Hariyo Satoto
Staf Pengajar FK Undip Semarang

Published : 11 Documents
Articles

Found 11 Documents
Search

PENGARUH PEMBERIAN ANESTESI EPIDURAL TERHADAP KADAR GULA DARAH PADA OPERASI

MEDIA MEDIKA MUDA 2012:MMM VOLUME 1 NUMBER 1 YEAR 2012
Publisher : MEDIA MEDIKA MUDA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang : Anestesi dan operasi dapat menyebabkan timbulnya respon stres, dengan akibat dapat terjadinya kenaikan kadar gula darah yang akan menyebabkan hipertensi, takikardi, hiperglikemia, katabolisme protein, suppresi imun respon dan perubahan fungsi ginjal. Begitu juga pada operasi sectio caesaria, oleh karena itu perlu dicari cara anestesi yang paling sedikit menaikkan kadar gula darah, salah satunya dengan anestesi epidural.Tujuan : Mengetahui pengaruh anestesi epidural terhadap penurunan kadar gula darah pada pasien yang menjalani operasi sectio caesaria.Metode : Penelitian ini menggunakan desain cross sectional pre and post test, yang menggunakan data skunder dari penelitian peserta PPDS Anestesiologi RSUP dr. Kariadi Semarang. Sampel sejumlah 16 pasien, pemilihan sampel menggunakan metode consecutive sampling. Sampel tersebut memperoleh anestesi epidural dan menggunakan obat marcain epidural 15 ml (75 mg). pengukuran kadar gula darah menggunakan darah kapiler digiti II, III yang diukur 2 kali (pre anestesi dan post anestesi) dengan alat Blood Glucose Test Meter Gluko Dr. Uji statistik dilakukan dengan Paired T-test, bila berdistribusi normal, dan Wilcoxon Signed Ranks, bila berdistribusi tidak normal, dengan derajat kemaknaan p < 0,05.Hasil : Didapatkan uji statistik selisish kadar gula pre dan post anestesi epidural dengan nilai p = 0,057 ( p > 0,05 ), selisih penurunan kadar gula darah pre dan post anestesi epidural tidak berbeda bermakna.Simpulan : Tidak terdapat perbedaan bermakna antara pemberian anestesi epidural terhadap kadar gula darah pada operasi sectio caesaria.Kata kunci: anestesi epidural, kadar gula darah, sectio caesaria.

Pengaruh Pemberian Cairan Ringer Laktat Dibandingkan Nacl 0,9% Terhadap Keseimbangan Asam-Basa Pada Pasien Sectio Caesaria Dengan Anestesi Regional

Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 4, No 1 (2012): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background : Administration of crystalloid solution in patients prone for surgery, especially sectio caesarian rarely completed with blood electrolyte examination previously so could cause electrolyte imbalance and worse metabolic and healing process. Because of fluid intervention during surgery, post operative electrolyte examination are important to control electrolyte level and acid base balance.Method : An experimental study with double blind randomize control trial method which purposed to find the better solution, RL or NaCl 0,9% for SID acid base balance on Stewart method. Patients prepared for sectio caesarian as require for regional anesthesia and prevent nausea and vomit. At the operation theatre an intravenous line inserted while at the same time blood venous sample was taken. Before inducing anesthesia patient received pre medication and fluid “loading” to prevent regional anesthesia induce hypotension. During surgery patient received crystalloid solution. At the end of surgery venous blood are examined. The noted data for statistic count in this study is electrolyte level. Statistical t -test are used in this study.Result : Pre operative SID of RL (38,58 ± 2,28) show alkalosis state, while SID of NaCl (37,42 ± 1,18) show acidosis. Post operative mean of RL SID (37,79 ± 1,18) more stable than alkalosis NaCl SID (39,67 ± 3,10).Conclusion : Administration of RL solution in caesarean section patients is more benefit than sodium chloride (NaCl) 0,9% because of it lack effect on SID acid -base balance shifting.Keywords : Crystalloid solution, Stewart Acid base balance, caesarian section, regional anesthesia.ABSTRAKLatar belakang: Pemberian cairan pada pasien yang akan operasi, khususnya sectio caesaria (SC), sebelumnya jarang dilakukan pemeriksaan elektrolit, sehingga dapat menimbulkan gangguan keseimbangan elektrolit yang akan memperberat proses metabolik dan penyembuhannya. Pemeriksaan elektrolit setelah operasi sangat penting, karena intervensi cairan selama operasi, dengan alasan untuk mengontrol elektrolit dan keseimbangan asam-basa.Metode: Penelitian ini termasuk eksperimental berupa uji klinik tahap 2 yang dilakukan secara acak tersamar ganda dengan tujuan untuk mengetahui cairan mana yang lebih baik, RL ataupun NaCl 0,9% terhadap strong ion difference (SID) keseimbangan asam-basa yang didasarkan pada metode Stewart. Pasien yang dipersiapkan untuk menjalani operasi SC, sebagai salah satu persyaratan untuk menjalani tindakan pembiusan dan mencegah mual muntah. Kemudian dilakukan pemasangan jalur intravena serta pengambilan darah vena di ruang bedah sentral dan diberikan premedikasi serta “loading” cairan sebelum dibius dengan tujuan untuk mencegah terjadinya hipotensi akibat obat regional anestesinya. Setelah itu, selama operasi pasien diberikan cairan kristaloid. Setelah operasi selesai, dilakukan pemeriksaan darah vena. Data-data yang dicatat untuk perhitungan statistik yang termasuk dalam tujuan penelitian ini adalah kadar elektrolit. Uji statistik dengan menggunakan t-test.Hasil: Rerata sebelum operasi SID RL (38,58±2,28) menunjukkan alkalosis, sedangkan SID NaCl (37,42±4,35) menunjukkan asidosis. Rerata setelah operasi SID RL (37,79±1,18) menunjukkan kestabilan dibandingkan rerata SID NaCl (39,67±3,10) yang alkalosis.Kesimpulan: Pemberian RL pada pasien sectio caesaria lebih menguntungkan dibandingkan NaCl, karena NaCl sangat mempengaruhi pergeseran SID keseimbangan asam-basa Stewart.

