Articles
38
Documents
Dietary iron intake, serum ferritin and haemoglobin levels, and cognitive development scores of infants aged 6–8 months

Medical Journal of Indonesia Vol 20, No 1 (2011): February
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (132.87 KB)

Abstract

Background: Iron deficiency during infancy may lead to negative effect on cognitive function and psychomotor development. This study aimed to investigate serum ferritin, haemoglobin level and its relation to cognitive development score in infants aged 6–8 months.Methods: This cross-sectional study was done on 76 infants recruited from several selected community health center in Kampung Melayu Village, Jatinegara Jakarta who had fulfilled the study criteria. Data collected consist of age, weight, height, head circumference, energy, protein and iron intake, serum feritin levels, haemoglobin levels and cognitive development score using Capute Scales method (Cognitive Adaptive Test/ Clinical Linguistic Auditory Milestone Scales/ CAT-CLAMS).Results: Among 74 infants aged 6-8 months, 73% had less dietary iron intake as compared to its RDA (7 mg/d), 18.9% were with serum ferritin less than normal value (20 μg/L), and 56.7% with haemoglobin levels less than normal value (11 mg/dL). In relation to cognitive development score, this study revealed that the CAT score was significantly lower among subjects with hemoglobin value less than 11 mg/dL (p = 0.026).Conclusion: Early prevention of impaired cognitive development is urgently needed by providing iron-rich complementary foods to infants since 6 months (mo) old to maintain the normal level of hemoglobin. (Med J Indones 2011; 20:46-9)Keywords: cognitive score, ferritin, hemoglobin, infants

Serum folate levels among healthy infants aged 6–8 months: relation to infants’ nutritional status indicators and maternal knowledge-attitude-practice

Medical Journal of Indonesia Vol 20, No 2 (2011): May
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (94.102 KB)

Abstract

Background: Vitamin B12 and folate deficiency can cause anemia which may lead growth and development impairments. This study was aimed to determine serum folate levels among infants aged 6–8 months and the relation to infants’ nutritional indicators and maternal knowledge-attitude-practice about infant feeding.Methods: A cross–sectional design was implemented in infants aged 6–8 months and their mothers as respondents who met the study criteria. Data collected among the infants included sex, age, length, weight, intake of energy, protein and folate (based on a one–month semi–quantitative FFQ and a 24–hour food recall), serum folate and hemoglobin levels. Data collected among the mothers included age, education level, income based on average minimum monthly wage, knowledge, attitude and behavior concerning infant’s feeding, i.e. breast milk and complementary feeding practices.Results: This study found that the median of serum folate levels was 43.05 nmol/L with values ranging from 19.92 nmol/L to 104.24 nmol/L. Serum folate level had a strong positive correlation with its related factors, protein and folate intake.Conclusions: Protein-folate–rich complementay food should be provided to infants aged 6 months and over to maintain serum folate level. (Med J Indones 2011; 20:138-42)Keywords: Folate, infants, nutrient intake, nutritional status

Association between obesity and behavioral/emotional disorders in primary school-aged children: a cross-sectional study

Medical Journal of Indonesia Vol 26, No 1 (2017): March
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.537 KB)

Abstract

Background: Obesity in children can increase the risks of various chronic diseases. Mental disorders associated with obesity in children include: depression, anxiety, low self-esteem, hyperkinetic disorders, and increased aggressiveness. This relationship is estimated due to vulnerable genetic expressions in obese individuals. This study aimed to find the association between obesity and behavioral/emotional disorder in primary school-aged children.Methods: This cross-sectional study was conducted on 384 children at Menteng 1 Elementary School, Jakarta from July to September 2015. The study was conducted to find the association between the children’s nutritional status and behavioral/emotional disorders screened by the 17-item Pediatric Symptom Checklist (PSC-17). Chi square analysis was applied in this study.Results: The prevalence of obese children at Menteng 1 Elementary School, Jakarta reached 23.2%, which is higher than Jakarta’s prevalence (14%). 8.7% of the subjects were obese and 13.6% of them were having behavioral/emotional disorders. 20.0% of the obese subjects had behavioral/emotional disorders. The prevalence was higher for internalizing sub-scale, which was consistent with other studies. Association between obesity and behavioral/emotional disorders was significant for externalizing sub-scale (p=0.036). Externalizing problems caused by obesity might be affected by the social stigma of their peer group. However, obesity in children did not have a statistically significant relationship in internalization sub-scale, attention, and PSC-17 total score (p>0.05). No significant associations towards those sub-scales were thought to be influenced by other factors, playing a role in causing mental disorders in children.Conclusion: In general, obesity was not associated with behavioral and emotional disorders in children, but obesity was related to externalizing behavioral/emotional disorders.

