Hari Hendriarto Satoto
Unknown Affiliation

Published : 13 Documents
Articles

Found 13 Documents
Search
Journal : Jurnal Anestesiologi Indonesia

Perbedaan Pengaruh Pemberian Etomidate Dan Penthotal Terhadap Agregasi Trombosit

Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 3, No 3 (2011): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Perioperative bleeding is frequently found in a surgery, while anesthesia agent for induction (etomidate and penthotal) influences inhibition of thrombocyte aggregation.Aim of study: to define the difference between etomidate and penthotal effect towards thrombocyte aggregation.Methods: This experimental research included 43 subjects who received general anesthesia. Subjects were divided in two groups subsequently, Group I (n=23) received intravenous etomidate 0,3mg/kgBW, while group II (n=20) received intravenous penthothal 5 mg/kgBW. Blood samples were drawn from each patient 5 minutes before and 5 minutes after induction. Trombocyte aggregation test were performed in Clinical Pathology Laboratory afterwards to all samples using ADP 10, 5, and 2 µM as inductor. Paired t-test and independent t-test were performed as statistical analysis (with p<0,05 considered as significant).Results: ADP 10 µM is the most sensitive inductor in detecting hypoaggregation. The differences in maximum thrombocyte aggregation percentage between before and after administration of anesthetic agents are significant in both group, with p value 0,000 respectively. Trombocyte aggregation percentage post intervention on group I (66,0±8,9) is significantly different compared to group II (77,9±6,8), with p value 0,000. Substraction between post and pre intervention trombocyte aggregation percentage between group I (14,7±3,9) was also significantly different compared to group II (3,6 ± 3,2), with p value 0,000. Hypoaggregation was found in 14 from 23 patients at group I, and I from 20 patients at group II.Conclusions: Intravenous etomidate 0,3mg/kgBB and penthotal 5mg/kgBB were both causing significant decrease in trombocyte aggregation, however etomidate caused more significant decrement in thrombocyte aggregation compared to penthotal. Besides, hypoaggregation was also more common to be found in etomidate group.Keywords : Etomidate, Penthothal, ADP, Trombocyte aggregationABSTRAKLatar Belakang: Perdarahan perioperatif sering dijumpai dalam setiap operasi. Penggunaan obat anestesi induksi (etomidat dan pentotal) berpengaruh dalam menghambat agregasi trombosit.Tujuan: untuk mengetahui perbedaan pengaruh etomidat dan pentotal terhadap agregasi trombosit.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental pada 43 pasien yang mendapat anestesi umum. Subjek selanjutnya dibagi menjadi dua kelompok, dengan kelompok I mendapatkan etomidat dosis 0,3mg/kgBB intravena, sedang kelompok II (n=20) mendapatkan penthothal dosis 5mg/kgBB intravena. Sampel darah pasien pada kedua kelompok diambil 5 menit sebelum dan 5 menit sesudah induksi. Semua spesimen dibawa ke Laboratorium Patologi Klinik untuk dilakukan pemeriksaan Tes Agregasi Trombosit dengan ADP 10, 5, dan 2 µM sebagai induktor. Uji statistik menggunakan paired t-test dan independent t-test (dengan p< 0,05 dianggap signifikan).Hasil: ADP 10 µM merupakan induktor yang paling sensitif dalam mendeteksi hipoagregasi. Pada penggunaan ADP 10 µM sebagai induktor didapatkan perbedaan persentase agregasi maksimal trombosit yang bermakna antara sebelum dan sesudah pemberian etomidat maupun pentotal dengan nilai p masing-masing 0,000. Persentase agregasi trombosit pasca perlakuan pada kelompok I (66,0±8,9) berbeda bermakna dengan kelompok II (77,9±6,8), dengan nilai p 0,000. Selisih persentase agregasi trombosit sebelum dan sesudah perlakuan pada kelompok I (14,7±3,9) juga berbeda bermakna dengan kelompok II (3,6±3,2), dengan nilai p 0,000. Hipoagregasi ditemukan pada 14 dari 23 pasien pada kelompok I, dan 1 dari 20 pasien pada kelompok II.Kesimpulan: Etomidat 0,3mg/kgBB intravena dan pentotal 5mg/kgBB intravena menyebabkan penurunan agregasi trombosit yang bermakna, namun penurunan agregasi trombosit pada kelompok etomidat lebih rendah secara bermakna dibandingkan pentotal, selain itu lebih banyak pasien dari kelompok etomidat yang mengalami hipoagregasi.

