Sarmini Sarmini
Unknown Affiliation

Published : 14 Documents
Articles

Found 14 Documents
Search

TRANSFORMASI PEMUKIMAN KOMUNITAS MADURA (STUDI KASUS DI DESA LEMBUNG PESESER KECAMATAN SEPULU KABUPATEN BANGKALAN) SUMANTO, ; Sarmini, Sarmini
Kajian Moral dan Kewarganegaraan Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendekatan, strategi, metode, dan teknik pembelajaran pada hakikatnya dapat dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan. Keempat istilah tersebut merupakan satu kesatuan dalam pembelajaran. Pendekatan, strategi, metode, dan teknik pembelajaran yang akan dan/atau sedang digunakan dapat diketahui dari langkah-langkah pembelajaran yang telah tersusun dan/atau sedang terjadi. Pendekatan pembelajaran adalah cara umum dalam memandang pembelajaran. Sedangkan strategi pembelajaran adalah ilmu dan kiat di dalam memanfaatkan segala sumber belajar yang dimiliki dan/atau yang dapat dikerahkan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Metode mengajar adalah berbagai cara kerja yang bersifat relatif umum yang sesuai untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu dan teknik pembelajaran adalah ragam khas penerapan suatu metode sesuai dengan latar penerapan tertentu. Teknik pembelajaran mengambarkan langkah-langkah penggunaan metode mengajar yang sifatnya lebih operasional. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam penentuan teknik pembelajaran di antaranya adalah kemampuan dan kebiasaan guru, ketersedian sarana dan waktu, serta kesiapan siswa. Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam memilih strategi pembelajaran ialah tujuan pembelajaran, jenis dan tingkat kesulitan materi pelajaran, sarana, waktu yang tersedia, siswa, dan guru.
STRATEGI PEMBENTUKAN KARAKTER ANAK DI PANTI ASUHAN MUHAMMADIYAH WIYUNG SURABAYA SULTHONI, YAHYA; Sarmini, Sarmini
Kajian Moral dan Kewarganegaraan Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendekatan, strategi, metode, dan teknik pembelajaran pada hakikatnya dapat dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan. Keempat istilah tersebut merupakan satu kesatuan dalam pembelajaran. Pendekatan, strategi, metode, dan teknik pembelajaran yang akan dan/atau sedang digunakan dapat diketahui dari langkah-langkah pembelajaran yang telah tersusun dan/atau sedang terjadi. Pendekatan pembelajaran adalah cara umum dalam memandang pembelajaran. Sedangkan strategi pembelajaran adalah ilmu dan kiat di dalam memanfaatkan segala sumber belajar yang dimiliki dan/atau yang dapat dikerahkan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Metode mengajar adalah berbagai cara kerja yang bersifat relatif umum yang sesuai untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu dan teknik pembelajaran adalah ragam khas penerapan suatu metode sesuai dengan latar penerapan tertentu. Teknik pembelajaran mengambarkan langkah-langkah penggunaan metode mengajar yang sifatnya lebih operasional. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam penentuan teknik pembelajaran di antaranya adalah kemampuan dan kebiasaan guru, ketersedian sarana dan waktu, serta kesiapan siswa. Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam memilih strategi pembelajaran ialah tujuan pembelajaran, jenis dan tingkat kesulitan materi pelajaran, sarana, waktu yang tersedia, siswa, dan guru.
