Articles

Found 15 Documents
Search

PERAN KOMITE SEKOLAH SMP DI KOTA SEMARANG

Media Penelitian Pendidikan Vol 2, No 2 (2008)
Publisher : Media Penelitian Pendidikan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Komite Sekolah merupakan suatu badan atau lembaga non – profit dan non – politis, dibentuk berdasarkan musyawarah yang demokratis oleh para stakeholers pendidikan pada tingkat satuan pendidikan sebagai representasi dari berbagai unsur yang bertanggung jawab terhadap peningkatan kualitas proses dan hasil pendidikan. MBS adalah suatu bentuk alternatif program desentralisasi pendidikan di sekolah. Ciri – ciri MBS adalah adannya otonomi yang kuat di tingkat sekolah, peran aktif masyarakat dalam pendidikan, proses pengambilan keputusan yang demokratis dan berkeadilan, menjunjung tinggi akuntabilitas dan tranparansi dalam setiap kegiatan pendidikan. Penelitian ini dilakukan di SMP di Kota Semarang selama bulan September dan Oktober 2008 dengan fokus penelitian peran Komite Sekolah SMP di Kota Semarang. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan: (1) peran komite sekolah sebagai pemberi pertimbangan, (2) peran komite sekolah sebagai pendukung, (3) peran komite sekolah sebagai pengontrol, dan (4) peran komite sekolah sebagai mediator. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif - kualitatif dengan menggunakan studi kasus. Tehnik pengambilan data yang digunakan adalah observasi, wawancara serta studi dokumentasi. Hasil penelitian membuktikan bahwa: (1) peran komite sekolah sebagai pemberi pertimbangan telah menjalankan perannya dalam hal: a) menyusun RAPBS bersama sekolah, b) mengesah RAPBS pada bulan Juli (seharusnya), c) mengkontrol pelaksanaan APBS, d) mengontrol sistem pelaporan  pelasanaan APBS setiap bulan, e) melaksanakan perubahan APBS pada  setiap bulan Januari, f) mepertanggungjawabkan kepada masyarakat setiap akhir semester, g) memberikan pertimbangan dan rekomendasi kebijakan-kebijakan sekolah yang berkaitan dengan fungsi, hak dan kewajiban Komite Sekolah. (2) peran komite sekolah sebagai pendukung telah menjalankan perannya dalam hal: a) kegiatan operasional komite, b) pembelian alat tulis kantor, c) pendataan dan pemaparan data, d) peningkatan kualitas manajemen, f) pelayakan ruang Komite Sekolah, g) pelaksanaan pergantian pengurus, h) pembentukan paguyuban orang tua siswa. Kesungguhan terhadap pelaksanaan program kerja diwujudkan dengan penyediaan dana bagi terlaksananya kegiatan tersebut. (3) peran komite sekolah sebagai pengontrol telah berperan sebagaimana mestinya untuk hal: a) menyangkut pelaksanaan jadual KBM, b) bidang anggaran, c) tenaga kependidikan baik guru maupun non guru, d) prestasi sekolah selalu mendapatkan perhatian Komite Sekolah, e) Komite juga mengadakan pemantauan terhadap hasil ujian, kelulusan maupun kenaikan kelas. dan (4) peran komite sekolah sebagai mediator telah menjalankan perannya, dalam hal: a) membina hubungan yang sinergis antara sekolah dan stakeholders, b) mengadakan sarasehan pendidikan, c) menyelenggarakan diskusi pendidikan, d) menerbitkan media komunikasi dan, e) pemutahiran data. Namun kurang maksimal di dalam memediasi antara pihak sekolah dengan pemerintah maupun dengan dunia usaha/ industri. Saran yang disampaikan berkaitan dengan hasil penelitian antara lain, (1) Peran komite sekolah perlu lebih ditingkatkan, terutama dalam peran sebagai mediator antara sekolah dengan pemerintah atau sekolah dengan dunia usaha/industri. (2) Perlu penelitian lanjut mengingat fokus penelitian hanya menyangkut masalah peran komite sekolah.   Kata kunci : Peran, Komite Sekolah

PENGARUH PEMBINAAN BERKELANJUTAN, SUPERVISI PENGAWAS DAN MOTIVASI KERJA TERHADAP KINERJA GURU DI UPT DISDIKPORA KECAMATAN MAYONG KABUPATEN JEPARA

