Articles

Found 8 Documents
Search

KINERJA KATALIS Ag/Al2O3 UNTUK REDUKSI NOx Sarwono, Rakhman; Wicaksono, Blasius Hangkoso Adi
REAKTOR Volume 12, Nomor 4, Desember 2009
Publisher : Dept. of Chemical Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.699 KB) | DOI: 10.14710/reaktor.12.4.226 – 231

Abstract

NOx merupakan hasil samping dari suatu reaksi pembakaran. NOx merupakan gas yang beracun sangat berbahaya terhadap kesehatan manusia dan hewan bila terhirup pada waktu bernafas. Untuk mengurangi kadar NOx pada gas buang, banyak penelitian diarahkan pada reduksi NOx dengan katalis secara selektif dengan hidrokarbon dan oksigen berlebihan. Katalis yang digunakan adalah katalis alumina (Al2O3) yang didapat dari katalis komersial (AlO1-7) dan katalis hasil sintesa (ALOA). Katalis Ag/Al2O3 didapat dengan memasukkan logam Ag ke dalam alumina (Al2O3) dengan cara impregnasi dengan larutan perak nitrat. Katalis diuji aktifitasnya pada reaktor fixed bed yang diluarnya terdapat pemanas yang bisa diatur suhunya. Reaktan seperti gas NO, C2H4  dan oksigen dimasukkan kedalam reaktor dengan laju yang ditentukan. Hasil reaksi dianalisa dengan gas chromatography dan dicatat pada recorder, selanjutnya bisa ditentukan kuantitas dan prosentase konversinya. Katalis alumina  ALOA mempunyai kemampuan mereduksi NO dengan konversi  sekitar 40-45% gas NO menjadi N2. Loading logam perak (Ag) kedalam Al2O3 sebesar 2-3% berat menambah daya reduksi NO menjadi sekitar 45-50% pada suhu 500oC. Pada umpan NO + C2H4  + O2  reaksi reduksi terjadi pada suhu 300oC, sedangkan pada umpan NO + C2H4   (tanpa oksigen) reaksi reduksi baru terjadi pada suhu 450oC, dengan demikian adanya oksigen sangat berperan dalam proses reduksi NOx. Reaksi peruraian C2H4 menjadi COx berkebalikan dengan kinerja katalis pada proses reduksi NOx
EFFECT OF pH ON THE SYNTHESIS OF Cu-ZnO CATALYSTS BY SOL GEL PROCESS FOR GLYCEROLHIDROGENOLISIS Kusuma, Dona Sulistia; Soegijono, Bambang; Sarwono, Rakhman; Sembiring, Kiky C.
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 12, No 3 (2011): Juni 2011
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (41.825 KB)

Abstract

Cu-ZnO catalyst in this study made for the reaction of glycerol to propylene glycol hidrogenolysis with sol gel process fromacetate salts. pH is an important parameter in sol gel process in the synthesis of Cu-ZnO nanocatalyst. pH ajustment of the sol influencing the morphology and structure of Cu-ZnO catalyst, seen from the characterization performed by X-Ray Diffractometer (XRD) and Scanning ElectronMicroscope (SEM). Diffraction spectra showed that the particle size of Cu-ZnO material is strongly influenced by the preparation. Cu-ZnO materials prepared at pH 7 and 8 showed a stong peak, mean the peak is broadening on Cu-ZnO prepared at pH 9. SEM-EDS of Cu and Zn ratios is different, which at pH 7 and 8, the ratio of Cu greater than Zn, while at pH 9, the ratio of Zn is higher than Cu which shows the interaction that changes the structure of the material in the presence of pH treatment. Confirmed by GC-MS analysis, at pH 7 and 8 the structure of Cu is in the core material and surrounded by Zn, and vice versa at pH 9 the structure of Zn in the nucleus and surrounded by Cu.Keywords: Cu-ZnO Catalyst, Sol gel, pH, Crystallinity.
KONVERSI LIMBAH TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT MENJADI GLUKOSA DENGAN PROSES HIDROTERMAL TANPA MELALUI PROSES PRETREATMENT - (Conversion of Waste Palm Oil Empty Fruit Bunches into Glucose using Hydrothermal Process without Pretreatment) Sarwono, Rakhman; Hariyanto, Arief; Puspitadewi, Rizka; Kurniawan, Hendris Hendarsyah; Fatah, Sulaiman
Biopropal Industri Vol 7, No 2 (2016)
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.22 KB)