STRATEGI BERTAHAN PEKERJA SEKS KOMERSIAL DI LOKALISASI JARAK SURABAYA Aktavia, Risa Ayu; Sarmini, Sarmini
Kajian Moral dan Kewarganegaraan Vol 2, No 2 (2014): Edisi yudisium 2
Publisher : UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk memahami strategi pekerja seks komersial yang berusia tua untuk mempertahankan diri. Selain banyaknya bar atau café di area lokalisasi, sebagian besar pekerja seks komersial di lokalisasi Jarak berusia tua. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan desain penelitian fenomenologi. Subyek penelitian ini adalah pekerja seks komersial berusia lebih dari 35 tahun di lokalisasi Jarak Surabaya. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi, observasi partisipan, wawancara, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis data dalam penelitian ini mengacu pada model analisis interaktif Huberman dan Miles, dengan tahapan: reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan beberapa faktor sebagai alasan perempuan menjadi seorang pekerja seks komersial, yaitu (1) faktor pendidikan, (2) faktor ekonomi, (3) faktor psikologis, dan (4) faktor budaya. Beberapa strategi dilakukan oleh pekerja seks komersial berusia tua untuk mempertahankan diri di area lokalisasi, yaitu: (1) aspek ekonomi: pemanfaatan aset modal sosial dengan menggunakan kredit informal, pemanfaatan kredit formal, dan menganekaragamkan pekerjaan. (2) aspek sosial: (a) Menjaga hubungan dengan konsumen dengan berdandan ayu, berpakaian seksi dan menonjolkan lekuk tubuh, pandai merayu, merawat organ vital dengan jamu, menurunkan tarif, serta memaksimalkan servis; (b) Menjaga hubungan dengan masyarakat dengan menghentikan semua kegiatan prostitusi ketika tiba waktu sholat, membayar iuran kampung, mengikuti arisan, serta mengikuti kegiatan yang diadakan kampung, saling membantu, serta saling menghormati. (3) Menggunakan jasa paranormal, seperti: memasang susuk aura dan menabur bunga di depan wisma. Kata Kunci: Strategi Bertahan, Pekerja Seks Komersial, Lokalisasi Jarak Abstract This research want to understand the strategy of old commercial sex workers to survive. This research is a qualitative research with phenomenology design. The subject of this research are commercial sex workers aged over 35 years in the Jarak’s localization Surabaya. The technique used to collect data in this research are observation, participant observation, interviews, in-depth interviews, and documentation. The analysis of the data in this reserach refers to the interactive model by Huberman and Miles, with stages: data reduction, data presentation, and data verification. The results showed several factors as reasons why women become a commercial sex worker, namely (1) educational factors, (2) economic factors, (3) psychological factors, and (4) cultural factors. Several strategies performed by older commercial sex workers to defend themselves in the localization area, namely: (1) the economic aspects: utilization of social capital assets with use the informal credit, utilization of formal credit, and diversifying the work. (2) the social aspects: (a) keep relationship to consumers with add the beauty of the body, sexy body, caring for the vital organs with herbs, lowering the cost of services, and give maximal service; (b) keep relationship to community with stop prostitution activities when pray time, pay the village’s donation, and following all the activities held by the community and comply with all applicable regulations. (c) using the services of psychics, like among which using the implant in the body and sowing the interest gained from psychic in the front house Keywords: survival strategies, commercial sex workers, localization in Jarak
PELAKSANAAN GOTONG-ROYONG DI ERA GLOBAL (STUDI KASUS DI DESA BALUN KECAMATAN TURI KABUPATEN LAMONGAN) Anggorowati, Puput; Sarmini, Sarmini
Kajian Moral dan Kewarganegaraan Vol 1, No 3 (2015): ARTIKEL
