Articles

Found 11 Documents
Search

PENGARUH WAKTU DAN SUHU INKUBASI PADA OPTIMASI ASSAY KIT RIA MIKROALBUMINARIA Susilo, Veronika Yulianti; Mondrida, Gina; Setiyowati, Sri; Sutari, .; Lestari, Wening
Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka Vol 8 (2005): JURNAL PRR 2005
Publisher : Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.817 KB)

Abstract

Penentuan kadar albumin dalam jumlah mikro dalam urin pasien sangat penting dilakukan untuk deteksi dini mikroalbumin sebelum menjadinephropathy(gagal ginjal). Penentuan kadar mikroalbumin tersebut menggunakan teknik radioimmunoassay(RIA) dengan kit RIA Mikroalbuminuria. Kit RIA yang baru harus memberikan kinerja assayyang baik, maka setelah diproduksi komponen kit RIA Mikroalbuminuria yang memenuhi syarat perlu dilakukan rancangan assayyang tepat agar diperoleh kondisi assayyang optimum. Telah dilakukan optimasi rancangan assaykit RIA Mikroalbuminuria untuk memperoleh waktu dan suhu inkubasi yang terbaik, yaitu variasi waktu inkubasi 1 jam, 3 jam, 5 jam dan 18 jam dan suhu inkubasi 4°C, 25°C dan 37°C. Protokolassayyang optimum dicapai dengan inkubasi selama 3 jam pada 37°C, yang menghasilkan % ikatan maksimum sebesar 52% dan ikatan non spesifik (NSB) cukup rendah 0,15%. Kit RIA Mikroalbuminuria ini stabil memenuhi syarat %B/T dan %NSB dan dapat dipertahankan selama 8 minggu. Kata kunci: Optimasi, Radioimmunoassay, Mikroalbuminuria Determination of albumin content at micro quantity in a patient urine is very important for an early detection of microalbuminuria before a nephropathy (kidney failure) state to occure. Determination of albumin content in a patient urine is by radioimmunoassay technique using microalbuminuria RIA kit. In a production of a new. icroalbuminuria RIA Kit, a good assay performance should be quaranteed, therefore after RIA reagent that fulfil the required quality were obtained, an optimum assay condition should be esigned. Optimization for assay design of microalbuminuria RIA kit have been carried out in order to obtained the best incubation time and temperature. Incubation time and temperature investigated were 1 hour, 3 hour, 5 hour and 18 hour and 4°C, 25°C dan 37°C respectively. The optimum assay protocol was achieved by 3 hour incubation at 37°C, resulting a high maximum binding of 52% and very low non spesific binding (NSB) of 0,15% respectively. The microalbuminuria RIA kit was stable and comply the required %B/T and %NSB up to 8 weeks. Keywords: Optimize, Radioimmunoassay, Microalbuminuria.
FORMULASI KIT MIBI SEBAGAI PREPARAT PENATAH JANTUNG Widyastuti, widyastuti; A., Hanafiah; Yunilda, Yunilda; A., Laksmi; Setiyowati, Sri; Yulianti, Veronika
Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka Vol 2, No 1/2 (1999): JURNAL PRR 1999
Publisher : Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4411.657 KB)