Pengaruh Penggunaan Mesin Cardiopulmonary Bypass Terhadap Kadar Leukosit pada Operasi Bedah Jantung

Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 4, No 1 (2012): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Recently more cardiopulmonary bypass device is used on cardiac surgery procedure. The utilization of cardiopulmonary bypass device is increasing total leukocyte count which could be one sign the Systemic inflammatory response syndrome (SIRS).Purpose: to understand the effect of cardiopulmonary bypass device utilization on leukocyte count increase on cardiac surgery.Method: this is a prospective cohort observational study on 22 patients that underwent cardiac surgery using Cardiopulmonary bypass device. Periphery blood samples for the leukocyte count was obtained pre-sternotomy (Leukocyte 1), pre-cannulation (Leukocyte 2), 15 th minute (Leukocyte 3) during CPB and 30th minute (Leukocyte 4) during CPB. Blood sample was count using automatic device. Paired t-test and Wilcoxon signed ranks test is used for statistical analysis (confidence interval < 0.05).Result: patients data characteristic will be presented as tables. This research shows no significant results on Leukocyte 2 and Leukocyte 3, p = 0.170 (p > 0.05 ). However, there is a significant result on Leukocyte 1 and Leukocyte 2, Leukocyte 1 and Leukocyte 3, Leukocyte 1 and Leukocyte 4, Leukocyte 2 and Leukocyte 4, and Leukocyte 3 and Leukocyte 4, with p = 0.019, p = 0.026, p = 0.001, p = 0.003 and p = 0.007 (p < 0.05 ), respectively.Conclusion: there is an increase on leukocyte count during CPB device utilization especially on 30th minute. On 15 th minute there is no significant increase on leukocyte count during CPB device utilization.Keywords : Leukocyte, cardiopulmonary bypass.ABSTRAKLatar belakang : Prosedur bedah jantung menggunakan mesin cardiopulmonary bypass semakin banyak dilakukan. Penggunaan mesin cardiopulmonary bypass dianggap menyebabkan peningkatan jumlah leukosit yang merupakan salah satu tanda terjadinya Systemic inflammatory response syndrome (SIRS).Tujuan : untuk mengetahui pengaruh penggunaan mesin cardiopulmonary bypass terhadap peningkatan jumlah leukosit pada operasi bedah jantung.Metode : merupakan penelitian cohort observational prospective pada 22 pasien yang menjalani operasi bedah jantung menggunakan Cardiopulmonary bypass. Pengambilan sampel darah tepi untuk menghitung leukosit diambil pada saat pra sternotomy (Leukosit 1), pra kanulasi (Leukosit 2), menit ke 15 (Leukosit 3) selama CPB dan menit ke 30 (Leukosit 4) selama CPB. Sampel darah dihitung menggunakan mesin secara otomatis. Uji statistik menggunakan Paired t-test dan Wilcoxon signed ranks test (dengan derajat kemaknaan < 0,05).Hasil : karakteristik data penderita akan disajikan dalam bentuk tabel. Pada penelitian ini didapatkan hasil uji pada Leukosit 2 dengan Leukosit 3 didapatkan hasil yang tidak bermakna p = 0,170 (p > 0,05 ). Hasil uji pada Leukosit 1 dengan Leukosit 2, Leukosit 1 dengan Leukosit 3, Leukosit l dengan Leukosit 4, Leukosit 2 dengan Leukosit 4, dan Leukosit 3 dengan Leukosit 4, didapatkan hasil yang bermakna dengan p = 0,019, p = 0,026, p = 0,001, p = 0,003 dan p = 0,007 (p < 0,05).Kesimpulan : terdapat peningkatan jumlah leukosit pada pemakaian mesin CPB terutama pada menit ke 30. Pada menit ke 15 belum terdapat peningkatan jumlah leukosit yang bermakna akibat pemakaian mesin CPB