Jurnal Manajemen Pendidikan Vol 2, No 1 (2013): April
Publisher : Jurnal Manajemen Pendidikan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract. The objectives of this research are to acknowledge: (1) relationship between coaching and sustained by the principal to teacher performance, (2) relationship between the provision of supervision and supervisors with teacher performance, (3) relationship between motivation with teacher performance, and (4) relationship between supervision supervisor and work motivation with teacher performance variable except coaching sustainability. The sample was all the teachers at a primary school teacher in the district of Jepara regency Mayong number of teachers who became population is 79 people. Result of this research indicate (1) There is no significant positive relationship between coaching and sustained by the principal to teacher performance and contribute effectively is 0%, (2) There is a positive and significant relationship between the provision of supervision and supervisors with teacher performance contribute effective at 5.3%., (3) There is a positive and significant relationship between motivation with teacher performance and provide an effective contribution of 21.2%, (4) There is a positive and significant relationship between supervision supervisor and work motivation with teacher performance variable except coaching sustainability contribute effectively 21.6%.Abstrak.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pembinaan berkelanjutan oleh kepala sekolah dengan kinerja guru, hubungan antara pemberian supervisi pengawas dengan kinerja guru, hubungan antara motivasi dengan kinerja guru, dan hubungan secara bersama-sama antara pembinaan berkelanjutan oleh kepala sekolah, supervisi pengawas, dan motivasi terhadap kinerja guru. Sampel penelitian ini adalah semua guru di guru sekolah dasar di kecamatan mayong kabupaten jepara Jumlah guru yang menjadi populasi adalah 79 orang. Hasil penelitian ini menunjukkan (1) Terdapat hubungan positif dan tidak signifikan antara pembinaan berkelanjutan oleh kepala sekolah dengan kinerja guru dan memberikan sumbangan yang efektif yaitu 0%, (2) Terdapat hubungan positif dan signifikan antara pemberian supervisi pengawas dengan kinerja guru dan memberikan sumbangan yang efektif sebesar 5,3%., (3) Terdapat hubungan positif dan signifikan antara motivasi kerja dengan kinerja guru dan memberikan sumbangan yang efektif sebesar 21,2%, (4) Terdapat hubungan positif dan signifikan antara supervisi pengawas dan motivasi kerja dengan kinerja guru kecuali variable pembinaan keberlanjutan dengan memberikan sumbangan yang efektif sebesar 21,6%.Kata-kata Kunci: Pembinaan Berkelanjutan, Supervisi Pengawas, Motivasi Kerja, Kinerja Guru

INFLUENCE GIVING OF EXTRACT FRUIT MENGKUDU TO HISTOPATOLOGI TESTIS WHITE MOUSE FOLLOWING AN INHALATION CIGARETTE SMOKE

BIOMA Vol 1, No 2, Oktober (2011): Bioma
Publisher : BIOMA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This Research to know influence giving of extract fruit Mengkudu (Morinda citrifolia) to histopatologi of white mouse (Rattus norvegicus) testis following an inhalation cigarette smoke and to know how much is giving of extract fruit of Mengkudu more having an effect on in an optimal fashion for the minimization of to damage of testicle seminiferus tubulus white mouse given by wistar galur cigarette smoke treatmen.Eksperiment design in this research use completely random design (RAL) by four treatment that is (A) mouse + cigarette smoke + 0 ml / fruit extract day of Mengkudu as control; (B) mouse + cigarette smoke + 0,9 ml / fruit extract day of Mengkudu; ( C) mouse + cigarette smoke + 1,8 ml / fruit extract day of Mengkudu; (D). mouse + cigarette smoke + 2,7 ml / fruit extract day of Mengkudu, by four replication. Para-meter the measured white mouse testis seminiferus tubulus histopatologi. Research executed by UNNES in January 2011 until March 2011.Result of research indicate that treatment of fruit extract of mengkudu give influence which signifikan ( p< 0,05) to white mouse testis seminiferus tubulus histopatologi of wistar galur. Usage of fruit extract of Mengkudu dose 1,8 ml / day optimal dose in minimization damage of white mouse testis seminiferus tubulus, following an inhalation cigarette smoke.From result of the research can be concluded that usage of fruit extract of Meng-kudu can minimization damage of white mouse testis seminiferus tubulus given by cigarette smoke treatmen. But antioksidan with excessive dose can turn into pro-oksidan so that earn damage watering down effect of free radical.Keywords : fruit extract of mengkudu, testis, histopatologi, cigarette smoke