Abstract

FORMULASI KIT MIBI SEDAGAI PREPARAT PENATAH JANTUNG. Sediaan 2-methoxy-isobutyl-isonitrile (MIBI) telah diketahui sebagai preparat penatah perfusi miokardial (otot jantung) yang telah ditandai dengan 99mTc. Sediaan ini menghasilkan gambaran yang sama baiknya dengan sediaan Talium-201Tl, dan dapat menggantikan sediaan 201Tl karena mempunyai beberapa keunggulan. Kit MIBI ini dibuat dari senyawa MIBI yang disintesis di P2RR-BATAN yang telah melalui karakterisasi dan serangkaian uji kualitas. Formula kit MIBI yang digunakan mengacu pada formula yang digunakan oleh produk impor (CardioliterR, kit MIBI buatan Dupont), dan pengujian kualitas dilakukan dengan membandingkan beberapa parameter terhadap produk impor tersebut. Parameter yang digunakan dalam uji kualitas ini meliputi kemurnian radiokimia, biodistribusi (perbandingan % radioaktivitas di jantung dan hati), dan gambaran organ menggunakan gamma kamera pada manusia. Hasil percobaan menunjukkan kemurnian radiokimia rata-rata 95%, biodistribusi di jantung dan hati memberikan rasio 0,7, 1,5 dan 2,53 berturut-turut pada waktu pencacahan 10, 30 dan 60 menit setelah penyuntikan. Hasil pengujian pada manusia menunjukkan gambaran yang sangat jelas dan kurang lebih sama dengan yang dihasilkan oleh produk impor. Dari percobaan ini telah diketahui pula kondisi pengeringan kit yang baik, yang menghasilkan kit dengan kekeringan yang cukup baik dan waktu daluwarsa lebih dari 6 bulan. FORMULATION OF MIBI KIT AS A HEART IMAGING AGENT. 99mTc labelled 2-methoxy-isobutyl-isonitrile (MIBI) has been known as an imaging agent for myocardial perfusion. This radiopharmaceutical preparation gives the same satisfactory result as Thalium-201Tl, and presumably could replace 201Tl because of some advantages. MIBI kit was formulated from MIBI ligand produced by RPC­ BATAN which has been characterized and tested for quality. The formula used in this research referred to the formula of imported product (Cardiolite, MIBI kit produced by Dupont), and the quality control testing was performed by comparing some parameters to the imported product. The parameters used for QC testing were radiochemical purity, biodistribution in mice and heart imaging in human volunteer using gamma camera. The result of the experiment showed that the radiochemical purity was 95 % in average, biodistribution in heart to liver gave the ratio of 0.67, 1.5 and 2.53 respectively at 10, 30 and 60 minutes after injection. The result of clinical testing in some volunteers gave contrast images as good as given by Cardiolite. The optimum condition of freeze drying has been found, and the kit can be used for more than 6 month.
STABILITAS DAN UJI PRAKLINIS 99m Tc-EC UNTUK RADIOFARMAKA PENATAH FUNGSI GINJAL Astuti, Laksmi Andri; Lestiyowati, Sri Aguswarini; Karyadi, Karyadi; Setiyowati, Sri; Yunilda, Yunilda; Widjaksana, Widyastuti
Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka Vol 16, No 1 (2013): JURNAL PRR 2013
Publisher : Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1237.604 KB)

