Articles

Found 17 Documents
Search

REPLIKASI VIRUS DENGUE PADA KULTUR SEL ENDOTEL PEMBULUH DARAH KELINCI

Buletin Veteriner Udayana Vol. 1 No. 1 Pebruari 2009
Publisher : Buletin Veteriner Udayana

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Infeksi virus Dengue (DEN) dapat menyebabkan dengue hemorrhagic fever –dengue shock syndrome (DHF-DSS), yang ditandai dengan kebocoran plasma dan gangguan hemostasis. Meskipun sel endotel dipertimbangkan dapat menjadi target sel pada patogenesis DHF, namun sedikit bukti yang menyatakan infeksi virus dengue menyebabkan perubahan fungsi sel endotel. Dalam studi ini sel endotel diisolasi dari aorta desenden thoraxis-abdominalis kelinci, kemudian dilakukan kultur sel primer. Kultur sel kemudian diinokulasi dengan virus Dengue DEN-1, -2, -3, -4, dan DEN-mix. Replikasi virus dengue pada kultur sel endotel diukur dengan uji enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). Titer Ag (DEN-1, -2, -3, -4, dan DEN-mix) yang didapat dari supernatan bervariasi. Dengue tipe 2 mempunyai titer paling tinggi dibandingkan dengan DEN-mix dan tipe virus dengue lainnya. Kerusakan sel endotel menyebabkan kebocoran vaskuleryang berperanan pada patogenesis infeksi virus dengue. Hasil tersebut menyiratkan kemungkinan kerusakan sel endotel disebabkan oleh infeksi virus dengue yang mengakibatkan kebocoran vaskuler.ABSTRACTThe severe outcome of the Dengue (DEN) virus infection known as DEN hemorrhagic fever – DEN shock syndrome (DHF – DSS), is characterized by plasma leakage and hemostasis derangements. Although endothelial cells have been speculated to be a target in the pathogenesis of DHF, there has been little evidence on Dengue virus infection to any alteration in endothelial cell function.In this study, the endothelial cells has been isolatedfrom rabbit thoraxis-abdominalis descendentaortha, then performed primary culture. The culture was then inoculated with virus Dengue DEN-1, -2, -3, -4 and DEN-mix.Replications of dengue virus in endothelial cells culture were demonstrated by enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). Ag titers found among the supernatant of DEN-1, -2, -3, -4, and DEN-mix cultures were vary.Dengue type 2 had the highest virus titers in supernatant compared with those of DEN-mixand other types. Endothelial cell damage may couse vascular leakage that contributes to the pathogenesis of Dengue infection. There results imply the possibility that the existence of endothelial cell damage caused by DV infection may cause vascular leakage.

STUDI HISTOLOGI USUS BESAR SAPI BALI

Buletin Veteriner Udayana Vol. 2 No. 2 Agustus 2010
Publisher : Buletin Veteriner Udayana

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

A Study to detect the microscopic structure of large intestine (caecum, colon, rectum) ofbali cattle has been carried out. The samples were collected from 20 of bali cattle in Pesanggaran abattoir, Denpasar. The tissue samples were fixed, dehydrated and embeddedin paraffin and 4-5 mm sections. Harris-Haematoxilin-Eosin staining method, using toidentified of histological structure. Microscopic analysis was performed using binocularlight microscope (100 x, 450x). The study showed that the wall of the caecum, colon, andrectum are made up of four layers : mucosae, submucosae, muscularis externa, and serosa.The lined by mucosae ephitelium of simple columnar cells. The thick of mucosaare 29,9 ± 5,0 mm (caecum) 37,5 ± 8,4 mm (colon) and 58,9 ± 9,5 mm (rectum)respectively. The submucosae contain connective tissue and thick of these layerare 54,8 ± 8,8 mm; 21,2 ± 7,1 mm; and 16,5 ± 4,5 mm respectively. The muscularis externaconsists of two layers of smooth muscle inner circular and outer longitudinal. The thick ofthe mucularis externa are 98,5 ± 15,4 mm; 166,9 ± 44,4 mm; and 479 ± 28,6 mmrespectively. The serosa forms the outermost layer with thick 29,5 ± 8,5 mm;20,9 ± 7,6mm; and 12,1 ± 3,6 mm respectively. We observed for the presence richof Goblet cells and few limphatic nodules (Peyer’s patches) but no showed villi.