IMPLEMENTASI PENDIDIKAN RAMAH ANAK DALAM KONTEKS MEMBANGUN KARAKTER SISWA DI SEKOLAH DASAR NEGERI DI KOTA SEMARANG

Media Penelitian Pendidikan Vol 6, No 1 (2012): mpp
Publisher : Media Penelitian Pendidikan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan karakter pada jenjang pendidikan dasar harus menempatkanpendidikan ramah nak sebagai dasar membangun karakter siswa. Hasil kuesioneryang didisi oleh semua guru-guru SD se-kota Semarang yang dilakukan 3,5 bulan di16 SD Negeri se Kota Semarang. Hasil menunjukkan mereka setuju untuk selalubersikap ramah terhadap siswa-siswanya. Tidak hanya itu, sekolah juga telahmengimplementasikan beberapa nilai-nilai karakter dalam visi misi sekolah, bahkantersedia kata-kata motivasi di dinding-dinding sekolah.Kedua, bentuk-bentuk pendidikan ramah anak yang telah dilaksanakan disekolah meliputi; ketersediaan sarana dan prasarana yang dibutuhkan oleh siswaseperti dalam kaitannya dengan kesehatan siswa yaitu tersedianya ruang UKS,program jumat bersih, kerja bakti, dokter kecil, BIAS maupun program tanaman toga.Sedangkan di bidang lain seperti tersedianya toilet, sanitasi air untuk mencuci tangan.Namun belum semua sekolah memiliki sanitasi air maupun toilet yang bersih. Bentukpendidikan ramah anak yang lain yaitu tersedianya perpustakaan, kantin, koperasisiswa, taman bermain siswa, dan mading. Jika dilihat dari observasi kelas, guru telahmengimplementasikan bentuk-bentuk pendidikan ramah anak seperti pemberian rasakasih sayang, perhatian terhadap siswa-siswanya. Dalam segi partisipai, bentukpendidikan ramah anak yang telah dilaksanakan seperti adanya kegiatan-kegiatansekolah dalam memperingati hari besar, serta ekstrakurikuler yang diikuti oleh semuasiswa. keterlibatan siswa dalam berbagai hal seperti dalam penataan bangku dandekorasi kelas.Ketiga, sejauhmana sekolah-sekolah dasar di kota Semarang telahmengimplementasikan pendidikan ramah anak dapat kita ketahui melalui hasilobservasi kelas dan wawancara. Sekolah telah berupaya mengimplementasikanpendidikan pendidikan ramah anak, namun faktanya masih belum optimaldikarenakan adanya beberapa kendala seperti keterbatasan dana, sarana danprasarana.Kata kunci: pendidikan ramah anak, karakter, SD Negeri di Kota Semarang

PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN BERPERSPEKTIF LIFE-SKILLS

Media Penelitian Pendidikan Vol 6, No 1 (2012): mpp
Publisher : Media Penelitian Pendidikan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitianini adalah untuk mengembangkan sebuah model pembelajaran yang dapatmembangun life skills pada tahapan pembelajaran bahasa Inggris berbasis genre. Penelitian ini adalahpenelitian kualitatif berbasis pada analisis konsep. Penelitian dilakukan di 3 SMA dan 3 SMK di KotaSemarang dalam 4 tahapan: 1) observasi mendalam dan studi kepustakaan; 2) Wawancara dengan gurubahasa Inggris; 3).pemberian try out; 4) peer debriefing, diskusi terbatas dengan teman sejawat dan ahli,Temuan menunjukan bahwa life skills dapat diterapakan pada masing-masing tahapan pembelajaranbahasa Inggris (Building Knowledge of the Field, Modeling, Joint Construction, IndependentConstruction). Life-skills dapat diterapkan melalui: 1) pembiasaan; 2) memanipulasi isi materi; 3)penguatan dan pembetulan perilaku; dan 4) memanipulasi aktifitas kelas.Kata kunci: Kecakapan hidup, tahapan pembelajaran, proses pembelajaran.

PERAN KOMITE SEKOLAH SMP DI KOTA SEMARANG

Media Penelitian Pendidikan : Jurnal Penelitian dalam Bidang Pendidikan dan Pengajaran Vol 2, No 2 (2008)
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.032 KB)

