Mamik Sarwendah
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kepulauan Bangka Belitung

Published : 4 Documents
Articles

Found 4 Documents
Search

POLA DISEMINASI PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU PADI DI PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Prosiding Seminar Nasional Sains Dan Teknologi Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2013): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 4 2013
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Sains Dan Teknologi Fakultas Teknik

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PTT atau Pengelolaan Tanaman Terpadu Padi adalah suatu pendekatan yang dihasilkan oleh Badan  Litbang  Pertanian RI dalam  rangka  meningkatkan  produksi  beras  secara  nasional. Dalam  rangka  menyebarkan  inovasi  ini,  Badan  Litbang  Pertanian  bekerjasama  dengan berbagai  lembaga  melalui  berbagai  media  diseminasi.  Lembaga-lembaga  tersebut  adalah lembaga  penelitian  (BPTP),  lembaga  pengaturan  dan  pelayanan  (Dinas  Pertanian),  lembaga penyuluhan  (Badan  Penyuluhan,  BPP,  PPL)  dan  Kelompok  Tani. Pengkajian  ini bertujuan untuk memperoleh informasi mengenai sistem diseminasi PTT  Padi dan tingkat adopsi petani di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Pengkajian  dilakukan di Kabupaten Belitung (Desa Perpat), Kabupaten Bangka (Desa Tanah Bawah) dan Kabupaten Bangka Selatan (Desa Rias) pada  bulan  Februari-Oktober  2011. Metode  penelitian  yang  dilakukan  adalah  studi  pustaka, survey,  wawancara  dan  FGD . Hasil pengkajian  menunjukkan  bahwa  pola  diseminasi  PTT Padi  dipengaruhi  oleh  berbagai  faktor  baik  fisik  maupun  nonfisik.  Faktor-faktor  tersebut adalah karakteristik  petani,  partisipasi  petani,  kelembagaan  kelompok  tani,  kemampuan penyuluh,  metode  diseminasi,  media  komunikasi  dan  informasi,  dukungan  pemerintah, infrastruktur pertanian, iklim dan cuaca serta kearifan lokal.Kata kunci: PTT Padi, Pola diseminasi, Adopsi

PERSEPSI DAN TINGKAT ADOPSI PETANI TERHADAP INOVASI TEKNOLOGI PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU PADI SAWAH

Agriekonomika Vol 3, No 1: April 2014
Publisher : Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura.

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi, tingkat adopsi dan kecenderungan adopsi PTT padi sawah di tingkat petani. Penelitian dilaksanakan pada Agustus 2010 sampai Januari 2011 di Desa Labu, Kecamatan Puding Besar, Kabupaten Bangka. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan panduan pertanyaan terstruktur (kuesioner). Data dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa petani memiliki persepsi positif terhadap inovasi teknologi PTT padi sawah. Petani menganggap bahwa PTT padi sawah menguntungkan, tidak rumit, mudah dicoba, mudah dilihat hasilnya, tidak bertentangkan dengan nilai-nilai tradisi setempat dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Tingkat adopsi inovasi teknologi PTT padi sawah mencapai 48%. Adapun komponen  PTT padi sawah yang telah diadopsi oleh petani; antara lain benih bermutu, pemberian pupuk organik, panen tepat waktu, tanam benih muda, tanam 1-3 bibit per lubang. Kecenderung adopsi menunjukkan bahwa beberapa komponen akan diadopsi pada musim tanam mendatang.Kata Kunci: Persepsi, tingkat adopsi, pengelolaan tanaman terpadu padi sawah. ABSTRACTThe purposes of this study are to determine the perceptions of rice farmers, adoption level and adoption tendency towards integrated crops management (ICM). This research was conducted at Labu, Bangka Regency on August 2010 until January 2011. Data was collected by questionnaires. Data were analyzed descriptively. The results showed that farmers have positive perceptions towards ICM. Farmers believe that ICM is profitable, easily tested, and easy to see the suitable with their needs, low complexity. The adoption level of ICM is 48%. Some components of ICM have been adopted by farmers, such as quality seeds, organic fertilizer, harvest time, planting young seedlings, planting 1- 3 seeds per hole. Adoption tendency indicate that there are posibility an increasing of adoption of  ICM in upcoming planting season.Keywords: Perception, rate of adoption, integrated crops management of paddy

PERSEPSI DAN TINGKAT ADOPSI PETANI TERHADAP INOVASI TEKNOLOGI PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU PADI SAWAH

Agriekonomika Vol 3, No 1: April 2014
Publisher : Department of Agribusiness, Faculty of Agriculture, Trunojoyo University, Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (315.666 KB)

