Jawoto Sih Setyono
Dosen Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Published : 49 Documents
Articles

KEBERADAAN PEMULUNG DALAM PENGELOLAAN SAMPAH DI KOTA MAGELANG (Studi Kasus: Kelurahan Jurangombo Utara dan Rejowinangun Utara) Larasati, Kintan Kartika; Setyono, Jawoto Sih
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 3 (2013): Agustus 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sektor formal di Kota Magelang hanya mampu melayani 70% sampah yang timbul setiap hari. Hal ini memberikan peluang ekonomi bagi kaum marjinal, khususnya pemulung. Penelitian ini dilakukan terhadap 12 pemulung melalui pendekatan kualitatif, dengan studi kasus di Kelurahan Jurangombo Utara dan Rejowinangun Utara.  Berdasarkan hasil penelitian, aktivitas pemulung di kedua kelurahan ini mendukung dalam pengelolaan sampah berkelanjutan. Pemulung berhasil mengurangi sampah sebesar ±245 kg per hari dan memilah sampah berdasar jenisnya. Sampah yang telah dikumpulkan, lalu dijual pada pengepul, dan didistribusikan ke industri daur ulang sampah. Namun, keberadaan pemulung dalam mengelola sampah kurang diakui oleh masyarakat dan Pemerintah Kota Magelang. Aktivitas pemulung terlalu dieksploitasi tetapi penghasilannya sangat sedikit. Berbagai faktor internal dan eksternal mempengaruhi kerentanan dan ketidaktahanan pemulung secara sosial ekonomi. Hal ini perlu diperbaiki, dan keberadaan pemulung sebaiknya diakui. Salah satu caranya adalah membentuk paguyuban pemulung. Paguyuban tersebut berfungsi untuk mengatur aktivitas pemulung, memudahkan dalam memberi pelatihan pengelolaan sampah, memudahkan akses terhadap fasilitas umum, meningkatkan penghasilan, dan meningkatkan kualitas hidup pemulung. Pola pandang masyarakat terhadap aktivitas pemulung juga perlu dirubah agar keberadaan pemulung lebih diakui.
EFEKTIVITAS DAN EFISIENSI PERAN PEMERINTAH DALAM TANGGAP DARURAT BANJIR DI KABUPATEN SRAGEN Nuriasari, Aulia; Setyono, Jawoto Sih
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 3 (2013): Agustus 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu dampak perubahan iklim adalah terjadinya bencana banjir di beberapa Daerah Aliran Sungai seperti di DAS Bengawan Solo yang merupakan DAS terpanjang di Pulau Jawa. Kabupaten Sragen sebagai bagian dari DAS Bengawan Solo hulu hampir tiap tahunnya mengalami bencana banjir. Adanya kecenderungan peningkatan wilayah terdampak banjir pada dua tahun terakhir (2011-2012) yang disertai dengan belum adanya organisasi dan kebijakan khusus dalam penanganannya mengindikasikan bahwa peran pemerintah daerah Kabupaten Sragen kurang mampu untuk mencapai tujuan penanganan banjir tersebut yaitu meminimalisasi kerugian sebagai dampak negatif yang ditimbulkan. Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja pemerintah daerah Kabupaten Sragen khususnya lembaga yang berperan dalam tanggap darurat. Kinerja dinilai dari aspek efektivitas dengan variabel kualitas dan kecukupan serta aspek efisiensi dengan variabel kejelasan, kesesuaian dan siklus waktu. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan analisis deskriptif kuantitatif serta analisis skoring dan pembobotan. Melalui beberapa analisis tersebut penelitian ini menghasilkan temuan studi yaitu peran lembaga penanganan bencana banjir dalam tanggap darurat di Kabupaten Sragen memiliki kinerja baik (efektif dan efisien). Akan tetapi, kinerja lembaga pemerintah Kabupaten Sragen tersebut dipengaruhi oleh beberapa nilai tinggi dan nilai yang kurang baik menurut hasil penilaian kinerja oleh responden dalam beberapa indikator.
