Himawan Sasongko
Bagian Anestesi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro/ RSUP Dr. Kariadi Semarang

Published : 12 Documents
Articles

Found 12 Documents
Search

Pengaruh Pemberian Ketorolak dan Parecoxib Iintramuskuler Terhadap Gambaran Histopatologi Tubulus Proksimal Ginjal Tikus Wistar Ferdinand, Jerry; Brahmani, Nur Hajriya; Sasongko, Himawan
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 6, No 2 (2014): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

ABSTRACTBackground: Nonsteroid Anti inflammation drugs has role in controlling inflammation through COX-1 and COX -2 inhibition. Ketorolac is one of COXinhibitor non selective that widely used, meanwhile Parecoxib is one of the newest drugs of COX-2 selective inhibitor. Both of the drugs mainly used as analgetics that have metabolit elimination in the kidneys, which has risk to cause renal cell injury especially in the proxymal tubuli. The changes of renalis structure can be observed from microscopic evaluation, including inflammation reaction, cell degenerative, necrosis and even cell fibrosis.Objectives : To observed the changes in histopathology proxymal tubuli renal of wistar rats after given ketorolac and parecoxib intramuscular.Methods : we’re conducting an experimental laboratoric research using randomized post test control group design with the population of 21 male wistar rats, devided into 3 randomized group, which consist of 7 wistar rats givien incision wounds each group. The 1st group which was the control group (I) were not given any medication, The 2nd group (K) were given 0,54 mg intramuscular ketorolac every 8 hours for 5 days, while the 3rd group (P) were given 0,72 mg parecoxib intramuscular every 12 hours for 5 days. After 5 days, we observed the histopthology structure of the rats in each groups. The data were analyzed statistically using Kruskal Wallis and Mann-Whitney test.Results: There’s significants results in all variables. The p values for first group (I) compare with second group (K) are 0,002 ; first group (I) with third group (P) (p=0,007) ; second group (K) to third group (P) with p values 0,002.Conclution: from the result we conclude that based on histopathologic proximal tubuli findings, rats which were given ketorolac had more significant changes compare with control group and rats that were given parecoxib.Keywords : ketorolac, parecoxib, histopathology proxymal tubuli renal ABSTRAKLatar Bekakang: Obat anti inflamasi non steroid (OAINS) berperan dalam mengendalikan inflamasi melalui inhibisi COX 1 dan COX 2.Ketorolak merupakan salah satu non selektif inhibitor COX yang sudah luas penggunaannya. Parecoxib merupakan inhibitor COX-2 selektif yang lebih baru.Ketorolak dan parecoxib sebagai analgesik yang sering dipakai eliminasi metabolitnya di ginjal.Pada batas-batas tertentu ginjal tidakdapat melakukan fungsinya dalam eliminasi obat sehingga menyebabkan cedera sel ginjal, terutama daerah tubulus proksimal. Perubahan struktur yang terjadi akibat kerusakan tersebut dapat diamati dari gambaran mikroskopis cedera sel yang dapat meliputi reaksi inflamasi, degenerasi, nekrosis bahkan fibrosis.Tujuan: Mengetahui pengaruh pemberian ketorolak dan parecoxib intramuscular terhadap gambaran histopatogi tubulus proksimal ginjal tikus wistar.Metode: Dilakukan penelitian eksperimental laboratorik menggunakan randomized post test control group design pada 21 ekor tikus wistar jantan yang dibagi menjadi 3 kelompok secara acak masing- masing kelompok terdiri dari 7 ekor tikus wistar yangdiberi luka incisi.Kelompok kontrol (I) tidak mendapat ketorolak dan parecoxib,Kelompok I (K) mendapat ketorolak dengan dosis 0,54mg IM tiap 8 jam, Kelompok II (P) mendapat parecoxib 0,72mg IMtiap 12 jam selama 5 hari dan dilakukan terminasi serta pengambilan jaringan ginjal.Analisa statistik data tidak normalmenggunakan uji statistik Kruskal Wallis lalu dilanjutkan dengan uji statistik Mann-Whitney.Hasil: Nilai p antara kelompok I terhadap kelompok K = 0,002, terdapat perbedaan bermakna antara I dan K, nilai p antara kelompok I dan kelompok P = 0,007 terdapat perbedaan bermakna antara I dan P, sedangkan nilai p antara kelompok K dan P = 0,002 maka terdapat perbedaan bermakna antara K dan P.Kesimpulan: Ketorolak lebih merusak ginjal secara gambaran histopatologi tubulus proksimal dibandingkan dengan kontrol dan parecoxib.Kata kunci : Ketorolak, Parecoxib, Gambaran histopatologi tubulus proksimal ginjal
Pengaruh Blok Paravertebral Injeksi Tunggal dan Multipel Terhadap Kadar Kortisol Plasma Pasien Tumor Payudara Yang Dilakukan Eksisi Biopsi Nugraha, Dian; Sasongko, Himawan; Witjaksono, Witjaksono
