Articles

SEPUTAR MENULIS DI JURNAL INTERNASIONAL Satria, Arif
Jurnal Pustakawan Indonesia Vol 10, No 2 (2010): Jurnal Pustakawan Indonesia
Publisher : Perpustakaan IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telah banyak media yang mengulastentang rendahnya minat dosen untukmeneliti. Republika (11/9/2008), misalnya,mengungkapkan bahwa di India setiap 1 jutapenduduk melahirkan 12 karya riset, Malaysia1,3, dan Indonesia hanya 0,8. Tak ada riset,ilmu dan teknologi tak berkembang dan kitajadi konsumen teori dan teknologi yangdihasilkan asing. Tak ada riset, pendidikan pundijejali teori-teori lama yang sering sudah out ofdate. Juga, tak ada riset, jangan harap publikasiinternasional tinggi. Riset dan publikasi adalahsetali tiga uang. Orang sering bertanya apaurgensi publikasi internasional? Apakeuntungan publikasi internasional untukbangsa ini?
Konflik Nelayan Di Jawa Timur : Studi Kasus Perubahan Struktur Agraria dan Diferensiasi Kesejahteraan Komunitas Pekebun di Lebak, Banten Annisa, Luluk; Satria, Arif; A Kinseng, Rilus
Jurnal Sodality Vol 3, No 1 (2009)
Publisher : Departemen SKPM FEMA IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada dasarnya, prinsip pengelolaan sumberdaya perikanan di Indonesia telah diatur jelas pada Undang-Undang Dasar 1945 pasal 33 (dikenal dengan sistem pengelolaan bersifat state property), sehingga sumberdaya perikanan di Indonesia bersifat quasi open access, dimana sumberdaya tidak sepenuhnya dapat diakses karena adanya peraturan yang mengatur. Namun, seringkali aturan dibuat tidak dengan cara partisipatif dan merupakan hasil pertimbangan dari pemerintah pusat tanpa memperhatikan aspek sosial ekonomi masyarakat setempat. Akibatnya kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan justru menimbulkan masalah-masalah baru karena masing-masing pihak memiliki kepentingan, keinginan dan prioritas yang berbeda-beda. Perbedaan kepentingan, keinginan dan prioritas yang ada merupakan sumber pemicu munculnya konflik . Konflik merupakan fenomena yang telah ada sejak dahulu, bahkan sebelum era otonomi daerah, khususnya konflik kenelayanan. Keleluasaan mengeksploitasi sumberdaya perikanan merupakan konsekuensi ciri kepemilikan yang bersifat open acces, maka tidak jarang pemanfaatannya menimbulkan masalah akibat perbedaan kepentingan. Berdasarkan hal tersebut, maka dibutuhkan pengelolaan sumberdaya perikanan yang dapat meredam dan mencegah konflik sebagai upaya pengelolaan konflik. Salah satu daerah yang mengalami konflik, yaitu di Kecamatan Lekok, Pasuruan, provinsi Jawa Timur. Lekok merupakan salah satu kecamatan yang terdapat di Pasuruan dengan jumlah nelayan terbanyak di Pasuruan. Karena itu, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan topik pengelolaan konflik, khususnya di daerah Pasuruan
Hak Ulayat Laut di Era Otonomi Daerah sebagai Solusi Pengelolaan Perikanan Berkelanjutan: Kasus Awig-awig di Lombok Barat Solihin, Akhmad; Satria, Arif
Jurnal Sodality Vol 1, No 1 (2007)
