Articles

Found 29 Documents
Search

Study of Seawater Intrusion in Deep Aquifers of Semarang Coast Using Natural Isotopes and Hydrochemicals Wijatna, Agus Budi; Kayis, Muhammad; Satrio, Satrio; Pujiindiyati, Evarista Ristin
Indonesian Journal on Geoscience Vol 6, No 1 (2019)
Publisher : Geological Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17014/ijog.6.1.17-28

Abstract

DOI: 10.17014/ijog.6.1.17-28Seawater intrusion in deep aquifers of Semarang Coast is important to be investigated, because Semarang is one of big cities in Indonesia. Besides its dense population, the growth of industries also increases rapidly with the increase of withdrawal of groundwater either from shallow or deep aquifers. Over-exploitation of groundwater can cause a decreasing groundwater quality due to seawater intrusion. Through this study, the salinization from seawater into the deep aquifer system can be observed. Groundwater samples were collected from deep aquifers with the depth around 40-120 m, and then the isotope contents of 18O and 2H as well as the hydrochemical were analyzed. The isotope and hydrochemical analysis results show that six of thirteen samples are of freshwater type. They are in S2, S5, S7, S8, S9, and S13 sites. While the others are supposed to be encroached by seawater. The slight encroached groundwater of S1, S6, and S10 had a fraction of seawater in the range of 0.15 to 0.26, whereas the moderate and high ones were of S3, S4, S11, and S12 which had seawater fraction between 0.25 and 0.34. Seemingly, salinization mechanism of groundwater by seawater does not depend on its distance from the shoreline and bore well depth. It is confirmed to the site of S5 and S7 located 680 m and 950 m from the shoreline, respectively, which were predominated as freshwater type. On the contrary, the groundwater of S10, S11, and S12 located at further sites about 5-6 km from shoreline is clearly indicated seawater intrusion.
Karakteristik Air Tanah Dangkal Kota Semarang Pada Musim Penghujan Berdasarkan Pendekatan Isotop Stabil (18O, 2H) dan Kimia Air Satrio, Satrio; Hendarmawan, Hendarmawan; Dwi Hadian, M. Sapari; Pujiindiyati, E. Ristin
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 11, No 1 (2015): Juni 2015
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2015.11.1.2701

Abstract

Pada bulan Maret 2014 telah dilakukan penelitian air tanah di wilayah Kota Semarang dengan tujuan untuk mengetahui karakteristik air tanah dangkal pada saat musim penghujan melalui pendekatan isotop stabil (18O, 2H) dan kimia air yang didukung dengan data hidrogeologi setempat. Sejumlah sampel air tanah dangkal diambil di beberapa lokasi dengan kedalaman antara 0 — 35 m di bawah permukaan tanah setempat (dbpts). Analisis isotop stabil 18O dan 2H serta kimia air dilakukan di laboratorium Hidrologi, Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi, BATAN Jakarta. Hasil analisis isotop stabil 18O dan 2H menunjukkan bahwa sekitar 63 % air tanah cenderung berada di dekat garis meteorik Semarang dan sekitar 37 % sisanya mengalami evaporasi, interaksi dengan oksida batuan dan sedikit pengaruh interaksi atau mixing dengan air laut. Dari hasil analisis kimia air dengan ionic balancesekitar 3 % menunjukkan bahwa pada saat musim penghujan akuifer air tanah dangkal di wilayah Kota Semarang didominasi oleh ion bikarbonat (HCO3-) dengan tipe air didominasi CaHCO3. Sedangkan dari data parameter Chloride Bicarbonate Ratio, sekitar 24 % air tanah dangkal di wilayah Kota Semarang terindikasi mengalami intrusi air laut dansisanya sekitar 76 % masih menunjukkan karakteristik sebagai air tanah tawar.Kata kunci : karakteristik air tanah, air tanah dangkal, Semarang, musim penghujan, isotopstabil dan kimia air
Studi Karakteristik Air Tanah Dangkal Sekitar TPA Bantar Gebang, Bekasi, dengan Metode Sumur Tunggal dan Ganda Satrio, Satrio; Syafalni, Syafalni; Sidauruk, Paston
Jurnal Aplikasi Isotop Radiasi Vol 10, No 1 (2014): Juni 2014
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (24.638 KB)