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 4, No 3 (2012): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Background: Mostly, definitive treatment for breast surgery was done under general anaesthesia. But general anaesthesia was not able to inhibit pain transmission to the brain. It also have side effects such as postoperative nausea and vomiting. There are some regional anaesthesia techniques such as infiltration, epidural and thoracal paravertebral block. Paravertebral block technique is by injecting local anaeshesia to block somatic and symphatetic ipsilaterally above and below injection site. Surgical trauma can attenuate stress response (local and systemic), increase of cortisol level is one the endocrine systemic response.Objective: To compare the difference effects between single injection and multiple injection thoracal paravertebral block in plasma cortisol and VAS in breast cancer patients undergoing biopsy excision.Methods: Sample consists of 20 patients undergoing biopsy excision. Blood samples were taken at 8 in the morning before surgery and 8 tomorrow morning. VAS was checked at hour-0 (when the patient enter the recovery room) and hour-24. Patients divided into 2 groups, multiple (M) injection group and single (T) injection group. Normality of data was tested by Shapiro-Wilk the distribution is normal. Analytical analysis done with pre and post test group design.Results: General characteristics on each group has normal distribution (p>0,05). Plasma cortisol level after surgery in group M (224,73 ± 0,73) and T (234,01 ± 0,84) was lower than before surgery in group M (256,55 ± 0,91) and T (258,34 ± 0,91) but not significantly different (p>0,05). VAS after surgey hour-0 in group M (3,5 ± 0,2) was lower than group T (3,9 ± 0,2) and significantly different (p=0,02). VAS after surgey hour -24 in group M (3,3 ± 0,7) was lower than group T (3,7 ± 0,7) but not significantly different (p=0,388).Conclusion: VAS at hour-0 in group M was significantly lower than group T. There is no differences in plasma cortisol level and VAS hour-24 between multiple (M) injection group and single (T) injection group in patient undergoing biopsy excision.Keywords : paravertebral block single injection, paravertebral block multiple injection, cortisol, VAS. ABSTRAKLatar Belakang: Tindakan bedah definitif payudara banyak dilakukan dengan anestesi umum. Namun, dengan anestesi umum ada sebagian rangsang nyeri yang tidak terhambat ke otak dan medulla spinalis. Anestesi umum juga dikaitkan dengan insidensi mual dan muntah. Beberapa tehnik anestesi regional yang pernah disebutkan dalam literatur untuk operasi payudara antara lain dengan infiltrasi lokal, anestesi epidural torakal dan blok paravertebral torakal. Blok paravertebral torakal merupakan teknik injeksi lokal di samping vertebra torakal yang menyebabkan blokade saraf somatik dan simpatik ipsilateral pada dermatom torakal di atas dan di bawah lokasi injeksi. Trauma pembedahan menyebabkan respon inflamasi lokal dan respon metabolik endokrin sistemik. Respon sistemik setelah pembedahan meliputi peningkatan hormon katabolik seperti katekolamin, kortisol, renin, aldosteron, dan glukagon.Tujuan: Membandingkan pengaruh antara blok paravertebral injeksi tunggal dan multipel terhadap kadar kortisol plasma dan VAS pasien yang dilakukan operasi eksisi biopsi.Metode: Penelitian ini dilakukan pada 20 penderita tumor payudara yang menjalani operasi eksisi biopsi. Pengambilan sampel darah perifer untuk pemeriksaan kortisol pada jam 8 pagi sebelum operasi dan jam 8 pagi besoknya. Nilai VAS diperiksa pada jam ke-0 (saat pasien masuk ruang pemulihan), dan jam ke-24. Penderita dikelompokkan secara random menjadi 2 kelompok. Kelompok M mendapat injeksi multipel dan kelompok T mendapat injeksi tunggal. Dilakukan uji normalitas distribusi kadar kortisol darah dan VAS dengan menggunakan Shaphio-Wilk test. Apabila p>0,05 maka distribusinya disebut normal. Analisis statistik dilakukan untuk menguji perbedaan kelompok dengan pre dan post test group design, signifikan bila p<0,05.Hasil: Data karakteristik sampel penelitian tiap kelompok terdistribusi normal(p>0,05). Kadar kortisol plasma pasca operasi pada kelompok M (224,73 ± 0,73) dan T (234,01 ± 0,84) lebih rendah dibandingkan sebelum operasi pada kelompok M (256,55 ± 0,91) dan T (258,34 ± 0,91) tetapi tidak berbeda bermakna (p>0,05). VAS pasca operasi jam ke-0 pada kelompok M (3,5 ± 0,2) lebih rendah dibanding kelompok T (3,9 ± 0,2) dan berbeda bermakna (p=0,02). VAS pasca operasi jam ke-24 pada kelompok M (3,3 ± 0,7) lebih rendah dibanding kelompok T (3,7 ± 0,7) tetapi tidak bermakna (p=0,388).Kesimpulan: VAS pasca operasi jam ke-0 kelompok M lebih rendah secara signifikan dibanding kelompok T. Tidak didapatkan perbedaan bermakna pada kadar kortisol plasma dan VAS jam ke-24 pasca operasi antara injeksi multipel (M) dan injeksi tunggal (T) pada pasien yang menjalani eksisi biopsi.
Perkembangan Sirkuit Anestesi Nugroho, Taufik Eko; Sasongko, Himawan; ., Soenarjo
Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 4, No 1 (2012): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

