Nanan Sekarwana
Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung

Published : 48 Documents
Articles

Hubungan Kadar Seng Plasma dengan Derajat Penyakit Pneumonia Winarni, Paramita Diah; Rachmadi, Dedi; Sekarwana, Nanan
Majalah Kedokteran Bandung Vol 44, No 4 (2012)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pneumonia merupakan masalah kesehatan utama anak di dunia dan sebagai penyebab terbanyak morbiditas dan mortalitas anak di negara berkembang. Anak dengan defisiensi mikronutrien termasuk seng berisiko tinggi terjadi pneumonia, karena gangguan sistem imun. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan kadar seng plasma dengan pneumonia, pneumonia berat, dan sangat berat pada anak usia 2–59 bulan. Penelitian observasi analitik dengan rancangan potong lintang dilakukan bulan Agustus sampai November 2009 di Departemen Ilmu Kesehatan Anak RS Dr. Hasan Sadikin Bandung, RS Ujung Berung, dan RS Cibabat. Subjek harus memenuhi kriteria diagnosis klinis pneumonia menurut World Health Organization (WHO) Indonesia dan berusia 2–59 bulan. Pengambilan sampel darah untuk pemeriksaan kadar seng plasma dilakukan saat penderita datang. Analisis data menggunakan uji eksak Fisher dan untuk melihat hubungan kadar seng plasma dengan derajat pneumonia menggunakan uji Mann-Whitney. Dari total 42 subjek yang memenuhi kriteria inklusi, didapatkan 1 (2%) anak pneumonia, 32 (76%) pneumonia berat, dan 9 (22%) pneumonia sangat berat. Terdapat perbedaan bermakna (p=0,032) kadar seng plasma antara kelompok pneumonia berat dan sangat berat dengan median 96,685 μg/dL (57,32–195,66 μg/dL) untuk penumoia berat dan 80,240 μg/dL (63,01–111,84 μg/dL) untuk pneumonia sangat berat. Penelitian ini menunjukkan bahwa bahwa kadar seng plasma memiliki hubungan dengan pneumonia berat dan sangat berat pada anak usia 2–59 bulan. [MKB. 2012;44(4):213–17].Kata kunci: Pneumonia, seng plasma, sistem imun Association Plasma Zinc Level with Severity of PneumoniaPneumonia is a major health problem affecting children all over the world and remains a major cause of childhood morbidity and mortality in developing countries. Children with micronutrients deficiency including zinc, which might cause immune system disorder, have higher risk to have pneumonia. The aim of this study was to investigate the association between plasma zinc level and pneumonia, severe, and very severe pneumonia in children aged 2–59 months. This observational analytic with cross-sectional study was performed at the Pediatric Department of Dr. Hasan Sadikin General Hospital, Ujung Berung Hospital and Cibabat Hospital, in August to November 2009. Subjects of this study were 2–59-month-old children who meet the WHO Indonesian classification for pneumonia. Blood samples for plasma zinc examination were collected on admission. Data were analysed using exact Fisherand Mann-Whitney test for the association between plasma zinc level and severity of pneumonia. A total of 42 subjects were enrolled, 1 (2%) child were classified as having pneumonia, 32 (76%) children with severe, and 9 (22%) with very severe pneumonia. There were significant differences (p=0.032) in plasma zinc levels between severe and very severe pneumonia with a median of 96.685 μg/dL (57.32–195.66 μg/dL) for severe pneumonia and 80.240 μg/dL (63.0–111.84 μg/dL) for very severe pneumonia. This study shows an association between plasma zinc levels and severe and very severe pneumonia in children aged 2–59 months. [MKB. 2012;44(4):213–17].Key words: Pneumonia, plasma zinc, immune system DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v44n4.177
ANALISIS TINGKAT KEPUASAN MASYARAKAT TERHADAP DIMENSI KUALITAS PELAYANAN TENAGA PELAKSANA ELIMINASI MENGGUNAKAN PEMODELAN RASCH sari, dini riyantini; Sekarwana, Nanan; Hinduan, Zahrotur Rusyda; Sumintono, Bambang
Jurnal Sistem Kesehatan Vol 2, No 1 (2016): Volume 2 Nomor 1 September 2016
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (489.047 KB) | DOI: 10.24198/jsk.v2i1.10419