Publisher : UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPenelitian ini mengungkapkan tentang gotong royong sebagai salah satu visi dari desa Balun yang masyarakatnya memiliki keberagaman agama. Gotong royong hingga saat ini masih dilaksanakan secara intensif karena dapat menjaga kerukunan pada warga. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pelaksanaan gotong royong yang ada di desa balun kecamatan Turi. Teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teori sistem dari Talcott Parsons. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain penelitian studi kasus. Hasil penelitian ini adalah pelaksanaan gotong royong di Desa Balun berjalan dengan baik melalui kerjasama antara warga dan pemerintah desa. Gotong royong di desa Balun terbagi dalam dua bentuk meliputi gotong royong inter agama dan gotong royong intra agama. Pada gotong royong intra agama yang dilakukan hanya didalam warga satu agama saja yaitu pada bidang sosial berkaitan dengan perawatan dan pembangunan tempat ibadah. Sedangkan untuk gotong royong inter agama dilaksanakan dalam dua bidang yaitu bidang ekonomi dan sosial. Upaya yang dilakukan pemerintah dalam mempertahankan gotong royong mengandung dua unsur yaitu unsur sukarela dan unsur paksaan. Unsur paksaan pada gotong royongyaitu melalui adanya denda dan keplek absensi. Simpulan dari penelitian ini adalah tidak semua gotong royong bisa dilakukan semua warga, tetapi terdapat pula gotong royong yang hanya dilakukan berdasarkan lingkup agama. Unsur kedua yaitu unsur paksaan membuktikan adanya perubahan pada gotong royong di desa Balun pada era globalKata Kunci:gotong royong, intra agama, inter agamaAbstractThis reaserch find out about mutual assisstance as vision of Balun Village which has multi religion people. Nowdays mutual assistance in Balun Village stil occur intensly because it can keep the unity of Balun Villager.The aim of this research is to find out the application of mutual assisstance in Balun village, Turi regency. The theory that used in this research system theory by Talcott Parsons. In this study used methode qualitative approach with a design cases study. The result of this research shows that the implementation of mutual assisstance in Balun village is implemented well through good coorperation There are two kinds of mutual assisstance that has been implemented in Balun village. They are inter religion and intra religionThey are inter religion and intra religion. Inter religion mutual assisstances in this case concern in social aspect. They work together to build and to keep the pray room. The second one is intra religion mutual assisstances it concerns in two aspects, they are social and economic.The effort that has been done by the government are willingness and pressure. The pressure unsure is applied by giving attendance list card and fine. The conclusion of this research is not all of mutual assistance could be done by all of people. However mutual assistance which is done by scopeof religion only. The second unsureis pressure, it proves that there is something change toward mutual assistance in global era.Key words : mutual assisstance, intra religion, inter-religion
KONSTRUKSI MASYARAKAT SAMIN TENTANG NILAI-NILAI PANCASILA DI DUSUN JEPANG KECAMATAN MARGOMULYO BOJONEGORO Christanto, Yan Adi; Sarmini, Sarmini
Kajian Moral dan Kewarganegaraan Vol 1, No 3 (2015): ARTIKEL
Publisher : UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana Konstruksi Masyarakat Samin Tentang Nilai-nilai Pancasila Di Dusun Jepang Kecamatan Margomulyo Bojonegoro ditengah menjaga nilai kearifan lokalnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan desain penelitian fenomenologi yang dilaksanakan di Dusun Jepang Kecamatan Margomulyo Bojonegoro. Data yang telah diproses kemudian ditarik kesimpulan dengan menggunakan metode induktif yakni proses penyimpulan dari hal-hal yang sifatnya khusus ke hal-hal yang sifatnya umum agar diperoleh kesimpulan yang obyektif. Data diperoleh dari observasi, wawancara, wawancara mendalam dan dokumentasi sebagai penunjang data. