan kulit wajah menjadi lebih halus, kencang, kerutan berkurang, dan menyamarkan kelainan kulit wajah seperti pigmentasi kulit.This research aim to know that there is influence of usage cosmetics anti face aging to result of change of treatment of face husk. Research population a number of 80 people, and with technique of purposive sample taken by 10 responder as sample are teachers mother in SMK. Data collecting conducted with observation method, documentation, and interview. Data analysis conducted with test of wilcoxon. Result of research show the existence of result of change of treatment of face husk teacher mother. Aspect of condition of face husk obtained by score mean before usage anti aging equal to 1,4 and after using cosmetics equal to 1,8 or experience of increase equal to 28,57. For the aspect of face husk texture obtained by mean before and after usage anti aging equal to 2,6 and 3,7 or experience of the make-up of equal to 42,31, Here in after at skin creasing obtained by mean before and after usage of cosmetics anti aging equal to 2,7 and 3,3 or experience of increase equal to 22,22, and last for the aspect of disparity before and after usage anti aging equal to 2,1 and 2,9, or experience of the make-up of equal to 38,10. From result of calculation of Test of wilcoxon known with usage of cosmetics anti face aging have an effect on to change of texture, creasing, and disparity of face husk become softly, boisterous, creasing decreases, and disguise disparity of face husk like husk pigmentation.

PENGARUH MASKER JAGUNG DAN MINYAK ZAITUN TERHADAP PERAWATAN KULIT WAJAH

Beauty and Beauty Health Education Vol 3 No 1 (2014): Beauty & Beauty Health Education Journal
Publisher : Beauty and Beauty Health Education

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan masker jagung dan minyak zaitun terhadap perawatan wajah. Selain ituuntuk mengetahui pengaruh masker jagung dan minyakzaitun terhadap perawatan kulit dan jenis kulit apa yang cocok. Penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan objek penelitian masker  jagung dan minyak zaitun. Jumlah sampel yang diambil 12 orang responden yang dikelompokkan menjadi 4 kelompok yaitu kulit normal, kulit berminyak, kulit kering dan kulit kombinasi.Analisis data  menggunakan AnavaTunggal dan uji t. Hasil analisisAnava sebelum pemakaian dan setelah membuktikan bahwa terdapat perbedaan diantara keempat jenis kulit setelah pemakaian menjadi baik setelah perawatan wajah. Hal ini terbukti dari hasil anova dan uji t mengalami peningkatan sebelum dan setelah pemakaian masker dengan nilai ttabel 3,94 ; thitung setelah 10,71.The purposes of this research isis to find the feasibility of corn and olive oil mask for facial care. To find out the effect of corn and olive oil mask for facial care and to find out the type of skin that. This study is an experimental research and the research objects are corn and olive oil mask. The taken number of samples was 12 respondents who were grouped into 4 groups: normal skin, oily skin, dry skin and combination facial skin. Data analysis used single Anova andT-test. Result of Anava analysis before and after use, proved that there were differences among the four types of skin after significant use of masks with significance level of 5% and a change in facial skin condition became good after facial treatments. This was proved from the results of Anova and T-test increased before and after the use of a mask with ttabel value of 3.94; tafter count of 10.71.