Obat – Obat Anti Nyeri

Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 3, No 3 (2011): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pain (nociception) is a unique problem, on one hand is to protect our bodies and on the other hand is an ordeal. Pain also has a clear practical meaning. Pain warns us of danger; pain can help the diagnosis; sometimes it can support the healing of the restriction of movement and support the immobilization of the injured part. There are a number of pharmacological substances that can be used as an "analgesic" to relieve pain in conscious patients without causing memory loss as the total general anesthesia. Pharmacological substance which can be used as an analgesic is still referring to the concept of multi analgesia capital. The concept of multi analgesia capital refers to the way in which the used NSAID pain nociception in the transduction process, local anesthetics and opioids in the transmission process in the modulation and perception. Where is the advantage of the multimodal analgesia is obtained the effect of higher analgesia without increasing side effects compared to increasing the provision of analgesia in a single dose.Keywords : -ABSTRAKRasa nyeri (nosisepsi) merupakan masalah unik, disatu pihak bersifat melindungi badan kita dan dilain pihak merupakan suatu siksaan. Nyeri juga mempunyai makna praktis yang jelas. Nyeri memperingatkan kita akan bahaya; nyeri dapat membantu diagnosis; kadang-kadang dapat menunjang penyembuhan dengan pembatasan gerakan dan menunjang imobilisasi bagian yang cedera. Terdapat sejumlah substansi yang secara farmakologis dapat digunakan sebagai “analgesik” untuk meredakan nyeri pada penderita yang sadar tanpa menimbulkan penurunan daya ingat total seperti pada anestesi umum. Substansi yang secara farmakologis dapat digunakan sebagai analgesik tersebut tetap merujuk pada konsep analgesia multi modal. Konsep analgesia multi modal ini merujuk pada perjalanan nyeri nosisepsi dimana digunakan NSAID pada proses transduksi, anestetik lokal pada proses transmisi dan opioid pada proses modulasi dan persepsi. Dimana keuntungan dari pada analgesia multimodal ini adalah didapatkan efek analgesi yang lebih tinggi tanpa meningkatkan efek samping dibandingkan peningkatan dosis pada pemberian analgesia tunggal.

Ventilasi Satu Paru

Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 2, No 3 (2010): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

One lung ventilation is to provide mechanical ventilation in a selected one of the lungs and block the airway of the other lung. One lung ventilation is indicated to improve surgical access, protects lung ventilation and intensive care. During one lun g ventilation, mixing of oxygenated blood that is not the collapse of the lung with oxygenated blood from the dependent lung terventilasi widen PA-a O2 gradient. In vitro studies showed that inhalation anesthetic agents directly reduce the action of hypoxi c pulmonary vasocontriction and theoretically lead to increased blood flow to the lungs is not ventilated thereby increasing pulmonary shunt and PaO2 became decrease and often cause hipoksemi. Three techniques are performed: (1) placement of a double lumen bronchial tubes, (2) the use of a single lumen tracheal tube in his contact with the bronchial inhibitor, or (3) the use of single lumen bronchial tubes. High tidal volume used to maintain arterial oxygenation decrease in tidal volume, combined with the use of positive end-expiratory pressure (PEEP), can minimize the occurrence of parenchymal injury.Keywords : -ABSTRAKVentilasi satu paru adalah memberikan ventilasi mekanik pada salah satu paru yang dipilih dan menghalangi jalan napas dari paru lainnya. Ventilasi satu paru diindikasikan untuk meningkatkan akses bedah, melindungi paru dan perawatan intensif ventilasi. Selama ventilasi satu paru, percampuran darah yang tidak teroksigenasi dari paru atas yang kolaps dengan darah teroksigenasi dari paru dependen yang terventilasi memperlebar gradien O2 PA-a. Penelitian secara in vitro memperlihatkan bahwa agen anestesi inhalasi secara langsung mereduksi aksi dari hypoxic pulmonar vasocontriction dan secara teori menyebabkan meningkatnya aliran darah ke paru yang tidak terventilasi sehingga meningkatkan shunt pulmoner dan akhirnya PaO2 menjadi turun dan sering menyebabkan hipoksemi. Tiga teknik yang dilakukan: (1) penempatan sebuah tabung bronkial lumen ganda, (2) penggunaan tabung trakeal lumen tunggal pada penghubungnya dengan penghambat bronkial, atau (3) penggunaan lumen tunggal tabung bronkial. Volume tidal yang tinggi digunakan untuk mempertahankan oksigenasi arteri Penurunan volume tidal, dikombinasi dengan penggunaan akhir ekspirasi tekanan positif (PEEP), dapat meminimalkan terjadinya cedera parenkim.Kata kunci : -