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa menempatkan Pancasila bukan hanya sebagai simbol Negara, Pancasila merupakan pencerminan dan karakter diri, muncul dari dalam diri dan diterapkan dalam kehidupan sehari hari. Pancasila diyakini sebagai arah yang baik bagi diri sendiri, bisa ditafsirkan sebagai “papat kiblat limo pancer” yang artinya dalam kehidupan ini terdapat empat arah mata angin, dan sebagai pelengkap empat arah tersebut adalah arah ke lima yaitu “sing diarani kiblat limo yoiku ati manungso” dimana hati manusia sebagai penentu atas arah tujuan yang akan digapai. Bila melihat jangan asal melihat, bila mendengarkan jangan asal mendengar, bila merasakan jangan asal merasakan, namun gunakanlah hati. Kata Kunci: Pancasila, konstruksi nilai, ajaran, Samin Abstract The research aims to know how society construction of Samin in Jepang village, Margomulyo Subdistrict Bojonegoro about Pancasila values in the middle of local wisdom and values maintain. This research uses descriptive qualitative approach with phenomenology research design conducted in Jepang village, Margomulyo subdistrict Bojonegoro. The proceeded data are concluded by using inductive method, the process of withdrawing the conclusion of the special data to the general one, so that the objective conclusion is gained. The data are taken from the observation, interview, indept interview and documentation as the supporting data. Based on the result of the research, it is known that Pancasila is not only the symbol of the nation, but also the reflection and character of people life which emerges from within and are applied in the daily life. Pancasila is believed as a good life view  for self that can be interpreted as “papat kiblat limo pancer”, whose meaning, there are four wind’s eyes in the life, and as the complection of those four wind’s eyes is “sing diarani kiblat limo yoiku ati manungso”where human heart is the direction determiner of the life goal. Don’t just look at, don’t just hear, don’t just feel it, but use your heart. Keywords: Pancasila, Construction, Values, Samin People
KONSTRUKSI MASYARAKAT TULUNGAGUNG TERHADAP CALON PRESIDEN INDONESIA PERIODE 2014-2019 Sakti, Sambang Bima; Sarmini, Sarmini
Kajian Moral dan Kewarganegaraan Vol 1, No 3 (2015): ARTIKEL
Publisher : UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian ini mengungkap pandangan masyarakat Tulungagung terhadap calon Presiden serta keterkaitan antara orientasi pilihan partai politik dengan orientasi pilihan calon Presiden. Teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teori konstruksi dari Peter L. Berger. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain penelitian fenomenologi. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Tulungagung. Informan dalam penelitian ini yaitu masyarakat Tulungagung yang memiliki hak pilih dan tidak golput dalam pemilihan Presiden 2014 yang terbagi berdasarkan jenjang pendidikan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa karakteristik konstruksi masyarakat Tulungagung cenderung bersifat stereotip negatif yang di dalamnya terdapat apriori dan aposteriori. Terkait penampilan calon Presiden masyarakat memiliki pandangan positif dan pandangan negatif terhadap penampilan calon Presiden. Pada masyarakat yang berpandangan positif menganggap bahwa penampilan mencerminkan karaker si pemakai. Sedangkan bagi masyarakat yang berpandangan negatif menganggap bahwa penampilan merupakan sebuah metode pencitraan. Dalam hal keterkaitan antara orientasi partai politik dengan orientasi pilihan calon Presiden meskipun terdapat kesesuaian namun masyarakat cenderung tidak dekat dengan partai politik bahkan cenderung mereduksi jumlah partai politik yang mengkuti kontestasi pemilihan umum. Kata Kunci: konstruksi masyarakat,calon presiden, partai politik Abstract This research finds out about how the views of Tulungagung society toward Presidential candidate also the linkages between the orientation of the political parties with the orientation of choice candidate for President. The theory that used in this research is the construction theory of Peter L. Berger. In this research used method qualitative approach with phenomenological research design. This research was located in Tulungagung. Informants in this research is Tulungagung people who have voting rights and as not blank voters in the Presidential election in 2014 that divided by level of education. The results of this research indicate that construction characteristics of Tulungagung people tend to be negative stereotypes which there is a priori and a posteriori. Related the appearance of Presidential candidate, communities have a positive and negative view of the appearance of candidate for President. On the positive view, community assume that the appearance reflects character of the wearer. As for the people who had a negative view considers that the appearance of an imaging method. In terms of the relationship between the orientation of the political party with the orientation of choice despite the suitability of a candidate for President, but people tend not close to political parties even tend to reduce the number of political parties contestation obeying the general election. Key words : society construction, president candidates, political parties