Publisher : Departemen SKPM FEMA IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kebijakan pembangunan perikanan Indonesia di masa lalu banyak mengalami kegagalan, hal ini dikarenakan doktrin common property, sentralistik dan anti pluralisme hukum. Akibatnya, kebijakan seperti ini telah menciptakan permasalahan yang kompleks di masyarakat pesisir, seperti kerusakan ekologi pesisir dan laut, kemiskinan nelayan, konflik dan lain sebagainya.  Sementara itu, kehadiran Undang-Undang (UU) No 22/1999 dan UU 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah yang membuka akses dan keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya perikanan lebih luas telah menciptakan pembangunan kelautan dan perikanan berkelanjutan. Rekonstruksi peran hak ulayat laut yang ada di masyarakat Lombok Barat bagian Utara, seperti upacara adat sawen merupakan cikal bakal dari ketetapan bersama secara tertulis dalam mengelola sumberdaya perikanan, yaitu Awig-awig. Terbentuknya aturan ini dipengaruhi oleh faktor utama, yaitu konflik. Adapun konflik tersebut disebabkan oleh kondisi ekologi, demografi, lingkungan politik legal, proses distribusi pasar, mata pencaharian dan perubahan teknologi. Sedangkan, proses pembentukannya adalah melalui tahapan informal hingga formal. Sementara dalam tahap revitalisasi awig-awig mempunyai beberapa aturan, yaitu : (1) wilayah tangkapan sejauh 3 mil dari daratan hanya diperuntukan nelayan yang menggunakan alat tangkap tradisional (alat tangkap skala kecil); (2) unit sosial pemegang hak bersifat individual (terbuka); (3) sumber legalitasnya adalah dari upacara adat sawen dan kesadaran masyarakat akan kerusakan sumberdaya perikanan oleh aktivitas pengeboman dan pemotasan; dan (4) pelaksanaan awig-awig ditegakkan secara tegas oleh Lembaga Musyawarah Nelayan Lombok Utara (LMNLU) yang mempunyai sanksi, pertama denda meteri maksimal Rp 10.000.000,00; kedua pembakaran alat tangkap dan ketiga pemukulan massa namun tidak sampai mati. Pemberlakuan awig-awig sangat efektif dalam pengelolaan sumberdaya perikanan di Lombok Barat bagian Utara, hal ini tercermin dari kian menurunnya kegiatan nelayan yang destruktif, seperti penggunaan bom, dinamit, potasium dan alat-alat yang merusak lainnya.
PERSEPSI PESANGGEM MENGENAI HUTAN MANGROVE DAN PARTISIPASI PESANGGEM DALAM PENGELOLAAN TAMBAK MANGROVE RAMAH LINGKUNGAN MODEL EMPANG PARIT Habibi Elhaq, Imam; Satria, Arif
Jurnal Sodality Vol 5, No 1 (2011)
Publisher : Departemen SKPM FEMA IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research was aimed to: (1) analyze perception of the pesanggem about mangrove forest; (2) analyze participation of the pesanggem in an Environmental Friendly Mangrove Embankment Empang-Parit Model Management; (3) analyze the correlation between perception and participation of pesanggem in mangrove embankment management. This research has been conducted by using survey method and supported by qualitative method with in-depth interview and observation. Qualitative method aimed to gain in-depth understanding related to the data which has been obtained from quantitative method. The result shows that most of the pesanggem has positif perception about mangrove forest ecosystem and ecology function of mangrove forest. Most of the pesanggem has negative perception about social-economy function of mangrove forest. Most of the pesanggem has low level participation in planning phase and monitoring phase. Most of the pesanggem has high level participation in implementation phase and benefitted phase.
PERSEPSI PESANGGEM MENGENAI HUTAN MANGROVE DAN PARTISIPASI PESANGGEM DALAM PENGELOLAAN TAMBAK MANGROVE RAMAH LINGKUNGAN MODEL EMPANG PARIT Habibi Elhaq, Imam; Satria, Arif
Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan Vol 5, No 1 (2011)
Publisher : Departement of Communication and Community Development Sciences, Faculty of Human Ecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22500/sodality.v5i1.5829