STUDI HISTOLOGI LIMPA SAPI BALI

Buletin Veteriner Udayana Vol. 3 No. 1 Pebruari 2011
Publisher : Buletin Veteriner Udayana

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The objective of this study to find out the histological of spleen of bali cattle. Thespleenwere collected from 20 bali cattle in Pesanggaran abattoir, Denpasar and thenevaluated microscopically. Histological findings were assessed by H-E stainpreparations.Microscopically, showed that the spleen of bali cattle consists of capsule,white and red pulp. The capsule composed of connective tissue and smooth muscle withthick of these layer is 24,3 ± 3,7 ?m. The white pulp subdivided into the marginal zone andthe follicle. It is composed of reticulocyte (lymphocytes and macrophages) andreticular fibers. The red pulp composed of arterioles, capillary, and vascular sinusoidswhich are large numbers of erythrocytes, macrophages, dendritic cells, plasma cells andsparse lymphocytes.

Pengaruh Pemberian Pegagan (Centella asiatica) terhadap Struktur Mikroskopis Hati Mencit Pasca Infeksi Salmonella typhi

Buletin Veteriner Udayana Vol. 4 No.2 Agustus 2012
Publisher : Buletin Veteriner Udayana

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Centella asiatica (pegagan) merupakan salah satu tanaman obat yang memilikibanyak fungsi, salah satunya adalah sebagai imunostimulator, yang berarti dapatmerangsang tubuh untuk meningkatkan respon imun. Namun efek pegagan terhadapstruktur mikroskopis hati pasca diinfeksi Salmonella typhi (S.typhi) belum pernahdilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak pegagan terhadapstruktur mikroskopis hati mencit yang diinfeksi S.typhi . Penelitian ini menggunakan 24ekor mencit jantan umur 8-12 minggu, yang dibagi menjadi 4 grup. P0 sebagai kontroldiberikan aquades, dan grup P1,P2, dan P3, masing-masing diberikan 125 mg/bb, 250kg/bb mg, 500 mg kg/bb. perlakuan diulang sebanyak 6 kali. Extrak pegagan diberikansecara oral selama 14 hari, pada hari ke 15 seluruh mencit diinfeksi dengan S.typhi,kemudian pada hari ke 14 semua mencit dinekropsi dan hati diambil untuk diprosespembuatan preparat dengan metode pewarnaan hematoxylin eosin (HE). Pengamatandilakukan terhadap gambaran mikroskopis berupa perdarahan, degenerasi vakuola, dannekrosis. Hasil analisis menunjukkan mencit yang tidak diberikan pegagan dengan mencityang diberikan pegagan dosis 125 mg/kg bb., memberikan hasil yang tidak berbeda nyataNamun mencit yang diberikan pegagan dosis 250 mg/kg bb, dan 500 mg/kg bb memberikangambaran mikroskopis yang berbeda nyata.

Efektifitas Ekstrak Kulit Batang Kelor Terhadap Perubahan Histopatologi Testis Tikus yang diinduksi Aloksan

Indonesia Medicus Veterinus Vol 3 (2) 2014
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas ekstrak kulit batang kelor terhadap perubahan histopatologi testis tikus wistar yang diinduksi aloksan. Penelitian menggunakan sampel testis tikus wistar yang berumur 2-3 bulan dengan berat badan berkisar antara 150-200 gram. Penelitian ini menggunakan 24 ekor tikus wistar yang dibagi menjadi enam kelompok. Kelompok 1 sebagai kontrol positif diberikan aquades steril, kelompok 2 sebagai kontrol negatif diberikan aloksan 125mg/kg bb, kelompok 3 sebagai kontrol obat diberikan aloksan dan glibenklamid 0,045mg/kg bb, kelompok 4 diberikan ekstrak kulit batang kelor dosis 100mg/kg bb, kelompok 5 diberikan ekstrak kulit batang kelor dosis 200mg/kg bb dan kelompok 6 diberikan esktrak kulit batang kelor dosis 400mg/kg bb. Setelah 21 hari dilakukan nekropsi pada seluruh tikus wistar yang diberi perlakuan untuk pengambilan sampel testis dan dibuat preparat histologi. Metode pewarnaan menggunakan Hematoxilin-Eosin. Selanjutnya dilakukan pengamatan di Laboratorium Patologi Fakultas Kedokteran Hewan, terhadap perubahan histopatologi testis tikus wistar yang meliputi degenerasi dan nekrosis. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan Uji Kruskall-Wallis. Hasil penelitian menunjukkan pemberian ekstrak kulit batang kelor terhadap perubahan histopatologi testis tikus wistar yang diinduksi aloksan dengan dosis 100mg/kg bb, 200mg/kg bb dan 400 mg/kg bb tidak memberikan hasil yang berbeda nyata (p>0,05).