Perbedaan Pengaruh Pemberian Propofol Pentothal Dan Etomidate Terhadap Perubahan Kadar Procalcitonin Pada Operasi Dengan General Anestesi

Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 3, No 3 (2011): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Procalcitonin is introduced and reviewed as a new marker of the inflammatory response to infection. Induction anesthetic agent usage is known for the procalcitonin increases.Objective: To determine the difference effects of propofol, penthotal and etomidate administration on procalcitonin concentration in general anastesia.Method: An experimental study on 24 patients who received general anesthesia. Samples were divided into three groups (n:8, respectively). The 1 st , the 2 nd ,and the 3 rd group received propofol , penthotal or etomidate as the induction anesthetic agent during the procedure, with the rate of administration propofol 2,5mg/body weight, penthotal 5mg/body weight, etomidat 0,3 mg/body weight and O2 :N2 O ratio 50%:50%. A specimen was taken from each group before induction anesthetic, four hours post induction and twenty four hours post induction. All specimens were taken to the clinical pathology laboratory for procalcitonin concentration testing. Statistical analyses were perfomed using Kruskal-Wallis test and Friedman test (with level of significance p<0,05).Result: The patients characteristics and variables data to be compared were normally distributed. The results showed a significant difference in percentage of procalcitonin concentration before and after the administration of propofol (p=0,008) but not significant for penthotal group and etomidat group (p=l,00). In the propofol, penthotal and etomidat group, the mean percentage of procalcitonin concentration was (0,175±0,1) ,(0,05±0,05) and (0,05±0,05). Statistically, propofol caused increase significant concentration of procalcitonin to penthotal and etomidate, with (p=0,053).Conclusion: Propofol significantly increased the percentage of procalcitonin concentration whether penthotal and etomidate given not significantly result for procalcitonin concentration.Keywords : propofol, penthotal, etomidate, procalcitonin concentration, general anesthesiaABSTRAKLatar belakang: Prokalsitonin diperkenalkan dan digunakan sebagai sebuah marker baru dari respon inflamasi terhadap infeksi. Obat induksi anestesi yang biasa digunakan telah diketahui mempengaruhi peningkatan prokalsitonin.Tujuan: Untuk menentukan perbedaan pengaruh dari propofol, pentotal dan etomidat terhadap kadar prokalsitonin dalam general anestesi.Metode: Studi eksperimental terhadap 24 pasien yang dilakukan general anestesi. Sampel dibagi menjadi 3 grup masing-masing 8 sampel tiap grup. Grup 1, 2 dan 3 mendapatkan propofol, pentotal atau etomidat sebagai obat induksi anestesi selama prosedur penelitian, dengan dosis pemberian propofol 2,5 mg/kgbb, pentotal 5 mg/kgbb dan etomidat 0,3 mg/kgbb dan rasio O2 dan N 2O 50% : 50%, sampel darah penderita diambil sebelum induksi anestesi, 4 jam setelah induksi anestesi dan 24 jam setelah induksi anestesi. Semua sampel kemudian dikirim ke laboratorium Patologi Klinik RSUP dr Kariadi Semarang untuk diperiksa kadar prokalsitonin. Data yang diperoleh dianalisa dengan tes Kruskall -Wallis dilanjutkan dengan tes Friedman.Hasil: Karakteristik umum penderita dan data variabel yang didapat kemudian dibandingkan memberikan gambaran distribusi yang merata. Pada penelitian ini menunjukkan hasil perbedaan bermakna dari kadar prokalsitonin sebelum dan sesudah perlakuan pada kelompok propofol (p=0,008) dan tidak bermakna pada kelompok pentotal dan etomidat dengan nilai (p=l,00). Dalam kelompok propofol, pentotal dan etomidat nilai tengah dari kadar prokalsitonin adalah (0,175±0,1), (0,05±0,05) dan (0,05±0,05). Secara meyakinkan bahwa propofol menyebabkan peningkatan kadar prokalsitonin dibandingkan pentotal dan etomidat, dengan nilai (p=0,053)Kesimpulan: Propofol secara meyakinkan meningkatkan kadar prokalsitonin dibandingkan pentotal dan etomidat.