Abstract

This research was aimed to: (1) analyze perception of the pesanggem about mangrove forest; (2) analyze participation of the pesanggem in an Environmental Friendly Mangrove Embankment Empang-Parit Model Management; (3) analyze the correlation between perception and participation of pesanggem in mangrove embankment management. This research has been conducted by using survey method and supported by qualitative method with in-depth interview and observation. Qualitative method aimed to gain in-depth understanding related to the data which has been obtained from quantitative method. The result shows that most of the pesanggem has positif perception about mangrove forest ecosystem and ecology function of mangrove forest. Most of the pesanggem has negative perception about social-economy function of mangrove forest. Most of the pesanggem has low level participation in planning phase and monitoring phase. Most of the pesanggem has high level participation in implementation phase and benefitted phase.
Analysis of Institutional and Sustainability Eha Laut and Mane’e as Community Based Coastal Resource Management ., Khoirunnisak; Satria, Arif
Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan Vol 4, No 1 (2016): Sodality
Publisher : Departement of Communication and Community Development Sciences, Faculty of Human Ecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22500/sodality.v4i1.14404

Abstract

ABSTRACTEha is the rule managing the harvest of crops both from marine and terrestrial. Mane?e is the fish harvest ceremony using sammi ropes after one year period of the Eha Laut. Both traditions have been carried out since immemorial time as an attempt to keep the preservation of natural resources and accustom people to live together. This study aimed to analyze the institutional elements of Eha Laut and Mane?e, the Eha Laut and Mane?e sustainability level in community-based coastal resources management. Based on this research, it is known that the performance of the Eha Laut and Mane?e in coastal resource management has been effective and run well. However, there are 3 (three) indicators which are still in the low level management. They are people?s participation in the local management, conflict resolution mechanisms and networks with external agencies. The Eha Laut and Mane?e sustainability level includes in the category of perfection. The level of sustainability assessed in three dimensions; economic, social and environmental dimensions. Dimension that needs more attention is the environmental dimension.Keywords: sustainable, institutional, community, coastal resources managementABSTRAKEha adalah aturan pengelolaan panen tanaman baik dari laut dan darat. Mane?e adalah upacara panen ikan menggunakan tali sammi setelah periode satu tahun Eha Laut. Kedua tradisi telah dilakukan sejak zaman dahulu sebagai upaya untuk menjaga kelestarian sumber daya alam dan orang membiasakan untuk hidup bersama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis unsur-unsur kelembagaan Eha Laut dan Mane?e, yang Eha Laut dan Mane?e tingkat keberlanjutan dalam pengelolaan sumber daya pesisir berbasis masyarakat. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa kinerja Eha Laut dan Mane?e dalam pengelolaan sumber daya pesisir telah efektif dan berjalan dengan baik. Namun, ada 3 (tiga) indikator yang masih dalam manajemen tingkat rendah. Mereka adalah partisipasi masyarakat dalam pengelolaan lokal, mekanisme resolusi konflik dan jaringan dengan lembaga-lembaga eksternal. The Eha Laut dan Mane?e tingkat keberlanjutan termasuk dalam kategori kesempurnaan. Tingkat keberlanjutan dinilai dalam tiga dimensi; ekonomi, sosial dan lingkungan dimensi. Dimensi yang perlu perhatian lebih adalah dimensi lingkungan.Kata kunci: berkelanjutan, kelembagaan, masyarakat, pengelolaan sumber daya pesisir.
SEPUTAR MENULIS DI JURNAL INTERNASIONAL Satria, Arif
Jurnal Pustakawan Indonesia Vol 10, No 2 (2010): Jurnal Pustakawan Indonesia
Publisher : Perpustakaan IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telah banyak media yang mengulastentang rendahnya minat dosen untukmeneliti. Republika (11/9/2008), misalnya,mengungkapkan bahwa di India setiap 1 jutapenduduk melahirkan 12 karya riset, Malaysia1,3, dan Indonesia hanya 0,8. Tak ada riset,ilmu dan teknologi tak berkembang dan kitajadi konsumen teori dan teknologi yangdihasilkan asing. Tak ada riset, pendidikan pundijejali teori-teori lama yang sering sudah out ofdate. Juga, tak ada riset, jangan harap publikasiinternasional tinggi. Riset dan publikasi adalahsetali tiga uang. Orang sering bertanya apaurgensi publikasi internasional? Apakeuntungan publikasi internasional untukbangsa ini?
Mechanisms of Access and Power in Strengthening the Performance of Marine Ecotourism Management Institutions Aini, Nur; Satria, Arif; Sri Wahyuni, Ekawati
Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan Vol 7, No 1 (2019): Sodality
Publisher : Departement of Communication and Community Development Sciences, Faculty of Human Ecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22500/sodality.v7i1.25308

