Timbangen Sembiring
Universitas Sumatera Utara, Medan

Published : 7 Documents
Articles

Found 7 Documents
Search

EFEK METIL ESTER MINYAK JARAK PAGAR DENGAN DIMETIL ESTER TURUNAN OLEAT TERHADAP EMISI GAS BUANG DARI MESIN DIESEL

Jurnal Dinamis No 12 (2013)
Publisher : Jurnal Dinamis

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (672.063 KB)

Abstract

AbstrakPenelitian efek metil ester minyak jarak pagar dan dimetil ester rantai bercabang (DMEB)turunan oleat terhadap emisi gas buang pada mesin diesel. Metil ester minyak jarak pagardibuat dengan cara tranesterifikasi Dari hasil pengujian didapat m minyak jarak pagar dandimetil ester rantai bercabang (DMEB) dibuat dengan proses kabonilasi asam oleat, pengujianini meliputi 4 (empat) jenis bahan bakar yakni B0, B5, B10 dan B10mix yang mengandung metilester berturut-turut 0% (100% solar pertadex), 5%, 10% dan B10 mix (10% metil ester dan 1%DMEB), kemudian dilakukan dengan menggunakan motor diesel TD110-TD115 test bed andinstrumentation for small engines pada putaran 1600 rpm,dan auto gas analizer untukmendeteksi emisi ga buang. Dari data penelitian didapat emisi CO B0 3,42%, B5 1,74%,B101,56%, dan B10mix 1,54%. Dan pada emisi HC untuk B0 185 ppm, B5 185 ppm, B10 184ppm, dan B10mix 175 ppm. Sedangkan emisi CO2 untuk B0 5,96%, B5 5,92%, B10 5,38%, danB10mix 5,26%, sehingga efek metil ester minyak jarak pagar menurunkan emisi gas buangdibandingkan dengan B0 (solar pertadex). Makin tinggi persentase metil ester minyak jaraksemakin turun emisi yang dihasilkan. Penambahan 1% dimetil ester rantai bercabang dapatmenurunkan emisi hidrokarbon (HC) dari 184 ppm menjadi 175 ppm.Kata kunci: Metil ester, Dimetil ester, Tranesterifikasi, emisi, Karbonilasi.

PENGGUNAAN GEOLISTRIK RESISTIVITI UNTUK IDENTIFIKASI STRUKTUR BAWAH PERMUKAAN BATUAN ANTARA LAU KETUKEN DAN LAU BEKERAH DI DESA SULKAM KABUPATEN LANGKAT

SEMIRATA 2015 Prosiding Bidang Fisika
Publisher : SEMIRATA 2015

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (679.242 KB)

Abstract

Telah dilakukan penggunaan geolistrik resistivitimeter untuk mengidentifikasi struktur bawah permukaan batuan di antara lau Ketuken dan lau Bekerah di desa Sulkam kabupaten Langkat. Pengukuran menggunakan alat geolistrik Automatic Resistivity System (ARES)-G4 v4.7, SN: 0609135 konfigurasi Wenner–Schlumberger dengan panjang lintasan 155 meter dan jarak antara elektroda 5 meter. Data hasil geolistrik ARES diolah menggunakan software Res2DinV untuk memperlihatkan struktur bawah permukaan batuan yang diukur. Hasil interpretasi yang diperoleh dari data geolistrik yang dikaitkan dengan data core hole dan data geologi diperoleh pola penyebaran lapisan bawah permukaan di dominasi oleh batu gamping dengan nilai resistivitas berkisar 500-10.000 Ωm dan lapisan lempung dengan nilai resistivitas 0-100 Ωm, tuffa dengan nilai resistivitas 200-1.000 Ωm serta lapisan tanah dengan resistivitas 250-500 Ωm. Katakunci:geolistrik, resistivitas, batu gamping, lau

COMPARISON OF ENERGY DOSES 10 MV DISTRIBUTION USING PERCENTAGE DEPTH DOSE (PDD) METHOD ON LINAC: ELECTA AND SIEMENS

Jurnal Natural Volume 18, Number 2, June 2018
Publisher : Syiah Kuala University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (496.173 KB)