Abstract

Komite Sekolah merupakan suatu badan atau lembaga non ?óÔé¼ÔÇ£ profit dan non ?óÔé¼ÔÇ£ politis, dibentuk berdasarkan musyawarah yang demokratis oleh para stakeholers pendidikan pada tingkat satuan pendidikan sebagai representasi dari berbagai unsur yang bertanggung jawab terhadap peningkatan kualitas proses dan hasil pendidikan. MBS adalah suatu bentuk alternatif program desentralisasi pendidikan di sekolah. Ciri ?óÔé¼ÔÇ£ ciri MBS adalah adannya otonomi yang kuat di tingkat sekolah, peran aktif masyarakat dalam pendidikan, proses pengambilan keputusan yang demokratis dan berkeadilan, menjunjung tinggi akuntabilitas dan tranparansi dalam setiap kegiatan pendidikan. Penelitian ini dilakukan di SMP di Kota Semarang selama bulan September dan Oktober 2008 dengan fokus penelitian peran Komite Sekolah SMP di Kota Semarang. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan: (1) peran komite sekolah sebagai pemberi pertimbangan, (2) peran komite sekolah sebagai pendukung, (3) peran komite sekolah sebagai pengontrol, dan (4) peran komite sekolah sebagai mediator. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif - kualitatif dengan menggunakan studi kasus. Tehnik pengambilan data yang digunakan adalah observasi, wawancara serta studi dokumentasi. Hasil penelitian membuktikan bahwa: (1) peran komite sekolah sebagai pemberi pertimbangan telah menjalankan perannya dalam hal: a) menyusun RAPBS bersama sekolah, b) mengesah RAPBS pada bulan Juli (seharusnya), c) mengkontrol pelaksanaan APBS, d) mengontrol sistem pelaporan?é?á pelasanaan APBS setiap bulan, e) melaksanakan perubahan APBS pada?é?á setiap bulan Januari, f) mepertanggungjawabkan kepada masyarakat setiap akhir semester, g) memberikan pertimbangan dan rekomendasi kebijakan-kebijakan sekolah yang berkaitan dengan fungsi, hak dan kewajiban Komite Sekolah. (2) peran komite sekolah sebagai pendukung telah menjalankan perannya dalam hal: a) kegiatan operasional komite, b) pembelian alat tulis kantor, c) pendataan dan pemaparan data, d) peningkatan kualitas manajemen, f) pelayakan ruang Komite Sekolah, g) pelaksanaan pergantian pengurus, h) pembentukan paguyuban orang tua siswa. Kesungguhan terhadap pelaksanaan program kerja diwujudkan dengan penyediaan dana bagi terlaksananya kegiatan tersebut. (3) peran komite sekolah sebagai pengontrol telah berperan sebagaimana mestinya untuk hal: a) menyangkut pelaksanaan jadual KBM, b) bidang anggaran, c) tenaga kependidikan baik guru maupun non guru, d) prestasi sekolah selalu mendapatkan perhatian Komite Sekolah, e) Komite juga mengadakan pemantauan terhadap hasil ujian, kelulusan maupun kenaikan kelas. dan (4) peran komite sekolah sebagai mediator telah menjalankan perannya, dalam hal: a) membina hubungan yang sinergis antara sekolah dan stakeholders, b) mengadakan sarasehan pendidikan, c) menyelenggarakan diskusi pendidikan, d) menerbitkan media komunikasi dan, e) pemutahiran data. Namun kurang maksimal di dalam memediasi antara pihak sekolah dengan pemerintah maupun dengan dunia usaha/ industri. Saran yang disampaikan berkaitan dengan hasil penelitian antara lain, (1) Peran komite sekolah perlu lebih ditingkatkan, terutama dalam peran sebagai mediator antara sekolah dengan pemerintah atau sekolah dengan dunia usaha/industri. (2) Perlu penelitian lanjut mengingat fokus penelitian hanya menyangkut masalah peran komite sekolah. ?é?á Kata kunci : Peran, Komite Sekolah

