Dani Setiawan
Departemen Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit Umum Sumedang, jalan Palasari 80 Sumedang

Published : 4 Documents
Articles

Found 4 Documents
Search

Perbandingan Keberhasilan Vaginal Birth After a Cesarean (VBAC) pada Inersia Uteri Hipotonik dengan dan tanpa Pemberian Oksitosin Drip Setiawan, Dani; Krisnadi, Sofie Rifayani; Sabarudin, Udin
Majalah Kedokteran Bandung Vol 44, No 2 (2012)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Percobaan persalinan per vaginam dapat menjadi pilihan untuk wanita yang sebelumnya pernah mengalami seksio sesarea. Percobaan yang berhasil dinamakan sebagai vaginal birth after a cesarean (VBAC). Kegagalan VBAC sering kali disebabkan karena terjadinya inersia uteri hipotonik. Augmentasi oksitosin drip bukan merupakan kontraindikasi, pemberian augmentasi oksitosin drip merupakan upaya untuk meningkatkan angka keberhasilan VBAC akan tetapi harus diberikan dengan pemantauan kontinu. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan perbedaan keberhasilan VBAC pada inersia uteri hipotonik dengan dan tanpa pemberian oksitosin drip. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan uji klinik acak terkontrol (randomized clinical trial), terhadap 40 penderita dengan riwayat seksio sesarea di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin, Rumah Sakit Umum Daerah Sumedang, dan Rumah Sakit Astana Anyar yang memenuhi kriteria inklusi periode Maret–Mei 2009; dilakukan perbandingan dua kelompok, yaitu kelompok dengan oksitosin drip dan tanpa oksitosin drip. Karakteristik penderita, keberhasilan VBAC, dan komplikasi ibu serta keluaran neonatus dicatat sebagai data. Uji kemaknaan perbedaan dua proporsi dengan menggunakan chi-kuadrat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan VBAC secara statistik tidak memperlihatkan perbedaan bermakna antara kelompok oksitosin drip (80%) dan tanpa oksitosin drip (60%) dengan nilai p=0,168 (p>0,05), tetapi dengan interval kepercayaan 95% keberhasilan VBAC dengan oksitosin drip lebih besar 1,71 (0,72–4,06). Komplikasi pada ibu dan neonatus yang timbul pada kedua kelompok tidak berbeda bermakna. Simpulan, pemberian oksitosin drip pada kasus inersia uteri hipotonik meningkatkan keberhasilan VBAC. [MKB. 2012;44(2):114–20].The Successful Comparison of Vaginal Birth After a Cesarean (VBAC) on Hypotonic Uterine Inertia with and without Oxytocin InfusionTrial of labor after cesarean section can be a choice on maternity with cesarean history. The successful trial of labor is then called vaginal birth after a cesarean (VBAC). The failure on VBAC is often caused by hypotonic uterine inertia. Oxytocin infusion augmentation is not a contraindication; it is a solution for increasing success on VBAC with requisite continuing observation. The aim of this research was to determine the successful differences of VBAC on hypotonic uterine inertia with and without oxytocin augmentation. This research was an experimental study on randomized clinical trial, using 40 patients with history of cesarean section at Dr. Hasan Sadikin Hospital and two satellite hospitals (Sumedang and Astana Anyar) during March–May 2009 which fulfilled inclusion criteria divided into two groups; the group using oxytocin infusion and the group without oxytocin infusion. The patients’ characteristic, the success on VBAC and the maternal complication also neonatal condition were noted as encode. Chi-square test was used for statistical analysis. There was no statistical significant difference of success between the group used oxytocin infusion (80%) and the group without using oxytocin infusion (60%) with p>0.05 (p=0.168), but using confidence interval 95% showed the successful on VBAC with oxytocin infusion was greater 1.71 (0.72–4.06). The maternity and neonatal complication on two groups did not indicate a significant difference. In conclusion, using oxytocin infusion on hypotonic uterine inertia can increase the success on VBAC. [MKB.2012;44(2):114–20]. DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v44n2.130
Pengembangan Sistem Kontrol dan Pemantauan Tetesan Cairan Infus Otomatis Berbasis Labview dengan Logika Fuzzy Yunardi, Riky Tri; Setiawan, Dani; Maulina, Farah; Prijo, Tri Anggono
Jurnal Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer Vol 5, No 4: Agustus 2018
Publisher : Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25126/jtiik.201854766