JATI DIRI KE-INDONESIA-AN BAGI ETNIS KETURUNAN TIONGHOA (DI KAMPUNG KAPASAN DALAM KELURAHAN KAPASAN KOTA SURABAYA) Cahyani, Ariska Dwi; Sarmini, Sarmini
Kajian Moral dan Kewarganegaraan Vol 1, No 3 (2015): ARTIKEL
Publisher : UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui upaya etnis keturunan Tionghoa di kampung Kapasan Dalam kota Surabaya dalam membangun dan menurunkan jati diri ke-Indonesia-an kepada generasi penerusnya. Fokus masalah dari penelitian ini yakni: (1) Bagaimana etnis keturunan Tionghoa di kampung Kapasan Dalam kota Surabaya membangun jati diri ke-Indonesia-annya? (2) Bagaimana upaya etnis keturunan Tionghoa dalam menanamkan nilai-nilai ke-Indonesia-an kepada generasi penerus? Penelitian ini menggunakan teori konstruksi sosial dari Berger dan Luckmann. Jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Lokasi penelitian ini adalah di Kampung Kapasan Dalam Kelurahan Kapasan Kota Surabaya. Pengambilan informan dengan purposive sample dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara mendalam dan dokumentasi, serta menggunakan teknik analisis data interaktif.. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jati diri ke-Indonesia-an bagi etnis keturunan Tionghoa di Kampung Kapasan Dalam kota Surabaya ditunjukkan melalui tiga upaya yakni ajaran (meliputi ajaran agama, nilai sosial, dan nilai budaya), pengetahuan atau pemahaman tentang NKRI dan Pancasila, serta perilaku yang ditunjukan. Etnis keturunan Tionghoa dalam menanamkan nilai ke-Indonesia-an kepada generasi penerus melalui dua upaya yaitu, cara dan bentuk ajaran melalui sekolah, keluarga, dan masyarakat, serta pembiasaan dalam berperilaku sehari-hari. Meskipun dengan status etnis asing bersama etnis asli Indonesia telah banyak berjuang untuk membangun Indonesia, tidak hanya dalam bentuk perkataan saja melainkan hati dan tindakan. Kata Kunci: Jati diri, Indonesia,Etnis Tionghoa. Abstract This study aims to determine chinese ethnic in Kapasan Dalam, Kapasan village, the city of Surabaya builds Indonesian identity and makes efforts to give Indonesian values to the next generation. The focus of this research insists on (1) how chinese ethnic in Kapasan Dalam, Kapasan village, the city of Surabaya builds Indonesian identity (2) how chinese ethnic makes efforts to give Indonesian values to the next generation. This research using the theory of social construction of berger and luckmann. With the kind of research qualitative approach phenomenology. The location of this research is in Kapasan Dalam, Kapasan village, the city of Surabaya. The technique of adopting an informer purposive sample and also the technique of collecting data in the form of an observation, a deep interview, a documentation, and an analysis of interactive data.. Based on the result of the research, it is concluded that the Indonesian identity for chinese ethnic in Kapasan Dalam, Kapasan village, the city of Surabaya shown through three methods they are; teachings (covering teachings through religion, social values, and cultural values ), knowledge or understanding about united state of republic of Indonesia (NKRI) and Pancasila, and also habits shown in behaviors. Chinese ethnic in instilling Indonesian values to the next generation through two ways that are, the manner and the form of teachings through school, family, public, and habits in behaving daily. Even though with the status of foreign ethnic but they with native Indonesia ethnics had struggled to establish Indonesia.Not only in the form of the words, but heart and action. Keywords: Identity, Indonesia, Ethnic Tionghoa (Chinese).