Intervensi Sleep Hygiene pada Anak Usia Sekolah dengan Gangguan Tidur: Sebuah Penelitian Awal

Sari Pediatri Vol 18, No 2 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang. Gangguan tidur adalah kondisi yang ditandai dengan gangguan jumlah, kualitas, atau waktu tidur. Dampak gangguan tidur adalah gangguan belajar, memori, mood, perilaku, dan atensi.Tujuan. Mengetahui prevalensi, gambaran gangguan tidur, pengaruh intervensi sleep hygiene pada keluhan mengantuk, mood, kesulitan bangun, durasi tidur, nilai SDSC dan PDSS.Metode. Penelitian quasi eksperimental di SDN di Jakarta Pusat pada bulan Mei-Juni 2015. Skrining dan evaluasi pasca intervensi sleep hygiene selama 8 minggu menggunakan sleep disturbance scale for children (SDSC) dan pediatric daytime sleepiness scale (PDSS).Hasil. Prevalensi gangguan tidur 25,1%, terdiri atas disorder of initiating and maintaining sleep (DIMS) 61,5%, sleep wake transition disorder (SWTD) 61,5%, disorder of excessive somnolence (DOES) 55,4%, dan disorder of arousal (DA) 51,5%. Setelah intervensi dilaporkan perbaikan mengantuk, mood, kesulitan bangun pagi, nilai SDSC pre dan pasca intervensi (p<0,001).Kesimpulan. Dampak intervensi sleep hygiene yaitu perbaikan mengantuk, mood, kesulitan bangun pagi, serta perbedaan bermakna nilai SDSC pre dan pasca intervensi. 

Kelengkapan Imunisasi Dasar pada Anak Usia 1 – 5 tahun

Sari Pediatri Vol 11, No 1 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang. Indonesia memiliki angka cakupan kelengkapan imunisasi dasar yang sudah cukup baik, namun beberapa daerah masih rendah. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kelengkapan imunisasi sangat penting untuk diketahui sebagai salah satu usaha untuk meningkatkan angka cakupan kelengkapan imunisasi dasar.Tujuan. Untuk mengetahui kelengkapan imunisasi dasar dan faktor-faktor yang berhubungan di RW 04 Kelurahan Jati, Jakarta Timur.Metode. Penelitian cross-sectional pada 87 ibu dan anak yang berusia 1-5 tahun di RW 04 Kelurahan Jati, Jakarta Timur. Pengambilan sampel secara purposive sampling pada bulan April 2009, data primer dari kuesioner, dan catatan imunisasi dari buku kesehatan anak.Hasil. Angka cakupan kelengkapan imunisasi dasar pada anak usia 1-5 tahun di RW 04 Kelurahan Jati, Jakarta Timur sebesar 47,1%. Cakupan kelengkapan imunisasi di bawah usia satu tahun yang terendah adalah imunisasi hepatitis B4 dan polio 4. Tidak didapatkan hubungan yang bermakna antara sebaran usia anak, berat lahir anak, usia kehamilan ibu, urutan anak, usia ibu, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, tingkat pendapatan keluarga, jumlah anak, budaya, jarak ke pelayanan kesehatan, pelayanan kader dan petugas kesehatan, sumber informasi, dan pengetahuan ibu dengan kelengkapan imunisasi (p>0,05). Ditemukan hubungan yang bermakna secara staitstik antara urutan dan jumlah anak dengan kelengkapan imunisasi (p<0,05).Kesimpulan. Kelengkapan imunisasi dasar pada subjek 47,1%. Terdapat hubungan antara urutan anak dan jumlah anak dengan kelengkapan imunisasi dasar. 