Midazolam Intravena Dosis Rendah Tidak Mempengaruhi Nitric Oxide Intraperitoneal Mencit Balb/C Yang Terpapar Lipopolisakarida

Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 3, No 2 (2011): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Apoptosis as a pathologic mechanism of multiple organs dysfunction syndrome in sepsis can be induced by lipoplysaccharide via the transcriptional factor NF-kB activation. Nitric oxide (NO), a proinflammatory factor cytokine, has a potential rule in pathogenesis of systemic hypotension in sepsis which is caused by the activation of NF-kB. Antioxidant can reduce the effect of lipopolysacharide and inhibit NF-kB production. Midazolam, as an sedative anesthetic agent, is commonly used in intensive care unit for septic patients. This agent is recognized has antioxidant and anti-inflammatory effects via blockade of ubiquitin system of NF-kB, so the NO production can be inhibited. Objectives: to study the effect of midazolam 0,07-0,2 mg/kg on intraperitoneal NO level on Balb/c mice with injection of lipopolysaccharide intraperitoneally. Methods: a randomized post test only controlled group laboratoric experimental study on animal, used 20 male Balb/c mice divided into 4 groups, P1 as the control group. All mice were injected by lipopolysaccharide 20mg/kg intraperitoneally and 6 hours later were injected by midazolam 0,07;0,1; and 0,2mg/kg intravenously in group P2, P3, and P4 respectively. NO was taken from peritoneal macrophage culture and observed by Grease method. The results will be analyzed by Kruskal-Walis and Mann-Whitney statistical assay, with reliability p < 0,05. Results: Mann-Whitney nonparametric assay for intraperitoneal macrophage NO level showed no significant differences between group P2 and P1 (1,77 ± 0,23 vs. 1,76 ± 0,26, p=0,841) and between group P3 and P1 (1,50 ±0,22 vs. 1,76 ± 0,26, p=0,310). NO level of group P4(3,11 ± 0,44) was higher than control groupsignificantly (p=0,032). Conclusion: Midazolam is not effective for decreasing nitric oxide level in sepssi mechanisms. Midazolam 0,1 mg/kg can not decrease intraperitoneal nitric oxide level significantly. Midazolam 0,2 mg/kg will increase intraperitoneal nitric oxide level significantly.Keywords : midazolam, lipopolysaccharide, nitric oxide.ABSTRAKLatar belakang: Lipopolisakarida dapat mengaktivasi NF-kB (Nuclear Factor kappa B) untuk terjadinya apoptosis dan kegagalan organ. NO (nitric oxide), suatu sitokin pro inflamasi, memiliki peranan penting dalam patogenesis terjadinya hipoten si sistemik pada syok septik akibat aktivasi faktor transkripsional NF-kB. Antioksidan dapat melemahkan efek paparan dari lipopolisakarida dan memblok produksi NF-kB. Midazolam, obat sedasi yang seringkali digunakan di ruang rawat intensif (ICU) untuk penderita sepsis, diduga memiliki efek antioksidan dan anti inflamasi melalui penghambatan sistem ubiquitin NF-kB, sehingga pembentukan NO dapat dihambat. Tujuan: mengetahui pengaruh pemberian Midazolam dalam dosis 0,07-0,2 mg/kg terhadap kadar NO mencit yang diberi endotoksin lipopolisakarida intraperitoneal. Metode: merupakan penelitian eksperimental laboratorik dengan desain randomized post test only controlled group pada 20 ekor mencit Balb/c yang disuntik lipoplisakarida intraperitoneal dan midazolam dosis 0,07 ; 0,1 ; dan 0;2 mg/kg intravena. Mencit dibagi menjadi 4 kelompok secara random, yaitu kelompok P1 sebagai kontrol, kelompok P2 yang mendapat midazolam 0,07 mg/kg, kelompok P3 yang mendapat midazolam 0,1 mg/kg, dan kelompok P4 yang mendapat midazolam dosis 0,2 mg/kg. Pemeriksaan NO diambil dari kultur makrofag intraperitoneal setelah 6 jam pemberian midazolam. Hasil dinilai dengan uji statistik nonparametrik Kruskal Walis dan Mann-Whitney dengan derajat kemaknaan p<0,05. Hasil: Tidak terdapat perbedaan kadar NO yang signifikan pada kelompok P2 dibanding P1 (1,77 ± 0,23 vs. 1,76 ± 0,26, p=0,841) dan P3 dibanding P1 (1,50 ±0,22 vs. 1,76 ± 0,26, p=0,310). Kadar NO pada kelompok P4 (3,11 ± 0,44) lebih tinggi dibanding P1 Secara signifikan (p=0,032). Simpulan: Pada mencit Balb/c sepsis, pemberian midazolam 0,1 mg/kg tidak dapat menurunkan kadar NO intraperitoneal secara signifikan. Pemberian midazolam 0,2 mg/kg meningkatkan kadar NO intraperitoenal mencit endotoksemia secara signifikan.