Abstract

Jenis penyakit filariasis limfatik telah lama menjadi masalah kesehatan khususnya daerah endemis filariasis di Indonesia. Tahun 2014 angka mikrofilaria rate (Mf rate) di Kelurahan Nibung Putih sebesar 2,08%. Tingginya prevalensi penyakit filariasis limfatik berhubungan dengan kualitas pelayanan Tenaga Pelaksana Eliminasi (TPE). Penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat kepuasan masyarakat terhadap dimensi kualitas pelayanan TPE di Kelurahan Nibung Putih Kabupaten Tanjung Jabung Timur Provinsi Jambi. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner berupa formulir pengumpulan data hasil modifikasi dari penelitian yang dilakukan oleh Valarei dan Nasution D.C. Pemodelan Rasch digunakan untuk analisis data kuesioner, desain penelitian ini adalah observasional analitik kuantitatif dengan metode survei, pendekatan waktu cross sectional studies pada bulan April 2016 dengan subjek warga Kelurahan Nibung Putih yang berjumlah 103 orang. Item pada masing-masing konstruk didapati mempunyai daya diskriminasi yang beragam, yang menunjukkan instrumen mempunyai kemampuan mengukur. Hasil analisis keseluruhan responden bahwa sebanyak 103 berada di atas rata-rata logit item (+0,00 logit) yang menunjukkan persetujuan responden pada kualitas pelayanan. Hasil analisis univariat berdasarkan karakteristik responden dapat disimpulkan bahwa umur masa remaja akhir (42,9%), jenis kelamin laki-laki (55,2%), pendidikan tidak tamat SD (66,7%), pekerjaan buruh dan karyawan swasta (100%), memberikan penilaian sangat puas terhadap dimensi kualitas pelayanan TPE di Kelurahan Nibung Putih.Kata Kunci: Kualitas Pelayanan, Pemodelan Rasch, Tenaga Pelaksana Eliminasi
Diet-Induced Changes in Serum Ganglioside Spectrum Patterns in 6-Month-Old Infants Gurnida, Dida A.; Idjradinata, Ponpon; Muchtadi, Deddy; Sekarwana, Nanan; Fong, Bertram; McJarrow, Paul; Rowan, Angela; Norris, Carmen
Majalah Kedokteran Bandung Vol 44, No 4 (2012)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Human milk contains higher levels of gangliosides when compared to infant formula. Gangliosides play a role in neuronal growth, migration, maturation, sinaptogenesis, and myelination. Seven of the identified gangliosides (GM1, GM2, GM3, GD3, GD1a, GD1b, and GT1b) are dominant gangliosides with different specific functions. Thus, the aim of the study was to understand the effects of ganglioside-enhanced diet and to compare the spectrum patterns of those seven classes of serum gangliosides in infants consuming standard infant formula (IF group), ganglioside-fortified infant formula (GA group) and exclusive breastfeeding (BF group). This study used liquid chromatography–mass spectrometry (LC-MS) method. This was a prospective study involving 30 infants in IF group, 29 in GA group and 32 in BF group. Subject recruitment was performed using consecutive admission  approach from March 2008 to February 2009 in Bandung. Statistical analyses using Wilcoxon test showed that there was a significant change in the spectrum patterns of GD3, GM1, GM2 and GT1b in IF group; of GD1a, GM1 and GM2 in GA group and of GD1a, GD1b, GM1 and GM3 in BF group. It is concluded that ganglioside-enriched diet extends spectrum patterns of gangliosides especially in seven of them, i.e. GM1, GM2, GM3, GD3, GD1a, GD1b, and GT1b, in 6-month old infants. [MKB. 2012;44(4):240–44]..Key words: Gangliosides, human milk, infants, infant formula, LC-MSPerubahan Pola Spektrum Gangliosida Serum yang Diinduksi Makanan pada Bayi Usia 6 BulanAir susu ibu (ASI) mengandung gangliosida yang kadarnya lebih tinggi dibandingkan dengan susu formula. Gangliosida berperan dalam pertumbuhan, migrasi, maturasi saraf, sinaptogenesis, dan mielinisasi. Tidak kurang dari 100 tipe gangliosida telah ditemukan, tujuh di antaranya (GM1, GM2, GM3, GD3, GD1a, GD1b, dan GT1b) merupakan kelas utama dengan fungsi yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek penambahan diet gangliosida serta membandingkan pola spektrum tujuh kelas gangliosida serum tersebut pada bayi yang mengonsumsi susu formula standar (kelompok infant formula/IF), susu formula difortifikasi gangliosida (kelompok GA), dan ASI eksklusif (kelompok breastfeeding/BF). Penelitian ini menggunakan metode liquid chromatography-mass spectrometry (LC-MS) untuk menghitung kadar ketujuh kelas gangliosida tersebut. Penelitian ini adalah penelitian prospektif yang melibatkan 30 bayi kelompok IF, 29 bayi kelompok GA, dan 32 bayi kelompok BF. Perekrutan subjek penelitian dilakukan dengan cara consecutive admission dari bulan Maret 2008 sampai bulan Februari 2009 di Bandung. Analisis statistik tes Wilcoxon menunjukkan perubahan bermakna pada pola spektrum GD3, GM1, GM2 dan GT1b pada kelompok IF; GD1a, GM1, dan GM2 pada kelompok GA; GD1a, GD1b, GM1, dan GM3 pada kelompok BF. Kesimpulan, penambahan diet gangliosida akan meningkatkan 7 spektrum gangliosida yaitu GM1, GM2, GM3, GD3, GD1a, GD1b, dan GT1b pada anak usia 6 bulan. [MKB.2012;44(4):240–44].Kata kunci: ASI, bayi, gangliosida, LC-MS, susu formula DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v44n4.217