Abstract

Palm oil empty fruit bunch (EFB) is a waste from palm oil industry and commonly used as compost for soil breeding. EFB could be hydrolized into glucose using hydrothermal process with hydrochloric acid as catalyst.  Eight gram of EFB in particle sizes (–30+40) mesh were hydrolyzed with HCl 10% 80 mL in a tube reactor. Reaction time were 2, 3 and 4 hours in temperature range 140-240oC. EFB decomposition did not increase despite of higher temperature while reaction time influenced the process significantly. EFB conversion was 47% in 4 hours and 240oC while in 3 hours resulted 34% same with 2 hours in 210oC. EFB decomposition did not influence glucose yield which was 23% in 2 hours  170oC, 24% in 3 hours 160oC and 6% in 4 hours 150oC. The optimum conditions of conversion were 2 and 3 hours with temperature range 150-170oC.Keywords: conversion, EFB, glucose, hydrothermal, pretreatment ABSTRAKLimbah tandan kosong kelapa sawit (TKKS) merupakan hasil samping dari industri minyak sawit dan terdapat dalam jumlah banyak. Sampai saat ini belum termanfaatkan dengan baik, biasanya dipakai sebagai kompos untuk pemuliaan tanah perkebunan sawit. Persentase TKKS sebesar 23% dari tandan buah segar (TBS) dengan komponen utama berupa selulosa, hemi-selulosa dan lignin. TKKS bisa dihidrolisis menjadi gula atau glukosa dengan proses hidrotermal menggunakan katalis asam klorida. TKKS  seberat 8 g dengan ukuran partikel (–30+40) mesh dikonversi secara hidrotermal pada reaktor tabung dengan penambahan 80 ml HCl 10% sebagai katalis, waktu reaksi 2, 3 dan 4 jam, suhu reaksi dari 120–240oC. Proses peruraian TKKS tidak menunjukkan kenaikan yang berarti walaupun suhu reaksi semakin tinggi. Waktu reaksi memberi pengaruh yang lebih besar terhadap peruraian TKKS dimana peruraian paling tinggi sebesar 47% pada suhu 240oC dan waktu reaksi 4 jam. Pada waktu reaksi 3 jam dihasilkan peruraian TKKS paling tinggi sebesar 34%, sama dengan hasil pada waktu 2 jam dan suhu 210oC.  Glukosa yang dihasilkan tidak seiring dengan TKKS yang terurai. Pada waktu reaksi 2 jam dan suhu reaksi 170oC dihasilkan glukosa sebesar 23% sedangkan pada waktu reaksi 3 jam dengan suhu reaksi 160oC dihasilkan glukosa paling tinggi 24% dan pada waktu reaksi 4 jam dengan suhu 150oC dihasilkan glukosa sebesar 6%. Kondisi terbaik untuk mendapatkan jumlah glukosa paling banyak yaitu pada waktu reaksi antara 2 dan 3 jam dengan suhu antara 150 dan 170oC.Kata kunci: glukosa, hidrotermal, konversi, pretreatment, TKKS
Biochar Sebagai Penyimpan Karbon, Perbaikan Sifat Tanah, dan Mencegah Pemanasan Global : Tinjauan Sarwono, Rakhman
Jurnal Kimia Terapan Indonesia (Indonesian Journal of Applied Chemistry) Vol 18, No 01 (2016)
Publisher : Research Center for Chemistry - LIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (222.494 KB) | DOI: 10.14203/jkti.v18i01.44