Peran Instrumen Modifikasi Tes Daya Dengar sebagai Alat Skrining Gangguan Pendengaran pada Bayi Risiko Tinggi Usia 0-6 Bulan

Sari Pediatri Vol 12, No 3 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang. Gangguan pendengaran pada bayi dapat menghambat perkembangan bicara, bahasa, dankemampuan kognitif. Identifikasi dan intervensi segera dengan program skrining akan mencegah konsekuensitersebut. Pemeriksaan elektrofisiologi merupakan alat skrining yang direkomendasikan namun memerlukanalat khusus, biaya dan tenaga ahli, sehingga diperlukan kuesioner pendengaran (hearing checklist) sebagaialat skrining. Departemen Kesehatan Republik Indonesia mengeluarkan instrumen tes daya dengar sebagaialat skrining gangguan pendengaran yang kemudian dimodifikasi pada tahun 2005.Tujuan. Membandingkan sensitivitas dan spesifisitas instrumen modifikasi tes daya dengar (MTDD) dengan bakuemas pemeriksaan skrining pendengaran yaitu distortion-product otoacoustic emission (DPOAE) dan AABR.Metode. Studi potong-lintang di RSCM pada bayi usia 0-6 bulan dengan satu atau lebih faktor risikoseperti riwayat keluarga dengan tuli bawaan, infeksi TORCH, prematuritas, berat badan lahir rendah,hiperbilirubinemia dengan terapi sinar atau transfusi tukar, sepsis awitan lambat dan meningitis, nilai skorApgar rendah, distress pernapasan, pemakaian alat bantu napas dan pemakaian obat yang bersifat ototoksikselama lebih dari 5 hari. Subjek dilakukan pemeriksaan fisis, pertumbuhan dan perkembangan, MTDD,DPOAE dan AABR.Hasil. Enam puluh subjek diperoleh ikut dalam penelitian, lelaki lebih banyak dengan rasio 1,1:1. Sebagianbesar subjek merupakan anak pertama (38,3%), diasuh oleh orangtua (60%) dan memiliki 􀁴3 faktor risiko(70%). Pemakaian obat yang bersifat ototoksik (76,7%) merupakan faktor risiko terbanyak. Prevalensigangguan pendengaran berdasarkan MTDD 63,3% sedangkan kombinasi DPOAE dan AABR 11,7%. Umursubjek merupakan faktor yang secara bermakna mempengaruhi hasil MTDD (nilai p=0,032). Sensitivitasdan spesifisitas MTDD berturut-turut 85,7% dan 39,6%.Kesimpulan. Instrumen MTDD bukan merupakan alat skrining pendengaran yang ideal namun dibutuhkandan dapat digunakan di negara berkembang seperti Indonesia

Pengaruh Kepatuhan Latihan Senam Kesegaran Jasmani 1988 Terhadap Perilaku Anak dengan Gangguan Pemusatan Perhatian/Hiperaktivitas

Sari Pediatri Vol 18, No 2 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang. Gangguan Pemusatan Perhatian/Hiperaktivitas (GPP/H) merupakan gangguan neuropsikiatrik yang disinyalir memberikan dampak negatif bagi kesehatan ketika dewasa.Tujuan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik fisik dan sosiodemografis anak dengan GPP/H, dan pengaruh kepatuhan latihan fisik terhadap perubahan prilaku pada anak GPP/H.Metode. Penelitian eksperimen, pre-post design dengan perlakuan latihan SKJ ’88 dilakukan pada subjek penelitian di Sekolah Khusus Al-Ikhsan selama 8 minggu. Pemilihan sampel digunakan metode tanpa acak (non probability sampling) dengan jenis metode consecutive sampling, yaitu semua anak dengan GPP/H yang memenuhi kriteria pemilihan akan diikutsertakan dalam penelitian. Analisis data digunakan uji t satu sampel dan uji t berpasangan.Hasil. Di antara 40 subjek penelitian, didapatkan 19 (47,5%) sangat patuh dan 21 (52.5%) patuh. Nilai selisih rata-rata skor SPPAHI orangtua (SPPAHI-O) tiap tipe GPP/H didapatkan inatentif 46,2 (p<0,001), hiperaktif-impulsif 60,4 (p<0,001), campuran 47,6 (p<0,001) ditunjukkan adanya perbaikan perilaku di rumah. Nilai selisih rata-rata skor SPPAHI guru (SPPAHI-G) tiap tipe GPP/Hdidapatkan inatentif 41,7 (p<0,001), hiperaktif-impulsif 56,8 (p<0,001), campuran 42,2 (p<0,001) ditunjukkan adanya perbaikan perilaku di sekolah.Kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan kepatuhan melakukan latihan SKJ ’88 berpengaruh terhadap perbaikan perilaku di rumah (p<0.001) dan di sekolah (p<0.001) pada kelompok subjek sangat patuh maupun patuh.

