Eka Meutia Sari
Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Published : 5 Documents
Articles

Found 5 Documents
Search

Performans Reproduksi Kerbau Lumpur (bubalus bubalis) Betina di Kecamatan Simeulue Barat Kabupaten Simeulue

Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 1, No 1 (2016): November 2016
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui performans reproduksi kerbau betina lumpur (Bubalus bubalis) di Kecamatan Simeulue Barat Kabupaten Simeulue. Penelitian telah dilaksanakan pada bulan Januari 2016. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan pada 4 desa yaitu: Desa Malasin, Lamamek, Sigulai dan Sembilan. Pemilihan lokasi penelitian ini dilakukan secara sengaja (purposive sampling). Metode penelitian yang digunakan metode survei untuk memperoleh data primer dan data sekunder. Data primer dilakukan melalui teknik wawancara langsung dengan pemilik ternak kerbau berdasarkan daftar pertanyaan yang telah disiapkan dalam bentuk kuesioner. Data sekunder diperoleh dari instansi-instansi terkait di Kabupaten Simeulue dan Kecamatan  Simeulue Barat. Materi penelitian meliputi 40 orang peternak yang berdomisili di 4 (empat) desa di Kecamatan Simeulue Barat. Penentuan peternak responden adalah dengan menggunakan metode simple random sampling, dengan ketentuan minimal peternak memelihara 2 (dua) ekor kerbau. Hasil penelitian menunjukkan umur dewasa kelamin 2,5-3,0 tahun, umur beranak pertama 3,5-4,0 tahun, lama bunting 310-330 hari, jarak antara melahirkan sampai bunting kembali 4-6 bulan, selang beranak 14-16 bulan, Angka Kelahiran 36%, sedangkan Angka perkawinan per kebuntingan dan angka kebutingan agak sulit untuk diketahui dikarenakan sistem perkawinan ternaknya bebas alami dan sistem pemeliharaannya masih ekstensif. Disimpulkan bahwa performans reproduksi ternak kerbau betina lumpur di Kecamatan Simeulue Barat belum optimal, namun mempunyai reproduksi yang baik dan berpeluang untuk dikembangkan. Reproduction Performance of Female Mud Buffalo (Bubalus Bubalis) In West Simeulue District Simeulue RegencyAbstract. This research aims to find out the reproductio performance of female mud buffalo (Bubalus bubalis) in West Simeulue District Simeulu Regency. This research was conducted in four villages: Malasin Village, Lamamek, Sigulai and Sembilan. The selection of research location was done intentionally (purposive sampling). The research method used was survey methods that is to obtain primary data and secondary data. Primary data was collected through direct interview techniques with the owner of buffaloes by a list of questions that had been prepared in the form of questionnaire. Secondary data obtained from the relevant institutions at the Simeulue Regency and West Simeulue District. The research material includes 40 (fourty) breeders who live in 4 (four) villages in the West Simeulue District. Determination of the respondent breeders by using simple random sampling method, with minimum provisions the breeders maintain 2 (two) buffaloes. The results showed the age of sexual maturity are 2.5 to 3.0 years, the age of first birth are 3.5 to 4.0 years, pregnant duration are 310-330 days, the duration between the giving birth to repegnant are 4-6 months, giving birth interval are 14-16 months, the Birth Rates are 36%, while the number of marriages per pregnancies and pregnancy rate were rather difficult to know because the mating system is naturally free and maintenance system are still extensive. In conclusion, that the reproductive performance of female mud buffaloes in the West Simeulue District still has not been optimal, but have a good reproductive and likely to be developed

Karakteristik Reproduksi Kerbau Betina Simeulue di Kecamatan Simeulue Timur Kabupaten Simeulue

Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 2, No 1 (2017): Februari 2017
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (31.174 KB)