Abstract

Terjadinya pemanasan global disebabkan karena makin tingginya konsentrasigas rumah kaca (GRK) di atmosfir. Pemanasan global akan memberidampak yang buruk terhadap kehidupan mahluk hidup di bumi ini. GRKyang sangat berpengaruh terhadap naiknya temperatur atmosfir bumi adalahgas CO2 [karbon dioksida], NOx, metan dan freon. Salah satu GRK yangmenjadi perhatian adalah gas CO2, karena gas CO2 kebanyakan dari kegiatanmanusia seperti pembakaran bahan bakar fossil yang jumlahnya selalumeningkat setiap tahunnya. Sejak revolusi industri sampai sekarang terjadiakumulasi gas CO2 di atmosfir yang semakin besar, dengan konsentrasi CO2sebesar 390 ppm. Hal ini ditengarai sebagai penyebab terjadinya pemanasanglobal dan perubahan iklim. Untuk menahan laju penambahan konsentrasigas CO2 di atmosfir perlu adanya cara untuk mengurangi karbon di atmosfir.Salah satu cara untuk mengurangi karbon dioksida CO2 di atmosfir adalahdengan mengkonversi biomasa menjadi biochar dan selanjutnya biochardimasukkan kedalam tanah sebagai pemuliaan tanah agar kelestarianpertanian bisa berlanjut. Bila biochar bisa diproduksi dalam jumlah yangbesar yang setara dengan jumlah karbon yang masuk ke atmosfir, maka akanterjadi keseimbangan antara gas CO2 yang masuk dan keluar atmosfir.Penyimpanan karbon sebesar 1 gigaton pertahun selama 40 tahun akanmenghambat penambahan konsentrasi gas CO2 di atmosfir. Sehingga lajupenambahan gas rumah kaca bisa dicegah.
Carbonization of Palm Oil Empty Fruit Bunch (EFB) in Hydrothermal Processes to Produce Biochar Sarwono, Rakhman; Tursiloadi, Silvester; Sembiring, Kiky Corneliasari
Jurnal Kimia Terapan Indonesia (Indonesian Journal of Applied Chemistry) Vol 18, No 02 (2016)
Publisher : Research Center for Chemistry - LIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (206.746 KB) | DOI: 10.14203/jkti.v18i02.46

Abstract

ABSTRACT Empty fruit bunch (EFB) of palm oil is a waste from the palm oil industries which in a large amount, those waste is not properly utilized yet. EFB is a lignocelluloses waste as a polymer with big molecule such as cellulose, lignin, and hemicelluloses that can be degraded into smaller molecules in hydrothermal carbonization (HTC) process. The HTC process of EFB will result three fractions such as gas, organic water soluble and biochar as solid residue or bio-char-water-slurry. EFB degradation is influenced by the operation conditions such as temperature, pressure, catalysts, reaction time, stirring and ratio liquid and solid. The HTC process involved many routes of reaction such as liquefaction, hydrolysis, dehydration, decarboxylation, condensation, aromatization, and polymerization. In this experiment 60 ml closed vessel was used as the HTC reactor to degrade of EFB. EFB concentration of 6.44% resulted 62% of conversion. Reaction time of 6 hours resulted 62 % of conversion. Increasing the reaction time and temperature increase the conversion of EFB. Liquid products of organic water soluble has cleared yellow color, after several hours the color become darkness that is further reaction still occurs in that solution. Solid products is biochar as brown coal, that can be easily separated and processed into powder, pellet or briquette form with outstanding storage and transport characteristics. For further economic development, biochar with excellent transport characteristics, the possibility of exporting this commodity to the worlds energy market is possible. Key words: EFB, hydrothermal, carbonization, conversion, biochar
KONVERSI SELULOSA TANDAN KOSONG SAWIT (TKS) MENJADI ETANOL Sarwono, Rakhman; Triwahyuni, Eka; Aristiawan, Yosi; Kurniawan, Hendris Hendarsyah; Anindyawati, Trisanti
JURNAL SELULOSA Vol 4, No 01 (2014): JURNAL SELULOSA
Publisher : Center for Pulp and Paper

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (517.307 KB) | DOI: 10.25269/jsel.v4i01.50