Pengaruh Pretreatment Vitamin C 200 Miligram Terhadap Kadar Cortisol Serum Pada Induksi Etomidat

Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 3, No 1 (2011): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Backgrounds: Etomidate is one of anesthetic agent which has minimal effect on cardiovascular function. However, etomidate depress cortisol production. Vitamin C is one of the agent that hamper the effect of etomidate toward cortisol production. Objectives: To analyze the effect of pre-treatment with vitamin C 200 mg on cortisol serum concentration in elective surgery under general anesthesia. Method: This double blind, Randomized Controlled Trial with 30 subjects which divided into two groups (n=15), control group and treatment group which received etomidate 0,2 mg/kgBW and combination of etomidate and vitamin C 200 mg in pre-operation respectively. Each group was then examined for cortisol serum concentration pre-anesthesia, 2 hours post induction, and 8 hours post induction. Wilcoxon Signed Rank Test and Paired T Test was performed to compare cortisol serum concentration in each group. While Mann Whitney and Independent Sample T Test was used to compare between control and treatment group. Results: Cortisol serum concentration in control group between pre-anesthesia ;244,15 (181,39-382,75)] and 2 hours post induction [185,52 ± 35,88]; and between 2 hours and 8 hours post induction [349,81 ± 121,28] was significantly different with value 0,002 and 0,000 respectively. It showed that decrement of etomidate dosage mo 0,2 mg/kgBW still able to decrease cortisol serum production significantly. However, in treatment group cortisol serum concentration pre-anesthesia [258,49 1"5,45-369,09)] and 2 hours post induction [202,14 ± 45,3]; and between 2 hours and 8 hours post induction [251,39 ± 122,91] was non significant, with p value 0,256 and 0,691 respectively. It proved the negative effect of vitamin C on cortisol depression effect of etomidate. Cortisol serum concentration between control and treatment group was significantly different on 2 hours post induction, but non significant on 8 hours post induction. It showed that the negative effect of vitamin C in cortisol depression because of etomidate only significant during 8 hours post eduction Conclusions: The effect of Vitamin C 200 mg iv 30 minutes pre-operation can minimize Cortisol depression on administration of etomidate 0,2 mg/kgBWKeywords : Pretreatment, vit c 200 mg, cortisol serum, etomidateABSTRAKLatar Belakang: Etomidat adalah salah satu agen anestesi yang berefek minimal terhadap kardiovaskular. Namun, etomidat mendepresi produksi kortisol. Salah satu agen yang dapat meminimalisir efek depresi tersebut adalah vitamin C. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh pretreatment vitamin C 200 mg pada operasi elektif dengan anestesi umum terhadap kadar kortisol serum. Metode: penelitian ini merupakan penelitian Randomized Contolled Trial dengan 30 subjek yang dibagi dalam dua kelompok sama besar (n=15), yaitu kelompok kontrol yang menerima etomidat 0,2 mg/kgBB dan kelompok perlakuan yang menerima etomidat dan vitamin C 200 mg iv preoperasi. Masing-masing kelompok tersebut selanjutnya diperiksa kadar kortisolnya pre anestesi, 2 jam pasca induksi, 8 jam pasca induksi. Uji statistik Wilcoxon Signed Rank Test dan Paired T Test digunakan untuk membandingkan kadar kortisol di masing-masing kelompok. Uji Mann Whitney dan Independent Sample T Test digunakan untuk membandingkan antar kelompok kontrol dan perlakuan. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan pada kelompok kontrol, kadar kortisol preanestesi 244,15 dan 2 jam pasca induksi 185,52 + 35,88 berbeda bermakna (p=0,002). Begitu pula antara kadar 2 jam dengan 8 jam pasca induksi 349,81 + 121,28 (p=0,000). Sedangkan pada kelompok perlakuan, kadar kortisol antara pre anestesi 258,49 (175,45-369,09) dan 2 jam pasca induksi 202,14 + 45,3 tidak berbeda bermakna (p=0,256), begitu pula 2 jam pasca induksi dengan 8 jam pasca induksi 251,39 + 122,91 (p=0,691). Kesimpulan: Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemberian vitamin C 200 mg intra vena 30 menit pre operasi dapat menurunkan efek depresi kortisol oleh pemberian etomidat 0,2 mg/kgBB.Kata kunci : pretreatment, vit c 200 mg, cortisol serum, etomidat