Abstract

ABSTRAKSTABILITAS DAN UJI PRAKLINIS99mTc-EC  UNTUK RADIOFARMAKA  PENATAH  FUNGSIGINJAL.Radiofarmaka telah menunjukkan manfaat yang nyata dan spesifik dalam pelayanan kesehatanterutama untuk diagnosis  antara lain untuk diagnosis fungsi ginjal. Saat ini telah dilakukan  preparasi99mTcEC untuk penatah fungsi ginjal melalui beberapa tahapan, yaitu: karakterisasi EC (Ethylene-dicysteine)dengan FT-IR dan pengujian titik leleh, formulasi kit  EC,   penandaan kit basah EC dengan99mTc dilakukandengan menambahkan99mTc perteknetat dari generator99Mo/99mTc. Hasil penandaan dianalisis denganmenggunakan  kromatografi kertas,  sedangkan uji stabilitas kit basah EC dilakukan untuk menentukanwaktu kadaluwarsanya, uji biodistribusi menggunakan hewan percobaan mencit dan pencitraan dengankamera Gamma dengan tikus Wistar. Hasil analisis dengan FT-IR menunjukkan bahwa EC yang akandigunakan sudah  memenuhi persyaratan untuk digunakan formulasi, Uji stabilitas untuk sediaan yang belumdilabel menunjukkan sediaan masih stabil sampai 5 bulan. Pengujian kestabilan99mTc-EC pada suhu kamarmenunjukkan kemurnian radiokimia masih stabil sampai 4 jam setelah penandaan, hasil uji biodistribusidengan hewan percobaan mencit menunjukkan cacahan tertinggi pada kandung kemih sedangkan pencitraandengan Kamera Gamma menunjukkan hasil pencitraan yang cukup jelas di area ginjalKata kunci : radiofarmaka,99mTc, EC (Ethylene-dicysteine ), diagnosis,fungsi ginjal.ABSTRACTSTABILITY AND PRECLINICAL TESTS OF99mTc-EC  RADIOPHARMACEUTICALS  FORRENAL FUNCTION  IMAGING.Radiopharmaceuticals have shown a real and spesific usefulness inmedical services, especially for diagnosis  of several  diseases such as renal function imaging. Preparation of99mTc-EC  and its analysis have been carried out. The preparation consisted of several steps, characterizationof EC with FT-IR, formulation of EC kit, labeling of EC with99mTc followed by radiochemical purity testingusing paper chromatography. Stability test of EC kit is to know The expired date has been carried out.Biodistribution test on normal mice was carried out while imaging in wistar rat using gamma camera TheFT-IR and melting point analysis results showed that EC can be  used for formulation of EC kit. Theradiochemical purity of99mTc-EC is analysed with paper chromatography with the result is  higher than 95%.  The stability test showed that  EC kit was stable until 5 months and the  labeled EC at room temperaturewas stable after  4  hour incubation post labeling, biodistribution test on mice showed higher uptake inbladder,while imaging with gamma camera showed quite clearly in the kidney area.Key words: radiopharmaceutical,99mTc, EC(Ethylene-dicysteine ), diagnosis, renal function
OPTIMALISASI PEMBUATAN KIT IRMA CA-125 Ariyanto, Agus; Darwati, Siti; Mondrida, Gina; Yunita, Fitri; Widayati, Puji; Setiyowati, Sri; Sulaiman, Sulaiman; Yulianti, Veronika; Triningsih, Triningsih
Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka Vol 6, No 2 (2003): Jurnal PRR 2003
Publisher : Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3043.023 KB)

Abstract