HUBUNGAN ANTARA SINDROM MENOPAUSE DENGAN KUALITAS HIDUP PEREMPUAN MENOPAUSE DI PUSKESMAS SUKAHAJI KABUPATEN MAJALENGKA Astari, Ruri Yuni; Tarawan, Vita Murniati; Sekarwana, Nanan
Buletin Penelitian Kesehatan Vol 42, No 3 Sep (2014)
Publisher : Buletin Penelitian Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractMenopause is a natural phase experienced by every woman, a reproduction process characterized by the end of the fertile period of a woman because the ovaries are no longer produce estrogen and progesterone, and may cause menopausal complaints which are referred to as menopausal syndrome. Problems or changes experienced by menopause women may lead to a crisis that will affect the quality of life. This study aims to analyze the correlation between menopausal syndrome and the quality of life. The study method was analytic observational with cross sectional design. The population were women who had experienced menopause for 1-2 years in Sukahaji Majalengka Primary Health Center area and met the study criteria such as were still have a husband, had no menstruation experience for 1-2 years and were able to read. Sampling technique was performed by total sampling, conducted in February until March 2013. Menopausal syndrome was measured by using MSQ (Menopause Symptom Questionnaire) and quality of life was measured by using The World Health Organization Quality Of Life questionnaire (WHOQOL - BREF). Data was analyzed with univariate, bivariate and multivariate statistical analysis. The results presented strong negative correlation between physiological and psychological menopausal syndrome aspects in quality of life (r = -0.786, p = 0.000 and r = -0.706, p = 0.000), a negative correlation was simultaneouly strong in physiological and psychological aspects of menopausal syndrome and the quality of life of women (r = -0.772, p = 0.000), a significant correlation between income and education and quality of life (r = -0.313 p = 0.011 and r = -0.359 p = 0.003). Parity was not significantly associated with quality of life of menopause women. Conclusion: menopausal syndrome had impacts on the quality of life of menopause women. Social support, self-confidence and positive attitude towards the complaints of the menopause women to accept menopause as a gift because it is normal for a woman are especially needed.Keywords : Menopausal Syndrome, Quality of Life, MajalengkaAbstrakMenopause merupakan fase alamiah yang dialami oleh setiap perempuan, merupakan proses reproduksi yang ditandai berakhirnya masa subur seorang perempuan karena ovarium sudah tidak menghasilkan hormon estrogen dan progesteron, sehingga menimbulkan berbagai keluhan menopause yang disebut sebagai sindrom menopause. Masalah atau perubahan yang dialami perempuan menopause akan menimbulkan suatu krisis yang akan mempengaruhi kualitas hidup. Tujuan penelitian untuk menganalisis hubungan antara sindrom menopause dengan kualitas hidup. Metode penelitian dilakukan secara observasional analitik dengan rancangan potong lintang. Populasi adalah perempuan yang telah menopause selama 1–2 tahun di wilayah Puskesmas Sukahaji Kabupaten Majalengka dan memenuhi kriteria penelitian, yaitu masih mempunyai suami, sudah tidak mengalami haid selama 1-2 tahun dan mampu membaca.Teknik pengambilan sampel dilakukan secara total sampling, dilaksanakan bulan Februari sampai dengan Maret 2013. Sindrom menopause diukur menggunakan kuesioner MSQ (Menopause Symptom Questionaire) dan kualitas hidup diukur menggunakan kuesioner (WHOQOLBREF)The World Health Organization Quality Of Life. Data di analisis secara statistik univariat, bivariat dan multivariat. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif kuat antara sindrom menopause aspek fisiologis dan psikologis dengan kualitas hidup (r= -0,786 p=0,000 dan r= -0,706 p=0,000), hubungan negatif kuat secara simultan sindrom menopause  aspek  fisiologis  dan  psikologis  dengan  kualitas  hidup  perempuan  (r=  -0,772,  p =0,000), hubungan bermakna antara penghasilan dan pendidikan dengan kualitas hidup (r= -0,313 p=0,011 dan r= -0,359 p=0,003). Paritas tidak berhubungan bermakna dengan kualitas hidup perempuan menopause. Simpulan: sindrom menopause berdampak pada penurunan kualitas hidup perempuan menopause. Perlunya memberikan dukungan sosial, kepercayaan diri dan sikap positif terhadap keluhan yang dialami perempuan menopause sehingga dapat menerima menopause sebagai karunia karena bersifat normal bagi seorang perempuan.Kata Kunci : Sindrom Menopause, Kualitas Hidup, Kabupaten Majalengka
Kadar Svcam-1 pada Penderita Sindrom Nefrotik Kambuh Sekarwana, Nanan
Sari Pediatri Vol 9, No 3 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.3.2007.163-6