Abstract

Teknik perunut radioaktif dengan menggunakan metode sumur tunggal dan ganda untuk menentukan karakteristik akuifer air tanah dangkal telah dilakukan di tiga desa sekitar tempat pembuangan akhir (TPA) Bantar Gebang, Bekasi. Penentuan arah dan kecepatan filtrasi  dilaksanakan dengan metode sumur tunggal, dan parameter akuifer lainnya dilaksanakan dengan metode sumur ganda. Aplikasi kedua metode dapat dipakai untuk mengevaluasi arah gerakan dan kecepatan air tanah serta parameter lain yang akan memberikan informasi yang bermanfaat terhadap manajemen sumberdaya air tanah dan lingkungan. Hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa pada musim hujan air tanah dangkal di daerah TPA bergerak ke sekeliling lokasi, sedangkan pada musim kemarau bergerak dari TPA pada desa Ciketing Udik dan untuk desa Sumur Batu dan Cikiwul dipengaruhi oleh kondisi hidrologi dan topografi lokasi. Hasil dari parameter lainnya memperlihatkan bahwa desa Ciketing Udik adalah daerah yang mempunyai potensi sumberdaya air tanah dangkal yang lebih baik dibandingkan dengan desa di sebelah utara TPA.Kata kunci: Perunut Radioaktif, Karakteristik Akuifer, Sumberdaya Air TanahABSTRACTShallow Groundwater Characteristics Study of Sanitary Landfill, Bantar Gebang, Bekasi, by Using Single and Double Well Methods. Radiotracer techniques by single well and double well borehole methods were used for determining shallow groundwater of sanitary landfill Bantar Gebang, Bekasi. Determination of direction and filtration velocity have been carried out by using single well borehole method, and other aquifer parameters have been done by using double well borehole method. Application of both methods can evaluate the direction, velocity and other parameters in which give the useful information for water resources and environmental management. Results of the study showed that the movement of the shallow goundwater of sanitary landfill for rainy season were from landfill area to the surrounding area and for dry season were from landfill area in Ciketing Udik village and for Sumur batu and Cikiwul villages are influenced by hydrological condition of the location. The results of the other parameters showed that Ciketing Udik village was more potential area for the shallow groundwater resources.Key words: Radioactive Tracer, Characteristics of Aquifer, Groundwater Resources
Studi Asal-Usul Air Lumpur Lapindo Periode 2007 — 2012 Menggunakan Isotop Alam Satrio, Satrio; Pratikno, Bungkus; Sidauruk, Paston
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 8, No 2 (2012): Desember 2012
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1030.685 KB) | DOI: 10.17146/jair.2012.8.2.502

Abstract

Telah dilakukan penelitian air tanah menggunakan isotop alam pada area semburan lumpur Lapindo Sidoarjo yang dilakukan dari tahun 2007 hingga 2012. Penelitian ini bertujuan mengetahui perkiraan asal-usul air pusat semburan berdasarkan pemantauan data isotop alam yang dilakukan hampir setiap tahun. Untuk analisis isotop 14C, pengambilan sampel yang berasal dari pusat semburan dilakukan dengan cara memisahkan lumpur dengan air selama semalam, sedangkan untuk analisis isotop 18O dan 2H sampel langsung diambil dari sekitar lokasi dan dimasukkan ke dalam botol 30 ml. Sebagai pembanding, dilakukan pula pengambilan dan analisis isotop terhadap sampel yang berasal dari luar pusat semburan, yaitu di sumur bor milik pabrik es di Porong yang berjarak sekitar 1 km dari pusat semburan. Hasil analisis isotop alam dan grafik hubungan δ2H terhadap δ18O dari tahun 2007 hingga 2012 menunjukkan bahwa air yang berasal dari pusat semburan merupakan air yang berinteraksi dengan magma atau bersifat magmatik dengan variasi isotop 18O dan 2H masing-masing bernilai antara 8,33 ‰ hingga 12,49 ‰ dan -8,9 ‰ hingga 1,8 ‰. Data isotop alam air tanah dan grafik hubungan δ2H terhadap δ18O yang berasal dari pabrik es masih menunjukkan air meteorik. Di samping itu, berdasarkan data isotop 18O dan 2H juga terlihat bahwa air tanah pabrik es memiliki kemiripan asal dengan air tanah daerah Pasuruan. Hasil analisis isotop 14C tahun 2007 diperoleh umur di atas 40.000 tahun yang menunjukkan bahwa air tersebut diduga merupakan air yang telah terjebak selama ribuan hingga jutaan tahun dan tergolongfosil air. Antara tahun 2008 hingga 2012, umur airnya bervariasi dari Modern hingga sekitar 20.000 tahun yang mengindikasikan adanya kontribusi dari air tanah atau air laut terhadap air yang keluar dari pusat semburan.
Subsurface Flow and Surface Water Interactions Quantification in Gunung Kidul Karst Area Using Hydro-Chemical and Stable Isotopes Data Variations Sidauruk, Paston; Pujiindiyati, E. Ristin; Satrio, Satrio
Jurnal Aplikasi Isotop Radiasi Vol 11, No 1 (2015): Juni 2015
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (24.638 KB)

