Nurtjahjo Dwi Sasongko
Faculty of Biology, The University of Jenderal Soedirman, Jalan Dr. Soeparno 63, Purwokerto 53123, Indonesia

Published : 4 Documents
Articles

Found 4 Documents
Search

OPTIMASI METODE LISIS ALKALI UNTUK MENINGKATKAN KONSENTRASI PLASMID Hardianto, Dudi; Indarto, Alfik; Sasongko, Nurtjahjo Dwi
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol 2, No 2 (2015): December 2015
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (635.116 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v2i2.510

Abstract

Plasmids are extra chromosomal molecules of DNA that replicate autonomously and found in prokaryote and eukaryote cells. There are a number of methods that are used to isolate plasmids, such as alkaline lysis, boiling lysis, using cesium chloride, and chromatography. Amongst the disadvantages in plasmid isolation methods are lengthy time especially when handling a large number of samples, high cost, and low purity. Alkaline lysis is the most popular for plasmid isolation because of its simplicity, relatively low cost, and reproducibility. This method can be accomplished in 50 minutes to one hour. In this research, the alkaline lysis method was developed to obtain suitable plasmid for applications in a molecular biology laboratory. The aim of this research was to reduce contaminants and improve yield of plasmid. The result of isolation of pICZA plasmid in Escherichia coli gave the concentration of 3.3 to 3.8 µg/µL with the purity of 1.99.Keywords: Plasmid isolation, pICZ A, Escherichia coli, rapid, alkaline lysis  ABSTRAKPlasmid merupakan molekul DNA ekstrakromosomal yang bereplikasi secara mandiri dan ditemukan dalam sel prokariot dan eukariot. Banyak metode yang digunakan untuk isolasi plasmid, seperti: lisis alkali, lisis dengan pemanasan, penggunaan sesium klorida, dan kromatografi. Kelemahan beberapa metode isolasi DNA adalah waktu isolasi yang lama terutama saat isolasi plasmid dalam jumlah banyak, mahal dan kemurniannya yang rendah. Metode lisis alkali merupakan metode yang sangat umum untuk isolasi plasmid karena mudah dilakukan, relatif murah, dan reprodusibilitas. Metode ini dapat dilakukan dalam 50 menit sampai 1 jam. Pada penelitian ini dikembangkan metode lisis alkali untuk memperoleh plasmid yang sesuai untuk penggunaan di laboratorium biologi molekuler. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengurangi jumlah kontaminan dan meningkatkan konsentrasi plasmid. Hasil isolasi plasmid pICZA dalam Escherichia coli mempunyai konsentrasi antara 3,3 sampai 3,8 µg/µL dan kemurniannya 1,99.Kata Kunci: Isolasi plasmid, pICZ A, Escherichia coli, cepat, lisis alkali
Effects of Soy-Germ Protein on Catalase Activity of Plasma and Erythocyte of Metabolic Syndrome Women WINARSI, HERY; WIJAYANTI, SIWI PRAMATAMA MARS; SASONGKO, NURTJAHJO DWI; PURWANTO, AGUS
HAYATI Journal of Biosciences Vol 22, No 1 (2015): January 2015
Publisher : Bogor Agricultural University, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (949.131 KB) | DOI: 10.4308/hjb.22.1.1

Abstract

Oxidative stress always accompany patients with metabolic syndrome (MS). Several researchers reported that soy-protein is able to decrease oxidative stress level. However, there is no report so far about soy-germ protein in relation to its potential to the decrease oxidative stress level of MS patients. The aim of this study was to explore the potential of soy-germ protein on activity of catalase enzyme in blood’s plasma as well as erythrocytes of MS patients. Double-blind randomized clinical trial was used as an experimental study. Thirty respondents were included in this study with MS, normal level blood sugar, low-HDL cholesterol but high in triglyceride, 40-65 years old, Body Mass Index > 25 kg/m2, live in Purwokerto and agreed to sign the informed consent. They were randomly grouped into 3 different groups, 10 each: Group I, was given special milk that contains soy-germ protein and Zn; Group II, soy-germ protein, while Group III was placebo; for two consecutive months. Data were taken from blood samples in 3 different periods i.e. 0, 1, and 2 months after treatment. Two months after treatment, there was an increase from 5.36 to 20.17 IU/mg (P = 0.028) in activity of catalase enzyme in blood’s plasma respondents who consumed milk containing soy-germ protein with or without Zn. A similar trend of catalase activity, but at a lower level, was also noticed in erythrocyte; which increased from 88.31 to 201.11 IU/mg (P = 0.013). The increase in activity of catalase enzyme in blood’s plasma was 2.2 times higher than that in erythrocytes.
Ekstrak Daun Kapulaga Menurunkan Indeks Atherogenik dan Kadar Gula Darah Tikus Diabetes Induksi Alloxan Winarsi, Hery; Sasongko, Nurtjahjo Dwi; Purwanto, Agus; Nuraeni, Indah
Agritech Vol 33, No 3 (2013)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/agritech.9548