Pemberian Ekstrak Kulit Batang Kelor Terhadap Gambaran Mikroskopis Ginjal Tikus yang diinduksi Aloksan

Indonesia Medicus Veterinus Vol 3 (2) 2014
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Uji fitokimia terhadap kulit batang kelor (Moringa sp) mengandung flavonoid dan alkaloid, yang berfungsi sebagai antidiabetik dan hipoglikemik. Tujuan dari penelitian ini adalah: untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak etanol kulit batang kelor terhadap gambaran mikroskopis ginjal tikus wistar yang diinduksi aloksan. Penelitian ini menggunakan 18 ekor tikus yang dibagi atas 6 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan terdiri dari: kontrol normal (P0), kontrol obat (P1), kontrol diabetik (P2), perlakuan dosis ekstrak 100 mg/Kg BB (P3), dosis ekstrak 200 mg/Kg BB (P4) dan dosis ekstrak 400 mg/Kg BB (P5). Perlakuan diberikan setiap hari selama 21 hari. Pada hari ke 22 tikus dieuthanasi, dinekropsi, ginjal di ambil: untuk dibuat sediaan histopatologi dengan pewarnaan HE. Hasil penelitian menunjukkan terdapat degenerasi, kongesti dan nekrosis pada P0, P1, P2, P3, P4 dan P5., dengan derajat kerusakan yang bervariasi. Dari hasil uji Kruskal Wallis menunjukkan bahwa baik degenerasi, kongesti maupun nekrosis dari keenam kelompok perlakuan tidak berbeda secara signifikan (p>0,005). Hal ini berarti bahwa pemberian ekstrak kulit batang kelor dosis 100 mg/KgBB, 200 mg/KgBB dan 400 mg/KgBB tidak berpengaruh terhadap gambaran mikroskopik ginjal tikus  wistar yang diinduksi aloksan.

Pemberian Ekstrak Etanol Kulit Batang Kelor Glukosa Darah Tikus Hiperglikemia

Indonesia Medicus Veterinus Vol 3 (4) 2014
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak kulit batang kelor(Moringa oleifera) dalam menurunkan kadar glukosa darah pada tikus Wistar yang diinduksi aloksan.Sampel darah diambil dari 24 ekor tikus Wistar jantan berumur tiga bulan dengan bobot sekitar 150-200gram. Rancangan penelitian yang digunakan berupa Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan enamperlakuan, dan masing-masing perlakuan terdiri atas empat ulangan. Pemberian ekstrak etanol kulitbatang kelor menggunakan dosis 100 mg/kgBB, dosis 200 mg/kgBB dan dosis 400 mg/kgBB. Hasilpenelitian menunjukkan pemberian ekstrak kulit batang kelor dengan dosis tersebut diatas dapatmenurunkan kadar glukosa darah hari ke-7 sampai hari ke-21, dan penurunannya sebanding denganpemberian glibenklamid 0,045 mg/kgBB. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanolkulit batang kelor dapat menurunkan kadar glukosa darah tikus Wistar yang diinduksi aloksan.

Pengaruh Pemberian Ekstrak Kulit Batang kelor (Moringa oleifera) Terhadap Perubahan Histopatologi Hati Tikus Wistar yang Diinduksi Aloksan