Abstract

Subsurface flow is one of the available water sources in the Karsts area such as in Gunung Kidul. The study of the pattern of the variations of stable isotopes content as a function of time and its interaction with other water sources such as rain waters, groundwater, river water will be a very good tool to assess the potential of the subsurface flow as a water source. For this purpose, the variations of stable isotopes content of subsurface flow around Gunung Kidul Karsts area and its interactions with other local water sources have been studied for the last two years. From the comparison of stable isotopes variations pattern of the subsurface flow with monthly rain water, the interaction of the subsurface flow with other water sources in the area has been quantified. Based on hydro-chemical data, it was found that the recharge area of subsurface flow were relatively further than other samples and it was also found that Seropan and Bribin subsurface flow systems originate from different geologic structures. Based on stable isotopes relative contents, it was found Ngobaran and Baron Caves have been mixed with domestic sewerage water or other surface water. Keywords : Karsts area, stable isotopes, subsurface flow   ABSTRAK Interaksi Sungai Bawah Tanah Dengan Air Permukaan di Daerah Karst Gunung Kidul Menggunakan Variasi Data Hidrokimia dan Kandungan Isotop Stabil. Aliran sungai bawah tanah adalah salah satu sumber air yang tersedia di daerah Karst seperti halnya di daerah Gunung Kidul. Penelitian pola variasi kandungan isotop stabil sebagai fungsi waktu dan interaksinya dengan sumber air lainnya seperti air hujan, air tanah, dan sungai dapat digunakan sebagai alat untuk memperkirakan potensi aliran sungai bawah tanah dalam pengembangan selanjutnya. Untuk tujuan ini, pengamatan kandungan isotop stabil dan variasinya dan interaksinya dengan sumber air lainnya telah dilakukan pada dua tahun terakhir. Dari pola variasi kandungan isotop stabil aliran sungai bawah tanah dan perbandingan dengan pola variasi sumber air lainnya khususnya air hujan, besaran interaksi sungai bawah tanah dan sumber air lainnya telah dilakukan. Berdasarkan data kimia air, telah ditemukan bahwa daerah imbuh aliran bawah tanah adalah lebih jauh dari sumber air lainnya dan juga telah ditemukan bahwa air bawah tanah di Goa Seropan dan Bribin berasal dari struktur batuan yang berbeda. Berdasarkan data kelimpahan relatif isotope stabil, ditemukan bahwa aliran bawah tanah di Goa Ngobaran dan Baron telah mengalami percampuran dengan air buangan setempat atau air permukaan lainnya. Kata kunci : Daerah Karsts, isotop stabil, aliran sungai bawah tanah
Karakteristik Air Tanah Dangkal Kota Semarang Pada Musim Penghujan Berdasarkan Pendekatan Isotop Stabil (18O, 2H) dan Kimia Air Satrio, Satrio; Hendarmawan, Hendarmawan; Dwi Hadian, M. Sapari; Pujiindiyati, E. Ristin
Jurnal Aplikasi Isotop Radiasi Vol 11, No 1 (2015): Juni 2015
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (24.638 KB)

