Articles

Found 36 Documents
Search

PENGGUNAAN METODA GROUNDED THEORY DIBAWAH PAYUNG PARADIGMA POSTPOSITIVISTIK PADA PENELITIAN TENTANG FENOMENA SOSIAL PERKOTAAN Setioko, Bambang
MODUL Volume 11, Nomer 1, Tahun 2011
Publisher : MODUL

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1026.527 KB)

Abstract

Berkembangnya penelitian dibawah payung paradigma post-positivistik tentang fenomena sosial perkotaan akhir-akhir ini, merupakan pertanda akan munculnya teori teori baru bercirikan local wisdom (kearifan lokal) mengakhiri kemandekan perkembangan ilmu pengetahuan akibat ketidak tepatan penggunaan pola pikir eksakta dalam menterjemahkan pengetahuan sosial. Tidak sebagaimana penelitian dengan menggunakan paradigma positivistik yang diawali dengan penyusunan hipotesis, proses teorisasi data dengan model grounded theory diawali dengan meng-koding fenomena diskrit, dilanjutkan dengan membangun konsep sebagai dasar untuk menyusun kategori dan proposisi, dan berakhir dengan terbangunnya teori substantif. Teori dalam metode grounded theory berperan sebagai background knowledge (latar pengetahuan) yang akan meningkatkan theoritical sensitivity (kepekaan teori), namun bukan sebagai frame work (kerangka pikir). Tulisan ini mengungkap penggunaan metoda grounded theory dalam gugus paradigma post-positivistik, yang bertujuan untuk mengungkap fenomena sosial perkotaan di Indonesia yang semakin kompleks, yang tentu saja sulit untuk diungkap dengan metode lain. Kata Kunci: paradigma post-positivistik, kearifan lokal, latar pengetahuan, teori substantif.
FAKTOR PEMBENTUK PERSEPSI RUANG KOMUNAL DI PEMUKIMAN NELAYAN (Studi Kasus: Pemukiman Nelayan Tambak Mulyo Semarang) Firmandhani, Satriya Wahyu; Setioko, Bambang; Setyowati, Erni
TEKNIK Volume 34, Nomor 2, Tahun 2013
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1447.768 KB)

Abstract

In certain settlement, human always interact with the physical setting arround of them. That interaction causesperception inside of that human, because perception is the process of organizing and interpretating of stimulusprovided by the environment (Rita, 1983). So the perception is strongly influenced by the individual human andphysical surroundings. Based on the theory of perception, found problems in Tambak Mulyo as fishermensettlement in Semarang, where the inhabitants of Tambak Mulyo do the communal activities on the roadenvironment. Road environment should be a mode of land transport circulation is also used for the communalspace. Seeing this phenomenon, it can be concluded that there is the perception of communal space in thefishermen settlement in Tambak Mulyo. And this study aimed to explore the factors forming the perception ofcommunal space.In answering the research objectives, the research paradigm used is a quantitative rationalistic to constructfactor variables. In constructing the factor variabless, based on the theory that the perception of the individualand the setting up of the physical environment (Sarlito, 1992). So that the required variables are perceptionvariables and variables of communal space. The variables is operationalized into a questionnaire that is easy tounderstand the respondents, next after the questionnaire data collected, the data were analyzed using factoranalysis statistical test, so of many variable factors that could wake is reduced to just a few factors thatsignificantly causes the perception of communal space in the fishermen settlement.At the output of this research, revealed about the causal factors of the perception of communal space in thefishermen settlement. These factors is a collection of variable factors that have a strong correlation in theanalysis. By knowing the factors forming the perception of communal space in the fishing settlement, expected toprovide input in the planning and design of fishing settlements.Key words : Perception, Communal Space, Physical Setting
KONSEP KEARIFAN LOKAL PADA PERTUMBUHAN KAWASAN PINGGIRAN KOTA Setioko, Bambang
MODUL Volume 13, Nomer 2, Tahun 2013
Publisher : MODUL

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.099 KB)