Abstract

Latar belakang. Sindrom nefrotik pada anak umumnya sensitif terhadap pengobatan, walaupun demikian60%–80% akan mengalami kekambuhan; 20% jenis kambuh jarang, 40% jenis kambuh sering. Prognosispada sindrom nefrotik kambuh sering kurang baik dikaitkan dengan peningkatan kadar profil lemak kecualiHDL. Untuk petanda aterosklerosis dapat digunakan kadar VCAM-1 dalam serum. Dengan meningkatnyakadar profil lemak pada anak dengan sindrom nefrotik, muncul pertanyaan apakah anak dengan sindromnefrotik juga memiliki risiko menderita aterosklerosis.Tujuan. Mengetahui kadar sVCAM-1 pada sindrom nefrotik kambuh sering dibandingkan dengan sindromnefrotik kambuh jarang dan anak sehat.Metode. Penelitian menggunakan pendekatan cross-sectional yang dilakukan pada 29 anak dengan sindromnefrotik kambuh jarang, 21 anak dengan sindrom nefrotik kambuh sering dan 50 anak sehat.Hasil. Rerata sVCAM-1 masing-masing pada sindrom nefrotik jenis kambuh sering, kambuh jarang dankontrol 871,01; 1038,31 dan 715,30 ng/dl.Kesimpulan. Terdapat perbedaan kadar sVCAM yang bermakna pada ketiga kelompok (F=22,43;p.<0,001). Jenis sindrom nefrotik, baik kambuh sering maupun kambuh jarang, tidak mempunyai kontribusiyang besar terhadap kadar sVCAM-1 (adjusted R2 8,9%), walaupun diketahui bahwa prognosis sindromnefrotik kambuh sering lebih buruk dibandingkan dengan kambuh jarang karena adanya faktor risikoaterosklerosis yang berulang.
Pengaruh Pengetahuan Terhadap Sikap Ibu Mengenai Imunisasi Ulangan Difteria-Tetanus Purnama, Yenny; Fadlyana, Eddy; Sekarwana, Nanan
Sari Pediatri Vol 10, No 2 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp10.2.2008.117-121