Abstract

The patient dosing on Linac (Electa and Siemens) can be determined by Source Surface Distance (SSD) technique using Precentage Depth Doses (PDD) method. The study was conducted by measuring PDD to compare the dosage distribution calculations on Linac Electa and Siemens device of photon energy at 10 MV. PDD is done with a 100 cm SSD technique at a depth of 0 to 25 cm. The dose distribution results between the Electrical and the Siemens PDD are almost the same in that the Dmax at 10 MV Siemens photon energy occurs at a depth of 20 mm while the 10 MV Electa photon energy occurs at a depth of 21 mm. Both Linac Electa and Siemens device this at the same energy of 10 MV there is a difference of 95.23%.Keywords: Distrubusi dose, PDD, Photon Energy, Quality File Index

Effect of Sintering Time and Diameter on Bi-Pb-Sr-Ca-Cu-O Superconducting Wire Formation with TiO2 Dopant by Silver (Ag) Tube

Journal of Aceh Physics Society Volume 7 Number 1, January 2018
Publisher : Journal of Aceh Physics Society

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (355.325 KB)

Abstract

Pengaruh waktu sintering dan diameter terhadap pembentukan kawat superkonduktor Bi-Pb-Sr-Ca-Cu-O dengan dopan TiO2 menggunakan tabung perak (Ag) menjadi penting untuk dibahas karena hal ini berpengaruh terhadap adanya suhu kritis yang merupakan syarat penting superkonduktor. Pada penelitian ini ada beberapa tahap yang dilakukan yaitu preparasi bahan, proses permesinan, penarikan kawat dan proses perlakuan panas. Serbuk BPSCCO dengan dopan TiO2 dimasukkan ke dalam tabung perak (Ag) dan dikalsinasi pada temperatur 820oC selama 20 jam, lalu proses penarikan (Rolling) sampai diameter 6 mm dan 2,6 mm serta sintering dilakukan pada temperatur 850oC selama 9 jam dan 30 jam untuk masing-masing ukuran diameter dengan dua kali proses sintering. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawat superkonduktor memiliki suhu kritis yaitu Tc onset = 99 K dan Tc zero = 70 K. Waktu yang sangat berpengaruh pada pembentukan fasa superkonduktor yaitu sintering selama 9 jam sedangkan untuk ukuran diameter kawat yang memiliki suhu kritis yaitu 6 mm, sedangkan waktu sintering selama 30 jam dapat merubah fasa BPSCCO sehingga tidak terbentuk superkonduktor melainkan konduktor dan semikonduktor. Pada diameter 2,6 mm belum menjadi ukuran yang tepat pada pembentukan kawat superkonduktor. The influence of sintering time and diameter on the formation of Bi-Pb-Sr-Ca-Cu-O superconducting wire with doped TiO2 by silver (Ag) tube becomes important to be discussed because of the presence of critical temperature which is an essential condition in superconductors. In this research there are several steps must be done that is: material preparation, machine process, wire drawing and heat process. BPSCCO powder with dopant TiO2 filled into silver (Ag) tube with calcination temperature at 820oC for 20 h, then rolling process to diameter 6 mm and 2,6 mm with sintering temperature at 850oC for 9 h and 30 h for each size of diameter by twice sintering process. The results showed that superconducting wire has a critical temperature at Tc onset = 99 K and Tc zero = 70 K. The time that very important on the formation of superconducting phase is sintering for 9 h and the diameter of the wire having a critical temperature is 6 mm. The sintering time during 30 h can change the phase of BPSCCO become conductor and semiconductor. The diameter of 2,6 mm has not become the correct size on the fabrication of superconducting wire. Keyword : Cryogenic, Critical Temperature, Superconducting wire, Sintering Time, TiO2REFERENSIGrivel, J-C, A Jeremie and R Fliikiger, 1995, The Influence Of Ti02 Additions On The Formation And The Superconducting Properties Of The (Bi, Pb)2Sr2Ca2Cu3O10-Y Phase. IOP ScienceJabur, Akram R. 2012. B2223 High Temperature Superconductor Wires In Silver Sheath, Filament Diameter Effect On Critical Temperature And Current Density. Energy Procedia 18 ( 254 – 264)Liu, Hua Kun., Mihail lonescu., Yuan  Chang Guo,2001. Handbook of AdvancedElectronic and Photonic Materials and Devices, Volume 3: High Tc Superconductors and Organic Cond High Tc Superconductors and Organic Conductors, Academic Press. 71-90Widodo, Henry, 2010, Nanokristalisasi Superkonduktor Bi2SrCa2Cu3O10+x dan Bi1.6Pb0.4Sr2Ca2Cu3O10+6 dengan Metode Kopresipitasi dan Pencampuran Basah, Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Teknologi TELAAH : LIPI Bandung