PENGARUH DAYA TARIK PASAR TRADISIONAL DAN PASAR MODERN TERHADAP PREFERENSI KONSUMEN (Studi Komparasi Pasar Karangayu dan Giant Superdome) Asribestari, Ratna; Setyono, Jawoto Sih
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 3 (2013): Agustus 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan pasar moden di Kota Semarang, cukup pesat. Munculnya berbagai jenis pasar nontradisional dapat meningkatkan kompetisi antara pasar tradisional dengan pasar modern, seperti yang terjadi pada Pasar Karangayu dan Giant Superdome yang memiliki lokasi yang berdekatan. Hal ini didukung dengan adanya perubahan perilaku masyarakat yang kini semakin modern mengakibatkan kecenderungan perpindahan tempat belanja dari pasar tradisional menuju pasar modern. Dalam menarik pengunjung, setiap pasar harus memiliki daya tarik tersendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh daya tarik pasar terhadap preferensi konsumen. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah studi komparasi antara Pasar Karangayu dan Giant Superdome. Dalam penelitian ini yang menjadi objek adalah konsumen yang melakukan belanja di kedua pasar tersebut. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat beberapa hal yang menjadi daya tarik Pasar Karangayu, yaitu variasi barang, harga barang dan fasilitas umum sedangkan daya tarik Giant Superdome adalah kenyamanan, variasi barang, harga barang, kondisi fisik pasar, fasilitas pasar. Aksesibilitas menjadi daya tarik kedua pasar namun adanya limitasi berupa pulau jalan yang memisahkan antara lajur jalan mengurangi kemudahan aksesibilitas pasar terutama bagi konsumen yang berada di seberang pasar. Dari hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan bahwa ada pengaruh antara daya tarik pasar terhadap preferensi konsumen, yaitu Giant Superdome lebih disukai daripada Pasar Karangayu. Rekomendasi yang dapat dirumuskan pada penelitian ini adalah penataan lokasi pasar modern dengan memperhatikan pasar tradisional yang telah ada.
ADAPTASI MASYARAKAT DALAM MENGHADAPI KERENTANAN AIR BERSIH AKIBAT PERUBAHAN IKLIM DI KELURAHAN TANDANG, KECAMATAN TEMBALANG, SEMARANG Kusuma, Sonia Vianitya; Setyono, Jawoto Sih
Jurnal Teknik PWK Vol 2, No 3 (2013): Volume 2 No 3 Tahun 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perubahan iklim merupakan peristiwa kenaikan suhu bumi sehingga berdampak peningkatan suhu udara dan perubahan pola musim. Akibatnya musim kemarau panjang menyebabkan beberapa daerah mengalami kerentanan air bersih sehingga masyarakat perlu melakukan adaptasi. Pusat Layanan Teknologi dan Riset Fakultas Teknik Universitas Diponegoro (2011) mengatakan nilai gap Kelurahan Tandang yaitu -45,3 menunjukkan bahwa kondisi ketersediaan dan kebutuhan air termasuk kategori kesenjangan tingkat tinggi. Tujuan penelitian adalah pengkajian mengenai kapasitas dan proses adaptasi masyarakat untuk dapat bertahan hidup dalam menghadapi tantangan perubahan iklim. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan strategi penelitian studi kasus. Metode pengumpulan data menggunakan snowballing sampling dan triangulasi. Metode analisis deskriptif yang membahas mengenai kapasitas adaptasi masyarakat yang menjadi dasar terbentuknya proses adaptasi masyarakat dalam menghadapi tantangan perubahan kondisi. Penelitian menghasilkan temuan studi yaitu adaptasi masyarakat mengalami peningkatan yang disebabkan oleh peningkatan kapasitas adaptasi yang dipengaruhi oleh faktor internal dan ekternal. Melalui analisis proses adaptasi diperoleh 4 tipe keputusan dan respon adaptasi. Kondisi semakin membaik karena peran institusi dan komunitas. Adaptasi yang dilakukan masyarakat merupakan adaptasi proaktif sehingga penelitian memberikan rekomendasi perlunya rancangan dilakukannya adaptasi terencana dengan tahapan pengumpulan informasi, perencanaan, desain yang diimplementasi, monitoring, dan evaluasi.