For an anesthesiologist, an understanding of the functioning of anesthesia delivery systems is very important. Based on the facts of the American Society of Anesthesiologists Data (ASA), Caplan found that despite the demands of the patient against the errors of the anesthesia delivery systems are rare, but when it happens it will be a big problem, which often result in death or permanent brain damage. 1,2 Anesthesia circuit, known as the respiratory system is a system that functions to deliver oxygen and anesthetic gases from the anesthesia machine to a patient who was operated. Anesthesia circuit is a pipe / tube that is an extension of the upper respiratory tract of patients. Rebreathing anesthesia circuit and is classified as a non-rebreathing based on presence or absence of expiratory air is inhaled again. This circuit is also classified as open, semi open, semi closed and closed based on the presence or absence of (1) reservoir bag, (2) expiratory air we breathe again (rebreathing exhaled gas), (3) components to absorb korbondioksia and expiratory (CO2 absorber) (4) one-way valve.Keywords : -ABSTRAKBagi seorang ahli anestesi, pemahaman terhadap fungsi dari sistem penghantaran anestesi ini sangatlah penting. Berdasarkan fakta dari data American Society of Anesthesiologists (ASA), Caplan menemukan bahwa meskipun tuntutan dari pasien terhadap kesalahan dari sistem penghantaran anestesi jarang terjadi, akan tetapi ketika itu terjadi maka akan menjadi suatu masalah yang besar, yang sering mengakibatkan kematian atau kerusakan otak yang menetap. Sirkuit anestesi atau dikenal dengan sistem pernafasan merupakan sistem yang berfungsi menghantarkan oksigen dan gas anestesi dari mesin anestesi kepada pasien yang dioperasi. Sirkuit anestesi merupakan suatu pipa/tabung yang merupakan perpanjangan dari saluran pernafasan atas pasien. Sirkuit anestesi diklasifikasikan sebagai rebreathing dan non-rebreathing berdasarkan ada tidaknya udara ekspirasi yang dihirup kembali. Sirkuit ini juga diklasifi kasikan sebagai open, semi open, semi closed dan closed berdasarkan ada tidaknya (1) reservoir bag, (2) udara ekspirasi yang dihirup kembali (rebreathing exhaled gas), (3) komponen untuk menyerap korbondioksia ekspirasi serta (CO2 absorber) (4) katup satu arah.
Obat – Obat Anti Nyeri Yudhowibowo, Ifar Irianto; Satoto, Hari Hendriarto; Sasongko, Himawan
Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 3, No 3 (2011): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Pain (nociception) is a unique problem, on one hand is to protect our bodies and on the other hand is an ordeal. Pain also has a clear practical meaning. Pain warns us of danger; pain can help the diagnosis; sometimes it can support the healing of the restriction of movement and support the immobilization of the injured part. There are a number of pharmacological substances that can be used as an "analgesic" to relieve pain in conscious patients without causing memory loss as the total general anesthesia. Pharmacological substance which can be used as an analgesic is still referring to the concept of multi analgesia capital. The concept of multi analgesia capital refers to the way in which the used NSAID pain nociception in the transduction process, local anesthetics and opioids in the transmission process in the modulation and perception. Where is the advantage of the multimodal analgesia is obtained the effect of higher analgesia without increasing side effects compared to increasing the provision of analgesia in a single dose.Keywords : -ABSTRAKRasa nyeri (nosisepsi) merupakan masalah unik, disatu pihak bersifat melindungi badan kita dan dilain pihak merupakan suatu siksaan. Nyeri juga mempunyai makna praktis yang jelas. Nyeri memperingatkan kita akan bahaya; nyeri dapat membantu diagnosis; kadang-kadang dapat menunjang penyembuhan dengan pembatasan gerakan dan menunjang imobilisasi bagian yang cedera. Terdapat sejumlah substansi yang secara farmakologis dapat digunakan sebagai “analgesik” untuk meredakan nyeri pada penderita yang sadar tanpa menimbulkan penurunan daya ingat total seperti pada anestesi umum. Substansi yang secara farmakologis dapat digunakan sebagai analgesik tersebut tetap merujuk pada konsep analgesia multi modal. Konsep analgesia multi modal ini merujuk pada perjalanan nyeri nosisepsi dimana digunakan NSAID pada proses transduksi, anestetik lokal pada proses transmisi dan opioid pada proses modulasi dan persepsi. Dimana keuntungan dari pada analgesia multimodal ini adalah didapatkan efek analgesi yang lebih tinggi tanpa meningkatkan efek samping dibandingkan peningkatan dosis pada pemberian analgesia tunggal.
Etomidat Menurunkan Kadar Gula Darah Pasca Induksi Anestesi Riffayadi, Oddi; Jatmiko, Heru Dwi; Sasongko, Himawan
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 3, No 2 (2011): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB) | DOI: 10.14710/jai.v3i2.6443