Abstract

Latar belakang. Peran serta dan penerimaan ibu mengenai imunisasi ulangan difteria-tetanus diperlukan untuk menunjang upaya pencegahan penyakit tersebut.Tujuan. Mengetahui pengaruh pengetahuan terhadap sikap ibu murid SD kelas I mengenai imunisasi ulangan difteria-tetanus.Metode. Subjek penelitian adalah ibu murid SD kelas I di Kotamadya Bandung, menggunakan penelitian kuantitatif dan kualitatif. Rancangan penelitian kuantitatif berupa survei cross-sectional dimulai bulan November sampai Desember 2007. Sampel diambil secara cluster random sampling. Analisis statistik dilakukan untuk melihat pengaruh pengetahuan ibu murid SD kelas 1 terhadap sikap imunisasi ulangan difteria-tetanus dengan menggunakan analisis jalur. Pengetahuan adalah informasi yang dimiliki oleh ibu mengenai penyebab, gejala, pengobatan, penularan, dan pencegahan tentang penyakit difteria-tetanus. Sikap adalah respons ibu terhadap penyakit difteria-tetanus mengenai penyebab, gejala, pengobatan, penularan, dan pencegahannya. Rancangan penelitian kualitatif berupa focus group discussion dengan analisis deskriptif, untuk menilai pengetahuan dan sikap ibu mengenai imunisasi ulangan difteria-tetanus yang tidak tergali dengan penelitian kuantitatif. Sampel diambil sebanyak 5-10 orang dari ibu yang telah ikut dalam penelitian kuantitatif.Hasil. Didapatkan 226 ibu dengan rata-rata usia 35 tahun. Hasil analisis jalur, didapatkan pengetahuan secara signifikan dipengaruhi oleh pendidikan ibu dan jumlah anak. Sikap signifikan dipengaruhi oleh pendidikan ibu dan pengetahuan (95%CI: -t<+1,96>t). Hasil analisis jalur didapatkan pengaruh total pendidikan ibu dan pengetahuan terhadap sikap adalah cukup. Pengaruh total pendidikan ibu dan jumlah anak terhadap pengetahuan adalah kurang. Analisis focus group discussion tergambarkan bahwa ibu yang mempunyai pengetahuan tinggi lebih bersikap mandiri terhadap pelaksanaan imunisasi ulangan difteria-tetanus.Kesimpulan. Pengetahuan ibu berpengaruh positif terhadap sikap ibu mengenai imunisasi ulangan difteria-tetanus
Korelasi Kadar Hemoglobin dengan Kadar Vascular Endothelial Growth Factor Plasma pada Tetralogi Fallot Permatagalih, Vidi; Rahayuningsih, Sri Endah; Sekarwana, Nanan
Sari Pediatri Vol 15, No 3 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp15.3.2013.156-60