Abstract

Pertumbuhan kawasan pinggiran kota telah menjadi fenomena dunia, menyebabkan kota berkembang tanpa batas. Fisik kota dengan cepat tumbuh dan berkembang kearah horisontal dengan skala gigantis, mengokupasi kawasan pedesaan disekitarnya. Pertumbuhan kota tidak lagi berlangsung di pusat kota tetapi berpindah ke kawasan pinggiran. Morfologi kota mengalami metamorfosa menyebabkan terjadinya inverted metropolis dimana inti kota berciri marjinal, sebaliknya kawasan pinggiran berciri sentral. Bentukan fisik sebuah kota merupakan kumpulan urban artefacts hasil sejarah panjang proses pembentukannya selalu mempunyai ke-unik-an. Oleh karenanya dalam upaya “membaca” bentuk kota dan menelaah proses pertumbuhan kota diperlukan pemahaman pada nilai lokal. Pada hakekatnya kota merupakan konfigurasi spasial dari struktur sosial dan budaya masyarakatnya. Pendekatan yang paling sesuai untuk dapat dipakai dalam mengelola pertumbuhan kota haruslah berbasis pada nilai lokal. Fragmentasi ruang perkotaan dikawasan pinggiran ternyata tidak diikuti dengan segmentasi struktur sosial pelaku ruang, yang justru menyatu. Masyarakat kawasan pinggiran mempunyai karakter saling tergantung (interdependensi) dan berciri kekerabatan. Interdependensi di bidang ekonomi menciptakan koeksistensi antar pelaku ruang dan merupakan embrio tumbuhnya struktur sosial yang terintegrasi. Aspek tersebut merupakan bahan utama terbangunnya konsep kearifan lokal pada pertumbuhan kawasan pinggiran.
PENGARUH KARAKTERISTIK KARYA YB. MANGUNWIJAYA TERHADAP KARAKTER VISUAL PERMUKIMAN BANTARAN SUNGAI STUDI KASUS: KAMPUNG CODE UTARA, YOGYAKARTA Puspitasari, Ayu Wandira; Pandelaki, Edward Endrianto; Setioko, Bambang
TEKNIK Volume 34, Nomor 2, Tahun 2013
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (624.947 KB)

Abstract

Settlement of north Kampung Code which located on the riverbanks of Kali Code in Yogyakarta, has a diversevisual character, so that visually appear to be dynamic and irregular.Yusuf Bilyarta Mangunwijaya participatefully in shaping the visual character of the settlement of the north Kampung Code. The aim of this research is toknow the effect of characteristics design of YB. Mangunwijaya on the visual character of settlement riverbank inthe North Kampung Code.Quantitative-rasionalistic method was used in this research, based on the results of respondents answer inobservation the visual character of the north Kampung Code settlement. Testing using the test statistic basedfrom the answer of the respondents to the questionnaire. Quantitatively, the study was determined using outputrating statistics. Then the hypothesis testing was done through a linear regression analysis which serves toidentity that effect. Test conducted on the variable of characteristics design of Mangunwijaya consists of unitedwith nature, local, efficient, honest, detail and creative.The conclusions is a significant effect the characteristics design of YB. Mangunwijay on the visual character ofthe north Kampung Code was shown in this work.Correlation between respondents answer with theoryexplanation. Interpretation of this research was not every factor in forming the visual character can beunderstood properly by the observer.Key words: Visual Character, Characteristics Effect, The North Kampung Code, YB. Mangunwijaya
Faktor-faktor yang Menentukan Eksistensi Kampung Pekojan sebagai Kampung Kota di Kota Semarang -, Wahjoerini; Setioko, Bambang
JURNAL PEMBANGUNAN WILAYAH & KOTA Vol 10, No 1 (2014): JPWK Volume 10 Number 1 Year 2014
Publisher : UNDIP

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2687.709 KB)