Abstract

Latar belakang: Kekhawatiran etomidat menyebabkan hipoglikemi menjadi masalah. Onset aksi cepat, profil kardiovaskuler rendah dan kurang signifikan menyebabkan penurunan tekanan darah membuat etomidat menjadi pilihan obat anestesi induksi yang cukup baik.Tujuan: membuktikan pengaruh pemberian etomidat dalam menyebabkan penurunan kadar gula darah. Metode: merupakan penelitian pretest postest controlled design pada 40 pasien yang menjalani operasi dengan anestesi umum, dibagi menjadi dua kelompok (n=20), kelompok1,etomidat 0,2 mg/kg ( E2) dan kelompok 2, 0, 4 mg/ kg ( E4). Masing- masing kelompok diperiksa kadar gula darah sebelum 2 jam dan 6 jam sesudah induksi. Uji statistik pair T-test dan Wilcoxon rank sum test terhadap E2 dan E4. Hasil: pada E2 terdapat perbedaan bermakna P= 0,05 antara sebelum dan 2 jam sesudah perlakuan 106, 95 ± 15, 453 mg/dl – 96, 40 ± 14, 966 mg/ dl ; 2 jam dan 6 jam sesudah perlakuan P= 0, 016 ; 96, 40 ±14, 966 mg/dl – 108, 85 ± 27, 238 mg/dl. Sedangkan pada E4 terdapat perbedaan bermakna P= 0, 041 baik sebelum dan 2 jam sesudah 102,60n± `12, 696 mg/dl – 99, 35 ± 15, 938 mg/dl ; sebelum dan 6 jam sesudah perlakuan P= 0, 041; 99, 35 ± 15, 938 mg/dl – 98, 25 ±± 19, 878 mg/dl. Tetapi tidak terdapat perbedaan bermakna antara E2 dan E4 dalam menyebabkan penurunan kadar gula darah baik 2 jam P= 0, 550 ; 96, 40 ± 14, 966 mg/ dl- 99, 35 ± 15, 938 mg/ dl, maupun sesudah 6 jam pemberian P= 0, 104 ; 108, 85 ± 27, 238 mg/ dl – 98, 25 ± 19, 878 mg/dl. Secara statistik etomidat menurunkan kadar gula darah baik pada E2 maupun pada E4 tetapi masih dalam batas normal atau secara klinik tidak bermakna. Kesimpulan: etomidat 0, 2 mg/dl (E2) dan 0, 2 mg/ dl (E4) secara statistik bermakna menurunkan kadar gula darah pada 2 jam dan 6 jam sesudah induksi
PERBEDAAN EFEK PEMBERIAN PRELOAD HES 200 KD DAN RINGER LAKTAT TERHADAP HIPOTENSI PASCA ANESTESI SPINAL PASIEN SECTIO CESAREA Nurunisa, Fithria; Sasongko, Himawan
MEDIA MEDIKA MUDA Vol 3, No 1 (2014): MEDIA MEDIKA MUDA
Publisher : Jurusan Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.628 KB)

Abstract

Latar belakang: Dewasa ini sectio cesarea banyak menggunakan anestesi spinal. Pemberian preload cairan kristaloid maupun koloid dapat digunakan untuk mencegah komplikasi dari anestesi spinal yaitu hipotensi. Salah satu dari jenis cairan tersebut ialah Ringer Laktat dan HES 200 kD. Namun ada yang mengatakan bahwa penggunaan HES lebih baik dalam mencegah kejadian hipotensi daripada Ringer Laktat.Tujuan: Mengetahui perbedaan efek pemberian preload 500 cc cairan koloid HES 200 kD dan cairan kristaloid ringer laktat terhadap kejadian hipotensi pasca anestesi spinal pasien sectio cesarea.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional retrospektif dengan studi cross-sectional. Sampel adalah 44 pasien yang memenuhikriteria inklusi dan eksklusi, kemudian dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok I menggunakan HES 200 kD dan kelompok II menggunakan Ringer Laktat. Penelitian dilakukan dengan cara mencatat data yang diperlukan dari rekam medis pasien RSUP Dr Kariadi Semarang. Data diolah dengan analisis menggunakan software komputer. Uji statistik menggunakan Chi-Square dan derajat kemaknaan P = 0,05. Hasil analisis data disajikan dalam bentuk tabel.Hasil: Data sebaran umur dan status ASA berdasarkan jenis cairan dengan uji Mann Whitney menunjukkan perbedaan yang tidak bermakna atau homogen. Pada uji non-parametrik Chi-Square didapatkan perbedaan yang tidak signifikan antara kelompok I dan kelompok II (p = 0,488).Simpulan: Terdapat perbedaan tidak bermakna terhadap kejadian hipotensi pada pemberian preload 500 cc HES 200 kD dan Ringer Laktat pasca anestesi spinal pasien sectio cesarea.
Perbandingan Kadar Substansi P Serum pada Pasien Pre dan Post Operasi Tiroid yang Diberi Analgetik Bupivakain 0,25% dengan Teknik Bilateral Superficial Cervical Plexus Block (BSCPB) Harahap, C O; Wicaksono, Satrio Adi; Sutiyono, Doso; Sasongko, Himawan
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 9, No 1 (2017): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (835.629 KB) | DOI: 10.14710/jai.v9i1.19822