Mekanisme Kerja Obat Anestesi Lokal

Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 3, No 1 (2011): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Regional anesthesia is growing and expanding its use, given the variety of benefits offered, such as relatively cheap, minimal systemic effects, produce adequate analgesia and the ability to prevent the stress response is more perfect. Local anesthetic drug is chemically divided into two major categories, namely the class of Amide and ester groups. These chemical differences are reflected in differences in the metabolism of the place, where the ester group is mainly metabolized by the enzyme pseudo-cholinesterase in the plasma while the Amide groups mainly through enzymatic degradation in the liver. This difference is also related to the magnitude of the possibility of allergies, in which the ester group derived from p-amino-benzoic acid has a greater frequency of allergic tendencies. Local anesthetic commonly used in our country for the class of esters are procaine, whereas the Amide groups are lidocaine and bupivacaine. Mechanism of action of local anesthetic drugs to prevent transmission of nerve impulses (conduction blockade) by inhibiting the delivery of sodium ions through selective sodium ion gates in neuronal membranes. Failure of the sodium ion permeability of the gate to increase the speed of depolarization of the slowdown as a potential threshold was not reached so that action potentials are not propagated. Local anesthetic did not alter the resting potential or transmembrane potential threshold. Pharmacokinetics of the drug include absorption, distribution, metabolism and excretion. Complications of local anesthetic is a local side effects can occur at the injection site hematoma and abscess while systemic side effects such as neurological in the central nervous, respiratory, cardiovascular, immunological, musculoskeletal, and hematologic Some local anesthetic drug interactions include coadministration may increase the potency of each drug. decreased metabolism of local anesthetics as well as increase the potential for intoxication.ABSTRAKAnestesi regional semakin berkembang dan meluas pemakaiannya, mengingat berbagai keuntungan yang ditawarkan, diantaranya relatif lebih murah, pengaruh sistemik yang minimal, menghasilkan analgesi yang adekuat dan kemampuan mencegah respon stress secara lebih sempurna. Secara kimiawi obat anestesi lokal dibagi dalam dua golongan besar, yaitu golongan ester dan golongan amide. Perbedaan kimia ini direfleksikan dalam perbedaan tempat metabolisme, dimana golongan ester terutama dimetabolisme oleh enzim pseudo-kolinesterase di plasma sedangkan golongan amide terutama melalui degradasi enzimatis di hati. Perbedaan ini juga berkaitan dengan besarnya kemungkinan terjadinya alergi, dimana golongan ester turunan dari p-amino-benzoic acid memiliki frekwensi kecenderungan alergi lebih besar. Obat anestesi lokal yang lazim dipakai di negara kita untuk golongan ester adalah prokain, sedangkan golongan amide adalah lidokain dan bupivakain. Mekanisme kerja obat anestesi local mencegah transmisi impuls saraf (blokade konduksi) dengan menghambat pengiriman ion natrium melalui gerbang ion natrium selektif pada membrane saraf. Kegagalan permeabilitas gerbang ion natrium untuk meningkatkan perlambatan kecepatan depolarisasi seperti ambang batas potensial tidak tercapai sehingga potensial aksi tidak disebarkan. Obat anestesi lokal tidak mengubah potensial istirahat transmembran atau ambang batas potensial. Farmakokinetik obat meliputi absorpsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi. Komplikasi obat anestesi lokal yaitu efek samping lokal pada tempat suntikan dapat timbul hematom dan abses sedangkan efek samping sistemik antara lain neurologis pada Susunan Saraf Pusat, respirasi, kardiovaskuler, imunologi ,muskuloskeletal dan hematologi Beberapa interaksi obat anestesi lokal antara lain pemberian bersamaan dapat meningkatkan potensi masing-masing obat. penurunan metabolisme dari anestesi lokal serta meningkatkan potensi intoksikasi. 