Indonesia Medicus Veterinus Vol 4 (4) 2015
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak kulit batang kelor (Moringa oleifera) terhadap gambaran histopatologi hati tikus wistar yang diinduksi aloksan. Sebanyak 24 ekor tikus jantan berumur 2-3 bulan dengan bobot sekitar 150-200 gr digunakan dalam penelitian ini, tikus diadaptasikan selama 1 minggu, dikelompokan secara acak menjadi 6 kelompok masing-masing kelompok terdiri dari 4 ekor. Kelompok I (P0) sebagai kontrol (tikut sehat) diberikan aquades steril 1ml, kelompok II (P1) sebagai kontrol negative diberikan aloksan dosis 125mg/kgBB, kelompok III (P2) sebagai kontrol positif diberikan glibenklamid dosis 0,045mg/ekor, kelompok IV (P3) diberikan ekstrak kulit batang kelor dosis 100mg/kgBB, kelompok V (P4) diberikan ekstrak kulit batang kelor (M.oleifera) dosis 200 mg/kgBB, kelompok VI diberikan ekstrak kulit batang kelor (M.oleifera) dosis 400 mg/kgBB. Organ hati tikus wistar pada semua kelompok perlakuan diambil untuk dibuat sediaan histopatologi dengan pewarnaan Hematoksilin-Eosin. Kemudian dilakukan pengamatan terhadap gambaran mikroskopis hati yang meliputi perubahan berupa: perdarahan, degenerasi vakuola dan nekrosis. Hasil penelitian menunjukkan pemberian ekstrak kulit batang kelor (Moringa oleifera) dosis 100 mg/kgBB, dosis 200 mg/kgBB dan dosis 400 mg/kgBB tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap gambaran histopatologi tikus wistar yang diinduksi aloksan. Hal ini menunjukkan pemberian ekstrak kulit batang kelor tidak mempengaruhi gambaran histopatologi hati tikus diabetes mellitus.

Aktivitas Biologis Imunoglobulin Yolk Anti Parvovirus Setelah Perlakuan Suhu (BIOLOGY ACTIVITIES OF IgY PARVOVIRUS AFTER HEAT TREATMENT)

Buletin Veteriner Udayana Vol. 8 No. 1 Pebruari 2016
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine of Udayana University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to determine the effect of temperature on the biological activity of various crude and precipitate specific Immunoglobulin (Ig)Y Canine parvovirus (CPV). Hiperimun serum conducted on Isa Brown chickens injected with antigen CPV. Crude yolk Ig preparations derived from chicken serum without purification while the yolk Ig preparations precipitates obtained by the chicken serum was precipitated with ammonium sulfate and dialyzed. Both types of Ig yolk given treatment temperature 50ºC, 60ºC, 70ºC, and 80ºC for 15 minutes. To test Gel Precipitation Test (AGPT) is performed to determine whether there is a specific IgY CPV in the serum of chickens. Biological activity of both types of Ig detected with Barriers Haemagglutination test (HI). The design used in this study is completely randomized design factorial. The results of this study indicate that the temperature was highly significant on the activities of IgY crude and precipitates. Activities IgY crude and precipitate down to the treatment temperature of 50ºC, 60ºC, 70ºC, and 80ºC. Geometric Mean Titer crude IgY respectively - were 26.67, 26, 25.33, and <2º Unit HI while IgY precipitates are respectively 26.33, 25.67, 24, and <2º Unit HI. Based on the results of this study concluded that the biological activity of crude IgY better than IgY precipitates after treatment of a wide range of temperatures.

THE EFFECTS OF DIETARY INCLUSION OF DETOXIFIED Leucaena leucocephala LEAF MEAL ON THYROIDAL ACTIVITY OF RATS DURING GESTATION-LACTATION PERIOD

International Journal of Biosciences and Biotechnology Vol 5 No 2 (2018)
Publisher : Faculty of Agriculture, Udayana University in cooperation with Asia-Oceania Bioscience and Biotechnology Consortium (AOBBC)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Leucaena leucocephala provides the highest amount of proteins compared to other greens. However, its use is restricted due to the content of mimosine, an antinutrition non-protein amino acid known to be toxic to animals. This study aimed to observe the effect of administration of more than 10% of processed Leucaena leucocephala leaf meal to the level of T3, T4 and the thyroid histopathology. In this study, Leucaena leucocephala leaves were soaked in distilled water for 12 hours. The processed of Leucaena leucocephala leaf meal was made into pellets containing 0%, 7.5%, 15%, and 22.5% leaf meal of total feeds respectively, and was fed to the rats during pregnancy and lactation. The level of triiodothyronine (T3) and thyroxine (T4), and the thyroid histological features were the parameters observed. The collected data were statistically analyzed by SPSS 20.0 for Windows using One-way ANOVA followed by Duncan Multiple Range Test to observe any significant difference among the 4 treatment groups (?=5%). Meanwhile, the presence of hyperplastic cells and follicle lumens filled with vesicles and colloids was descriptively analyzed by means of available literatures. The analysis of T3 and T4 level revealed that there was no any significant difference between the control and treatment groups. The epithelial cells of thyroid follicles in the treatment groups of P1, P2 and P3 showed hyperplasia and were detached from their respective basal membranes.