Lili Sarmili
Unknown Affiliation

Published : 39 Documents
Articles

Found 39 Documents
Search

STUDI MORFOLOGI DASAR LAUT BERDASARKAN INTERPRETASI REFLEKSI SEISMIK DI PERAIRAN KOMBA, LAUT FLORES, NUSA TENGGARA TIMUR De Claresya, Chesya Sera; Satriadi, Alfi; Sarmili, Lili
Journal of Oceanography Vol 3, No 3 (2014)
Publisher : Journal of Oceanography

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (619.335 KB)

Abstract

Abstrak Perairan Komba terletak di perairan Pulau Flores bagian timur laut, secara administratif terletak ke dalam wilayah Nusa Tenggara Timur. Pada bagian selatanGunung Komba (Pulau Batutara) terdapat gunung api bawah laut yaitu Baruna Komba, Abang Komba dan Ibu Komba. Berkaitan dengan munculnya jajaran gunung api bawah laut Komba, maka sangat diperlukan informasi mengenai morfologi dasar laut dan informasi struktur geologi di jajaran gunung api bawah laut tersebut. Ketiga gunung api bawah laut tersebut diindikasikan terbentuk oleh adanya patahan atau sesar yang tererosi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui morfologi bawah laut berdasarkan interpretasi refleksi seismik.Materi yang dijadikan objek studi pada penelitian ini meliputi batimetri, rekaman refleksi seismik dan jenis sedimen dasar. Hasil penelitian menunjukan bagian terdangkal pada sekitar perairan Komba adalah 400 meter sedangkan yang terdalam adalah 3400 meter dan termasuk kedalam perairan laut dalam. Terdapat banyak sesar atau patahan yang terekam pada hasil dari interpretasi refleksi seismik. Lapisan sedimen di perairan Komba memiliki konfigurasi refleksi seismik yang menunjukan dengan pola reflektor parallel, divergent dan chaotik. Sedimen dasar di perairan Komba termasuk kedalam sedimen laut dalam yang berjenis biogenous atau pelagik..
Karakteristik Intensitas Radioaktivitas Batuan dan Sedimen Terpilih di Pantai Sedau, Kalimantan Barat Aryanto, Noor Cahyo Dwi; Sarmili, Lili; Suparka, Emmy; Permana, Haryadi
EKSPLORIUM Vol 36, No 2 (2015): November 2015
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (764.895 KB) | DOI: 10.17146/eksplorium.2015.36.2.2773

Abstract

Intensitas pancaran unsur radioaktif berdasarkan data aktivitas batuan dan aktivitas pancaran ß serbuk di Pantai Sedau dilakukan menggunakan metode analisis Spektrometer Gamma dan alat cacah ß terhadap sembilan contoh sedimen dan batuan. Intensitas radioaktif batuan memperlihatkan kisaran U238 dari 0,1202 ± 0,008 Bq/25gr hingga 0,4348 ± 0,005 Bq/25gr;  Th232 0,0768 ± 0,005 Bq/25gr hingga 0,4812 ± 0,015 Bq/25gr; sedangkan intensitas gross gammanya berkisar dari 1,0503 ± 0,029 Bq/25gr  hingga 5,6433 ± 0,273 Bq/25gr. Semua contoh yang memiliki intensitas unsur radioaktif untuk aktivitas batuan tinggi berasal dari batuan yang sama (monzogranit), yaitu di lokasi SKP08-04. Hasil yang sama pada pancaran ß serbuknya yang memperlihatkan aktivitas  ß gross tertinggi juga terjadi di lokasi SKP08-04 pada batuan monzogranit dengan intensitas paparan 0,370 ± 0,025 Bq/25gr. Berdasarkan pengamatan petrografi, monzogranit di SKP08-04 memperlihatkan pelimpahan feldspar dengan kondisi yang relatif belum teralterasi sedangkan berdasarkan analisis geokimia memperlihatkan afinitas berupa seri kalk-alkali yang tinggi potasium. The intensity of the radioactive elements based on the rock activity data and ß powder emission activity on Sedau Coast were done using Gamma Spectrometer analysis method and  ß detector to the nine samples of sediment and rocks. Radioactive intensity of U238 in rocks showed a range from 0.1202 ± 0.008 Bq/ 25gr  to 0.4348 ± 0.005 Bq/ 25gr; Th232 0.0768 ± 0.005 Bq/ 25gr to 0.4812 ± 0.015 Bq/ 25gr; while the gross gamma intensity ranged from 1.0503 ± 0.029 Bq/ 25gr to 5.6433 ± 0.273 Bq/25gr. All the sample that has high intensity of radioactive element, occurs in the same rock (monzogranite) which is from samples in location SKP08-04. The same results in the emission of ß powder, which showed the highest gross ß activity also occurs in the rocks monzogranite (SKP08-04) with exposure intensity was 0.370 ± 0.025 Bq/25gr. Based on petrographic observations, monzogranite in SKP08-04 showed the presence of abundant feldspar with the condition which relatively not altered, whereas the affinity based on geochemical analysis showed a calc-alkaline series of high potassium.
KETERDAPATAN MINERAL ZIRKON DAN HUBUNGANNYA DENGAN BATUAN METAMORFIK DI TELUK WONDAMA, PAPUA Sarmili, Lili; F.X., Jevie
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 7, No 1 (2009)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1251.244 KB)