Abstract

Latar belakang: Operasi tiroid dapat menyebabkan rasa sakit sehingga untuk mencegah masalah ini dengan berbagai modalitas, seperti anestesi regional bilateral superficial cervical plexus block (BSCPB) dengan menggunakan bupivakain 0,25% yang dikombinasikan dengan anestesi umum.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian klinis acak tersamar ganda dengan jumlah sampel 36 pasien. Sampel dibagi kedalam 2 kelompok yang diberikan anestesi regional melalui teknik BSCPB dengan kelompok perlakuan diberikan bupivakain 0,25% dibandingkan dengan kelompok kontrol yang diberikan NaCl 0,9% terhadap kadar substansi P serum pre dan post operasi pada pasien yang menjalani operasi tiroid.Hasil: Data penelitian diperoleh subjek laki-laki sebanyak 7 (19,4%) orang dan subjek  perempuan  sebanyak  29  (80,6%)  orang. Data substansi P post operasi kelompok  control dibandingkan kelompok perlakuan  didapatkan perbedaan bermakna  (p = 0,001). Substansi P pre operasi dibandingkan substansi P post operasi kelompok perlakuan didapatkan perbedaan bermakna (p = 0,004). Simpulan: Pemberian bupivakain konsentrasi 0,25% melalui teknik BSCPB terbukti menurunkan kadar substansi P serum post operasi.  
Neurotransmitter Dalam Fisiologi Saraf Otonom Cahyono, Iwan Dwi; Sasongko, Himawan; Primatika, Aria Dian
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 1, No 1 (2009): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (684.606 KB)