General Anesthesia Technique in Tetralogy of Fallot Patient Undergo Tooth Extraction Surgery

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 11, No 1 (2019): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Tetralogy of fallot is one of the congenital cyanotic heart disease that is often found in children. The disorder has four features, a ventricular septal defect (VSD), aortic overriding, infundibulary stenotic, and hypertrophy right ventricular. Like other congenital heart disease, tetralogy of fallot sometimes related to fatal complications, such as bacterial endocarditis which was related to dental infections. Anesthetic management in tetralogy of Fallot is often described in patients with known cardiac disease. Perioperative considerations include preoperative preparation for surgery, intraoperative anesthetic management, and common postoperative issues in the intensive care unit.Case: A three-year-old boy had history of Tetralogy of Fallot. He has many severe early childhood caries. From the physical examination, many severe caries and roots gangrene was  found in both jaws. He was planned to get teeth extraction under general  anesthesia.Discussion: Tetralogy of fallot (TOF) is a congenital cyanotic heart disease that is often found in children, approximately around of 7–10% from overall congenital heart disease in children. Children with TOF have an increased risk of bacterial endocarditis. Invasive procedure was performed under general anesthesia. Patient was successfully operated under general anesthesia.Conclusion: Tetralogy of Fallot is a congenital cyanogenic heart disease that is a challenge for anesthetist. General anesthesia is the best suitable anesthetic technique in instable patient.

Perbedaan Pengaruh Pemberian Infus HES Dengan Berat Molekul 40 kD dan 200 kD Terhadap Plasma Prothrombin Time dan Partial Thromboplastin Time Kajian Pada Pasien Dengan Perdarahan Sampai 20% Estimated Blood Volume

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 1, No 1 (2009): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground : There were increased number of patient with major surgey. High molecular weight HES had better haemodynamic function but affected coagulation much. PT and PTT study were done to know effect HES in coagulation system.Objective : To compare difference of PT and PTT between HES 40 kD and HES 200 kD in patient up to 20% Estimated Blood Volume bleeding.Methods : We had experimental study with “Single Blind Randomized Clinical Trial” design. 46 patients were randomly divide into 2 group. Group 1 were given HES 40 kD and group 2 were given HES 200 kD. All the patient were administrated PT and PTT study before operation. In operating room, they were inducted by thiopentone 5 mg/kgBB, atracurium besilat 0,5 mg/kgBB, inhalation agent with isofluran, tramadol atracurium were added in necessary. PT and PTT were administrated 15 minute and 2 hours after administrated. Statisic data were analyzed with SPSS 11,5 for windows.Result : It was demonstrated in this study that HES 00 kD had longer PTT from preoperation (29,72 ± 1,70) to (32,69 ± 0,77) and preoperation PT (12,85 ± 0,86) to (13,31 ± 0,73). There were longer PTT in HES 40 kD from (29,89 ± 1,47) to (34,10 ± 1,30). There were significantly higher PTT in HES 200 kD after administration of HES. (mean 4,21 ± 1,28 vs 2,97 ± 1,76 repectively, p = 0,009; p < 0,05).Conclusion : HES 200 kD was significantly longer PT and PTT than HES 40 kD.Keywords : HES, Prothrombin Time, Partial Thromboplastin Time.ABSTRAKLatar belakang : Pasien dengan operasi besar yang beresiko terjadi perdarahan semakin meningkat setiap tahun. HES dengan berat molekul besar mempertahankan hemodinamik lebih baik tetapi mengganggu faktor koagulasi. Pemeriksaan PT dan PTT dilakukan untuk memeriksa pengaruh HES pada koagulasi.Tujuan : Membuktikan pemanjangan PT dan PTT pada pemberian larutan HES 40 kD dan HES 200 kD terhadap pasien yang menjalani operasi dengan pendarahan sampai 20% EBV.Metode : Dilakukan penelitian eksperimental pada 46 pasien dengna desain “Single Blind Randomized Clinical Trial”. Kelompok penelitian dibagi menjadi 2 kelompok secara acak, masing-masing 23 pasien. Pasien diambil sampel PT dan PTT pre operasi. Pasien diinduksi dengan thiopentone 5 mg/kgBB, atracurium besilat 0,5 mg/kgBB, pemeliharaan anestesi dengan isofluran, tramadol sebagai analgetik dan ditambahakan atracurium bila perlu. Sebagai cairan rumatan anestesi, kelompok I (HES 40 kD) dan kelompok II (HES 200 kD) sebagai pengganti kehilangan darah. 15 menit dan 4 jam setelah pemberian perlakuan dilakukan pemeriksaan PT dan PTT. Analisis data statistik menggunakan SPSS 11,5 for windows.Hasil : Dari hasil penelitian, pemberian ES 200 kD memperpanjang PTT dari preoperasi (29,72 ± 1,70) menjadi (32,69 ± 0,77) dan PT dari preoperasi (12,85 ± 0,86) menjadi (13,31 ± 0,73). Pada HES 40 kD didapatkan pemanjangan PTT dari preoperasi (29,89 ± 1,47) menjadi (34,10 ± 1,30). Analisis statistik antara PTT kelompok HES 40 kD dan 200 kD menunjukkan hasil berbeda bermakna dengan nilai p = 0.009 (p<0.05).Simpulan : Pemberian HES 200 kD memperpanjang PT dan PTT lebih besar dari p ada HES 40 kD.Kata kunci : HES, Prothrombin Time, Partial Thromboplastin Time