ABSTRAK OPTIMALISASI PEMBUATAN KIT IRMA CA-125. Telah dilakukan penelitian optimalisasi pembuatan kit  IRMA  CA-125 yang meliputi pembuatan perunut monoklonal anti CA-125 bertanda 125I dan  pembuatan  "coated tube". Pada pembuatan perunut digunakan 2 macam oksidator yang divariasikan jumlahnya, yaitu kloramin-T dan N- bromosuksinimid.  Optimalisasi pembuatan "coated tube" dilakukan dengan memvariasikan volume larutan "coating", pengaruh pencucian, pengaruh penambahan BSA, pengaruh   bufer  pelarut dan uji pemasangan monoklo-nal anti CA-l25. Hasil percobaan menunjukkan bahwa oksidator  kloramin-T dapat digunakan untuk pembuatan perunut mononoklonl  anti CA-l25 dengan rendemen cukup tinggi yaitu 96.5% dan kemumian radiokimia 93,2%. Jumlah oksidator yang optimal adalah 10 µg. Pembuatan "coated tube  untuk  monoklonal anti CA-l25 dengan menggunakan volume larutan "coating" yang bervariasi antara 300 µI sampai dengan 600 uL tidak menunjukkan perbedaan nyata pada nilai %NSB dan %BT. Proses pencuci "coated tube" menggunakan BSA 0, I % memberikan pengaruh nyata pada %BT. walaupun tidak berpengaruh terhadap nilai %NSB. Penggunaan bufer bikarbonat untuk pembuatan "coated tube" memberikan hasil yang lebih baik dari pada bufer fosfat. Untuk pemasangan monoklonal anti CA-125 diketahui bahwa pasangan monoklonal anti CA-125. monoklonal anti CA-125  M37203M sebagai  perunut dan monoklonal anti CA-125  M86924M sebagai "coating solution" memberikan hasil yang optimal. Kata kunci : Kit IRMA, Monoklonal anti CAll25, Pemnut ABSTRACTOTIMALIZATION FOR PREPfRATION OF CA-125 IRMA-KIT. Optimalization on thepreparation of CA-125 IRMA-kit has been studied involving preparation of 125I  labeled monoclonalanti CA-125 as a tracer and preparation of coated tubes. Chloramine-T and N-bromosuccinimide were used as oxidators by varying them in their quantity. Optimalization on preparation of coated tube was carried out by variation in volume of  coating solution, effect of washing, addition of BSA 0.1%, buffer and pairing test for the monoclonal anti CA-125. The use of chloramine-T as oxidator for 125I labeling of monoclonal anti CA-15 was found to giv labeling-yield of about 96.5% and radiochemical purity of 93.2%. Optiimum amount of the oxidizing agent was found to be 10µg. There were not any significant difference in utilization of coating solution volume ranging at 300 to 600µL. for preparing monoclonal anti CA-125 coated tube. The non specific binding (NSB) and the %B/T values were found to be unaffected  by washing step, while a blocking of coated tube using of BSA 0.1% decreased the %B/T value. Utilization of bicarbonate buffer for the preparation  of coated tube was found to be more satisfactory than that of phosphate buffer. It was shown that the monoclonal anti CA-125 M37203 used for tracer being paired with monoclonal anti CA-125 M866924M used for coating solution gave an optimal result based on the values of %NSB  and %B/T. Key word : IRMA-Kit, Monoclonal anti CA-125, Tracer.   
UJI BIODISTRIBUSI DAN UJI PREKLINIS MIKROSFER GELAS-P-32 UNTUK PENGOBATAN KANKER Astuti, Laksmi Andri; Caniago, Djoharly; Pardede, Ratlan; Widjaksana, Widyastuti; Purwoko, Purwoko; Bagiawati, Sri; Setiyowati, Sri; Abidin, Abidin; Aguswarini, Sri
Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka Vol 6, No 2 (2003): Jurnal PRR 2003
Publisher : Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2363.751 KB)