Abstract

Abstrak. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik reproduksi kerbau betina Simeulue yang dipelihara secara tradisional. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Simeulue Timur Kabupaten Simeulue meliputi empat desa yaitu Desa Air Pinang, Kuala Makmur, Ganting dan Linggi yang berlangsung dari tanggal 20 Desember 2015 sampai 20 Januari 2016. Data karakteristik reproduksi sangat dibutuhkan untuk mengetahui tingkat kesuburan dari seekor betina.Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 348 kerbau betina dari 40 orang  peternak. Sampel yang diperoleh dianalisis menggunakan table frekuensi dan persentase dengan bantuan sheet excel. Umur dewasa kelamin terbanyak 33 – 36 bulan 40,20%, umur pertama melahirkan 3 – 4 tahun 70, 10%, birahi pertama setelah melahirkan 6 – 9 bulan 70,10%, jarak beranak >12- 18 bulan, dan gangguan reproduksi sering di temukan distokia dan abortus. Karakteristik reproduksi kerbau betina di Kecamatan simeulue Kabupaten Simeulue masih dalam kondisi baik.  Reproductive Characteristics Of Female Buffalo Simeulue, Simeulue Timur sub-district, district of SimeulueAbstract. This study was conducted to determine the reproductive characteristics of female buffalo Simeulue reared traditionally. This research was conducted in the Eastern District of Simeulue, Simeulue District includes four villages namely Air Pinang, Kuala Makmur, Ganting and Linggi which was held on December 20, 2015 to January 20, 2016. The reproduction characteristics data is needed to determine the level of fertility of a female buffalo. The sample used in this study were 348 female buffalo and 40 farmers. Samples were analyzed using frequency tables and percentages with the help sheet excel.Adulthood sex female buffalo 33-36 months 40.20%, age at first childbirth 3-4 years 70, 10%, first estrus postpartum 6-9 months 70.10%, lambing distance> 12 to 18 months, and reproductive disorders frequently found distokia and abortion. Reproductive characteristics of female buffalo in the district of Simeulue, are still in good condition.

Identifikasi Sifat Kuantitatif Kuda Gayo Pacu di Kabupaten Aceh Tengah

Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 2, No 2 (2017): Mei 2017
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ringkasan. Kuda (Equus caballus atau Equus ferus caballus) adalah salah satu spesies modern mamalia dari Genus equus. Hewan ini merupakan salah satu hewan peliharaan masyarakat sebagai hewan kesayangan. Meskipun di beberapa daerah kuda juga digunakan sebagai sumber makanan, dan untuk menarik sesuatu seperti kendaraan beroda atau digunakan sebagai pembajak. Peternak kuda juga di perkirakan telah dimulai sejak tahun 4500 S M, bukti-bukti penggunaan kuda untuk keperluan manusia baru ditemukan sejak 2000 S M (Anonim, 2008). Penelitian ini telah dilaksanakan di Aceh Tengah selama 27 hari dari tanggal 20 Juli sampai 15 Agustus 2016. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi karakter sifat kuantitatif kuda Gayo pacu di Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh. Penelitian ini menggunakan metode survei, teknik pengambilan sampel yaitu dengan cara menentukan wilayah penelitian, sedangkan untuk menentukan ternak yang digunakan sebagai sampel dilakukan dengan sampel random sampling (penarikan sampel acak sederhana), data yang peroleh diolah dengan menggunakan Analisis Statistik Deskriptif. Parameter dalam penelitian ini adalah data kuantitatif yang berasal dari pengukuran ukuran-ukuran tubuh kuda Gayo pacu. Data sifat kuantitatif  yang diambil adalah : panjang badan, tinggi badan, lingkar dada, lebar dada, tinggi pinggul, panjang kaki depan kanan dan kiri, panjang kaki belakang kanan dan kiri, dan jarak antara kaki depan dengan kaki belakang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, rataan kuda Gayo pacu muda yang baik untuk di pacu dan cukup banyak yang mengikuti perlombaan pacuan kuda ialah dari Kecamatan Lut Tawar, dan rataan untuk kuda Gayo pacu tua yang baik untuk dipelombakan dan yang cukup banyak untuk mengikuti pelombaan pacuan kuda yaitu dari Kecamatan Bebesen. Rataan kuda Gayo pacu muda yang kurang baik untuk di pacu dan kuda yang sedikit  mengikuti perlombaan pacuan kuda yaitu dari Kecamatan Atu Lintang, sedangkan untuk rataan kuda Gayo pacu tua yang kurang baik untuk di pacu dan yang sedikit mengikuti perlombaan pacuan kuda yaitu dari Kecamatan Kebayakan.IDENTIFICATION OF THE NATURE OF QUANTITATIVE GAYO HORSE RACE IN THE MIDDLE DISTRICT OF ACEH