Abstract

Cardamom (Amomum Cardomomum) leaves has antioxidant in vitro, which was supported by a high flavonoids and vitamin C contents. It has been reported that antioxidants improved atherogenic index and insulin secretion. The aims of this study were to explore the potential of cardamom leaves extracts as atherogenicity and blood glucose levels controlling in alloxan-induced diabetic rats. The animal experiments were 45 rats (Rattus norvegicus L.) Sprague Dawley strain, male, aged 2-3 months, weighing 210-310 g. After acclimatization for 1 week, rats were fasted overnight and then induced alloxan monohydrate at a dose of 120 mg/kg body weight. One week later, the rats in the test blood glucose levels using the Nesco Multi Check Glucose, Kemel Int’l Corp.  via the lateral tail vein of rats, blood glucose check attached to the equipment, and after 5 seconds glucose levels was read. Atherogenic index was determined by the formula: {( Chol-tot) –HDL}/HDL. Blood samples for analysis of total-cholesterol and chol-HDL taken from the eye vein, after the rat anesthetized using ketamine. Rats with blood glucose levels > 200 mg / dL, were selected as experimental animals, and then divided into 3 groups of 15 each. Group I, fed standard and cardamom leaves extract; Group II, fed standard and glibenclamide, whereas group III, only fed standard for 2 weeks. At the beginning diabetic, their weight dropped from 247.63+28.5 to 220.9+26.6 g (P< 0.05). However, after feeding cardamom leaves extract for 2 weeks their body weight were stable (P>0.05), the blood glucose levels decreased from 199.25+100.5 to 102.88+17 mg/dL (P<0.05), and the atherogenic index decreased from 0.61 to 0.38 (P< 0.05). Based on the result, it could be concluded that cardamom leaves extract is potential as anti-atherogenic, lowers blood glucose levels, and maintain weight loss in diabetic rats.ABSTRAKDaun  kapulaga  (Amomum  Cardomomum) memiliki  potensi antioksidan  in  vitro,  yang  didukung  oleh  tingginya kandungan  flavonoid dan  vitamin  C  di  dalamnya. Senyawa  antioksidan  diketahui  mampu  memperbaiki  indeks atherogenik dan sekresi insulin. Penelitian ini bertujuan untuk eksplorasi potensi ekstrak daun kapulaga sebagai pengendali atherogenisitas dan kadar glukosa darah tikus diabetes hasil induksi alloxan. Sebagai hewan percobaannya digunakan 45 ekor tikus (Rattus norvegicus L.) galur Sprague Dawley, jantan, umur 2-3 bulan, berat badan antara 210-310 g. Setelah dilakukan aklimatisasi selama 1 minggu, tikus dipuasakan semalam, lalu keesokan harinya diinduksi alloxan monohidrat dengan dosis 120 mg/kg berat badan (BB). Satu minggu kemudian, tikus di uji kadar glukosa darahnya menggunakan Nesco Multi Check Glucose, Kemel Int’l Corp. Melalui vena lateralis ekor tikus, darah dicucukkan ke alat check glucose, dan setelah 5 detik kadar glukosanya terbaca. Indeks aterogenik (IA) ditentukan berdasar rumus: (Kolesterol total-HDL)/HDL. Sampel darah untuk analisis kolesterol dan HDL diambil dari vena mata, setelah tikus dianestesi menggunakan ketamin. Tikus dengan kadar glukosa darah > 200 mg/dL, dipilih sebagai hewan percobaan, kemudian dibagi menjadi 3 kelompok masing-masing 15 ekor. Kelompok I, diberi pakan standar dan ekstrak daun kapulaga; kelompok II, diberi pakan standar dan glibenklamid; sedangkan kelompok III, hanya diberi pakan standar selama 2 minggu. Saat awal diabetes, berat badannya turun dari 247,63+28,5 menjadi 220,9+26,6 g (P<0,05). Akan tetapi setelah 2 minggu diberi ekstrak daun kapulaga, berat badannya menjadi stabil (P>0.05), kadar glukosa darahnya menurun dari 199,25+100,5 menjadi 102,88+17 mg/dL (P<0.05), dan indeks atherogenik menurun dari 0,61 menjadi 0,38 (P<0.05). Kesimpulannya, ekstrak daun kapulaga berpotensi sebagai antiatherogenik, menurunkan kadar glukosa darah, dan mempertahankan berat badan tikus diabetes.
Katekin dalam Teh Hijau sebagai Kelator Alami pada Individu Terpapar Plumbum Pembawa Polimorfisme Gena Nitrit Oksida Sintase 3 Hernayanti, Hernayanti; Moeljopawiro, Sukarti; Sadewa, Ahmad Hamim; Sasongko, Nurtjahjo Dwi; Hidayah, Hexa Apriliana
Majalah Ilmiah Biologi BIOSFERA: A Scientific Journal Vol 36, No 2 (2019)
Publisher : Fakultas Biologi | Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.mib.2019.36.2.633