Perbedaan Agregasi Trombosit pada Penderita yang Mendapat Propofol dan Penthotal

Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 2, No 2 (2010): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background : Perioperative bleeding is a serious and common problem in surgery. Some induction anesthetic agents are thought to inhibit platelet aggregation. The propofol and penthotal had effect on platelet aggregation. Objective : Determine the difference effects of propofol and penthotal administration on platelet aggregation. Method: An Randomized Clinical Control Trial study on 34 patients who received general anesthesia, divided into two groups (n: 17). Both groups received Propofol or Penthotal were examined TAT before and five minutes after induction All data were analyzed by pair t -test and independent t-test for Propofol or Penthotal and platelet aggregation. Result : Maximal platelet aggregation before and after the administration of propofol and penthotal is significant, difference. In propofol and penthotal group, the percentage of maximal platelet aggregation was 54,93±9,38 and 66,26±8,94 (p=0,0001). We found 64,71% hypoaggregation, 17,65% mild hypo aggregation and 17,65% normo aggregation on propofol group, and 11,76% of hypo aggregation, 23,53% mild hypoaggregation and 64,71% normoaggregation on penthotal group. Statistically, propofol caused significant hypoaggregation of platelet compared to penthotal). Conclusion : Propofol significantly lowers the percentage of maximal platelet aggregation and causes more hypoaggregation than penthotal.Keywords : propofol, penthotal, ADP, platelet aggregationABSTRAKLatar belakang : Perdarahan perioperatif merupakan masalah yang sering dihadapi dalam setiap operasi. Penggunaan obat anestesi induksi mempunyai pengaruh menghambat agregasi trombosit. Propofol dan Penthotal mempengaruhi Agregasi Trombosit. Tujuan: Membuktikan perbedaan pengaruh Propofol dan Penthotal terhadap Agregasi Trombosit. Metode: Merupakan penelitian Randomized Clinical Control Trial pada 34 pasien yang menjalani anestesi umum, dibagi menjadi 2 kelompok (n=17), Propofol dan Penthotal. Masing-masing kelompok diperiksa TAT sebelum induksi dan 5 menit setelah induksi. Uji statistik pair t-test dan independent t-test terhadap propofol atau penthotal dan agregasi trombosit. Hasil: Agregasi maksimal trombosit, sebelum dan sesudah pemberian propofol atau penthotal berbeda bermakna. Kelompok penthotal persentase agregasi maksimal trombosit 68,73 ± 6,06% dan propofol 54,68 ± 9,55%, menunjukkan perbedaan yang bermakna antara keduanya (p=0,001). Hasil sesudah perlakuan, kelompok propofol 14 orang hipoagregasi (82,4%), dan 3 orang normoagregsi (17,6%). Sementara kelompok penthotal 5 orang hipoagregasi (29,4%), dan sisanya 12 orang normoagregasi (70,6%). Secara statistik propofol secara bermakna menyebabkan hipoagregasi daripada penthotal. Kesimpulan : Propofol secara bermakna menurunkan agregasi maksimal trombosit dan menyebabkan hipoagregasi lebih banyak daripada penthotal.Kata kunci : propofol, penthotal, ADP, agregasi trombosit

Pengelolaan Cairan Pediatrik

Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 2, No 2 (2010): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Different fluids in children with fluid administration in adults, physiology of body fluids, renal and cardiovascular different from adults affect the type of fluid in children. For ease of maintenance amount of fluid in the childs needs can use the formula of Holliday. Maintenance fluid requirements should be added in children with fever and sweating a lot hypermetabolic status. In children who will operation, fluid replacement should be fasting. All the fluids lost during surgery should be replaced with isotonic crystalloid fluids, colloid or blood products.Keywords : -ABSTRAKPemberian cairan pada anak berbeda dengan pemberian cairan pada dewasa. fisiologi dari cairan tubuh, ginjal dan kardiovaskuler yang berbeda dari orang dewasa mempengaruhi jenis cairan yang diberikan pada anak. Untuk memudahkan menghitug jumlah kebutuhan cairan rumatan pada anak dapat digunakan rumus dari Holliday dan Segar. Kebutuhan cairan rumatan harus ditambah pada anak dengan demam keringat yang banyak dan status hipermetabolik. Pada anak yang akan mejalani operasi, perlu diberikan cairan pengganti puasa. Semua cairan yang hilang selama operasi harus diganti dengan cairan isotonik kristaloid, koloid atau produk darah.Kata kunci : -