CHARACTERIZATION OF NATURAL IRON SAND FROM KATA BEACH, WEST SUMATRA WITH HIGH ENERGY MILLING (HEM)

Jurnal Natural Volume 18, Number 2, June 2018
Publisher : Syiah Kuala University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (415.577 KB)

Abstract

Iron sand is one of the natural resources in West Sumatra that has not been optimally utilized. One of the potential locations to get this iron sand deposits is the coast of Kata. This study aims to analyze the content and size of the iron grains found on the coast of Kata Padang Beach, West Sumatera Province. Coastal sand samples are extracted using permanent magnets to separate magnetic and non-magnetic materials. Characterization of iron sand using Scanning Electron Microscopy with Energy Dispersive X-ray (SEM-EDX) and Vibrating Sample Magnetometer (VSM). The result of characterization using SEM-EDX shows that iron sand samples contain Fe and O elements derived from Phase Magnetite (Fe3O4).  Keywords: iron sand, magnetic materials, SEM-EDX, VSM

Konsentrasi Radiasi Gas Radon – Thoron pada Erupsi Gunung Sinabung dengan detector CR – 39

JURNAL IKATAN ALUMNI FISIKA Vol 2, No 1 (2016): Jurnal Ikatan Alumni Fisika Unimed Edisi Januari - Maret 2016
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

konsentrasi Radiasi Gas Radon – Thoron pasca Erupsi  Gunung Sinabung terhadap penduduk  Desa Sigarang-garang, Desa Sukanalu, Desa Guru Kinayan, Desa Namanteran. Penelitian ini dilakukan dengan metode pasif dengan sampel monitor Radon – Thoron buatan BATAN Jakarta dengan detector  CR-39 didalam rumah penduduk disekitar Gunung Sinabung selama 2 bulan yaitu dari bulan Oktober 2014 – Desember 2014. Pada saat itu Gunung Sinabung terus – menerus meletus dan mengeluarkan abu dan awan panas yang sangat tebal ke desa-desa disekitarnya.  Sampel Monitor Radon – Thoron ini dietsa di Laboratorium Pusat Teknologi Keselamatan dan Meterologi Radiasi BATAN Jakarta. Dari hasil proses dan etsa dilaboratorium diperoleh bahwa gas radioaktif Radon – Thoron masih dalam batas ambang dosis  yang diperbolehkan oleh ICRP  (Komisi Proteksi Radiasi Internasional) yaitu 1mSv/tahun kepada publik. Batas maksimun untuk Radon  adalah 200 Bq/m3 dan untuk Thoron adalah 600  Bq/m3.

Measurement and Analysis of Output Radiation Dose on X-Ray Device over 10 Years at Hospitals in Medan City

Journal of Aceh Physics Society Volume 7 Number 1, January 2018
Publisher : Aceh Physics Society

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.214 KB)