Abstract

Dalam instrumentasi medis infus merupakan perangkat yang digunakan untuk mengalirkan cairan, obat atau nutrisi secara intravena. Fungsi utama dari infus yaitu memberikan cairan secara periodik pada pasien. Perangkat infus saat ini, untuk mengendalikan kecepatan tetesan cairan dilakukan secara manual oleh staf medis. Masalah yang sering terjadi, seperti penyumbatan atau kehabisan isi cairan dan apabila tidak segera ditangani akan berbahaya bagi pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sistem kontrol dan pemantauan aliran cairan infus secara otomatis. Dengan menggunakan LabVIEW National Instruments untuk memantau tetesan cairan infus. Sistem kontrol logika Fuzzy diimplementasikan dengan menggunakan mikrokontroler berbasis ATmega, yang dilengkapi dengan pompa udara, motor stepper dan pendeteksi aliran cairan. Sistem yang telah dibuat ini dapat dikembangkan untuk membantu tenaga medis dalam memantau kecepatan tetesan cairan infus untuk mencegah risiko terhadap pasien. AbstractIn the medical instrumentation infusion is a device used to drain fluids, medication or nutrients intravenously. The main function of the infusion is to give fluids periodically in patients. Infusion device at this time, to control the speed of the liquid droplets is done manually by the medical staff. Problems often occur, such as a blockage or run out of the fluid content and if not promptly treated can be harmful to the patient. This research aims to develop a prototype of control system and monitoring of the infusion liquid droplets automatically. By using the National Instruments LabVIEW to monitor the flow of intravenous fluids. The Fuzzy logic control system is implemented using an ATmega based microcontroller, equipped with air pumps, stepper motors and liquid flow detection. The performance of the prototype system of monitoring the flow of intravenous fluids automatically have a success rate of 96.75% at the set point value of 20 drops in 1 minute. 
Rancang Bangun Mesin Penyuwir Daging Untuk Bahan Baku Abon Irdam, Irdam; Setiawan, Dani; Odi, Fransiskus; Rahayu, Sri
DINAMIKA: Jurnal Ilmiah Teknik Mesin Vol 10, No 1 (2018)
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/djitm.v10i1.4844