Perbandingan Kadar IL-10 Serum dengan dan Tanpa Infiltrasi Levobupivakain pada Nyeri Pasca Insisi

Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 2, No 2 (2010): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background : Incicion pain provokes the increase of glucocorticoid hormone that extends periode of the wound healing. Pain transmission will be inhibited by Levobupivacaine 0,25 % infiltration. This therapy will decrease the cellular immunity suppression so the macrop hage function in helping the T cell activation are not inhibited. This cell activation will increase the IL-10 serum level. Objective : To compare IL-10 serum level with and without Levobupivacaine 0,25 % infiltration post incicion. Methods : This laboratoric experimental study was designed with randomized post test only control group method on thirty five Wistar rats. The experimental group was devided randomly into three groups. The control group (K) contained 5 Wistar rats, group P1 and P2 contained 15 Wistar rats of each. In the group K, the rats were anesthesized without incicion and without Levobupivacaine 0,25 % infiltration, the IL-10 serum level was examined on the day one. In the group P1, the rats were anesthesized followed with 2 cm subcutaneous depth incicion and without Levobupivacaine 0,25 % injection. And in the group P2 , the rats were anesthesized followed by 2 cm subcutaneous depth incicion and Levobupivacaine 0.25 % infiltration was administered. The reinfiltration on the group P1 and P2 w as administered every 8 hour twice daily. IL- 10 serum level was examined on the day 1, 2 and 3. And then compared among three group.The statistic datas were analysed with SPSS 10,0 for windows programme. Results : The mean of rats body weight among three groups were not significantly different ( p = 0,874 ). IL-10 serum level in the group K was 0,13 ± 0,02 pg/ml. The level of IL-10 serum in the group P1 on day one was 0,16 ± 0,12 pg/ml ; day two was 0,16 ± 0,06 pg/ml and day three was 0,18 ± 0,07 pg/ml. There were 23 % increased of IL-10 serum level on the day one and day two, 38 % on the day three in the group P1. The IL-10 serum level in group P2 on day one, two and three were 0,21 ± 0,15 pg/ml ; 0,30 ± 0,11 pg/ml ; 0,29 ± 0,13 pg/ml respectively. And in the group P2 there were 61 % increased of IL -10 serum level on the day one, 130 % on the day two and 123 % on the day three respectively. IL-10 serum level among three groups were significantly different with p = 0,000. The clinical parameter datas in the three groups were normaly distributed. The increase of IL -10 serum level was highest in group with Levobupivacaine 0,25 % infiltration on day two ( p < 0,05 was considered significant ). Conclusions : Infiltration of Levobupivacaine 0,25 % is increased IL-10 serum level. There are 23 % increased of IL-10 serum level on the day one and day two, 38 % on the day three in the group P1. And in the group P2 there are 61 % increased of IL -10 serum level on the day one, 130 % on the day two and 123 % on the day three respectively. The highest IL-10 serum level is 130 % that achieve in group with Levobupivacaine 0,25 % infiltration on day two.Keywords : IL-10 