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi, tingkat adopsi dan kecenderungan adopsi PTT padi sawah di tingkat petani. Penelitian dilaksanakan pada Agustus 2010 sampai Januari 2011 di Desa Labu, Kecamatan Puding Besar, Kabupaten Bangka. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan panduan pertanyaan terstruktur (kuesioner). Data dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa petani memiliki persepsi positif terhadap inovasi teknologi PTT padi sawah. Petani menganggap bahwa PTT padi sawah menguntungkan, tidak rumit, mudah dicoba, mudah dilihat hasilnya, tidak bertentangkan dengan nilai-nilai tradisi setempat dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Tingkat adopsi inovasi teknologi PTT padi sawah mencapai 48%. Adapun komponen  PTT padi sawah yang telah diadopsi oleh petani; antara lain benih bermutu, pemberian pupuk organik, panen tepat waktu, tanam benih muda, tanam 1-3 bibit per lubang. Kecenderung adopsi menunjukkan bahwa beberapa komponen akan diadopsi pada musim tanam mendatang.  ABSTRACTThe purposes of this study are to determine the perceptions of rice farmers, adoption level and adoption tendency towards integrated crops management (ICM). This research was conducted at Labu, Bangka Regency on August 2010 until January 2011. Data was collected by questionnaires. Data were analyzed descriptively. The results showed that farmers have positive perceptions towards ICM. Farmers believe that ICM is profitable, easily tested, and easy to see the suitable with their needs, low complexity. The adoption level of ICM is 48%. Some components of ICM have been adopted by farmers, such as quality seeds, organic fertilizer, harvest time, planting young seedlings, planting 1- 3 seeds per hole. Adoption tendency indicate that there are posibility an increasing of adoption of  ICM in upcoming planting season.

PEMANFAATAN LIMBAH KOMODITAS PERKEBUNAN UNTUK PEMBUATAN ASAP CAIR / Utilization of Plantation Commodities Waste for Liquid Smoke

Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 25, No 1 (2019): Juni, 2019
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Liquid smoke is the result of condensation of smoke from the pyrolysis process of biomass containing elements of lignin and cellulose. The chemical and physical components of liquid smoke were determined by the raw materials used. The purpose of this study was to determine the characteristics of liquid smoke from different plantation wastes. The raw material used consists of coconut shells, palm shells, and sawdust. Coconut shells were obtained from coconut milk traders in the Pangkalpinang market. Palm oil shells were taken from palm oil mill waste. Sawdust was a waste of wood craftsmen in Pangkalpinang. Liquid smoke was produced done by pyrolysis using a simple tool consisting of a plate with the main components of a combustion tube, a smoke conduit pipe, and a condensing tube. This study used a randomized block design with five replications. The results showed the highest yield of liquid smoke from coconut shell compared to palm shell liquid and sawdust liquid smoke. Coconut shell liquid smoke had a lower pH and water content than the liquid shell of palm oil and sawdust. The phenol content of coconut shell liquid smoke was 19.45 mg/ml, sawdust liquid smoke 8.24 mg/ml and oil palm shell liquid smoke 19.54 mg/ml. The acid content of coconut shell liquid smoke (7.44%) was higher than that of oil palm shell liquid smoke (5.70%) and sawdust (1.36%).Keywords: phenol, pyrolysis, coconut shell, oil palm shell AbstrakAsap cair merupakan hasil kondensasi asap dari proses pirolisis biomassa yang mengandung unsur lignin dan selulosa. Komponen kimia dan fisika asap cair ditentukan oleh bahan baku yang digunakan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik asap cair dari limbah komoditas perkebunan yang berbeda. Bahan baku yang digunakan terdiri dari tempurung kelapa, cangkang kelapa sawit dan serbuk gergaji. Tempurung kelapa diperoleh dari pedagang santan di pasar Pangkalpinang. Cangkang kelapa sawit diambil dari limbah pabrik kelapa sawit. Serbuk gergaji  merupakan limbah pengerajin kayu yang ada di Pangkalpinang.  Pembuatan asap cair dilakukan dengan pirolisis menggunakan alat sederhana yang tediri dari plat dengan komponen utama tabung pembakaran, pipa penyalur asap,  dan tabung kondensasi. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok dengan lima ulangan. Hasil penelitian menunjukkan rendemen asap cair dari tempurung kelapa paling tinggi dibandingkan dengan asap cair cangkang kelapa sawit dan serbuk gergaji. Asap cair tempurung kelapa mempunyai pH dan kadar air yang lebih rendah daripada asap cair cangkang kelapa sawit dan serbuk gergaji. Kandungan fenol asap cair tempurung kelapa 19,45 mg/ml, asap cair serbuk gergaji 8,24 mg/ml dan asap cair cangkang kelapa sawit 19,54 mg/ml. Kandungan  asam asap cair tempurung kelapa (7,44%) lebih tinggi  daripada asap cair cangkang kelapa sawit (5,70 %) dan serbuk gergaji (1,36 %).Kata kunci: fenol, pirolisis, tempurung kelapa, cangkang kelapa sawit