Abstract

A serious global energy crisis is thought to be originated from the imbalance rapid consumption and the non-renewable nature of the fossil fuels. A potential, yet promising route for diminising this problem might involve rapid conversion of organic waste and biomass into fuels as an alternative. Oil-palm empty fruit bunch (EFB) is the waste from the oil palm plantation which abundant amount of lignocellulosic EFB biomass. EFB biomass was used as raw material of the second generation of bioethanol production. EFB was converted into ethanol through enzymatic hydrolysis and fermentation simultaneously. Cellulose waste was then turned into glucose by enzymatic saccharification and finally fermented into ethanol. The experiment of 20 liter broth resulted in ethanol concentration of about 7.93% (w/w). Conversion of cellulose into glucose was about 60.02%, and conversion of glucose into ethanol was about 88.44%. Following distillation, ethanol of 1970 mL was obtained at a concentration of 63% (v/v).Keywords: EFB, saccharification, fermentation, glucose, ethanol  ABSTRAKAdanya krisis energi minyak bumi secara global disebabkan oleh ketimpangan antara konsumsi dan produksi minyak bumi. Guna mengimbangi ketimpangan tersebut, maka dilakukan konversi limbah organik dan biomassa menjadi bahan bakar secara tepat dan cepat. Tandan Kosong Sawit (TKS) merupakan limbah dari perkebunan sawit yang melimpah jumlahnya. Penelitian etanol generasi kedua berbahan baku biomassa lignoselulosa dilakukan melalui proses sakarifikasi selulosa menjadi glukosa secara enzimatis dan fermentasi glukosa menjadi etanol. Berdasarkan hasil yang diperoleh dari 20 liter hidrolisat didapat konsentrasi etanol sebesar 7,93% (b/b). Hasil konversi selulosa menjadi glukosa sebesar 60,02%, sedangkan konversi glukosa menjadi etanol sebesar 88,44%. Setelah dilakukan distilasi didapatkan etanol sebanyak 1970 mL dengan konsentrasi 63% (v/v).Kata kunci: TKS, sakarifikasi, fermentasi, glukosa, etanol
PENGARUH pH PADA SINTESIS KATALIS Cu-ZnO DENGAN PROSES SOL GEL UNTUK HIDROGENOLISIS GLISEROL Kusuma, Dona Sulistia; Soegijono, Bambang; Sarwono, Rakhman; Sembiring, Kiky C.
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 12, No 3: Juni 2011
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1032.86 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2011.12.3.4622

Abstract

PENGARUH pH PADA SINTESIS KATALIS Cu-ZnO DENGAN PROSES SOL GEL UNTUK HIDROGENOLISIS GLISEROL. Pada penelitian ini dibuat katalis Cu-ZnO untuk reaksi hidrogenolisis gliserol menjadi propilen glikol dengan proses sol gel dari garam asetat. pH merupakan parameter penting pada proses sol gel pada sintesis nanokatalis Cu-ZnO. Pengaturan pH pada sol sangat berpengaruh pada morfologi dan stuktur katalis Cu-ZnO, terlihat dari karakterisasi yang dilakukan dengan X-Ray Diffractometer (XRD) dan Scanning Electron Microscope (SEM). Difraktogram XRD menunjukkan kristalinitas Cu-ZnO sangat dipengaruhi oleh perlakuan pH, dimana pada pH 7 dan pH 8 struktur Cu-ZnO berbentuk kristalin sedangkan pada pH 9 terlihat amorf. Dari SEM-EDS terlihat rasio Cu dan Zn yang berbeda, dimana pada pH 7 dan pH 8, rasio Cu lebih besar dari Zn sedangkan pada pH 9, rasio Zn lebih besar dari Cu yang menunjukkan adanya interaksi yang berubah. Dikonfirmasi oleh analisis GC-MS, pada pH 7 dan pH 8 struktur Cu berada di dalam inti material dan dikelilingi oleh Zn, dan sebaliknya pada pH 9 struktur Zn berada di dalam inti dan dikelilingi oleh Cu.
Degradation of Oil Palm Empty Fruit Bunch (OPEFB) in Super-Critical Organic Solvents Affecting the Chemicals Distribution of Bio-Oil Sarwono, Rakhman; Saepulloh, Saepulloh; Brayen, Brayen; Andreas, Andreas; Maryani, Yeyen
Jurnal Kimia Terapan Indonesia (Indonesian Journal of Applied Chemistry) Vol 19, No 2 (2017)
Publisher : Research Center for Chemistry - LIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (83.956 KB) | DOI: 10.14203/jkti.v19i2.357

Abstract

Hydrothermal liquefaction (HTL) of oil palm empty fruit bunch (OPEFB) in different organic solvents (methanol, ethanol, acetone, toluene and hexane) to produce bio-oil were comparatively investigated. Experiments were carried out in an autoclave at different temperature of 300, 350 and 400 oC with a fixed solid/liquid ratio of 4 gram in 50 mL solvent, without catalysts and reaction time of 5 hours. The liquid products were analyzed using GCMS to determine the chemical composition. Result showed that the chemical compositions were greatly affected by the solvent types. Each solvent has a major component in bio-oil products. The major compounds resulted from methanol and ethanol solvent were ketones/others. The major compounds resulted from toluene and hexane solvents were organic acid, which favoured high temperature. Meanwhile, esters and organic acid were the major products from acetone solvents. Temperature operation resulted more variations in the chemical composition and the percentages of the bio-oil.