Abstract

ABSTRAKUJI BIODISTRIBUSI DAN UJI PREKLINIS MIKROSFER GELAS-P-32 UNTUK PENGOBATAN KANKER.Radiofarmaka telah  menunjukkan  manfaat lebih unggul dan spesiflk biladibandingkan dengan teknik pelayanan kesehatan lain, terutama untuk keperIuan diagnosis dan terapi beberapa penyakit  mematikan seperti kanker. Mikrosfer gelas-P-32 ( P-32 GMS ) adalah  salah  satu sediaan  baru  radiofarmaka untuk terapi  dengan cara  radiasi  interna beberapa penyakit  kanker ganas  seperti  penyakit  kanker  hati. Mikrosfer  gelas-P-32 ini  disiapkan  dengan  cara  mengira diasikan mikrosfer gelas-P31dengan neutron di reaktor nuklir, kemudian sediaan disuntikkan ke daerah yang terkena kanker Untukmemudahkan  penyuntikan  pada  sediaan  ini  perlu ditambahkan larutan pensuspensi, yaitu campuran dari PVP 16 %, dekstrose 50% dan salin. Mengingat ukuran mikrosfer ini spesiflk yaitu 40-60 J.Ull  maka pemilihan jamm suntik perIu dilakukan agar P-32 GMS yang diinjeksikan maksirnal bisa masuk ke daerah sasaran, dan mikrosfer tidak mengalami kerusakan karena gesekan dengan permukaan dalam  jarum. Ujibiodistribusi perIu dilakukan untuk melihat apakah P-32 GMS yang telah diinjeksikan terak1.lmulasike daerah penyuntikan  atau  terdistribusi  ke organ - organ lain yang  tidak dikehendaki, Hewan percobaan yang dipakai  adalah  mencit dengan penyuntikan dilakukan  pada otot  paha  kanan. Hasil biodistribusi pada I, 3dan  24 jam  setelah  injeksi  menunjukkan 100% aktivitas P-32 GMS terakumulasi di daerah penyuntikan.Hasil biodistribusi pada 5 jam setelah penyuntikan menunjukkan adanya penimbunan  aktivitas di organ lambung selain penimbunan aktivitas di daerah penyuntikan, namun hal ini diduga karena terjadi kontaminasi akibat kesalahan kerja .Kata Kunci : Radiofarmaka, , Mikrosfer gelas, P-32,  iradiasi, uji biodistribusi , kanker. ABSTRACTBIODISTRIBUTION AND PRECLINICAL TEST OF P-32 GLASS MICROSPHERESFOR CANCER THERAPY. The superiority of  radiophannaceutical compare to the  other  techniques off medical services, especially for diagnosis and  therapy  of  several deadly diseases such as cancer, shows that this technique is more specific and accurate. P-32-Glass microsphere (P-32 GMS) is one of theradiophannaceuticals developed reccntly for therapy using  interrnal  radiation  method  for several malignant cancers, such as hepatic canccr. 111cP-32 GMS was prcpared by irradiating P-31 GMS with neutron at a nuclear reactor, then the preparation was injected to the cancerous infected  area. To make easy  injection, it needs suspension agent that was including PVP, dextrose and saline with a composition of 16% PVP - 50%dextrose - saline as 2 : 3 : 3 (v/v/v). As microsphere size should be maintained at 40-60 11m, the injectionneedle was selected properly in order to remain the particle size of P-32 GMS unchanged  when  the frictionoccurs between microspheres and the inside surfaces of the needle. The injection  needle  used  was needle produced  by BD with a typical size of 20 GI Tw. Biodistribution  studies were carried out after I, 3, 5 and24 hour of injection. Experimental results  for 1, 3 and 24 hour post -injection studies showed  that 100%activity of  P-32 GMS was accumulated  at  the  injected  area. For 5 hour post-injection study, accumulation of  P-32 GMS activity was also found at stomach besides the injected area, but it was presured as working error. Keywords: Radiophannaceutical , glass microspheres ,P-32,  biodistribution, , cancer.    
OPTIMASI PEMBUATAN COATED TUBE HUMAN SERUM ALBUMIN (HSA) UNTUK KIT RADIOIMMUNOASSAY (RIA) MIKROALBUMINURIA Sutari, Sutari; S., V. Yulianti; Triningsih, Triningsih; Mondrida, Gina; Ariyanto, Agus; Setiyowati, Sri; Widayati, Puji; Lestari, Wening
Jurnal Forum Nuklir JFN Vol 8 No 1 Mei 2014
Publisher : BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2601.863 KB)

Abstract

OPTIMASI PEMBUATAN COATED TUBE HUMAN SERUM ALBUMIN (HSA) UNTUK KIT RADIOIMMUNOASSAY (RIA) MIKROAMBUMIN. Radioimmunoassay (RIA) adalah suatu metoda analisis berdasarkan pada reaksi imunologi yakni ikatan antigen-antibodi, metoda ini sangat spesifik dan peka digunakan untuk menentukan kadar zat-zat yang ada di dalam cairan tubuh seperti serum, urine dan lainnya sehingga dapat digunakan untuk mengevaluasi suatu penyakit metabolik seperti diabetes melitus. Penelitian dan pengembangan teknologi Kit RIA mikroalbuminuria dengan metode coated tube dilakukan melalui beberapa tahap yakni optimasi pembuatan komponen kit, optimasi assay, validasi assay dan uji klinis. Telah dilakukan penelitian tentang optimasi pembuatan coated tube HSA salah satu komponen kit RIA mikroalbuminuria untuk pemisah fasa padat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan coated tube HSA yang dapat menghasilkan % B/T yang optimum dengan % NSB yang minimum dan memenuhi persyaratan untuk assay. Penelitian dilakukan dengan cara melakukan optimasi larutan dapar sebagai pelarut poliklonal antibodi (Pab)-HSA, optimasi volume coaling (volume Pab-HSA) dan optimasi konsentrasi larutan blocking. Hasilnya menunjukkan bahwa larutan dapar karbonat bikarbonat 0,05 M pH 9,6 memberikan hasil yang optimum sebagai pelarut Pab-HSA pada titer 1:3000, volume Pab-HSA 750 µL dengan 750 µL larutan bovine serum albumin (BSA) 1 % sebagai blocking dan diperoleh % BIT dan % NSB masing-masing 46,49% ± 0,57 dan 0,77% ± 0,04 serta memenuhi persyaratan Kit RIA untuk assay.
Optimization of Thyroglobulin Coated Tube for Thyroglobulin IRMA Kit Sutari, Sutari; Triningsih, Triningsih; Setiyowati, Sri; Susilo, V.Y.; Ariyanto, Agus; Widayati, Puji; Lestari, Wening
JKPK (Jurnal Kimia dan Pendidikan Kimia) Vol 3, No 2 (2018): JKPK (Jurnal Kimia dan Pendidikan Kimia)
Publisher : Program Studi Pendidikan Kimia FKIP Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (677.258 KB)

