Articles

DINAMIKA SPASIAL PEMANFAATAN LAHAN OLEH MASYARAKAT DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) KREO Setyowati, Dewi Liesnoor
Forum Ilmu Sosial Vol 36, No 1 (2009): June 2009
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Landuse dynamics of Kreo watershed from the result of interpretation of satellite image landsat (the year 1994) and image SPOT-5 (the year 2006) in the form of degradation of open farm wide of 67,07%, coppice 9,61%, forest 6,69%, and rice feld 4,64%; improvement of plantation wide 24,42%, setlement 21,68%, and mixture garden with a width of 1,05%. Forest wide and plantation of DAS Kreo only with a width of 17,19% had not pursuant to ideal wide of minimum forest of 30% at one particular in watershed (PP number 33  the year 1970). Wide area of setlement  in Kreo watershed with a width of 12,21%  is including category has exceeded ideal boundary of setlement area at one particular in watershed, maximum boundary (threshold) in the form of area of waterproof equal to 6%-10% in  watershed.Keywords: Landuse spatial dynamic, landuse trend.
SIFAT FISIK TANAH DAN KEMAMPUAN TANAH MERESAPKAN AIR PADA LAHAN HUTAN, SAWAH, DAN PERMUKIMAN Setyowati, Dewi Liesnoor
Jurnal Geografi Vol 4, No 2 (2007): July 2007
Publisher : Jurnal Geografi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perubahan penggunaan lahan dari hutan atau perkebunan menjadi lahan pertanian maupun permukiman akan menurunkan fungsi tanah. Tanah merupakan media untuk pertumbuhan vegetasi, terdapat hubungan erat antara komponen tanah, air, dan vegetasi. Bagaimanar kemampuan tanah meresapkan air pada beberapa vegetasi dan tipe penggunaan lahan? Penelitian dilakukan di DAS Kreo Semarang. Teknik pengambilan sampel secara purposive sampling pada berbagai tipe penggunaan lahan meliputi hutan, kebun campuran, permukiman, sawah, dan rumput. Pengambilan sampel tanah dalam bentuk sampel tanah terusik dan tanah tidak terusik. Sifat fisik tanah pada hutan memiliki nilai BO dan permeabilitas paling tinggi, kebun campuran memiliki nilai rata-rata kadar air dan BV paling tinggi, sedangkan pada lahan sawah memiliki nilai paling tinggi untuk porositas dan BJ. Pada lahan permukiman dan rumput mempunyai nilai sedang hingga rendah, dengan kelas permeabilitas sedang hingga lambat. Kemampuan tanah meresapkan air diukur dari nilai kapasitas infiltrasi, pada lahan hutan lebih cepat dibandingkan dengan lahan kebun campuran dan sawah. Rata-rata nilai kemampuan potensial sementara tanah menahan air hujan dan aliran permukaan di DAS Kreo sebesar 0,094 m. Nilai ini menunjukkan bahwa keberadaan tanah dalam menahan air di DAS Kreo masih baik. Sifat tanah seperti tekstur, BO, kadar air, dan permeabilitas tanah sangat mendukung dalam meresapkan air ke dalam tanah. Kata Kunci: sifat fisik tanah, kemampuan tanah meresapkan air
KAJIAN EVALUASI KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN DENGAN TEKNIK SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) Setyowati, Dewi Liesnoor
Jurnal Geografi Vol 4, No 1 (2007): January 2007