EKSISTENSI PETANI DALAM MENGHADAPI INDUSTRIALISASI DI DESA MOJODELIK KECAMATAN GAYAM KABUPATEN BOJONEGORO Rohman, Taufikur; Sarmini, Sarmini
Kajian Moral dan Kewarganegaraan Vol 1, No 3 (2015): ARTIKEL
Publisher : UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian ini mengkaji tentang eksistensi petani dalam menghadapi Industrialisasi di Desa Mojodelik Kecamatan Gayam Kabupaten Bojonegoro dengan menggunakan pendekatan fenomenologi eksistensial. Metode fenomenologi eksistensial digunakan untuk melacak dan menjelaskan pengalaman dan pemaknaan eksistensial petani Desa Mojodelik dalam menghadapi industrialisasi. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan wawancara mendalam untuk mendapatkan informasi, informasi tersebut diperoleh melalui enam informan kemudian dinalisis dengan menggunakan model analisis interaktif. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk pengalaman terletak pada saat subjek petani mempertahankan lahan pertaniannya dan beradaptasi dalam pembangunan industrialisasi atau hanya menjadi penonton dalam pembangunan industrialisasi. Sedangkan di posisi pemaknaan, seorang petani mampu mendapatkan sekaligus mengukuhkan identitasnya sebagai seorang pemilik lahan pertanian disaat subjek berada di arena industrialisasi. Disisi lain, juga terdapat petani yang mengukuhkan identitasnya sebagai seorang tukang, karyawan industri dan wirausaha parkiran kendaraan bermotor. Kata Kunci: Eksistensi petani, industrialisasi, petani Desa Mojodelik. Abstract This study examines the existence of the existence of the farmers in the face of the industrialization in the village of mojodelik sub-district of bojonegoro regency gayam with existential phenomenology approach. Existential phenomenological method is used to track and explain the meaning of existential experiences and farmers roundabout in the face of the industrialization. Data collection techniques used are observation, interviews, and, in-depth interviews to get information,the information obtained though six informants then analysed using an interactive model analysis. The results of research showing that its experience located at a time the subject of farmers maintain the farm land and adapt in the construction of industrialization or only be a spectator in the construction of industrialization.While in the position of purport; a farmer able to get at once confirmed his identity as an owner of land agriculture when the subject of being in the arena industrialization.At the other side there is also a husbandman confirmed his identity as an artisan, industry employees and entrepreneurial the parking lot of a motor vehicle. Keywords: farmers Existence, industrialization, Mojodelik Village farmers.
GAYA BERBUSANA MAHASISWI PENGGUNA JILBAB PEMULA DI FAKULTAS ILMU SOSIAL UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA Budiarti, Diah Ainin; Sarmini, Sarmini
Kajian Moral dan Kewarganegaraan Vol 3, No 3 (2015): Yudisium Agustus 2015 Jilid 1
Publisher : UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian ini mengkaji tentang gaya berbusana mahasiswi pengguna jilbab pemula di Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Surabaya. Gaya berbusana mahasiswi pengguna jilbab pemula di dalam penelitian ini adalah model pakaian, model jilbab, dan aksesoris yang dikenakan oleh mahasiswi yang berjilbab di Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Surabaya pada saat mengikuti perkuliahan di kampus maupun kegiatan organisasi kemahasiswaan. Mahasiswi pengguna jilbab pemula yang dimaksud dalam penelitian ini adalah mahasiswi tersebut telah menggunakan jilbab selama kurang dari sama dengan satu tahun (≤ 1 tahun). Adapun teori yang digunakan adalah teori intensionalitas dari Edmund Husserl. Pendekatan penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan desain penelitian fenomenologi. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis model interaktif dari Huberman dan Miles. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, wawancara mendalam dan dokumentasi. Informan berjumlah enam mahasiswi yang bergaya busana berjilbab di FIS UNESA maksimal selama satu tahun yang memenuhi kriteria sebagai informan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor-faktor dominan memengaruhi pemilihan gaya busana mahasiswi pengguna jilbab pemula yaitu pertama faktor fisik, faktor ekonomi, dan faktor sosial. Hal tersebut membuktikan bahwa konsep intensionalitas bawaan Husserl dialami oleh para informan. Mereka dalam memilih gaya busana yang dikenakan memiliki intended meaning (makna yang dimaksudkan) kepada suatu objek yang dituju. Kata kunci : gaya berbusana, mahasiswi pengguna jilbab, jilbab pemula   Abstract This research about the female students fashion styles veil beginner users in the Faculty of Social Science, State University of Surabaya. Female students fashion styles veil beginner users in this research is clothes models , veil model, and accessories