Performans Reproduksi Sapi Batina Aceh di Kota Subulussalam

Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 2, No 4 (2017): November 2017
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak.  Dalam upaya meningkatkan populasi Sapi Aceh di Kota Subulussalam ini tentunya tidak semudah yang diharapkan. Banyak permasalahan yang sering dijumpai oleh peternak dalam mengembangkan populasi ternak Sapi Aceh. Salah satu permasalahan yang dihadapi oleh peternak adalah rendahnya efisiensi reproduksi pada ternak. Rendahnya efisiensi reproduksi ini dapat disebabkan oleh masih rendahnya pengetahuan peternak akan pentingnya pengaturan reproduksi dalam usaha peternakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Performans reproduksi sapi Aceh betina di Kota Subulussalam. Penelitian ini dilakukan di Kota Subulussalam Provinsi Aceh meliputi 5 kecamatan yaitu Simpang Kiri, Rundeng, Longkip, Penanggalan dan Sultan Daulat. Penelitian dilaksanakan selama 1 bulan dimulai dari tanggal 23 Januari-23 Februari 2017. Penelitian ini menggunakan metode survei. Pemilihan lokasi penelitian ini dilakukan secara sengaja (Purposive Sampling) dengan pertimbangan kecamatan yang memiliki populasi ternak sapi betina Aceh terbanyak di Kota Subulussalam. Penentuan peternak responden adalah dengan menggunakan metode Purposive Sampling, yaitu mengambil sampel dengan ketentuan minimal peternak memelihara satu ekor sapi Aceh yang telah beranak 2 (dua) kali. Sebagai responden ditetapkan sebanyak 30 orang peternak yang tersebar dalam 5 kecamatan yaitu Kecamatan Simpang Kiri, Rundeng, Sultan Daulat, Penanggalan dan Longkip. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa perormans reproduksi sapi betina Aceh di kota Subulussalam sudah baik dan sesuai standar yang diharapkan, dimana umur pubertas terbanyak dapat dicapai pada umur 1-2 tahun, rata-rata nilai Service Per Conception adalah 1,5 pada sistem perkawinan secara IB dan Calving Interval 12,97 bulanAceh Cow Reproduction Performance in Subulussalam the Province of AcehAbstract. In an effort to increase the population of Aceh Cattle in Subulussalam city certainly not as easy as expected many problems faced by breeders in developing the population Aceh cattle. One of the problems faces is low reproduction efficiency in livestock. This low reproducibility effisiency can be caused by still low knowledge of breeder of importance of reproduction arrangement in the livestock business. This study aims to know the performance of Aceh cattle reproduction in Subulussalam city the Province of Aceh consist of 5 districts of the district of Simpang Kiri, Rundeng, Longkip, Penanggalan, and Sultan Daulat. The study was conducted for 1 month starting from 23 January to 23 February 2017. This research uses survey method. The location of this research is purposive (purposive sampling) with the consideration of the district that has the largest population of Aceh cattle in Subulussalam. Determination of breeder of respondent is by using method of Purposive Sampling, Namely taking samples with the minimum requirement of breeders to keep one Aceh cow that has been littered 2 (two) times. As the respondents set as many as 30 farmers are spread in 5 districts of Simpang Kiri, Rundeng,  Sultan Daulat, Penanggalan and Longkip. From the results of this study can be concluded that the performans reproduction of Aceh female cow in Subulussalam city is good and according to expected standard, that the age of most puberty can be achieved at age 1-2 years, The average value of Service Per Conception is 1.5 in the artificial Insemination marriage system, and Calving Interval 12.97 months