PERKEMBANGAN SOSIAL EKONOMI KOTA KECIL DI JAWA TENGAH Landra, Julio Utama; Setyono, Jawoto Sih
Jurnal Teknik PWK Vol 1, No 1 (2012): Volume 1 No 1 Tahun 2012
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Urbanisasi merupakan salah satu isu global kependudukan yang mempunyai dampak positif berupa pertumbuhan ekonomi dan negatif berupa penurunan kualitas lingkungan. Urbanisasi terjadi di negara berkembang seperti Indonesia pada umumnya dan Jawa Tengah pada khusunya. Jawa Tengah telah memiliki berbagai jenis kota yang mengalami perkembangan, baik secara spasial maupun secara sosial ekonomi, salah satunya adalah kota kecil. Kota kecil adalah adalah tempat hidup bagi penduduk perkotaan, karena separuh dari penduduk perkotaan di seluruh dunia bertempat tinggal di kota-kota kecil ini (Taccoli (ed.), 2006). Tujuan studi ini adalah untuk mengetahui variasi aspek sosial ekonomi yang mempengaruhi perkembangan kota kecil di Jawa Tengah. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif yang didalamnya terdapat analisis deskriptif, analisis komparatif dan analisis overlay peta. Untuk menganalisis perkembangan sosial ekonomi penduduk digunakan metode kuantitatif. Pertama, mengidentifikasi kota yang berada di Jawa Tengah, selanjutnya menganalisis kota-kota yang termasuk kota kecil, dan menganalisis perkembangan sosial ekonomi di kota kecil. Terakhir adalah menganalisis tipologi kota kecil berdasarkan aspek sosial ekonomi dengan metode analisis SIG. Temuan studi menunjukkan bahwa berdasarkan pola tipologi spasialnya, kota-kota kecil berkembang bermula di sepanjang jalur pantai utara Jawa, pantai selatan dan sekitar Kota Solo serta kota kecil bagian tengah Jawa Tengah. Selanjutnya mulai terjadi aglomerasi antara pantai utara dan selatan pada tahun 2006 dan semakin berkembang di tahun 2008 karena infrastruktur dan fasilitas yang semakin lengkap dan menyebar. Perkembangan kota masih memiliki ketergantungan terhadap kesamaan geografis, yaitu berada di sepanjang pantai utara dan selatan Pulau Jawa. Ada pula kota kecil yang tumbuh cepat walaupun lokasinya tidak berada di sepanjang pantai. Hal ini dikarenakan kota tersebut berkembang secara alami. Jadi, perkembangan kota tidak hanya dipengaruhi oleh urbanisasi, tetapi ada faktor lain seperti sifat alamiah (kesamaan topografi, SDA, budaya) maupun buatan (jaringan infrastruktur).