Abstract

ABSTRACTThe autonomic nervous system consists of two subsystems, namely the sympathetic nervous system and parasympathetic nervous system that work against each other. Understanding the anatomy and physiology of the autonomic nervous system is useful estimate pharmacological effects of drugs in both the sympathetic and parasympatheticnervoussystems.Sympathetic nervous system starts from the spinal cord segments torakolumbal. Nerve of the parasympathetic nervous system leaves the central nervous system through cranial nerves III, VII, IX and X and sacral spinal nerves the second and third; sometimes the first and fourth sacral nerves. Approximately 75% of all parasympathetic nerve fibers is dominatedbythevagus(cranialnerveX)Autonomic reflex is a reflex that regulates visceral organs including the cardiovascular autonomic reflexes, gastrointestinal autonomic reflex, sexual reflexes, other autonomic reflexes including reflex that helps regulate the secretion of the pancreas, gall bladder emptying, urinary excretion of the kidneys, sweat, blood glucose concentrations and most of thefunctionsothervisceral.Parasympathetic system usually leads to a specific local response, in contrast to the general response of the sympathetic system on the release of mass impulse, then the function of the parasympa thetic system settings seem much more specific.Keywords : -ABSTRAKSistem saraf otonom terdiri dari dua subsistem yaitu sistem saraf simpatis dan sistem saraf parasimpatis yang kerjanya saling berlawanan. Memahami anatomi dan fisiologi sistem saraf otonom berguna memperkirakan efek farmakologi obat-obatan baik pada sistem saraf simpatis maupun parasimpatis.Sistem saraf simpatis dimulai dari medula spinalis segmen torakolumbal. Saraf dari sistem saraf parasimpatis meninggalkan sistem saraf pusat melalui saraf-saraf kranial III, VII, IX dan X serta saraf sakral spinal kedua dan ketiga; kadangkala saraf sakral pertama dan keempat. Kira-kira 75% dari seluruh serabut saraf parasimpatis didominasi oleh nervus vagus (saraf kranial X). Sistem saraf simpatis dan parasimpatis selalu aktif dan aktivitas basalnya diatur oleh tonus simpatis atau tonus parasimpatis. Nilai tonus ini yang menyebabkan perubahan-perubahan aktivitas pada organ yang dipersarafinya baik peningkatan maupun penurunan aktivitas.Refleks otonom adalah refleks yang mengatur organ viseral meliputi refleks otonom kardiovaskular, refleks otonom gastrointestinal, refleks seksual, refleks otonom lainnya meliputi refleks yang membantu pengaturan sekresi kelenjar pankreas, pengosongan kandung empedu, ekskresi urin pada ginjal, berkeringat, konsentrasi glukosa darah dan sebagian besar fungsi viseral lainnya.Sistem parasimpatis biasanya menyebabkan respon setempat yang spesifik, berbeda dengan respon yang umum dari sistem simpatis terhadap pelepasan impuls secara masal, maka fungsi pengaturan sistem parasimpatis sepertinya jauh lebih spesifik.
Perbedaan Pengaruh HES 6% (200) Dalam NaCl 0,9% dan Dalam Larutan Berimbang pada Base Excess dan Strong Ion Difference Pasien Seksio Sesaria dengan Anestesi Spinal Hasyim, Djatun; Samodro, Ratn; Sasongko, Himawan; Leksana, Ery