Abstract

Pada bulan Maret 2014 telah dilakukan penelitian air  tanah di wilayah Kota Semarang dengan tujuan untuk mengetahui karakteristik air tanah dangkal pada saat musim penghujan melalui pendekatan isotop stabil (18O, 2H) dan kimia air yang didukung dengan data hidrogeologi setempat. Sejumlah sampel air tanah dangkal diambil di beberapa lokasi dengan kedalaman antara 0 – 35 m di bawah permukaan tanah setempat (dbpts). Analisis isotop stabil 18O dan 2H serta kimia air dilakukan di laboratorium Hidrologi, Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi, BATAN Jakarta. Hasil analisis isotop stabil 18O dan 2H menunjukkan bahwa sekitar 63 % air tanah cenderung berada di dekat garis meteorik Semarang dan sekitar 37 % sisanya mengalami evaporasi, interaksi dengan oksida batuan dan sedikit pengaruh interaksi atau mixing dengan air laut. Dari hasil analisis kimia air dengan ionic balancesekitar 3 % menunjukkan bahwa pada saat musim penghujan akuifer air tanah dangkal di wilayah Kota Semarang didominasi oleh ion bikarbonat (HCO3-) dengan tipe air didominasi CaHCO3. Sedangkan dari data parameter Chloride Bicarbonate Ratio, sekitar 24 % air tanah dangkal di wilayah Kota Semarang terindikasi mengalami intrusi air laut dansisanya sekitar 76 % masih menunjukkan karakteristik sebagai air tanah tawar. Kata kunci : karakteristik air tanah, air tanah dangkal, Semarang, musim penghujan, isotop stabil dan kimia air  ABSTRACT Characteristics of Shallow Groundwater of Semarang City in the Rainy Season Based on Stable Isotopes (18O, 2H) and Water Chemistry. In March 2014 a research has been conducted of groundwater in the area of ​​Semarang aimed to determine the characteristics of shallow groundwater in rainy season by using stable isotopes (18O, 2H) and water chemistry, also supported by local hydrogeologic data. A number of shallow groundwater samples were taken at several locations at a depth of 0-35 m from the subsurface. Analysis of stable isotopes (18O,2H) and water chemistry were done in the Hydrology laboratory, Isotopes and Radiation Application Center, BATAN Jakarta. The results of the analysis of stable isotopes 18O and 2H showed that the characteristics of shallow groundwater during the rainy season is around 63% and tend to be the meteoric water line of Semarang and about 37% was evaporated, the interaction with the oxide rocks or mixing with water sea. The results of chemical analysis of water with the ionic balance is around 3% indicating that during the rainy season shallow groundwater aquifers in the city of Semarang was dominated by bicarbonate (HCO3-) with water type was dominated by CaHCO3. While the data parameter Bicarbonate Chloride Ratio Ratio, shallow groundwater during the rainy season, where about is 24% indicated by the intrusion of sea water and the remaining approximately 76% showedcharacteristics as fresh groundwater. Key word : groundwater characteristics, shallow groundwater, Semarang, rainy season, stable isotopes and water chemistry
Study of Susceptibility of Pari Island Groundwater – To Surface Water Using Natural Isotopes and Hydrochemicals Pujiindiyati, E. Ristin; Sidauruk, Paston; Satrio, Satrio; Rustam, Agustin
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 10, No 2 (2014): Desember 2014
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (346.417 KB) | DOI: 10.17146/jair.2014.10.2.2721