Implikasi Keberadaan PPI Terhadap Pertumbuhan Kawasan Ekonomi Perikanan (Studi Kasus: PPI Karangsong Kecamatan Indramayu Provinsi Jawa Barat) setyono, jawoto sih
JURNAL PEMBANGUNAN WILAYAH & KOTA Vol 4, No 1 (2008): Implikasi Keberadaan PPI Terhadap Pertumbuhan Kawasan Ekonomi Perikanan (Studi
Publisher : UNDIP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keberadaan PPI Karangsong sebagai sarana yang menampung kegiatan perikanan membentuk hubungan keterkaitan yang berlangsung pada kegiatan hulu dan hilir. Hubungan keterkaitan dalam kegiatan perikanan membentuk interaksi fisik, ekonomi, dan sosial. Adanya hubungan interaksi tersebut berimplikasi pada pertumbuhan kawasan sekitarnya. Permasalahan dalam produktivitas kegiatan perikanan terhadap tingkat kesejahteraan terjadi pada nelayan pencari ikan dan buruh nelayan. Mengingat pelaku usaha yang mendominasi dalam kegiatan perikanan adalah nelayan (nelayan buruh), sementara stratifikasi nelayan Karangsong bukanlah suatu entitas tunggal, melainkan terdiri dari beberapa kelompok yang dapat dibedakan oleh kondisi kemampuan permodalan. Hasil penelitian diperoleh bahwa kegiatan perikanan yang berlangsung pada kegiatan hulu dan hilir telah menciptakan nilai pendapatan diantaranya nilai pendapatan yang diperoleh pemerintah (1,6%) sebagai penyedia sarana PPI Karangsong dan pihak pengelola PPI Karangsong yakni KPL Mina Sumitra, yang meliputi nilai pendapatan dari alokasi penyelenggaraan (1,65%) dan operasional TPI (0,80%), kemudian nilai pendapatan yang diperoleh bakul ikan memperoleh keuntungan marjinal dari hasil memasarkan ikan untuk wilayah lokal (11,23%) dan pemasaran di luar Wilayah Indramayu (14,41%). Kata kunci: Keberadaan PPI, kegiatan perikanan, pertumbuhan kawasan ekonomi  perikanan
TINGKAT KERENTANAN LINGKUNGAN KABUPATEN WONOGIRI Hidayati, Itsna Yuni; Setyono, Jawoto Sih
Jurnal Teknik PWK Vol 4, No 4 (2015): Volume 4 No. 4 Tahun 2015
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kabupaten Wonogiri merupakan wilayah yang memiliki karakteristik kondisi fisik alamiah yang unik dan rawan terhadap terjadinya bencana alam. Kondisi fisik alamiah termasuk didalamnya aspek topografi, klimatologi dan litologi merupakan determinan penting untuk mengevaluasi tingkat kerentanan lingkungan. Isu-isu lingkungan seperti bencana alam juga merupakan faktor yang berpengaruh terhadap kerentanan lingkungan. Rata-rata angka kemiskinan di Kabupaten Wonogiri adalah 26,283% pada tahun 2005-2010, termasuk tertinggi di Jawa Tengah. Masyarakat miskin lebih rentan dikarenakan mereka cenderung hidup di daerah yang berbahaya dan lebih bergantung pada alam untuk penghidupan mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kerentanan lingkungan di Kabupaten Wonogiri. Tingkat kerentanan lingkungan di Kabupaten Wonogiri didefinisikan sebagai fungsi dari keterpaparan lingkungan, sensitivitas, dan kapasitas adaptif. Analisis fungsi kerentanan lingkungan dilakukan menggunakan metode Indeks Dimensi yang dikembangkan UNDP (2005) dan Indeks Kerentanan Lingkungan. Dilihat dari tingkat keterpaparan lingkungannya, wilayah di Kabupaten Wonogiri masuk dalam kategori keterpaparan lingkungan sangat rendah. Jika dilihat dari sensitivitasnya, wilayah di Kabupaten Wonogiri cenderung masuk dalam kategori sensitivitas rendah. Pada tingkat kapasitas adaptif, wilayah Kabupaten Wonogiri sebagian besar masuk dalam kategori kapasitas adaptif rendah. Berdasarkan hasil analisis, ada 3 dari 5 kategori kerentanan lingkungan di Kabupaten Wonogiri yakni rentan, kerentanan rendah dan kerentanan sangat rendah. Sebagian besar wilayah di Kabupaten Wonogiri masuk dalam kategori kerentanan lingkungan sangat rendah, 17 dari 25 Kecamatan masuk dalam kategori ini.
