Isdradjad Setyobudiandi
Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB/ Jalan Lingkar Kampus IPB Dramaga (16680)

Published : 33 Documents
Articles

Found 33 Documents
Search

Daya dukung perairan Pulau Liukang Loe untuk aktivitas ekowisata bahari Arhan Rajab, Muhammad; Fahruddin, Achmad; Setyobudiandi, Isdradjad
DEPIK Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan, Pesisir dan Perikanan Vol 2, No 3 (2013): December 2013
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (926.989 KB) | DOI: 10.13170/depik.2.3.854

Abstract

Abstract.The purpose of the studywas to assessthe carrying capacity of Liukang Loe Island for tourism activities. The mathematicallymethod of  the formulaDDK= K x Lp/Lt x Wt/Wp was utilized in the study Based on the result of the study and interpretation of satellite imagery, it was oblained three marine tourism activities on the Liukang Loe Island nemaly beach tourism of recreation , snorkeling and diving. Coastal tourism/recreation categories according to the total length area that utilized around 1.441 m can accommodate 56 people/day, snorkeling tourism around 24,65 ha can accommodate 986 people/day and diving tourism around 14,73 ha is able to accommodate 589 people/day. Thus thetotaltouristthat can fittothe overalltourism activityaround1,631 people/day.Keywords : Ecological Carrying Capacity, Marine Ecotourism, Liukang Loe Island. Abstrak. Penelitian ini bertujuan  untuk mengkaji daya dukung lingkungan untuk aktifitas wisata Pulau Liukang Loe. Adapun metode perhitungan daya dukung kawasan wisata bahari di Pulau Liukang Loe dilakukan secara matematis dengan rumus DDK= K x Lp/Lt x Wt/Wp.Berdasarkan hasil penelitian dan interpretasi citra satelit, diperoleh bahwa ada tiga aktivitas wisata bahari di Pulau Liukang Loe yakni wisata pantai kategori rekreasi, snorkling dan diving. Wisata pantai/rekreasi kategori sesuai dengan total panjang area yang dimanfaatkan sebesar 1411 m dapat menampung wisatawan sebesar 56 orang/hari, wisata snorkling sebesar 24,65 ha mampu menampung wisatawan sebesar 986 orang/hari dan wisata selam (diving) sebesar 14,73 ha mampu menampung wisatawan sebesar 589 orang/hari. Dengan demikian total wisatawan yang dapat ditampung untuk keseluruhan aktivitas wisata sebesar 1.631 orang/hari.Kata kunci : Daya Dukung Ekologi, Ekowisata Bahari, Pulau Liukang Loe
Kondisi perairan dan struktur komunitas makrozoobentos di Sungai Belumai Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara Dian Fisesa, Erni; Setyobudiandi, Isdradjad; Krisanti, Majariana
DEPIK Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan, Pesisir dan Perikanan Vol 3, No 1 (2014): April 2014
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (402.284 KB) | DOI: 10.13170/depik.3.1.1087

Abstract

Abstract. The objective of the present study was to examine the water quality and macrozoobenthos community of Belumai, North Sumatra. The study was conducted from March to May 2013 at three  sampling locations for three times sampling with one month interval. The water quality parameters which recorded in the study was temperature, current velocity, stream width, depth, turbidity, pH, DO, COD, TOM. The results shows that the Belumai River has a high turbidity level (163.57 - 242.6 NTU) and COD have passed the threshold standard class 1, which is intended to standards drinking water. The dominant macrozoobenthos was the Oligochaeta (79%). The Agglomerative Hierarchical Clustering (AHC) is displaying 2 group where the group A (station 1) has a fairly good water conditions characterized by the presence of organisms that are facultative i.e. Gastropoda, while group B (station 2,3, and 4) was considered as polluted areas indicating by the present of a dominant macrocoobenthos fauna of Oligochaeta. The Oligocheata is a tolerant fauna and as indication of pollution.Keywords: Belumai River; Water quality; Macrozoobenthic diversity Abstrak. Penelitian ini bertujuan menilai kondisi perairan dan komunitas makrozoobentos di Sungai Belumai, Sumatera Utara. Penelitian dilakukan pada Bulan Maret sampai Mei 2013 di empat 4 stasiun, pengambilan sampel dilakukan sebanyak tiga kali dengan interval sebulan sekali. Parameter yang diukur adalah suhu air, kecepatan arus, lebar sungai, kedalaman, kekeruhan, pH, DO, COD, TOM, dan Makrozoobentos.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sungai Belumai memiliki tingkat kekeruhan yang tinggi yaitu 163,57 – 242,6 NTU dan nilai COD telah melewati ambang batas baku mutu kelas 1, yang diperuntukkan untuk baku mutu air minum. Makrozoobentos yang mendominasi yaitu dari kelas Oligochaeta sebesar 79%. Analisis Agglomerative Hierarchical Clustering (AHC), menghasilkan 2 kelompok dendogram, yaitu  kelompok A (Stasiun 1) memiliki kondisi perairan yang cukup baik ditandai dengan keberadaan organisme yang bersifat fakultatif yaitu dari kelas Gastropoda sedangkan kelompok B (Stasiun 2,3, dan 4) telah tercemar ditandai dengan keberadaan organisme dari kelas Oligochaeta yang jumlahnya mendominasi. Oligochaeta merupakan organisme yang memiliki sifat toleran terhadap bahan pencemar dan menjadi indikasi adanya pencemaran.Kata kunci : Sungai Belumai; Kualitas air; Keanekaragaman Makrozoobentos 
Pengelolaan mangrove berbasis masyarakat di Pantai Timur Surabaya Ghazali, Iqbal; Setyobudiandi, Isdradjad; A. Kinseng, Rilus
DEPIK Vol 3, No 3 (2014): December 2014
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (24.699 KB)