worn by veiled female students in the Faculty of Social Sciences, State University of Surabaya at the time following the lecture on campus and student organization activities. Female students veil beginner users referred to in this research is the female students had used the veil for less than and equal to one year (≤ 1 year). The theory used is intentionality theory from Edmund Husserl The research approach used in this research is a qualitative research with phenomenological research design. Data analysis techniques in this research used an interactive model analysis techniques of Huberman and Miles. Data collection technique used observation, interviewdepth interviews and documentation. Informants consist of six female students veiled fashion style in the FIS UNESA maximum of one year who meet the criteria as an informant. Research results indicate that the dominant factors influencing the selection of female students fashion style veil beginner users are the first is physical factor, economic factor, and social factors. It is proved that the concept of intentionality from Edmund Husserl experienced by the informants. They in choosing fashion style used has intended meaning to a target object. Keywords : style of dress, student users veil, veil beginners  
JARINGAN SOSIAL ANAK JALANAN DI TERMINAL PURABAYA, KECAMATAN WARU, KABUPATEN SIDOARJO Pitaloka, Amalia Fatma; Sarmini, Sarmini
Kajian Moral dan Kewarganegaraan Vol 3, No 3 (2015): Yudisium Agustus 2015 Jilid 1
Publisher : UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan cara membangun jaringan sosial pada anak jalanan, mendeskripsikan bentuk jaringan social anak jalanan, serta untuk mendeskripsikan faktor dominan yang mempengaruhi dalam membangun jaringan sosial pada anak jalanan di Terminal Purabaya, Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo.Metode penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah fenomenologi. Data diperoleh dengan menggunakan teknik observasi dan wawancara. Observasi dalam penelitian ini digunakan untuk mengamati gejala-gejala yang terwujud dalam kehidupan sehari-hari dari anak jalanan. Wawancara dengan pedoman kepada anak jalanan digunakan untuk mendapatkan data terkait jaringan sosial anak jalanan dimulai dari cara membangun jaringan sosial, bentuk dan faktor yang mempengaruhi dalam membangun jaringan sosial pada anak jalanan. Hasil penelitian menunjukan bahwa di dalam jaringan sosial anak jalanan di Terminal Purabaya terdapat tiga peran, yaitu ketua jaringan (ibuk’e Yogi), pihak perekrut (mas Rohman), dan anggota jaringan (arek-arek). Cara membangun jaringan sosial anak jalanan di Terminal Purabaya dimulai dari mas Rohman melakukan pengamatan terhadap anak jalanan yang dia temui kemudian dilanjutkan pendekatan dengan cara menemui secara langsung untuk menjalin keakraban serta membangun kepercayaan agar mau bergabung ke jaringan sosial tersebut. Bentuk jaringan sosial dalam penelitian ini jika di analisis menurut sebuah teori jaringan sosial dari Barnes ada 7 simpul yang merupakan perwujudan dari orang dan solidaritas sebagai ikatannya yang terhubung pada simpul-simpul tersebut serta memiliki bentuk gambar jaringan yang kombinasi dari jaringan memusat dan jaringan titik. Sedangkan berdasarkan Teori Fenomenologi dari Huzzerl faktor dominan  yang mempengaruhi dalam membangun jaringan sosial pada anak jalanan di Terminal Purabaya adalah tercukupinya kebutuhan sehari-hari seperti sandang, pangan dan papan. Kata kunci: Jaringan Sosial, Anak Jalanan, Fenomenologi Huzzerl   Abstract The aim of this research was to describe the way of building street children’s social network in Purabaya Terminal, Waru, Sidoarjo and the shape of this social network as well as the dominant influence in building it. The method of this research was descriptive qualitative while the design was phenomenology. Data were obtained by direct observation and interview to the street children. Observations in this study were focused on the clues that indicate the existence of social network within street children. Interview was performed to get a closer look into the social network it self. The results showed that there were three main roles in the social network of street children in Purabaya, chairman of the network (Ibuk’e Yogi), recruiters (Mas Rohman) and member of the network (arek-arek). How this social network formed started from Mas Rohman observed street children whom he met and meet them directly to get closer also build trust so that they were willing to join the network. Shape of social networks in this study according to a social network theory of Barnes there were 7 nodes represented people and solidarity as its bondage. Meanwhile, the dominant factor affecting in building a social network on street children in Purabaya Terminal was fulfillment of daily needs such as clothing, food and shelter. Keywords: Social Network, Street Children, Huzzerl Phenomenology