Agung Setyawan
Program Studi Ilmu Lingkungan Universitas Sebelas Maret Surakarta

Published : 2 Documents
Articles

Found 2 Documents
Search

PERANCANGAN FASILITAS MEJA DAN KURSI UNTUK SISTEM OPERASI STASIUN KERJA PADA PERAKITAN SANGKAR BURUNG DI MOJOSONGO Wicaksana, Bagus Ismail Adhi; Wahyudi, Adhie Tri; Setyawan, Agung
Tekinfo | Jurnal Ilmiah Teknik Industri dan Informasi Vol 1 No 1 (2012)
Publisher : Study Programme of Industrial Engineering, Universitas Setia Budi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (687.817 KB)

Abstract

Sentra pembuatan sangkar burung yang berada di desa Ngampon Mojosongo Surakarta merupakan salah satu daerah penghasil sangkar burung tradisional, pekerjaan ini sudah ada turun-temurun bertahun-tahun. Sebagian besar pengrajin bekerja dengan tidak mempertimbangkan kemampuan tubuh mereka. Dalam hal ini kaitannya dengan posisi kerja mereka yang kurang sesuai akan tetapi tidak di hiraukan oleh pengrajin. Hal ini terbukti dengan adanya keluhan rasa pegal-pegal yang dirasakan oleh pengrajin pada saat melakukan kegiatan perakitan. Berdasarkan pengamatan di lapangan terlihat bahwa posisi kerja pengrajinlah yang menyebabkan hal itu terjadi, di mana pegrajin bekerja tidak menggunakan fasilitas meja dan kursi akan tetapi hanya dengan duduk jongkok Dengan merubah posisi kerja dari operator yang semula jongkok dirubah dengan posisi duduk tegak akan dapat mengurangi kelelahan dan mempercepat waktu perakitan, karena mereka harus mengangkat bahu untuk menjangkau daerah yang tinggi dan membungkukkan badan untuk daerah yang rendah. Dengan kondisi seperti ini menyebabkan tulang belakang akan menekuk ke depan yang berakibat kelelahan pada punggung dan bahu. Sedangkan pada posisi kerja jongkok akan membuat posisi kaki harus menekuk dalam waktu yang lama hal ini akan menyebabkan ketidaknyamanan pada ruang lutut kaki. Dengan posisi duduk tegak diperlukan tambahan fasilitas berupa meja dan kursi. Dengan merancang fasilitas tersebut yang menggunakan pendekatan antropometri diharapkan mampu mengatasi permasalahan tersebut karena ukuranukurannya disesuaikan dengan dimensi tubuh pengrajin sangkar burung.
JASA DAN ETIKA LINGKUNGAN UNTUK PENGENDALIAN AIR DAN BANJIR SEBAGAI DASAR PENGELOLAAN DAS SERANG Setyawan, Agung; Gunawan, Totok; Dibyosaputro, Suprapto; Giyarsih, Sri Rum
JURNAL PEMBANGUNAN WILAYAH & KOTA Vol 14, No 4 (2018): JPWK Vol 14 No 4 Desember 2018
Publisher : Magister Pembangunan Wilayah dan Kota,Undip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (749.59 KB) | DOI: 10.14710/pwk.v14i4.21096

Abstract

Penelitian ini merupakan kasus di DAS Serang Kabupaten Kulonprogo D.I. Yogyakarta. Bertujuan untuk menilai sebaran spasial jasa lingkungan untuk pengaturan tata air dan banjir sebagai dasar untuk Pengelolaan kelestarian sumberdaya air DAS di DAS Serang, Kabupaten Kulonprogo D.I. Yogyakarta. dengan metode dengan pendekatan jasa lingkungan menggunakan dua variable penaksir yaitu penggunaan lahan dan ecoregion. Masing-masing variable dinilai jasa lingkungannya terhadap pengaturan tata air dan banjir, yang kemudian disintesis menggunakan metode AHP menghasilkan nilai koefisien jasa lingkungan pengaturan tata air dan banjir. Dari nilai koefisien tersebut diolah dan dianalisis dengan teknis GIS menghasilkan sebaran spasial nilai jasa lingkungan pengaturan tata air dan banjir yang kemudian dilakukan pembagian kelas menjadi 5 kelas jasa lingkungan pengaturan tata air dan banjir yaitu kelas sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah dan sangat rendah. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa: untuk DAS Serang Kabupaten Kulonprogo D.I. Yogyakarta pada daerah hulu berpontensi sebagai jasa pengaturan tata air dan banjir. Terutama di Kecamatan Kokap dengan persentase luasan jasa lingkungan pengaturan tata air dengan kelas sangat tinggi sebesar 85% dari luas Kecamatan Kokap. Sedangkan untuk etika lingkungan DAS serang Kab Kulonprogo D.I. Yogyakarta terdapat tiga kelas etika lingkungan di wilayah DAS yaitu untuk wialayah Hulu mempunya kelas Etika Lingkungan Rendah, Wilayah tengah kelas etika lingkungan sedang dan wilayah hilir kelas etika lingkungan.