Perbandingan Penggunaan Triamcinolone Acetonide Dan Gel Larut Air Pada Pipa Endotrakea Terhadap Angka Kejadian Nyeri Tenggorok

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 6, No 3 (2014): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Salah satu komplikasi pemasangan pipa endotrakea adalah nyeri tenggorok paska operasi akibat kerusakan mukosa trakea. Pemberian lubrikasi pada pipa endotrakea diharapkan mampu mengurangi angka kejadian nyeri tenggorok. Triamcinolon acetonide gel mengandung kortikosteroid disamping dapat sebagai agen lubrikasi juga mempunyai efek anti inflamasi.Tujuan : Membandingkan efek lubrikasi pipa endotrakea dengan triamcinolone acetonide gel dan gel larut air terhadap angka kejadian nyeri tenggorok paska intubasi.Metode : 50 pasien yang menjalani operasi elektif dengan anestesi umum di RSUP Dr.Kariadi Semarang dan memenuhi kriteria inklusi dibagi secara acak menjadi 2 kelompok. Induksi menggunakan propofol 2 mg/kgBB iv, rokuronium 0,6 mg/kgBB iv dan fentanyl 1 mcg/kgBB iv kemudian dilakukan intubasi dilakukan intubasi dengan pipa endotrakea high volume low pressure non kinking dengan ukuran 7.0 untuk perempuan dan 7,5 untuk laki-laki. Kelompok 1 (K1) diberikan triamcinolone acetonide in orabase 0,1 % pada pipa endotrakea, kelompok 2 (K2) diberikan gel larut air pada pipa endotrakea (K-Y jelly) masing-masing diberikan 0,5 cc dilubrikasikan pada pipa endotrakea sepanjang 15 cm dari ujung distal. Selanjutnya cuff dikembangkan dengan udara dalam spuit 20 cc sampai tidak terdengar kebocoran udara napas. Rumatan anestesi dengan isofluran 1-1,5 % dalam O2 dan N2O 50% dan pelumpuh otot rokuronium intermiten. Analgetik diberikan ketorolak 30 mg dan tramadol 2 mg/kgBB iv. Selesai operasi, ekstubasi pipa endotrakea dilakukan saat pasien sudah sadar. Dilakukan observasi nyeri tenggorok 1 jam, 6 jam dan 24 jam setelah ekstubasi.Hasil : Angka kejadian nyeri tenggorok paska intubasi endotrakea pada kelompok 1 lebih kecil dibandingkan pada kelompok 2, tetapi tidak bermakna secara statistik (p>0,05).Kesimpulan : Pemberian lubrikasi pipa endotrakea dengan triamcinolone acetonide gel dapat mengurangi angka kejadian nyeri tenggorok

Pengaruh Dexmedetomidine Intravena Terhadap Kadar Superoxide Dismutase 1 (SOD-1) Ginjal Kelinci Padarenal Ischemic Reperfusion Injury Model