Abstract

Immunoradiometric assay (IRMA) is a method of analysis based on immunological reactions of antigens-antibodies binding. This highly specific and sensitive method was used for in vitro diagnosis in small quantity of sample. Center for Radioisotope and Radiopharmaceutical Technology, BATAN has developed Thyroglobulin IRMA Kit using coated tube method that can determine thyroglobulin levels in microgram quantities. Coated tube was made with immobilisation of anti thyroglobulin into polistyrene tube. Development of IRMA kit performed through several steps including: optimization component of kit, optimization assay and kit validation. Optimization of coated tube involved selection and volume of solvent, using blocking and non-blocking agent, and volume of blocking agent. The optimum condition for coated tubes was found to be using 0.1M phosphate buffer pH 7.4 with coating volume of 500 μL, 3% BSA in 500 μL blocking agent 0.1M phosphate buffer pH 7.4, with maximum binding and non-specific binding (NSB) of 60.58 and 1.40%, respectively. The optimized coated tube was found to be stable up to 4 weeks.
Analisa Evaluasi Kinerja Pegawai untuk Promosi Jabatan Menggunakan Model Hybrid GAP Analysis-AHP Setiyowati, Sri
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi (SNATI) 2013
Publisher : Jurusan Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengelolaan karir pegawai yang jelas dan transparan merupakan salah satu faktor penting yang dapat meningkatkan keharmonisan suasana kerja dan mempererat tingkat kepercayaan diantara pegawai dan manajemen. Masalah yang sering terjadi dalam proses penilaian kinerja pegawai diantaranya adalah subyektifitas pengambilan keputusan, terutama apabila beberapa pegawai memiliki kemampuan yang tidak jauh berbeda. Penelitian ini membahas mengenai analisa Aspek Kapasitas Intelektual, Aspek Sikap Kerja dan Aspek Perilaku yang dikategorikan dalam core factor dan secondary factor menggunakan metode GAP Analysis yang dikombinasikan dengan metode AHP. Hasil penelitian berupa sebuah sistem pendukung keputusan yang mampu memberikan evaluasi kinerja pegawai yang akan dipromosikan.Kata kunci— pegawai; core factor; secondary factor; gap analysis; AHP
UJI BANDING KIT RIA T3 PRODUK PRR-BATAN SISTEM "COATED TUBE" DENGAN PRODUK IZOTOP-HUNGARIA Triningsih, Triningsih; Widayati, Puji; Sutari, Sutari; Setiyowati, Sri
Jurnal Forum Nuklir JFN Vol 8 No 2 November 2014
Publisher : BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (421.101 KB)