Abstract

The Pari Island with a total area of 40,32 ha is situated at the southern end of a chain of more than a hundred islands, commonly known as Seribu Islands, in Java Sea.  Its topography is flat land and mainly consists of coral reefs such that fresh water supply for local people is very limited. The scarcity of fresh water to the local people  is still worsen by the intrusion of sea water to the aquifer system. The objective of this study is to get a better understanding of mixing process between sea water and ground water and to trace the sources of salinity in shallow groundwater of Pari Island. The combinations of natural isotopes of 18O and 2H in water and hydrochemical (such as Na+, K+, Ca2+, Mg2+, Cl-, SO42- and HCO3-) content were used in this study. Results of hydrochemicals showed that almost all of the shallow groundwaters of Pari island had undergone mixing process with sea water. Mostly, they were classified as brackish water and gradually changed to saline water along the flowpath of the water. Only two groundwater samples were still characterized as fresh water type. Mixing ratios of seawater-groundwater water were estimated to be between 2% and 38%. Isotopic results of 18O and 2H revealed that slope of groundwater samples had decreased compared to local water meteoric line. Obviously, those distributions a long the mixing line of sea water – rain water, indicated that high salinity of groundwaters in Pari Island  originated from encroachment of sea water. It implied that the salinity was caused by flushing of minerals into soil by direct precipitation could not be taken into consideration. Key words: Pari Island, groundwater, sea water intrusion, natural isotopes, hydrochemicals
Aplikasi Isotop Alam (18O, 2H dan 14C) untuk Studi Dinamika Air Tanah dan Hubungannya dengan Air Sungai di Daerah Bandung Pujiindiyati, Evarista Ristin; Satrio, Satrio
EKSPLORIUM Vol 34, No 2 (2013): November 2013
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (855.746 KB)

Abstract

Muka air tanah di Cekungan Bandung telah mengalami penurunan sejak tahun 1990 yakni sebesar 1-2 m di pusat cekungan sedangkan di daerah miring sebesar 15 m. Gejala penurunan air tanah ini dikhawatirkan terus mengalami penurunan seiring dengan pertambahan jumlah sumur dalam (> 40 m) dari 96 sumur pada tahun 1970 hingga saat ini diperkirakan lebih dari 4700 sumur. Oleh karena itu, penelitian hubungan antara air tanah dan air permukaan, penentuan daerah imbuh air tanah di Cekungan Bandung sangat penting dilakukan. Isotop alam stabil seperti 2H dan 18O; dan isotop alam radioaktif 14C dapat dimanfaatkan untuk keperluan tersebut. Penelitian ini dilakukan dengan pengambilan 24 contoh air tanah-dalam, 28 contoh air tanah-dangkal dan air sungai (Citarum, Cikapundung, Cikeruh, dan Citarik). Berdasarkan hasil hubungan antara d18O dan d2H, sebagian besar air tanah-dangkal di sepanjang Sungai Citarum tidak berhubungan dengan air sungai akan tetapi ada tiga titik lokasi  yang terindikasi percampuran yakni air tanah dekat Sungai Cikapundung, SP 9 (Desa Loteng Sumbersari) dan SP 8 (Desa Bojong Mas) yang berdekatan dengan Sungai Citarum. Hasil analisis isotop 14C menunjukkan bahwa air tanah-dalam tidak berhubungan dengan air tanah-dangkal dan air sungai. Garis kontur umur sama menunjukkan bahwa pola dinamika air tanah-dalam di Cekungan Bandung berasal dari daerah perbukitan di sebelah utara dan selatan menuju ke arah barat laut sehingga di kedua daerah tersebut disarankan sebagai zona konservasi. Kecepatan pergerakan air tanah-dalam berkisar antara 0,25–3 m/tahun. Water table in the center of Bandung basin has been decreased around 1-2 m/year since 1990 whereas in the slope has been decreased at higher level of 15 m. Water level decreasing are going to increase continuously because of increasing number of deep wells (>40 m). In 1970, there were 96 deep wells which have been registered, but now number of deep wells is estimated of more than 4700. Therefore, a study of interrelationship between groundwater and surface water, and determination of recharge area for Bandung basin are crucial research to be conducted. Stable isotopes in nature such as 2H and 18O, and radioactive isotope of 14C can give important information about groundwater dynamic pattern.  In this research, 24 deep groundwater samples, 28 shallow groundwater and river water samples (Citarum, Cikapundung, Cikeruh and Citarik rivers) and shallow groundwater along the rivers were collected. Results from plotting d18O and d2H showed that most of shallow groundwater did not relate to river water except three locations, they are Loteng Sumbersari and Bojong Mas groundwater near to Citarum river, and groundwater near to Cikapundung river. Isotope 14C analysis indicated that deep groundwater of Bandung basin did not show relationship either by shallow groundwater or river water. Its iso-age line contour determined that dynamic pattern of deep groundwater in Bandung basin comes from northern and southern hills to direction of north-west area such that both areas are suggested as conservation zone. Rate of deep groundwater movement predicted from iso-age contour is around 0.25 to 3 m/year.
KARAKTERISTIK KIMIA DAN ISOTOP FLUIDA PANAS BUMI DAERAH GUNUNG TAMPOMAS, JAWA BARAT Prasetio, Rasi; Laksminingpuri, Neneng; Satrio, Satrio
JURNAL RISET GEOLOGI DAN PERTAMBANGAN Vol 28, No 1 (2018)
Publisher : Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (825.07 KB) | DOI: 10.14203/risetgeotam2018.v28.508