serum level, Levobupivacaine 0,25 % infiltration, incision pain.ABSTRAKLatar belakang : Nyeri insisi menyebabkan peningkatan hormon glukokortikoid yang memperlama penyembuhan luka. Transmisi nyeri dapat dihambat dengan infiltrasi Levobupivakain 0,25 %. Terapi ini akan mengurangi supresi imunitas seluler sehingga fungsi makrofag dalam membantu aktifasi sel T tidak terhambat. Aktifasi sel T ini diduga akan meningkatkan kadar IL-10 serum. Tujuan : Membandingkan kadar IL-10 serum dengan dan tanpa infiltrasi Levobupivakain 0,25 %. Metode : Dilakukan penelitian eksperimental laboratorik dengan disain “Randomized Post test only control group design”, pada tigapuluh lima ekor tikus Wistar. Kelompok penelitian dibagi menjadi tiga kelompok secara acak. Kelompok kontrol (K) lima ekor tikus, kelompok Perlakuan 1 (P1) dan kelompok Perlakuan 2 (P2) masing-masing limabelas ekor tikus. Kelompok kontrol (K) tikus dibius, tanpa insisi dan tanpa infiltrasi lalu diperiksa kadar IL-10 serumnya pada hari pertama. Kelompok Perlakuan 1 (P1) tikus dibius lalu dilakukan insisi sepanjang 2 cm dipunggung kedalaman subkutis dan injeksi tanpa Levobupivakain 0,25 % disekitar luka. Kelompok Perlakuan 2 (P2) tikus dibius laku dilakukan insisi sepanjang 2 cm dipunggung kedalaman subkutis dan infiltrasi dengan Levobupivakain 0,25 % disekitar luka. Injeksi pada kelompok P1 dan infiltrasi pada kel ompok P2 diulangi dua kali tiap 8 jam selama 24 jam. Kadar IL-10 serum kelompok P1 dan kelompok P2 diperiksa pada hari ke pertama, kedua dan ketiga. Dibandingkan kadar IL-10 serum antara ketiga kelompok. Analisis statistik dengan program SPSS 10,0 for windows. Hasil : Dari hasil pengamatan rerata berat badan tikus pada ketiga kelompok berbeda tidak bermakna dengan p = 0,874 ( p > 0,05 ). Kadar IL-10 serum pada kelompok K 0,13 ± 0,02 pg/ml, sedangkan kelompok perlakuan 1 (P1) hari pertama 0,16 ± 0,12 pg/ml ; hari kedua 0,16 ± 0,06 pg/ml dan hari ketiga 0,18 ± 0,07 pg/ml. Terjadi kenaikan sebesar 23 % pada hari pertama dan hari kedua serta 38 % pada hari ketiga pada kelompok perlakuan 1 (P1). Kadar IL-10 serum kelompok P2 pada hari pertama, kedua dan ketiga adalah 0,21 ± 0,15 pg/ml : 0,30 ± 0,11 pg/ml ; 0,29 ± 0,13 pg/ml. Terjadi kenaikan sebesar 61 % pada hari pertama, 130 % pada hari kedua dan 123 % pada hari ketiga. Data parameter klinis ketiga kelompok terdistribusi normal ( p > 0,05 ). Kadar IL-10 serum pada ketiga kelompok berbeda bermakna dengan nilai p 0,000 (p < 0,05). Kenaikan kadar IL-10 serum tertinggi adalah pada kelompok dengan infiltrasi Levobupivakain 0,25 % pada hari kedua yaitu sebesar 130 %. Kesimpulan : Infiltrasi Levobupivakain 0,25 % disekitar luka insisi meningkatkan kadar IL -10 serum. Terjadi kenaikan sebesar 23 % pada hari pertama dan hari kedua serta 38 % pada hari ketiga pada kelompok perlakuan 1 (P1). Dan pada kelompok perlakuan 2 (P2) terjadi kenaikan sebesar 61 % pada hari pertama, 130 % pada hari kedua dan 123 % pada hari ketiga. Kenaikan kadar IL-10 serum tertinggi adalah pada kelompok infiltrasi dengan Levobupivakain 0,25 % yang terjadi pada hari kedua yaitu sebesar 130 %.Kata kunci : Kadar IL-10 serum, infiltrasi levobupivakain 0,25 % , nyeri insisi