Karakteristik Reproduksi Kerbau Gayo Betina di Kecamatan Linge Kabupaten Aceh Tengah

Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 2, No 4 (2017): November 2017
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (534.339 KB)

Abstract

ABSTRAK. Sebuah penelitian pada evaluasi karakteristik reproduksi kerbau betina Gayo di Kecamatan Linge Kabupaten Aceh Tengah telah dilakukan.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan mengetahui kemampuan reproduksi kerbau betina Gayo di Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dengan menggunakan data dari 40 peternak sebagai responden.Penentuan responden secara purposive sampling, dengan memelihara 2 ekor kerbau betina dan pengambilan sampel dilakukan berdasarkan pertimbangan peneliti, yaitu ternak yang telah beranak dua kali. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik reproduksi kerbau, faktor pendukung dan data sekunder yang diperoleh dari instansi terkait. Data yang terkumpul kemudian  dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan tabel frekuensi dan persentase. Lembar Excel digunakan untuk mengolah data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa umur pubertas kerbau di Kecamatan Linge adalah usia 27,9 bulan, dengan umur kawin pertama 32,6 bulan, rata-rata umur kerbau melahirkan anak pertama di Kecamatan Linge yaitu umur 3,7 Tahun, dengan lama bunting 316,5 hari (10,37 bulan), serta rata-rata jarak kelahirannya 19,5 bulan, rata-rata beranak sampai berahi kembali pada kerbau Gayo di Kecamatan Linge adalah 6,8 bulan, rata-rata angka kelahiran pada induk betina 64,75 dan anak 52,75, dengan perbandingan sex rasio anak kerbau jantan dan betina yaitu 1,2:1 dan persentase anak kerbau jantan 55,92 dan betina 44,07. Populasi kerbau Gayo di Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, Yang meliputi empat Desa yaitu, Desa Jamat, Kute Robel, Lumut, dan Owaq  yaitu 12,31% jantan, 48,32% betina,  anak jantan 22,01% dan anak betina 17,35.The Characteristics of the Reproduction in Female Buffaloes Gayo in the Linge Sub-District, Central Aceh RegencyABSTRACT. A study on the evaluation of characteristics of the reproduction in female Gayo Buffaloes in Linge sub-district, Central Aceh Regency, has been done. The purpose of this research was to identify and figure out the reproduction ability in female Gayo Buffaloes in Linge sub-district, Central Aceh Regency. This study used survey method by using data from 40 buffalo breeders as respondents. The sampling method used in this study was purposive sampling, the sample determination is taken for those who have at least two female buffaloes, and sampling was conducted based on the consideration of researchers, the female Gayo Buffaloes which had given birth twice. The data collected includes buffalo reproduction characteristics, supporting factors and secondary data obtained from related institutions. The data obtained were analyzed descriptively by using frequency tables and percentages with the help of Excel sheet. The results showed that Gayo buffaloes' puberty in Linge sub-district was  27.9 months old, the first mating age was 32.6 months old, and the average ageof the buffaloes giving birth to the first calf was 3.7 years old, with a duration of 316.5 days (10. 4 months), as well as an average birth spacing was 19.5 months. The average duration between giving birth and again was 6.8 months old, birth rate in female parent 64.75% and calf 52.75%, with the sex ratio of male and female buffaloeswas 1.2: 1, the percentage of male calves 55. 92% and female calves 44.07%. Gayo buffalo population in Linge sub-district, Central Aceh Regency, includes at Jamat Village, Kute Robel, Lumut, and Owaq which was 12,31% male buffaloes and 48.32% female buffaloes, 22.01% male calves and 17.35 female calves.