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 5, No 2 (2013): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Background : On cesarean section with spinal anesthesia, colloid administration aspreload is more effective than crystalloid. This preload using colloid with its differentsolvent has its own effect to the acid base balance. Therefore the use of colloid-solvent-based-on is being improved. Objectives : to analyze the effect of HES 6% in balanced solution with HES 6% in NaCl0,9% on Base Excess (BE) and Strong Ion Difference (SID) on cesarean sectionpatients with spinal anesthesia.Method: this is an experimental clinical trial, double blind randomized withconsecutive sampling, divided into two groups (n=12), HES 6% in balanced solutionand HES 6% in NaCl 0,9%. Statistical analysis were performed with SPSS forWindows version 16. Result : Group HES 6% in NaCl 0,9% has significant difference for BE before andafter administration (p < 0,05). While BE before and after administration on HES 6%in balanced solution has insignificant difference (p > 0,05). Group HES 6% in NaCl0,9% has significant difference for SID before and after administration (p < 0,05).While SID before and after administration on HES 6% in balanced solution hasinsignificant difference (p > 0,05). Conclusion : there are significant declination of BE and SID on group of HES 6% inNaCl 0,9% than on group of HES 6% in balanced solution.  Latar belakang : Pada bedah sesar dengan anestesi spinal, pemilihan koloid sebagaicairan preload lebih efektif ketimbang kristaloid. Pemberian cairan koloid denganpelarut yang berbeda sebagai preload ini memiliki dampak terhadap keseimbanganasam basa tubuh. Sehingga pemilihan koloid berdasarkan pelarutnya mulaidipertimbangkan. Tujuan : Melihat pengaruh pemberian HES 6% dalam larutan berimbang dengan HES6% dalam NaC1 0,9% terhadap Base Excess (BE) dan Strong Ion Difference (SID)pada pasien bedah sesar dengan anestesi spinal. Metode : Merupakan uji klinik eksperimental yang dilakukan secara acak tersamarganda, dengan consecutive sampling, dibagi menjadi 2 kelompok (n=12) yaitukelompok HES 6% dalam larutan berimbang dan HES 6% dalam NaC1 0,9%. Ujistatistik untuk membandingkan nilai BE dan SID pada masing-masing kelompokmenggunakan SPSS for Windows versi 16. Hasil : Nilai BE sebelum dan sesudah perlakuan pada kelompok HES 6% dalam NaCI0,9%, memiliki perbedaan yang bermakna (p < 0,05). Sedangkan nilai BE sebelumdan sesudah perlakuan pada kelompok HES 6% dalam larutan berimbang memilikiperbedaan yang tidak bermakna (p > 0,05). Nilai SID sebelum dan sesudah perlakuanpada kelompok HES 6% dalam NaC1 0,9%, memiliki perbedaan yang bermakna (p0,05). Sedangkan nilai SID sebelum dan sesudah perlakuan pada kelompok HES 6%dalam larutan berimbang memiliki perbedaan yang tidak bermakna (p > 0,05). Kesimpulan : Terdapat penurunan BE dan SID secara bermakna pada kelompok HES6% dalam NaC1 0,9% dibanding pada kelompok HES 6% dalam larutan berimbang.
Perbandingan Efektifitas Antara Tramadol Dan Meperidin Untuk Pencegahan Menggigil Pasca Anestesi Umum Sasongko, Himawan
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 7, No 3 (2015): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (530.706 KB)