Abstract

Latar belakang. Vascular endothelial growth factor-A (VEGF-A) diketahui merupakan penanda hipoksia jaringan yang berperan dalam angiogenesis. Anak dengan penyakit jantung bawaan sianotik seperti Tetralogi Fallot (TF) mengalami hipoksia jaringan dengan komplikasi timbulnya pembuluh darah baru kolateral, polisitemia hipoksik, dan anemia relatif.Tujuan. Menentukan korelasi kadar VEGF plasma dengan kadar Hb.Metode. Penelitian analisis cross-sectional yang mengambil data secara konsekutif anak TF yang berobat ke poli rawat jalan dan rawat inap Departemen Ilmu Kesehatan Anak Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin, Bandung. Kekuatan korelasi kadar Hb dengan VEGF ditentukan dengan uji korelasi Spearman. Kemaknaan dihitung berdasarkan nilai p<0,05. Analisis data dilakukan dengan program SPSS for windows versi 17.0.Hasil. Duapuluh pasien anak TF yang menjadi subjek penelitian, terdiri atas 9 anak laki-laki dan 11 anak perempuan. Didapatkan korelasi negatif bermakna berkekuatan sedang antara kadar Hb dan kadar VEGF (r=-0,503; p=0,024). Tidak terdapat perbedaan bermakna kadar VEGF plasma menurut jenis kelamin dan status gizi (p=0,412 dan 0,948), tetapi terdapat perbedaan bermakna kadar VEGF plasma menurut kelompok usia (p=0,048).Kesimpulan. Terdapat korelasi negatif antara kadar Hb dan kadar VEGF plasma. Kadar VEGF plasma dapat diperkirakan dari kadar Hb, apabila kadar Hb semakin rendah, maka kadar VEGF meningkat.
Hubungan Kadar Aspartat Aminotransferase (AST) dan Alanin Aminotransferase (ALT) Serum dengan Spektrum Klinis Infeksi Virus Dengue pada Anak Darajat, Agus; Sekarwana, Nanan; Setiabudi, Djatnika
Sari Pediatri Vol 9, No 5 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.5.2008.359-62

Abstract

Latar belakang. Infeksi dengue memiliki spektrum klinis yang luas, yaitu dapat asimtomatis maupunbermanifestasi klinis sebagai demam dengue (DD), demam berdarah dengue (DBD) maupun sindromsyok dengue (SSD). Pada infeksi dengue didapatkan peningkatan kadar aspartat aminotransferase (AST)dan alanin aminotransferase (ALT) serum. Kadar AST dan ALT serum diduga berperan sebagai indikatortingkat keparahan penyakit.Tujuan. Mengetahui hubungan kadar AST dan ALT serum dengan spektrum klinis infeksi dengue pada anak.Metode. Penelitian observasional dengan rancangan cross sectional dilakukan pada 1 Maret-30 April 2007di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RS Dr. Hasan Sadikin Bandung. Subjek penelitian kasus infeksi dengue,berusia < 14 tahun secara berurutan memenuhi kriteria klinis DD, DBD, dan SSD menurut WHO (1997)yang disertai bukti serologis infeksi dengue. Uji ANOVA digunakan untuk menilai hubungan kadar ASTdan ALT serum dengan spektrum klinis infeksi dengue pada anak. Kemaknaan ditentukan berdasarkan nilaip<0,05. Seluruh perhitungan statistik dikerjakan dengan piranti lunak SPSS versi 13,0 for Windows.Hasil. Terdapat 60 subjek penelitian terdiri dari 25 (41,7%) laki-laki dan 35 (58,3%) perempuan, denganusia termuda 6 bulan dan tertua 14 tahun. Berdasarkan spektrum klinis subjek terdiri dari kelompok DD17 (28,3%), DBD 21 (35%), dan SSD 22 (36,3%) anak. Nilai rerata AST pada DD 63,2±6,6, DBD267,5±116,1, SSD 1491,5±492,4. Nilai rerata ALT pada DD 29,4±2,4, DBD 78,0±25,3, SSD 435,0±122,1.Hasil uji ANOVA menunjukkan terdapat hubungan kadar AST dan ALT serum dengan spektrum klinisinfeksi dengue pada anak (F=6,018; p=0,000).Kesimpulan. Pada anak dengan infeksi dengue semakin tinggi kadar AST dan ALT serum, semakin beratderajat penyakit 
Hubungan Dosis Kumulatif Prednison dan Gangguan Umur Tulang pada Sindrom Nefrotik Relaps Sering Firdaus, Budi; Rosalina, Ina; Sekarwana, Nanan
Sari Pediatri Vol 10, No 6 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp10.6.2009.357-61