Abstract

The objective of this research is to analyze: 1) The distribution of benefits of Kampung Arborek?s toursim; 2) The access and power mechanism of the community who manages the ecotoursim in obtaining, maintaining, and controlling the resources; 3) and the performance of the power of the management institution of Kampung Arborek marine ecotoursim. The approach used in the research is the qualitataive approach. The techniques used to collect the data are through observation, documentation, interviews, focus group discussions, and secondary data collection. The results of this research show that the distribution of benefits that is obtained by the community who manages the ecotourism is an increase and more stable income compared to their previous income as fishermen. The distribution of benefits that was felt by the community who manages the ecotourism is inseparable from the access and power mechanism that they own. Through the bundle of power such as technology, capital, market, workforce, knowledge, authority, social identity and social relation, are used by the ecotoursim management community to obtain and maintain access towards resources. Through this bundle of power they are also capable of strengthening the performance of the marine ecotourism institution?s managment in Kampung Arborek. Therefore, equality in access and power for the community is needed to open new oppurtunities to obtain benefits from managing the ecotourism and also reinforcement of the performance of the institution?s management.
MOBILITAS SOSIAL NELAYAN PASCA SEDIMENTASI DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) (Studi Kasus: Desa Klaces, Kecamatan Kampung Laut, Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah) Agusning Kuwandari, Septi; Satria, Arif
Jurnal Sodality Vol 6, No 3 (2012): Sodality
Publisher : Departemen SKPM FEMA IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The interaction between human and nature will cause many ecological impacts, such as declining environment quality. The relationship between inland and sea can not be separated each other. The inland damaged will affect coastal areas. Sedimentation in Watershed (DAS) make  ec ol ogi cal  changes , i t’ s accordingly. It can greatly affect the socio-economic conditions of coastal communities. This situation leads the communities to develop strategies adaptation which finally change stratification system and social mobility. Keywords: coastal, sedimentation, social mobility, strategies adaptation, Watershed (DAS)
MOBILITAS SOSIAL NELAYAN PASCA SEDIMENTASI DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) (Studi Kasus: Desa Klaces, Kecamatan Kampung Laut, Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah) Agusning Kuwandari, Septi; Satria, Arif
Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan Vol 6, No 3 (2012): Sodality
Publisher : Departement of Communication and Community Development Sciences, Faculty of Human Ecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22500/sodality.v6i3.8022

Abstract

The interaction between human and nature will cause many ecological impacts, such as declining environment quality. The relationship between inland and sea can not be separated each other. The inland damaged will affect coastal areas. Sedimentation in Watershed (DAS) make  ec ol ogi cal  changes , i t? s accordingly. It can greatly affect the socio-economic conditions of coastal communities. This situation leads the communities to develop strategies adaptation which finally change stratification system and social mobility. Keywords: coastal, sedimentation, social mobility, strategies adaptation, Watershed (DAS)
Co-Authors ., Khoirunnisak Aceng Hidayat Ady Candra, Ady Akhmad Solihin Amir Mahmud Amiruddin Saleh Ardito Atmaka Aji Ari Purbayanto Ari Wibowo Ati, Lukmi Basita Ginting Basita Ginting Sugihen Budi Hariono Budy Wiryawan Christian, Yoppie Djuara P. Lubis Edi H.S Sulistyo, Edi H.S Ekawati S.Wahyuni Ekawati Sri Wahyuni Ekawati Sri Wahyuni, Ekawati Sri Endriatmo Soetarto Enik Afri Yanti, Enik Afri Fevrina Leny Tampubolon Fidyani, Citra Firmiyanti, Riska Dwi Gendut Suprayitno Hariadi Kartodihardjo Humayra Secelia Muswar, Humayra Idqan Fahmi Imam Habibi Elhaq Imam Teguh Saptono Iwan Setiawan Kirbrandoko Kirbrandoko Lestari, Elva Lilik Noor Yuliati Luki Setyawan, Luki Lukman M. Baga Luluk Annisa Mirajiani - Mony, Ahmad Muh. Asri, Muh. Muharara, Cindy Pricilla Mulyono S. Baskoro Musa Hubeis Nendah Kurniasari Ninuk Purnaningsih Nur Aini Nurcholis, Muhammad Aris Patriana, Ratna Patriana, Ratna Prabowo Tjitropranoto Pranata, Rici Tri Harpin Pregiwati, Lilly Aprilya Priyatna, Fatriyandi Nur Rabilla, Raissa Rahmaditya Rachman, Raditya Machdi Rahayu, Rehastidya Retna Mutiar, Indria Riana Riana, Riana Rilus A Kinseng Rilus A Kinseng Rilus A. Kinseng Rilus A. Kinseng, Rilus A. Royandi, Eva Ruddy Suwandi Saharuddin - Saharuddin Saharuddin Said Rusli Sambas Basuni SANJIV MENON A/L JOTHINATHAN, SANJIV MENON A/L Sari, Ika Citra Sarwititi Sarwoprasodjo Satyawan Sunito Septi Agusning Kuwandari Soeboer, Deni Achmad Soeryo Adiwibowo Sugeng Hari Wisudo Sumardjo Sumardjo Swarnawati, Aminah Tevi Karuniawati, Tevi Titania Aulia Titik Sumarti Tjahjo Tri Hartono Tridoyo Kusumastanto Yeni Marlina Yolla Rahmi, Yolla Yossika Tantri Wandan Sari, Yossika ZULKARNAIN ZULKARNAIN