Prevalensi Gangguan Tidur pada Remaja Usia 12-15 Tahun di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama

Sari Pediatri Vol 11, No 3 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang. Gangguan tidur dinilai dari gangguan dalam jumlah, kualitas, atau waktu tidur. Gangguan tidur banyak ditemukan pada remaja (73,4%), namun belum banyak dilakukan di Indonesia.Tujuan. Mengetahui prevalensi gangguan tidur pada remaja usia 12-15 tahun di SLTP “X”, Kelurahan Jati, Jakarta Timur.Metode. Studi potong lintang dilakukan terhadap 140 pelajar SLTPN 92 di Kelurahan Jati, Jakarta Timur pada bulan Mei 2009, dengan teknik stratified purposive sampling. Pengambilan data dilakukan menggunakan kuesioner Sleep Disturbance Scale for Children (SDSC) yang diisi secara self-administered oleh orang tua beserta anak di rumah.Hasil. Prevalensi gangguan tidur didapatkan 62,9%, dengan gangguan transisi bangun-tidur sebagai jenis gangguan yang paling sering ditemui. Separuh subjek memiliki perbedaan waktu bangun antara hari sekolah dengan hari libur, 72,9% memiliki perbedaan waktu tidur yang tidak signifikan. Separuh subjek tidur cukup selama hari sekolah, dan 65% di hari libur. Aktivitas yang menenangkan sebelum tidur dilakukan oleh 73,6% subjek. Uji kemaknaan menunjukkan hubungan antara gangguan tidur dengan durasi tidur di hari sekolah dan aktivitas di tempat tidur (p<0,05). Tidak ada hubungan antara perbedaan waktu bangun atau tidur hari sekolah dengan hari libur, durasi tidur di hari libur, kebiasaan konsumsi minuman berkafein, dan lingkungan dengan gangguan tidur (p<0,05).Kesimpulan. Gangguan tidur banyak ditemukan pada remaja usia 12-15 tahun. Sleep Disturbance Scale for Children dapat digunakan sebagai uji tapis dalam mendeteksi gangguan tidur pada remaja

Sensori Integrasi: Dasar dan Efektivitas Terapi

Sari Pediatri Vol 13, No 2 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Terapi sensori integrasi, sebagai bentuk terapi okupasi, mulai populer diberikan untuk tata laksana anak dengan berbagai gangguan perkembangan, belajar, maupun perilaku. Namun dasar teori, bentuk gangguan pemrosesan sensori, dan efektivitas terapi umumnya belum diketahui secara luas di kalangan dokter spesialis anak. Bukti sahih tentang manfaat terapi sensori integrasi untuk tata laksana anak dengan gangguan spesifik memungkinkan aplikasi dan pemberian edukasi pada keluarga pasien secara lebih optimal.

Skala Gangguan Tidur untuk Anak (SDSC) sebagai Instrumen Skrining Gangguan Tidur pada Anak Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama

Sari Pediatri Vol 12, No 6 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang. Dampak gangguan tidur pada remaja adalah penurunan prestasi akademis di sekolah,meningkatkan kenakalan remaja dan meningkatkan angka pemakaian rokok. Deteksi dini gangguan tidurperlu dilakukan karena remaja jarang mengeluh dan mengganggapnya bukan suatu masalah yang serius.Pemeriksaan gangguan tidur menggunakan polysomnography mahal dan tidak praktis, sedangkan pemeriksaanwrist actigraphy sederhana tetapi belum tersedia di Indonesia. Skala gangguan tidur untuk anak atau sleepdisturbance scale for children (SDSC) praktis dan murah.Tujuan. Mengetahui sensitivitas dan spesifisitas SDSC terhadap pemeriksaan wrist actigraphy.Metode. Penelitian uji diagnostik dengan desain potong lintang selama bulan Juli-Oktober 2010. Muridyang memenuhi kriteria inklusi, dilakukan pemeriksaan wrist actigraphy dan pengisian kuisioner SDSCbersama orangtua.Hasil. Sebagian besar subjek berusia 14 tahun (50%). Rerata waktu subjek tidur adalah pukul 22:12, waktusubjek bangun pukul 05:55, dan total waktu tidur subjek 6 jam 47 menit. Terdapat 40 subjek (62,5%)yang menderita gangguan tidur menurut SDSC dengan jenis gangguan yang paling sering adalah gangguantransisi tidur-bangun (25%). Berdasarkan pemeriksaan wrist actigraphy terdapat 42 subjek (65,6%) yangmenderita gangguan tidur. Nilai diagnostik SDSC terhadap wrist actigraphy didapatkan sensitivitas 71,4%dan spesifisitas 54,5%. Nilai duga positif dan nilai duga negatif adalah 75% dan 50%.Kesimpulan. Sensitivitas dan spesifisitas SDSC terhadap pemeriksaan wrist actigraphy adalah 71,4% dan54,5%. Instrumen SDSC dapat digunakan sebagai alat skrining gangguan tidur pada remaja.