Publisher : Jurnal Geografi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemukiman merupakan tempat yang sangat diperlukan oleh manusia sebagai tempat tinggal dan melakukan segala aktivitas hidupnya. Pertambahan jumlah penduduk mempengaruhi kebutuhan akan permukiman. Namun kenyataannya luas lahan tetap tidak berubah, sehingga nilai tanah menjadi mahal dan masyarakat tetap membangun walaupun sebenarnya lahan tersebut tidak layak untuk dibangun. Inventarisasi data yang akurat tentang identifikasi kelayakan suatu lahan untuk permukiman sangat diperlukan, namun pada kenyataannya data tersebut sulit diperoleh. Teknologi Sistem Informasi Geografis sangat membantu dalam upaya inventarisasi dan penyajian data dalam bentuk peta, Hasil inventarisasi dan evaluasi kesesuaian lahan untuk keperluan kawasan permukiman sangat diperlukan, data ini akan memberikan sumbangan pemikiran bagi instansi terkait maupun masyarakat pengguna lahan dalam rangka pembangunan permukiman sehingga terjadi keselarasan dengan lingkungan alam. Kota Semarang terdapat 4 kelas kesesuaian lahan yaitu kelas S2 (sesuai), kelas S3 (sesuai dengan beberapa hambatan) dan kelas N1 (tidak sesuai) dan kelas N2 (sangat tidak sesuai). Kelas kesesuaian S2 meliputi kawasan seluas 5.549 hektar (36,9%), kelas S3 meliputi daerah seluas 944 hektar (6,3%), kelas N1 meliputi daerah seluas 8.059 hektar (53,5%), dan kelas N2 seluas 503 hektar (3,4%). Faktor penghambat atau pembatas yang dominan kelas kesesuaian lahan di Kota Semarang adalah kemiringan lereng, kekuatan batuan, kembang kerut tanah, jalur patahan, bahaya erosi, dan bahaya longsor. Kata kunci: SIG, mitigasi rawan bencana
MODEL SPASIAL KETERSEDIAAN AIRTANAH DAN INTRUSI AIR LAUT UNTUK PENENTUAN ZONE KONSERVASI AIRTANAH Sriyono, -; Qudus, Nur; Setyowati, Dewi Liesnoor
Sainteknol : Jurnal Sains dan Teknologi Vol 8, No 2 (2010): December 2010
Publisher : Unnes Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/sainteknol.v8i2.326

Abstract

Airtanah merupakan sumberdaya air yang paling baik untuk air bersih danair minum. Kebutuhan airtanah selalu meningkat sesuai dengan pertambahanpenduduk. Peningkatan pengambilan airtanah pada kawasan pantai memacuterjadinya intrusi air laut, atau masuknya air laut ke air tawar. Tujuan umumpenelitian membuat model spasial ketersediaan airtanah dan intrusi air laut padakawasan pantai. Penelitian dilakukan di kawasan pantai Kota Semarang. Datameliputi: data fisik lahan, data hasil booring, karakteristik fisik airtanah, kedalamanmuka freatik, fluktuasi airtanah, sifat fisik airtanah, dan karakteristik akifer. Peralatanpenelitian berupa satu set alat geolistrik, GPS, EC-meter, dan Notebook. Pemilihandan pengukuran sampel sumur dan pendugaan geolistrik dengan teknik stratifiedpurposive sampling. Analisis meliputi uji kualitas air, analisis geolistrik dengansclumberger, sebaran intrusi, kedalaman dan arah aliran airtanah. Kondisi air sumurdi Pantai Semarang sebagian besar berasa payau sampai asin, dengan nilai DHLberkisar antara (6.448,1-5,7) ms/cm. Akifer bebas pada kawasan pantai Semarangtersusun material aluvium campuran dengan batupasir dengan lempung, pada bagianbawah terdapat lapisan akuitard dan lapisan kedap berupa akuiclud berupa materiallempung. Analisis hubungan antara ketersediaan dengan arah perkembangan wilayahmenghasilkan zone konservasi dalam enam zona, yaitu zone kritis, zone rawan, zoneaman 1, zone aman 2 zone aman 3, zone aman 4. Saran penelitian perlu dilakukanpemeliharaan dan pembatasan penggunaan airtanah, upaya mencari sumber airtanah,peningkatan cadangan airtanah dengan konservasi vegetatif, membuat embung,sumur resapan, biopori.Kata Kunci: akifer, intrusi, konservasi