Abstract

Latar belakang : Menggigil pasca anestesi merupakan komplikasi yang cukup sering terjadi. Menggigil menimbulkan keadaan yang tidak nyaman dan berbagai resiko terutama bagi pasien dengan kondisi fisik yang tidak optimal, pasien dengan penyakit paru obstruktif menahun yang berat, atau pasien dengan gangguan kerja pada jantung. Karena itu menggigil harus segera dicegah atau diatasi. Sampai saat ini obat yang paling sering digunakan adalah meperidin.Tujuan : Membuktikan bahwa pemberian tramadol 2 mg/kgBB intra vena menjelang akhir operasi lebih efektif daripada meperidin 0,5 mg/kgBB intra vena menjelang akhir operasi untuk mencegah kejadian menggigil pasca anestesi umum.Metode : Merupakan penelitian eksperimental dengan desain “randomized post test only controlled group” pada 72 pasien usia 16 – 60 tahun, status fisik ASA I – II, berat badan normal yang menjalani operasi dengan anestesia umum. Pasien dipuasakan 6 jam dan diberikan premedikasi midazolam 0,07 mg/kgBB dan fentanil 1,5 µg/kgBB intra vena 2 menit sebelum induksi. Tekanan darah diastolik, tekanan darah sistolik, tekanan arteri rerata, laju jantung dan SaO2 diukur 5 menit sebelum induksi. Induksi anestesi dilakukan dengan thiopental 5 mg/kgBB. Setelah reflek bulu mata hilang, diberikan atrakurium besilat 0,5 mg/kgBB dan dilakukan intubasi endotrakea. Rumatan anestesi menggunakan isofluran 0,8 – 1,7 vol%, N2O 70% dan O2 30%. Atrakurium intermiten diberikan dengan dosis 0,2 mg/kgBB. Temperatur esofagus diukur segera setelah induksi. Lama operasi dibatasi antara 2 – 3 jam. Pada akhir operasi, obat inhalasi dihentikan. Setelah nafas spontan adekuat, reflek laringeal positip dilakukan randomisasi. Pasien dibagi menjadi tiga kelompok yaitu kelompok T (mendapat tramadol 2 mg/kgBB), kelompok M (mendapat meperidin 0,5 mg/kgBB) dan kelompok K (mendapat NaCl 0,9%).  Ekstubasi dilakukan 5 menit setelah perlakuan. Tekanan darah diastolik, sistolik, tekanan arteri rerata, laju jantung dan SaO2 diukur dan dicatat segera setelah ekstubasi dan tiap lima menit selama 30 menit. Suhu tubuh diukur segera dan 15 menit setelah ekstubasi. Pasca ekstubasi pasien diberi oksigen 6L/menit. Uji statistik menggunakan One-way ANOVA, dengan derajat kemaknaan  p < 0,05.Hasil : Data dasar, data karakteristik klinis sebelum induksi, perbandingan pengukuran tekanan darah diastolik, tekanan darah sistolik, tekanan arteri rerata, laju jantung dan SaO2 berbeda tidak bermakna (p>0,05) kecuali laju jantung 30 menit pasca ekstubasi antara kelompok tramadol dan kontrol berbeda bermakna (p<0,05). Kejadian dan derajat menggigil kelompok tramadol dan meperidin berbeda tidak bermakna (p>0,05). Perbedaan suhu tubuh kelompok tramadol dan meperidin 15 menit pasca ekstubasi dan efek samping obat yang timbul berbeda bermakna (p<0,05).Kesimpulan : Tramadol dan meperidin mempunyai efektifitas yang sama dalam mencegah menggigil pasca anestesi umum, tetapi tramadol mempunyai efek samping obat yang lebih rendah dibandingkan meperidin.