PERAN KOMITE SEKOLAH SMP DI KOTA SEMARANG

Media Penelitian Pendidikan Vol 2, No 2 (2008)
Publisher : Media Penelitian Pendidikan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Komite Sekolah merupakan suatu badan atau lembaga non – profit dan non – politis, dibentuk berdasarkan musyawarah yang demokratis oleh para stakeholers pendidikan pada tingkat satuan pendidikan sebagai representasi dari berbagai unsur yang bertanggung jawab terhadap peningkatan kualitas proses dan hasil pendidikan. MBS adalah suatu bentuk alternatif program desentralisasi pendidikan di sekolah. Ciri – ciri MBS adalah adannya otonomi yang kuat di tingkat sekolah, peran aktif masyarakat dalam pendidikan, proses pengambilan keputusan yang demokratis dan berkeadilan, menjunjung tinggi akuntabilitas dan tranparansi dalam setiap kegiatan pendidikan. Penelitian ini dilakukan di SMP di Kota Semarang selama bulan September dan Oktober 2008 dengan fokus penelitian peran Komite Sekolah SMP di Kota Semarang. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan: (1) peran komite sekolah sebagai pemberi pertimbangan, (2) peran komite sekolah sebagai pendukung, (3) peran komite sekolah sebagai pengontrol, dan (4) peran komite sekolah sebagai mediator. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif - kualitatif dengan menggunakan studi kasus. Tehnik pengambilan data yang digunakan adalah observasi, wawancara serta studi dokumentasi. Hasil penelitian membuktikan bahwa: (1) peran komite sekolah sebagai pemberi pertimbangan telah menjalankan perannya dalam hal: a) menyusun RAPBS bersama sekolah, b) mengesah RAPBS pada bulan Juli (seharusnya), c) mengkontrol pelaksanaan APBS, d) mengontrol sistem pelaporan  pelasanaan APBS setiap bulan, e) melaksanakan perubahan APBS pada  setiap bulan Januari, f) mepertanggungjawabkan kepada masyarakat setiap akhir semester, g) memberikan pertimbangan dan rekomendasi kebijakan-kebijakan sekolah yang berkaitan dengan fungsi, hak dan kewajiban Komite Sekolah. (2) peran komite sekolah sebagai pendukung telah menjalankan perannya dalam hal: a) kegiatan operasional komite, b) pembelian alat tulis kantor, c) pendataan dan pemaparan data, d) peningkatan kualitas manajemen, f) pelayakan ruang Komite Sekolah, g) pelaksanaan pergantian pengurus, h) pembentukan paguyuban orang tua siswa. Kesungguhan terhadap pelaksanaan program kerja diwujudkan dengan penyediaan dana bagi terlaksananya kegiatan tersebut. (3) peran komite sekolah sebagai pengontrol telah berperan sebagaimana mestinya untuk hal: a) menyangkut pelaksanaan jadual KBM, b) bidang anggaran, c) tenaga kependidikan baik guru maupun non guru, d) prestasi sekolah selalu mendapatkan perhatian Komite Sekolah, e) Komite juga mengadakan pemantauan terhadap hasil ujian, kelulusan maupun kenaikan kelas. dan (4) peran komite sekolah sebagai mediator telah menjalankan perannya, dalam hal: a) membina hubungan yang sinergis antara sekolah dan stakeholders, b) mengadakan sarasehan pendidikan, c) menyelenggarakan diskusi pendidikan, d) menerbitkan media komunikasi dan, e) pemutahiran data. Namun kurang maksimal di dalam memediasi antara pihak sekolah dengan pemerintah maupun dengan dunia usaha/ industri. Saran yang disampaikan berkaitan dengan hasil penelitian antara lain, (1) Peran komite sekolah perlu lebih ditingkatkan, terutama dalam peran sebagai mediator antara sekolah dengan pemerintah atau sekolah dengan dunia usaha/industri. (2) Perlu penelitian lanjut mengingat fokus penelitian hanya menyangkut masalah peran komite sekolah.   Kata kunci : Peran, Komite Sekolah

PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN BERPERSPEKTIF LIFE-SKILLS

Media Penelitian Pendidikan Vol 6, No 1 (2012): mpp
Publisher : Media Penelitian Pendidikan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitianini adalah untuk mengembangkan sebuah model pembelajaran yang dapatmembangun life skills pada tahapan pembelajaran bahasa Inggris berbasis genre. Penelitian ini adalahpenelitian kualitatif berbasis pada analisis konsep. Penelitian dilakukan di 3 SMA dan 3 SMK di KotaSemarang dalam 4 tahapan: 1) observasi mendalam dan studi kepustakaan; 2) Wawancara dengan gurubahasa Inggris; 3).pemberian try out; 4) peer debriefing, diskusi terbatas dengan teman sejawat dan ahli,Temuan menunjukan bahwa life skills dapat diterapakan pada masing-masing tahapan pembelajaranbahasa Inggris (Building Knowledge of the Field, Modeling, Joint Construction, IndependentConstruction). Life-skills dapat diterapkan melalui: 1) pembiasaan; 2) memanipulasi isi materi; 3)penguatan dan pembetulan perilaku; dan 4) memanipulasi aktifitas kelas.Kata kunci: Kecakapan hidup, tahapan pembelajaran, proses pembelajaran.