UPAYA KONSERVASI LINGKUNGAN PADA KAWASAN INDUSTRI CANDI KOTA SEMARANG Setyowati, Dewi Liesnoor
Indonesian Journal of Conservation Vol 3, No 1 (2014): IJC
Publisher : Indonesian Journal of Conservation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The opening of Candi Industrial Area (KIC) resulted in hill cutting, deforestation, geological structure changes, the loss of two streams, the construction of warehousing with the stainless roof, installation, and  construction of artesian wells. As a result, there is a problem of air, water, and soil pollution. The study was conducted in KIC. The data of land use was interpreted from Landsat TM imagery in 1994, and SPOT 5 imagery in 2006, as well as the field inspection in 2010. In General, there were changes in land use to residential and industrial. The extent of the settlement in 1994 amounted to 371.824 ha, in 2010, it was 486.350 ha, and 16,097 ha area of the industry in 1994 became 319.043 ha in 2010. Changes in land use had an impact on the increased value of peak discharge flow, amounting to 1,471 m3 / s in 1994, 3.338 m 3 / s in 2005, and in 2010 increased to 7.229 m3 / s. Conservation models are done in the upstream area of Silandak River. KIC must build green line with annual plants, a garden with shade trees, reservoirs or absorption pools, and absorption wells for every industry building and each residential plots of the industry. In the downstream area, it is essential to build solid embankments on the right and left side of the river. It is also important to construct proper drainage system  to prevent  the water stagnating. Last, planting trees which have strong roots durability is necessaryKeywords: land use, environmental conservation, industrial estates.Pembukaan Kawasan Industri Candi (KIC), mengakibatkan pemotongan bukit, penebangan pohon, perubahan struktur geologis, hilangnya dua aliran sungai, pembangunan pergudangan dengan atap steanless, pemasangan instalasi, dan pembuatan sumur artetis. Akibatnya terjadi permasalahan polusi udara, air, dan tanah. Penelitian dilakukan di KIC. Data penggunaan lahan diinterpretasi dari citra Landsat TM tahun 1994, dan citra SPOT 5 tahun 2006, serta ceking lapangan tahun 2010. Pada umumnya terdapat, perubahan penggunaan lahan menjadi pemukiman dan industri. Luas pemukiman tahun 1994 sebesar 371,824 Ha, tahun 2010 menjadi 486,350 Ha, luas industri 16,097 Ha tahun 1994, menjadi 319,043 Ha tahun 2010. Perubahan penggunaan lahan berdampak pada meningkatnya nilai debit puncak aliran, sebesar 1,471 m3/dt tahun 1994, pada tahun 2005 sebesar 3,338 m3/dt, dan tahun 2010  meningkat menjadi 7,229 m3/dt. Model konservasi dilakukan pada kawasan hulu Kali Silandak. KIC harus membangun jalur hijau, dengan tanaman tahunan, pembuatan taman dengan pohon pelindung, pembuatan embung atau kolam resapan, kewajiban membuat sumur resapan pada setiap bangunan industri, dan setiap kapling perumahan industri. Pada kawasan hilir sungai, dilakukan pembuatan tanggul, yang kokoh pada sisi kanan kiri sungai, pembuatan sistem drainase yang layak, supaya air tidak menggenang, sisi sungai ditanami tanaman yang mempunyai daya tahan akar yang kuat.Kata Kunci: penggunaan lahan, konservasi lingkungan, kawasan industri. 