Abstract

Eksistensi kampung yaitu kemampuan kampung untuk mempertahankan morfologi, fungsi dan nilainilaiyang ada di dalamnya. Trancik (1986) yang mengatakan bahwa teori ruang fisik kota terdiri darifigure ground, linkage, place. Kampung Pekojan masih terdapat bangunan asli sampai saat ini.Kampung Pekojan sampai saat ini masih berfungsi sebagai tempat bermukim, masih dihuni olehmasyarakat. Tujuan dilakukannya penelitian yaitu untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yangmenentukan eksistensi Kampung Pekojan sebagai kampung kota di Kota Semarang dilihat dari aspekfisik. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif deduktif rasionalistik. Dari hasil analisisdengan menggunakan SPSS 16, maka didapatkan 3 faktor yang menentukan eksistensi kampungPekojan sebagai kampung kota dilihat dari aspek fisik yaitu 1). Faktor Arsitektur Kampung Kota, 2)Faktor Struktur Kampung Kota, dan 3). Faktor Elemen dan Interaksi Ruang. Faktor yang paling besarpengaruhnya adalah Faktor Arsitektur dengan prosentase tertinggi (32,477). Temuan ini mendukungdengan grand theory yang menyebutkan bahwa faktor yang menentukan eksistensi kampung kotadipengaruhi oleh faktor fisik. Namun ditemukan bahwa di Kampung Pekojan, faktor fisik yangmempengaruhi lebih disebabkan oleh faktor arsitektur.Kata kunci: eksistensi, kampung kota, aspek fisik
HOTEL RESORT DI KAWASAN WISATA AIR PANAS GUCI – KABUPATEN TEGAL PENEKANAN DESAIN ARSITEKTUR ORGANIK saragi, samia; setioko, bambang; setyowati, erni
IMAJI Vol 3, No 4 (2014): jurnal IMAJI - Oktober 2014
Publisher : IMAJI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kabupaten Tegal merupakan salah satu tujuan wisata yang memiliki potensi alam dan budaya di Jawa Tengah. Salah satu objek wisata unggulan di Kabupaten Tegal yang telah menjadi objek wisata unggulan dalam lingkup Jawa Tengah adalah objek wisata air panas yang berada di Desa Guci. Kawasan Wisata Air Panas Guci memiliki potensi pengembangan wisata berawal dari sumber mata air panas, kearifan budaya lokal yang masih tetap dipertahankan, yaitu wayang dan tarian, komoditi teh dan jamu yang telah melekat dengan kabupaten Tegal. Perkembangan Kepariwisataan ini berdampak pada jumlah pengunjung yang terus meningkat dan berbanding lurus dengan kebutuhan akan sarana akomodasinya. Oleh karena itu, dengan banyaknya fasilitas yang dikembangkan, diperlukan adanya sarana akomodasi berupa fasilitas penginapan yang memberikan pelayanan bagi pengunjung untuk menikmati keindahan alam di Guci secara lebih lama. Jenis penginapan yang sesuai adalah Hotel Resort. Hotel Resot merupakan sebuah respon terhadap perkembangan kawasan wisata yang juga menjadi hotel resort pertama yang memberikan fasilitas berupa wahana pertunjukan, tea spa and massage, serta café jamu sebagai salah satu pemasaran dari ciri khas Kabupaten Tegal Penekanan desain pada hotel resort ini adalah arsitektur organik yang dalam proses desain mempertimbangkan unsur organik baik dari bentukan bangunan hingga penyelarasanna terhadap lingkungan sekitar. Penataan Hotel Resot merespon tapak dan view menuju ke bagian bawah desa Guci, yaitu kecamatan Bumijawa, dan beberapa Kecamatan dari Kabupaten Tegal.
GEDUNG BIOSKOP DI KOTA SEMARANG (PENEKANAN DESAIN ARSITEKTUR POST MODERN) laksawicaka, bagas; setioko, bambang; setyowati, erni
IMAJI Vol 3, No 4 (2014): jurnal IMAJI - Oktober 2014
Publisher : IMAJI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keberadaan bioskop di Indonesia sudah berlangsung hampir 107 tahun, terhitung sejak adanya bioskop yang memutar film pertama kali yang dikenal sebagai “gambar idoep” di Batavia tanggal 5 Desember 1900. Bioskop mempunyai peranan yang strategis dan merupakan ujung tombak industri perfilman Indonesia, sekaligus menjadi tolak ukur keberhasilan produksi film Indonesia bagi masyarakat. Sebagai mata rantai terakhir dalam tata niaga film, usaha perbioskopan tentu saja tidak bisa dilepaskan dari salah satu fungsi bioskop yaitu sebagai “etalase film”. Dengan pesatnya perkembangan teknologi digital dan pelayanan untuk masyarakat penonton yang memadai adalah suatu tantangan bagi dunia perbioskopan khususnya, untuk bersama-sama membuka pasar film yang lebih luas lagi.
GEDUNG PAMER DAN PERAGA IPTEK KELAUTAN DI SEMARANG ratna, desy; prianto, eddy; setioko, bambang
IMAJI Vol 3, No 4 (2014): jurnal IMAJI - Oktober 2014
Publisher : IMAJI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi setiap tahunnya semakin berkembang pesat, hal ini ditunjukkan dengan adanya berbagai macam teknologi yang dapat memudahkan manusia khususnya siswa dalam memahami pelajaran. Indonesia memiliki kekayaan alam berupa dasar laut yang beragam, namun tidak semua masyrakat Indonesia mengetahui hal ini sehingga masih banyak masyarakat yang belum sadar untuk menjaga dan melestarikan lingkungan laut. Berdasarkan Keputusan Menteri No. 75/M/Kp/XI/2001 perlu adanya wadah mengenai IPTEK di setiap provinsi, kenyataanya Indonesia hanya memiliki empat wadah, diantaranya Taman Mini Indonesia Indah (Jakarta), Taman Pintar (Yogyakarta), Science Center Trams Studio (Bandung), IPTEK Sundial (Padalarang). Kota Semarang yang merupakan ibukota Provinsi Jawa Tengah memiliki dua buah pintu masuk kedalam Provinsi Jawa Tengah, yaitu ditunjukan dengan adanya Pelabuhan Tanjung Mas dan Bandara Internasional Ahmad Yani. Namun dengan potensi tersebut Semarang belum mampu mengolah dan mengembangkannya, terutama disektor pariwisata. Sedangkan disektor masyarakat dan pendidikan, Semarang memiliki 6 universitas negeri. Salah satu diantaranya merupakan universitas terbaik di Jawa Tengah yaitu Universitas Diponegoro, dengan kata lain masyarakat kota Semarang mempunyai kualitas pelajar yang berkompeten, hanya saja kurangnya fasilitas edukasi yang dapat mendukung kualitas masyarakat kota Semarang.
STADION AKUATIK DI BANDUNG ahmadi, ichsan; prianto, eddy; setioko, bambang
IMAJI Vol 3, No 4 (2014): jurnal IMAJI - Oktober 2014
Publisher : IMAJI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Prestasi Indonesia di bidang olahraga air yang semakin meningkat, namun terdapat kekurangan dalam perkembangan proses pembibitan dan pelatihan bagi atlet-atlet renang Indonesia untuk generasi yang akan datang. Salah satu faktor kekurangannya dikarenakan oleh fasilitas-fasilitas olahraga renang yang belum memadai, melainkan hanya terdapat satu stadion olahraga renang yang sesuai dengan standar kompetisi dengan vanue yang memadai baik skala nasional maupun internasional yaitu Jakabaring Aquatic Stadium di Palembang. Pekan Olahraga Nasional (PON) merupakan ajang pentas olahraga paling megah di Indonesia yang diselenggarakan setiap empat tahun. Sebagai ibukota Jawa Barat, Bandung terpilih sebagai tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX tahun 2016. Salah satu tanggapan dari pemerintah Provinsi Jawa Barat yaitu pemerintah Provinsi Jawa Barat akan membangun kolam renang bertaraf nasional maupun internasional sebagai persiapan penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX tahun 2016.
Faktor Pembentuk Karakteristik Permukiman Bontang Kuala Kota Bontang Kalimantan Timur M, Suparman; Setioko, Bambang; Murtini, Titien Woro
MODUL Vol 14, No 2 (2014): MODUL Volume 14 No.2 Tahun 2014
Publisher : MODUL