Abstract

Latar belakang. Pemberian prednison jangka panjang selama pengobatan sindrom nefrotik (SN) mengganggu proses pertumbuhan, terutama pertumbuhan kartilago secara langsung dan gangguan faktor-faktor pertumbuhan (growth factors). Pada SN relaps sering, selalu diberikan prednison jangka panjang yang berulang sehingga dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan yang dapat diketahui dari gangguan umur tulang.Tujuan. Untuk mengetahui hubungan antara dosis kumulatif prednison dan gangguan umur tulang pada anak pasien SN relaps sering.Metode. Penelitian menggunakan rancangan cross-sectional. Subjek penelitian adalah anak pasien SN relaps sering, berumur 1-14 tahun, yang berobat jalan di poliklinik Subbagian Nefrologi Bagian Ilmu Kesehatan Anak Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung mulai bulan April sampai dengan Juni 2008. Dilakukan anamnesis, pemeriksaan fisis, penghitungan dosis kumulatif prednison selama pengobatan, dan pemeriksaan umur tulang. Analisis regresi linier multipel digunakan untuk menilai dosis kumulatif prednison, umur awitan penyakit, lama pemberian prednison, dan jumlah relaps, merupakan faktor risiko yang dapat menyebabkan gangguan umur tulang. Dinyatakan bermakna bila p<0,05.Hasil. Didapatkan 23 anak dengan rata-rata dosis kumulatif prednison (9.677,8±5.016,8) mg, umur awitan (53,30±24,7) bulan, lama pemberian prednison (36,3±22,2) bulan, jumlah relaps (4,5±1,7) kali, dan selisih umur tulang adalah (35,52±21,2) bulan. Analisis regresi multipel dari faktor risiko menunjukkan hanya dosis kumulatif prednison yang menunjukkan hubungan yang bermakna (p<0,05) sedangkan umur awitan penyakit akan menunjukan hubungan yang bermakna (p<0,05) bila jumlah sampel minimal 33.Kesimpulan. Terdapat hubungan yang bermakna antara dosis kumulatif prednison dan gangguan umur tulang pada anak pasien SN relaps sering.
Hubungan Kadar Laktat Plasma dengan Derajat Disfungsi Organ Berdasarkan Skor PELOD pada Anak Sakit Kritis Dharma, Aedi Budi; Rosalina, Ina; Sekarwana, Nanan
Sari Pediatri Vol 10, No 4 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp10.4.2008.280-4