Abstract

Mineral Zirkon sebagai mineral primer umumnya ditemukan pada batuan beku, batugamping kristalin, sekis, dan genes, juga di dalam batuan sedimen sebagai sedimen plaser yang diendapkan di pantai dan di muara sungai. Hasil analisis petrografi dari empat lokasi contoh di teluk Wondama Papua Barat, menunjukan WDM06-20 adalah amfibolit, WDM06-21 adalah mica schist, WDM06-22 adalah amfibolit, dan WDM06-23 adalah schist. Hasil analisis kimia lainnya menunjukan bahwa batuan asal termasuk kedalam batuan yang bersifat siliceous-alkali-calsic rock, sedangkan keterdapatan zirkon di daerah penyelidikan berada di dalam lingkungan batuan metamorf. Hasil ploting tipologi, mineral zirkon yang diambil dari percontohan di sepanjang pantai, termasuk kedalam tipe utama granite terutama berasal dari kerak benua dan berdasarkan populasi dan bentuk kristal termasuk ke dalam (Sub)autochthonous Monzogranit and Granodiorites. Berdasarkan data analisis kimia dan bukti-bukti di lapangan bahwa batuan asal dapat ditafsirkan sebagai batuan bersifat granitik yang telah mengalami proses granitisasi menjadi batuan metamorfik. Kata Kunci : Mineral zirkon, batuan metamorf, granit, Teluk Wondama Papua. A zircon mineral as a primary mineral is generallly formed in the igneous rocks, crystalline limestones, schists, and gneisses also in sedimentary rocks in beaches and rivers as placer deposits. The petrographical analyses from four differents samples shows that WDM 06-20 is amphibolite, WDM 06-21 is micca schist, WDM 06-22 is amphibolite and WDM 06- 23 is schist. From other chemical analyses show that the source rocks belong to siliceous-alkali-calsic rocks whereas the occurrences of zircon minerals in the study area are correlates to metamorphic rocks. On typological evolution trends, zircon minerals from samples taken alongs the shoreline are plotted as granitic rocks of continental crust, and based on their population and crystallographical forms they are in (sub) autochthonous Monzogranite and Granodiorite. Based on data of chemical analyses and fieldworks, the source rock can be interpreted as granitic rocks which have been substituted by granitization process to be metamorphic rocks. Keyword : Zircon mineral, metamorphic rock, granite, the Wondama Bay of Papua.
OPENING STRUCTURE OF THE BONE BASIN ON SOUTH SULAWESI IN RELATION TO PROCESS OF SEDIMENTATION Sarmili, Lili
BULLETIN OF THE MARINE GEOLOGY Vol 30, No 2 (2015)
Publisher : Marine Geological Institute of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32693/bomg.30.2.2015.79