Nilai Lokal dalam Perencanaan Tata Ruang Kota Muntilan Shawma, Nadia Gita; Setyono, Jawoto Sih
JURNAL PEMBANGUNAN WILAYAH & KOTA Vol 10, No 1 (2014): JPWK Volume 10 Number 1 Year 2014
Publisher : UNDIP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota Muntilan merupakan salah satu kota kecil yang merespon perkembangan dan modernisasi. Selainkedudukannya di jalur nasional yang menghubungkan antara Kota Yogyakarta dengan Kota Semarangsebagai ibu kota propinsi, ternyata Kota Muntilan menyimpan aspek-aspek kelokalan seperti kondisialamnya, masyarakatnya sebagai keturunan orang Jawa dan keanekaragaman Agama yang ada,namun sekaligus menjadi peluang bagi perkembangan Kota Muntilan. Fenomena-fenomena ini yangakan terus bermunculan sehingga akan mempengaruhi arah tatanan ruang perkotaan yang disusunoleh pemerintah dalam suatu proses dan produk perencanaan tata ruang. Penelitian nilai lokal dalamperencanaan tata ruang dengan pendekatan Grounded Theory berhasil mendapati nilai-nilai lokal yangterbentuk dari interaksi masyarakat dengan aspek-aspek kelokalan, diantaranya pandanganmasyarakat mengenai ancaman Gunung Merapi, kecintaan sebagai wong jowo, nilai keimanan yangtersembunyi dari kesenian pahat batu, kesenian mina lumping serta toleransi dan keharmonisan antarumat beragama pada masyarakat Muntilan. Dari sekian nilai lokal ternyata hanya satu nilai lokal yangdipertimbangkan dalam perencanaan tata ruang dan tertuang didalam dokumen rencana tata ruang,RDTRK Muntilan. Adapun nilai lokal lainnya yang tidak diatur pemerintah dalam perencanaan tataruang, dijadikan sebagai rekomendasi kepada pemerintah dan pihak terkait dalam pelaksanaanperencanaan tata ruang Kota Muntilan.Kata kunci: nilai lokal, perencanaan, tata ruang
PERKEMBANGAN INDUSTRI DI PEDESAAN DAN PERUBAHAN KARAKTERISTIK WILAYAH DESA DI DESA NGUWET KECAMATAN KRANGGAN KABUPATEN TEMANGGUNG Rahmawati, Feptian Kuni; Setyono, Jawoto Sih
Jurnal Teknik PWK Vol 3, No 4 (2014): Volume 3 No 4 Tahun 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proses pembangunan di Indonesia dewasa ini lebih mengarah pada proses pembangunan desa yang didorong untuk bertransformasi menjadi penyangga perekonomian. Proses pembangunan pedesaan di Indonesia salah satunya melalui proses industrialiasasi pedesaan, dimana sektor industri lebih dianggap dapat memberikan dampak yang lebih besar dibandingkan sektor yang lain dalam mengatasi permasalahan di perdesaan. Desa Nguwet, Kecamatan Kranggan merupakan salah satu desa yang mengalami proses industrialisasi, dimana desa ini berdasarkan RTRW Kabupaten Temanggung Tahun 2011-2031 dirujuk sebagai kawasan industri skala besar dan menengah. Adanya industri di Desa Nguwet mendorong perubahan dari wilayah dengan karakteristik pedesaan menjadi wilayah dengan karakteristik perkotaan. Oleh karena itu, penelitian ini diarahkan pada hubungan antara keberadaan industri di pedesaan yang dikaitkan dengan adanya transformasi dari desa menjadi kota yaitu pada perubahan guna lahan, struktur sosial dan ekonomi masyarakat di Desa Nguwet. Penelitian mengenai transformasi ini berdasarkan dari perspektif masyarakat.