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 8, No 3 (2016): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang : Perubahan hemodinamik selama operasi dapat menyebabkan hipoperfusi organ yang berakibat pada kegagalan organ ginjal. Ischemic Reperfusion Injury (IRI) adalah penyebab utama dari kegagalan ginjal akut, dan dapat berakibat pada peningkatan morbiditas dan angka kematian. Dexmedetomidine adalah agonis α2 -adrenergik yang selektif,  menunjukkan sifat sparing anestesi, analgesia dan sifat simpatolitik, termasuk digunakan sebagai agen pelindung untuk Ischemic Reperfusion Injury (IRI) pada banyak sistem organ. Superoxide Dismutase 1 (SOD-1) memainkan peran penting dalam menyeimbangkan status oksidasi dan antioksidan, memberikan pertahananpenting terhadap toksisitas superoksida radikal, sehingga dapat melindungi sel dari kerusakan.Tujuan : Mengetahui efek dexmedetomidine intravena terhadap kadar SOD-1 ginjal kelinci dengan renal ischemic reperfusion injury model.Metode : Penelitian eksperimental Randomize Post Test Only Control Group Design menggunakan 16 kelinci New Zealand. 8 kelinci diberikan perlakuan dengan pemberian dexmedetomidine 0,5 mcg/kgbb/jam dan dilakukan oklusi pada arteri renalis. 8 kelinci yang tidak mengalami perlakuan juga dilakukan oklusi arteri renalis dan dilakukan pemeriksaan SOD-1 sebagai kontrol. Uji normalitas dengan Saphiro Wilk dilanjutkan uji parametrik menggunakan Mann Whitney.Hasil :Kadar rerata SOD-1 pada kelompok kontrol 0,8 dan nilai P 0,389 (normal) dan kadar rerata SOD-1 pada kelompok perlakuan 1,21 dan nilai P 0,014 (tidak normal). Uji beda digunakan uji parametrik Mann Whitney-test didapatkan nilai p = 0,016. Karena nilai p < 0,05 maka dapat disimpulkan terdapat perbedaan bermakna.Kesimpulan: Dexmedetomidine secara signifikan meningkatkan nilai SOD-1 pada kelinci New Zealand yang diberikan perlakuan oklusi pada arteri renalis.

Pengaruh Pemberian Ropivakain Infiltrasi Terhadap Tampilan Kolagen Di Sekitar Luka Insisi Pada Tikus Wistar

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 8, No 1 (2016): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Nyeri pasca bedah adalah nyeri akut yang diawali oleh kerusakan jaringan akibat tindakan pembedahan. Dalam keadaan nyeri, kadar β endorfin meningkat dan mensupresi makrofag sehingga aktifitas makrofag yang dipengaruhi oleh IFN γ menurun sehingga mengganggu penyembuhan luka. Proses penyembuhan luka pada umumnya dibagi atas beberapa fase yang masing-masing saling berkaitan yaitu fase inflamasi, proliferasi, dan maturasi. Kolagen adalah komponen kunci pada fase dari penyembuhan luka. Infiltrasi anestetik lokal seperti ropivakain mengurangi intensitas nyeri dengan menghambat jalur transmisi impuls nyeri, sehingga menurunkan sekresi hormon glukokortikoid dan menghilangkan salah satu faktor penghambat penyembuhan luka. Tujuan : Membuktikan pengaruh pemberian infiltrasi anestetik lokal Ropivakain terhadap tampilan kolagen pada luka operasi tikus Wistar. Metode : Dilakukan penelitian eksperimental dengan desain Randomized Post Test Only Control Group. Sebanyak 15 ekor tikus wistar dibagi menjadi 3 kelompok, kelompok K sebagai kontrol, Kelompok P1 diberi luka insisi dan infiltrasi Nacl 0,9% disekitar luka, Kelompok P2 diberi luka insisi dan infiltrasi Ropivakain disekitar luka. Ketiga kelompok diambil sampel dari jaringan luka pada hari ke 5 kemudian dilakukan pemeriksaan histopatologi untuk menilai kepadatan kolagen. Distribusi data diuji dengan Shapiro Wilk. Dilanjutkan dengan Uji beda Kruskal Wallis dan Mann Whitney. Hasil : Hasil uji Kruskal Walis kepadatan kolagen pada ketiga kelompok didapatkan nilai P = 0,07. Hasil Uji Mann Whitney P1 terhadap P2 nilai p= 0,011, P1 terhadap kontrol nilai p= 0,008, P2 terhadap kontrol nilai p = 0,242. Kesimpulan : Terdapat perbedaan bermakna kepadatan kolagen jaringan luka yang diberi infiltrasi Ropivakain dibandingkan yang tidak diberi infiltrasi Ropivakain.