Abstract

Mesin penyuwir daging merupakan suatu alat yang membantu dalam memproses penyuwiran daging menjadi suiran-suiran tipis yang akan dijadikan abon. Mesin ini dapat mempermudah dan mempercepat penyuwiran dan memberikan hasil penyuwiran yang lebih baik dan merata dibandingkan dengan cara manual seperti menggunakan tangan dan pisau yang memakan waktu dan tenaga yang banyak. Mesin penyuwir daging terdiri dari beberapa komponen, yaitu rangka mesin, motor listrik, puli, sabuk-v, bak penampung dan poros penyuwir. Salah satu mesin penyuwir daging yang tersedia saat ini memiliki beberapa kekurangan sehingga kami berinisiatif untuk melakukan pengembangan mesin tersebut. Tahapan dalam pembuatan mesin penyuwir daging ini terdiri atas tahap perancangan, tahap manufaktur, tahap perakitan dan tahap pengujian. Spesifikasi mesin penyuwir daging abon yang dirancang bangun di sini adalah panjang bak penampung 400 mm, lebar 300 mm, dan tinggi 335 mm dengan menggunakan bahan stainless steel. Penggerak utama mesin penyuwir daging menggunakan motor listrik berdaya 1 HP dengan putaran 1400 rpm. Transmisi yang digunakan menggunakan puli dan sabuk-v. Poros penyuwir yang digunakan berbahan stainless steel berdiameter 12,7 mm dengan putaran poros penyuwir 700 rpm. Ukuran daging yang akan disuir sekitar 3 cm x 3 cm x 3 cm, dengan durasi penyuwiran selama 6 menit untuk 1 kg daging. Kata kunci: Mesin penyuwir daging, motor listrik, transmisi, poros penyuwir, abon
Perbandingan Keberhasilan Vaginal Birth After a Cesarean (VBAC) pada Inersia Uteri Hipotonik dengan dan tanpa Pemberian Oksitosin Drip Setiawan, Dani; Krisnadi, Sofie Rifayani; Sabarudin, Udin
Majalah Kedokteran Bandung Vol 44, No 2 (2012)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Percobaan persalinan per vaginam dapat menjadi pilihan untuk wanita yang sebelumnya pernah mengalami seksio sesarea. Percobaan yang berhasil dinamakan sebagai vaginal birth after a cesarean (VBAC). Kegagalan VBAC sering kali disebabkan karena terjadinya inersia uteri hipotonik. Augmentasi oksitosin drip bukan merupakan kontraindikasi, pemberian augmentasi oksitosin drip merupakan upaya untuk meningkatkan angka keberhasilan VBAC akan tetapi harus diberikan dengan pemantauan kontinu. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan perbedaan keberhasilan VBAC pada inersia uteri hipotonik dengan dan tanpa pemberian oksitosin drip. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan uji klinik acak terkontrol (randomized clinical trial), terhadap 40 penderita dengan riwayat seksio sesarea di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin, Rumah Sakit Umum Daerah Sumedang, dan Rumah Sakit Astana Anyar yang memenuhi kriteria inklusi periode Maret–Mei 2009; dilakukan perbandingan dua kelompok, yaitu kelompok dengan oksitosin drip dan tanpa oksitosin drip. Karakteristik penderita, keberhasilan VBAC, dan komplikasi ibu serta keluaran neonatus dicatat sebagai data. Uji kemaknaan perbedaan dua proporsi dengan menggunakan chi-kuadrat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan VBAC secara statistik tidak memperlihatkan perbedaan bermakna antara kelompok oksitosin drip (80%) dan tanpa oksitosin drip (60%) dengan nilai p=0,168 (p>0,05), tetapi dengan interval kepercayaan 95% keberhasilan VBAC dengan oksitosin drip lebih besar 1,71 (0,72–4,06). Komplikasi pada ibu dan neonatus yang timbul pada kedua kelompok tidak berbeda bermakna. Simpulan, pemberian oksitosin drip pada kasus inersia uteri hipotonik meningkatkan keberhasilan VBAC. [MKB. 2012;44(2):114–20].The Successful Comparison of Vaginal Birth After a Cesarean (VBAC) on Hypotonic Uterine Inertia with and without Oxytocin InfusionTrial of labor after cesarean section can be a choice on maternity with cesarean history. The successful trial of labor is then called vaginal birth after a cesarean (VBAC). The failure on VBAC is often caused by hypotonic uterine inertia. Oxytocin infusion augmentation is not a contraindication; it is a solution for increasing success on VBAC with requisite continuing observation. The aim of this research was to determine the successful differences of VBAC on hypotonic uterine inertia with and without oxytocin augmentation. This research was an experimental study on randomized clinical trial, using 40 patients with history of cesarean section at Dr. Hasan Sadikin Hospital and two satellite hospitals (Sumedang and Astana Anyar) during March–May 2009 which fulfilled inclusion criteria divided into two groups; the group using oxytocin infusion and the group without oxytocin infusion. The patients’ characteristic, the success on VBAC and the maternal complication also neonatal condition were noted as encode. Chi-square test was used for statistical analysis. There was no statistical significant difference of success between the group used oxytocin infusion (80%) and the group without using oxytocin infusion (60%) with p>0.05 (p=0.168), but using confidence interval 95% showed the successful on VBAC with oxytocin infusion was greater 1.71 (0.72–4.06). The maternity and neonatal complication on two groups did not indicate a significant difference. In conclusion, using oxytocin infusion on hypotonic uterine inertia can increase the success on VBAC. [MKB.2012;44(2):114–20]. DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v44n2.130