Co-Authors Achmad Ushuluddin, Achmad Adam Adam Adelina Haryono, Adelina Aditia Reza, Aditia Aditya, Clarissa J. Ali Alhadar Ali Sungkar Alia Arianti, Alia Almitra Rindiarti, Almitra Amalia Setiawati, Amalia Aman B. Pulungan Amany, Tazkya Anandika Pawitri, Anandika Anderson, Dave Ardi Findyartini, Ardi Ari Prayogo Armeilia, Rilie Asmoko Resta, Asmoko Astri Adelia, Astri Astri Dewina, Astri Auliyanti, Fijri Bambang Supriyatno Basrowi, Ray Wagiu Basrowi, Ray Wagiu Benjamin Ngatio, Benjamin Bernie Endyarni Medise, Bernie Endyarni Bernie Endyarni, Bernie Bintang Pratiwi, Bintang Catharina Sambo, Catharina Cathrine Cathrine, Cathrine Centauri Centauri, Centauri Christine Natalita, Christine Christopher Silman, Christopher Citra Aryudi, Citra Corrie W. Wawolumaja, Corrie W. Corrie Wawolumaja Corrie Wawolumaya Corry Wawolumaya, Corry Cynthia Cynthia Daisy Widiastuti, Daisy Damara Andalia, Damara Daniel Nugraha Aji, Daniel Nugraha Darmawan, Anthony C. Desi Astari, Desi Diah Pitaloka DMP, Diah Pitaloka Dian Kusumadewi Dian Milasari, Dian Dyah Tunjungsari, Dyah Elina Waiman, Elina Elisa Harlean, Elisa Erick Wonggokusuma, Erick Eva Devita Harmoniati, Eva Devita Faisal Adam, Faisal Hardiono Poesponegoro, Hardiono Hartono Gunadi, Hartono Hartono Gunardi Harumdini, Matahari Hendrata, Erwin Henry Riyanto, Henry Hesti Lestari Imam D, Imam Imam N, Imam Irawan Mangunatmadja, Irawan Irene Yuniar, Irene Jeane Roos Ticoalu, Jeane Roos Johnson, Ikhsan Johnson, Ikhsan Jose RL Batubara Jose RL. Batubara, Jose RL. Juliansen, Andry Kumala, Melani Lily Rahmawati, Lily Listya Tresnanti Mirtha, Listya Tresnanti M. Triadi Wijaya, M. Triadi Maelissa P. Ririmasse, Maelissa P. Martin Hertanto Maulina Rachmasari, Maulina Medise, Bernie E. Melyarna Putri, Melyarna MF Conny Tanjung, MF Conny Mirtha, Listya T. Muhammad Arvianda Kevin Kurnia, Muhammad Arvianda Kevin Murti Andriastuti, Murti Nadya, Ruth Nahla Shihab, Nahla Nashrul Ihsan, Nashrul Noorwati Sutandyo Nuri Indahwati, Nuri Nuri Purwito Adi Nurullah, Ghifari Nycane Nycane, Nycane oedjatmiko oedjatmiko, oedjatmiko Pakasi, Trevino Pardede, Sudung Partini Trihono, Partini Puspitadewi, Ardita Pustika Amalia Ratna Djuwita Renno Hidayat, Renno Retno Asti Werdhani Rini Andriani Ririn Hariani, Ririn Rismala Dewi Robert Sinto Ronny Suwento, Ronny Salma Oktaria Saptawati Bardosono Sarah Listyo Astuti, Sarah Listyo Setyanto, Darmawan Budi Siti Mirdhatillah, Siti Soedjatmiko Soedjatmiko Sri Rezeki Hadinegoro, Sri Rezeki Titi S. Sularyo Tumbelaka, Intan Tutik Ernawati Wigoeno, Yulia Yogi Prawira, Yogi Yulianti Wibowo, Yulianti