Perbandingan Efektifitas Propofol Dan Tiopental Pada Intubasi Endotrakea Tanpa Pelumpuh Otot

Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 1, No 3 (2009): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background : Administration offentanyl followed by propofol provides adequate conditions for tracheal intubation without muscle relaxants. Other hypnotic drµgs have not been thoroµghly investigated in this regard. Intubating conditions with fentanyl followed by propofol or thiopentone are compa red in this study.Method : In a randomized,double blind study 48 healthly ( ASA I & II ) males and females were assigned to one of two groups ( n = 24 ) .After atropine intravena 0,01 mg.kg-1 midazolam 0,07 mg.kg-1 were injected as premedication. Fentanyl 2 µg.kg-1 was injected over 90 sec followed by propofol 2 mg.kg-1 ( Group 1 ), thiopentone 5 mg.kg-1 ( Group 2). Ninety seconds after administration hypnotic drµgs , laryngoscopy and intubtion were attempted. Intubating conditions were assessed as excellent,good or poor on the basis of ease of ventilation, jaw relaxation,position of the vocal cords,and patient response to intubation and slow inflation of the endotracheal tube cuff.Results : Demographic and preclinical data were not significantly different. Cardiovascular responses were significantly different between two groups (p <0,005 ) in which use thiopentone as hypnotic drµg.Overall conditions at intubation were significantly (p <0,005 ) better, and the frequency of good conditions was significantly ( p < 0,005 ) higher in the propofol group compared the thiopentone group.No patiens was treated for hypotension or bradycrdia.Conclusion : Propofol 2 mg.kg-1 was superior to thiopentone 5 mg.kg-1.for tracheal intubation when combined withfentanyl 2 µg.kg-1 and no muscle relaxants.Keywords : Administration offentanyl , propofol, thiopenthone, tracheal intubationABSTRAKLatar belakang : Pemberian fentanyl yang diikuti dengan propofol memberikan kondisi yang cukup untuk fasilitasi intubasi endotrakea tanpa menggunakan pelumpuh otot. Beberapa obat hipnotis anestesi telah diselidiki pada saat ini. Intubasi endotrakea dengan menggunakan fentanyl diikuti dengan propofol atau thiopental tanpa menggunakan pelumpuh otot dibandingkan pada penelitian ini.Metode : Dengan metode randomisasi acak tersamar ganda. 48 pasien dengan ASA 1 & II dibagi ke dalam 2 kelompok ( n = 24 ). Setelah pemberian Sulfas atropin 0,01 mg/kgBB, midazolam 0,07 mg/kgBB sebagai premedikasi.Fentanyl 2 µg/kgBB diberikan intravena setelah 90 detik diberikan propofol 2 mg/kgBB ( kelompok I) dan tiopental 5 mg/kgBB ( kelompok II ) .Kemudian dilakukan ventilasi oksigen 6 L/menit selama 90 detik.Setelah itu laringoskopi intubasi dilakukan.Kemudahan intubasi endotrakea dinilai sebagai sempurna,baik dan buruk.Penilaian kemudahan intubasi endotrakea berdasarkan kemudahan ventilasi, relaksasi rahang, posisi pita suara dan respon pasien terhadap intubasi dan inflasi pada pipa endotrakea.Hasil : Data demograpik dan data pengukuran pra penelitian didapatkan hasil tidak berbeda.Respon kardiovaskuler sebelum dan sesudah intubasi endotrakea didapatkan hasil berbeda bermakna (p <0,005 ) lebih stabil pada penggunaan tiopental sebagai obat hipnosis.Seluruh kondisi pada intubasi endotrakea mendapatkan hasil berbeda bermakna ( p < 0,005 ) lebih baik, dan frekwensi intubasi endotrakea pada kondisi baik berbeda bermakna ( p < 0,005 ) lebih tinggi pada kelompok propofol dibandingkan dengan kelompok tiopental untuk intubasi endotrakea bila dikombinasikan dengan fentanyl 2 µg/kgBB tanpa menggunakan pelumpuh otot.Pada penelitian ini tidak ada pasien yang diterapi untuk kasus hipotensi dan bradikardi.Kesimpulan : Propofol 2 mg/kgBB lebih baik dari tiopental 5 mg/kgBB untuk intubasi endotrakea dengan kombinasifentanyl 2 µg/kgBB tanpa menggunakan pelumpuh otot.Kata kunci : pemberianfentanyl , propofol, thiopentone, intubasi endotrakea

Kadar Substansi P Serum Pada Pemberian Parasetamol Intravena Perioperatif Pada Pasien Kraniotomi

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 7, No 2 (2015): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang : Manajemen nyeri pasca kraniotomi sangat penting karena 60-84% pasien pasca kraniotomi merasakan nyeri sedang hingga berat. Rasa nyeri ini ditransmisikan olehserabutsaraf C yang melibatkan neuropeptida substansi P (SP). Pemberian analgetik golongan opioid memiliki efek samping seperti alergi, gangguan gastrointestinal, mual, muntah, hipotensi, depresi nafas maupun retensi urin. Paracetamol memiliki efek yang mengurangi kebutuhan analgesia opioid, dan menghambat hiperalgesia yang dimediasi oleh SP.Tujuan : Mengetahui efek pemberian parasetamol intravena perioperatif terhadap kadar SP serum pasca kraniotomi.Metode : Empat puluh responden berusia 18-45 tahun akan menjalani kraniotomi reseksi tumor intraserebral elektif, ASA I-II, dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok P diberikan paracetamol 1000 mg intravena per 6 jam selama 24 jam pasca operasi, kelompok K mendapat plasebo. Analgetik pasca operasi menggunakan morfin syringe pump 0,01 mg/kg/jam titrasi sesuai VAS.  Level SP serum diperiksa menggunakan Cusabio SP ELISA kit sebelum operasi dan 12 jam setelah operasi. VAS dinilai pada jam 1, 6, 12, dan 24 jam pasca operasi. Jumlah total pemakaian morfin dalam 24 jam dan efek mual muntah dicatat.Hasil : Kadar SP pra operasi pada kelompok P 16,89± 31,395 pg/ml dan pasca operasi 36,58 ± 46,960 pg/ml. Level SP pra operasi kelompok K 9,58 ± 10,656 pg/ml dan pasca operasi 26,09 ± 22,506 pg/ml. Peningkatan kadar SP pasca operasi kelompok P sebesar 19,69± 28,625 pg/ml, sedangkan kelompok K 16,51 ± 14,972 pg/ml. Tidak terdapat perbedaan bermakna antara kadar SP dan  peningkatannya pada kedua kelompok penelitian (p=0,793 dan p=0,540), sedangkan nilai  VAS dan jumlah morfin yang diberikan berbeda bermakna (p<0,05).Simpulan : Pemberian parasetamol intravena perioperatif pada pasien kraniotomi mengurangi kebutuhan morfin dan nilai VAS lebih baik, namun tidak mempengaruhi kadar SP pasca operasi.