Abstract

Telah dilakukan pengukuran dosis radiasi keluaran pada empat pesawat sinar-X yang sudah berusia lebih dari 10 tahun di unit radiologi rumah sakit di kota Medan dengan spesifikasi yang berbeda. Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), telah merekomendasikan penggunaan tingkat panduan agar dosis radiasi yang diterima pasien dengan tetap mempertahankan kualitas citra film yang dihasilkan untuk kepentingan keselamatan pasien. Untuk melihat kualitas dari pesawat sinar-X ini dapat dilakukan uji akurasi tegangan dan uji akurasi lamanya penyinaran dosis sebagai proses quality control. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui nilai penyimpangan tegangan tabung (kVp) dan arus waktu tabung (mAs) dalam batas toleransi yang ditetapkan oleh PERKA BAPETEN No 9 Tahun 2011. Metode yang dilakukan adalah dengan mengukur tegangan keluaran tabung menggunakan detektor Piranha CB2-10090128 dan mengukur jarak antara tabung X-Ray ke detektor Piranha CB2-10090128 sejauh 100 cm seperti pada acuan pada PERKA BAPETEN No. 9 Tahun 2011. Hasil pengujian kemudian dianalisa sehingga didapatkan kesimpulan performa dari alat tersebut apakah masih dalam kondisi baik atau tidak. Dari empat pesawat sinar-X pada rumah sakit di kota Medan didapatkan hanya satu pesawat yang tidak melebihi ambang batas yang diperbolehkan oleh PERKA BAPETEN No. 9 Tahun 2011. Kata Kunci: Dosis Radiasi, Pesawat sinar-X, PERKA BAPETEN No. 9 Tahun 2011, Akurasi Tegangan  There have been measurements of output radiation dose for four X-Ray device over ten years of radiology units some hospitals in Medan city with different specifications. The International Atomic Energy Agency (IAEA) has recommended the use of guidance levels for the optimum patient-received radiation dose while maintaining the quality of film imagery generated for the patient safety. To see the quality of this X-ray device can be tested the accuracy of voltage and duration of dose irradiation as a quality control process. The purpose of this research is to know the value of tube voltage deviation (kVp) and tube time (mAs) to meet the tolerance limit specified by PERKA BAPETEN No 9, 2011. The method is to measure the output voltage of tube using Piranha CB2-10090128 detector and measure the distance between the X-Ray tubes to the Piranha CB2-10090128 detector as far as 100 cm as in reference to the PERKA BAPETEN no. 9, 2011. The results give the conclusion that the performance of the device is still in good condition or not. For the four X-ray devices in hospitals at Medan give only onedevice does not exceed the limited permitted by PERKA BAPETEN No. 9,2011.Keywords: Radiation Dose, General Radiography, PERKA BAPETEN No. 9 Tahun 2011 accurate of voltage, accurated radiationReferensiAdhikari, Suraj Raj. 2012. Effect And Application      Of Ionization Radiation (X-Ray) In Living  Organism. Kaski: Volume 3.The Himalaya  Physics.Badan Pengawas Tenaga Nuklir, Peraturan Kepala BAPETEN No. 8 Tahun 2011  tentang Keselamatan Radiasi dalam Penggunaan Pesawat Sinar-X Radiologi Diagnostik dan Intervensional, 2011.BAPETEN, 1999, Surat Keputusan Kepala Bapeten nomor 01/Ka-Bapeten/V-99 tentang Kesehatan terhadap radiasi pengion, JakartaBATAN, 2005, Disain Penahan Ruang Sinar –X, Pusdiklat, BATAN, JakartaBushong, Steward C. 2013. Radologic Science for Technologists. 10th edition.United State of  America : CV. Mosby Company.Kramer, H. M., dan Selbach, H. J. 2008. Extension of the Range of Definition of the Practical Peak Voltage up to 300 kV. The British Journal of  Radiologhy (81):693-698.Rassad, S. dkk, Radiologi Diagnostik, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Rumah Sakit Dr Cipto Mangunkusumo, Jakarta (2000).Suryanto, Sigit Bachtiar. 2011. Analisis Pembentukan Gambar Dan Batas Toleransi Uji Kesesuaian Pada Pesawat Sinar-X Diagnostik. Prosiding Seminar Penelitian Dan Pengelolaan Perangkat Nuklir.Trikasjono, T. dkk. 2009. Analisis Keselamatan Pesawat Sinar-X di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Umum daerah Sleman Yogyakarta. Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi Nuklir PTNBR – BATAN.Vassileva, J. 2004. A Phantom for Dose Image Quality Optimization in Chest Radiography. The British Journal of Radiologhy 75:837-842.Wadianto, Azis Muslim. 2017. Uji Akurasi Tegangan Tinggi Alat Rontgen Radiography Mobile. INOVASI, Volume XIX Nomor 1,Januari 2017