Abstract

Sulawesi Island is situated on the three major plates, namely the Indo-Australian plate together with Continent Australia (Australian Craton) plate moves towards the North - Northeast and crust Pacific - Philippines moves towards the West - Northwest, causing the collision with the Eurasian plate (Sunda Land) which more passive or stable. The Bone basin is located between South Sulawesi and Southeast Sulawesi arms. This basin is formed by several fault system, such as, Walanae, Palukoro, West and East Bone faults and others. Several active faults are likely to be extended each other into the openings structure and characterized by the accumulation of young sediment in the Bone basin. Keywords: Sulawesi, collision Bone basin, faults, sedimentation Pulau Sulawesi merupakan tempat pertemuan antara tiga lempeng besar, yaitu lempeng Indo-Australia bersama-sama dengan lempeng Benua Australia (Australian Craton) bergerak ke arah Utara - Timurlaut dan Kerak Pasifik - Filipina bergerak ke arah Barat - Baratlaut sehingga terjadi tumbukan dengan lempeng Eurasia (Daratan Sunda) lebih bersifat pasif atau diam. Secara geologi Cekungan Bone terletak diantara Lengan Sulawesi Selatan dan Lengan Sulawesi Tenggara. Cekungan ini terbentuk oleh beberapa sistem sesar yaitu sesar Walanae, Palukoro, Timur dan Barat Bone dan lainnya. Beberapa sesar aktif tersebut kemungkinannya saling tarik menarik menjadi struktur bukaan dan ditandai dengan adanya akumulasi sedimentasi muda di cekungan Bone. Kata kunci: Sulawesi, tumbukan, Cekungan Bone, Sesar, Sedimentasi
PROSES SEDIMENTASI CEKUNGAN BONE BERDASARKAN PENAFSIRAN SEISMIK REFLEKSI DI PERAIRAN TELUK BONE SULAWESI SELATAN Sarmili, Lili; Indriati, Dwi; Stiawan, Tites
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 14, No 1 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (13035.479 KB)

Abstract

Secara geologi, Cekungan Bone terletak diantara Lengan Sulawesi Selatan dan Lengan Sulawesi Tenggara. Cekungan Bone terbentuk pada Paleogen-Neogen dan telah mengalami beberapa kali proses tektonik serta aktivitas magmatik. Morfologi Cekungan Bone dikontrol oleh beberapa sistem sesar yaitu sesar Walanae, Palukoro dan lainnya. Sesar-sesar ini selama Plio-Pleistosen hingga Kuarter mempengaruhi proses sedimentasi pada cekungan ini. Pada tahap awal, cekungan Bone terbentuk akibat dari proses subduksi lalu berkembang menjadi cekungan intermontane. Didalam Cekungan Bone tersebut terdapat beberapa sekuen yang ditafsirkan dari penampang seismik pantul, dimulai dari Kala Paleosen sampai Oligosen Awal diendapkan sekuen A. Sekuen A ditutupi Sekuen B secara tidak selaras pada Kala Oligosen Awal sampai Oligosen Akhir. Di atas sekuen B ini diendapkan Sekuen C secara tidak selaras yang mulai terbentuk pada umur Oligosen Akhir hingga Miosen Awal. Sekuen berikutnya diendapkan Sekuen D yang terbentuk pada saat Miosen Awal hingga Miosen Akhir dan ditutupi Sekuen E pada lingkungan laut dangkal hingga darat. Endapan yang paling atas adalah sekuen  F yang berumur Kuarter dan sebagai sedimen pengisi lembah-lembah yang dipengaruhi oleh adanya sesar Walanae yang teraktifkan kembali. Kata Kunci : cekungan Intermontane, sesar Walanae yang teraktifkan kembali, cekungan Bone Geologically, the Bone Basin is situated in between south Sulawesi Arm and southeast Sulawesi Arm. The Basin was formed on the Paleogene-Neogene time and has repeatedly processed in terms of tectonics and magmatic activities. The morphology of Bone Basin was formed by some faults system, there are Walanae Fault, Palukoro Fault and others. These faults during Plio-Pleistocene up to Quaternary times were affected their sediment of the basin. In the beginning, the Bone Basin was formed by subduction and then developed become intramontane basin. In The Bone basin there are some sequences that are interpreted from seismic reflection, started from Palaeocene to Early Oligocene was marked by A sequence. Then, it was overlied unconformity by B sequence of Early Oligocene to Late Oligocene. On the top of B sequence was deposited unconformitily by C sequence which was formed from late Oligocene to Early Miocene. Furthermore, D sequence was deposited during Early Miocene to Late Miocene and covered by E sequence of shallow marine to terrestrial environments. The youngest is F sequence which formed in the Quaternary age and as a channel filed sediment was influenced by reactivated of Walanae Fault.Keywords : Intramontane basin, reactivated of Walanae Fault, Bone Basin
GUNUNGAPI BAWAH LAUT KAWIO BARAT, PERAIRAN SANGIHE, SULAWESI UTARA: AKTIVITAS HIDROTERMAL DAN MINERALISASI Troa, Rainer Arief; Sarmili, Lili; Permana, Haryadi; Triarso, Eko
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 11, No 1 (2013)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (867.577 KB)