Hubungan Hujan dan Limpasan Pada Sub DAS Kecil Penggunaan Lahan Hutan, Sawah, Kebun Campuran di DAS Kreo Setyowati, Dewi Liesnoor
Forum Geografi Vol 24, No 1 (2010): July 2010
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (540.91 KB) | DOI: 10.23917/forgeo.v24i1.5014

Abstract

Tendency of land use conversion is followed by maximum discharge of Kreo River, but unknown land use type what which can race improvement of runoff. Purpose of the research is study the relation of rainfall runoff at forest, rice field, and mixed garden. Research about rainfall runoff study is including research type of experiment for purpose of descriptive, through observation of rain data and water level at small watershed with one land use types that is forest, rice field, and mixed garden. Instrument of rain and water level attached at small watershed during the rains 2007.Data analysis comprises analysis of stream hydrograph, rain analysis, stream coefficient, and statistic analysis as well. Big the so small runoff value is more determined by rainfall amounts happened non land use type. Number of big rains at one land use will yield big runoff also, while the same rainfall amounts at some land use types will yield varying runoff follows land use type and condition of soil At small watershed (less than 200 ha), the relation of rainfall (P) with direct runoff (DRO) has very strong correlation (R2 bigger than 0.7). Relation between rain intensity (I) with DRO; I with peak discharge (Qp); duration of rain (DR) with DRO; DR with Qp indicated weak reaction (R2 less than 0.3). It indicated there were many factors (more than 70%) which influenced the above mentioned relations. Runoff coefficient value at forest was 0,3566, mix forest was 0,4227, rice field was 0,6661, and mixed garden was 0,4227. Land ability to permeate in the forest (65%) is bigger than mixed garden (57%) and rice field (33%).
MODEL AGROKONSERVASI UNTUK PERENCANAAN PENGELOLAAN DAS GARANG HULU Setyowati, Dewi Liesnoor; Amin, Mohammad; Suharini, Erni; Pigawati, Bitta
TATALOKA Vol 14, No 2 (2012): Volume 14 Number 2, May 2012
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/tataloka.14.2.131-141

Abstract

The problems in the Garang Watershed includes flooding, erosion, sedimentation, landslides, and droughts. It can be overcome by the land uses arrangement. Management in Garang Watershed can be planned using agro-conservation model. This model consists of three submodels, i.e., water management submodel,  erosion submodel, and community submodel. Submodel water management produces TATAAIR.EXE software, used for the simulation of optimal land use planning. Addition 10% of the forest area and 10% mixed farms are  the most optimal landuse composition, whereas 25% of forest reduction to moor can increase the ratio of discharge and water production. The total value of actual erosion in Upstream Garang Watershed is 3249.861 tonnes/ha/year. Level of erosion hazard are height erosion which cover area of 27.20%, moderate erosion covers area of 21.57%, and mild erosion covers area of 38.86%. Forms of conservation for the handling of the dangers of erosion that can be done include: vegetative engineering, vegetative-mechanic engineering, and without conservation measures. Environmentally conscious community forum should be established at least at the level of RW as a cadre to increase public awareness in preserving the environment.
TINGKAT KERUSAKAN LINGKUNGAN DI DATARAN TINGGI DIENG SEBAGAI DATABASE GUNA UPAYA KONSERVASI Ngabekti, Sri; Setyowati, Dewi Liesnoor; Sugiyanto, Sugiyanto R. Sugiyanto
Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 14, No 2 (2007)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penebangan hutan secara liar guna memperluas area tanaman kentang di wilayah Dieng, berakibat menurunnya tingkat keanekaragaman hayati. Berdasarkan hasil penilaian oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Tengah (2001), hanya ditemukan kurang dari 50 jenis tumbuhan per hektar, sehingga dikategorikan sebagai kawasan miskin jenis tumbuhan dan perlu dilakukan upaya untuk mengatasi kerusakan lingkungan di dataran tinggi Dieng melalui konservasi lingkungan. Agar konservasi lingkungan berhasil, perlu adanya database kondisi lingkungan sehingga diperoleh cara konservasi yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kerusakan di dataran tinggi Dieng sebagai database guna upaya konservasi. Penelitian ini menggunakan metode eksplorasi secara langsung di lokasi penelitian melalui pengamatan, pengukuran, pemetaan, dan wawancara dengan petani dan aparat terkait. variabel yang akan diukur adalah tingkat kerusakan fisik lahan, kerusakan biologis lingkungan, dan aspek demografi, ekonomi, sosial dan budaya masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara fisik, tingkat kerusakan lahan pertanian semakin parah, sehingga menurunkan produksi kentang di daerah ini. Secara biologis, tingkat keanekaragaman jenis tanaman liar berkisar antara 0,81 – 0,98, dan termasuk kategori rendah. Dari aspek perilaku penduduk dalam upaya konservasi, belum menunjukkan hasil, karena areal tanaman kentang menjadi semakin luas akibat penebangan hutan konservasi. Tingkat kerusakan lingkungan di daataran tinggi Dieng semakin parah, sehingga dapat menurunkan produksi kentang. Saran yang dapat disampaikan adalah perlunya dilakukan upaya pengelolaan dan konservasi kawasan Dataran Tinggi Dieng. Oleh karena kondisi geografisnya, pola usaha pertanian yang dilakukan di Dieng harus diikuti dengan kajian konservasi lahan, perlunya dicari tanaman pengganti kentang yang dapat mencegah terjadinya erosi.  