Abstract

Latar belakang. Peningkatan kadar laktat menunjukkan hipoksia jaringan dan bila berlangsung lama akan menyebabkan kematian sel dan disfungsi organ. Skor PELOD (pediatric logistic organ dysfunction) merupakan skor komposisi yang dapat digunakan untuk menilai derajat disfungsi organ dan prediksi kematian.Tujuan. Mengetahui hubungan kadar laktat plasma dengan derajat disfungsi organ berdasarkan skor PELOD pada anak sakit kritis.Metode. Penelitian observasional analitik dengan rancangan cross sectional di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RS dr. Hasan Sadikin Bandung pada April-Mei 2008. Pasien anak sakit kritis usia 1 bulan sampai 14 tahun dipilih secara konsekutif. Untuk menentukan korelasi antara kadar laktat plasma dan derajat disfungsi organ dilakukan dengan Spearman rank correlation. Kadar laktat dikelompokkan menjadi 2 kelompok, yaitu kadar laktat <2 mmol/L dan kadar laktat ≥2 mmol/L. Perbandingan antara kelompok kadar laktat dan distribusi umur, skor PELOD, dan jumlah disfungsi organ dilakukan uji Mann-Whitney. Variabel hipoperfusi dilakukan dengan uji chi-square. Hubungan antar variabel dengan regresi logistik.Hasil. Didapatkan 45 subjek dengan umur rata-rata 48,7 bulan. Jenis kasus kegawatan terbanyak adalah kegawatan kardiovaskular. Kadar laktat rata-rata 3,45 mmol/L dan rata-rata mengalami 3 disfungsi organ. Terdapat hubungan positif yang bermakna antara kadar laktat plasma dan derajat disfungsi organ berdasarkan skor PELOD (rs=0,54 p=0,001), juga dengan jumlah organ yang mengalami disfungsi. Kadar laktat plasma ≥3,3 mmol/L berhubungan dengan keadaan hipoperfusi.Kesimpulan. Terdapat hubungan antara kadar laktat plasma dan derajat disfungsi organ berdasarkan skor PELOD
Co-Authors - Novina Abdul Hadi Martakusumah Achadiyani Achadiyani, Achadiyani Ackni Hartati, Ackni Aedi Budi Dharma, Aedi Budi Ag Soemantri Agus Darajat, Agus Amelia Harsanti, Amelia Andayani, Sri Hastuti Angela Rowan Anita Deborah Anwar Aumas Pabuti, Aumas Azhali M. S., Azhali M. Bachti Alisjahbana Bambang Sumintono Bertram Fong Bestari, Astuti Dyah Bethy S Hernowo, Bethy S Budi Firdaus, Budi Carmen Norris Damayanti, Meita Danny Hilmanto, Danny Dany Hilmanto Deasy Nurisya DEDDY MUCHTADI Dedi Rachmadi Deni Kurniadi Sunjaya, Deni Kurniadi Dida A. Gurnida Dida Akhmad Gurnida dini riyantini sari, dini riyantini Djatnika Setiabudi Dzulfikar DLH, Dzulfikar Eddy Fadlyana Elsa Pudji Setiawati Endang Susilowati Endang Sutedja Farhati, Farhati Firman F Wirakusumah Firman Fuad Wirakusumah Fitria Fitria Gurnida, Dida Ahmad Guswan Wiwaha Hadiyati, Ida Hadiyati, Ida Hafni, Ade Heda Melinda Nataprawira Herman Susanto Herman, Herry Herry Garna Hertanto Wahyu Subagio Husin, Farid Husin, Farid Ida Parwati Ike Rostikawati Husen Ina Rosalina Intania, Sekky Intania, Sekky Irman Somantri Ishak Abdulhak Johanes Cornelius Mose Juntika Nurihsan, Juntika Kusnandi Rusmil Lelly Yuniarti, Lelly Meida Erimarisya, Meida Meilani Meilani, Meilani Meita Dhamayanti Muhammad Heru Muryawan Nafsi, Nurizzatun Nita Arisanti Nurhalim Shahib Nurusofa Surti Dewi, Nurusofa Surti Oyoh, Oyoh Paramita Diah Winarni Partini P Trihono, Partini P Paul McJarrow Ponpon Idjradinata Rachmat Soelaeman Rachmawati, Anne Dian Rahmawati, Alfiah Rosalinna, Rosalinna Ruri Yuni Astari Rusmi, Viramita K Ruswana Anwar Ryadi Fadil, Ryadi Setiawati, Elsa Puji Sri Endah Rahayuningsih Sri Susilawati Suksesty, Catur E Sylvia Rachmayati Ulfah, Kurniaty Veratiwi, Veratiwi Vidi Permatagalih, Vidi Viiola Irene Winata, Viiola Irene Viramitha Kusnandi Rusmil, Viramitha Kusnandi Vita Murniati Tarawan Yani Triyani, Yani Yenny Purnama, Yenny Yuni Susanti Pratiwi, Yuni Susanti Zahrotur Rusyda Hinduan, Zahrotur Rusyda