Abstract

Ekspedisi INDEX-SATAL 2010 telah mengungkapkan fenomena aktivitas hidrotermal di bawah perairan barat Kepulauan Sangihe pada Gunungapi Bawah Laut Kawio Barat dengan puncaknya yang berada pada kedalaman laut sekitar 1860 m dan kakinya pada kedalaman sekitar 5400 m. Penyelaman ROV (Remotely Operated Vehicle) Little Hercules di Gunungapi Kawio Barat yang dipusatkan di sisi baratlaut dari puncak gunung menyapu mulai kedalaman 3000 m hingga menuju ke arah puncak pada kedalaman 1860 m. Kelompok batuan dicirikan oleh bongkahan lava yang sudah pecah ditutupi sedimen halus berwarna abu-abu cerah; sedangkan pada sisi tenggara umumnya ditempati aliran lava bantal. Pada sisi baratdaya, tempat lembah dalam menoreh Gunungapi Kawio Barat dijumpai kepulan asap dari lereng bagian bawah yang akhirnya pada kedalaman sekitar 1890 m dijumpai aktivitas hidrotermal bawah laut yang merupakan suatu fenomena yang pertama kali direkam langsung dari bawahlaut perairan Indonesia. Fenomena yang terekam berupa pemunculan asap (smokers) di sepanjang rekahan (fissures), dicirikan oleh warna asap yang bervariasi dari putih, kuning atau abu-abu cerah yang kemungkinan menunjukkan indikasi perbedaan komposisi kimiawi dari fluida hidrotermal. Selain asap, teramati juga adanya gelembung cairan (panas) atau bubbles dari rekahan. Penemuan baru lainnya adalah adanya fluida hidrotermal muncul ke permukaan dan membentuk suatu cerobong hidrotermal atau chimney di daerah yang secara tektonik dikontrol oleh konvergensi lempeng. Batuan-batuan di sekitar rekahan hidrotermal (hydrothermal vent) umumnya telah terubah dengan dominasi warna putih hingga kelabu. Di sekitar rekahan hidrotermal diendapkan belerang berwarna kuning kehitaman. Mineralisasi kemungkinan terjadi di sekitar cerobong hidrotermal, terakumulasi membentuk endapan mineral yang ditunjukkan oleh warna coklat, abu-abu, dan kemerahan. Hal ini terutama teramati di sekitar cerobong yang sudah tidak mengeluarkan gelembung atau asap, serta dijumpai kehadiran endapan serakan butiran batuan atau mineral berwarna coklat atau hitam. Kata kunci: INDEX-SATAL 2010, aktivitas hidrotermal, ROV, asap hidrotermal, gelembung cairan, cerobong hidrotermal, konvergensi lempeng, mineralisasi INDEX-SATAL Expedition 2010 has revealed the phenomenon of hydrothermal activity in the western part of the Sangihe Waters in Kawio Barat Submarine Volcano with the peak which is located at 1860 m depths and the bottom at about 5400 m depths. A ROV (Remotely Operated Vehicle) "Little Hercules" dive in Kawio Barat was centered on the northwest side of the mountain began to sweep from the depths of 3000 m toward the top of 1860 m depths. The lithologic unit is characterized by the present of broken lavas covered with fine grey colored sediment whilist in the southeast side is composed of pillows lavas. In the southwest side, in which the deep valleys incise Kawio Barat, a clouds of smoke from the lower slopes are observed; finally at 1890 m depths a submarine hydrothermal activity is noted. This phenomenon represents the first submarine direct record made from the bottom of the Indonesian Waters. Those smokers phenomena are recorded along fissures, characterized by various colors of white, yellow to grey due to different chemical composition of hydrothermal fluids. Besides, the hot bubbles are also arised from the fissures. The other new discovery is the presence of hydrothermal chimney in the area of tectonically controlled by convergence plates. Rocks surrounding the hydrothermal vents are generally altered giving grey to white colors and the presence of dark yellow sulfur deposits. Mineralization may occur and accumulated in hydrothermal chimney and its surrounding to form brown-, grey-, and reddish- color deposits The latter are commonly found in inactive chimneys, indicated by the presence of dispersed brown and black color grains/chips of both sedimentary rocks or minerals as well. Keywords: INDEX-SATAL 2010, hydrothermal activity, ROV, hydrothermal smokers, bubbles, hydrothermal chimney, plate convergence, mineralization
GRANIT KELUMPANG SEBAGAI GRANIT TIPE-I DI PANTAI TELUK BALOK, BELITUNG Aryanto, Noor C.D.; Nasrun, Nasrun; Sianipar, Andy Hermanto; Sarmili, Lili
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 3, No 1 (2005)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1216.554 KB)