IKLIM MIKRO DAN KEBUTUHAN RUANG TERBUKA HIJAU DI KOTA SEMARANG Setyowati, Dewi Liesnoor
Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 15, No 3 (2008)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu darnpak perkembangan jumlah penduduk kota adalah terjadinya konversi lahan. Konversi ruang terbuka hijau (RTH) menjadi fasilitas bangunan menyebabkan terjadi pencemaran di kota. Berkurangnya RTH mengakibatkan terjadinya kenaikan temperatur lokal dalam kota. Keberadaan RTH memiliki manfaat cukup besar dalam peningkatan kualitas lingkungan hidup kota, seperti sebagai pengendali iklim mikro. Sebaran vegetasi perindang termasuk kategori jarang, terutama komposisi vegetasi rendah dan kerapatan pohon sangat jarang. Kondisi Iklim mikro secara keseluruhan termasuk kategori sebagian tidak nyaman, khususnya pada siang hari. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh kurangnya vegetasi perindang di sepanjang jalan, sehingga kondisi iklim mikro menjadi panas dan kering. Keberadaan RTH di Semarang Tengah yang hanya seluas 6,77% perlu ditambah RTH seluas 14,02%. Diharapkan luas RTH sebesar 20,79% dari total luas wilayah, sehingga akan dapat memperbaiki iklim mikro di kawasan perkotaan.
SEBARAN VEGETASI DAN KONSENTRASI GAS CO - Pb DI TAMAN KB, SIMPANG LIMA, DAN TUGU MUDA KOTA SEMARANG Margahayu, Hilyana; Hariyanto, Hariyanto; Setyowati, Dewi Liesnoor
Indonesian Journal of Conservation Vol 4, No 1 (2015): IJC
Publisher : Indonesian Journal of Conservation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The warming temperatures are caused high gas escaping emissions in the air. Industrial activities and transport in the city led to increased gas CO, Pb, dust and noise. It needs the efforts to restructure and improve the environment through a city park. City park in addition to having a value of beauty is also able to absorb dust particles, gases CO, Pb and noise. This study aimed to vegetation distribution and gas concentration CO, Pb, dust, noise in the garden city of Semarang. The object of this study was the city park area in the district of Semarang and Semarang in the form of South Central. The research sample KB Park, Taman Simpang Lima and Garden Tugu Muda. The research variables include the type and amount of vegetation, species composition of vegetation, vegetation density and state of vegetation distribution, gas concentration CO, Pb, dust and noise. Data analysis techniques use quantitative descriptive analysis. The distribution of vegetation in the park KB, Simpang Lima Park and Garden Tugu Muda of aspects of the composition of the vegetation is very little to the value category ≤20,0%, aspects of the category of very rare vegetation density value ≤14,0%, and distribution of vegetation including the category of very ugly with ≤20,0% value. The concentration of air pollutants such as dust 409 μgr / m3 and 76.19 dBA noise both have exceeded the national ambient air quality standard. When compared to the air pollution in Taman Simpang Lima and Garden Tugu Muda higher than Taman KB. Semarang City Government needs to increase the number of trees in the Garden of KB to be