Abstract

Abstract. This aims of the study was to descript and evaluate the mangrove management strategy by local community (local wisdom) in East Coast Surabaya.. The survey method was utilized in this study using the stakeholder analysis and AWOT analysis. Primary data were collected through observation on object of study and by in-depth interviews, while secondary data were obtained through the literature review and reports. The results showed there were 50 stakeholders involved in the management of Pamurbaya mangrove, which was divided into three groups i.e. government, private and community. Local wisdom priority was mangrove ecotourism. The strategy for development of mangrove ecotourism was by increasing the institutional capacity and creativity, innovation of eco-tourism workers, and improvement of cooperation with related agencies. Keywords: Communities; Stakeholders; Creative economy; Pamurbaya Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk pengelolaan mangrove di Pantai Timur Surabaya, khususnya yang dilakukan oleh masyarakat (kearifan lokal). Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode survey, dengan menggunakan analisis stakeholder dan analisis AWOT. Pengumpulan data primer dilakukan melalui observasi terhadap objek penelitian dan wawancara mendalam, sedangkan data sekunder diperoleh melalui studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 50 stakeholder yang terlibat dalam pengelolaan mangrove Pamurbaya yang terdiri dari pemerintah, swasta, dan masyarakat. Kearifan lokal yang menjadi prioritas bagi masyarakat setempat adalah ekowisata mangrove. Strategi yang digunakan untuk pengembangan ekowisata mangrove adalah dengan meningkatkan sistem kelembagaan, kreatifitas, dan inovasi pekerja ekowisata, serta memperbanyak kerja sama dengan berbagai pihak terkait.Kata Kunci: Masyarakat; Stakeholder; Ekonomi kreatif; Pamurbaya
SPATIAL DISTRIBUTION AND HABITAT PREFERENCE OF BIVALVIA IN THE COASTAL WATERS OF SIMPANG PESAK SUB DISTRICT, EAST BELITUNG DISTRICT Akhrianti, Irma; Bengen, Dietriech G; Setyobudiandi, Isdradjad
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol 6, No 1 (2014): Electronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