Abstract

Batuan granit mempunyai arti penting terutama akan kandungan mineral ekonomisnya. Di Indonesia bagian barat, batuan granit lebih terkenal dengan asosiasi mineralisasi kasiterit (timah). Tidak semua batuan granit mempunyai kandungan mineral kasiterit. Batugranit biotit berhubungan dengan mineralisasi kasiterit, sedangkan batugranit hornblende tidak ada hubungannya dengan mineralisasi kasiterit. Batuan granit di Pulau Belitung ditemukan di empat daerah berbeda, yaitu Tanjung Pandan di baratlaut, Gunung Mang di timurlaut, Parangbuloh di baratdaya dan Kelumpang di tenggara. Granit Kelumpang adalah salah satu dari jenis granit di daerah telitian. Secara megaskopis, batuan granit di Kelumpang terbentuk oleh mineral-mineral berbutir kasar, berwarna abu-abu-putih dan kaya akan megakristik K-Feldspar Identifikasi karakteristik granit di daerah penelitian berdasarkan hasil analisa petrografis dan penafsiran seismik pantul dangkal, yang ditunjukkan oleh pola reflektor yang membentuk struktur kerucut yang tidak menerus. Penyebaran dari batuan granit ini dapat dipetakan sepanjang lintasan kapal. Pada akhirnya, berdasarkan kenampakan megaskopis dan analisa petrografi terlihat bahwa granit di lokasi kegiatan memiliki sifat yang menyerupai granit tipe-I bukan pembawa mineral kasiterit. The granitic rock is an important rock in economic mineral deposit. In westernpart of Indonesia, the granitic rocks are well known in associated with cassiterite (tin) minerals. Not all of the granitic rocks contain of cassiterite minerals. The biotite-granitic rocks are associated with cassiterite minerals while the hornblende-granitic rocks are not related with cassiterite mineralisation. The Granitic rock in Belitung Island found in four different areas, those are, in Tanjung Pandan of northwest Belitung, Gunung Mang of northeast of Belitung, Parangbuloh of southwest Belitung, and Kelumpang of southeast Belitung. Granit Kelumpang is one of granitic rocks in the investigated area. It is megascopically formed by coarse-grained, greyish white in color and rich in K-feldspar megacrystic minerals. Identification of granitic rock in the investigated area characterised by petrographically analysis and seismic reflection interpretation. It has a reflector pattern shown by an uncontinous cone structure. The distribution of granitic rock can be mapped along the ship track as well as the shallow seismic lines. Finally, the granitic rocks in the investigated area are megascopically and petrographically belong to type I-Granite those are not associated with cassiterite.
PEMBENTUKAN PRISMA AKRESI DI TELUK CILETUH KAITANNYA DENGAN SESAR CIMANDIRI, JAWA BARAT Sarmili, Lili; Setiady, Deny
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 13, No 3 (2015)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (651.615 KB)