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.686 KB)

Abstract

Permasalahan permukiman adalah permasalahan yang selalu ada dan terus meningkat mengikuti pertumbuhan penduduk, dinamika kependudukan dan tuntutan sosial ekonomi yang semakin maju. Perkembangan permukiman yang tidak berdasar teori perencanaan permukiman akan menjadikan permukiman tersebut tidak bisa memenuhi kebutuhan kenyamanan bagi penghuninya.Seperti halnya permukiman yang tumbuh di Kawasan Permukiman Apung Nelayan Bontang Kuala – Kalimantan Timur.Pada permukiman settle pola pertumbuhan permukiman secara visual terlihat tertata dengan baik. Sedangkan pola pertumbuhan permukiman yang berkembang setelah tahun 2009 disini tumbuh secara sporadis muncul dimana-mana bahkan semakin menjorok kelaut sehingga akan mengganggu kestabilan ekosistem.Fenomena ini yang membuat peneliti tertarik untuk mengetahui faktor-faktor pembentuk karakteristik permukiman nelayan Bontang Kuala. Dengan metode penelitian deductive – kualitative – rasionalistik peneliti mengumpulkan berbagai variable – variable factor tentang karakteristik permukiman nelayan untuk di uji cobakan di Permukiman Nelayan Bontang Kuala – Kota Bontang Kalimantan Timur. Hasil dari analisa faktor-faktor pembentuk karakteristik permukiman Bontang Kuala menunjukan korelasi yang kuat antara permukiman lama dengan permukiman baru. Secara rinci faktor-faktor dominan yang signifikan menjadi faktor pembentuk karakteristik pada permukiman lama adalah persepsi dan kognisi,sikap dan keturunan,aktifitas ekonomi social dan budaya,fisik,legibility,transportasi dan air bersih serta pengolahan limbah yang baik.Sedangkan factor – factor pembentuk karakteristik pada permukiman baru adalah sikap dan motivasi,budaya dan kekerabatan,aktifitas ekonomi,sarana dan legibility serta factor fisik dan kognisi.