IMPLEMENTASI PENDIDIKAN RAMAH ANAK DALAM KONTEKS MEMBANGUN KARAKTER SISWA DI SEKOLAH DASAR NEGERI DI KOTA SEMARANG

Media Penelitian Pendidikan Vol 6, No 1 (2012): mpp
Publisher : Media Penelitian Pendidikan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan karakter pada jenjang pendidikan dasar harus menempatkanpendidikan ramah nak sebagai dasar membangun karakter siswa. Hasil kuesioneryang didisi oleh semua guru-guru SD se-kota Semarang yang dilakukan 3,5 bulan di16 SD Negeri se Kota Semarang. Hasil menunjukkan mereka setuju untuk selalubersikap ramah terhadap siswa-siswanya. Tidak hanya itu, sekolah juga telahmengimplementasikan beberapa nilai-nilai karakter dalam visi misi sekolah, bahkantersedia kata-kata motivasi di dinding-dinding sekolah.Kedua, bentuk-bentuk pendidikan ramah anak yang telah dilaksanakan disekolah meliputi; ketersediaan sarana dan prasarana yang dibutuhkan oleh siswaseperti dalam kaitannya dengan kesehatan siswa yaitu tersedianya ruang UKS,program jumat bersih, kerja bakti, dokter kecil, BIAS maupun program tanaman toga.Sedangkan di bidang lain seperti tersedianya toilet, sanitasi air untuk mencuci tangan.Namun belum semua sekolah memiliki sanitasi air maupun toilet yang bersih. Bentukpendidikan ramah anak yang lain yaitu tersedianya perpustakaan, kantin, koperasisiswa, taman bermain siswa, dan mading. Jika dilihat dari observasi kelas, guru telahmengimplementasikan bentuk-bentuk pendidikan ramah anak seperti pemberian rasakasih sayang, perhatian terhadap siswa-siswanya. Dalam segi partisipai, bentukpendidikan ramah anak yang telah dilaksanakan seperti adanya kegiatan-kegiatansekolah dalam memperingati hari besar, serta ekstrakurikuler yang diikuti oleh semuasiswa. keterlibatan siswa dalam berbagai hal seperti dalam penataan bangku dandekorasi kelas.Ketiga, sejauhmana sekolah-sekolah dasar di kota Semarang telahmengimplementasikan pendidikan ramah anak dapat kita ketahui melalui hasilobservasi kelas dan wawancara. Sekolah telah berupaya mengimplementasikanpendidikan pendidikan ramah anak, namun faktanya masih belum optimaldikarenakan adanya beberapa kendala seperti keterbatasan dana, sarana danprasarana.Kata kunci: pendidikan ramah anak, karakter, SD Negeri di Kota Semarang

CULTURAL AWARENESS FOR ENGLISH LEARNERS

ETERNAL Vol 1, No 1 (2010): Februari Edisi 1
Publisher : ETERNAL

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract The purpose of this study is how to enhance cultural awareness for English learners in Indonesia. Culturally, the learners have got accustomed to using Indonesian mind set or Indonesian expression style rather than native English style. The aim of teaching learning language is that learners should have communicative competence. The communicative competence model (Celce-Murcia et al) introduces that the main competence of communicative competence is discourse competence. The discourse competence can be achieved if the learners have socio-cultural competence, linguistic competence and actional competence. It means that teaching English involves not only knowledge of linguistic aspects and speech act or rhetoric aspects but also socio-cultural aspects, certain features and characteristics of the culture. In the teaching learning process, language and culture are considered interconnected. It can be stated that a language is a part of culture and a culture is a part of a language. Language cannot be taught without reference to cultural context. By understanding socio-cultural contexts, learners can encounter the factors of cultural differences. English teachers should acknowledge English expressions to the learners in English cultural contexts. In order to help teacher in assisting learners to overcome cultural problems, some activities recommended are role plays, simulation, games, readings, watching English films, inviting native speaker to attend a classroom, giving assignment to the learners to meet native speaker, and cross cultural gathering with expatriates. Thus, the English learners are expected to be able to use English as a means of communication in various spoken and written English contexts. Moreover, the development of the learners’ cultural awareness leads them to more critical thinking. The learners are more creative and have a sensitivity of culture in producing English utterances. In other words, the learners should have made efforts how to use English communicatively. Pedagogical implication for teaching English as a foreign language should consider English cultural elements integrated in English teaching-learning activities in order to gain communicative competence. Regardless of different point of views, the aim of this study provides necessary information of cultural awareness for the English teachers and learners and that of teaching learning activities incorporating the target language and its culture. Keywords:  cultural awareness, communicative competence, socio-cultural competence