Abstract

Kumpulan sesar naik yang ditafsirkan dari penampang seismic refleksi di teluk Ciletuh mengindikasikan adanya prisma akresi di daerah penelitian. Prisma akresi di daerah penelitian terletak di perairan teluk Ciletuh yang ditandai olef kumpulan sesar naik akibat adanya zona tumbukan antara kerak benua dan kerak samudera. Kerak samudera yang terangkat dan tersingkap di daratan teluk Ciletuh berupa batuan basalt (lava bantal), batuan ultra basa dan batuan bancuh. Prima akresi ini diduga berumur lebih tua dari prisma akresi yang masih terjadi saat ini, diperkirakan umurnya Tersier. Posisi prisma akresi di daerah penelitian ini berada di utara zona subduksi yang masih aktif di selatan di pulau Jawa. Beberapa struktur sesar naik juga terdapat di utara teluk Pelabuhan Ratu. Kumpulan sesar naik di sekitar teluk Pelabuhan Ratu dapat dianggap sebagai prisma akresi tua, dan mempunyai kaitan dengan kumpulan sesar naik di teluk Ciletuh. Posisi sesar-sesar naik yang terpisah antara sesar naik di lokasi teluk Pelabuhan Ratu dan di teluk Ciletuh diperkirakan terpisah oleh suatu sesar. Sesar yang memisahkan kedua kumpulan sesar naik ini diduga adalah sesar Cimandiri dengan jenis sesar mendatar menganan Kata kunci prisma akresi, teluk Ciletuh, batuan ultra basa, sesar sisnistral Cimandiri. A series of thrust faults which is interpreted from seismic reflection profile at Ciletuh bay indicate the occurrence of accretionary prism in the study area. The accretionary Prism in the study area indicated by series of thrust faults as a product of the collision zone between continental crust and oceanic crust. Uplifted oceanic crust was exposed on Ciletuh mainland such as basaltic rocks, pillow lavas, ultra basic rocks and melange. The accretionary prism is thought to be older than the accretionary prism that is still occurs on south Java island, and it was estimated Tertiary in age. The position of accretionary prisms in this study area is in the northern active subduction zone in the south of Java island. Some thrust faults are also found in the northern of Pelabuhan Ratu Gulf. A series of these faults can be regarded as an old accretionary prism, and have a relationship with a series of thrust fault at Ciletuh bay. The position of these thrust faults separate between the thrust of Pelabuhan Ratu bay and the thrust of Ciletuh bay and estimated have been disturbed by a fault. Fault which separates these two sets thrust fault is interpreted due to Cimandiri dextral fault. Keywords: the accretionary prism, Ciletuh bay, ultra basic rocks, Cimandiri sinistral fault.
INDIKASI GUNUNGAPI BAWAH LAUT DI PERAIRAN SANGEANG SUMBAWA NUSA TENGGARA BARAT Sarmili, Lili; Arifin, Lukman
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 13, No 2 (2015)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8772.322 KB)

Abstract

Penelitian dengan menggunakan metode seismik pantul saluran ganda (multichannel) dan geomagnet mengindikasikan adanya gunungapi bawah laut. Dari penampang rekaman seismik dapat ditafsirkan bahwa Gunungapi bawah laut ditandai dengan bentuk tonjolan atau terobosan menembus dasar laut. Dari data megnetik kelautan diperoleh bahwa pada lokasi gunungapi bawah laut diketahui nilai anomali intensitas magnet total cukup tinggi yaitu sekitar 124 nT. Umumnya anomali intensitas magnet tinggi terdapat di bagian selatan daerah penelitian yang ditafsirkan juga sebagai penipisan kerak atau adanya Gunungapi bawah laut. Bagian selatan memang banyak didapat Gunungapi seperti gunungapi Sangeang Api yang terdapat diujung timur dan rangkaian Gunungapi lainnya yang terdapat di pulau Sumbawa (Gunungapi Tambora dan lainnya).Kata kunci metode seismik dan geomagnet, gunungapi bawah laut, Perairan Sangiang The study is equipped by using multi-channel seismic reflection and marine geomagnetic method and it indicates a submarine volcano. The seismic reflection profile can be interpreted that the submarine volcano is characterized by the bulge or break shape penetrate the seabed. From the data obtained of marine geomagnetic, the location of submarine volcanoes known value of the total magnetic intensity anomalies is quite high which is about 124 nT. Generally, the intensity of high magnetic anomaly is located in the southern part of the study area. This anomaly is interpreted as a thinning crust or the presence of submarine volcanoes. The southern part is the area where volcanoes are found such as Sangeang Api volcano located at the eastern tip and other volcanoes series on the island of Sumbawa (volcano Tambora and others). Keywords: seismic and geomagnetic methods, submarine volcanoes, Sangiang waters
KETERDAPATAN BEBERAPA MINERAL BERAT DI PERAIRAN PULAU BINTAN DAN SEKITARNYA SEBAGAI HASIL ROMBAKAN DARI SEDIMEN HOLOSEN ASAL PAPARAN SUNDA Setiady, Deny; Sarmili, Lili
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 3, No 3 (2005)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.588 KB)