effective in lowering the levels of CO, lead and noise. Memanasnya suhu di kota-kota besar disebabkan oleh tingginya gas emisi yang lepas di udara. Kegiatan industri dan transportasi di kota menyebabkan meningkatnya gas CO, Pb, debu dan kebisingan. Diperlukan usaha untuk menata dan memperbaiki lingkungan melalui taman kota. Taman kota selain mempunyai nilai keindahan juga mampu menyerap partikel debu, gas CO, Pb dan kebisingan. Tujuan penelitian mengetahui sebaran vegetasi dan konsentrasi gas CO, Pb, debu, kebisingan di taman Kota Semarang. Objek penelitian ini adalah kawasan taman kota di Kecamatan Semarang berupa Selatan dan Semarang Tengah. Sampel penelitian Taman KB, Taman Simpang Lima dan Taman Tugu Muda. Variabel penelitian meliputi jenis dan jumlah vegetasi, komposisi jenis vegetasi, kerapatan vegetasi dan keadaan sebaran vegetasi, konsentrasi gas CO, Pb, debu dan kebisingan. Teknik analisis data berupa analisis deskriptif kuantitatif. Sebaran vegetasi di Taman KB, Taman Simpang Lima dan Taman Tugu Muda dari aspek komposisi vegetasi kategori sangat sedikit dengan nilai ≤20,0%, aspek kerapatan vegetasi kategori sangat jarang dengan nilai ≤14,0%, dan sebaran vegetasi termasuk kategori sangat jelek dengan nilai ≤20,0%. Konsentrasi cemaran udara seperti debu 409 µgr/m3 dan kebisingan 76,19 dBA keduanya telah melebihi batas baku mutu udara ambien nasional. Kalau dibandingkan maka cemaran udara di Taman Simpang Lima dan Taman Tugu Muda lebih tinggi dari Taman KB. Pemkot Kota Semarang perlu menambah jumlah pohon di Taman KB agar efektif dalam menurunkan kadar CO, timbal dan kebisingan. 
Co-Authors - Sriyono Abdurohim, Siha Ananto Aji, Ananto Annisa, Aulia Ariesta, Freddy Widya Bitta Pigawati Cahyo Budi Utomo Cintang, Nyai Dewanti Handayani, Sri Sularti Dewi Agustina Edy, Agus Nowo eko purwanti, eko Emi Anwarul Prastiwi, Emi Anwarul Erni Suharini Etty Soesilowati Eva Banowati Fatmawati, Noor Hairumini, Hairumini Hamdan Tri Atmaja Handayani Handayani HARIYANTO HARIYANTO Hasyim, Muhammad Azwar Hilyana Margahayu, Hilyana Imam Santoso Juhadi Juhadi Marza Aditya Kusuma, Marza Aditya Masnita Indriani Oktavia, Masnita Indriani Migawati Hari Dwi Jayanti, Migawati Hari Dwi Mohammad Amin Muhammad Mujibur Rohman, Muhammad Mujibur Nana Kariada Tri Martuti, Nana Kariada Tri Nisa, Lana Shofiatun Nur Qudus Prasetiyo, Bagus Priyanto, Agustinus Sugeng Purwadi Suhandini Putra Muhammad Rifqi, Putra Muhammad Putri Handayani R. Sugiyanto, R. Rini, Bekti Sulistya Rokhim, Mohammad Abdul Saddam Saddam, Saddam Satya Budi Nugraha, Satya Budi Satyanta Parman Sholekhah, Siti Nur Fatimah Siti Pratiwi Iriani, Siti Pratiwi Sri Mantini Rahayu Sedyawati Sri Ngabekti Sriyono Sriyono Subkhan, Akhmad Sucihatiningsih Dian Wisika Prajanti Sugiyanto R. Sugiyanto Sugiyanto, Sugiyanto R. Sugiyanto Sugiyanto Sugiyanto Suharto Linuwih Suroso Suroso Susianti, Oni Marliana Tjaturahono Budi Sanjoto Tri Marhaeni Pudji Astuti Tukidi Tukidi, Tukidi Wahid Akhsin Budi Nur Sidiq, Wahid Akhsin Budi Nur Wahyu Setyaningsih Wasino Wasino Wasro Wasro, Wasro Wiratuningsih, Dina Yudi Aryanto, Yudi Yuli Kurniawati Sugiyo Pranoto, Yuli Kurniawati Sugiyo