KARAKTERISTIK MOBILITAS SUMBERDAYA PADA PEDAGANG KAKI LIMA DI KAWASAN UNIVERSITAS DIPONEGORO TEMBALANG Hasworo P.W, Aviep; Setyono, Jawoto Sih
Jurnal Teknik PWK Vol 3, No 4 (2014): Volume 3 No 4 Tahun 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lingkaran perangkap kemiskinan suatu wilayah dapat semakin diperburuk dengan adanya kebocoran modal ke luar wilayah. Wilayah yang sudah lebih dulu maju dan semakin cepat perkembangan ekonominya, sedangkan wilayah yang terbelakang perkembangannya tetap lamban bahkan cenderung menurun. Fenomena migrasi adalah bentuk respons dari masyarakat karena adanya ekspektasi meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang bemigrasi. Dengan kata lain, aliran sumberdaya desa-kota akan terus berlangsung sepanjang terjadi kesenjangan perkembangan desa-kota. Kesenjangan atau polarisasi desa kota yang semakin melebar di banyak wilayah yang sedang berkembang memperderas arus proses migrasi penduduk berlebihan dari perdesaan ke perkotaan. Interaksi antara Kota Semarang dengan daerah hinterland salah satunya yaitu adanya perpindahan sumberdaya manusia atau migrasi menuju Kota Semarang. Namun disisi lain, beberapa imigran tersebut tidak dibekali dengan keahlian khusus yang dapat diserap oleh dunia kerja formal. Dengan demikian, beban permasalahan yang ditampung oleh Kota Semarang menjadi bertambah dalam aspek ketenagakerjaan. Hal inilah yang menyebabkan para imigran tidak dapat diterima pada dunia kerja formal sehingga mereka mencari pekerjaan secara informal. Seiring berjalannya waktu, semakin banyak berdatangan pendatang dari berbagai wilayah yang bekerja pada sektor informal di Kawasan Universitas Diponegoro Tembalang. Pendatang tersebut datang dari berbagai wilayah seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, DKI Jakarta, D.I.Yogyakarta, Kalimantan dan Sumatera. Aliran sumberdaya bahan baku mengalir dari perdesaan menuju perkotaan karena adanya rasio perbedaan harga komoditas yang lebih tinggi di kawasan perkotaan. Selain itu, aliran sumberdaya keuangan akan mengalir menuju perkotaan maupun perdesaan mengikuti banyaknya transaksi keuangan yang digunakan. Berdasarkan latar belakang tersebut penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan karakteristik mobilitas sumberdaya pada pedagang kaki lima di Kawasan Universitas Dipongoro Tembalang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif untuk mengetahui karakteristik mobilitas sumberdaya yang dapat dijelaskan melalui kasus pedagang kaki lima. Instrumen penelitian yang digunakan adalah observasi, wawancara singkat dan koesioner. Teknik analisis yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor penyebab banyaknya pendatang yang bermigrasi ke Kawasan Universitas Diponegoro Tembalang yaitu adanya faktor penarik dan pendorong migrasi, perbandingan harga komoditas dan aliran sumberdaya keuangan. Faktor pendorong migrasi tersebut seperti minimnya pendapatan ketika bekerja di daerah asal, kurangnya lapangan pekerjaan di daerah asal dan adanya dorongan dari keluarga untuk bekerja di Kota Semarang. Disisi lain, faktor penarik migrasi yaitu meliputi tingginya pendapatan bekerja di Kota Semarang, tingkat kehidupan yang lebih baik di Kota Semarang dan kondisi sarana dan prasarana yang lebih baik pada Kota Semarang. Selain itu, mobilitas sumberdaya bahan baku/mentah terjadi ketika adanya perbedaan rasio harga komoditas dimana harga komoditas di Kota Semarang lebih tinggi bila dibandingkan daerah asal responden. Disisi lain, aliran sumberdaya keuangan terjadi antarwilayah seiring adanya transaksi yang terjadi antara 2 wilayah. Berdasarkan hasil penelitian, diberikan saran untuk menangani masalah migrasi tersebut seharusnya Pemerintah memberikan keterampilan khusus untuk pedagang kaki lima sehingga dapat bekerja pada sektor formal. Selain itu, perlu adanya peningkatan harga jual komoditas di perdesaan agar tidak terjadi ketimpangan antara desa dengan kota. Disisi lain, aliran sumberdaya keuangan seharusnya terjadi adanya keseimbangan antara desa dengan kota agar tidak terjadi kesenjangan.