The coastal waters of Simpang Pesak Sub-district, East Belitung Regency considered as a productive region and had a broad range of habitats for bivalvia. However, research on spatial distribution and habitat preference of bivalvia in this region is limited to none. The objectives of this research were to examine the effects of marine biophysical parameters and substrate quality on bivalvia. The research was started from Mei 2013 until June 2013 by using survey method and random systematic sampling approach. The results showed that there were 16 species of bivalves consisted of 14 genus from 7 family and dominated by Gafrarium pectinatum at station I (13.62 ind/m2, C=0.52, H’=0.6, muddy sandy), and  station II (28.4 ind/m2, C=0.51, H’=1.04, sandy), Gafrarium tumidum at station III (59.9 ind/m2, C=0.51, H’=1.03, sandy), Scapharca pilula at Stasiun IV (61,6 ind/m2, C=0.5, H’=0.89, clay sandy). Spatial distribution and density of bivalves were influenced by particle size, C-organik, and other environmental factors such as current, dissolved oxygen, TSS, temperature, and salinity. Keywords: bivalves, distribution, habitat preference
KUALITAS AIR, KEMATANGAN GONAD, DAN KEBERLANGSUNGAN HIDUP POPULASI SIMPING DARI PERAIRAN KRONJO -, Yonvitner; Setyobudiandi, Isdradjad
Jurnal Teknotan Vol 8, No 1 (2014)
Publisher : Jurnal Teknotan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Reproduksi dan pola perkembangan stadia simping perlu dipelajari untuk mengetahui tingkat kelimpahan larva, spat dan populasi dewasa yang di dukung oleh kualita air yang baik.  Metoda deskriptif digunakan dalam penelitian yang dilakukan di perairan Kronjo selama 3 bulan dengan interval pengamatan setiap bulan.  Data yang dikumpulkan mencakup data kualitas air dan data kematangan gonad simping, kelimpahan dan kepadatan simping. Selama penelitian kondisi kualitas lingkungan tergolong baik dan mendukung kehidupan populasi simping, kecuali TSS yang relatif tinggi. Hasil pengamatan menunjukkan tingkat kelimpahan relatif sama (1 :1), namun ukuran kematangan gonad dan tingkat survival larva lebih rendah.  Kelimpahan larva, spat dan dewasa juga tidak berbeda antar lokasi pengamatan, namun  larva simping yang bertahan hanya 0,08-0,27 % saja. Populasi dewasa relatif stabil dibandingkan dengan lainnya.  Kondisi ini menunjukkan bahwa walau kondisi di perairan sesuai, namun sudah tidak mampu meningkatkan tingkat kelangsungan hidup larva simping. Kata kunci : simping, kualitas air, kematangan gonad, keberlangsungan hidup, Kronjo
Kualitas habitat populasi simping (Placuna placenta) di Perairan Teluk Kronjo, Tangerang ., Yonvitner; Dahuri, Rokhmin; Setyobudiandi, Isdradjad; Praptokardiyo, Kardiyo; Boer, Mennofatria
Aquahayati Vol 9, No 1 (2013)
Publisher : Aquahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (56.07 KB)