Abstract

Gunung Tampomas merupakan salah satu daerah di Jawa Barat yang memiliki manifestasi panas bumi berupa mata air panas di sekitarnya. Penelitan potensi dan karakterisasi reservoir panas bumi Gunung Tampomas telah dilakukan dengan menggunakan metode kimia serta isotop alam 18O dan 2H (deuterium) dari mata air panas dan dingin di sekitar Gunung Tampomas dengan temperatur mata air berkisar antara 20ºC hingga 50ºC. Interpretasi hasil analisis tersebut dimaksudkan untuk mengetahui karakteristik reservoir seperti asal-usul fluida, temperatur reservoir dan evolusi fluida. Hasil analisis menunjukkan bahwa sebagian mata air panas Gunung Tampomas yaitu Ciseupan dan Ciuyah memiliki kandungan klorida tinggi yang mengindikasikan fluida berasal dari reservoir panas bumi. Sementara berdasarkan perhitungan geotermometer daerah panas bumi Gunung Tampomas memiliki potensi panas bumi yang tergolong medium entalpi dengan temperatur berkisar 120-220°C. Fluida panas bumi berasal dari air meteorik dengan sedikit pencampuran dengan air magmatik. Berdasarkan data geokimia, reservoir Gunung Tampomas diperkirakan memiliki reservoir yang terletak cukup dalam.Mount Tampomas is one of many areas in West Java that has several geothermal manifestations around it. A study about geothermal potential and reservoir has been done using chemistry and natural isotopes methods taken from hot springs and cold springs around Mount Tampomas with temperature range from 20ºC to 50ºC. The interpretation of analysis results was aimed for reservoir characterization i.e. fluid origin, reservoir temperature and conceptual model of Mount Tampomas reservoir. Analysis result shows that some of hot springs, i.e. Ciseupan and Ciuyah have high chloride content that indicates the fluids are reservoir origin. While based on geothermometer calculation, Mount Tampomas has geothermal potential with temperature range 120°C to 220°C, catagorized as medium enthalpy. The geothermal fluids are meteoric origin and slightly mixed with magmatic waters. Based on geochemical evidence, the reservoir of Mount Tampomas is estimated deep seated. 
PENANGGALAN 14C UNTUK MENENTUKAN UMUR PELAPUKAN TANAH DENGAN METODE RADIOKARBON Siregar, Darwin A.; Satrio, Satrio
Berkala Arkeologi Vol 32 No 2 (2012)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v32i2.52

Abstract

Penanggalan 14C untuk menentukan umur sampel karbon selama ini dilakukan dengan metode sintesis benzena (C6H6). Dengan metode ini dapat dianalisis satu sampel dalam sehari dengan biaya bahan yang relatif tinggi. Akhir-akhir ini telah dikembangkan metode baru, yaitu metode absorpsi CO2. Metode terakhir ini sering disebut direct counting CO2, karena radioisotop 14C yang terkandung didalamnya secara langsung dicacah dan dikonversi menjadi umur. Pengembangan dan penerapan metode ini dilakukan dengan tujuan mendukung berbagai penelitian hidrologi, kelautan, klimatologi, geologi dan arkeologi secara lebih cepat, ekonomis dan praktis. Hasil analisis 14C untuk sampel yang sama menggunakan metode absorpsi CO2 dibandingkan metode sintesis benzena relatif sama.