Abstract

UJJ BANDING KIT RIA T3 PRODUK PRR-BATAN SISTEM "COATED TUBE" DENGAN PRODUK IZOTOP-HUNGARlA. Radioimunoassay (RIA) merupakan teknik analisis yang didasarkan pada prinsip immunologi dan menggunakan perunut radioaktif sehingga cuplikan dalam jumlah kecil mudah dideteksi serta spesifik karena didasarkan pada reaksi imunologi yaitu ketika terjadi ikatan antigen antibodi yang spesilik hanya untuk antigen tertentu saja. Teknik ini dapat digunakan untuk penemuan kadar T3 dalam serum yang mempunyai matriks yang komplek dan kadar yang sangat bervariasi. Triiodotironin (T3) adalah salah satu hormon yang diekskresikan oleh kelenjar tiroid. Telah dilakukan penelitian tentang uji banding Kit RIA T3 produk PRR-BATAN sistem "coated tube” dengan produk lzotop-Hungaria sebagai Gold Standard, tujuannya untuk melihat kesesuaian pengukuran kadar T3 dengan cara membandingkan hasil analisis menggunakan kit RIA T3 produk PRR-BATAN sistem “coated tube” dengan produk lzotop Hungaria terhadap 273 sampel yang berasal dari poliklinik PTKMR-BATAN Pasar Jum’at. Hasil uji assay dari kedua kit tersebut diperoleh 185 sampel negatip hipotiroid (true negative), 30 sampel positip hipotiroid (true positive), 17 sampel false positip hipotiroid dan 41 sampcl false negatip hipotiroid. Sedang untuk sampel hipetiroid diperoleh hasil 207 sampel negatip hipertiroid (true negative), 41 sampel positif hipertiroid (true positive), 20 sampel false positip hipertiroid, dan 5 sampel false negatip hipertiroid. Hasil uji banding kit RIA T3 didapatkan nilai diagnostic sensitivity sebesar 42.25% dan diagnostic specivicity sebesar 91.58 % untuk pengukuran sampel hipotiroid, didapatkan diagnostic sensitivity sebesar 89,13% dan diagnostic specivicity sebesar 91,18 % untuk pengukuran sampel hipertiroid sehingga kualitas Kit RIA T3 produk PRR-BATAN sistem "coated tube" belum sama dengan produk dari Izotop Hungaria.Kaw Kunci: Kit, T3, RIA, uji banding
PREPARASI PEREAKSI KIT IMMUNORADIOMETRlCASSAY FREE PROSTATE SPECIFIC ANTIGEN UNTUK DETEKSI KANKER PROSTAT Widayati, Puji; Mondrida, Gina; Setiyowati, Sri; Ariyanto, Agus; Susilo, V. Yulianti; Lestari, Wening
Jurnal Kimia Terapan Indonesia (Indonesian Journal of Applied Chemistry) Vol 15, No 2 (2013)
Publisher : Research Center for Chemistry - LIPI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5744.033 KB)

Abstract

Prostate Specific Antigen (PSA) is a glycoprotein with a molecular weight of approximately 34,000 daltons serine protease secreted exclusively by prostatic epithelial cells that lining acini and prostate gland. Increased of PSA levels can be caused by prostate cancer or benign prostate enlargement (benign prostatic hyperplasia, BPH). PSA in the blood was found in the free condition (free PSA) and most of the bound protein (complexed-PSA, c-PSA). Measuring levels of PSA was found in the blood can be done by several methods such as by immunoradiometricassay (IRMA) methods or ELISA methods. IRMA method is one of immunoassay techniques using radionuclides ,/' 125 oJ I as a tracer, so the sample in small 13 quantity can be detected The purpose of this study was obtained PSA reagent kit that includes 1251labeled PSA as a tracer, PSA coated tube and PSA standard that requirements of the kit, then it can be optimized assay design, that eventually PSA reagent kit can be used for early detection of prostate cancer. It has been done labeling of Mab PSA using 125 1with reaction time was 90 seconds, amount of PSA MAb was 75 ugram and the activity of Na_ 125I was 1000 flCi. Preaparation of PSA coated tube using 0.05 M Na2C03 solution, at pH: 9.6 with volume was 250 ml., standard PSA with 0.025 Mphosphate buffer at pH 7.4 containing 5% BSA and 0.1% NaN3, and resulting at 1,25% and 14,12% respectively of NSB and BIT that requirement of the kit.Keywords: Prostate cancer, PSA, IRMA,NSB, Maximum Binding