Abstract

Daratan Sunda sebagai kerak benua Erasia yang terdiri dari gabungan pulau-pulau Sumatera, Kalimantan dan Jawa, biasa disebut Paparan Sunda, yang diperkirakan terjadi pada waktu zaman Es. Dalam zaman es tersebut aktifitas sungai mendominasi, mengalir dan mengerosi batuan serta mengendapkan sedimen beserta mineral ikutannya di bagian yang lebih dalam. Pada waktu es mencair, daratan Sunda mulai tenggelam dan terjadilah laut Jawa yang memisahkan pulau Sumatera, Kalimantan dan Jawa. Sungai-sungai yang dulunya mengalir dan memanjang di antara pulau-pulau tersebut sekarang berada di bawah laut Jawa dan lainnya. Beberapa mineral berat ditemukan di perairan dan pantai pulau Batam, Bintan dan sekitarnya, seperti: magnetit, kasiterit, zirkon, monasit, hornblenda, turmalin, pirit, ilmenit, hematit, leokosen, augit, dan diopsid. Terdapatnya kandungan mineral magnetit dan kasiterit yang tinggi di tengah-tengah selat Batam-Bintan menunjukkan bahwa sumber mineral tersebut diduga dari sedimen P. Batam dan P. Bintan bukan dari tempat yang jauh. Kandungan mineral magnetit dan kasiterit dalam sedimen pasir kerikilan tersebar dari pulau Batam ke timur kandungan mineral beratnya semakin rendah sehingga sumbernya diduga berasal dari Pulau Batam, sedangkan dalam sedimen kerikil pasiran (dekat pulau Batam) penyebarannya semakin ke timur semakin besar, maka sumbernya diduga berasal dari P. Bintan. Ke dua pulau ini merupakan tinggian di daratan Sunda pada waktu itu yang terbentuk oleh batuan terobosan Granit yang mengalami erosi sejak zaman es hingga saat ini dan sebagai sumber terdapatnya mineral kasiterit dan magnetit. Sunda Land of the Eurasian continental crust is composed of reunited islands of Sumatera, Java, and Kalimantan, usually called as Sunda Platform, which was formed in the glacial time. In that time, all rivers activities were dominated to flow, eroded and deposited the sediment included their placer deposits into the deeper part. In the interglacial time, the Sunda land was changed into seawater and separated the island of Sumatera, Kalimantan and Java. All early rivers which were flowed and elongated is now located under the Java sea. Some heavy minerals are found on the beach or in surfacial sediments of Batam, Bintan and its surroundings, such as: magnetite, cassiterite, zircon, monazite, tourmaline, pyrite, ilmenite, leucosen, augite and diopside. The high contents of magnetite and cassiterite minerals on the bay of Batam-Bintan show their occurences are not from far distance but they are from Batam and Bintan sediments. The magnetite and cassiterite contents in gravelly sands of Batam Island from west to east are decreasing in their distribution. They are interpreted come from the Batam Island. On the other hand, these minerals distribute to the east are increasing in sandy gravels and they are seemly from Bintan Island. These two islands were acts as platform of granitic intrusions and were eroded since the glacial-interglacial time and they were as the origin of cassiterite and magnetite minerals.