Abstract

Populasi simping dapat bertahan dan berkembang apabila memiliki kualitas lingkungan hidup yang baik. Penelitian inibertujuan untuk mengkaji karakter habitat dan lingkungan hidup simping di perairan Teluk Kronjo, Tanggerang. Penelitiandilaksanakan selama lima bulan, dari bulan Maret sampai September 2008. Penelitian dilakukan dengan interval satubulan pada enam stasiun dengan tiga kali ulangan. Analisis meliputi analisis deskriptif dan anova dua arah (antara stasiundan antar zona). Status habitat simping dari indikator suhu, kecerahan, pH, BOD, masih mendukung kehidupan simping,sedangkan kekeruhan, TSS, oksigen, redoks, dan COD, berpotensi menghambat pertumbuhan simping. Secara keseluruhankondisi habitat kurang baik namun masih dalam batas syarat minimal untuk mendukung kehidupan simping.Kata kunci: simping, Kronjo, kualitas air
KAJIAN KETERKAITAN EKOLOGI Acanthaster planci DAN EKOSISTEM TERUMBU KARANG DI KABUPATEN BINTAN Alustco, Syarviddint; Wardiatno, Yusli; Setyobudiandi, Isdradjad
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol 17, No 1 (2011): Juni 2011
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Kabupaten Bintan memiliki hamparan ekosistem terumbu karang, berbagai aktivitas antropogenik masyarakat di wilayah ini seperti eksploitasi sumberdaya perikanan, pariwisata, penambangan pasir diduga sebagai penyebab kerusakan ekosistem terumbu karang. Kerusakan ini dijelaskan dari hasil penelitian CRITC-LIPI Coremap II 2006, bahwa tutupan karang hidup rata-rata 25,27 %, tidak hanya itu populasi megabenthos sebagai indikator lingkungan yang tercatat menunjukkan kekawatiran. Perlu penelitian yang berkaitan dengan faktor bioekologi terhadap Kualitas Tutupan Karang Hidup. Beberapa metode telah digunakan untuk mendeskripsikan kondisi terumbu karang tersebut. Hasil penelitian diperoleh di kawasan I dengan 11 stasiun pengamatan: luasan tutupan karang hidup berkisar 34-99 %, tidak ditemukan adanya Acanthaster planci. Kawasan II dengan 4 stasiun pengamatan, tutupan karang hidupnya berkisar 65-87%, ditemukan A. planci di 3 stasiun. A. planci lebih banyak ditemukan di substrat Acropora branching (ACB) dengan jumlah 14 individu, 6 individu pada substrat coral massive dan coral foliose, 4 individu pada substrat coral submassive, dan 3 individu pada dead coral (DC). Kelimpahan A. planci lebih terkait pada jenis substrat dan bentuk karang bila dibandingkan dengan luas penutupan karang hidup. Kerusakan terumbu karang di kawasan I lebih disebabkan oleh kondisi perairan seperti sedimentasi dan berbagai aktivitas langsung dari masyarakat. Sedangkan di kawasan II kerusakan dipengaruh oleh destructive fishing,disamping kelimpahan A. planci diduga telah mempengaruhi tutupan karang hidup dengan kelimpahan 25 ekor/0,5 ha setara (50 ind/ha). Ini melebihi daya dukung terumbu karang sebanyak 30 ind/ha. Monitoring dan DPL diperlukan untuk mengontrol kelimpahan A. planci.Kata kunci: Acanthaster planci, komunitas terumbu, Pulau Bintan, terumbu karang
Physical Effects On The Behavior Of Littorina Littorea (L) Setyobudiandi, Isdradjad; Ario, Raden; Soekendarsi, Eddy
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol 1, No 1 (1993): Juni 1993
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Gastropoda, Uttorina littorea (l.) dipelihara pada salinitas antara 9-33"- . Hewan tidak dapat berlahan hidup pada salinitas kurang dari 8%.. Pada salinitas antara 15.6-19.4"- hewan tampak lebih aktif dalam kondisi dengan atau tanpa cahaya. Penurunan tingkat aktifitas umumnya terjadi dengan menurunnya salinitas media.Kata-kat. kunci: Littorina littorea, tingkah laku, salinitas, cahaya
Macrozoobenthos Assemblages In Beds Of The Blue Mussel, Mytilus Edulis L : Effecfs Of Location,Patch Size And Position On Diversity And Abundance Setyobudiandi, Isdradjad
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol 3, No 1 (1995): Juni 1995
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Studi keanekaragaman dan kelimpahan hewan makrobentos pada hamparan Mytilus edulis L. dilakukan di Norsminde dan Kerteminde Fjord, Denmark. Patch dari Mytilus dikategorikan menjadi kelompok keciJ, sedang, dan besar. Tiga posisi ditentukan pada patch yang ben:kuran sedang dan besar, yaitu: tepi, tengah, dan pusat. Tidak ditemukan pengaruh dari posisi terhadap jumJah spesies maupun jumlah spesies maupun jumlah individu mollusca  ustacea, polychaeta, and oligochaeta; akan tetapi pola distnbusi kelompok makrobenthos pada tiap lokasi berbeda berdasarkan ukuran patch.diNorsminde Fjord, jumlah individu kelompok crustacea and oligochaeta berbedaberdasarkan ukuran patch; tetapi kondisi tersebut tidak terdapat di Kerteminde. Mollusca dan polychaeta di Norsminde menunjukkan perbedaan sebaran dalam jumlah spesies,berdasarkan patch, sementara di Kerteminde semua kelompok tidak menunjukkan perbedaan. Secara keseluruhan, total makrobentos menunjukkan perbedaan sesuai dengan ukuran patch. Total bentos yang terdapat pada patch berukuran kecil di Norsminde menunjukkan kelimpahan rendah dlbandingkan terhadap ukuran patch lainnya pada lokasi yang sama. Sedangkan, pada patch kecil di Kerteminde makrobentos terdapat dengan kelimpahan tinggi. Pada kedua lokasi makrobentos pada patch berukuran kecil menunjukkan keanekaragaman tinggi dibandingkan dengan ukuran lainnya. Urutan keanekaragaman komunitas (tinggi-rendah) pada tiap ukuran patch di kedua lokasi adalah Patch kecil Patch sedangPatch besar.Kata-kata kunci : makrozoobentos, Mytilus beds, ukuran Patch, keanekaragaman
POTENSI ESTIMASI KARBON TERSIMPAN PADA VEGETASI MANGROVE DI WILAYAH PESISIR MUARA GEMBONG KABUPATEN BEKASI Rachmawati, Ditha; Setyobudiandi, Isdradjad; Hilmi, Endang
Journal Omni-Akuatika Vol 10, No 2 (2014): Omni-Akuatika November
Publisher : Fisheries and Marine Science Faculty - Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.791 KB) | DOI: 10.20884/1.oa.2014.10.2.22

Abstract

Mangrove Muara Gembong can be considered as buffering system of high CO2 produced by industries in Bekasi. This study aims to determine the carbon stored in standing mangrove’s Muara Gembong. The research was conducted on March 2014 in the coastal area of Muara Gembong, Bekasi Regency West Java. The method used in this study is a survey method with sampling purposive sampling technique. The results showed that the degree of dominance of mangrove species in Muara Gembong at station I, II, III and IV were Rhizophora mucronata, Sonneratia alba, S. caseolaris, R. mucronata. Potential carbon stored of mangrove stands in Muara Gembong is 55,35 tons ha, with the highest carbon stored in mangrove species Rhizophora mucronata is 17,60 tons/ha. Based on the potential of biomass and carbon being produced, showed that the ability of mangrove ecosystem to absorbing carbon in Muara Gembong is not too high.Keywords : Carbon sink, conservation, global warming, mangrove, Muara Gembong