Abstract

Teh hijau merupakan salah satu jenis teh yang  banyak dikenal karena berkhasiat untuk menyembuhkan berbagai penyakit contohnya hipertensi. Daun teh hijau mengandung senyawa polifenol yang dikenal sebagai catechin. Catechin dapat berfungsi sebagai penangkap radikal bebas seperti senyawa singlet oksigen, radikal hidroksil dan peroksinitrit. Berdasarkan sifat tersebut catechin diharapkan dapat mengatasi keracunan logam berat Pb pada individu terpapar Pb. Pengobatan keracunan Pb selama ini menggunakan senyawa kelator kimiawi dimerkaprol, namun dilaporkan pemakaiannya  menimbulkan efek samping berupa naiknya tekanan darah.Tujuan penelitian ini untuk 1) mengetahui efek teh hijau terhadap kadar NO pada individu terpapar Pb pembawa  polimorfisme dan non polimorfisme gena NOS3. 2) mengetahui efek teh hijau terhadap tekanan darah sistolik dan diastolik pada individu terpapar Pb pembawa  polimorfisme dan non polimorfisme gena NOS3. Penelitian menggunakan metode survai dengan rancangan kasus kontrol. 30 orang pekerja bengkel mobil di Purwokerto sebagai subyek kasus dan 30 orang subyek kontrol berasal dari desa Pamijen, yang diperkirakan tidak terpolusi Pb. Untuk mengetahui adanya polimorfisme, gena individu ditentukan dengan metode PCR-RFLP. Enzim restriksi MboI untuk  gena NOS3. Parameter yang diukur adalah kadar Pb darah, NO, tekanan darah sistolik dan diastolik. Data dianalisis dengan uji t berpasangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 40% dari 30 orang subyek kasus terdeteksi sebagai individu pembawa polimorfisme gena NOS3 dengan genotip GA dan DNA terpotong enzim MboI sepanjang 206 bp, 119 bp dan 87 bp. Sebanyak  60 % subyek kasus terdeteksi sebagai individu non polimorfisme dengan genotip GG, DNA terletak pada 206 bp. Kadar NO setelah pemberian teh hijau mengalami peningkatan baik pada individu pembawa polimorfisme gena NO3 maupun non polimorfisme, sedangkan tekanan darah sistolik dan diastolik pada kedua kelompok individu mengalami penurunan. Kesimpulan hasil penelitian teh hijau dapat digunakan sebagai kelator alami keracunan Pb.